[Freelance] Clenching My First Tight

Title : Clenching My First Tight
Author : Angelinblack
Cast : Jonghyun CN Blue, Yoona SNSD
Supporting : Sunny SNSD, Yoon Eun Hye.
Rating : General

Yoona berdiri menatap pantulan dirinya di dalam cermin. Hampa… Ruangan ini terasa kosong, seperti tak ada udara sedikitpun di dalamnya. Ia menyentuh permukaan cermin pelan. Indah, gaun pengantin putih yang dipakainya saat ini benar-benar indah. Tapi, ia merasa begitu jelek memakainya. Apa mungkin riasannya yang membuatnya terlihat jelek? Ia pun menyentuh sebelah pipinya pelan. Tidak, tidak ada yang salah pada riasannya sama sekali. Rambutnya tergerai indah, bulu matanya hitam-lentik-panjang, garis alisnya rapih, pipinya bersemu merah, bibirnya juga terlihat cerah dengan lipgloss warna peachnya. Lalu apa? Apa yang membuatnya merasa benar-benar jelek sekarang ini? Bukankah seorang pengantin seharusnya terlihat cantik?, selalu terlihat cantik?
“Yoona-ya!! Cepatlah keluar!! Aku tak sabar ingin melihatmu!!”terdengar suara temannya, Sunny, berteriak.
“Ya!!”ia menyahut segera, membalikkan badannya memunggungi cermin dan membuka tirai yang menutup ruang ganti kecil tersebut. Lampu, ruang utama bridge salon tempatnya berada saat ini langsung menusuk matanya. Silau.
“Kyaaaa!!!”Sunny menjerit dan langsung memeluknya. Perempuan bertubuh mungil itu sedikit menjinjit untuk dapat merangkul bahunya. “Sudah kuduga, kau akan cantik sekali dengan gaun pengantin!! Aku jadi iri!!”
“Hahaha… Gomawo Sunny-ah..”Yoona tertawa kecil dan tersenyum.
“Kau harus berterimakasih padaku, Sunny!! Akulah pencipta gaunnya…”seorang wanita dengan rambut disanggul ke atas dan sebuah meteran tergantung di leher berjalan menghampiri mereka. Kacamata berbingkai hitamnya terpasang sedikit miring, tapi tetap tidak menghilangkan kesan manis dari wajahnya.
“No no no!! Jinah-eonni tidak ada sangkut pautnya dengan ini! Temanku ini sudah cantik dari lahir!!!”Sunny menggoyangkan jari telunjuknya dengan ekspresi aegyo khasnya.
“Tentu saja, karena yang membuat cantik adalah tata riasnya!!”seorang wanita lagi yang berada di sebelah Jinah menyahut bangga. Ia berjalan mendekati Yoona dan membelai rambut wanita itu pelan. “Mungkin pada saat hari H, aku akan menggulungnya… Kau mau hiasan apa di kepalamu?? Mahkota, Mutiara, atau Bulu angsa?? Atau kau mau lily putih segar?? Mungkin juga aku akan pakaikan lipstick merah nanti, seperti yang dipakai Tiffany di pernikahannya tahun lalu. Kau suka?”
“Ya!! Jaekyung-eonni!! Aku mau mutiara sama bunga lily putih saja!! Lipstik merah juga bagus!!”sahut Sunny lagi. Dia terlalu ikut bahagia untuk temannya semenjak Sekolah Dasar itu.
“Bukan kau yang mau menikah, Sunny!! Kalau kau menikah nanti, aku akan pasang wortel di kepalamu!!”balas Jaekyung. Ia mencoba meledek Sunny yang ekspresi cemberutnya selalu lebih imut dari boneka beruangnya di rumah.
“Sudahlah, eonni. Aku akan memakai semuanya yang eonni pakaikan…”Yoona tersenyum pada Jaekyung.
“Baiklah… Akan ku jadikan kau pengatin tercantik di dunia!!”Jaekyung mengedipkan sebelah matanya.
“Kau pasti bahagia sekali, ya, Yoona…”Sunny memegang kedua tangan Yoona dan tersenyum bahagia.
Yoona menghela nafas pelan. Ia mengangguk dua kali dan berucap lirih, “Ya, aku sangat bahagia…”. Hatinya masih terasa begitu berat.
“Wah, wah… Semuanya bersemangat, ya…”pintu samping ruangan terbuka, seorang wanita dengan mantel bulu sepaha dan rok mini hitam berkilatnya berjalan masuk. Bunyi hak high heelsnya bergaung keras di dalam ruangan. Ia adalah Eunhye, kakak Yoona.
“Kau beruntung sekali, Eunhye-ah… Menelfonku 2 bulan sebelum pernikahan adikmu untuk membuat gaun mahal!! Kau pikir aku secepat kereta api?! Untung saja kau temanku, jadi kusingkirkan order-order yang lain untukmu!!”omel Jinah. Ya,benar saja, sekitar 1 setengah bulan sebelumnya ia mati-matian bolak-balik ke luar Korea untuk mencari bahan baju yang dicarinya. Maklum saja, keluarga Yoona dan Eunhye bukanlah keluarga sembarangan. Kalau, mereka sudah bilang “yang mewah” itu artinya sama saja dengan “keruk saja tambang emas sampai habis”.
“Ya, aku hanya ingin kau sedikit berolahraga…”Eunhye tersenyum dan melepas kacamata hitamnya. Ia berjalan menghampiri Yoona dan berdiri menatapnya dengan tangan dilipat. Walaupun mereka berdua kakak-beradik, saat dijejerkan mereka benar-benar kontras satu dengan yang lainnya. Memang wajah mereka sama-sama cantik, tapi penampilan Yoona jauh lebih sederhana dari Eunhye. Eunhye selalu memakai barang-barang bermerk yang mencolok mata, eyelinernya di pakai memanjang membuat matanya terlihat tajam, bibirnya selalu berwarna terang, sepatu high heels tinggi selalu terpasang di kakinya, dan juga tidak ada celana dan dress panjang di lemarinya. Ia gemar memakai rok mini. Sedangkan Yoona, ia tidak suka memakai make-up dan memakai baju senyamannya. Tidak tomboy, tapi jauh lebih anggun dari Eunhye.
“Eonni, kau sudah pulang??”Yoona tersenyum ramah. Ia sedikit melirik Sunny yang ekpresi berubah 100% dari ekpresi bahagia. Yah, temannya itu benar-benar tidak suka pada kakaknya.
“Ya…”Eunhye mengangguk pelan sambil sedikit memainkan kukunya yang di cat emas. “Aku tidak pernah bermimpi, kau akan menikah lebih dulu dariku…”ia tersenyum kecil.
“Tenang saja, aku yakin eonni tidak akan menjadi perawan tua…”sahut Sunny yang sudah berpindah ke sebelah Jaekyung. Sebenarnya penampilan Jaekyung dan Jinah tidak beda jauh dari Eunhye, tapi untuk kakak teman baiknya itu, ada alasan tersendiri kenapa ia tidak pernah menyukainya. Perempuan itu pernah membuatnya merasakan pengalaman terpahit yang pernah ia rasakan selama hidupnya sampai sekarang ini, ditinggalkan begitu saja oleh kekasih pertamanya. Itu, sangat sakit…
Eunhye tertawa kecil, ia melirik Sunny sekilas dan kembali menatap adik perempuan satu-satunya yang berdiri dihadapannya itu. “Aku ingin bicara berdua denganmu… Gantilah bajumu!!”Eunhye tersenyum sekilas dan berjalan keluar ruangan. Yoona tau, pasti kakaknya itu sedang menunggunya di ruang tamu lantai bawah salon ini. Entah darimana ia tau, tapi semua tebakannya selalu tepat.
“Oke, baiklah… Sini ku bantu lepaskan gaunmu… Aku juga akan sedikit mengecilkan bagian pinggangnya, kulihat sedikit kelonggaran…”Jinah berjalan menghampiri Yoona dan mendorongnya masuk ke dalam ruang ganti.
“Hah!! Orang itu benar-benar menghancurkan moodku!!”teriak Sunny kemudian.
“Eunhye? Kau masuh kesal dengannya? Dia bukan orang yang pedulian, jadi kurasa kalau kau begini terus, kau yang akan lelah sendiri. Sudahlah, ayo kita lihat koleksi gaun Jinah! Ia bilang kita boleh meminjam yang mana saja untuk pernikahan Yoona lusa, kau mau??”Jaekyung tersenyum dan menggandeng Sunny.
“Boleh, asal gratis make-up dari eonni juga!!”tawarnya.
“Oke!!”
***
“Eonni ada apa?”Yoona berjalan turun dari tangga menuju ruang tamu salon di lantai bawah. Ia sudah mengganti bajunya dengan dress sepanjang lutut bermotif bunga-bunga yang dibelikan Sunny untuknya.
“Duduklah..”Eunhye menoleh dan menyuruh Yoona duduk di sofa hadapannya dengan sedikit gerakan dari dagunya. “Lusa kau akan menikah, bukan??”lanjut Eunhye setelah Yoona duduk.
“Ya, eonni bukannya lupa dengan hari pernikahanku, kan?”Yoona tersenyum manis. Ya, salah satu kebiasaannya adalah tersenyum dan tidak main-main, senyumnya benar-benar sangat manis.
“Kau masih bisa tersenyum seperti itu??”
“Ah?”
“Kau tidak apa-apa??”Eunhye berdiri, berjalan menghampiri dispenser yang ada dipojok ruangan dan menuang segelas air putih segar.
“Apa maksud eonni? Aku baik-baik saja…”Yoona menatap kakaknya itu, tak mengerti.
“Kau bahagia??”Eunhye berjalan menghapiri adiknya sambil membawa airnya.
“Ah, aku tidak mengeti maksud eonni.. Tentu saja aku…”
“Maksudku, benar-benar bahagia??”Eunhye memotong kata-kata Yoona. “Kau tau, walaupun aku bukan kakak yang baik, aku tetap mengenal adikku sendiri. Jauh lebih mengenalnya daripada teman bodohnya dengan muka seperti bayi itu!!”
“Eonni, aku…”
“Kau tau apa yang akan terjadi pada nasib orang yang suka memaksakan diri??”Eunhye melirik sekilas gelas krystal kaca yang ada ditangannya dan menjatuhkannya ke lantai hingga serpihannya hancur berantahkan.
“Eonni, apa yang kau lakukan??”Yoona cepat-cepat turun dari sofa dan mencoba membersihkan serpihan kaca di depan Eunhye.
“Kau tidak akan dapat dan memperbaikinya. Kalau kau mencoba memperbaikinya, kau akan terluka..”Eunhye tetap melanjutkan omongannya dengan tenang.
“Eonni?”Yoona menoleh menatap kakaknya. Ia tidak pernah peduli apapun tentang kakak satu-satunya itu sebelumnya, tapi kali ini ia benar-benar paham. Seorang kakak, memanglah seorang kakak bagi adiknya. Bahkan, mungkin benar, kakaknya memang lebih memahaminya saat ini lebih dari Sunny, teman baiknya.
“Kau mengerti?”Eunhye menoleh ke bawah menatap adiknya. “Cepatlah… Aku akan mengurus yang lain…”
“Ya…”Yoona beranjak berdiri dan memeluk Eunhye sekilas. “Gomawo, eonni…”
***
Yoona berlari keluar dari salon, ia menoleh ke kanan dan ke kiri kemudian berlari menyusuri trotoar mencari halte terdekat. Ia mengambil ponsel dari kantong dressnya dan menelfon sebuah kontak. 1 kali, tidak diangkat. 2 kali, tidak diangkat. 3 kali, 6 kali, akhirnya ia memutuskan untuk mengirim pesan singkat saja. Setelah 2 kali membaca ulang apa yang diketiknya, ia mengirimnya 3 kali dan berharap orang itu membacanya segera. Kali ini, ia benar-benar berhutang pada Eunhye. Kakaknya itu telah membukakan matanya akan satu kesalahan yang hampir dibuatnya.
***
“Terimakasih, datang kembali ya…”Jonghyun membungkuk kecil dan melambaikan tangannya pada pelanggan ke 30nya hari ini. Restoran cepat saji tempatnya biasa kerja paruh waktu ini, entah mengapa sedang banyak pengunjung, dan karena teman kerjanya tidak berangkat hari ini, ia bekerja double sebagai penjaga kasir dan pramusaji. Tentu saja ia tidak akan mau bekerja double kalau tidak mendapatkan bonus. Lagipula, akhir-akhir ini ia suka sekali bekerja, mungkin karena dengan kesibukan ini ia bisa mengalihkan pikirannya dari masalah yang ia hadapi saat ini.
“Jonghyun-ah, kau istirahatlah dulu…”Tuan Kang, atasannya berjalan menghampiri dan menepuk bahunya pelan.
“Tidak usah, Hyung. Aku masih ingin bekerja…”Jonghyun menggeleng dan kembali melayani pengunjung yang akan membayar di hadapannya.
“Aku tau kau memang rajin, tapi kau sudah melewatkan jam istirahatmu 2 kali. Istirahatlah, biar Dongmin yang menggantikan…”Tuan Kang berbisik pada Jonghyun sambil sesekali tersenyum pada pengunjung yang sedang membayar.
“Tidak usah, Hyung… Aku benar-benar tidak apa-apa…”Jonghyun mencoba mengabaikan atasannya itu.
“Melampiaskan emosimu dengan memforsir tubuhmu sendiri itu tidak baik juga…”Tuan Kang kembali berbisik dan menoleh ke belakangnya, “Dongmin!! Kau gantikan Jonghyun di kasir!!!”teriaknya kemudian sambil berlalu.
Jonghyun terdiam, ia menoleh pada Dongmin yang sudah berdiri disebelahnya siap menggantikan tugasnya. Akhirnya, ia mengalah dan berjalan gontai ke dapur. Lelah? Ya, ia memang sudah sangat lelah. 6 jam menjadi pramusaji dan 6 jam berdiri di kasir tanpa mengambil waktu snack dan makan siangnya, siapapun pasti akan kelelahan. Tapi ia tetap ingin bekerja, duduk terdiam seperti ini membuat pikirannya melayang ke masalahnya lagi. Ia tidak mau memikirkannya! Ia sudah cukup frustasi dengan hanya membayangkannya saja.
“Ini bayaranmu hari ini…”Tuan Kang tiba-tiba muncul dan menyodorkan sebuah amplop lumayan tebal pada Jonghyun. “Aku tau kau sedang frustasi, pulanglah dan jernihkan kepalamu. Sudah cukup kau memforsir dirimu selama 12 jam disini… Kau hanya bekerja paruh waktu, seharusnya kau hanya kerja selama 3 jam… Jangan membuat alasan bagiku untuk membayarmu lebih!!”ia tersenyum dan menyodorkan sebungkus roti isi dari tangan satunya lagi.
“Aku benar tidak apa-apa, hyung…”Jonghyun mengambil amplop dan makanan yang di sodorkan Tuan Kang. “Terimakasih untuk ini…”ia sedikit menggoyangkan roti isi yang di berikan Tuan Kang padanya dan tersenyum.
“Nah, pulang dan istirahatlah… Tidur akan membantumu melupakan masalah…”Tuan Kang tersenyum dan menepuk-nepuk bahu Jonghyun.
“Terimakasih, Hyung. Aku pulang dulu…”Jonghyun membungkukkan badannya dan beranjak pergi ke ruang loker di belakang. Ia melepas celemek kerjanya lemas, dan membuka kunci lokernya. Diambilnya tas dan ponselnya dan dijejalkannya celemeknya ke dalam loker.
“Sebaiknya kau memeriksa ponselmu, tadi ku dengar suara getaran dari dalam lokermu berulang kali…”ujar Hyujeong, teman kerjanya keluar dari kamar kecil di sebelahnya sambil menunjuk pada ponsel.
“Oh, iya… Terimakasih, hyung…”Jonghyun membungkukkan badannya pelan. Ia berjalan keluar restoran dari pintu belakang dan membuka flip ponselnya. 66 panggilan tak terjawab?? Ia membuka notification di ponselnya tersebut dan mendapati sebuah kontak muncul di layar ponselnya.
Perempuan itu menelfonnya 66 kali? Kenapa? Bukankah mereka sudah berpisah?
Jonghyun menutup notificationnya, kali ini muncul lagi 5 pesan masuk ke dalam inbox. Perlahan, ia membuka inboxnya. Ia sudah bisa menebak siapa pengirimnya, tapi ia tidak sanggup berfikir jernih untuk saat ini. Sedikit rasa senang muncul karena perempuan itu menghubunginya, tapi ada hal yang membendung rasa senangnya itu. Ia tidak bisa, ia tidak akan pernah bisa bertemu dengan perempuan itu lagi.
Pukul 08.00 PM
Annyeonghaseyo oppa… Ini aku Yoona… Yah, mungkin saja oppa sudah menghapus kontakku… Aku ingin bertemu dengan oppa, bisakah kita bertemu sekarang?
Pesan itu dikirim 3 kali, sudah sekitar 3 jam yang lalu. Mungkin tidak apa-apa kalau ia tidak membalas pesan itu, perempuan itu pasti sudah lupa.
Pukul 08.30 PM
Oppa tidak membalas pesanku? Aku hanya ingin bertemu, apa sudah tidak bisa?? Ah, apa oppa tidak membalas pesanku, karena sedang bekerja? Baiklah, aku akan pergi ke tempat biasa. Aku akan menunggu oppa datang… Terimakasih…
Jonghyun menghela nafas panjang. Ia menghentikan langkahnya. Pusing, kepalanya terasa berat tiba-tiba. 2 setengah jam yang lalu, perempuan itu sudah menunggunya dari 2 setengah jam yang lalu. Apa dia masih menunggu kedatangannya?
Pukul 09.30 PM
Oppa, kakiku membeku disini. Aku lupa memakai jaket, aku bodoh ya… Cepatlah datang… Ku mohon, hanya sebentar saja…
Jonghyun menutup flip ponselnya frustasi. Ia mundur selangkah dan bersandar pelan pada tembok belakang restoran tempatnya bekerja. Apa yang ia harus lakukan? Apa ia harus datang kesana? Tapi, rasanya ia masih belum sanggup bertemu dengan perempuan itu. Bukankah ia sudah bersumpah akan melupakan perempuan itu, kenapa sekarang ia memikirkannya lagi? Ini benar-benar membuatnya frustasi.
“Aaaaargghhh!!”Jonghyun berteriak pelan dan memukulkan sebelah tangannya ke tembok. Ia menarik nafas panjang dan kembali membuka flip ponselnya. Pesan terakhir dikirim sekitar 1 jam yang lalu. Apa perempuan itu masih menunggunya? Kemungkinan besar perempuan itu sudah pulang, tapi ia ingin memastikannya.
Jonghyun mengepalkan tangannya keras. Jantung berdegup cepat. Semakin lama ia berfikir, semakin besar kemungkinan perempuan itu sudah tidak berada di tempat itu lagi. Bagaimana ini? Sebenarnya, ia juga ingin sekali bertemu dengan perempuan itu. Ia benar-benar tidak dapat menahan perasaannya itu.
***
Yoona menatap hampa danau buatan kecil yang ada dihadapannya itu. Ia mendekap tubuhnya sendiri, mencoba mencari kehangatan dengan menggosok-gosokan kedua tangannya pada lengannya. Sudah 3 jam ia duduk di bangku ini sendirian, menunggu… Tapi, orang yang ia tunggu tak kunjung datang. Apa yang harus ia lakukan? Bagaimana kalau laki-laki itu, Jonghyun, benar-benar tidak mau menemuinya lagi. Apa ini akhir dari semua?
“Aku yang salah…”ia berbisik pelan, mengalihkan pandangannya dari danau ke kedua lututnya yang menggigil. Memang, ia tau benar dalam hal ini ia yang salah. Saat itu ia benar-benar tidak tau kenapa ia melakukannya. Berpisah dengan orang yang dicintainya dan memilih menerima lamaran laki-laki lain dengan terpaksa. Tapi, ia melakukannya bukan tanpa alasan. Ia hanya tak mau orang tuanya menyakiti Jonghyun, menyakiti laki-laki yang dicintainya. Masih jelas dalam ingatannya bagaimana ancaman orang tuanya saat ia jujur sudah berpacaran dengan Jonghyun. Ia benar-benar ketakutan saat itu, sama sekali tak bisa berfikir jernih.
“Tuhan…. Tolong aku…”rintihnya pelan.
“Bodoh!!”seseorang memasangkan jaket menutupi punggungnya. Ia menoleh kaget dan melihat laki-laki yang ditunggunya berada dihadapannya, benar-benar di depan matanya.
“Oppa…”ia tersenyum pelan.
“Bagaimana kau bisa keluar dengan baju seperti itu malam-malam begini? Kau akan sakit!!”Jonghyun berkata cuek.
“Oppa, akhirnya…”Yoona menarik nafas panjang. Ia ingin menangis keras dan memeluk laki-laki itu, tapi ia menahannya. “Aku melihatmu, kau benar-benar ada di depanku…”
“Kenapa kau menungguku?”Jonghyun mengalihkan pandangannya dari wajah Yoona. Ia tak akan pernah bisa menahan rasa sakitnya saat menatap perempuan itu. “Bukankah kau…”, ia menarik nafas panjang, “akan… Akan menikah lusa?”
“Tidak…”Yoona menggeleng pelan.
“Ah?”Jonghyun menoleh kaget, kali ini ia bertatapan langsung dengan Yoona dan itu membuat hatinya benar-benar terasa perih.
Yoona menarik nafas dalam, matanya mulai memanas. Ia menyodorkan tangannya ke hadapan Jonghyun dan sekuat tenaga mencoba tidak mengalihkan matanya dari mata laki-laki itu. Ia yakin, sebentar lagi air matanya akan jatuh. “Oppa, bawa aku pergi…”ia menarik nafas, kali ini air matanya benar-benar meleleh. “Bawa aku pergi, oppa… Aku tidak ingin menikah… Tidak…”ia menggelengkan kepalanya, kali ini ia mulai terisak.
“Kau…”Jonghyun menatap perempuan dihadapannya itu hampa. Pikirannya menghilang begitu saja. Ia benar-benar ingin menyanggupi ajakan Yoona, tapi ia tau ini tidak mungkin. Cepat atau lambat, ia memang harus merelakan perempuan itu pergi.
“Aku tidak bisa…”Jonghyun menggeleng pelan. Ia mundur selangkah menjauhi Yoona. “Aku merelakanmu… Cepatlah pergi dan berbahagialah…”bibirnya bergetar hebat, tapi ia tetap harus mengatakannya.
“Tapi, oppa, aku mencintaimu… Kau juga, bukan?? Kau sudah berjanji akan menjagaku… Sekarang bawalah aku pergi… Tolonglah…”Yoona beranjak dari duduknya dan berdiri mengahadap Jonghyun. Kakinya serasa membeku, tapi ia punya kekuatan lain yang menopangnya dan kekuatan itu datang dari orang yang ada dihadapannya ini.
“Maaf, Yoona. Aku tidak bisa…”Jonghyun mengambil langkah mundur. Langkah terberat yang pernah ia ambil seumur hidup. “Aku…”, ia menarik nafas panjang – mencoba meyakinkan dirinya sekali lagi, “Aku sudah tidak mencintaimu lagi… Maafkan aku…”ia buru-buru membalikkan badannya dan pergi sebelum air matanya jatuh di depan Yoona. Perempuan itu sama sekali tidak mengejarnya, samar-samar ia mendengar suara orang terjatuh. Ia menghentikan langkahnya dan menoleh sedikit. Dilihatnya perempuan itu terduduk lemas di atas tanah sambil menatapnya kosong.
“Bohong..”yoona berucap lirih, “bohong…”ia mengulanginya lagi. “PEMBOHONG!!”akhirnya ia berteriak sekuat mungkin pada Jonghyun. Jonghyun kembali berjalan, kali ini ia mempercepat langkahnya, ia takut terlalu lama berada di dekat Yoona akan membuatnya berubah pikiran lagi.
“OPPA KAU BOHONG!!”Yoona berteriak lagi. Ia menutupi mukanya dengan kedua tangannya. Sakit, rasa sakit benar-benar menjalar ke seluruh tubuhnya. Gelas kini sudah pecah, ia tidak mungkin memperbaikinya lagi. Ia benar-benar frustasi.
“Mianhe…”
***
“Arrrgghhhh!!”Jonghyun berteriak frustasi, ia duduk di samping tempat tidurnya dengan penampilan yang sangat berantahkan. Baju yang ia pakai semalam, belum digantinya sama sekali. Ya, ia habis mengamuk semalaman. Melampiaskan semua kekesalan pada dirinya sendiri. Kamarnya sama sekali tak berbentuk. Serpihan kaca cermin yang ia hancurkan semalam masih berserakan, bantal-bantal sudah robek, mengeluarkan bulu-bulu halus yang ada di dalamnya, buku-buku berantahkan, dan lantai kamarnya sedikit basah dikarenakan dispenser yang tumpah. Ia tak ingin beranjak, tak ingin membereskan semua, bahkan untuk mengobati tangannya yang terluka karena serpihan kaca saja rasanya tak ada nyawa untuk menggerakan tubuhnya.
“Yoo… Na…”ia mengangkat undangan mewah berwarna putih tulang dan emas yang di pegangnya semalaman. Ia tak sanggup menangis ataupun beteriak lagi. Perlahan, dibukanya undangan tersebut. Sedikit darah menetes di atas undangan tersebut dari luka di punggung tangan kanannya. Besok, besok adalah hari terpahit yang akan dilaluinya. Entah ia akan datang menyaksikannya atau tidak. Tapi, melihat perempuan yang dicintainya menggunakan gaun pengantin pastilah menyenangkan. Hanya saja, perempuan itu memakainya bukan untuknya. Otaknya benar-benar bisa meledak karenanya.
“Oppa, bawa aku pergi…”suara perempuan itu masih terdengar jelas di telinga. Ia masih merasakan jantungnya seperti tersengat listrik mendengar kata-kata. Ya, sebenarnya ia ingin sekali membawa perempuan itu pergi – lari dari pernikahannya. Tapi sesuatu masih menahannya, ia tidak akan mungkin bisa membahagiakan perempuan itu. Kondisinya dan kondisi perempuan itu sangat berbeda. Tidak, perempuan itu tidak akan bahagia dengannya. Ia hanya mahasiswa dengan pekerjaan tak jelas, hidup tidak teratur, sama sekali kontras dengan kehidupan perempuan itu. Tidak, ia harus melepaskan Yoona. Ya, untuk kebahagiaannya.
***
Bunyi lonceng gereja terdengar semakin keras, samar-samar suara tamu-tamu yang sudah datang juga menembus dinding ruang. Yoona duduk di depan sebuah cermin besar. Jaekyung baru saja selesai meriasnya dan pergi untuk merias dirinya dan Sunny di ruangan lain. Ia menghela nafas panjang dan menatap pantulan dirinya di dalam cermin. Cantik, ya, ia sudah mendengarnya ribuan kali sejak tadi pagi. Tapi, ia merasa sebagai pengantin paling jelek yang pernah ada. Untuk apa make up mewah, baju mewah, dan pesta mewah, kalau ia sendiri tak merasa bahagia karenanya?! Apa yang harus ia lakukan sekarang? Menangis?? Walaupun menangis ribuan kali, itu tidak akan mendatangkan kebahagiaan untuknya! Lari?? Kemana ia harus pergi, kalau Jonghyun saja sudah tak ingin bersama?!
“Oppa, kau jahat…”ujarnya lirih, air matanya menetes lagi.
“Bagaimana keadaanmu??”pintu di belakangnya terbuka dan Eunhye berjalan masuk menghampirinya.
“Eonni…”Yoona menatap kakak yang memakai baju pengantin mini lengkap dengan tirai kepalanya dari cermin.
“Aku juga memakai baju pengantin, kau suka??”Eunhye tersenyum kecil dari cermin dan balas menatap adiknya itu.
“Eonni, aku tidak ingin menikah… Aku tidak bisa berpura-pura bahagia di depan orang-orang sedang berbahagia untukku… Tawa mereka, semakin ingin membuatku menangis…”air mata Yoona terjatuh lagi.
“Bodoh! Jangan menangis! Jaekyung akan mengamuk nanti..”Eunhye memukul kepala adiknya pelan. Ia berjalan ke hadapan Yoona dan memegang kedua tangan adiknya itu. “Aku akan menjadi eonni yang baik hanya untuk hari ini… Jadi, aku hanya ingin menanyakan padamu… Apa kau mau lari??”
Yoona menarik nafas panjang dan mengangguk pelan, “ya..”
“Larilah…”,Eunhye membuka dompetnya dan mengeluarkan 2 kartu creditnya, “Kau tak punya uang, bukan?? Pakailah kalau kau ingin lari… Aku akan menangani yang disini…”
“Tapi, eonni… Aku…”Yoona menatap Eunhye ragu. Ia sama sekali tidak ingin membuat masalah dengan orangtuanya.
“Kirim pesan kalau kau benar akan lari..”Eunhye mengedipkan sebelah matanya dan bernjak pergi.
Yoona menghela nafa lagi. Air matanya masih menetes. Ditatapnya 2 kartu yang ada di tangannya. Apa ia harus lari? Apa ia harus tetap disini? Bagaimana ini, ia tidak ingin menikah tapi ia tidak ingin mencari masalah dengan tuanya.
“Apa yang harus aku lakukan??”bisiknya pelan. Ia beranjak dari duduknya dan berjalan keliling mencoba mencari ide. Gaun bagian belakangnya yang panjang menyapu lantai yang ia lewati.
“Apa aku harus membatalkannya sendiri pada Appa??”ia menghentikan langkahnya dan menoleh menatap cermin yang kini berada di samping kanan. Ia berbelok dan berjalan mendekati cermin. Matanya menatap lurus kedua mata yang terpantul di dalam cermin. Ia sedang menguatkan dirinya. Saat ini, ialah yang harus memutuskan nasibnya. Ini mengenai perasaannya dan mungkin orangtuanya belum memahaminya.
“Baiklah..”ia menghapus kedua pipinya yang basah dan mengangguk mantap. Baru saja ia akan melangkah pergi ketika di dengarnya seseorang mengetuk jendela ruangan itu. Sedikit bingung, ia berjalan menghampiri jendela yang tingginya hampir sama dengan pintu itu dan membukanya pelan.
“Annyeong…”seorang laki-laki berdiri di depan jendela. Laki-laki memakai kemeja rapih yang ditutupi jaket rajut panjang dan syal yang membelit lehernya rapih. Laki-laki itu tersenyum dan membuat Yoona kehilangan sama sekali kekuatannya untuk berbicara. Laki-laki itu adalah Jonghyun.
“Aku melihatmu, saat ini dihadapanku… Aku datang menjemputmu, masihkah kau mau mengulurkan tanganmu??”Jonghyun tersenyum dan mengulurkan tangannya pada Yoona. Angin menghembuskan sedikit poninya dan membuatnya terlihat semakin manis.
“O.. Oppa??”Yoona masih kehilangan kekuatannya untuk bebicara. Air matanya menetes lagi, tubuhnya terasa melemas. Apa ini kenyataan atau hanya halusinasi? Benarkah Jonghyun ada di depannya saat ini? Benarkah? Jantung berdegup kencang. Ia mengangkat tangannya perlahan dan meraih tangan Jonghyun.
“Kau adalah pengantinku…”Jonghyun meraih pinggang Yoona dan mengangkatnya keluar dari jendela. Ia tersenyum kemudian, dan membelai pipi Yoona mencoba menghapus air mata perempuan itu yang tak mau berhenti dari tadi. “Maafkan aku… Aku telat menjemputmu…”
“Ti.. Tidak… Aku bahagia…”Yoona terisak sedikit dan tersenyum.
“Yoona!!”terdengar Eunhye berteriak memanggilnya. Ia menoleh kembali ke jendela dan melihat Euhye masuk bersama kedua orangtuanya dan juga Seungho, calon suaminya.
“Yoona-ya!! Kembali masuk!!!”ibu Yoona berlari ke tepi jendela diikuti Eunhye yang mencoba menahannya.
“Oppa, ayo pergi…”Yoona tersenyum pada Jonghyun dan menggandeng tangannya. Ia menarik laki-laki itu pergi sejauh mungkin dari gereja. Samar-samar terdengar suara ibunya masih berteriak memanggilnya, tapi ia sudah tidak peduli. Saat ini, ia merasa sebagai perempuan paling bebas dan bahagia di dunia. Ia akan memulai hidup barunya mulai sekarang.
“Aku hanya akan melihat orang yang ku cintai…”
***
“Yoona!! Yoona-ya!! Berhenti!!”Jonghyun menghentikan langkahnya dan menahan tangan Yoona.
“Kenapa??”Yoona menoleh menatap Jonghyun. “Kau tidak ingin lari??”
“Bukan… Bukan itu…”, Jonghyun mencoba mengatur nafasnya, “Tidak ada gunanya kita lari…”
“Ah? Kenapa?”Yoona menatap laki-laki itu bingung.
“Aku sudah melamarmu pada orangtuamu dan mereka setuju…”Jonghyun tersenyum lebar.
“Tidak mungkin!”Yoona mendengus pelan.
“Ya, itu benar! Dan yang hari ini akan jadi menikah, adalah kakakmu!!”

Advertisements

20 responses to “[Freelance] Clenching My First Tight

  1. ending aneh, nanggung ah kayakx.
    abis pelik sih. awal2 knapa ditolak trus malah diterima, tru yg jadi nikah kakaknya itu gmn ama pihak cowo-nya?masa ditentukan sepihak?
    sekuel-nya donk!kekeke
    oh yah, 1 lagi, ttg penyebutan Yoona yg dipakai d Jonghyun POV ga enak bacanya “perempuan itu”, kalo mau dikasi kesan miterius juga paling awal2 doang, soalnya akhirnya juga tau kn, tp pas udah tau itu Yoona, penulisannya masi sama, hanya tersa ada yg mengganjal aja sih pas bacanya.
    keep writing, fighting!

  2. jadi yoona jonghyun nikah? atau kakaknya?
    kenapa gak diceritain flashbacknya thor? biar gak bingung wkkww
    nice ff ~~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s