My Silver Chap.11

Title     : My Silver Chap. 11

Author  : GladizCass a.k.a Kim SuJin

Rating : PG-13

Length: Chaptered

Genre : Romance, Fantasy/Mystery (??)

Cast    : Seohyun (SNSD), Cho Kyuhyun (SJ)

Other Cast : Shim Changmin (TVXQ), Choi SooYoung, ZhouMi, Kwon Yuri

Previous : Chap 1, Chap 2, Chap 3, Chap 4, Chap 5, Chap 6, Chap 7 Chap 8, Chap 9, Chap 10

Sebenarnya chap ini nggak terlalu panjang dan nggak terlalu ribet bikinnya. Cuma karna minggku kemarin UAS dan baru kemarin pulang dari Mekarsari abis jadi pembimbing LDKS, aku baru bisa nyelesain FF nya sore ini.

Silakan dibaca chingudul…^^

Jangan lupa comment dan kalau suka di like ya!!!

-SOOYOUNG POV-

-FLASHBACK-

Aku mengamati Zhoumi yang tampak tengah mencari – cari sesuatu di dalam kotak tua yang diambilnya dari lemari berlapis emas di ruang kerjanya ini. Zhoumi tampak serius mencari selama beberapa saat hingga akhirnya ia mengeluarkan sebuah bong kaca kecil berbentuk cylinder.

Ia membawa bong kaca itu bersamanya lalu menyodorkannya padaku,

“Ini” Ujarnya.

Aku mengernyit heran lalu menerima bong kaca itu. Bong kaca tersebut berisi cairan kental berwarna keunguan. Aku tidak tahu cairan macam apa di dalamnya, dan mengapa Zhoumi memberikan cairan ini padaku. Tapi aku yakin betul kalau cairan ini pasti ada kaitannya dengan Vernald.

“Cairan apa ini?” Tanyaku.

“Bukankah sebelumnya aku bilang kalau kekuatan Vernald dapat dikuras untuk beberapa saat?”

Aku mengangguk, “Nde. Itu yang kau bilang tadi”

“Kekuatan Vernald dapat dikuras dengan cairan itu” Ucap Zhoumi.

“Mwo? Cairan ini? Bagaimana caranya?” Tanyaku sambil mengamati cairan keunguan dalam bong kaca itu.

“Cukup memasukkan cairan itu ke dalam tubuh Vernald, mencampurkan cairan itu ke darahnya”

“Ke darah Vernald?”

“Nde” Angguk Zhoumi lalu kembali duduk di kursinya.

“Bagaimana memasukkan cairan ini ke dalam tubuh Vernald?”

“Itu masalahmu” Jawab Zhoumi.

Aku terdiam sejenak lalu berkata, “Bisa dengan suntikan” Ucapku.

Zhoumi tidak berkata apa – apa lagi, hanya mengamatiku dalam diam. Sementara itu, aku terus menatap cairan di tanganku dengan penasaran. Bagaimana bisa cairan ini menguras kekuatan Vernald. Padahal setahuku, Vernald salah satu makhluk yang memiliki kekuatan terbesar.

“Cairan macam apa ini?” Tanyaku lagi.

“Itu darah” Jawab ZhouMi ringan.

“Darah?” Ulangku sambil menatap Zhoumi tidak percaya, “Darah apa?”

“Darah dari tiga makhluk” Jawabnya, “Pixie, Troll, dan Vampire”

“Jincayo?” Tanyaku takjub.

Zhoumi tersenyum tipis, “Sulit untuk mendapatkan ketiga darah makhluk itu, kau harus menggunakannya dengan baik”

“Tentu saja!” Sahutku, “Darah ini benar – benar dapat menguras tenaga Vernald?”

“Kau tidak percaya?”

“Percaya” Jawabku langsung, “Tapi, bagaimana bisa?”

“Sebenarnya darah ini tidak menguras tenaga Vernald. Darah ini semacam racun. Racun yang dapat membuat Vernald kehilangan tenaganya untuk beberapa saat” Jelas Zhoumi.

Aku mengangguk, “Beberapa saat itu, selama apa?”

Zhoumi terdiam selama sesaat lalu menjawab, “Mungkin..empat jam?”

“Empat jam?” Ulangku, “Tanggung sekali, kenapa tidak lama jam atau sepuluh jam?!”

“Vernald punya kekuatan yang sangat kuat” Komentar Zhoumi.

Aku menghela napas, “Omong – omong, darah Pixie, Troll, dan Vampire mana yang kau ambil?”

“Apa kau perlu tahu?” Zhoumi balik bertanya.

Aku mengangkat bahu, “Hanya ingin tahu”

“Darah vampire, darahku” Ucap Zhoumi.

Aku tersentak, “Kau mengambil darahmu sendiri?”

“Aku bahkan bisa meminum darahku sendiri kalau aku mau” Jawabnya.

“Kalau kau meminum darahmu sendiri? Apakah kau akan menjadi Vernald?”

“Anio” Jawabnya langsung, “Vampire akan menjadi Vernald bila meminum darah vampire lain dan akan mati apabila meminum darahnya sendiri”

“Kenapa mati?”

“Karna vampire akan kehabisan darah dalam tubuhnya”

“Benar juga!” Aku menimpali, “Vampire tidak dapat hidup tanpa darah” Ujarku.

“Lalu bagaimana dengan Troll? Aku tidak pernah melihat Troll, tapi aku sudah membaca sejarah tentang mereka”

“Aku mengambilnya dari Troll yang sekarat”

“Siapa Trollnya?”

“Quarz” Jawab Zhoumi singkat.

“Aku tidak kenal troll. Bagaimana dengan Pixie nya?”

“Jung MinYoung” Jawab Zhoumi lagi.

“Si pembuat racun itu?”

“Nde. Si Pixie licik itu”

“Waahh..,aku banyak mendengar tentang Pixie bernama MinYoung itu, tapi tidak pernah bertemu dengannya” Ucapku.

“Jangan sampai” Zhoumi menimpali.

“Waeyo?”

“Sedikit saja kau membuatnya marah, ia akan meracunimu tanpa kau sadari, hingga akhirnya kau mendapati dirimu sudah tidak bernyawa” Jawab Zhoumi.

Aku kembali menghela napas, “Aku juga tidak tertarik pada Pixie. Aku dengar mereka sok imut”

“Jadi, kau masih ingat harus segera membawa Vernald itu kesini, setelah kau meracuninya kan?” Tanya Zhoumi.

“Tentu saja”

-END FLASHBACK-

Dalam hitungan detik Vernald tersebut telah menerjang Changmin hingga Changmin terdorong ke belakang. Namun beruntung, Changmin dapat kembali bangun. Akan tetapi, Vernald itu tampak jelas tidak akan melepaskan Changmin dan akan kembali menyerangnya.

Sementara itu, aku masih tidak dapat bergerak. Entah kenapa kakiku terasa lemas, dan bekas gigitan di leherku masih mengucurkan darah dan terasa berdenyut – denyut. Aku berusaha menghentikan pendarahannya dengan menekan kan tanganku di atas lukaku, lalu dengan sekuat tenaga berusaha bangkit berdiri.

Bagaimanapun juga, aku tidak boleh diam saja. Changmin tidak mungkin mengalahkan Vernald itu sendiri. Jadi dengan tangan bergetar, aku segera mengaduk – aduk isi tasku dan akhirnya mengeluarkan sebuah suntikan berisi cairan berupa darah berwarna ungu.

“ARRGGGHH!!!!”

Teriakan Changmin membuatku tersentak kaget, aku menoleh dan mendapati Vernald tersebut telah menekan badan Changmin ke tanah dan tampak tengah menghisap darah Changmin. Jantungku mulai berdegup kencang karna gugup, aku menggenggam erat suntikan tadi di tanganku, dan melangkah mendekati Vernald itu dengan tertatih – tatih.

Namun, setelah lima langkah lagi aku mencapai Vernald tersebut, Vernald itu menolehkan kepalanya dengan tiba – tiba ke arahku. Bola mata Vernald yang putih seperti susu itu menatap tepat ke mataku. Ia mengerang, dan disaat itu juga kudapati diriku terpaku di tempat.

Tanpa sempat mengelak ataupun berteriak, Vernald itu menerjang tubuhku hingga punggungku menghantam aspal basah. Dan tanpa jeda sesaatpun, Vernald itu kembali menancapkan taringnya di leherku. Dapat kurasakan taring – taringnya yang tajam itu menancap ke dalam kulitku dan mulai menghisap darahku berlahan.

Vernald itu tidak melepaskanku, hingga aku berpikir aku akan mati kehabisan darah. Karna sekarangpun, seluruh tubuhku sudah tidak memiliki tenaga lagi. Aku hanya dapat tergolek dalam cengkraman Vernald ini dan menunggu ajalku. Aku pun tidak sanggup lagi berpikir, gambar – gambaran masa laluku terbesit dalam pikiranku bagai potongan – potongan film.

“MAKHLUK SIALAN!!!!”

Teriakan itu menyadarkanku, dan kulihat Changmin yang berusaha menjauhkan Vernald itu dariku. Di saat itu pula aku sadar bahwa suntikanku masih berada dalam genggaman tanganku. Sementara Changmin telah berhasil menjauhkan Vernald itu dariku, dan perhatian Vernald itu kembali teralih pada Changmin, aku menyeret tubuhku mendekat.

Dan saat aku telah cukup dekat dengan Vernald itu, dengan sekali ayunan, aku menancapkan jarum suntik ditanganku ke betis Vernald tersebut.

-END SOOYOUNG POV-

-KYUHYUN POV-

Walau aku tidak mempercayai atau setidaknya mencoba untuk tidak mempercayai perkataan SooYoung, ucapannya terus berputar – putar di kepalaku.

“Seolma (Tidak mungkin)” Ucapku untuk entah yang keberapa kalinya.

Dan akhirnya, aku pun bangkit dari tempat tidurku dan merapikan diriku, lalu melangkah keluar kamar. Seohyun tidak menjawab telepon ataupun membalas sms ku. Hal itu membuatku semakin merasa pening karna kebingungan. Maka akupun memutuskan untuk berkunjung ke rumahnya.

Aku baru sekali ke rumah Seohyun, yaitu saat pertama kali aku berkenalan dengannya. Sisanya, aku hanya sampai ke depan pintu pagar rumahnya. Tapi kali ini aku bertekad untuk berkunjung. Lagipula tidak ada salahnya, itu kan rumah pacarku. Dan aku juga tidak keberatan apabila keluarganya tahu tentang hubunganku dengan Seohyun.

“Annyeong haseyo” Sapaku sesaat setelah pintu utama rumah Seohyun terbuka.

Kulihat seorang ahjumma yang sama yang membukakan pintu untukku saat pertama kali aku datang kesini telah berdiri di ambang pintu. Namun wajah menyebalkan ahjumma itu kini telah berubah menjadi wajah tegang. Bahkan aku menyadari badan kecilnya yang gempal sedikit bergetar.

“Jwiseonghamnida, apakah..”

“Nugu?”

Perkataanku terpotong, dan sesaat kemudian, aku melihat seorang yeoja muda berdiri di belakang ahjumma tadi. Yeoja itu tampak berumur dua puluhan dan bertubuh tinggi dengan rambut hitam panjang yang sedikit bergelombang. Tatapannya tenang namun tampak tajam. Yeoja ini tampak cantik namun dingin. Aku mengenalinya sebagai kakak dari Seohyun yang bernama Yuri. Aku mengetahuinya karna itulah yang dijawab Seohyun saat aku bertanya padanya.

“Kyuhyun-ssi?” Ucap Yuri dengan nada sedikit terkejut sekaligus heran.

“Nde. Annyeong haseyo” Sapaku sambil membungkukkan tubuhku sebetar.

Yuri menatap ahjumma tadi lalu menghentakkan kepalanya singkat, “Kau boleh pergi” Ucapnya.

“Nde” Sahut ahjumma tadi. Dan setelah sesaat menatapku dengan tatapan yang tidak dapat kumengerti, ahjumma tersebut berbalik dan pergi.

“Ada apa?” Tanya Yuri.

Untuk beberapa saat aku diam karna canggung, namun akhirnya berhasil membuka mulutku, “Jwiseonghamnida, aku kesini untuk menemui Seohyun”

“Seohyun tidak ada” Jawab Yuri cepat.

Aku mengernyit, “Tidak ada”

“Nde, dia pergi” Yuri menimpali.

“Kalau boleh aku tahu, kemana dia pergi?”

“Entahlah” Jawab Yuri.

“Kapan dia kembali?” Aku kembali bertanya.

“Entahlah” Jawab Yuri lagi.

Entah kenapa, aku merasa bahwa Yuri tidak nyaman dengan kehadiranku saat ini. Walau begitu, ia tampak bersungguh – sungguh saat berkata bahwa Seohyun tidak ada. Dan karna tidak ada yang dapat aku lakukan, maka akupun memutuskan untuk pulang.

“Kalau begitu gamsahamnida” Ucapku sambil kembali membungkukkan badan sesaat.

Yuri balas membungkukkan badannya sedikit sambil bergumam, “Nde”

“Permisi” Ucapku lagi lalu berbalik dan melangkah pergi menjauh dari pintu rumah.

“Changkamanyo!”

Langkahku terhenti, dan aku pun menoleh ke asal suara. Yuri masih berdiri di ambang pintu di tempatnya tadi. Ia tampak menghembuskan napas, lalu melangkah mendekatiku,

“Sepertinya Seohyun akan tiba sebentar lagi” Ujarnya.

“Jeongmalyo?”

“Nde” Angguk Yuri, “Kau bisa menunggu di dalam kalau kau mau” Lanjutnya.

Aku terdiam sesaat, “Gwanchanayo, aku akan kembali saja dulu” Tolakku sesopan mungkin.

“Anio, gwanchanayo. Sebenarnya aku juga ingin berbincang – bincang sedikit denganmu” Ucapnya.

Aku mengernyit, “Denganku?”

Yuri kembali mengangguk, dan setelah ia berada tepat di hadapanku, ia menjulurkan tangannya,

“Yuri imnida, aku kakak dari Seohyun” Ucapnya.

Aku menjabat uluran tangannya, “Cho Kyuhyun imnida. Senang berkenalan denganmu” Jawabku.

Sesaat kemudian Yuri melepaskan genggamannya, begitu juga aku. Di saat bersamaan aku menyadari bahwa telapak tangan Yuri hangat sebagaimana orang biasanya. Tidak seperti Seohyun yang sedingin es.

“Kau bisa masuk” Ucap Yuri lalu berbalik dan mulai melangkah.

Karna ucapan Yuri tampaknya sudah tidak bisa dibantah, aku pun mengikuti Yuri masuk ke dalam rumah. Rumah Seohyun masih sama seperti yang ada dalam ingatanku. Mewah dan megah. Yang berbeda hanyalah aura dalam rumah yang terasa lebih dingin.

“Duduklah” Ujar Yuri.

Aku mendudukan diriku di salah satu sofa di  ruangan yang sama saat terakhir kali aku di datang. Sementara Yuri duduk di sofa di sebrang meja di hadapanku, aku memikirkan bagaimana aku baru berkenalan dengan Seohyun beberapa waktu lalu dan telah menjadi namjachingunya sekarang.

“Aku sudah mendengar tentangmu dari Seohyun” Yuri membuka percakapan.

“Ah, nde” Sahutku.

Aneh, padahal aku masih lebih tua daripada Yuri. Namun dibawah pandangannya saat ini, aku merasa seperti anak kecil yang tertangkap basah memecahkan jendela rumahnya.

“Kau mencintai Seohyun?” Tanya Yuri mengejutkanku.

“Nde?”

“Apa kau benar – benar mencintai Seohyun?” Tanya Yuri lagi.

Aku tidak tahu apa tujuan Yuri menanyakan hal ini pada pertemuan pertama kami tanpa adanya basa – basi dulu. Namun ia tampak sangat serius. Yang artinya, aku juga harus serius menjawab pertanyaannya itu dengan serius.

“Nde” Aku mengangguk, “Aku benar – benar mencintainya” Jawabku tegas.

Yuri tersenyum sinis, “Apakah kau benar – benar mencintainya hingga kau rela mengorbankan nyawamu?

Aku mengerjapkan mataku terkejut sekaligus bingung dengan pertanyaan Yuri. Apa sebenarnya tujuan yeoja ini menanyakan hal seperti itu padaku? Dan bagaimana ia menanyakan hal semacam itu dengan begitu lancar?

Namun yang harus aku pikirkan adalah jawaban dari pertanyaan itu. Apakah cintaku pada Seohyun sebesar itu? Begitu besar hingga aku rela mengorbankan nyawaku? Aku ingin menjawab ‘iya’, tapi apakah benar? Entahlah, aku terlalu takut untuk menjawab.

Aku ingat bagaimana saat aku belum mengenal Seohyun dan hanya dapat menatapnya dari jendela. Aku ingat jantungku yang berdegup menyenangkan setiap aku melihatnya walau dari jauh. Dan bagaimana bahagianya aku saat aku bisa bertemu langsung dengannya. Rasa bahagia disaat aku bersamanya dan menatap matanya. Kebahagian yang tidak dapat aku gambarkan saat aku menatap mentari dan bulan bersamanya. Ciuman pertama kami juga setiap moment yang kami lalui. Yah, waktu yang kami lalui memang belum lama. Walau begitu, aku sadar bahwa aku ingin bersama dan melindungi Seohyun selamanya.

Apakah aku rela mengorbankan nyawaku untuknya? Tentu saja. Untuk apa aku ragu? Aku mencintainya. Begitu mencintainya melebihi aku mencintai diriku sendiri. Aku akan terus mencintainya, terus melindunginya, karna Seohyun adalah yeojaku. Dan akan terus begitu, makhluk apapun ia, aku akan terus mencintai dan melindungi dirinya.

“Nde. Aku rela mengorbankan nyawaku untuknya” Jawabku sambil menatap lurus ke mataYuri untuk menyakinkannya bahwa aku bersungguh – sungguh, “Aku mencintainya dan akan terus melindunginya” Tambahku.

Yuri balas menatapku, “Memang seharusnya begitu” Ia menanggapi.

Terjadi keheningan untuk beberapa saat, hingga akhirnya Yuri bangkit berdiri, dan menyuruhku untuk menunggu. Yuri kembali dengan nampan dan cangkir. Ia lalu meletakkan cangkir berisi cairan yang kutebak adalah tes di atas meja di hadapanku.

“Jwiseonghamnida” Ucapnya, “Atas ketidak sopananku karna baru menyediakan minum sekarang”

“Gwanchanseumnida” Jawabku.

Yuri kembali duduk di sofanya, “Silakan diminum tehnya”

Aku mengangguk pelan lalu meraih cangkir itu. Namun aku tidak langsung meminum tehnya, melainkan menatap cairan itu untuk beberapa saat. Harum teh itu terasa begitu nikmat. Namun entah kenapa ada sesuatu dalam diriku yang membuatku enggan untuk meminum teh ini. Akan tetapi, akan tidak sopan apabila aku tidak meminumnya. Maka, akupun menyerap teh itu perlahan.

Ternyata bukan hanya harumnya saja yang terasa nikmat, namun rasanya juga sangat enak. Sangat enak hingga membuatku terus meminum teh ini hingga habis. Teh ini adalah teh terenak yang pernah aku minum. Hingga membuatku penasaran teh macam apa ini sebenarnya.

Aku meletakkan cangkir yang telah kosong itu kembali ke atas meja,

“Teh nya enak sekali” Komentarku.

“Jeongmalyo?”

“Nde” Aku mengangguk, “Sangat enak”

Teh itu menghangatkan tubuhku. Membuatku merasa begitu nyaman hingga mengantuk. Aku mengerjap – ngerjapkan mataku, namun rasa kantuk itu semakin menjadi – jadi. Dan rasa hangat itu berlahan – lahan menjadi semakin panas. Aku terbatuk saat merasakan leherku tercekik. Namun aku sadar bahwa tidak ada yang menyentuh leherku. Aku kembali terbatuk, dan mulai merasakan napasku sesak.

Di saat seperti itu, kantuk terus menyerangku dengan begitu hebat. Dan tanpa sadar mataku telah terpejam. Tubuhku yang entah bagaimana seakan kehabisan tenaga tidak mampu lagi menjaga diriku untuk tetap tegak dan akhirnya jatuh terjerembab ke depan. Kini aku telah tergeletak tidak berdaya di lantai rumah yang sedingin es.

Aku memaksakan mataku untuk terus terbuka, namun aku hanya dapat membuka mataku sedikit. Dengan keadaanku yang semakin sulit bernapas hingga tidak mampu bicara, kudapati Yuri berdiri di dekatku. Ia menatapku tanpa ekspresi, dan sesaat kemudian, seorang ahjumma yang familiar, dan akhirnya kuingat sebagai eomma dari Seohyun berdiri di samping Yuri sambil menyeringai.

Aku menatap eomma Seohyun yang juga menatapku dengan puas,

“Charanda” Ucapnya sebelum aku memejamkan mata dan kehilangan kesadaran.

-TBC-

Kependekan ya?? Hehehe..,mian. Soalnya aku ngerasa pas nya  kalau nge-potong di part itu, hehehehe.

Gomawo dah baca^^ Jangan lupa comment dan kalau suka di like ya!!!

23 responses to “My Silver Chap.11

  1. Pingback: My Silver Chap.14 | SM Town Fanfiction·

  2. Pingback: My Silver Chap.14 « TalkBlahBlahBlah·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s