[Freelance] In My Dream

Title : In My Dream
Author : cloudSomnia
Cast : Lee Donghae, Lee Sungmin, Hwang Chaerin (OC)
Genre : Sad story
Rating : General
Length : Oneshoot

My first sad ff.. kritik dan sarannya yaa^^
Oke langsung saja, here the story begin!

Seorang namja berpakaian serba hitam tampak berjalan lunglai di sekitar taman kota Seoul. Kakinya tak berhenti menendang benda apapun dihadapannya. Tak ada ekspresi apapun yang terpancar dari wajahnya kecuali bekas airmata yang masih belum mengering di kedua pipinya.
Ia menghempaskan tubuhnya pada bangku panjang yang berada di pojok taman. Tepat di bawah sebuah pohon yang tampak putih tertutup salju. Ia menengadahkan wajahnya ke langit. Memejamkan matanya. Mencoba mencari ketenangan tanpa mempedulikan wajahnya yang tersentuh salju. Namun tak lama kemudian terdengar isak tangisnya.
“Kenapa kau pergi?” ucapnya ditengah isak tangisnya. Ia membuka matanya dan memandang nanar ke arah pohon indah di atasnya.
“Apa kau lupa pada janji kita? Kau bilang ingin menikmati salju turun bersamaku. Tapi apa yang kau lakukan sekarang? Kau malah meninggalkanku..” ratapnya. Bulir bening masih menetes dari kedua matanya. Isakkannya berhenti sejenak ketika dirasakannya ponselnya bergetar.
“Yeobose-”
“Donghae-ah kau di mana?”
“Sungmin hyung..”
“Yaa jawab aku, kau di mana?”
“Aku baik-baik saja hyung.”
“Gotchimal! Aku tahu bagaimana perasaanmu. Sekarang katakan kau ada di mana. Aku akan menjemputmu.”
“Hyung bicara apa? Aku tidak mengerti.”
“Sudahlah cepat katakan di mana kau sekarang. Semua mengkhawatirkanmu.”
“Aku hanya ingin sendiri hyung..”
“Jangan terus terpuruk dalam kesedihan, Hae.”
“Arasseo. Aku hanya ingin sendiri saat ini hyung.”
“Tapi-”
Tuut..tuut..tuut
“Kau dengar? Sungmin hyung benar. Aku begini karena kau. Karena kau meninggalkanku! Tidak bisakah kau kembali? Atau ajaklah aku bersamamu..” airmatanya kembali mengalir. Wajahnya menunduk, membiarkan airmata itu jatuh ke tanah. Tak lama kemudian ia kembali menengadahkan wajahnya, bersandar pada kursi taman, dan memejamkan matanya.
“Setidaknya biarkan aku begini sejenak. Hanya di sini aku bisa merasakan kehadiranmu..”
**********
Donghae membuka matanya ketika ia merasa seseorang duduk di sampingnya. Matanya mengerjap sejenak mencoba mengenali orang disampingnya.
“Chaerin-ah..” ucap Donghae. Yeoja bergaun putih itu hanya tersenyum manis. Donghae menatapnya tak percaya. Ia mendekat dan memeluk yeoja yang sangat dicintainya itu.
“Kenapa oppa di sini? Bukankah Sungmin oppa sudah menyuruh oppa pulang?” Tanya yeoja itu masih dalam pelukan Donghae.
“Kemana saja kau? Kenapa meninggalkanku?” Donghae tidak mempedulikan pertanyaan sang yeoja. Sekali lagi yeoja itu tersenyum.
“Siapa yang meninggalkan oppa?”
“Jangan bercanda, Hwang Chaerin!” seru Donghae kesal. Yeoja bernama Chaerin itu tertawa dan mencubit pipi Donghae gemas.
“Oppa tidak berubah. Tetap saja mudah marah. Apa oppa mau cepat tua?” godanya. Donghae cemberut.
“Apa aku tidak boleh marah jika kau meninggalkan aku sendirian tanpa pamit?”
“Aku kan tidak meninggalkan oppa. Aku akan selamanya bersama oppa.” Jawab Chaerin sambil tersenyum.
“Kau janji?” Tanya Donghae meyakinkan. Chaerin tersenyum kecil.
“Apa aku harus berjanji?”
“Hwang Chaerin!”
“Hahaha..ne oppaku yang pemaraah. Aku janji!” Chaerin mengaitkan jari kelingkingnya pada jari kelingking Donghae. Mereka tersenyum bahagia.
“Kau tahu? Aku sangat bahagia saat ini.” Ucap Donghae sambil mengelus lembut rambut Chaerin.
“Oppa memang harus selalu bahagia.” Balas Chaerin.
“Ah iya katamu kau ingin melihat salju turun bersamaku kan?” Tanya Donghae.
“Bukankah sekarang kita sedang melihat salju, oppa?” Chaerin tersenyum.
“Kenapa kau memakai gaun di udara sedingin ini? Pakai ini!” Donghae melepas jasnya dan memakaikan pada Chaerin. Tapi gadis itu menolak.
“Oppa saja yang pakai. Aku tidak apa-apa.”
“Bagaimana bisa? Kau itu yeoja. Kalau kau sakit, aku juga yang bingung.” Bentak Donghae lembut.
“Percayalah padaku oppa. Oppa lebih membutuhkannya daripada aku. Aku tidak akan sakit.” Senyuman Chaerin berhasil membuat Donghae mengalah.
“Chaerin-ah bagaimana kalau hari ini kita kencan?” Chaerin mengerutkan keningnya mendengar ucapan namja di depannya itu.
“Bukankah sekarang ini kita sedang kencan, oppa?”
“Maksudku, kita jalan-jalan. Kita main sepuasnya!” usul Donghae.
“Nanti oppa lelah..”
“Ayo lah Chaerin-aaah..” Donghae merayu yeoja itu dengan aegyonya.
“Jangan begitu, oppa. Bahkan aegyoku lebih baik dari aegyo oppa.” Ejek Chaerin sambil me-mehrong-kan lidahnya ke arah Donghae. Donghae tersenyum lalu mengacak rambut Chaerin lembut.
“Pokoknya kau harus mau! Ayo kita pergi.” Donghae menarik tangan Chaerin dan pergi meninggalkan taman itu.
**********
“Oppa selalu saja mengajakku ke sini.” Sekarang mereka sedang berada di taman hiburan. Donghae tersenyum mendengar protes Chaerin.
“Kita mau naik apa?” Tanya Donghae.
“Terserah oppa saja.”
“Kenapa aku?”
“Khusus hari ini, aku akan mengikuti permintaan oppa.” Jawab Chaerin sambil tersenyum.
“Baiklah! Ayo kita naik itu.” Donghae menunjuk permainan kincir angin. Ia tersenyum nakal ke arah Chaerin karena ia tahu yeoja itu sangat takut permainan kincir angin.
“Oke! Ayo oppa.” Ajak Chaerin semangat. Ia menarik tangan Donghae. Tapi namja itu malah berhenti dan menatapnya heran.
“Wae oppa?”
“Kau aneh sekali hari ini.”
“Aneh bagaimana?”
“Dulu kau sangat takut main itu.” Donghae menunjuk permainan kincir angin.
“Dulu karena aku takut jatuh oppa.” Jawab Chaerin polos.
“Lalu sekarang kau tidak takut jatuh?” Chaerin menggeleng mantap.
“Bagaimana bisa?”
“Karena kau ada di sampingku oppa. Aku yakin kau akan melindungiku.” Donghae tersenyum lebar mendengar kata-kata Chaerin. Ia mengelus pipi yeoja itu.
“Aku memang akan selalu melindungimu.” Ucapnya.
“Saranghae, Chaerin-ah.” Chaerin tersenyum.
“Nado saranghae, oppa..” mereka tersenyum bahagia.
“Yaa, oppa ayo cepat kita naik!” Chaerin segera menarik tangan Donghae yang masih tertawa di belakangnya.
**********
“Aku senang sekali, oppa!” seru Chaerin. Donghae tertawa melihatnya.
“Oppa ingin main apa lagi?” Tanya Chaerin.
“Ikut aku!” Donghae menggandeng Chaerin ke sebuah danau.
“Oppa, ini kan..” Chaerin terpaku melihat pemandangan di depannya.
“Ne. Aku memang ingin mengajakmu ke sini. Tempat aku menyatakan cinta padamu. Tempat di mana aku merasa kau memang milikku dan aku milikmu..” Chaerin masih terpaku mendengar kata-kata Donghae.
“Iya, oppa. Aku juga sudah lama tidak ke sini.” Donghae menatap lembut yeoja yang kini memandang danau itu.
“Ayo kita naik perahu!” Donghae menuntun Chaerin naik ke dalam sebuah perahu yang sudah ia persiapkan. Lalu ia mendayung perahu itu sampai ke tengah danau.
“Oppa menyiapkan ini semua?” Tanya Chaerin takjub.
“Aku sudah menyiapkannya sejak lama. Tapi baru sekarang bisa ke sini.” Jawab Donghae sambil tersenyum.
“Kenapa oppa tidak bilang? Kan kita bisa ke sini lebih cepat oppa!” seru Chaerin.
“Aku tidak mau mengganggu kesibukanmu.” Mata Chaerin berkaca-kaca mendengar jawaban Donghae.
“Mianhe, oppa. Mianhe..” Chaerin mulai terisak.
“Kenapa kau menangis? Aku sama sekali tidak menyalahkanmu.” Donghae berusaha menenangkan Chaerin.
“Ini salahku. Maafkan aku, oppa. Seharusnya kita bisa ke sini lebih cepat. Tidak seperti sekarang ini.”
“Apa yang salah dengan sekarang? Yang penting kita sudah ke sini kan.”
“Tentu saja berbeda, oppa.” Chaerin masih terisak.
“Sudahlah. Ini kencan kita. Jangan menangis lagi. Arra?” Chaerin memandang Donghae sejenak, lalu mengangguk.
“Lain kali kita bisa ke sini lagi. Kau tidak usah menangis begini.” Donghae mengusap airmata di pipi Chaerin.
“Apa oppa yakin kita bisa ke sini lagi?”
“Tentu saja. Apa kau tidak mau?” Tanya Donghae yang merasa heran dengan pertanyaan Chaerin.
“Tentu mau, oppa. Kalau saja bisa, aku pasti sangat mau.” Jawab Chaerin.
“Pasti bisa.” Chaerin hanya tersenyum mendengar ucapan Donghae.
‘Seandainya saja masih ada kesempatan, oppa..’ ucap Chaerin dalam hati. Ia berusaha keras menahan airmatanya yang hampir tumpah.
“Sudah sore. Ayo kita pulang, Chaerin-ah.” Donghae meminggirkan perahunya. Saat ia hendak turun, ia heran melihat Chaerin yang tidak beranjak dari perahu.
“Chaerin, wae?”
“Tidak bisakah kita di sini sebentar lagi, oppa?” mata Chaerin mulai berkaca-kaca lagi. Donghae yang heran, segera memeluk yeoja mungil itu.
“Kau kenapa? Kita bisa ke sini lain waktu kan. Apa kau sakit? Seharian ini kau agak aneh.” Tanya Donghae pada yeoja yang masih dalam pelukanya itu.
“Aku hanya ingin bersama oppa. Hanya itu.” Ucap Chaerin di sela tangisnya.
“Kita akan selalu bersama. Aku tak akan meninggalkanmu, kau juga tak akan meninggalkanku. Bukan begitu?” Donghae menatap mata Chaerin, menghapus airmata yang menganak sungai di pipi putihnya. Lalu kembali memeluknya.
“Percayalah kita akan selalu bersama.” Bisik Donghae di telinga Chaerin.
‘Aku ingin percaya, oppa. Sangat ingin. Tapi bisakah aku mempercayainya?’
“Sekarang kita pulang ya.” Donghae menggandeng tangan mungil Chaerin.
“Oppa antarkan aku ke taman tadi saja.”
“Kenapa tidak langsung ke rumahmu?” Tanya Donghae yang heran dengan permintaan Chaerin. Chaerin tersenyum.
“Taman saja, oppa.”
“Ne. Baiklah..” sahut Donghae mengalah.
**********
“Oppa..” panggil Chaerin. Saat ini mereka duduk berdua di kursi taman di bawah pohon bersalju.
“Ne?”
“Berjanjilah padaku..”
“Berjanji apa?” Donghae menatap yeoja di sebelahnya dengan tatapan heran. Entah kenapa ia merasakan suatu firasat tidak enak.
“Berjanji oppa tidak akan menangis lagi. Berjanji oppa akan bahagia selamanya. Meskipun…” Chaerin menatap Donghae sebelum meneruskan kata-katanya.
“Meskipun apa?” Donghae menatap lurus mata Chaerin. Mencoba mencari jawaban di sana.
“Meskipun tanpa aku..” lanjut Chaerin lalu tersenyum. Donghae membulatkan matanya terkejut.
“Apa maksudmu, Chaerin-ah? Jangan bicara macam-macam!” bentak Donghae. Chaerin kembali menatap namjachingunya itu.
“Kau bilang kau tak akan meninggalkan aku kan?” Tanya Donghae.
“Aku memang tak akan meninggalkanmu, oppa. Aku akan selalu ada di hati dan mimpimu.” Chaerin kembali tersenyum, sementara Donghae mulai berkaca-kaca.
“Apa maksudmu?? Aku tidak mengerti!”
“Kau tahu apa maksudku, oppa.” Chaerin berusaha tersenyum walau tenggorokannya terasa sakit karena menahan tangis.
“Tidak!”
“Oppa, aku mohon jangan seperti ini..” airmata Donghae kembali membasahi pipinya. Ia benar-benar belum bisa menerima kenyataan.
“Kau bilang kau tidak akan meninggalkanku. Kau sudah berjanji padaku!” seru Donghae di tengah tangisnya. Ia menggenggam erat tangan Chaerin. Seolah tidak mengijinkan yeoja itu pergi.
“Oppa.. aku sudah bilang, aku akan tetap ada di hati, pikiran, dan mimpimu, oppa.”
“Apa kau mau bilang ini hanya mimpi?”
“Waktuku habis, oppa.” Chaerin melepaskan genggaman tangan Donghae.
“Cha.. Chaerin kau mencintaiku kan? katakan bahwa ini hanya sandiwaramu saja!” seru Donghae. Namun, sosok Chaerin mulai menjauhinya.
“Saranghae, oppa..”
“Chaerin-ah!”
“Jeongmal saranghae, oppa.. Mianhe..”
“HWANG CHAERIN!!”
**********
Donghae tersentak dan terbangun dari tidurnya. Ia mengusap matanya. Basah. Ia menangis. Ia menatap sekeliling. Suasana masih sama seperti tadi saat ia sendiri. Matanya berhenti pada sepucuk surat bersampul pink yang tergeletak di sebelahnya. Donghae mengambil surat itu dan membukanya perlahan.

To : Nae namjachingu, Donghae oppa^^
Oppa.. bagaimana keadaanmu? Jangan pernah menangis lagi. Hilangkan bekas airmata yang bisa mengganggu ketampanan wajahmu oppa. Kkekeke
Oppa, mianhe jeongmal mianhe aku sudah membuat oppa seperti ini. Aku ingin oppa selalu tersenyum. Tersenyum seperti saat dulu kita bersama. Senyum yang selalu oppa berikan untukku..
Bukankah aku sudah berjanji? Aku tidak akan meninggalkan oppa. Aku akan selalu ada di hati dan mimpi oppa^^
Sekarang oppa yang berjanji padaku ya, jangan menangis lagi. Aku percaya Lee Donghae adalah namja yang kuat dan tegar. 
Baiklah oppa, jangan pernah lupa janji kita yaa.. Aku akan selalu mengawasimu oppa. Jika kau mengingkarinya, aku tidak akan memaafkan oppa ><
Saranghae oppa.. Jeongmal saranghae..
From : Yeoja yang selalu mencintaimu, Hwang Chaerin^^

“Nado saranghae, Chaerin-ah..” bisik Donghae disela tangisnya. Airmata mengalir deras di pipinya.
“Benarkah dalam mimpi aku bisa bertemu denganmu? Kalau begitu, biarkan aku tidur selamanya. Agar aku bisa terus bersamamu..”
“Ijinkan aku menangis kali ini saja. Aku janji ini terakhir kalinya aku menangis.” Donghae kembali melipat surat itu dan memasukkannya ke dalam saku jasnya.
“Donghae-ah!” Donghae menoleh mendengar suara itu.
“Sungmin hyung..” Donghae berdiri dan menghampiri hyungnya yang juga masih berpakaian serba hitam itu. Sungmin langsung berlari dan memeluk namdongsaengnya.
“Donghae-ah aku tahu bagaimana perasaanmu. Kau mau menangis, menangislah. Tapi kau harus tahu, Chaerin pasti sudah bahagia di sana..” Sungmin menepuk-nepuk punggung adiknya itu.
“Aniyo, hyung. Aku baik-baik saja.” Jawaban Donghae membuat Sungmin melepas pelukannya dan ganti menatap Donghae tak percaya.
“Jinjja?”
“Ne, hyung. Gwaenchana..”
“Padahal kau kan anak paling cengeng yang aku kenal. Matamu saja masih bengkak begitu. Bagaimana bisa kau bilang tak menangis?” Tanya Sungmin.
“Yaa, hyung! Aku ini namja kuat!”
“Benarkah? Sulit dipercaya..”
“Hyung!!”
“Haha..baiklah. Aku senang kau baik-baik saja. Ya sudah sekarang kita pulang. Appa, umma, dan Hyukjae sangat mencemaskanmu.”
“Ne.” Donghae mengikuti hyungnya menuju mobil. Sebelum masuk ke dalam mobil, ia menengadahkan wajahnya memandang langit.
‘Berjanjilah untuk hadir di mimpiku, Chaerin-ah. Dengan begitu aku akan bisa jadi namja kuat seperti janjiku padamu.’
-THE END-

Mian ya kalau ga dapat feel sadnya T.T
Benar-benar pengalaman pertama ini..
Thank’s for read^^

Advertisements

11 responses to “[Freelance] In My Dream

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s