Seasons of The Lucifer [ CHAPTER 3 ]

Seasons of The Lucifer

Title:Seasons of The Lucifer

Author: LucifeRain / Aya

Genre: AU, romantic – comedy, hurt / human life, Friendship

Leght: Chaptered

Ratting: PG-15

Main Cast:

Cho Minhye a.k.a Cho Minhyun

Kim Kibum a.k.a Key

Choi Minho a.k.a Minho

Lee Taemin a.k.a Taemin

Kim Jonghyun a.k.a Jonghyun

Lee Jinki a.k.a Onew

Choi Jinhya

FF ini terlahir dari otak saya. Jika ada FF lain yang sama dari segi peristiwa apalagi KARAKTER yang udah susah payah saya buat, AKAN SAYA HENTIKAN!

______________

Lucifer

Seseorang berwajah malaikat namun seperti iblis

Hati yang egois

Cinta yang tulus

Kesucian yang keliru

Mengancam

Berulang kali salah seperti malaikat dan iblis

Mempunyai perasaan yang tidak jelas

Lucifer adalah keberanian

Source: arti Lucifer di SHINee 2nd album.

—————————–

“hebat sekali ada yeoja disini…”

SKAK MATT!!!

Langkah Minhyun terhenti, mata elipsnya membulat seketika, ekspresi kekagetan terpeta jelas di wajahnya. pernyataan itu membuat nafasnya tercekat, seakan tak ada oksigen yang mampu di hirup. Ia membalikkan badan, membeku kala Minho menyambar matanya dengan tatapan tajam.

Sorot matanya mengikuti langkah Minho yang berjalan kehadapanya, membuat Minhyun harus mendongak karena perbedaan tinggi yang terpaut jauh. Ia menatap namja itu dengan ekspresi memelas, namun yang ditatap malah membalas dengan ekspresi dingin tak bersahabat.

Minho menatap tepat di manik mata Minhyun, membuat tatapanya terkunci ksrena kilatan amarah dari sinar mata namja berkarisma itu. tubuh Minhyun menegang, kegugupan tersalur dari desahan nafasnya. secepat ini kah penyamaranya berakhir?

“kau tahu, aku sangat membenci seorang pembohong” Tandas Minho. Ia lalu menarik salah satu sudut bibirnya, menampilkan senyum miring meremehkan.

“ku beri waktu sampai besok untuk mengungkap identitas aslimu, atau aku sendiri yang akan mengungkapkanya dengan caraku” Minho memasukkan kedua tanganya ke saku celana lalu pergi begitu saja setelah melayangkan flaming smirk ke arah Minhyun.

~*~

‘ku beri waktu sampai besok untuk mengungkap identitas aslimu’

Ucapan Minho seakan berdengung di teliga Minhyun, membuat kekhawatiranya melumap seiring bertambahnya laju waktu. Sejak tadi ia hanya terfokus pada rentetan kalimat itu, tak peduli meski direktur utama yayasan Shineworld sedang berpidato di hadapanya.

Setiap pertengahan bulan, kepala direktur yayasan mengadakan apel pagi. Uniknya, apel pagi ini berlokasi di golden brige – satu satunya jembatan penghubung  ShineShall dengan ShineSedna. Mimbar pidato terletak di tengah tengah dengan posisi siswi ShineSedna di sebelah kiri dan siswa Shineshall di sebelah kanan.

Sial, Minhyun baru tahu kalau ada pertemuan seperti ini SHINee lah yang berbaris paling depan. Alhasil siswi siswi yang baris berhadapan dengan SHINee bukanya mendengarkan pidato malah sibuk berdadah ria dengan Namja popular itu. mengganggu dan menyebalkan!

Ada yang membawa kamera langsung jadi, ia memotret SHINee lalu menjual pada teman temanya. Ada yang membawakan spanduk bertuliskan alamat email, alamat rumah, alamat kubur. Ada yang membuat pesawat kertas dari surat cinta, itu yang paling bodoh karena sejauh apapun ia menerbangkan pesawat itu ya percuma saja. Angin kan mengarah ke SSedna, untung aja nggak nancep ke mata kepala yayasan si hyukjae sarap itu.

Itulah ketenaran SHINee, Onew hanya menanggapinya dengan senyuman, Taemin heboh bertanya tentang wanita ke Jonghyun hingga membuatnya kesal. Sedangkan Key, dia tak terlihat dimanapun.

Setelah Minhyun bertanya pada Jonghyun dan Taemin, barulah ia tahu bahwa Key tidak pernah hadir dalam acara gabungan seperti ini. Entahlah, mereka tidak memberitahu alasanya pada Minhyun.

Sejenak kemudian pandangan Minhyun teralih ke arah Minho, ia menatap gelisah. Tatapan yang dingin dan tak peduli Minho semakin membuatnya takut, ancaman Minho menghentaknya seperti terjangan badai salju. Membuka identitas diri sama saja menyerah untuk mati…

“baiklah mari kita dengarkan pidato dari captain student of the month, Lee Jinki” master of ceremony mempersilahkan Lee hyukjae untuk duduk, ia mengisyaratkan pada Onew agar mengisi pidato setelah eunhyuk.

Onew berjalan menuju back stage, setelah diberi beberapa pengarahan ia pun menaiki mimbar. Ini bukan sekedar pidato biasa, karena event ini selalu menjadi topik dalam surat kabar keesokan harinya. Dan ini pidato pertamanya sebagai wakil murid, ia sangat berusaha untuk meraih posisi ini.

Onew menatap sekelilingnya, tubuhnya begitu tegang, tanganya mendingin. Ternyata senyumnya tadi hanya sebagai kedok untuk menutupi kegugupanya.

“ayo Lee Jinki, jangan sampai kau mengahancurkan hari penting ini. Kau sudah perjanji pada dia” Onew menyemangati dirinya, terlintas bayangan wajah gadis kecil dalam benaknya. Ia menghembuskan nafas panjang, dan disinilah pidato itu di mulai

Keriuhan tepuk tangan menjadi tanda berakhirnya pidato. Onew mengembangkan senyum bangga lalu turun dari mimbar dengan nafas lega. Di bawah sana SHINee telah menunggu, mengacungkan jempol atas keberhasilan temannya. tapi Apakah mereka mengetahui sisi iblis yang tersembunyi dalam wajah malaikat itu?

~*~

LUCIFER…. Because there are whisperings of The Lucifer everywhere

Onew dan jonghyun berjalan menyusuri lorong lorong kelas, mereka di beri tugas untuk menyerahkan data siswa ke ruang guru. Langkah Onew terhenti ketika seseorang menyebut namanya dari dalam kelas.

Bukan, itu bukan panggilan karena mereka terdengar seperti sedang bercerita. Onew  merapatkan tubuhnya ke dinding sedangkan jonghyun menatapnya bingung, namun ia tetap mengikuti onew.

“Lee jinki adalah Captain student terpayah!” umpat salah seorang siswa

“dari awal aku memang tidak setuju kalau ia yang menjadi captain student, terbuktikan! Ia terlalu gugup tadi dan banyak point penting dalam pidato yang terlupakan, pidatonya sangat tidak bermutu, memalukan! Sudah ku duga akan seburuk ini”

“ne, aku lebih setuju kalau Jinwoon yang menjadi Captain student. Kalau Jinki bukan bagian dari SHINee, mana mungkin ia terpilih! Dia hanya memanfaatkan popularitas SHINee”

Tubuh Onew bergetar hebat, ia benar benar tidak percaya dengan apa yang di dengarnya barusan. Apakah arti tepuk tangan di akhir pidato hanya kepalsuan? Mereka benar, gadis gadis itu bertepuk tangan dan mengelu – elukan namanya karena ia bangian dari SHINee yang popular, bukan karena kemampuan yang ia miliki.

Tumpukan map dalam pegangan Onew runtuh seiring dengan kepercayaan dirinya yang luntur. Ia menepis tangan Jonghyun yang hendak menyentuhnya, dalam pikiranya hanya satu. pergi melarikan diri tanpa tujuan, selalu seperti ini.

Jonghyun refleks mengejar Onew, tapi sebelumnya ia telah menghubungi seseorang, seseorang yang selalu bisa di andalkan saat situasi seperti ini terulang. Choi Minho….

~*~

BRAKKK…. BRAKKK….. BRAKKK….

Gedoran pintu terdengar keras dalam tempo yang cepat. Di depan pintu berdiri 3 pemuda yang masih mengenakan seragam, mereka terlihat panik.

“YA! LEE JINKI BUKA PINTUNYA! ATAU KAMI AKAN MENDOBRAKNYA!” teriak Jonghyun, entah untuk keberapa kalinya

“Hyung, kami menghawatirkanmu” Taemin ikut berseru. Tapi sepertinya usaha mereka sia sia karena pintu tak kunjung terbuka.

Sejak kejadian itu Onew menjadi diam tanpa memperdulikan sekelilingnya, entah sudah berapa kali ia mendapat teguran karena melamun saat jam belajar. Melihat itu sahabatnya pun khawatir, terutama Jonghyun ia paling tidak bisa diam kala sahabatnya terkena masalah. Selalu ingin ikut meringgankan beban dengan sifat hangatnya.

“ya! Onew!, aku tahu kau sangat berusaha, aku tahu setiap hari kau tidur larut malam untuk belajar. Jangan hiraukan omongan mereka. Jangan lemah seperti ini!”

‘Jangan lemah seperti ini’

Kalimat Jonghyun membuat batin Onew semakin terguncang. Kenapa kalimat itu sama persis dengan kalimat yang di dengarnya 8 Tahun silam?. Onew menggenggam erat sebuah gelas keramik putih berpermukaan kasar, terdapat kerikil kerikil kecil yang ditempelkan pada sisi depan gelas itu, membentuk gambar abstrak sebuah Daun.

Memori lamanya menyatu seakan membentuk sebuah layar yang memutar ulang kejadian masa lalu, dimana seorang gadis kecil tengah menyandarkan kepalanya di bahu seorang anak laki laki.

“Oppa, jangan Lemah seperti ini” ucap gadis kecil itu, sangat pelan nyaris seperti bisikan. Wajah pucatnya memberitahu kalau ia terlalu lemah bahkan untuk berbicara sekalipun.

“Oppa… jadilah seperti ini” gadis kecil tadi meraba gambar abstrak yang menyerupai Daun pada Mug putih dalam genggamanya. “Daun tidak pernah sedih ketika ia berpisah dengan Pohon, ketika dirinya diinjak oleh manusia, ketika dirinya tersapu angin. Daun akan selalu tegar walau terlihat rapuh”

Gadis kecil itu menghela nafas berat, ia memejamkan matanya sangat lama membuat anak laki laki di sampingnya semakin khawatir.

“Oppa, aku tahu kau jadi pendiam dan penyendiri karena aku. Mianhae”

Anak laki laki kecil itu hanya sanggup menggeleng, karena jika ia berbicara pasti ia akan menangis. Ia harus melawan kelemahanya kali ini, tak ingin melihat gadis kecilnya bersedih lagi.

“Oppa, berjanjilah padaku jika aku kembali suatu saat nanti, aku akan melihat Oppa dengan kepercayaan diri yang hebat” lirih anak perempuan kecil itu, dengan mata yang masih terpejam…

~*~

Onew menatap kosong gemerlap lampu kota seoul dari jendela kamarnya, kali ini batinya bergejolak hebat, seakan ada perang pendapat disana. Bukankah ia sudah bertekad akan berubah dari dirinya yang dulu? Mana kepercayaan diri yang susah payah ia kumpulkan? Kenapa runtuh semudah ini hanya karena masala sepele?

Tidak, ini bukan masalah sepele. Pada dasarnya inilah sifat aslinya. Sekuat apapun ia meyakinkan diri, pada akhirnya akan kembali kedasar juga. Retak dengan sekali pukulan.

Ia begitu takut kembali pada dirinya yang dulu, namun jika maju ia hanya akan berdiri pada satu titik kepalsuan. Haruskah ia meneruskan karakter diri yang sudah ia bangun dengan susah payah atau lebih tepatnya dengan… terpaksa?

~*~

Ketiga namja yang tadinya heboh itu kini sedang terduduk di kursi meja makan, terlalu lelah mungkin. Meskipun begitu mereka masih mengawasi pintu kamar di depan ruangan itu, berharap akan terbuka.

“Taemin, malam ini aku tidur di kamarmu ya. Sepertinya Onew tidak akan membuka kamar sampai besok” ujar Jonghyun

“andwae hyung! Kau pasti akan bergosip sampai pagi. Hyung dan Minhyun sama sama mulut baskom”

Pletakkk..

“appoyo” Taemin mengusap usah puncak kepalanya yang terkena sundulan ganas jonghyun. Ia meringis.

Jonghyun menoleh ke arah Key, ia menggangkat alisnya mengisyaratkan pertanyaan yang sama dengan Taemin.

“ne, tapi hyung tidur dengan Minho dibawah. Aku tak mau tidurku diganggu dengkuran panci buntusmu, hyung!”

Jonghyun mendecak kesa. tidur dengan es batu (?) itu sama saja ia akan beku esoknya. Dasar dongsaeng Biadab!

“kemana Minho dan Minhyun?” Jonghyun, Key Taemin serentak menoleh ke asal suara, terlihat Onew tengah berdiri di ambang pintu dengan wajah kusut.

“HYUNG!” seru mereka kompak, lalu menghampiri Onew dengan heboh -__-

“Hyung! Apa kau masih marah karena…. Hmftt… hmfftttt…” buru buru jonghyun membungkam mulut Taemin, ia tidak mau mood Onew semakin rusak.

“ahh… aku menyuruh Minho untuk mengurus orang orang tadi, kalau Minhyun aku tidak tahu dia ada di mana” jonghyun mengalihkan pembicaraan

Onew menggaruk garuk tenguknya yang sama sekali tidak gatal, ia menguap lebar lalu melakukan senam aerobik membuat jonghyun dan Key menatap jijay. Sangtaenya kumat lagi.

“aku ingin ayam” rengeknya, pandanganya lalu beralih ke meja makan. Ia tercengang mendapati Taemin yang dengan santainya melahap ayam goreng tepung + sup ayam kesukaanya.

“YA! TAEMINNIE!!!!” seru Onew, ia pun lompat ke atas meja makan dan pertempuran memperebutkan ayam dimulai.

~*~

Minhyun terduduk lesu sambil memeluk kedua lututnya, pandanganya lurus menatap panorama alam kembalinya matahari ke Peraduan. Sejak pulang sekolah ia memutuskan untuk menyendiri di atas atap asrama, bukanya ia tidak peduli dengan kondisi Onew hanya saja hatinya butuh ketenangan atau… pelarian.

Batinya terlalu cemas akan ucapan Minho. Ia tidak tahu harus berbuat apa dan tidak tahu harus membagi cerita dengan siapa…

“sudah menyusun rencana?” Minhyun terkesiap kaget, ia menoleh ke sumber suara dan mendapati Minho tengah berdiri, namja itu menatap lurus kearah matahari terbenam.

Minho memasukkan kedua tanganya ke saku celana, hembusan angin menerpanya  cukup keras, membuat rambut coklat gelapnya terhempas begitu pula dengan jas almamaternya yang tidak terkancing. Ia masih mengenakan seragam, sama seperti Minhyun.

“… atau harus aku yang menyususun rencana?” Minho mengangkat alisnya lalu menatap sinis pada Minhyun yang baru bangkit berdiri di hadapanya.

“ku mohon biarkan seperti ini”

“Membiarkan semua kebohongan? Sudah ku katakan padamu CHO MINHYUN! AKU BENCI SEORANG PEMBOHONG!” tandas Minho kasar

“ku mohon, biarkan seperti ini. Aku terlalu bingung” Minhyun menunduk, tak berani menatap Minho yang dikuasai amarah.

“kau telah membohongi dunia, Semua orang tau siapa kau, penerus Chohagle Group!? Apa kau tak pernah berfikir bagaimana kariermu jika identitasmu terbongkar saat kau menjadi penerus? Bagaimana reaksi dunia jika tahu hal ini saat namamu melambung? Dan cara menghabiskan sisa hidupmu? Apa Kau akan menjadi lesbian jika menikahi perempuan atau dikira Gay karena menyukai pria? Seorang pembohong harus mati”

Tudingan pedas Minho menusuk tepat di ulu hati Minhyun, terutama pada kata terakhirnya. Tapi semua yang dikatakan Minho adalah kenyataan, bagaimana ia harus menghadapi masa depanya? Kenapa selama ini tak pernah terfikir sejauh itu?

Minhyun memberanikan diri menatap Minho, mataya memerah terlihat jelas usahan untuk menahan genangan air di pelupuk matanya.

“kumohon, aku bisa menjelaskanya”

“aku tidak peduli….”

“Jebal, dengarkan aku dulu”

“AKU TIDAK PEDULI!!!”

“KAU PEDULI!!!” Minhyun balas membentak, Membuat Minho terfokus padanya, ada sinar kekagetan yang bersemayam di bola mata hitam pekat itu.

“KENAPA?! bukankah Kalau kau tidak peduli, kau tidak akan menyusulku kemari?! Dan kalau kau tidak peduli, kau tak akan mengucapkan pendapat tentang masa depanku yang bahkan belum aku pikirkan sejauh itu!” tubuh Minhyun bergetar, intonasi suaranya sarat akan ketakutan. Sekarang bukan saatnya melemah, Cho Minhyun! Bertahanlah

“BIARKAN AKU SEPERTI INI KALAU KAU TIDAK PEDULI, jangan hiraukan aku! Biarkan masa depanku hancur! biarkan aku mati! Tapi nyatanya? Kau peduli Choi Minho! Kau terlalu peduli! Kau munafik….” Bentakan Minhyun melemah di akhir kalimat, genangan air di pelupuk matanya telah runtuh, membuat jalur sendiri di pipinya.

“kenapa kau melakukan semua ini huh?! satu hal yang harus kau ketahui, jika aku bisa memilih takdir… aku tidak akan memilih takdir ini! Aku selalu menyesali takdirku, puas kau??!!!”

Minhyun membalikkan badan lalu berlari menuruni anak tangga, sesampainya di bawah ia berjalan ke arah kiri dan memasuki lift darurat yang berada di belakang tingkat asrama.

Ini adalah Lift darurat, digunakan jika ada kebakaran atau semacamnya di dalam asrama. Dasar Lift akan membawa ke lorong rahasia, dimana lorong itu merupakan jalan rahasia untuk keluar dari Shineshall academy melalui jalan belakang.

Karena belum pernah ada kejadian yang membahayakan di asrama, tak ada satu muridpun yang tau keberadaan jalan ini, hanya SHINee lah yang mengetahui karena Key terlalu cerdik untuk menemukanya. Minhyun sendiri diberi tahu oleh Park Ahjussi

~*~

Minhyun berlari secepat yang ia bisa, menerobos orang di di hadapanya tanpa tau arah dan tujuan. Tak peduli dengan umpatan umpatan pedas yang dilayangkan orang karena tertabrak liar olehnya.

Sampai pada suatu titik ia berhenti, tak sanggup untuk menyambung garis titik itu. Minhyun menumpukan kedua tanganya di lutut, nafasnya memburu. Ia menatap sekeliling, tidak menyangka dirinya sudah berada di jembatan Banpo. Lokasi yang lumayan jauh dari sekolahnya.

Minhyun berjalan mendekati pagar pembatas jembatan, ia lalu menggenggam keras pembatas itu, tubuhnya bergetar menggingat kejadian tadi. Minhyun menatap aliran air di depanya, memunculkan satu pikiran negatif. Mengakhiri takdir? Bukankan itu hal yang bagus? Untuk apa melanjutkan takdir mengerikan seperti ini? Kenapa jalan hidupnya terkutuk?…….

“Aaaaaaaa!!!!!!” Minhyun berteriak frustasi, berharap masalahnya hilang seiring dengan lepasnya teriakan. Tapi mustahil, dunia akan dipenuhi jeritan jika hal itu nyata.

Bulir bulir air jatuh dari sudut kelopaknya, dirinya sudah tak kuat menahan guncangan masalah ini. Terlalu menghantam perasaanya, haruskah ia kembali pada opsi pertama untuk mengakhiri takdir?

Ia memajukan tubuhnya, menatap aliran air dengan tatapan kosong dan semakin memaksa tubuh bagian atasnyanya untuk melewati pembatas, ia memjamkan mata… mengisi oksigen sebanyak mungkin ke dalam paru paru, yang mungkin untuk hembusan terakhirnya.

“YA! JANGAN BUNUH DIRI!” Minhyun terkesiap, seruan itu seakan mengumpulkan kesadaranya. Ia sontak menjauhi pagar pembatas, sulutan emosi hampir membuatnya kehilangan nyawa.

“Kau!!!” seseorang menarik lenganya, membuatnya berbalik dan berhadapan dengan orang itu. raut kekagetan terlukis sempurna di wajah mereka…

“Choi Jinhya?” Minhyun mengerutkan dahi menatap seorang gadis mungil yang mengenakan jas Almamater berwarna pastel rose dan rok hot pink bermotif kotak kotak, seragam sekolah ShineSedna.

Minhyun kenal betul siapa gadis ini. Dialah Choi Jinhya cucu Bae Ahjuma, sahabatnya sejak kecil. Terakhir mereka bertemu sekitar 2 tahun lalu.

“Aigoo… kau Min-ah?. Kau Inggin bunuh diri?” Gadis itu mengguncang guncangkan lengan Minhyun “jangan lakukan itu!” sambungnya lalu menatap Minhyun cemas.

Tatapan Minhyun mengabur, kelopak bawah matanya sudah terpenuhi genangan air. Ia tak sanggup menjawab pertanyaan Jinhya. Minhyun menggangkat kedua tanganya lalu melingkarkan di leher sahabatnya itu, ia membenamkan kepalanya di bahu Jinhya. ia terisak, tangisnya pecah disana. Sekarang ia tahu harus bercerita pada siapa…

“wei ire? Apa yang terjadi Min-ah? Karena ibumu lagi?” tanya Jinhya lembut, Minhyun menggeleng pelan ia masih terisak.

“aku takut, Jinhya-ah. Aku sangat takut” ucap Minhyun disela tangisnya

“Min-ah” panggil Jinhya, sejak kecil ia memang memanggil minhyun ‘min-ah’. Ia tahu Minhyun lebih suka di panggil dengan nama aslinya. Tapi akan mencurigakan jika Minhyun di panggil dengan nama itu, karena itulah Jinhya memanggilnya Min-ah bukan Minhyun karena ia tahu yang sebenarnya. Mencoba sedikit menyenangkan sahabat itu lebih baik.

“ceritalah padaku…”

Isakan Minhyun terhenti, ia menghela nafas dalam. “penyamaranku terbongkar, seseorang di asrama tahu bahwa aku adalah yeoja”

“mwo? bagaimana bisa?”

“entahlah, aku tidak tahu” nada bicara Minhyun lebih stabil, sepertinya ia  sedikit tenang.

“siapa dia?”

“Choi Minho”

Jinhya lalu menepuk kecil pundak Minhyun “Minho memang selalu tahu segalanya, itulah yang mereka katakan tentang dia”

“dari mana kau tahu?”

“hey, SHINee begitu popular. Setiap hari teman sekelasku bergosip tentang mereka, membuatku bosan saja. Bahkan mereka menciumi foto SHINee kemana mana, seperti dukun. menjijikan” cerocos Jinhya membuat Minhyun tertawa kecil.

“sudahlah jengan menangis, Min-ah!” Jinhya mengusap pelan pundak Minhyun, membuat Minhyun menghela nafas panjang “ lihatlah, Banpo brige ini sangat indah bukan? ayo kita nikmati bersama sama, sudah lama kita tidak bertemu. bongoshipoyo Min-ah”

Jinhya benar, Banpo Brige terlalu indah. Jembatan yang melintas di sepanjang sungai Han ini mempunyai 1000 buah semprotan air di kedua sisinya, setiap malam akan ada lampu lampu yang membuat air mancur itu berubah warna.

Icon kota seoul ini Terlihat indah dan sangat romantis, di tambah lagi kelap kelip lampu gedung kota Seoul yang terlihat jelas dari atas sana. Membuat semua terlihat seperti miniatur.

“gomawo Jinhya-ah” ucap Minhyun sembari tersenyum kecil, sudah lama ia tak bertemu dengan sahabatnya ini “Nado Bongoshipoyo”

“hei kau berhutang cerita mengapa kau bisa sekolah disana Min-ah!” hardik Jinhya

“ne, nanti akan kuceritakan”

Tanpa mereka sadari, 3 orang di belakang Minhyun dan Jinhya memperhatikan mereka sejak tadi, mereka terngaga lebar dengan berbagai pose ajaib.

“aigoo… romantis sekali. Aku juga ingin berpacaran di jembatan banpo” guman seorang namja yang sedang berjongkok sambil bertopang dagu, sepertinya ia habis makan karena ada cucuk gigi yang menyucuk giginya (?)

“benar benar membuat iri” ucap namja yang sedang tengkurap, ia memanyunkan bibirnya sambil berpangku tangan.

Namja yang sedang duduk di atas punggung namja tengkurap itu mendecak sebal. Iya lalu berdiri lalu menunjuk Minhyun ala drama drama korea “YA! CHO MINYUN! SEENAKNYA SAJA KAU BERPCARAN DI JEMPATAN BANPO!” Jeritnya membuat beberapa orang menoleh bingung ke arahnya.

Minhyun sontak melepaskan pelukanya dari Jinhya, ia menoleh ke belakang dan mendapati jonghyun, Onew dan Taemin sendang menatapnya dengan sorot aneh. Aigoo… 3 namja busuk itu! benar benar membuat kesal dan menjijikan!

“apa yang kalian lakukan?” bentak Minhyun kesal, 3 monyet itu merusak moodnya saja.

Taemin meringsek maju, membuat telunjuknya tepat di depan hidung Minhyun. “MWO?! Kau bilang apa huh? Sejak tadi kami sibuk mencarimu tahu! Kami mengkhawatirkanmu. Bagaimana jika terjadi sesuatu padamu huh?!”

Minhyun menebas lengan Taemin, untung jari Taemin tidak masuk kelubang keramatnya -___-. Ia menatap Onew dan Jonghyun yang sudah berdiri normal dari posisi gaib mereka.

Minyun menyernyitkan dahi lalu melayangkan tatapan bingung “benarkah kalian mencariku, heh?”

Onew menggaruk garuk kepalanya lalu tersenyum maksa “tidak juga, tadi aku habis makan di restaurant ayam karena ayamku dimakan Maknae sableng itu. pulangnya aku bertemu Jonghyun” Onew menoleh ke arah jonghyun

“aku baru pulang dari stasiun radio tempat ku bekerja, di jalan aku bertemu Taemin” Jonghyun nyengir kuda lalu menoleh ke arah Taemin.

“tadi aku di ajak battle dance, dan pulangnya aku bertemu hyung gila ini” aku Taemin. Mereka bertiga saling tatap dan… “intinya kami kebetulan lewat sini” seru mereka kompak lalu tertawa lebar.

“BERARTI KALIAN TIDAK  MENCARIKU, BODOH!” jerit Minhyun, mereka benar benar menyebalkan.

Minhyun menoleh ke arah Jinhya yang ikut tertawa sampai terbungkuk bungkuk, temanya yang satu ini memang lebay. Ia pun mendecak sebal.

“aigoo… Ku kira Minhyun pasangan homo Key karena ciuman mereka kemarin” tutur Jonghyun

“itu tidak sengaja Hyung!” Minhyun melotot ke arah Jonghyun, ia terlihat salah tingkah karena tatapan selidik Jinhya.

“Tetap saja kalian berciuman”

“sudahlah jangan di bahas lagi!” bentak Minhyun dan sukses membuat tiga monyet itu bersorak gaje.

“jadi pacar Minhyun adalah siswi Shinesedna. Kau Choi Jinhya, kan?” Tanya jonghyun

“ah ne, dari mana kau tahu?”

Jonghyun berjalan mendekat, lalu membentuk seulas bulan sabit di bibirnya “siapa yang tak kenal Choi Jinhya, yeoja cantik yang 2 tahun berturut turut jadi Juliette di Oxyferic Grand Event” tutur Jonghyun. Jinhya hanya tersenyum, semburat merah menghiasi pipinya dan semakin membuatnya terlihat manis.

“dasar tukang gosip!” umpat Onew pada Jonghyun. Namja itu memang selau Update berita populer, ia punya sumber dimana mana. Onew lalu menatap gadis cantik yang rambutnya tergerai panjang itu “kau benar yeojachingu Minhyun? Aigoo… ternyata Minhyun seorang playboy”

“ani.. aniiyo. Min-ah teman ku sejak kecil” jelas Jinhya “ah bukankah penjagaan SShal itu ketat sekali, kenapa kalian bisa keluar dengan bebas?” Tanya Jinhya tiba tiba. kemudian 3 namja itu saling pandang lalu tersenyum.

“karena kami SHINee” seru jonghyun, Onew dan Taemin serempak. Sedangkan Jinhya hanya mengerutkan dahi tidak mengerti

“Jinhya-ah kenapa kau bisa berada di sini?” sela Minhyun

“tadi aku izin ke makam halmeoni kerena peringatan 5 tahun kematian halmeoni.”

“Aigoo… kenapa kau tidak mengajakku hah? Bae ahjumma sudah seperti nenekku juga”

“kita baru bertemu tadi Min-ah, aku saja baru tahu kau menjadi muris SShall” Jinhya melirik jam tanganya sekilas “Sepertinya aku harus kembali ke incheon.”

“kenapa kau tidak kembali ke asrama?”

“akses asrama sudah ditutup jam segini”

“ne, pasti sudah di tutup. tapi ini sudah hampir jam 12 malam, tak baik seorang gadis berkeliaran sendiri” Onew bersuara, dan disusul anggukan yang lain

“menginaplah di dorm kami” ajak Onew dan sukses membuat yang lain menatap kaget ke arahnya.

“MWO?!”

__TO BE CONTINUED__

Huaaaaa part ini paling hancurrrrrrrr. Semoga part ini gk terkesan maksa, jujur ada beberapa scane waktu nulis aku nggak dapet feelnya -_____-

Makasih buat yang ngikutin. Please jangan jadi silent readers, karena kalo aku dah kecewa banget, aku akan buat sesuatu buat pelampiasan *halaaahhh* udah ah bye! See you the next story  *ala diego*

Part Key masih tenggelam nih, padahal dia yang paling banyak masalah. Jujur, karakter Key itu yang paling sulit, tapi itulah tantanganya.

PENGUMUMAN CAST:

Choi Jinhya aka Thyaa Eonnie selamat begabung dalam Lucifer Family hihihi ^___^

Cast yang di butuhkan masih banyak kok, dan karena banyak yang daftar aku jadi bingung. Jadi aku putusin setiap ada tokoh baru di akhir postingan ku umumin. Tunggu part berikutnya ya, siapa tau di part berikutnya kamu terpilih jadi tokoh baru + bergabung dalam Lucifer Family hahaha

Cheers,

LucifeRain / Aya

Advertisements

113 responses to “Seasons of The Lucifer [ CHAPTER 3 ]

  1. critanya smkin mnrik aja ni..msih bgug ni gmna cranya minho tau minhyun tu cwe???#ditunggu pw ny oenn hehe…
    krakter ny minho tu ice prince bgt!!!! cock sma pmbawaan dy hehe…
    ajaibny tingkah mreka pas ktmu minhyun djmbtan.gak kbyang kseruan chapter slnjutnya ni…

    keep fighting n writting..

  2. Lumayan kurang paham soalnya chapter 2 di protect… Hahhaaa.. untunglah, berkat otak gaje ku, sedikit-sedikit bisa ngerti alurnya. Intinya di chapter ini, identitas Minhyun udah ketahuan sama si Winter Minho, trus yg ciuman di kamar mandi sama Minhyun itu KEY (Aaaa… Abang Konci!!!!)

    Next Chap Author-ssi…
    Semangatt !!!

  3. Asli ff unik bnget alurny sama skali gk ktbak,oya q baca lompat soalny ga tau cr dpt pwny 😂😂😂 v gk papalah yg pntng tau chapter yg ini
    Ah q meletup2 baca ni ff

  4. Walaupun chapter 2 belum ku baca (karena diprotect TT) tapi chap3nya untung masuk ke otak >< dan omoo! Yang ciuman sama Minhyun itu Key ternyata? Nice fic unn!

  5. belum baca chapter 2, jadi masih cukup bingung. itu si minho gimana bisa tau sih. jangan jangan onew mau curi curi kesempatan tuh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s