December Sadness

December Sadness

Author : keyholic (@keyholic9193)

Cast : Lee Jinki  (onew)  Kwon Yeonhi

Length :  1Shot

Genre :Romance,Angst

Rate : PG +15

Credit poster from deviantArt

Terinspirasi dari lagu yang saya lupa judul sama penyanyinya *bletakk* lyriknya pun cma ambil berdasarkan pendengaran aja wakakak.Ada beberapa kata juga yang saya ambil dari puisi yg nemu di om gugel kkkk~

***

Snow falls to the ground
not making a sound
twirling and twisting
to land so lightly

snow dances across the sky
looking like angels that cry
because of pain and loss
that we feel

Desember telah tiba,beberapa menyambutnya dengan suka cita,sebagian biasa saja dan selebihnya menyambut dengan duka,seperti apa yang tengah kurasakan saat ini.Bukit ini,sebelumnya adalah sebuah bukit nan luas yang di penuhi rerumputan yang menghijau namun yang kulihat kini hanyalah sisa-sisa turunan salju yang membuat semuanya nampak putih.

Dari kejauhan mataku dapat menangkap sosok yang pernah berarti dalam hidup ku.Tubuh ringkihnya terbalut mantel bulu putih tulang.Ia jongkok di samping sebuah batu yang cukup besar,tepat dibawah pohon pinus .

Tak ada yang berubah dari dirinya.Tubuhnya yang kurus,matanya yang sipit,kulitnya yang seputih salju, semua masih tampak sama,persis saat pertama kali aku mengenalnya,hanya saja beberapa keriput mulai menghiasi di wajahnya tanda ia tak semuda dulu, saat masih duduk dibangku sekolah tinggi.

(FLASHBACK)

Alunan music yang tercipta dari hentakan tuts-tuts piano yang dihasilkan oleh tarian jemarinya,  menghasilkan nada yang begitu damai di pendengaran.Aku menyukainya,terasa seolah kedamaian menyelimutiku saat kuhayati tiap ritme alunan music itu.Aku selalu seperti ini,tiap selesai menggambar sketsa komik ku, aku selalu berdiri di balik pintu ini.Entah ini sudah keberapa kalinya aku secara sembunyi-sembunyi mendengarkan permainan pianonya,di tempat yang bisa dibilang sangat jarang di kunjungi siswa di sekolah.Mengapa ia harus sembunyi-sembunyi? Sementara permainannya bak seorang maestro ternama?

Namanya Lee Jinki tapi semua sering memanggilnya dengan sebutan Onew.Aku tak tahu mengapa ia tak menggunakan nama aslinya saja,padahal itu menurutku bukanlah nama yang memalukan.

Namja itu sekelas dengan ku, sejak tahun pertama aku masuk ke sekolah ini. Ia tepat duduk di depan bangku ku.Seorang bocah yang sangat pintar dalam bidang akademik,ramah pada semua orang,baik hati,dan tipe pemimpin kelas yang baik dan bertanggung jawab.Itulah penilaianku terhadap dirinya.Benar-benar manusia yang sempurna, walaupun sifat cerobohnya menimbulkan sedikit cacat pada semua pujian itu,tapi bagi ku kesempurnaannya yang lain sudah sangat cukup untuk menutupi ketidaksempurnannya yang satu itu.

Berawal dari sebuah kekaguman,hingga lama kelamaan rasa  itu berubah menjadi sebuah rasa  yang lebih padanya.Rasa yang membuatku selalu terbayang akan dia,mengingatnya,memikirkannya dan semuah hal tentang dia.Sayangnya, walau ada begitu banyak kesempatan lebih dekat dengan dia, tapi hingga tahun ke tiga diriku sekelas dengannya, rasanya terlalu susah untuk mengakrabkan diri.Gugup,itulah yang kurasakan  setiap ingin memulai percakapan dengannya hingga kadang kuputuskan untuk tak mengajaknya bicara sama sekali.Begitu juga saat ia sedang memulai percakapan dengan ku aku hanya bisa menjawabnya dengan singkat atau hanya memberikan sebuah senyuman kecil.Aku benar-benar seorang pengecut kan?

Di saat-saat yang menyenangkan seperti ini,tiba-tiba dua orang murid sedang berkejaran di tengah koridor tempat ku mengintip dia.Tanpa sengaja badanku tersenggol oleh mereka,hingga membuat ku yang berada dalam posisi sedang mengintip dari balik pintu,goyah dan terdorong hingga membuat pintu itu terbuka.Akhirnya aku sukses mencium lantai dengan sketsa-sketsa komikku yang bertebaran.

Aku bisa mendengar permainan piano yang indah tadi terhenti saat itu juga.Derap langkah kaki seolah berjalan mendekati posisiku.

Bayangkan betapa malunya aku saat ini.Semuanya akan ketahuan.

Otteokkhae?

“Agasshi,gwenchanayo?” Ucapnya menggoyang-goyangkan badan ku yang dalam posisi tengkurap ini.

Perlahan aku bangkit dengan menaggung segala malu ini di wajah ku.Rasanya aku ingin waktu terhenti lalu aku segera melarikan diri dari tempat ini,agar ia tak mengenaliku.Tapi,itu hanya sebuah imajinasi konyol semata.

“Yeonhi-sshi!”Tebaknya langsung mengenali wajah ku.

Walaupun aku sudah berusaha menyembunyikan wajah ku dibalik telapak tangan ku,tapi dia tetap bisa mengenaliku.Apa dia sejeli itu dalam mengenali seseorang?

***

Aku  terduduk di bangku yang tak jauh dari tempatku jatuh tadi.Padahal ini hanya luka goresan, tapi Jinki tetap memaksa untuk mengobatinya.Bangku ini tadinya agak dipenuhi tumpukan salju sisa semalam,tapi ia membersihkannya untuk ku.

“Jinki-sshi,kenapa kau menolong ku?” Pertanyaan bodoh nan tolol terucap dari mulut ku.

Kenapa aku menanyakan hal semacam itu? Apakah aku mengharapkan jawaban bahwa aku adalah orang yang khusus,karena tiba-tiba saja Jinki jadi begitu perhatian dan ingin mengobati ku?

“Ne?” Alisnya terlihat mengkerut tanda ia juga sepertinya merasa aneh dengan pertanyaan ku.

Sejurus kemudian ia tiba-tiba saja tertawa.

“Kau ini,tentu saja aku menolong mu.Memang aku orang yang sejahat apa, sampai hati tak menolong teman ku sendiri yang terluka di depan mata ku.” Ia menggeleng-gelengkan kepalanya dengan sedikit tawanya,lalu melanjutkan aktivitasnya lagi.

“Ok.Selesai.” ia mendongakkan kepalanya menatapku yang tengah duduk sambil tesenyum.

Senyuman itu..

Aku sangat suka melihatnya,seolah ia membagi sedikit kebahagiannya padaku dan itu membuat ku tak merasakan perih luka ku tadi.

Ku alihkan pandangan ku dengan wajah yang tengah memerah.Rasa gugup kembali menggerogotiku.

“Kau seorang komikus?”

“Mwo?” Jawabku heran.

Kemudian mata ku tertuju pada kertas yang di genggamnya,itu adalah sketsa komik ku.

Aku hanya mengangguk setelah paham maksudnya.

“Woah~ tak kusangka ternyata aku punya teman kelas seorang komikus.” Ucapnya tiba-tiba seolah begitu bangga terhadap ku.

Secercah rasa senang menghampiriku saat ia berucap demikian.

“anio,aku masih amatir.” Rendahku.

“Yang seperti ini dibilang amatir.Aku yakin suatu saat nanti kau akan jadi komikus hebat Kwon Yeonhi.” Ia menepuk pundakku memberikan sebuah semangat.

“Kau selalu berada di tempat ini setiap istirahat?” Tanyanya lagi.

“Ne,untuk mencari inspirasi.” Bohongku,padahal ada alasan utama ku di balik itu semua.

Bell tanda istirahat telah berakhir, menghentikan percakapan kami,dan karena itu aku merasa sangat bersyukur.Paling tidak ia belum menanyakan alasan ku kenapa bisa terjatuh hingga mengusik permainan pianonya.

***

Aku menyorotkan badan ku ke lantai sekolah.Hampir setenagh jam dari waktu istirahat kuhabiskan hanya untuk mencari liontin ku yang hilang.Itu memang salah ku sepenuhnya yang tak ingin memasang liontin itu di leher.Aku memang tak terlalu suka memakai perhiasan,jadinya liontin itu hanya ku letakkan di saku jas sekolah.Padahal ini liontin berharga pemberian eomma,tapi aku telah menghilangkannya seminggu yang lalu dan bodohnya aku baru mengingatnya tadi pagi.

Aigo~

Aku betul-betul ceroboh.

Disinilah aku menghilangkannya,di tempat di mana aku selalu mengintip Jinki yang berkutat dengan piano kuno yang terlupakan di sekolahan ini.Aku yakin betul,pasti kalung itu terjatuh saat aku sedang mengintipnya,karena tempat yang sering ku kunjungi hanyalah tempat ini.

Aku menggaruk kepala ku yang tak gatal karena saking frustasinya.

Eotteokkachi?

Kutolehkan kepala ku menghadap ruangan dimana Jinki biasa bermain bersama pianonya.

Kenapa ia tak muncul juga?

Aku semakin pusing dibuatnya.

“Mencari aku kah atau benda ini,Ms.stalker?” ucap sebuah suara dari arah sampingku.

Suara itu begitu tak asing di pendengaran ku.perlahan kudongakkan kepalaku ingin melihat siapakah sosok itu.

Dan..

Jinki-ssi!

Padahal kufikir ia tak akan datang ke tempat ini,karena sedari tadi aku di sini dan ia belum menampakkan wujudnya untuk bermain piano lagi,seperti biasa.

Dengan cepat aku segera berdiri sejajar dengannya

Mataku tiba-tiba tertuju pada benda yang tengah menggelantung di jemari-jemarinya.

“Ternyata memang benar,kau orangnya.” Ia menatapku dengan tatapan aneh.

Aku terkejut mendengar ucapannya itu,tapi aku tidak boleh ketahuan sampai di sini.

“Karena kecerobohan mu menjatuhkan barang ini,akhirnya aku bisa tahu siapa yang selama ini diam-diam mengintip ku.”

“Ne?Apa yang ka bicarakan,Jinki-ssi?” Ucapku pura-pura tak mengerti.

“Jadi,belum mau mengaku juga.” Ia berjalan mengitari ku.

“Baiklah akan ku jelaskan.”

“Sejak bermain piano di tempat ini,aku merasa bahwa ada seseorang yang selalu mengintaiku,tapi aku tak tahu siapa itu.Hingga seminggu yang lalu aku menemukan sebuah liontin  yang terjatuh tepat di depan pintu ruangan tempat aku sering bermain piano.Di dalamnya terdapat foto yeoja yang aku kenal betul wajahnya,dan tanda bertuliskan Kwon Yeonhi.” Ia kembali bergerak ke arah lain sambil melanjutkan penuturannya.

“Awalnya kufikir, mungkin itu kebetulan saja.Aku mulai menghubung-hubungkan semua peristiwa itu.Kau ingat saat kau terjatuh? Orang di senggol pun tak akan sampai jatuh tengkurap menembus pintu jika ia sedang tidak berada dekat dengan pintu dalam keadaan seperti orang mengintip. Dari situlah aku akhirnya yakin bahwa orang itu adalah kau, tapi tinggal tunggu waktu yang tepat untuk memergoki mu saja.Dan waktunya adalah sekarang.Aku sempat mendengar apa yang kau katakan tadi,kau bilang “kenapa ia tak muncul juga?” sambil menoleh ke arah tempat di mana hanya akulah penghuni yang selalu bermain piano di sana.Jadi masih mau menyangkal juga? Atau kau masih perlu bukti lain?”

Tamatlah riwayat ku.Berakhirlah semuanya.Aku tak akan pernah bisa melihatnya bermain piano lagi.Semuanya sudah ketahuan.

Tanpa menjawab pertanyaannya,segera kurampas liontin ku dan bergegas ingin meninggalkannya.Ini adalah cara terbaik,melarikan diri,dan setelahnya aku akan meminta eomma untuk memindahkan sekolah ku.

“Chakkaman!” Ia menahan ku.

“Apakah ini sifat asli mu huh?Melarikan diri dari masalah.” Ia menyindirku.

“anio,chogi..ada tugas Shin-Saem, yang belum ku kerjakan,aku harus buru-buru kembali ke kelas.” Alasan ku.

“Shin-saem tidak masuk hari ini.”

Bohongku ketahuan!

“Ahaaha,geurae.Maksud ku Yoon saem.” Bohongku lagi.

“Ia baru mengajar lusa nanti.”ia menaggapi kebohongan ku dengan santainya.

Mampuss!

Baru saja aku ingin mengeluarkan alasan lain, tanpa aba-aba ia langsung menyeret ku.

“aissh,kau ini terlalu banyak alasan.”

“Eodiga?” Tanya ku panic

Jangan-jangan ia mau menyeretku ke kelas dan mempermalukan ku dengan mengatakan bahwa ada seorang yeoja pabbo yang selalu mengintipnya bermain piano.

Omo!Sesange!

Tapi tunggu dulu,ada yang aneh.Ia tak menyeretku kembali ke kelas, tapi ke ruangan dimana ia selalu memainkan piano kuno itu.

“Anja!” ia mendudukkan ku di tempat terdekat dengan piano hitam nan usang itu.

“Tempat mu bukanlah di balik pintu,tapi di sini.Inilah tempat bagi orang yang menyukai permainan ku.Tapi karena hanya kau saja yang menyukainya,jadi nikmatilah sendiri.”  Ia tersenyum.

Setelah itu ia tak berbicara lagi dan langsung bermain piano.

“Bagaimana mungkin ia bisa mendapatkan fans lain,kalau ia menampilkan bakatnya di tempat tersembunyi begini.”Batin ku.

Tapi walaupun begitu,aku merasa beruntung dengan keadaan ku.Andai kutahu jika ketahuan bisa sampai sebahagia ini,dari dulu saja sudah kutampakkan diriku dihadapannya,bahwa aku adalah fans beratnya,yang rela mengahabiskan waktu istirahat hanya untuk melihatnya bermain piano.

Kali ini aku bisa menatap dengan jelas wajahnya yang begitu menghayati music yang sedang ia mainkan.

Ia terlihat makin tampan.Aku ingin meleleh rasanya.

***

Keakraban mulai terjalin sejak saat itu. Tak ada lagi rasa kecanggungan atupun penyakit gugup yang kerap menghampiriku kala berbicara dengannya.. Ia betul-betul bisa membuat suasana agar aku tak canggung dan merasa aneh setelah ketahuan bahwa aku selalu menguntitnya.

Aku juga tak tahu mengapa kami bisa menjadi akrab begini setelah kejadian itu.Hingga kami memasuki perguruan tinggi dia masih tetap seperti yang dulu,ramah terhadap siapa pun.Walau kami begitu dekat dari sebelumnya,tapi tak ada perkembangan yang lebih terhadap hubungan kami.Yah masih hanya sebatas sahabat, tak lebih dari itu.

Beberapa kabar sempat melintas di telingaku bahwa ia dekat dengan yoeja-yeoja di kampus,tapi kata Jinki mereka hanya teman,dan aku senang mendengarnya.

Tanpa terasa kelulusan sudah tergenggam di tangan kami sekarang.Tadi pagi adalah acara perayaannya.Dan seperti waktu sekolah dulu,lagi-lagi ia lulus dengan nilai terbaik.

“Yeonhi-ya,kau tak sibuk kan malam ini? Aku tunggu di pinggir sungai Han.Make up yang bagus.Arasseo!”

Seperti itulah bunyi pesannya beberapa menit yang lalu.Dan sekarang aku telah berada di pinggir Sungai Han.Tak tahu apa maksud ia mengirimiku pesan seperti itu,atau mungkin dia hanya ingin merayakan kelulusannya dengan sahabatnya,aku.

Salju tampak menyelimuti pinggiran sungai ini.Lampu taman yang meriah menandakan sebentar lagi natal akan segera tiba.

Getaran ponsel ku membuyarkan lamunanku.

“Jalan ke arah  kiri dari posisimu berada sekarang hingga kau menemukan lampu taman yang agak redup.Setelah itu tutup mata mu lalu melangkah sebanyak 10 langkah.”

Huh! Sebenarnya dia hendak melakukan apa? Ingin mengerjaiku kah?

Walau sedikit ragu tapi aku tetap mengikutinya.

Aku sudah tiba tepat pada lampu yang ia maksud.Tempat yang agak sunyi dengan sedikit penerangan.

Rasa curiga kian lebat menyelimutiku,tapi kuputuskan untuk mengacuhkannya.Perlahan kututup kedua kelopak mata ku dan mulai menghitung hingga sepuluh, bersamaan dengan langkahku.

…  Sembilan… Sepuluh..

Kubuka mataku perlahan.Samar-samar aku mulai dapat menagkap apa yang tengah ada di hadapan ku. Sebuah tempat yang hanya di terangi ribuan cahaya lilin.Dari kejauhan aku menagkap sesosok pria di hadapan sebuah piano hitam dengan tuxedo yang senada.Ia mulai memainkan musiknya menyanyikan sebuah lagu yang entah apa judulnya tapi terdengar begitu indah.

(Bayangin onew lagi mainin lagu Pabbo yang waktu di radio itu.Yang MVP pasti tau deh ^~,onew bikin merinding di situ)

Jinki-ya!

Aku bisa tahu bahwa itu adalah dirinya,dari suara emasnya.Kali ini dia bermain tak kalah hebat dari biasanya,sampai aku tak tahu harus bagaimana mendeskripsikannya.

Perlahan kaki ku  melangkah mendekati sosoknya.Wajah putihnya semakin terlihat indah ditempah terpaan cahaya lilin berbaur cahaya sang primadona malam.Aku merinding sendiri menyaksikan permainannya dengan kolaborasi suaranya yang merdu.Dia semakin hebat saja.

Ia menoleh sejenak pada ku lalu tersenyum bak malaikat yang turun di malam natal.

Ku tutup mata ku menikmati setiap alunan musiknya.Aku terbuai hingga  tak sadar ternyata ia telah berhenti  bermain.

Saat kubuka kembali mata ku,kudapati dirinya tengah berdiri di hadapan ku.

“Permainan mu makin bagus!” Seru ku memujinya dengan menaikkan ke dua jempol ku.

Ia hanya tersenyum seperti biasa kala sedang di puji.

“Yeonhi-ya.” Panggilnya.

“Ne.” sahut ku agak penasaran dengan maksudnya memanggil nama ku.

“apa kau masih seorang fans ku?”

“uh?Ne,tentu saja.Dari dulu aku adalah fans berat seorang Lee Jinki.” Ucapku menggodanya.

“Wae? Kau mau memberikan aku hadiah,karena telah menjadi fans mu begitu lama?” aku masih terkekeh dengan gurauan ku sendiri.

Tiba-tiba saja kedua tangannya mengenggam jemariku,memberikan ku sedikit seperti sebuah sengatan listrik kecil.Tawa ku berangsur menghilangan berubah menjadi kebingungan.

“Yeonhi-ya.” Ia menatap ku begitu dalam.

Jantungku berpacu kian cepat tak terkendali..

Ada apa ini? Kenapa mendadak ia berabah jadi seperti ini?

“Maaf telah membuat mu sekian lama menunggu saat ini.Kuharap ini sama sekali belum terlambat untuk di ucapkan.”Ucapnya dengan suaranya yang begitu khas.

Ia menarik nafas sejenak lalu melanjutkan kata-katanya lagi.

“Jadilah fans ku untuk selamanya.Hanya kepada ku saja,hanya menatapku,dan hanya untuk ku seorang.Aku ingin kau menjadi fans ku, yang menemani perjalanan hidup ku selanjutnya,yang selalu berada di sisi ku.”

Apa maksud dari ucapannya itu? Aku mulai merasakan kebingungan yang menjadi-jadi.

“Kwon Yeonhi,would you be my wife?”

Dan kata-kata yang ia lontarkan itu menjawab sudah semua pertanyaan yang mengelilingi otak ku.

Ia kini berlutut dihadapan ku dengan salah satu lututnya menopang tubuhnya.Tangannya menyodorkan sebuah kotak yang berisikan cincin berlian di dalamnya.

Aku benar-benar tak percaya ini.Ini seperti mimpi.

Tak kusangka pada akhirnya ia menyukaiku juga bahkan sampai melamar ku.

Bisakah aku pingsan sekarang?

“Yeonhi-ya?” Ucapnya meminta jawaban ku.

Aku hanya tersenyum sambil mengangguk pelan,saking speechlessnya,dan seketika itu juga aku merasakan sebuah pelukan yang hangat darinya.

“Gomawo.Maafkan aku, baru mengatakannya sekarang.Kufikir kita akan tetap menjadi teman saja,tapi sepertinya ada yang berubah dari perasaan ku,seiring dengan berlalunya waktu.”

“Saranghaeyo” Bisiknya pelan.

Ia melepaskan pelukannya.Matanya menatap lurus ke wajahku.Semakin lama kulihat wajahnya semakin mendekat.

Aku cukup mengerti keadaan ini.Perlahan ku katupkan kedua mata ku dan bisa kurasakan dia mencium ku begitu pelan dan lembut.

Sebuah kado yang indah di winter desember ini.

Ia mulai mengajakku berdansa.Menggerakkan kaki ku,kedepan,kebelakang dan kesamping.

Salju yang mendadak turun, ditambah sebuah alunan music yang entah dari mana asalnya semakin membuat malam ini terasa sangat romantic.

Kami bergerak mengikuti alunan music.

Tak kusangka setelah penantian ku yang begitu lama,yang hanya bisa selalu menatapnya secara sembunyi-sembunyi akhirnya terbalaskan dengan ini semua.Rasa haru seolah menyelimutiku saat ini.Pengorbanan ku,perjuangan ku semuanya memang menghasilkan sesautu yang indah.

(END FLASHBACK)

***

Namun pada akhirnya kebahagiaan itu harus berakhir dengan begitu cepat.Tuhan sepertinya tak ingin membiarkan ku berlama-lama larut dalam kebahagiaan.

Sekarang semuanya tinggalah sebuah kenangan.Aku kembali hanya bisa menatapnya secara daim-diam dari kejauhan.

Rasanya aku begitu merindukannya.Aku ingin memeluknya, tapi itu tak akan bisa,tak akan pernah bisa.

Kami,aku dan dia masing-masing telah menjalani kehidupan yang berbeda.Jurang pemisah di antara kami terlalu lebar sehingga tak mungkin dapat bersama.

“Yeonhi-ya,Mianhae, kali ini aku datang agak telat.” Jinki menatap nisan yang bertuliskan nama ku dengan tatapan nanar.

“Dua tahun sudah berlalu,dan aku masih belum bisa merelakan mu.”

Matanya nampak mulai berkaca-kaca dan tak lama setelahnnya,tubuhnya bergetar,tanda ia sedang berusaha menahan tangisnya.

“Ini terlalu berat untuk ku.Aku tak sanggup,Yeonhi-ya.Jika waktu bisa terulang,aku ingin akulah yang ada di posisi mu.” Ia masih berucap dengan suara bergetar.

Hatiku sakit melihatnya mengeluarkan air mata seperti itu.Tak bisa kubayangkan betapa perihnya rasa sakit akan kehilangan diriku.

Mianhae,Jinki-ya…

Kututup mulutku dengan telapak tangan ku berusaha untuk menahan tangis ku.

Karena kecorobohan ku mengemudi,akhirnya nyawaku melayang tepat dimana 2nd anniversary pernikahan kami.Andai kecelakaan tragis itu tak merenggut nyawa ku,mungkin kami bisa bahagia layaknya keluarga lainnya.

Perlahan aku berjalan mendekatinya.Aku jongkok tepat di hadapannya,mensejajarkan diriku dengannya.

“Ini adalah kesempatan terakhirku dapat menemui mu.Jaga dirimu dengan baik,dan segera lanjutkan kembali hidup mu,Jinki-ya.”

Ku kecup keningnya cukup lama.

“Hidup mu masih panjang jinki-ya,kau berhak mendapatkan kebahagiaan untuk kehidupan mu kelak.”

Aku menyentuh tangannya,walau sebenarnya tangan kami sama sekali tak bersentuhan.Aku bangkit dari posisi ku.waktunya sudah tiba.Telat sedikit maka aku  akan terluntang-lantung di ke dua alam ini.

Jinki-ya,aku pergi..

“Yeonhi-ya! kau kah itu?Apa kau ada di sini sekarang?” langkahku terhenti saat mendengarnya .

Ternyata dia menyadari keberadaan ku.

Aku menoleh padanya,menatap wajahnya untuk terakhir kali dan tersenyum untuk yang terakhir kalinya juga.

“Saranghaeyo.” Setelah itu aku kembali berjalan sambil mengahpus setiap kucuran deras air mata ku.

Kudengar dari arah belakang ia terus menyebut nama ku,tapi aku sudah tak punya waktu lagi.Waktu ku telah habis.Aku sudah terlalu lama berleha-leha di tempat ini,menunggu keajaiban jika saja aku dapat di hidupkan kembali,tapi itu tak akan mungkin.Aku harus benar-benar mengikhlaskan semuanya.Ini memang sudah takdir yang di tetapkan sang pencipta untuk ku.

Jinki-ya,kuharap kau bisa kembali bahagia menjalani hidup mu.Tetaplah bahagia seperti yang dulu.Bahagia demi ku,dan bahagia demi orang-orang yang menyayangimu.Aku yakin di luar sana Tuhan telah menyiapkan pasangan yang jauh lebih baik dari ku dan tepat untuk mu.

In December I found you

But in December  I lose you

Oh December sadness..                        

Lonely feeling in my heart

I don’t want to leave you alone

But my time is over now..

 Annyeonghi gyeseyo,Jinki-ya.Nan galkhaeyo…

END

Special for Uri Chingu & Uri oppa.Igeoneun saengil seonmulieyo *hadiah ultah* buat Kwon yeonhi & lee Jinki.Saengil chukkhaeyo,Jinki oppa~  *walopun telat* yeonhi halmeoni *plak*.Mian kalo ffnya harus angst wkwkwkwk v^^v

Maaf bila ada salah kata,tulisan yang aneh lebay bin alay.Nulis ini pas lagi hujan jadinya ngegalau habis-habisan hahahah

Komen.. komen.. *treak pake toa ala penjual obat keliling* 😀 J

81 responses to “December Sadness

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s