[Freelance] Teardrops On My Guitar

[SongFic] Teardrops On My Guitar

Title : [SongFic] Teardrops On My Guitar
Author : Miichan a.k.a Meilinda Kurniasari
Cast(s) :
– Kim Hyejin (Fictional Character)
– Super Junior Siwon as Choi Siwon
– SNSD Sooyoung as Choi Sooyoung
– FT Island Jonghun as Choi Jonghun
Length : Oneshoot
Genre : Galau (emang ada?!)
Rating : T
Disclaimer : The Song belongs to Taylor Swift. I do not own the cast(s), I just own the plot and the story. PLEASE DO NOT RE-UPLOAD WITHOUT MY PERMISSION^^
A/N : pernah di post di blog pribadi penulis (chocothic.wp) dan FB pribadi penulis.

*

Aku memarkir mobil Ferrari hitam metalic yang sudah 3 bulan belakangan ini sah menjadi milikku di depan café yang menjadi tujuanku.
Kuhirup oksigen banyak-banyak untuk memenuhi rongga paru-paruku yang entah sejak kapan serasa sesak. Sebenarnya aku malas, eh lebih tepatnya tidak ingin datang. Hah… tapi aku tau pasti, semalas apapun, aku tidak akan pernah bisa menolak permintaan Siwon.
Kualihkan tatapanku ke arah café, masih sepi, sepertinya aku datang terlalu cepat, ya? Mungkin lebih baik aku tunggu dulu di sini sampai undangan yang lain datang ke acara pesta perayaan hari lahir Siwon yang ke-20 ini.
Untuk menghilangkan rasa bosan dan menenangkan detak jantungku yang sedari tadi berdetak tidak menentu, cepat-lambat-lambat-cepat-lambat, kusetel mp3 player di dashboard mobil. Ku sandarkan tubuh dan kepalaku, membuat diriku senyaman dan serileks mungkin. Ku pejamkan kedua mataku saat intro lagu mulai terdengar.
Tunggu! Lagu ini….
Refleks ku buka mataku dan menegakkan tubuh untuk melihat judul lagu apa yang sekarang sedang diputar, mesi aku yakin telingaku tidak mungkin salah dengar, karena sepasang indra pendengaranku sudah sangat akrab dengan susunan nada yang mengalun memenuhi ruang kosong di mobilku saat ini.
Membatu, itulah yang terjadi pada tubuhku saat ini ketika mataku menatap layar monochrome berwarna biru itu; The Red Jump Suit Apparatus-Your Guardian Angel.
Tidak ada yang salah dengan lagu ini, bahkan ini adalah lagu favoritku. Benar, tidak ada yang salah, kecuali saat mengingat jika Siwon juga menyukai lagu ini. Siwon, Siwon, Siwon. Sosok yang sekarang ini berusaha kuhilangkan dari otakku. Mendengarkan lagu ini sama saja menjerumuskanku semakin dalam ke lembah kegalauan. Oke. Aku lebay.
Jemariku terangkat untuk menekan tombol ‘Off’, tapi entah bagaimana akhirnya hanya menggantung di udara, seiring dengan terbukanya sebuah memori berantakan seperti kepingan puzzle di dalam cerebrumku. Aku tidak ingin melihatnya, tapi mereka –bagian-bagian otakku- seolah tidak memperdulikan sugesti yang kukirim untuk menyimpan memori itu rapat-rapat. Mereka terus menyusun bagian-bagiannya hingga menjadi memori yang utuh, hingga terpaksa kulihat… kuingat….

=[*]=

Drew looks at me
I fake a smile so he wont see
That I want and I’m needing
Everything that we should be

*Flashback 2 weeks before
Aku membereskan peralatan tulisku dengan kesal. Hari ini menyebalkan sekali. Mr. Frank, dosen sastra Inggris itu betah sekali berlama-lama di kelas, membahas tentang cerita cinta abadi karya Shakespere. Yah! Kau benar! ‘Romeo And Julliet’. Aku bosan mendengar pembahasan ini. Aku sudah dijejeli cerita roman jaman baheula itu sejak aku belum bisa membedakan huruf ‘b’ dan ‘d’ oleh ayahku yang notabene adalah sastrawan. Jadi, kurasa ‘Romeo And Julliet’ tidak perlu lagi masuk dalam pembahasan kuliahku, karena aku yakin jika aku lebih mengenal dua sejoli itu dari pada Mr. Frank.
Ish! Oke, lupakan! Itu malah membuatku makin menumpuk dendam pada dosen tak berdosa dengan kacamata botol itu. Hufth… sekarang aku harus secepatnya pulang, memburu meja makan. Ini sudah lewat dari lima belas menit dari jam makan malamku. Ish! Mr. Frank!!!
“Hyejin!”
Aku melonjak kaget dan menjatuhkan susunan buku dalam dekapanku saat seseorang menepuk bahuku secara tiba-tiba dari belakang. Ya Tuhan… apa jantungku masih ada pada tempatnya?
“Kamu kaget?”
Indra pendengaranku menangkap suara bass yang aku yakin dimiliki oleh orang yang secara tidak bertanggung jawab menepuk bahuku dan membuat buku-buku yang kususun rapi kini berceceran di lantai koridor kampus.
“Siwon! Bisa gak kalo dateng tuh jangan kayak hantu?!” hardikku seraya berjongkok untuk memunguti buku-bukuku. Jangan tanya kenapa aku bisa tau siapa yang telah mengejutkanku, suaranya sudah terlalu kuhapal.
“Hehe… mianhae, Hyejin-ah,” kudengar kekehan tawanya, dan meski tanpa kulihat wajahnya, aku tau seperti apa ekspresinya saat ini; memamerkan cengiran tanpa dosanya.
“Iya, tapi ‘kan aku gak punya jantung cadangan, Siwon-ah. Emang kamu mau gantiin pake jantung kamu kalo jantungku beneran copot?” gerutuku pelan. Dapat kulihat dari sudut mataku Siwon ikut berjongkok dan memunguti beberapa lembar kertas yang terhambur dari map.
“Iya, iya, aku ‘kan udah minta maaf,” Siwon mengulang permintaan maafnya dan terdengar begitu tulus. Yah, karena memang dia orang yang tulus.
Aku menegakkan tubuhku setelah aku yakin buku-buku yang jumlahnya hampir selusin itu kembali tersusun seperti semula, untung tebalnya tidak ada yang lebih dari 70 halaman. Siwon juga mengikuti gerakanku, ia kemudian menyerahkan tumpukan kertas yang telah dikumpulkannya kepadaku.
“Gomawo,” kulempar senyum tipis pada laki-laki yang selama sembilan belas taun ini –atau bisa kubilang seumur hidupku- dekat denganku.
“Cheonmane,” dia balas tersenyum.
Dan… oh ya Tuhan… itu membuat waktu seakan bergerak seratus kali lebih lambat menyerupai gerak slow motion di film-film action. Tapi sepertinya jantungku malah bekerja sebaliknya, berdetak seratus kali lebih cepat dari biasanya. Ugh! Padahal jantungku baru saja menerima shock teraphy saat Siwon tadi mengagetkanku. Aku bisa mati muda karena jantungan! err… tapi itu berhasil membuat rasa laparku menguap entah ke mana.
Boleh aku meminta sesuatu? Aku ingin Siwon terus tersenyum seperti ini untukku, hanya untukku.
“Aku baru tau kamu ambil kelas sore sampe malem,” Siwon memecah pikiranku yang sejak tadi fokus pada senyumnya dengan suara khasnya yang menggema di telingaku.
Aku menghela napas dan memperlebar senyumku. Aku tidak ingin dia melihat isi kepalaku dan membaca pikiranku yang menginginkan dia terus di sampingku seperti ini, tapi bukan sebagai… sahabat.
“Yah, tapi kamu tau ‘kan kalo aku kerja part time belakangan ini. Aku sering ketinggalan, jadi aku ambil kelas sore sepulang aku kerja,” jawabku berusaha sesantai mungkin dan mencoba menyembunyikan apapun yang bisa membuat dia menebak apa yang ada di balik tempurung kepalaku saat ini.
Dan sepertinya aku berhasil. Siwon hanya mengangguk tanda paham, dan kami pun terus berjalan bersisian menyusuri koridor kampus.

I’ll bet she’s beautiful
The girl he talks about
And she’s got everything
That I have to live without

“Udah lama, ya kita gak ngobrol berdua begini?” Siwon mengawali pembicaraan.
Aku mengangguk. “Dua bulanan ada kali, ya?” jawabku dengan pertanyaan balik.
“Kamu sih sibuk banget. Padahal aku mau cerita banyak sama kamu, Hyejin.”
Aku merasa dadaku menghangat. Pria ini, Choi Siwon, masih membutuhkanku, ternyata. “Ya udah, cerita aja sekarang, kita masih ada waktu sampe depan apartemenku.”
“Heh? Maksud kamu?”
Aku mendengus pelan. “Ya maksud aku, kamu gak akan biarin sahabatmu ini pulang sendirian malem-malem gini, ‘kan?” kubuat nada suaraku sememelas mungkin.
“Hahah… dasar!” Siwon mengacak pelan poniku dan itu berhasil membuat wajahku memanas.
“Apaan, sih?!” cepat kutepis tangannya, terlalu lama dia menyentuhku akan berdampak buruk pada kesehatan jantungku. “Jadi, mau cerita apa?” kucoba mengalihkan perhatiannya agar tidak menyadari perubahan yang terjadi di wajahku.
“Ehm… Hyejin-ah… kalo ada cowok yang mau nembak kamu, kamu mau ditembak dengan cara apa?”
Aku mengernyit, tiba-tiba aku merasa udara di sekitarku menipis. Oh astaga! “Kamu mau nembak cewek?” tanyaku langsung. Entah dari mana aku bisa berspekulasi secepat itu.
Dan demi Tuhan! Aku melihat pipi Siwon merona merah serupa cherry. Ia menggaruk belakang kepalanya yang aku sangat yakin tidak gatal sama sekali. Dan yang membuatku seakan di lempar ke dalam samudera Antartika di titik terdingin adalah… dia mengangguk! Seketika aku merasa kehilangan keseimbangan.
Aku menggeleng samar. Kucoba tetap menjaga agar tubuhku tetap berdiri. Dia tidak boleh tau isi kepalaku. Tidak boleh!
Kutelan salivaku dengan susah payah dan mencoba tetap tenang saat kembali bertanya, “Siapa gadis beruntung itu?”
Kulihat mata Siwon menerawang langit-langit lorong kampus yang kami lewati, seakan di sana terpampang jelas lukisan wajah gadis spesialnya, tersenyum, cantik, dan… ugh! Kim Hyejin! Berhentilah mengandai-andai sesuatu yang hanya akan melukai perasaanmu sendiri! Innerku berteriak lantang menyadarkan.
“Dia dari jurusan seni, satu tahun di bawah kita. Dia pinter ngedance juga bermain piano, dan suaranya merdu banget. Mungkin kalo orang umumnya jatuh cinta pada pandangan pertama, sedangkan aku jatuh cinta pada pendengaran pertama. Hahahah… aneh, ya?”
Ya Tuhan… kuatkan aku….
“Aku suka sembunyi-sembunyi ke kelasnya, dengerin dia nyanyi atau ngintip dia waktu ngedance. Aku mulai cari info tentang dia. Pertama aku dapet namanya, terus alamat dan sampe akhirnya aku beraniin kenalan langsung sama dia. Hah… kamu tau, waktu jabat tangannya yang halus itu tanganku keringetan. Malu-maluin banget, gak?!” cerocos Siwon dengan semangat diikuti gerak tangannya.
“Dia cantik, Hyejin-ah, lembut dan perhatian. Dan beruntungnya aku, karena dia belum punya pacar.”
Aku tersenyum, tapi rasanya sesak sekali. Kudekap erat-erat buku dalam dekapanku. Sedikit berharap itu akan mengurangi rasa sesak yang tiba-tiba menyerangku.

Drew talks to me
I laugh couse it’s so damn funny
That I can’t even seen
Anyone when he’s with me

Siwon masih terus mengoceh mengenai gadis spesialnya, dan lucunya aku malah menanggapinya. Katakanlah aku bodoh, menyedihkan, pengecut, apapun itu, aku terima.
Entahlah, mungkin aku sudah dia pelet. Aku bahkan tidak yakin akan menyadari seandainya Justin Bieber lewat di hadapanku dan berteriak “I LOVE YOU KIM HYEJIN!!!” padaku saat aku tengah bersama pria tampan nan sempurna beraura pangeran, Choi Siwon.
Siwon sudah mengambil seluruh perhatianku tiap aku bersamanya, aku tidak pernah mampu melihat siapapun lagi, karena mataku hanya mampu terfokus padanya.
Aku bahkan sempat memiliki pemikiran konyol, mungkin saja ‘kan Siwon sudah memncuci otakku atau menyettingnya hingga hanya ada namanya saja di dalam sana?
Ini benar-benar lucu dan menyedihkan pada waktu bersamaan.

He says he’s so in love
He’s finally got it right
I wonder if he knows
He’s all I think about at nigth

“Kamu tau, Hyejin, ini pertama kalinya aku ngerasa kayak gini waktu deket sama cewek,” Siwon menoleh padaku yang sialnya tengah menatapnya intens.
Aku cepat-cepat memalingkan tatapanku dan mengangguk. “Iya aku tau, orang dari jaman orok, cewek yang deket sama kamu tuh cuma aku,” jawabku mencoba bercanda, masih berusaha agar Siwon tidak bisa menebak apa yang kurasakan saat ini. Terlalu riskan.
Siwon mengulas senyumnya, senyum yang seolah membuatnya bersinar lebih terang dari lampu neon dua puluh lima watt di langit-langit koridor kampus yang semakin sepi. Dia kelihatan bahagia ketika dia bercerita mengenai gadis spesialnya yang mahir menari dan bersuara merdu. Matanya berbinar saat ia mengingat bagaimana wajah gadis itu selalu menghantui tiap sudut pikirannya.
“Aku rasa, sekarang ini aku bener-bener jatuh cinta, Hyejin-ah. Ini pertama kalinya jantung aku deg-degan cepet banget waktu berhadapan sama cewek. Aku bahkan sampe keringetan banyak banget. Aku juga gak bisa ngilangin bayangannya waktu senyum dari kepalaku. Ah… mungkin kayak gini kali ya kalo orang lagi jatuh cinta. Ehh… apa kamu juga pernah ngerasain hal kayak gini, Hyejin-ah?”
Aku –tanpa sadar- kembali menatap Siwon intens. Melihat bagaimana bibirnya berucap, bagaimana gesture tubuhnya seolah ikut bercerita sebagaimana gerak bibirnya, bagaimana sorot matanya yang begitu berbinar, semuanya.
“Hyejin! Hyejin! Ya! Kim Hyejin!”
Kurasakan bahuku berguncang pelan. Aku tersadar dan mengerjap beberapa kali dan kudapati Siwon menatapku dengan mata indahnya yang memancarkan kekhawatiran. Ah! Tubuhku serasa dialiri listrik saat meyadari kedua tangan Siwon di bahuku.
Ajaib! Ternyata aku masih berdiri tegak walau lemas, jantungku tetap berdetak meski terasa nyeri, dan aku masih bernapas meski rasanya sesak.
Siwon, untuk kali ini, aku berpikir… bagaimana reaksinya saat tau jika dia yang selalu kupikirkan setiap malam seperti dia memikirkan gadis spesialnya, yang sudah sangat amat jelas… bukanlah diriku.

=[*]=

He’s the reason for the teardrops on my guitar
The only thing that keeps me wishing on a wishing star
He’s the song in the car I keep singing,
Don’t know why I do

Kepingan puzle itu kini semakin utuh, otakku terlalu cepat menyusunnya padahal aku tidak –pernah- siap untuk mengingatnya.
Kurasakan mataku memanas dan saat kupejamkan, sesuatu yang basah dan hangat dengan cepat mengaliri pipiku. Aku menangis? Aku menangis….
Tak ada niat untukku menyeka cairan bening yang meleleh dari mataku. Kubiarkan saja. Berharap itu akan sedikit mengurangi rasa sesak di dadaku.
Choi Siwon, satu-satunya alasan bagiku untuk tetap bertahan di sini. Jauh dari kedua orang tuaku. Dia yang selalu memberiku harapan, meski hanya dengan mendengar suaranya dan melihat senyumnya. Dia yang selalu membuatku berharap, berharap bisa menjadi orang pertama dalam daftar prioritasnya, berharap menjadi orang yang selalu dia rindukan, berharap… yah sepertinya memang hanya sekedar harapan saja.
“Season are changing and waves are crashing and stars are falling are for us…,” tanpa kusadari bibirku menggumamkan lirik lagu, bernyanyi mengikuti alunan mp3. Lagu ini, lagu yang berada di no. 1 list lagu favoritku, dan juga Siwon.
Tiap kata di lagu ini salalu mengingatkanku pada sosok Siwon. Dia akan memejamkan matanya dan menikmati lagu ini dengan sepenuh hatinya. Aku suka melihatnya yang begitu tenang ikut bersenandung, dan suaranya tidak kalah merdu dengan vokalis band ini.
Lihat ‘kan, bagaimana aku terus mengingatnya, bagaimana wajah Siwon yang terus membayang di pelupuk mataku. Aku tidak pernah bisa untuk menyimpannya rapat-rapat, karena aku memang sudah terbiasa untuk mengingatnya, Choi Siwon.
“I will never let you fall, I’ll stand up with you forever…,” lagi, aku menggumamkan lirik lagu yang sudah ku hapal di luar kepala, membuatku makin mengingat Siwon dan berefek pada air mataku yang luruh makin banyak.

=[*]=

Drew walks by me
Can he tell that I can’t breathe?

*Flashback a week before
“Hyejin!”
Bruk!
“Ouch!” aku menghela napas, menatap nanar buku-buku dan kertas yang berserakan di lantai. “Oh my…,” dan selanjutnya aku berjongkok memunguti mereka.
“Aku ngagetin lagi, ya?” suara bass itu merangsek menembus gendang telingaku dan entah bagaimana caranya menelusup ke dalam hatiku, membuatku merasa hangat, sesak dan nyeri sekaligus.
Aku menjawab dengan helaan napas pelan.
Siwon menyerahkan beberapa buku, “Ini, makanya jangan ngelamun.”
“Gomawo,” aku kembali berjalan dengan mendekap buku-bukuku.
Kurasakan Siwon ikut berjalan di sampingku. “Kamu ngelamunin apaan, sih?”
Aku menggeleng. “Aku gak ngelamunin apa-apa, kok,” dustaku, masa iya aku harus menjawab ‘Aku tuh hampir gila mikirin kamu yang naksir cewek lain!’?!
“Kamu gak bisa bohong sama aku, aku kenal kamu seumur hidup, loh!”
Kuhela napas pelan dan kuhembuskan dengan rusuh. “Gak ada, beneran.”
“Ahh… jangan-jangan kamu juga lagi jatuh cinta, ya?”
Seketika langkahku terhenti. “Eh?!” dia bisa melihat isi kepalaku?!
“Bener, ‘kan? Siapa cowok paling gak beruntung di dunia itu?”
Itu kamu. “Hei! Apa maksudnya, eh?!”
“Eh bentar! Jangan-jangan gitaris band kampus itu, ya?”
“Hah?!” kumiringkan kepalaku. Siapa katanya?
“Hm… Choi Jonghun itu emang keren. Ya walaupun masih kerenan aku, sih. Hahaha….”
Kugelengkan kepalaku kuat. Dia, tidak bisa melihat isi kepalaku. Dia tidak bisa membaca mataku. Dia tidak mengerti. “Aku gak suka sama dia, kok,” jawabku tenang.
Kurasakan sesuatu melingkar di bahuku. Tangan kekar Siwon. Astaga! Ini berbahaya. Tetap bernapas, Kim Hyejin, bernapas, bernapas… astaga! Aku tidak bisa!!! Sekarang ancaman mati sesak napas mulai mengahantuiku. Ya ampun, iya aku tau aku berlebihan. Tapi sungguh, aku sesak napas!
“Tapi kalian keliatan deket akhir-akhir ini.”
“Kami emang kerja part time di tempat yang sama,” aku keukeuh menolak. Ya iyalah, orang yang kusukai ‘kan dia, Choi Siwon. Setampan dan sekeren apapun Jonghun tidak cukup untuk membuatku berpaling dari pria yang sudah kukenal seumur hidupku ini.
“Ya udah gak apa-apa kalo kamu gak mau cerita sekarang. Aku tau kamu cepat atau lambat pasti bakal cerita, kamu ‘kan bukan tipe orang yang seneng mendem rahasia sendirian lama-lama.” Siwon mengerling seraya tersenyum.
Ya Tuhan… tolong panjangkan umurku.
“Eh! Denger ini!” Siwon melepas rangkulannya di bahuku. Tidak ingin membuang kesempatan itu sia-sia, segera kuhirup oksigen banyak-banyak untuk mengisi rongga paru-paruku yang beberapa saat lalu krisis udara.
Dheg! Jantungku seakan terhenti saat jari-jari Siwon memasangkan sebuah headset di telinga kananku. Aku memutar kapala dan mendongak menatapnya yang tengah tersenyum, selalu tersenyum tepatnya. Aku merasa hangat di sekujur tubuh dan sedikit sakit di dadaku saat intro Your Guardian Angel mengalun memenuhi indra pendengaranku, terlebih lagi, aku dan Siwon berbagi headset.
“Ini lagu kesukaan kita, ah… aku sih masih suka, gak tau kamu masih suka atau nggak.”
Hyejin! Bernapas! Innerku mengingatkan.
“Aku juga masih suka, kok.” Ku ulas senyum yang kuharap senyumku ini tetap terlihat sama dengan senyum sebelum seminggu yang lalu.

And there he goes so perfectly
The kind of flawless I wish I could be

“Siwon Oppa!”
Aku dan Siwon menoleh hampir bersamaan ke sumber suara yang terdengar menyebut nama Siwon.
Dan di sana, kurang lebih lima meter dari tempat kami berdiri, aku melihat seorang gadis bertubuh semampai mengenakan dress selutut berwarna putih yang membuatnya tampak manis, ditambah dengan efek cahaya yang entah sengaja atau tidak menyorot ke arahnya, membuat ia tampak begitu bersinar. Ia melambaikan tangan dengan senyum merekah menghiasi paras cantiknya. Dia… cantik, apa dia yang memanggil Siwon barusan?
“Sooyoung-ah!”
Aku memutar sendi leherku dan menatap Siwon. Matanya berbinar dan senyum yang lebih lebar terukir saat ia menyebut namanya dengan sorot mata yang tidak lepas dari gadis yang ia panggil Sooyoung tersebut.
Dari situ aku tau, walaupun berat mengakuinya, gadis itulah orangnya yang telah berhasil menempati hati Siwon.

Siwon melangkah pasti ke arah Sooyoung, mengabaikanku. Headset yang tadi Siwon pasangkan terlepas dari telingaku begitu saja, tertarik mengikuti pemiliknya yang semakin memperlebar jaraknya denganku. Hei… padahal lagunya belum berakhir, masih tersisa satu reff lagi.
Aku menggigit bibir bawahku kuat. Gadis itu… benar-benar menariknya.

She’d better hold him tight
Give him all her love
Look in those beautiful eyes
And know she’s lucky…

Aku berdiri terpaku di sini, seolah seorang penyihir telah memantrai tubuhku hingga berubah menjadi batu. Aku ingin membuang tatapanku dari mereka –Siwon dan Sooyoung- yang tampak begitu akrab. Tapi aku tidak bisa, bahkan untuk sekedar memejamkan mata pun rasanya aku tidak sanggup.
Ku lihat gadis itu tersenyum padaku dan kurasa Siwon menyadari jika beberapa saat sebelumnya aku lah yang ada di sampingnya.
“Hyejin-ah! Ke sini!” Siwon memanggil namaku dan menggerakkan tangannya sebagai isyarat agar aku mendekat.
Ku tarik napas dalam-dalam sebelum memaksa menyeret kakiku memotong jarak dengan mereka. Rasanya kakiku ini seperti diberi beban bola besi masing-masing seberat 100kg.
“Hyejin, ini Choi Sooyoung. Soo, ini sahabatku, Kim Hyejin.” Siwon memperkenalkanku pada gadis cantik itu dengan antusias.
“Annyeong haseyo, Choi Sooyoung imnida,” gadis itu menyebutkan namanya terlebih dahulu lalu membungkuk sopan padaku.
Aku menarik sudut bibirku membentuk sebuah senyum. “Kim Hyejin imnida,” aku balas membungkuk padanya.
“Bangapseumnida, Hyejin-ssi,” ia tersenyum makin lebar, membuat kedua pipinya terangkat. Lucu.
Aku mencoba tetap mempertahankan senyumku. Apa aku harus menjawab ‘Na ddo’? Karena sejujurnya aku tidak begitu senang berkenalan dengannya. Dia yang telah membuat Siwon membagi perhatiannya. Tapi aku bisa apa?
“Apa ini Hyejin-ssi yang sering oppa ceritain itu?” Sooyoung mengalihkan sorot matanya, yang baru ku sadari begitu hangat, pada Siwon.
“Hehe… iya, ini dia Hyejin.”
Aku mengernyit. “Siwon sering cerita tentang aku?”
Sooyoung mengangguk semangat. “Wah, tapi Hyejin-ssi yang aslinya jauh lebih cantik dan baik dari pada yang Siwon oppa certain.”
“Cantik apanya? Yang biasanya disebut cantik ‘kan cewek. Liat deh dia.”
Seketika aku mendelik ke arah Siwon dan kucubit pinggangnya gemas hingga ia menggeliat sambil meringis.
“Eh? Tapi beneran, kok, Hyejin-ssi cantik banget,” sahut Sooyoung.
Aku tersipu. Siwon memang tidak salah pilih. Gadis ini selain cantik, juga ramah. Mungkin akan ku usahakan merelakan Siwon untuknya.
“Hih, iya cantik, tapi kalo diliatnya dari puncak Namsan Tower pake sedotan minuman gelasan,” seloroh Siwon lagi diakhiri tawa puas.
Ish! Benar-benar! Awas kau Choi Siwon.
“Jadi, Siwon-ah, ini toh cewek yang kata kamu jago main piano dan pinter ngedance? Ah ya, suaranya juga emang merdu, sih.”
Mendadak tawa Siwon menghilang, digantikan dengan deathglarenya yang ditujukan ke arahku. Ah… sepertinya Siwon belum menyatakan perasaannya pada gadis ini. Sedangkan Sooyoung, ia menatapku dengan binar penasaran yang tidak bisa ditutup-tutupi. Dan aku? Aku hanya memasang tampang polos tanpa dosa andalanku.
“Kamu apa-apaan, sih?” hardik Siwon dengan berbisik di telingaku.
Aku mengabaikannya dan malah mendekat pada Sooyoung lalu berdiri di sampingnya. Ku pegang bahunya dan tersenyum setulus yang aku bisa.
“Kamu beruntung, Sooyoung-ssi. Siwon ini makhluk langka. Gak akan ada duplikatnya meskipun kamu nyari sampe ke ujung dunia.” Bisa ku lihat dari sudut mataku Siwon memberi tatapan ‘berani-bicara-macam-macam-ku-bunuh-kau’ yang kutanggapi dengan senyum tipis. Memangnya aku peduli? Salah siapa dia sudah membuatku patah hati bahkan sebelum aku menyatakan perasaanku.
“Eh? Maksudnya?” Sooyoung menatapku semakin penasaran.
Heh… melihat sepasang bola mata jernih berwarna cokelat hazel milik gadis yang agak sedikit lebih tinggi dariku ini membuatku semakin merasa kecil. Choi Sooyoung, kamu benar-benar gadis yang beruntung.
Ku dekatkan wajahku ke samping kepalanya dan bebisik, “Kamu suka sama Siwon, ‘kan? Jaga dia baik-baik. Jangan lepasin dia. Jangan sakiti dia. Atau aku bakalan ambil dia dari kamu.”
“Hei! Kamu bisikin apaan, sih?!” ku rasakan jari-jari Siwon melingkari tanganku dan menariknya.
“Ah! Bukan apa-apa, kok.” Aku tersenyum dan mengedipkan sebelah mataku pada Sooyoung yang sedang menunduk malu berusaha menyembunyikan pipinya yang bersemu kemerahan.
“Oh! Jadi sekarang main rahasia-rahasiaan, nih?” Siwon menyipitkan matanya menatapku.
Aku mundur satu langkah. “Ah! Aku lupa! Jonghun ‘kan mau ke rumahku buat minjem catetan. Bye! Aku duluan!” ku bungkukkan badanku singkat lalu segera berbalik dan berjalan menjauhi mereka secepatnya.
“Yah! Hyejin-ah!!!” panggil Siwon.
Aku menoleh sekilas dan melambaikan tanganku, kemudian kembali berjalan. Ku rogoh saku celana untuk mengambil ponselku dan mengetikkan sebuah pesan.

To : Prince Choi
Dia cantik dan sepertinya baik.
‘Oppa’ hwaiting!!!
^^

Setelah yakin pesanku terkirim, ku cabut baterai ponselku dan memasukkannya asal ke dalam tas selendang yang ku pakai. Ah! Ingatkan aku untuk mengganti nama kontaknya nanti.
Dadaku sesak. Bolehkah aku menangis? Ini terlalu menyakitkan.

So I drive home alone
As I turn out the light
I’ll put his picture and maybe
Get some sleep tonight

Jarum speedometer di dashboard mobilku tidak pernah melewati angka 20. Yah, aku mengendarai mobilku ini dengan kecepatan rendah karena tidak ingin membahayakan nyawaku sendiri yang menyetir sambil berurai air mata. Seperti apapun aku patah hati, aku tidak akan mengantar nyawaku ke akhirat dengan sia-sia.
Apa aku sudah menyakiti diriku sendiri? Apa aku sudah melemah? Entahlah, tapi rasanya benar-benar sesak saat ini.
Aku melangkah gontai memasuki gedung 15 tingkat di mana apartemenku berada. Tidak ku hiraukan tatapan beberapa orang yang sepertinya prihatin dengan keadaanku saat aku memasuki lift menuju lantai 7.
Lampu apartemen menyala secara otomatis saat ku buka pintunya. Tas yang tersampir di bahu dan beberapa buku dalam dekapanku ku lempar asal ke sofa, sedang kakiku terus melangkah memasuki kamar. Aku lelah, sangat lelah. Ku jatuhkan pantatku di sisi ranjang, menatap kosong langit-langit kamarku.
Mataku beralih ke arah meja kecil di samping tempat tidur. Ada tiga pigura di sana. Yang pertama berisi fotoku dan keluargaku saat di Gangnam, kampung halamanku –dan juga Siwon tentunya-, yang kedua fotoku sendiri saat lulus SMA, dan yang terakhir… fotoku bersama Siwon ketika kami duduk di bangku tahun pertama sekolah menengah atas.
Tanganku jahil mengambil pigura terkahir. Aku tersenyum kecil saat jemariku mengelus foto tersebut. Foto ini diambil saat aku mulai menyadari jika aku memiliki perasaan lebih dari sekedar sehabat pada Siwon. Yah, aku dan dia bersahabat sejak kecil. Rumah kami bertetangga. Aku menghabiskan seluruh waktuku bersamanya, hingga sekarang pun kami tetap bersama ‘kan? Apa lagi alasanku memilih kuliah di Inha University selain agar aku terus bersamanya? Meski pada akhirnya, belakangan ini kami agak merenggang, dan kurasa itulah yang member ia celah menemukan Sooyoung.
Aku menarik leci meja kecil itu dan menaruh pigura berwarna magenta berisi fotoku dan Siwon di sana lalu menutupnya perlahan. Aku pasti akan sangat merindukan saat-saat di mana Siwon hanya memikirkan tiga orang perempuan dalam kepalanya; ibunya, Jiwon adiknya, dan aku… sahabatnya.
Kurasa apa yang orang-orang katakan itu benar, tidak akan pernah ada persahabatannya yang murni yang terjalin di antara laki-laki dan perempuan, pasti ada salah satunya yang memiliki perasaan lebih.
Ku matikan lampu kamarku dan merebahkan tubuhku yang rasanya belakangan ini semakin ringkih di atas kasur. Aku harap aku bisa tidur dengan nyenyak malam ini karena Siwon pasti sedang bahagia. Apa lagi yang bisa membuatku bermimpi indah selain kebahagiannya?

=[*]=

He’s the reason for the teardrops on my guitar
The only one who’s got enough for me to break my heart
He’s the song in the car I keep singing
Don’t know why I do

Aku menenggelamkan kepalaku dalam lipatan tangan di atas stir mobil. Seminggu belakang ini aku sudah mencoba menghapus perasaanku pada Siwon –karena aku tidak yakin sanggup untuk melupakannya-, tapi aku tidak benar-benar berhasil. Siwon sendiri yang selalu menggagalkannya. Ia masih tetap seperti Siwon yang dulu, selalu memberi perhatian dan kembali membuatku berharap.
Siwon menghancurkan hatiku perlahan-lahan, memperbaikinya lagi, hancurkan lagi. Terus seperti itu. Yah, aku tahu ini bukan sepenuhnya kesalahan Siwon, tapi juga salahku yang tidak pernah memberitahunya jika aku menyayanginya melebihi apapun.
Dan pada akhirnya… sekeras apapun ku coba, perasaanku untuknya tidak akan pernah luruh. Ini benar-benar menyakitiku, merelakan Siwon dan Sooyoung bersama di saat perasaanku padanya masih sekuat dulu.
Lagu Your Guardian Angel akhirnya berakhir, berganti dengan lagu dari band yang bersama berjudul Face Down.
Aku menegakkan bahuku. Dari sini aku bisa melihat ke dalam café yang dindingnya full window. Tampak sudah mulai ramai dan banyak dan datang. Tempat parkir pun sudah mulai penuh.
Kuhela napas napas banyak-banyak, mematikan mp3 player, lalu mengaduk-ngaduk tas tangan untuk mengambil cermin dan tissue. Wajahku pasti sudah sangat menyeramkan saat ini. Dan benar saja, saat aku bercermin, eyeliner yang ku kenakan kini belepotan di sekitar mataku yang sembab habis menangis, hidungku merah, mataku juga. Astaga!
Apa aku pulang saja? Tapi Siwon pasti akan sangat kecewa. Aku ‘kan sahabatnya sejak kecil. Hhh~ ya sudahlah. Salahku juga kenapa menangis sekarang, tidak sepulang dari pesta saja.
Aku membersihkan wajahku menggunakan tissue dan facetonic yang selalu ku bawa ke mana-mana. Ah! Terimakasih pada Ryeowook yang menjejalkan seperangkat alat kosmetik dalam laci dashboard mobilku. Aku tidak boleh mengecewakan Siwon.

He’s the time taken up,
But there’s never enough
And he’s all that I need to fall into

Kepingan memori itu kini utuh, terpajang jelas dalam cerebrum otakku. Tapi tidak apa-apa. Aku sudah cukup puas menangis tadi, jadi kupastikan aku tidak akan menangis lagi –setidaknya untuk saat ini, entah pulangdari pesta nanti-.
Ku coba mengangkat dagu dan melangkah pasti memasuki café, menyapa dan menjawab sapaan beberapa teman yang ku kenal. Aku harus kuat.
Kalau dipikir-pikir, aku sudah menghabiskan seumur hidupku (minus 2 bulan belakangan karena aku sibuk dan juga dia sibuk) bersama-sama dengan Siwon. Sebelas bulan setelah ia lahir, lahirlah aku. Tapi kami menempuh pendidikan di tingkatan yang sama. Oleh karena itu aku tidak pernah memanggilnya ‘oppa’.
Tapi, 19 tahun itu rasanya tidak cukup. Waktu terasa berjalan sangat cepat saat kita merasa bahagia. Begitu juga yang terjadi padaku. Aku tidak pernah mengantisipasi hal ini sebelumnya, melihat Siwon jatuh cinta dan mengenalkan seorang gadis yang ia sukai padaku. Aku tidak pernah membayangkan ini sebelumnya, karena yang ada di kepalaku hanyalah aku dan Siwon, selamanya berdua.
Choi Siwon, satu-satunya yang benar-benar bisa membuatku jatuh begitu dalam. Kadang aku juga berpikir, apa dia tidak pernah merasakan hal yang sama dengan yang ku rasakan padanya, huh?
Akhirnya aku bisa melihat Siwon di antara sekumpulan teman kampus yang kebanyakan tidak ku kenali. Ia tampak bersinar dengan jas hitam tak terkancing yang lengannya di lipat sampai siku dengan dalaman T-shirt santai berwarna senada dengan jasnya. Ah! Ada Sooyoung juga rupanya.
Aku menyusup di antara para tamu ke arah belakang laki-laki tegap itu untuk mengagetkannya. Ku tepuk pelan bahunya dari belakang dan tubuhnya menegang. Terkejut, eh? Segera ia memutar tubuhnya.
“Yah! Kamu…,” Siwon menatapku tanpa melanjutkan ucapannya yang pasti berniat menghardikku.
Aku terkekeh pelan lalu menyerahkan kotak hitam berdimensi 20 cm x 20 cm x 3 cm pada Siwon. Jangan tanya apa isinya. “Selamat ulang tahun, Choi Siwon. Ya ampun! Kamu udah dua puluh tahun aja. Apa sekarang aku harus manggil kamu ‘oppa’?”
Siwon menerima dengan pelan hadiah dariku tanpa mengalihkan tatapannya dariku. “Makasih. Kamu… Hyejin?”
Aku mencibir. “Udah berapa lama kamu kenal sama aku?”
Siwon tersenyum, akhirnya. “Aku… gak percaya aja kamu beneran Kim Hyejin. Ke mana sneakers sama T-shirt longgar kebanggaan kamu itu?”
“Lah, ‘kan kamu sendiri yang bilang dress codenya semi formal. Kenapa? Aku keliatan aneh, ya? ugh! Udah aku duga, dress ini gak pantes nempel di badanku.”
“AH! Ng-nggak kok. Kamu… keliatan beda aja,” Siwon membantah. “Cantik….”
Sontak wajahku memerah. Kapan, ya, terakhir kali Siwon bilang aku cantik?
Aku hanya tersenyum simpul sebagai respon atas pujiannya. Menyembunyikan apa saja ekspresi wajahku yang bisa membuatnya bisa membaca pikiranku. Biarlah saja hanya Tuhan dan aku yang tahu bagaimana innerku melompat-lompat kegirangan dengan seragam cheerleaders ala SNSD di MV Oh! dengan background dihiasi kembang api warna-warni.

Drew looks at me
I…
Fake a smile so he won’t see

=[* FIN *]=

Well,
Not-so-romantic-FanSongFiction
But,
Still mind to Like and Comment?
Gamsaharigatou~

Advertisements

16 responses to “[Freelance] Teardrops On My Guitar

  1. beginilah kala cinta tak bisa terucap yg satu pasti kn hancur dikarnakan dusta.. dusta pada cinta dusta pada diri sendiri dusta pada takdir yg mempertemukan juga mengakhirinya it’s hurt me so bad

  2. lemme introduce myself first.
    Annyeong i’m chaekyung.
    I’m newbie here..
    So this my coment..
    Ok, i cry.
    It like my condition..
    Hyejin just like that?
    That’s not a happy ending anyway.
    it hurts for hyejin, so make this sequel..
    Make happy end for hyejin..
    Please..

  3. Pingback: Scan – Mengapa Sukarnya Untuk Setia : Lagu Dan Lirik | Blog Lirik Lagu Dot Info·

  4. Pingback: FOTO CEWEK CANTIK BUGIL - Foto Ngintip Memek Dan Toket Cewek SMA | New Software Gratis Full Patch Gratis·

  5. Pingback: Scan - Mengapa Sukarnya Untuk Setia : Lagu Dan Lirik·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s