[Oneshot] SMS Bajakan

Title : SMS Bajakan

Author : Choi Seunwoo a.k.a Sunu

Rating : General

Genre : Komedi nanggung, Romance gagal

Casts :

–          Choi Seunwoo (OC)

–          Jung Eunji (APink)

–          Kim Namjoo (APink)

–          Jo Kwangmin (Boyfriend)

–          Choi Sulli (F(x))

Cameo :

–          Gikwang, Yuri, dan SNSD (mejeng dikit)

Halo! Choi Seunwoo hadir lagi dengan ff baru nan-gaje ini. Hadirnyapun dengan nitip si Kidneypea a.k.a Manda lagi hehehe (tengs e lot ma pren). Sebelumnya pernah nulis ff disini juga judulnya Complete sama X-Ray, kalo yang pernah baca pasti tahu deh. Oh iya, diingatkan kembali authornya fanboy! Jadi jangan panggil unnie, onnie, dan sebagainya, panggil saya Mas aja (?).

Sekilas tentang nih FF ini, ini terinspirasi dari kisah nyata si author. Bukan gua juga sih yang ngalamin tapi temen gua dan gua cuma jadi salah satu saksi dari kejadian tersebut wkwkwk ajaib emang. Sori kalo bahasanya bukan bahasa ff korea banget, saya kan tetep orang Indonesia jadi ya begini deh. Sori juga kalo karakter si tokohnya melenceng banget, maklum kagak kenal sama Jo Twins sebenernya.

Plis, jangan dijiplak! Ini susah bikinnya walaupun bapuk begini-,-

Oke, silahkan membaca. Jangan lupa komen! 😀

Sabtu, 15 Juli 2011

From : KIM NAMJOO (0812-1234-xxxx)

 

Eh, gue ada di depan rumah lu sekarang. Keluar gesit!

Seunwoo bergegas bangun dari kasurnya, memakai jaket abu – abu kesayangannya dan keluar rumahnya. Di depan pagar sudah menunggu dua orang, laki – laki dan perempuan.

“Udah siap?” tanya si laki – laki, Kwangmin namanya.

“Udah, ayo jalan,” jawab Seunwoo, setelah berpamitan dengan ibunya kemudian mereka berjalan pergi menjauhi rumah itu.

Sabtu sore yang cerah, waktu yang tepat untuk berjalan – jalan santai sebentar. Biasanya pada hari Sabtu banyak sekali orang – orang berjualan di sepanjang jalan perkomplekan. Seunwoo membeli sebungkus roti bakar, Kwangmin membeli segelas es krim rasa coklat, dan Namjoo membeli beberapa bungkus kecil coklat dan sebatang permen lolipop.

“Min, kayaknya enak deh tuh es krim. Boleh bagi?” tanya Namjoo.

“Enak saja, kalo mau beli sendiri!” Kwangmin melet – melet dan memakan eskrim dengan pose menggugah selera.

“Ish, pelitnya,” ujar Namjoo merengut. Ia membuka permen lolipopnya lalu memakannya.

BRUK!

“Maaf, kak! Maaf, nggak sengaja,” seorang anak kecil baru saja menabrak Kwangmin dengan sepedanya. Ia sangat ketakutan, begitu berbicara dia langsung pergi menaiki sepedanya.

“Dih, tuh anak. Eskrim gue jatoh kan!” protes Kwangmin, celana dan sandalnya sekarang berlumuran eskrim coklat, lengket.

“Hahaha, pelit sih jadi begitu tuh. Sabar yah!” Kwangmin makin cemberut.

Mereka lanjut berjalan menjauhi kerumunan pedagang – pedagang. Lama – lama tidak jelas apa yang mereka lakukan, hanya berjalan tanpa arah tentu, mengobrol mengenai urusan sekolah, gosip, seperti anak hilang. Untung pakaian mereka masih sedikit lebih rapi, kalau tidak mungkin mereka sudah dikirim ke panti asuhan oleh orang yg melihatnya.

“Eh, enaknya kemana dan ngapain nih? Udah kayak orang gila kita luntang lantung,” ujar Seunwoo. Kemudian hening.

TING! Ada lampu menyala di atas kepala Namjoo.

“Ke rumah gue yuk!” usulnya.

“Abis kerumah lu kita ngapain?” tanya Kwangmin “beresin rumah?”

“Yeee, enggak-lah! Main aja, apa kek, video game, Barbie, masak – masakkan,”

“Idih, ogah amat ya gua main begituan,” Seunwoo bergidik. Ide ditolak.

“Terus ngapain dong?” tanya Namjoo. Kemudian hening. Tidak ada lampu di kepala siapa – siapa, kembalilah mereka berjalan.

Di pertengahan jalan mereka melewati rumah keluarga Choi. Salah satu anaknya yang bernama Jinri, biasa dipanggil Sulli, merupakan teman sekelas mereka. Rumahnya memang bukan rumah yang sangat besar dan mewah, namun halamannya luas cukup untuk tidur – tiduran santai.

TRING! Lampu kembali menyala di atas kepala Namjoo. Dia berjalan kearah pagar rumah itu, membunyikan bel-nya.

“Permisi! Sulli!” teriaknya memanggil – manggil ke dalam. Seunwoo dan Kwangmin heran, apa yang ingin dilakukannya.

“Mau ngapain di rumah Sulli?” tanya Kwangmin penasaran.

“Udah, ikutin aja daripada bosen,” jawabnya kemudian berteriak – teriak lagi. Seorang ibu – ibu keluar dari pintu rumah itu, berjalan ke pagar.

“Cari siapa ya?” tanya ibu itu.

“Sulli-nya ada?” ibu itu mengangguk kemudian kembali ke dalam. Tak berapa lama keluarlah sesosok perempuan remaja, Sulli.

“Eh, Namjoo! Seunwoo! Kwangmin! Masuk – masuk!” ucapnya ramah, membukakan pintu pagar untuk mereka bertiga yang beranjak masuk dan duduk di halaman rumah yang dialasi ubin.

“Ada angin apa? Kok tumben main ke sini?” tanya Sulli.

“Tadi kita lagi muter-muter komplek gaje gitu……” ucap Seunwoo.

“Terus kita lewat depan rumah lu….” lanjut Kwangmin.

“Nah, kita mampir aja gara – gara nggak tahu mau kemana lagi!” sambar Namjoo “siapa tahu lo ada usulan enaknya kita ngapain.”

“Hmm, gitu ya?” ujar Sulli “mau main UNO?” tanyanya.

“Boleh deh! Biar seru yang kalah dikasih hukuman!” Seunwoo bersemangat.

“Hukumannya apa?” tanya Namjoo.

“Suruh joget aja,” usul Kwangmin.

“Ah, biasa banget itu,” tolak Seunwoo, Namjoo menyetujuinya.

“Oke, suruh dia ketok pintu tetangga sebelah abis itu kabur. Gimana?” usulnya lagi.

“Jangan! Rumah sebelah punya anjing galak banget! Yang punya rumah juga kakek – kakek tua, horor gitu,” ujar Sulli. Semua bergidik ngeri.

“Gimana kalo mukanya dioles kecap?” tanya Namjoo.

“Ih, lengket! Ogah lah yaw,” tolak Sulli.

“Atau yang kalah mukanya dibedakin aja?” usul Seunwoo. Kemudian hening.

“Bolehdeh,” jawab yang lainnya, nyaris serempak. Hukuman telah disepakati.

Sulli masuk ke dalam rumah mengambil seperangkat permainan kartu UNO—kalau yang belum tahu, coba search di google, agak ribet jelasinnya disini. Pokoknya beda sama gaplek apalagi remi—dan sebotol bedak bayi. Seunwoo, Kwangmin, dan Namjoo sudah standby di tempat masing – masing, duduk melingkar. Kwangmin mengocok kartu, membagikannya tujuh tujuh.

“Siapa duluan yang mulai?” tanya Namjoo.

“Gambreng aja, ayo! Hompimpaalaiumgambreng!”

Kwangmin putih.

Seunwoo hitam.

Namjoo putih.

Dan Sulli putih.

“Gue duluan ya yang jalan, muternya ke kanan!” dengan begitu alur jalannya adalah Seunwoo ke Namjoo ke Kwangmin ke Sulli. Kartu pertama yang terbuka adalah enam biru, permainan-pun dimulai.

Seunwoo mengeluarkan dua biru, dilanjutkan dengan Namjoo yang mengeluarkan tiga kartu sekaligus, dua kuning, dua merah, dua hijau.

“Ish warnanya diganti deh. Nggak ada ijo nih gua!” protes Kwangmin, ia mengambil satu kartu, dan satu kartu lagi karena belum mendapat warna hijau atau angka dua. “Nah, ada!” kemudian ia mengeluarkan dua biru, warnapun terganti lagi.

“Warnanya kok dibiruin lagi, udah bagus ijo aja,” begitulah, dan permainan berlanjut. Sulli menimpa dua biru dengan satu biru. Selanjutnya Seunwoo dengan lima biru dan Namjoo dengan tujuh biru.

“Nah kan bagus biru,” Kwangmin menimpanya dengan empat kartu sekaligus. Tujuh biru, tujuh kuning, tujuh merah, kembali lagi ke tujuh biru. Kartu ditangannya tinggal empat lembar sekarang “sedikit lagi gua menang, hehehe,” tawanya bahagia.

Namun tidak secepat itu, Sulli menyerang dengan kartu plus dua warna biru, ditambah lagi dua kartu yang sama milik Seunwoo dan satu lagi punya Namjoo. Mengharuskan Kwangmin menganbil delapan kartu lagi.

“Apes – apes yeee,” ujarnya, sekarang ada duabelas kartu ditangannya.

Putaran pertama dimenangkan oleh Sulli yang kartunya habis duluan, kemudian Seunwoo, dan Namjoo. Kwangmin kalah, maka ia mendapatkan satu corengan bedak diwajahnya.

“Nih, biar mantap!” Namjoo mencoreng muka Kwangmin menggunakan tiga jari sekaligus. Kwangmin cemberut namun semua menertawainya. Dimulailah putaran kedua permainan kartu ini.

Hari sudah semakin sore dan akan beranjak malam, namun mereka masih santai saja berada di rumah Sulli, toh rumah mereka tidak terlalu jauh dan mereka beramai – ramai pulang bersama nanti., dan permainan kartu UNO sudah dibubarkan karena mereka bosan. Hasil akhir permainannya adalah corengan terbanyak dimenangkan oleh Kwangmin dengan tujuhbelas corengan, kemudian Namjoo empatbelas corengan, dan Seunwoo dan Sulli masing – masing hanya mendapat lima corengan. Sungguh beruntung.

Sekarang mereka hanya duduk santai sambil mengobrol tentang apapun.

“PR Matematika udah belum?”

“Eh, udah liat MV SNSD yang baru? Asli keren banget loh! Yuri-nya cantik gila!”

“Udah baca postingan baru di ffindo? Keren asli deh tuh cerita!”

“Eh tau gak, kemaren tangan gue di pegang sama si Gikwang. AAAA unyu sekaleee!”

“Eh gue pengen kentut loh!”

Begitulah. Sampai malam beranjak dan mereka dilanda kebosanan.

“Eh setel lagu dong,” ujar Kwangmin. Sulli mengeluarkan MP3-nya dan memutar sebuah lagu, Ayu Ting – Ting, dan Kwangmin berjoget jempol dan leher.

“Ih, Sulli punya lagu ginian dah di MP3,” ledek Seunwoo.

“Biarin, gue ngefans banget sama Ayu Ting – Ting sih! Lucu – lucu imut gitu deh orangnya,” katanya dengan raut wajah diimut – imutin, maksa, rasanya ingin ditimpuk sandal swallow warna pink, dan kenapa harus pink? Lupakan.

“Idih, Sulli horor,” Seunwoo bergidik. Sementara Namjoo dan Kwangmin masih asyik dengan lagu Ayu Ting – Ting, ia sudah mereplay-nya.

“Yaudah, sini pinjem HP-lo. Mau blutut lagu siapa tahu ada yang enak,” pinta Sulli.

“Di HP gua nggak ada Ayu Ting – Ting.”

“Biarin elah. Sini cepetan!” Seunwoo memberikan HP-nya.

Sekarang HP itu ada ditangan Sulli. Ia membuka gallery lagu HP itu, SNSD. Iyalah, Seunwoo-kan SONE wajar saja mayoritas lagunya SNSD. Ada juga lagu – lagu barat—terutama Westlife—dan lainnya. Sulli agak sedikit kecewa karena tidak ada dangdut, yah mungkin lagu – lagu SNSD juga tidak terlalu buruk. Ia mengambil HP miliknya dari saku celana dan mem-blutut beberapa lagu dari HP Seunwoo kemudian melihat – lihat yang lain, mungkin foto atau video.

MV SNSD banyak juga yang disave di HP Seunwoo, tidak ada video lain sepertinya. Beranjak ke foto, ada satu folder khusus yang bertuliskan “SNSD’s” yang tentu saja isi-nya foto – foto anak SNSD, dasar fanboy. Dilihat foto – foto yang lain, ada foto dia bersama keluarganya, foto sendiri—seperti alay!—dan dengan teman – temannya.

Di sekolah, Seunwoo punya banyak teman. Namun ia hanya dekat dengan beberapa orang saja termasuk orang – orang yang sekarang bertengger di halaman depan rumah Sulli. Ada satu orang lagi, Eunji namanya, nama lengkapnya Jung Eunji. Dia juga salah satu yang paling dekat dengan Seunwoo, sudah seperti kakak-adik. Eunji anak yang sangat baik, cantik, suaranya juga sangat merdu—dia tergabung dalam vokalis – vokalis utama paduan suara sekolah—juga sangat pintar. Siapapun pasti akan suka berteman dengannya. Suka sebagai pacar? Banyak! Baik Seunwoo maupun Sulli sudah sering berperan sebagai mak comblang salah satu teman cowok mereka di sekolah yang suka dengan Eunji, namun mereka semua ditolak!

Ehm, tunggu.

TING! Sebuah lampu menyala diatas kepala Sulli. Dia mempunyai ide, ide yang cukup jahil. Jari – jarinya mengarahkannya ke menu SMS, buat pesan baru, dan ia mengetikkan suatu kalimat pendek :

To : JUNG EUNJI (0812-9876-xxxx)

Beb, lagi apa?

 

Sulli menahan tawanya, ide yang cukup jahil. Ia tidak bisa membayangkan apa reaksi Eunji yang akan menerima dan Seunwoo jika mengetahui hal ini, ia hanya bisa tersenyum – senyum.

Namjoo melihat itu dan melirik kearah layar HP, Kwangmin masih asyik dengan lagi itu dan Seunwoo sedang bermain game di HP Kwangmin yang canggih.

“Eh, lu kenapa senyum – senyum sendiri?” tanya Namjoo penasaran. Sulli memperlihatkan SMS yang tadi ia ketikkan kepada Namjoo, berhati – hati agar Seunwoo tidak melihat. Tawa Namjoo hampir meledak, ia menahannya seperti orang sakit perut. “Gila lo!” ujarnya. Ia merebut HP itu, tak sengaja menekan tombol Send.

“Namjoo! Kok dikirim beneran sih?!” Sulli panik, menepuk paha Namjoo.

“Eh, nggak sengaja! Sumpah! Aduh sakit bego!” Namjoo balas menepuk paha Sulli.

TULIT TULIT! *bunyi macam apa ini? zzz-___-*

“Ada SMS ya?” Seunwoo bertanya.

“Ah, enggak kok. Ini gue lagi buka gallery nada,” Sulli ngeles, Namjoo membantunya dengan mengangguk. Kemudian Seunwoo kembali berkutat dengan game-nya.

“Hwayulu, dibales kan! Elo sih pake ngirim,” ujar Sulli setengah berbisik.

“Itu nggak sengaja dibilang! Coba liat balesannya apa,” ucap Namjoo.

From : JUNG EUNJI (0812-9876-xxxx)

 

Hahaha

Kenapa lo? Sakit ya ._.?

 

“Sekarang apa? Nggak usah dibales?” tanya Sulli.

“Jangan! Sini biar gue aja,” Namjoo merebut HP secepat kilat menyambar. Dia mengetikkan kata – kata di HP itu. Sulli penasaran, tapi setiap ia berusaha melihat Namjoo selalu menutupinya, ia tertawa geli sambil mengetik.

“Elo ngetik apaan sih? Sampe ketawa geli begitu,” tanya Sulli penasaran.

“Nih, awas jangan bilang – bilang dulu,” jawab Namjoo.

To : JUNG EUNJI (0812-9876-xxxx)

 

Nggak kok.

Ehm, sebernernya, gue itu suka sama elo. Mau nggak jadi pacar gue?

 

“Cadas lo! Wakakakaka!” Sulli tertawa segeli – gelinya. Seunwoo menatap heran.

“Kalian ngapain HP gua sih? Kok lucu banget? Coba liat,”

“Ah nggak kok, nggak kenapa – kenapa,” Namjoo menjauh dari jangkauan tangan Seunwoo yang sudah berancang – ancang mengambil HP-nya.

“Ah, bohong! Sini balikin HP gua!” dengan gesit dia mengambil HP, namun usaha itu gagal. HP itu keburu dilayangkan ke tangan Sulli, beruntung tertangkap, coba tidak, tamatlah sudah.

SENT!

“Eh, Sul! Itu dikirim lagi? Astaga?!” Namjoo panik.

“Kirim apaan sih? Balikin sini HP gua! Sekarang!” kalau tidak ingat ini dirumah orang lain, mungkin Seunwoo sudah berteriak. Ketika ia merangkak mengambil HP itu, tiba – tiba datanglah sebuah kelitikan maut. “HWAHAHAHAHAHA! GELI!” Kwangmin menggelitiknya hingga lemas, Seunwoo kembali meringkuk.

`           “Kalian ngapain sih? Kayaknya seru deh, ikutan!”

TULIT TULIT!

Yap, SMS masuk, dari orang yang sama.

From : JUNG EUNJI (0812-9876-xxxx)

 

Eh serius? Elo kenapa sih? Lagi aneh ya?

 

            “Wah! Kalo masalah beginian sih gua masternya! Sini biar gua yang bales!” Kwangmin menyambar HP itu dari Sulli.

“Kalian sebenernya lagi ngapain sih sama HP gua?” tanya Seunwoo, merana karena gelitikan super Kwangmin. Ia lemas tersandar di tiang penyangga. Mau mendekat? Tidak, ia tidak mau ambil resiko terkena gelitikan mematikan itu lagi.

To : JUNG EUNJI (0812-9876-xxxx)

 

Enggak kok, gua serius. Gua suka sama lu sejak kita pertama kenal, lu itu orang pertama dan satu – satunya yang udah menarik hati gua, memaksa gua untuk mencintai lu, dan gua tahu itu yang gua pengen selama ini.

Jung Eunji, tolong jangan biarkan rasa ini bertepuk sebelah tangan. Gua pengen jadi satu orang yang bisa memberikan buat elu cinta yang tulus dari hati ini.

 

“HANJEER! Najis! Serius, Min! Ini…….. Hwakakakakaka!!!!!!” Namjoo tertawa sampai kayang.

“Sumpah, ini, ajaib banget! Asli, elo belajar dimana sih bikin beginian?” Sulli tertawa takjub keheranan.

“Ini namanya bakat alam, gua tuh emang jago gombal, cuma korbannya aja yang belom ketemu, hiks……” Kwangmin, si raja gombal, namun tetap menjomblo, merana pula.

SENT!

Jam demi jam, SMS pun menjadi semakin gajebot. Seunwoo? Ia sudah tahu apa yang terjadi dan ia hanya bisa pasrah kepada Tuhan Yang Maha Esa sambil garuk tembok dan makan beling, macam debus. Setiap ingin merebut pasti ia digelitik oleh Kwangmin si Raja Gombal dan ahli Gelitik. Namjoo dan Sulli masih berlagak sebagai ‘Seunwoo’ dan ber-SMS ria dengan Eunji. Entah apa yang mereka pikirkan saat itu, cuma senang – senang saja? Mungkin ya, atau tentu saja iya.

JENG JENG JENG JENG JENG JENG….. *ringtone nada Vitamin – SNSD*

 

…. … … … … …INCOMING CALL… … … … … …

JUNG EUNJI (0812-9876-xxxx)

“SEUNWOO! SEUNWOO! Ini! Eunji nelpon!” Sulli yang saat itu sedang memegang HP nyaris melemparnya kepada Seunwoo. Seunwoo, begitu menerimanya untuk pertama kali, langsung bingung galau tak keruan.

“Gua harus gimana nih?!” ucap Seunwoo panik.

“Udah jawab aja! Cepet nanti keputus!” Seunwoo menekan tombol hijau, ia beranjak menjauh dari mereka bertiga.

“Halo, ya. Eunji?……” terdengar sebuah obrolan, namun itu tidak terlalu jelas.

Perasaan Kwangmin, Sulli, dan Namjoo saat ini juga ikut kacau. Bagaimana kalau gara – gara mereka membuat Eunji selek dengan Seunwoo? Bagaimana kalau gara – gara mereka Eunji dan Seunwoo jadi berantem? Bagaimana kalau……. Ah! Pikiran mereka penuh dengan pikiran negatif. Suasana malam itu menjadi ruwet semrawut dan menggalaukan.

Seunwoo melangkah gontai kearah mereka.

“Gimana? Ngomong apa dia?” tanya Namjoo

“Nggak kedengeran, kayaknya disana lagi rusuh gitu. Berisik banget soalnya,” jawabnya. Mereka langsung lemas. Untung saja, atau, yaaaahhhh. Walaupun galau mereka masih penasaran bagaimana akhirnya nanti. “Gua harus gimana nih? Kalian sih!”

“Ah iya, maaf,” Sulli tertunduk, dialah pencetus ide ini pertama kali.

“Iya, gue juga minta maaf,” Namjoo, yang memencet tombol SEND pertama kali.

“Sama,” Kwangmin, yang menggombal pertama kali.

“Jadi sekarang gua harus gimana nih?” Seunwoo kebingungan, setengah idup.

“Bilang aja kalo HP-lo dibajak. Selesai kan?” usul Sulli.

“Tapi kesannya PHP dong, gimana sih?!” Namjoo menempelengnya.

JENG JENG JENG JENG JENG JENG….. *ringtone lagi*

 

…. … … … … …INCOMING CALL… … … … … …

JUNG EUNJI (0812-9876-xxxx)

“Sekarang gua harus ngomong apa?” pertanyaan yang sama.

“Udah, ikutin aja arusnya,” Seunwoo berjalan lagi menjauh dari mereka, melakukan obrolan lewat Handphone.

Hidup mereka seperti dipertaruhkan disini, deg-degan? Sudah tentu. Galau? Apalagi. Sampai saat ini belum ada kata – kata seperti ‘dibajak’ atau ‘dipinjam teman’ atau ‘bukan gua yang sms’ dan sejenisnya terdengar. Seunwoo tidak memberitahu yang sebenarnya, dan setelah itu terdengar samar – samar “Hmm, iya, makasih ya, maaf hehe, makasih ya.”

“Yah, ditolak nih,” Namjoo kecewa sepertinya.

“Sabar banget Seunwoo,” Sulli tak kalah kecewanya.

“Kalo mereka ketemuan gimana tuh? Bisa diem – dieman…..” rasa bersalah kembali muncul. Seandainya waktu bisa diputar……….

Seunwoo datang kearah mereka dengan ekspresi wajah yang tidak bisa digambarkan. Panik, tidak. Senang, tidak. Sedih, tidak. Datar, tidak. Kalaupun ditolak kenapa ia harus sedih juga ya? Toh bukan Seunwoo sendiri yang bilang seperti itu.

“Ditolak ya?” tanya Sulli.

“Yah, maafin kita ya. Gue nggak enak kalo kalian ketemu nanti jadi selek. Maafin kita ya, maaf banget,” Ujar Namjoo. Seunwoo tidak merespon, sekarang ia kembali duduk bersandar di tiang, kali ini tidak sambil makan beling.

“Gua diterima.”

DEG……..?!?!?!?!?!?!?!?!?! *kemudian hening*

“Se…..se…….se…….se…..r…..ri…..u….s?”

“Iya, serius. Katanya ‘kita coba dulu ya’……..”

DEG?!?!?!?!?!?!

“CIYEEEEE!!!!!!!! Seunwoo-Eunji!!!!! PeJe PeJe! Pajak Jadian, Ahay!!!” sorak – sorak ciye bergema keseluruh rumah. Sudah resmi, ya.

“Traktir! Traktir! Jangan lupa!”

“Langgeng ya!!! Ciyeeee 150711!!!” perasaan mereka campur aduk sekarang. Senang, kaget, takjub, tidak percaya, bahagia, lucu, ramai, sumpah, suwer, susah digambarkan lagi dengan kata – kata.

Malam itu berakhir dengan indah. Hal kecil bisa saja merubah hidup seseorang, entah sengaja atau tidak, entah buruk ataupun baik. Jadi, jangan keburu kesal atau marah dulu jika kita dijahili, bisa saja itu berujung bahagia? Setuju?

-end-

Advertisements

70 responses to “[Oneshot] SMS Bajakan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s