Seasons of The Lucifer [CHAPTER 4]

Seasons of The Lucifer

Title:Seasons of The Lucifer

Author: LucifeRain / Aya

Genre: AU, romantic – comedy, Friendship

Leght: Chaptered

Ratting: PG-15

Main Cast:

Cho Minhye a.k.a Cho Minhyun

Kim Kibum a.k.a Key

Choi Minho a.k.a Minho

Lee Taemin a.k.a Taemin

Kim Jonghyun a.k.a Jonghyun

Lee Jinki a.k.a Onew

 

Summary: Minhye menyamar sebagai namja bernama Minhyun, ia masuk ke sekolah Khusus namja. disana ia ditempatkan di lantai 5 yang merupakan dorm SHINee, terdiri dari 5 namja yang mempunyai karakter berbeda dan rahasia berbeda pula.

Mereka seperti LUCIFER mempunyai 2 sisi malaikat dan iblis. Gejolak batin, perasaan yang dasarnya tidak diketahui, menjadi momok bagi Lucifer. Namun Lucifer adalah keberanian, Akankah cahaya keberanian itu datang dan bersinar di setiap musim?

SOL [teaser], SOL [chapter 1], SOL [chapter 2], SOL [Chapter 3] and others

______________

 

Lucifer

Seseorang berwajah malaikat namun seperti iblis

Hati yang egois

Cinta yang tulus

Kesucian yang keliru

Mengancam

Berulang kali salah seperti malaikat dan iblis

Mempunyai perasaan yang tidak jelas

Lucifer adalah keberanian

—————————–

 

 

“tapi dia kan Yeoja” kilah Jonghyun

“ justru karena dia yeoja aku mengajaknya ke dorm. Ini sudah larut sekali, dan kalian tahu kan resiko seorang gadis yang berkeliaran malam hari” papar Onew dan disusul dengan anggukan yang lain

“nde, tapi bagaimana dengan Key Hyung?! Ini masalah baginya”

“cepat atau lambat Key harus belajar, dia tidak mungkin bersembunyi terus”

 

~*~

 

Sepanjang perjalanan menuju Dorm, Minhyun tak melapaskan genggamanya dari tangan Jinhya. membuat 3 monyet itu mesem mesem karena iri.

 

Minhyun semakin mengeratkan genggamanya ketika lift terbuka. Ia tertunduk,  begitu takut jika matanya menangkap sosok orang yang sudah menceloskan hatinya, ia masih belum siap bertemu dengan orang itu lagi…

 

“Min-ah, gwaenchana?” Jinhya sedikit berbisik kearah Minhyun dan hanya di balas dengan gelengan pelan.

Tubuh Minyun menegang samar ketika ia menangkap derap langkah kaki yang iramanya berlawanan dengan milik mereka.

“Minho”

Minhyun membeku, tanpa ia sadari telapak tanganya mendingin. Menyalurkan isyarat ketakutan pada seseorang yang menggenggam tangan itu. Choi Jinhya. Gadis itu membaca situasi, ia mengedarkan pandang dan berhenti pada tempat Choi Minho berdiri.

 

Namja bertubuh jangkung itu berjalan melewati mereka, membuat Onew, Jonghyun dan Taemin menatap bingung. Dengan santai ia duduk di sofa ruang tamu, sedikit membuka tekukan lututnya dan meletakan tangan dengan sepuluh jari bertautan di tengah paha yang ber-straddling.

 

Minho melepaskan frozen smirknya dengan asal, namun seasal apapun seringaian itu terbang, pada akhirnya akan mendarat di satu lokasi walau paling tersembunyi sekalipun. Tanpa melihat, Minhyun tahu Choi Minho yang menjadi cambuk pertentangan antara logika dan perasaanya, kini tengah menatap tajam kearahnya.

 

“Ternyata ada Yeoja di sini” ucap Minhyo pelan namun mampu memporak porandakan pertahanan yang Minhyun bangun dengan sisa sisa Ketegaranya.

 

Minhyun merasa sekujur tubuhnya melunglai, tulang tulangnya serasa lenyap begitu saja. Jika tak ada Jinhya mungkin ia sudah jatuh. Sahabatnya itu seperti kabut yang mengaburkan benteng pertahanan yang telah runtuh, walau kabut itu dihapus dengan mudahnya.

Wajah Minhyun pucat pasi, ia tahu cepat atau lambat Minho pasti membongkar semua penyamaranya.

 

“apa maksudmu?”

 

Minhyun tahu, jawaban dari pertanyaan Jonghyun itu akan meremukkan topeng yang telah melekat bahkan sampai mendanging dalam dirinya karena ia sendiri begitu takut menanggalkan topeng itu. Minhyun tersenyum getir, sinar matanya meredup.

 

Mungkin dirinya telah banyak menumpuk kebohongan, hingga ruang yang menyimpan semua kebohongan itu diambang batas paling maksimal. Kini ruang itu terasa amat sesak, tinggal menunggu waktu kapan ruang itu meledak dan segala kebohongan menyeruak bebas. Mungkin…. Kini Waktunya telah tiba.

 

“kalian semua…”

“hyung!” ucapan Minho terpotong oleh seruan Taemin. Minho mendelik kesal, tapi Taemin bersikap seolah olah tidak tahu.

 

“yang Hyung maksud yeoja itu pasti Choi Jinhya kan?. Ne,  Kami mengajaknya kesini karena asrama SSedna sudah di tutup. Bahaya kan kalau seorang gadis pulang ke Incheon selarut ini” jelasnya dengan raut wajah tidak bersalah.

 

Jinhya yang tadinya hanya ‘menonton’ kini berniat mengambil peran “ah, Mianhamnida aku lupa memperkenalkan diri. Joneun Choi Jinhya imnida. Bangapseumnida.” Jinhya membungkukan tubuhnya sejenak “tak apakah kalau aku menginap di sini?”

 

Minho terdiam, meskipun ekspresinya datar namun tatapanya mengartikan bahwa ia sedang berfikir, setidaknya itulah yang ditangakap oleh Jonghyun dan Onew. “baiklah tapi hanya sampai jam 5 pagi” ucapnya setelah bangkit berdiri, kemudian ia melangkahkan kakinya  ke arah lorong depan ruang tamu

 

“kau tidak bisa melindungi key terus! Cepat atau lambat ia harus melenyapkan trauma itu!” seru Onew sebelum Minho masuk ke kamarnya. Ia sedikit geram.

 

 

“Mereka tidak tahu” lirih Minho dalam frekuensi yang hanya dapat terdengar olehnya. Ia menengadahan kepalanya, menatap ke arah tingkat dua yang di tempati Key. Karena tingkat itu hanya dibatasi pagas sebatas pinggang –yang serupa dengan kamar taeMINhyun, ia bisa melihat bahwa sahabatnya itu sudah tidur.

 

“mereka tidak tahu” Minho mendesiskan kalimat itu lagi, kemudian ia melangkah menuju tempat tidur lalu membaringkan tubuh disana “mereka tidak tahu kekacauan Key yang sebenarnya” guman Minho sebelum ia benar benar memejamkan matanya

~*~*~*~

 

Minhyun menegakkan punggungnya, pagi masih jauh namun raganya memilih untuk bangun. Ia merasa haus saat itu juga, melihat Jinhya yang sudah tertidur pulas dia menyibakkan selimut dengan sangat pelan lalu berjalan ke bawah dengan langkah seringan mungkin.

Sesampainya di luar, Minhyun langsung berjalan menuju dapur. Melepas dahaga disana, terkadang ia memang sering terbangun untuk minum. Saat Minhyun meletakkan gelasnya yang kosong, ia sadar akan sesuatu. Minhyun pun menoleh ke belakang, tak mendapati siapa siapa. KOSONG?–

 

“dimana Taemin?” gumanya tanpa sadar. Bukanya tadi Taemin yang ingin tidur di sofa saja, sedangkan Jinhya tidur di kamarnya.

 

Ia pun Mencoba mengabaikan perginya Taemin dengan segala kemungkinan positif. Minhyun berjalan keluar dapur berniat untuk kembali ke kamar, namun langkahnya dihadang. Refleks ia mendongak.

 

“M- Min- Minho-ssi?” Minhyun menegang saat itu juga.

Minho menatap Minhyun lekat, sinar matanya menerpa tepat di manik mata Minhyun. Membuat ia terkurung meski tak ada seutas jeruji pun.

 

“kau berani ternyata, lihat saja siapa yang akan hancur” tandas Minho. Ia menajamkan tatapan dinginya dengan sungingan senyum yang hanya tertarik di salah satu sudut bibir. Gaze snowstrom yang membuatnya beku.

 

Sepeninggalan Minho, Minhyun memejamkan matanya kuat kuat. Ia menggigit bibir menahan tangis, namun gagal bulir bulir air itu tetap menemukan celah di mata elipsnya. Air itu jatuh seiring dengan tubuhnya yang berguncang hebat.

“kenapa takdir memilihku?”

 

Satu kalimat sederhana namun seperti tumbuhan liar yang menjalari relung kalbunya, memperkokoh keluhan dari semua masalah yang menimpanya. Ia merasa dirinya tersesat ditengah tengah badai salju, sendirian, tak punya tempat untuk bernaung.

“apa salahku?”

 

~*~*~*~

Taemin melangkah keluar dari lift lalu menyusuri sebuah lorong remang yang merupakan jalan rahasia untuk keluar dari SShall. Langkahnya terhenti ketika ia berhadapan dengan pintu besi tertutup yang merupakan pintu keluar rahasia.

 

Tatapan Taemin mengarah pada layar kecil yang terpasang di sebelah pintu besi yang di cat senada dengan warna tembok. Ia berjalan mendekat ke arah layar persegi tadi dan menempelkan ibu jarinya disana. Tak lama kemudian muncul rentetan kalimat yang menyatakan bahwa sidik jarinya diterima. Pintu itu terbuka secara otomatis –seperti lift.

 

Namun Taemin tak langsung keluar, mau naik apa dia malam malam. Mana aja bajaj atau bemo yang lewat, apalagi taxi? Bisa bisa nanti sopirnya berubah jadi perempuan berambut sangat panjang. Bukanya takut, tapi kalau tiba tiba angin kencang terus rambutnya nyungsep ke mata Taemin, bagaimana? Mending kalo Cuma ketombe, lha kalo ada kutunya? Hiiiii…..

 

Taemin menghadapkan badanya ke sebelah kanan lalu melangkah ke sebuah ruang yang berada tak jauh dari sana. Pintu ruang itu terbuka, ruangan yang terkesan rapi namun berhawa dingin, seperti jarang dikunjungi atau ruang ini merupakan ruang rahasia.

 

Taemin berjalan masuk, ruangan itu adalah tempat penyimpanan alat transportasi Pribadi anggota SHINee! Padahal ada peraturan bahwa seluruh murid SShall dilarang membawa kendaraan, tapi mereka…. Istimewa.

 

Mobil Sport berwarna Silver milik Minho terparkir rapi, di sebelahnya mobil Audi Putih milik Onew terlihat elegant. Merapat ke dinding, bertengger motor Hardboiler hitam legam dengan aura arogant yang merupakan milik Jonghyun.

Taemin menghampiri Mobil Jeepnya, sesaat ia terpana memandang Mobil Bugatti veyron berwarna hitam dengan Corak merah di bawah pintu dan kapnya. Mobil milik Key yang masuk dalam jajaran 20 mobil termahal di dunia itu selalu terlihat mempesona meski terkesan Misterius –seperti pemiliknya.

 

Sejatinya SHINee bukan orang sembarangan, mereka berada namun terbuang.

 

Ponsel Taemin berdering ketika ia hendak menyalakan mobilnya. Tanpa menatap layar ponsel ia langsung menyentuh Iphone-nya dan mendekatkan  ke telinga.

“Oppa kenapa lama sekali” rengek seorang gadis di seberang sana

Taemin tersenyum simpul “Sorry Honey, I’m going there now”

“Palliwa Oppa, aku sudah tidak sabar” rengek gadis itu dengan suara manja.

“wait me, ok!”

 

Taemin melempar Iphone-nya ke sebelah jok, ia menatap dirinya di pantulan kaca spion samping kemudi lalu tertawa sendiri, entah apa yang lucu ia juga sebenarnya tidak tahu ._.

“wanita itu memanggilku Oppa?” Taemin mengguman sambil menaikkan sebelah alisnya.

“seharusnya dia sadar, dia 15 tahun lebih tua dariku. Yeoja Pabbo” taemin menarik salah satu sudut bibirnya, menirukan senyum miring meremehkan milik Minho. See! Dia juga bisa seperti es batu -___-

“apakah aku terlihat tua?” Taemin memanyunkan bibirnya lalu memperhatikan kerutan di sekitar matanya, entah apa hubungan kerutan mata dan memanyunkan bibir diapun tidak tahu, yang ia tahu wajahnya tidak terlihat seperti kakek kakek.

“aniyo. Aku namja tertampan sejagat rayap dan dunia mayat” ujarnya percaya diri lalu mobil Jeep itu pun melaju membelah lalu lintas ibu kota Seoul.

 

~*~*~*~

 

Taemin menghentikan mobilnya di area parkir sebuah gedung yang terlihat Glamour. Ia berjalan beberapa langkah lalu memasuki lift. Di gedung ini lah tempatnya bekerja, dari luar tampak biasa saja namun di dalamnya berbeda 180 derajat. Terkadang ia merasa gedung ini cocok dianalogikan dengan dirinya.

 

Di tingkat teratas adalah kasino tempat perjudian, lantai tengah merupakan diskotik megah dan di bawahnya adalah hotel berbintang. Tentu tak sembarang orang yang memasuki tinggkat tengah apalahi tinggkat teratas.

 

“annyeong Taeminnie” seseorang memeluk Taemin dari belakang tepat ketika Teaemin memasuki diskotik mewah tempatnya bekerja. Gadis yang lain lagi.

Taemin berbalik, ia merengkuh pipi gadis itu dengan telapak tanganya lalu mengecup singkat bibir gadis itu. “nado annyeong Sweety, You Look so sexy” goda Taemin di sertai seringai lembut. Siapa yang tak meleleh di terkam hangatnya sorot mata Taemin?

 

“aku ke ruang ganti dulu ya” setelah mengucapkan itu Taemin pergi ke ruang ganti. Ia membuka loker panjang yang diperuntukan untuk para pegawai diskotik.

Ia mengganti celananya dengan jeans agak kebesaran yang melorot sebatas pinggang dan mengganti Pullovernya dengan kemeja putih yang bagian lenganya disising sing asal sebatas siku dengan dua kancing teratas terbuka.

 

Taemin menatap pantulan dirinya di cermin berukuran besar. Rambutnya diubah model menjadi Shaggy setiap bekerja dan itu semakin menguatkan Image bad boy-nya. Terkadang ia berfikir, ini Gila! Di dorm ia punya baju yang waras dan imagenya adalah cerewet –ia menyukai itu.

Taemin berdecak, ia lalu memasang nametag di dada kiri. Di sini kostum pelayan bebas asal mengenakan nametag. Jang Taemin, itulah yang tertera disana.

~*~*~*~

 

Taemin mengedarkan pandanganya ke sekeliling, orang ‘bercinta’ bertebaran dimana mana. merasa terpanggil ia menghampiri kumpulan Yeoja di bagian sudut.

“Oppa!”

Taemin pun langsung diserbu (?) kumpulan Yeoja yang terlihat seperti belut ganas itu. ‘dasar tante tante” umpat Taemin dalam hati.

ia tahu pasti yeoja disekitarnya adalah yeoja yang ditinggal suaminya atau yang belum nikah meski sudah tua.

“chagi, aku mau tambah vodka” seru seorang yeoja, Taemin beranjak lalu berjalan ke arah bar dan menyediakan Vodka di atas sebuah nampan.

Setelahnya ia kembali duduk di sofa tempat gerombolan belut kepanasan tadi. Mereka pun bercipika cipiki ria, tak jarang para wanita itu menjawili (?) Taemin seperti mencium dahinya, mengelus pipinya, melumat bibirnya, merangkul lehernya, menyentuh dadanya, meraba absnya dan….. ANNIYO! NO! hanya boleh sampai situ saja, tidak boleh kebawahnya lagi, area itu masih bersih (?) jika ada yang berani pasti Taemin langsung menendangnya ke kebun binatang, setidaknya penghuni disana lebih seksi alias tak memakai baju muaahahhaha -___-

 

Ia pun harus menahan emosinya begitu di suguhi uang bernominal dari para wanita nelangsa itu. ia tidak munafik, ia memerlukan uang itu. bukan untuknya, melainkan untuk satu satunya orang paling berharga dalam hidupnya.

 

gemerlap Lampu disco menyinari ruang samar dengan kilat warna yang berganti seirama sesuai derap music DJ. Di atas lantai bundar yang tingkatnya lebih tinggi itu terlihat beberapa Yeoja berpakaian minimalis sedang menari memamerkan tubuhnya, di tambah lagi namja yang beratraksi sebagai penari Strippis membuat lantai itu semakin ramai.

 

Di tengah alunan music yang mampu memekakkan telinga, seorang yeoja terlihat tidur dengan pulasnya. Taemin menatap heran ketika sadar bahwa pakaian yeoja itu waras –tidak kekurangan bahan seperti yeoja di sekitarnya. Ia berpenampilan sangat biasa.

 

Taemin beranjak dari duduknya, saat ia melangkahkan kaki seseorang menahan pergelangan tanganya.

“kau mau kemana?” Taemin menoleh, mendapati wanita mabuk menggenggam tanganya erat.

“sebentar, ada yang memanggilku” jawab Taemin sekenanya.

“baiklah jangan lama lama”

 

Taemin menggangguk singkat lalu ia kembali merangkah kearah gadis yang berbaring di atas sofa. Taemin menautkan alis.

“apa dia dia di jebak disini? Ditinggal pria tak bertanggung jawab mungkin” terka Taemin.

“agasshi” Taemin mengguncang guncangkan tubuh gadis itu. tak ada jawaban.

“agasshi, ireonayo” tetap tak ada jawaban.

“ireona..” tak ada jawaban lagi.

Taemin mengumpat kesal, ia menarik nafas dalam dalam “AGASHI!!!…”

 

-BUGGGGHHHHH-

Majalah setebal 100 halaman sukses berciuman dengan jidat Taemin. Ia mengusap keningnya yang memerah, emosi naik ke ubun ubunya.

“siapa sih yang memproduksi majalah setebal itu?” bentak Taemin pada Yeoja yang tampangnya cengo setengah mampus.

NGINGG~ kenapa ia malah menyalahkan majalah itu. tak ada hubunganya. Yang patut disalahkan adalah Yeoja yang melemparnya.

“kenapa kau melemparku huh?” yeoja yang dibentak taemin diam membisul. Mungkin dia benar benar bisulan karna hanya duduk sehabis meringkuk tadi.

 

“errrggghhhh” yeoja itu bersendawa. Membuat Taemin bergidik ngeri lalu melayangkan tatapan jijik.

“YA! AGASSHI KAU JOROK SEKALI! Kau tahu, bersendawa itu sama saja dengan kentut. Kentut angin yang keluar dari bawah (?) dan sendawa angin yang keluar dari mulut. Itu artinya KAU Kentut Di depanku bodoh! Arra?” bentak Taemin.

Yeoja itu menatap Taemin linglung “aku tidak mengerti” ucapnya dengan wajah tanpa dosa

Taemin mengerang kesal, gadis ini sangat mengesalkan. Tampangnya yang mirip dengan tampang bodoh Minhyun itu membuatnya gemas, ia sudah berbicara panjang lebar tapi tanggapanya-??? See, siapa yang sebenarnya tidak waras huh?

 

Taemin terpekur sejenak. Heran, baru kali ini ia berbicara panjang lebar di sini. Biasanya dia hanya berbicara sekenanya, entah untuk menjaga image atau karena ia terlalu malas meladeni orang mabuk dan semacamnya. Apa yang membuatnya lepas kendali?

 

Huekkk…. Huekkkk….

Tiba tiba gadis itu mendadak ingin muntah, tangan kirinya memegang perut sedankan tangan kananya menutupi mulutnya. Taemin yng melihat hal itu hanya bisa tercengang, apa tampangnya begitu jelek sehingga gadis itu ingin muntah? Lalu sejurus kemudian Taemin menggeleng cepat ‘tidak aku sangat tampan’ teguhnya.

 

“Whisky itu tidak enak” keluh gadis itu ditengah eranganya. Taemin bernafas lega, sudah ia duga ia itu tampan -___-

 

“kau baru pertama merasakanya?” tanya Taemin saat ia mengambil posisi duduk di sebelah gadis tadi. Dirinya memandang meja yang berada di depan sofa yang mereka duduki. Hanya ada sebotol minuman dan gelas kaca, sepertinya gadis ini sendirian.

“ne, aku juga baru pertama kali kemari. Temanku kerja disini dan aku harus menunggunya karena aku ingin menginap di rumahnya. Tadinya ku kira rasa Whisky itu seperti sirup, tapi ternyata tidak enak. Perutku mual sekali hueeekkkk….” Jelas gadis itu panjang lebar.

 

Taemin menatap gadis di depanya, ada suatu rasa yang sulit diartikan ketika ia menemukan sikap terbuka yang ada pada gadis itu. kepolosan gadis itu membuatnya berbeda dari semua gadis yang berada di sekeliling Taemin. Sepertinya ia gadis yang menyenangkan.

 

“Naneun lee Taemin Imnida” kalimat itu meluncur tiba tiba seiring dengan tanganya yang terjulur ke arah gadis itu tanpa ia sadari. Tanpa Taemin sadari ia telah merobek sedikit celah dalam ruang rahasia yang ditutupnya selama ini. Siapa yang menabur maka ia pula yang akan menuai.

 

Gadis itu terdiam sejenak, ia melirik taemin dari atas sampai bawah secara kilat. “Shin Sungrin Imnida. Bangapseumnida” ia menyambut uluran tangan Taemin seraya tersenyum ramah. Taemin terpaku, gadis itu mempunyai senyum setengah lingkaran yang sempurna, di tambah lagi lesung pipit yang terhias di bawah kedua ujung senyumnya membuat senyum itu terasa menenagkan.

 

Taemin menatap sungrin dengan seksama. Rambutnya yang dikuncir kuda dan pakaianya terkesan berantakan. “neo Gwaenchana?” tanya Taemin.

“gwaenchana, hanya sedikit mual. Perutku terasa di aduk aduk dan mulutku pahit” keluh Sungrin, wajahnya memang terlihat sedikit pucat.

“sebaiknya kau istirahat saja, ayo ku antar kau ke tempat temanmu” tawar Taemin, ia pun berdiri.

 

Sungrin mencoba berdiri namun sejurus kemudian ia terduduk lagi, sambil memegangi perutnya ia mengerang kesakitan. Tulang tulang di kakinya seakan runtuh, tak menyisakan kesempatan untuk ia berdiri.

“sebenarnya aku belum makan sejak pagi” ujar Sungrin seraya tertunduk. perut kosong yang terasa mual itu membuatnya lemas seketika.

 

Taemin berjalan menuju bar lalu menuangkan air putih ke gelas kaca yang tersedia disana. Ia membawa gelas itu lalu menjulurkanya ke arah Sungrin “Minumlah dulu”

Setelah Sungrin meneguk habis minumnya, tiba tiba taemin berjongkok memunggunginya. Shungrin menautkan kening pertanda heran.

“naiklah aku akan mengantarmu ke tempat temanmu. Kau butuh istirahat”

Diam diam Sungrin mengagumi Taemin ketika ia berbicara. Lantunan suara yang mengalir terasa damai dan intonasinya yang lembut seperti sinar mentari yang ditunggu tunggu setelah musim dingin berlalu. Membawa kehangatan dalam suasana awal yang kaku. Taemin memudarkan kecanggungan dalam dirinya ketika berada dalam ‘dunia baru’ yang dihadapinya sekarang.

 

Sungrin menempelkan tubuhnya di punggung Taemin, ia memeluk erat leher namja itu. Tak berjarak, itulah posisi mereka serang. Taemin bangkit berdiri lalu berjalan perlahan, irama langkahnya memberitahu bahwa ia sangat menjanga gadis yang sedang menyandarkan kepala di pundaknya.

 

Taemin sendiri tidak tahu kenapa ia bisa menanggalkan ‘jubahnya’ di hadapan gadis itu. secara lepas ia menerbangkan image yang tak pernah ditunjukkan di tempat terkutuk itu. yang ia tahu, paras Sungrin terkesan damai untuk meredakan kepak rahasia yang camuh. Ia merasa seperti daun di musim semi yang lahir kembali sehabis terjangan badai musim semalam.

 

All this time, I can’t believe I couldn’t see
Kept in the dark but you were there in front of me
I’ve been sleeping a thousand years it seems
Got to open my eyes to everything

 

Lantunan musik terdengar dari saku celana Taemin. Dalam lapisan kain terlihat benda persegi yang lampunya berkedip kedip disana. Taemin merogoh sakunya, ia menegakkan punggung yang agak membungkuk lalu menempelkan Iphone-nya ke telinga.

“yeoboseyo”

“………….”

“wae? Itu semua demi kebaikanmu”

“…………….”

“ne, tunggu saja. Sebentar lagi akan ke sana.”

 

Taemin mematikan telepon, ia lalu menatap jam digital di layar ponselnya. Sudah jam 4 lewat, pantas saja ‘ia’ minta ditemani, biasanya Taemin akan kesana dan pulang sekitar jam lima. Tentu saja ketika para Hyungnya masih tenggelam dalam ninabobo dengan ngoroknya sendiri.

 

Tiba tiba Taemin merasa seperti ada yang aneh, seperti ada yang kurang. Taemin atap ke langit langit memikan sesuatu. Ia merasa lebih ringgan dari sebelumnya, tapi kenapa?

“YA! Dasar namja butek!”

Taemin menggeleng cepat. tidak… tidak… kalaupun ai butek, ia tak kan merasa ringkan. Malah sebaliknya, keberatan karna kepenuhan daki -__-

“YA! Apa kau tak sadar ada yang jatuh”

Taemin menggangguk cepat. itu dia, seperti ada yang jatuh. Tapi bukanya tadi dia tak membawa nampan berisikan gelas.

“YAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!!!!!!”

Taemin mendecak kesal, siapa sih gadis yang teriak teriak seenak jidatnya, mengganggu pemikiranya saja. Taemin sontak berbalik ke belakang dan mendapati sungrin tengkurap di lantai.

“YA! Kenapa kau terjun dari punggungku? Kau kira lantai itu kolam renang” omel Taemin sembari berkacak pinggang.

Sungrin mendelik kesal “kau yang melepasku tadi, Pabboya! Dasar nappeun namja bisulan” Umpat sungrin, kalau saja ini komik pasti hidung dan telinganya sudah keluar uap yang bisa buat rebusan ubi.

 

“Aigoo… Shin Sungrin neo Gwaenchana?” seorang gadis memekik dari kejauhan, dia berjalan ke arah Sungrin. Dari penampilanya terlihat bahwa dia merupakan salah satu pegawai.

“Gwaenchanayo, kenapa lama sekali?” keluh Sungrin pada gadis tadi.

Taemin hanya terdiam menatap gadis itu, ketika gadis itu memandangnya. Mata mereka beradu.

“noona….”

“kalian saling kenal?” Tanya Sungrin yang kini sudah berdiri di bantu gadis tadi.

“ne” Taemin menggangguk mantap, tentu saja dia kenal. Gadis itu kekasih semu untuknya…

 

~*~*~*~

 

Jinhya mematut dirinya di depan cermin, ia memutar badan untuk memastikan kerapian seragam yang ia kenakan. Kecemasan menjalar dalam perasaanya, ia takut karena telah mengabaikan perintah Minho. Ia disuruh kembali jam 5 pagi, tapi dia malah bangun jam 6 ketika semuanya sudah bangun.

 

Seketika itu Jinhya langsung menghambur keluar, ia takut Minhyun yang akan di salahkan karna keteledoranya. Tapi saat tadi ia berpapasan dengan Onew, namja itu bilang bahwa tidak akan terjadi apa apa, tapi Jinya tahu ada keraguan di balik senyumnya.

 

Tap… tap… tap…

 

derap langkah kaki Terdengar samar, Jinhya yang tadinya terpekur sontak menoleh ke arah daun pintu. mungkin itu Onew, karena tadi ia meminjam sikat WC di kamar Minhyun. Untung saja waktu itu Jinhya tidak sedang mandi, kalau tiba tiba kejadian ciuman dadakan Minhyun terulang bagaimana??!!!

 

Jinhya membuka pintu kamar, ia melirik ke arah kanan lebih tepatnya ke arah ruang tamu. ‘kosong’ tak ada siapa siapa, yang terdengar hanyalah kegaduhan heboh Taemin dan Mihyun. Sepertinya semua ada di ruang makan.

 

Jinhya menoleh ke arah kiri, ia menautkan alis kala mendapati pintu kaca yang menjadi sekat antara lorong dengan balkon kini terbuka lebar.

‘apakah itu Onew?’ terkanya.

Jinhya berjalan mendekat, ia berdiri di ambang pintu sambil menatap heran ke arah seorang namja yang sedang memunggunginya. Balkon di hadapanya Jinhya ini tergolong luas dan Namja itu berdiri di sudut sebelah kanan, tangan kanan namja itu menggenggam pagar pembatas dan tangan kirinya tenggelam di saku celana. Matanya terpejam.

 

matahari tak tampak di ufuk timur, selubung awan hitam yang terpendar di angkasa hanya menyisakan siluet tipis untuk menemani langit kelabu musim gugur. Deruan angin terdengar seperti iringan melody pilu dan mampu menusuk seluruh permukaan yang merasakanya. Tetesan air hujan menjadi pemecah kebisuan.

 

Jinhya merapatkan jas almamaternya tak kuasa membendung tarian hawa dingin yang menerpa keras tubuhnya. Hujan semakin mengganas, tapi namja tadi masih bertahan di posisinya.

“apa dia gila….” Desis Jinhya. Alisnya terpaut menatap namja yang bertahan dalam situasi dingin itu. ia tidak mengenakan jas ataupun Vest sekolah, yang dia pakai hanyalah kemeja putih yang bawahnya keluar dan dasi yang terpasang asal.

Rambut coklat pastanya melambai seirama dengan hembusan semilir angin, baru Jinhya sadari kalau di telinga kiri namja itu ada tindikan yang terletak di bawah daun telingga. Sebenarnya namja macam apa dia?

 

Jinhya melangkah ringan, irama hujan membuat derap langkahnya tenggelam. Jujur, Jinhya risih melihat namja itu. angin yang kencang membuat hujan jatuh ke arah balkon, bisa basah namja itu lama lama. Apakah ia tertidur?

Jinhya mengulurkan tanganya, ia menyentuh lengan namja bernama Kim Kibum itu –setidaknya nama itu yang ia baca dari nametag di kemeja namja tadi.

“uhmm…” Jinhya mengguman pelan, namun ia merasakan sesuatu yang ganjil. Ia merasa tubuh namja itu menegang.

 

“AAAAAAAAAAAKHHH!” Jinhya menjerit ketika namja itu menepis tanganya lalu mendorongnya sangat kasar. Ia tersungkur di lantai basah yang terkena air hujan.

Nafas Jinhya memburu, begitu pula dengan Key. Namja itu sama sekali tak menatap Jinhya, sorot matanya kosong tapi tersirat amukan liar dalam sinarnya.

 

“PERGI KAU, BASTARD! PERGI DARI HADAPANKU” hujat Key namun tak berpaling ke arah Jinhya. Ia seperti berteriak pada Hujan.

 

Jinhya benar benar takut, ia menatap Key tidak mengerti. Terlebih ketika Jinhya melihat keringat dingin yang membasahi wajah Key padahal udara sangat dingin, dan ia melihat tubuh namja itu bergetar? Apa yang sebenarnya terjadi?

“mian…”

 

“DIAM!!! PERGI KAU MAHLUK BIADAB! PERGI!” Key mengamuk, Ia melempar pot bunga yang bertengger di atas pagar pembatas. Jinhya pucat pasi, pot itu hampir menghantamnya. Ia bingung, apa yang sebenarnya terjadi.

Jinhya bergetar hebat, ia ketakutan. Masih dengan wajah yang memucat, ia bangkit berdiri. SEBENARNYA ORANG MACAM APA YANG ADA DI HADAPANYA INI?

 

“PERGI!!” Bentakan Key seakan membuat lutut Jinhya melemas, beruntung seseorang menopang lenganya sebelum ia ambruk.

Jinhya menoleh ke belakang, Minhyun menggenggam kedua lenganya dan dibelakangnya terlihat Jinki, Jonghyun, Taemin dan Minho menatap nanar.

 

“key” Onew dan Jonghyun langsung menghampiri Key yang terlihat meringkuk di sudut balkon sambil mengusap kasar lenganya yang tadi di sentuh Jinhya.

“JAUHKAN MAHLUK TERKUTUK ITU! BERANINYA DIA MENYENTUHKU! SHIT!”

 

Minhyun bingung melihat Key yang mengamuk, serupa dengan Jinhya ia tidak mengerti apa yang terjadi. Ia menatap Minho dan Taemin, butuh penjelasan.

“kau pembawa bencana” tuding Minho tajam, Minhyun hanya bisa menunduk ketika namja itu berlalu meninggalkan balkon. Kenapa ia pergi? Apakah ia tak peduli dengan kondisi temanya? Tanya Minhyun dalam hati.

 

“Key Hyung mengidap Venustraphobia”

Mihyun tersentak, ia mentap Taemin berharap apa yang dikatakanya hanya lelucon murahan. Tapi tak ada raut bercanda diwajah namja yang biasa merecokinya itu, ia tahu Taemin serius. Tapi, bukankah Venustraphobia itu alergi terhadap… perempuan?

 

Minhyun terancam, ia terisap kedalam lingkaran setan yang dikelilingi malaikat. Setan adalah Lucifer dan Lucifer berarti keberanian, akankah keberanian itu menemaninya melewati jeratan di setiap musim…

 

__TBC__

Maaf ya lama, soalnya lagi ULUM *nggak ada yg nanya. Tadinya unsur komedi mau diilangin, soalnya mau fokus. Tapi kenyablakan (?) aku tetep aja nyempil sana sini. Ya jadi aneh gini deh, Ngebosenin ya? Maaf…

Doakan saja kegilaanku di part selanjutnya kumat 0.o dan di part selanjutnya masalah siapa yang akan terbuka? Hihihi

 

Pengumuman cast:

SHIN SUNGRIN a.k.a Feninda herdi surya putri *panjang namanya *garuk garuk kelapa (?)

Cuhkkhae… selamat bergabung di LUCIFER FAMILY, Gomawo udah berpartisipasi~^^

Finally, author udah menyiapkan segerobak sandal jepit buat nimpukin author kalau yg berpartisipasi *ribet merasa dirinya menjadi korban nista aku. Hihihi lihat saja #minjemsenyumesbatuminho

Ohya, masih ada lagi kok tokoh yang dibutuhkan. Siapa ya tokoh baru yang akan muncul? Yang punya najep a.k.a nama jepang (?) siap siap ya hehe

 

READ: aku membuat kesalahan yg lumayan fatal di part 2, itu semua karna kecerobohanku *mian. Ada yang tau apa kesalahanku? Hayoooo~ yang tahu nanti boleh nanya apa aja, mau nanya kenapa key begini, kenapa taemin begitu, kenapa minhyun nyamar, kenapa Minho ganteng, kenapa author cantik *digaplak readers. Cm bwt 1 org.

 

cheers,

 

LucifeRain ( Aya )

Advertisements

98 responses to “Seasons of The Lucifer [CHAPTER 4]

  1. Gk papa author q suka ff yg ada komediny jd gk monoton critany ada rasa garemny gt dah,,,aaf ya thor klo komenny cuma se upil kuman gini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s