The Theater [Who I’m?]/[Joon Side]

Title                 : The Theater [Who I am?]/[Joon Side]

Genre              : Romance, Life.

Length             : Oneshot

Rate                 : General – Bimbingan Orangtua

Main Cast        :

  • Yang Seungho/MBLAQ
  • Jung Byunghee ak.a GO/MBLAQ
  • Lee Joon/MBLAQ
  • Park Sanghyun ak.a Cheondung/MBLAQ
  • Bang Cheolyong ak.a Mir/MBLAQ
  • Jung Han Kyu – Fictional

Cast                 :

  • And others ..

Support Cast   :

  • Lee Gikwang/BEAST (Cuman jadi cameo diepisode ini)

Soundtrack      : Find it by yourself!

Disclaimer       : Orizuru Naru illustration area only! No others author!

Summary         :

Lima lelaki, hidup dengan tanpa arah.

Dan satu orang perempuan.

Bahkan dengan latar belakang yang berbeda.

Mencari sudut kehidupan, atau yang dimaksudkan dengan hakikat hidup.

Tapi, ada satu yang membuat mereka menyatu.

Panggung Theater.

Tempat para pemimpi bermimpi untuk selamanya, juga tempat peraih mimpi untuk mengapainya.

Inilah sisi kehidupan. Tentang Mimpi.

Dan kenyataan hidup.

(*:::*)

 [KRUK!][KRUK!]

Lelaki itu memegang perutnya beberapa kali, dia berdesis, lalu menyikut adiknya yang sedang tidur pulas disampingnya. Sayangnya, lelaki itu tidak juga kunjung bangun. Pagi itu, langit masih ditutupi oleh bayang-bayang awan hitam, walaupun sedikit demi sedikit matahari mulai menampakkan wujudnya.

Dia membenarkan posisi, menjilati bibirnya yang terasa kering. Matanya melihat-lihat dengan memicing, memperhatikan orang sudah berlalu lalang pagi itu.

Ya, Samdong-ya! Ireonaa!”teriaknya, dengan sedikit menguncang tubuh adiknya yang bernama ‘Samdong’ itu.

“Ughh .. shireo, hyeong”ucap adiknya, membalikkan badan.

“Aish~Jinjja!”Joon mencibir, “Ppali!!Ireona! Neon baboya! Ottokhae kalau orang itu menemukan kita! Ppali Ireona! Ini sudah pagi!”Lelaki itu menarik tangan Samdong, membuat adiknya, jatuh dari kursi.

AIGOOOOOO!!APPHEOSO!!”teriak Samdong histeris, mengacak-ngacak rambut gondrongnya dengan kesal. “Hyeong neon Michesseo! Aku benar-benar mengantuk!”

“Tch, tidak usah membantah! Mereka masih ada disekitar sini. Kita harus menuju halte, dan pergi dari Seoul untuk kembali ke Sangpa”

“Arraseoyo!”katanya, mengangguk-angguk. Lalu bangkit dari posisi duduknya dilantai.

[KRUK~]

Lelaki itu kembali merasakan perutnya bergetar, lalu dia melihat kea rah Samdong yang menatapnya dengan tatapan tidak bisa di artikan. Melihat itu, dia malah melototi adiknya itu.

hyeong, kau lapar?”tanyanya.

“Ani. Sudah, Ppali!kita harus segera pergi!”

“Hyeong”panggil adiknya lagi, “Bagaimana kalau kita makan dulu?aku tahu, bagaimana caranya kita makan gratis”

Jinjja?

Tak lama dari itu, mereka berdua sudah berada diseberang minimarket yang buka 24 Hours. Samdong melihat keadaan, lalu dia mendongak melihat kakaknya yang meringis menahan perih di perutnya.

“Kau yakin?aku rasa kita tidak akan berhasil”tanya Joon, dia sedikit ragu untuk melakukannya. Dan beranjak untuk segera pergi dari sana.

Samdong menangguk, membuat rambut gondrongnya bergerak. “Hmm .. kita sudah tidak makan selama tiga hari hyeong. Aigo! Chamkaman! Kita pasti akan berhasil. Ayolah, perutku juga lapar”Ajak adiknya, menyakinkan.

Andwae. Aku tidak mau melakukan perbuatan keji seperti itu, Samdong-ya, abeoji tidak pernah mengajarkan kita seperti itu, ini bisa mempermalukan mendiang abeoji ,Samdong-ya!”Joon bersiap pergi, tapi tangannya malah ditahan oleh Samdong.

hajiman hyeong, kita dalam kesulitan, kita bukan Doryeonim lagi hyeong. Kita bukan Doryeonim lagi, kita hanya orang biasa. Orang jalanan.”jelas Samdong panjang lebar.

Joon bergeming, dia memikirkan perkataan yang dikatakan adik semata wayangnya itu. Dan semua itu benar.

Dia ataupun Samdong bukan Doryeonim lagi.

Bukan orang besar, tapi orang jalanan.

Tidak ada lagi mobil mewah yang akan mengantar mereka kemanapun, atau bahkan makanan enak yang sudah tersaji dimeja makan. Tempat tidur yang nyaman, dengan kamar mandi super elit. Para pelayan cantik yang selalu melakukan perintah mereka, Dan rumah besar penuh kehangatan seperti dulu.

Joon harus membuka mata, dia harus sadar.

Mereka sudah menjadi orang miskin.

Kajja. Kita hanya berpura-pura membeli, lalu memasukkan ke dalam baju dan lari tanpa memikirkan apapun, dan kita akan bertemu kembali ditaman tadi.”Adiknya menyeringai.

“kita melakukannya berdua bukan?”tanya Joon.

Samdong kembali mengangguk, “Bersama. Bukankah kita selalu bersama?”

Arrata.”Joon tersenyum, lalu dia merangkul adiknya, mengacak rambut gondrong Samdong dengan gemas.

Setelah masuk ke dalam minimarket, Samdong dengan gesit mengambil beberapa makanan dan menyembunyikannya di baju. Joon sendiri, hanya berjalan berlawanan arah dan melihat-lihat saja. Tiba-tiba nafsu makannya sudah hilang, dan dia tidak tahu kenapa.

“Joon-ya”panggil seseorang, “Lee Joon-ya”katanya, menatap lelaki itu dengan parau.

Jantung Joon berhenti berdetak, dia seperti mengenal suara yang memanggilnya. Joon mendongak, dan mendapati orang yang sangat dia benci berdiri dihadapannya dan berusaha untuk mendekat.

“KAU!”teriak Joon, matanya menengang. “jangan mendekat ..”kata lelaki itu pelan, dia mundur beberapa langkah.

“Joon-ya dengarkan penjelasanku dahulu. Kau perlu tahu semu—“

Joon memotong perkataan wanita itu dengan cepat, “cukup. Aku sudah tahu semuanya, kebusukan dirimu! Kau wanita penjilat! Kau menipu Abeoji!

Wanita itu mengeleng pelan, matanya sudah membendung air mata yang sudah siap untuk mengalir dengan deras, membasahi wajahnya. “Aniya. Kau salah paham.”

“Kau .. kau membuat Abeoji meninggalkan Eommanim, kau juga membuat dirinya mati karna menunggumu! Appeun yeoja! Jinjja appeun!”maki Joon, badanya sudah bergetar.

Shireo. Kau salah, tidak seperti itu. Kau harus mendengar aku dahulu Joon-ya. Ini tentang kau, tentang siapa dirimu”

“Siapa aku? Tahu apa kau tentang aku, tidak usah mencari alasan. Karna kau, aku dan Samdong harus hidup dijalanan! Karna kau, kami harus melakukan perbuatan yang keji! Karna kau, Abeoji mati! Karna kau, Eommanim menderita! Karna kau, aku harus seperti ini! Apa itu tidak cukup untuk kau sadar kalau hanya penghancur keluarga orang?!”

“Tapi kau harus tahu, ada sesuatu hal yang perlu kau tahu”Lanjut wanita itu lagi, “aku ibu kandungmu”

Joon mendelik, “Mwoya?”tanyanya, sangat terkejut.

“PENCURI! ADA PENCURI! LELAKI ITU PENCURI! TOLONG!”

Joon menoleh, dia mendengar sebuah teriakkan yang tidak jauh darinya. Lelaki itu, jadi ingat dengan Samdong. Dan benar saja, orang yang diteriakki ‘pencuri’ adalah adiknya. Samdong yang terlihat gelisah, langsung mengedarkan pandangan, sampai matanya berpaut dengan Joon.

hyeong, cepat lari! Kita sudah ketahuan! Kita bertemu ditempat tadi”teriak Samdong, lelaki itu berlari keluar.

Joon masih bergeming, dia menatap wanita yang ada didepannya. Memikirkan perkataan yang barusan dia ucapkan, tapi Joon juga memikirkan adiknya. Bagaimana kalau adiknya sampai tertangkap karna mencuri?

“Lalu, siapa Samdong?”ucapnya dengan susah payah, dia memang harus mengejar adiknya, tapi dia tidak bisa melewati beberapa pertanyaan yang berkelebat dikepalanya.

“Samdong-ni, bukan—“perkataan wanita itu terpotong.

[BRAK!][SREKK!][GEBRAK!]

Joon kembali menoleh ke arah pintu, dia mendengarkan suara hataman keras dari luar minimarket. Jantungnya berdegub dengan kencang, bahkan hatinya menjadi gelisah. Dia ingin pikirannya salah, dan tidak mau kalau kenyataan itu benar-benar terjadi.

Lelaki itu masih menatap pintu, berharap kalau adiknya kembali datang. Tapi semakin dia berharap, semakin dia merasakan kalau adiknya semakin menjauh.

“Samdong-ya”guman Joon pelan,nyaris tidak terdengar. “Jebal .. Jebal ..”

Saat pintu terbuka, pikiran Joon semakin kacau. Yang datang bukan adiknya, tapi perempuan yang mengejar adiknya tadi, yang meneriakki adiknya ‘pencuri’.

“Lelaki itu tertabrak, tidak ada gunanya lagi jika kita menuntut. Lagi pula, dia menjatuhkan semua makanan disini, juga dia akan segera mati. Tidak ada yang menolongnya”Perempuan itu menatap Joon sekilas, lalu kembali ke perkerjaanya.

Mendengar itu, dengan cepat Joon berlari keluar minimarket. Matanya mencari-cari sosok adiknya, dan benar saja. Samdong rebah di aspal dengan bersimbah darah, orang menabrak adiknya melarikan diri, dan meninggalkan Samdong dengan begitu saja.

Joon memangku kepala Samdong, mengelus wajahnya dengan lembut.

“Samdong-ya .. Samdong-ya! Samdong-ya!!! Ireonaso! YAA, IREONA! IREONARAGO! YAA!!”teriak Joon berulang kali, sampai akhirnya air mata menetes dari pelupuk mata lelaki itu. “Jebal .. jebal, Ireona .. ireonarago samdong-ya! Jangan tinggalkan aku .. Ppali ireona!! Ireonarago!” Lelaki itu memeluk kepala Samdong, menangis dengan sekencang-kencangnya.

Wanita yang tadi yang mengaku sebagai ibu kandung Joon, berhenti ditempat. Dia menatap pemandangan itu dengan datar, dan melipat kedua tangannya. Tak lama, sebuah senyuman kecil tersungging dibibirnya.

**)

Joon bersandar didinding, kepalanya menunduk kebawah. Lelaki itu meremas-remas jari-jemarinya, merasa gusar dan getir dengan keadaan adiknya – Samdong. Dari tadi, para suster ataupun dokter, tidak juga kunjung keluar dari ruang maut – IGD itu.

Babo .. babo .. babo .. baba gateun .. baboya”Joon terus berkata seperti itu, dengan air mata yang terus menetes.

Beberapa menit kemudian, seorang suster keluar dengan tergesah-gesah. Dia melepaskan masker yang menutupi mulutnya.

“Keluarga Samdong-ssi?”tanyanya cepat.

Ne, itu aku”Joon mendekat, “Ottokhae? Apakah Samdong-ni selamat?Tolong, Aku mohon, selamatkan adikku”

“Tenanglah Joon-ssi. Samdong­-ssi harus segera dioprasi, ada pembuluh darah yang pecah dibagian otaknya. Jika tidak segera di oprasi, kami khawatir kalau nyawa adik anda tidak akan selamat”

Otot mata Joon kembali mengencang, dia mengepal tangannya dengan kuat. “LALU KENAPA KAU MASIH ADA DISINI! KENAPA TIDAK DIOPRASI LANGSUNG!”teriak Joon marah, dia tidak habis pikir dengan jalan pikiran orang rumah sakit.

Mianhae, Joon-ssi. Tapi anda harus melunasi bagian administrasi terlebih dahulu, jika tidak oprasi tidak akan dilaksanankan”

“Mwo?”Joon tertawa, dia memegang dahinya. “APA KAU TIDAK TAHU SAMDONG SEDANG DALAM HIDUP DAN MATI?! APA KAU TIDAK MERASAKAN APA YANG AKU RASAKAN?! APA KAU TIDAK TAHU KALAU INI MENYANGKUT NYAWA SESEORANG! KAU INGIN DITUNTUT!”Joon membentak habis-habisan suster didepannya. Lalu, dia jatuh terduduk, dengan lutut menumpuh badannya. Yang tidak pernah lelaki itu lakukan selama 22 tahun terakhir, tapi sekarang dia melakukannya. Bersujud. “Aku mohon .. aku tidak mempunyai uang untuk membayar operasi. Tapi, aku akan mencarinya, tapi tolong .. tolong selamatkan Samdong-ni. Aku hanya mempunyai dia, dia satu-satunya adikku. Keluargaku yang tersisa”Ucap Joon dengan terisak.

Mianhamnida Joon-ssi, tapi ini sudah ketentuan dari rumah sakit. Aku hanya menjalankan perintah”

Joon duduk, dia mengepalkan tangan dengan kuat. Merasa kalau dirinya tidak berguna.

“Joon-ya”panggil wanita di minimarket tadi, dia mengikuti Joon sampai rumah sakit. “aku akan membayar semua administrasi untuk Samdong, tapi setelah itu, kau harus ikut aku pulang ke rumah”

Lelaki itu menoleh, mendelik dan menatap sengit wanita itu. Belum sempat Joon memaki, wanita itu sudah melanjutkan kembali perkataannya.

“Itu pilihanmu. Kau ingin Samdong selamat, atau mati dengan tragis?”

Joon membuang muka, dia memejamkan matanya. Air matanya terus menerus keluar, dia tidak punya pilihan lain. “Jebal .. Jeongmal jebal Samdong-ni. Jebal .. Jin Yi-ssi”kata Joon, tanpa menoleh kea rah wanita bernama ‘Jin Yi’.

“Kau memilih yang baik Joon-ya

**)

“Ka .. terima kasih kau telah membayarnya.Pergilah dari sini, ini sudah malam. Apa kau pikir aku akan menuruti wanita iblis sepertimu!teriak Joon, ketika mereka berada diparkiran.

“Mwo? Apa Yoo Won mengajarkanmu untuk berlaku tidak sopan terhadap ibu kandungmu! Ppali Joon-ya ikut aku pulang!”Jin Yi meraih tangan Joon, memaksanya untuk masuk ke mobil.

“Shireo!”Joon menepis tangan wanita itu, dia terlihat kesal. “Berhentilah untuk berkata yang tidak-tidak! Ibu kandungku adalah Cho Gyoo ri yang berada dirumah sakit jiwa!”

Jin Yi menangis, dia tidak percaya kalau Joon akan berbuat seperti ini. “Jadi kau lebih memilih ibu tirimu? Jinjja? Apa kau mau aku melakukan tes DNA! KAU BELUM MENDENGAR PENJELASANKU! TAPI BAGAIMANA KAU BERANGGAPAN KALAU DIA IBU KANDUNGMU!”teriak Jin Yi, tepat didepan muka Joon.

Karna .. dia .. tidak .. akan .. meninggalkan .. anak kandungnya .. dan memperbolehkan .. dirinya .. dirawat … oleh .. ibu tiri!”ucap Joon dengan pelan, tapi penuh penekanan disetiap kata. Lelaki itu berbalik, dia pergi dari hadapan Jin Yi.

“10 tahun yang lalu ..”kata Jin Yi, dan sukses membuat Joon berhenti bergerak. “aku dan Yoo Won bercinta, melakukan hal itu semalam penuh. Pada saat itu, kami melakukannya karna cinta. Ketika abeoji tahu, aku hamil 1 bulan dirimu, dia memisahkan aku dan Yoo Won. Dan menyuruhku untuk oprasi plastik, mengubah wajahku. 14 bulan setelah kau lahir, Abeoji menyuruhku untuk memberikanmu ke Yoo Won,yang mengkhianatiku, yang berbohong dan berkata kalau dia akan menungguku, yang pada saat itu telah menikah dengan Gyoo ri. Aku terpaksa, maka dari itu aku menaruh dirimu didepan rumah mereka, sampai akhirnya Gyoo ri, menemukanmu dan meminta Yoo Won untuk merawat dirimu”Jin Yi berhenti sejenak, dia menyekah air matanya.

“Pada saat itu aku berjanji. Aku akan membalas dendam atas semuanya, aku akan membuat Yoo Won dan Gyoo ri merasakan apa yang aku rasakan dari 21 tahun yang lalu, membuat mereka hancur, bahkan menderita. Dan pada saat itu aku membuat skenario, aku mendekati Yoo Won, lalu mengingatkannya akan masa lalu, membuat dirinya merasa terpukul, dan menderita, dan aku juga mengirimkan foto-foto adegan bercinta antara aku dan Yoo Won ke Gyoo ri yang menjadi gila karna itu. Sampai pada akhirnya, perusahaan Yoo Won terlilit banyak hutang, juga dia bunuh diri karna merasa bersalah padaku, juga pada Gyoo ri. Semua itu aku. Aku yang membuat skenario dengan rapi dan menghasilkan ini semua”

“Kau .. kau harus tahu, kau harus tahu apa yang aku rasakan Joon-ya. Itu aku lakukan, karna aku ingin kau kembali padaku. Aku merindukanmu selama 30 tahun ini, Mianhae .. Mianhae Joon-ya.”Jin Yi terduduk, dia menundukkan kepalanya. Bersujud didepan Joon yang membelakanginya.

Joon sendiri sudah terisak, dia berbalik. Berjongkok, dengan memegang kedua pundak Jin Yi. Lama, dia menatap wanita itu, mencari kesamaan diantara mereka, sampai akhirnya Joon sadar, mereka memiliki mata yang sama, hidung, bahkan bibir yang sama. Lelaki itu memeluk Jin Yi.

 “Joon-ya. Kembali, kembalilah. Kau harus ikut pulang denganku. Jebal, biarkan aku menghabiskan waktu yang tersisa denganmu. Samdong-ni bukan siapa-siapa kau, biarkan saja dirinya. Yang penting, kau sudah menyelamatkan dirinya, dia pasti akan sembuh. Ini permintaanku, tolong jauhi Samdong-ni.”

“Joon-ssi .. Joon-ssi? Apakah ada orang bernama Lee Joon-ssi?”Pekik seorang suster didepan pintu UGD.  

Joon mengelengkan kepalanya, pikirannya menjadi hilang karna panggilan itu. Joon beranjak dengan cepat, mendekati suster yang memanggil namanya.

“Ne? Itu aku ..”

“Ah. Chukkhae oprasi sudah selesai. Tapi, Ji Hoo Uisa ingin berbicara dengan anda diruang kerjanya. Mari saya antarkan”

Oh.”Joon mengikuti langkah suster itu, “Chogi .. Bagaimana dengan keadaan Samdong-ni?

Suster itu terdiam cukup lama, lebih tepatnya tidak menjawabnya, dia mengalihkan pembicaraan karna telah sampai dipintu ruang dokter. “Silakan .. Silhyeyo Joon-ssi”

Lelaki itu mengedikkan bahu, lalu berjalan masuk ke dalam ruangan. Joon disambut hangat oleh dokter, dan menyuruhnya untuk duduk. Sepertinya akan terjadi pembicaraan serius diruangan yang cukup sempit ini.

“Adik anda telah mengalami koma menahun”ucap dokter itu dengan pelan.

Mwoya?Mworago?

Dokter itu menunjuk hasil Scanner otak Samdong, dia menunjukkan bagian-bagian yang membuat Samdong mengalami koma menahun. Menejelaskan tiap tahap demi tahan, agar Joon tidak langsung emosi.

“Kami pikir, Operasi yang dilakukan untuk Samdong-ssi hanya akan membuat dirinya menjadi Bisu, tapi malah membuat dirinya koma.”

Bisu? Musun Soriya Uisa?

Ne, Benturan keras antara logam dan kepalanya membuat pembuluh darah yang ada di otak Samdong-ssi pecah, dan juga terjadi penyumbatan disini. Ada kemungkin, ketika Samdong-ssi sadar dari koma, dia akan mengalami banyak kecacatan. Pada saat itu, sangat rawan sekali jika dia terkena depresi atau mencoba untuk bunuh diri. Jadi, kau .. harus terus berada di dekatnya, membangkitkan kembali semangat hidupnya. Kau kakak kandungnya bukan?”

**)

Keluar dari ruangan dokter, Joon berjalan mengikuti langkah kakinya kea rah ruangan Samdong. Matanya menerawang, memikirkan perkataan Jin Yi dan juga perkataan dokter barusan. Jika dilain hal orang menyuruhnya untuk menjauh, dilain hal pula orang menyuruhnya untuk mendekat. Ini pilihan berat pertama yang pernah ada di kehidupannya.

Joon menoleh kea rah kaca, yang didalamnya terdapat Samdong terbaring lemah dengan alat-alat intrapeksi. Bernafas saja, dia perlu dibantu oleh sebuah alat. Melihat itu, Joon benar-benar tidak tega untuk meninggalkan Samdong sendirian.

Dia jadi ingat, semua kegiatan yang dia lakukan dulu bersama dengan Samdong. Hanya dengan Samdong, tidak ada orang lain.

“Hyeong! Neo Michesseo! Aku duluan yang memesan ini! Kau pesan yang lain, aku sudah menunggu tiga jam lebih tahu!”

“Hyeong! Joon hyeong! Aku mendapatkan ini, ayo kita habiskan berdua. Aku hanya berbagi ini denganmu saja”

“YAA! Aku lelah, kenapa hyeong berisik sekali! Huhu .. aku tadi diejek oleh temanku karna eomma itu gila”

“Joon hyeong! Hari ini aku mendapatkan nilai terbaik dikelas, aigo! Apa hyeong mau kalah denganku?”

“Hyeong! Saegil Chukhamnida! Aku berharap, sampai kapapun kita bersama. Karna darah yang mengalir ditubuhmu dan tubuhku akan selalu mengikatkan kita!”

“Hyeong, aku cinta kau. ANIYA! Bukan berarti aku jatuh cinta! Naega neomu neomu neomu neomu menyayangimu! Aku mohon, jangan pernah tinggalkan aku sendirian. Aku takut gelap, aku tidak mau sendirian hyeong!”

Joon bertambah terisak mengingat itu semua, dia memukul kaca jendela dengan pelan, menyebut nama adiknya berulang kali. Berharap kalau Samdong akan sadar, dan memanggil dirinya dengan sebutan ‘hyeong’ lagi. Dia rindu, suara khas dari Samdong.

Jwoisonghamnida. Jeongmal Jwoisonghamnida. Jebal, Samdong-ssi. Sadarlah .. aku mohon, agar aku bisa meninggalkanmu tanpa kecemasan dan rasa bersalah .. Jebal”ucap Joon lirih, perlahan tubuhnya jatuh, terduduk dilantai. Meremas-remas dadanya yang terasa sakit. “Jweisonghamnida …”

(*THE THEATER*)

Joon menghentikkan langkahnya. Matanya memicing, melawan sinar matahari yang menutupi Hanok besar yang akan menjadi tempat tinggalnya yang baru. Ya, Jin Yi tinggal disini, dan Joon tidak tahu, apakah wanita itu tinggal sendiri atau ..

Joon-ya, Waeyo? Ppali-wa ..”panggil Jin Yi yang sudah berada didepan pintu, seperti tahu apa maksud tatapan Joon, Jin Yi menghentikan langkahnya. “Kau akan suka padanya, Gweanchana?

Molla ige ..”ucap Joon pelan, dia memalingkan wajahnya. “Kau masuk saja duluan, aku akan berjalan sebentar disini. Aku butuh adaptasi ..”

Jin Yi tersenyum, dia mengangguk, “Jangan pulang malam, aku sudah menyiapkan pesta untukmu”

Joon berbalik, dia menuruni tangga batu dengan perlahan. Hatinya terasa sakit, kenyataan yang ada dipikirannya memang terjadi. Dia tidak suka, dia tidak mau .. ada Abeoji lain, selain Yo Won. Dia tidak bisa menerima orang baru lagi, hatinya sudah tertutup.

[BRUK]

Tanpa melihat, tiba-tiba Joon menabrak bahu orang. Dan membuat orang yang ditabrak jatuh, bersama dengan keranjang yang ia bawa. Merasa tidak sadar, Joon terus berjalan tanpa melihat orang itu lagi.

Gadis itu berdesis, dia melihat kea rah sikunya yang berdarah. Gadis itu mendongak, lalu mendelik karna orang yang menabraknya terus menjauh, “YA! NEO! NEO BABO NAMJA! PPALI-WAA!”Serunya, menunjuk punggung Joon dengan telunjuknya.

Joon tersadar, lalu dia memutar tubuhnya. Melihat kea rah gadis dengan tampang berantakan, terduduk di tanah. “Mwoya?”tanyanya dengan datar.

Mwo .. ya? Mwoyarago?Aish~Jinjja!”Gadis itu berdiri dengan susah payah, “apa kau tidak sadar kalau kau menabrakku?!”

Oh. Jweisonghamnida. Annyeong”Joon kembali berbalik, tapi mengurungkan niatnya, karna ada sesuatu benda yang mendarat dikepalanya dengna cukup keras. “YAA!!”teriaknya kesal, lalu melihat kea rah sandal ditanah. Dan memalingkan ke gadis itu.

Gadis itu memeletkan lidahnya, lalu berlari cepat meninggalkan Joon yang ikut mendelik karnanya.

“Appeun Yeoja!!”Seru Joon, lalu mendendang sandal gadis itu dengan jauh. “Sial ..”umpatnya.

Langkah Joon terhenti, ketika dia sudah sampai ditaman kecil yang tidak berada jauh dari Hanok tadi. Dia menghempaskan pantatnya dikursi, menatap matahari yang akan segera terbenam.

Joon ingin, sangat ingin.

Jika perasaannya, rasa sakitnya, ingatnya, terbenam seperti matahari, lalu menghitam dan menghilang. Tapi, dia tahu itu tidak akan bisa.

Ini adalah kenyataaan.

Hyeong! Gikwang hyeong! Aku membawakan sesuatu untukmu!”

Joon mendelik, dia mendongak menatap dua orang kakak beradik sedang bertemu tepat didepannya. Tiba-tiba saja, dia jadi ingat dengan adiknya, Samdong.

Wae? Apa ada sesuatu terjadi?”

Aniya. Aku membawakan sebuah berita bagus untukmu. Sesuatu yang sangat kau impi-impikan”

Mwo?ige mwo?”

Jeongsok art High School membuka pendaftaran baru! Hanya untuk enam orang berbakat diseluruh Seoul! Dan jika masuk, kau akan mendapat Beasiswa penuh, dan tampil sebagai bintang di Musical Eropa terbesar didunia!”

Jinjja?! Kau tidak bercandakan?”

“Benar! Aku sudah membawakanmu formulirnya. Audisinya dua bulan lagi, kau harus mempersiapkannya”

“Waa! Jika aku masuk, aku akan mengajakmu ke Lotte World

“Benar ya? Ayo kita pulang, Eommanim sudah menyiapkan makan malam yang enak”

Kajja ..

Joon membatu, dia terisak melihat pemandangan tadi. Lelaki itu memalingkan wajah, menyekah air mata hangat yang menitik dari matanya. Seakan tersadar, Joon jadi teringat sesuatu. Kata-kata dua kakak-beradik itu, diantara kalimat yang mereka ucapkan, ada satu yang pernah menjadi impian dirinya dan Samdong. Ada satu.

Jeongsok Art High School.

Lelaki itu beranjak, dia berlari mengejar dua orang itu. “Cogiyo~”kata Joon, dengan menyentuh salah satu dari pundak mereka.

Ne?”ucap lelaki yang bernama ‘Gikwang’ tadi.

Mianhae. Aku tadi mendengar percakapan kalian. Ige .. Dari mana kalian mendapatkan formulir itu?”

Gikwang menoleh ke arah tangannya, kesebuah kertas yang ia pegang dengan erat. Lalu dia tersenyum, “Ambilah .. aku bisa mengambilnya lagi nanti. Kau juga ingin masuk?”

“Hyeong! Kenapa kau memberikannya?! Aku sudah rela antri selama dua jam!”ucap adiknya dengan sebal, dan menatap Joon dengan kesal.

“Sst!Biarkan saja. Aku bisa memintanya lagi, kau diam saja!”

Adiknya mencibir, lalu melipat kedua tangannya.

“Ah, Ne. Mungkin saja aku bisa masuk. Gomapseumnida ..”Joon menunduk, Sembilan puluh derajat lebih.

Gikwang mengangguk, lalu dia mengulurkan tangan. “Sampai bertemu disana. Dan menjadi salah satu dari enam yang terbaik”

Selesai berjabat tangan, kedua kakak-beradik itu berpamitan. Sekarang, tinggal Joon sendiri menatap formulir itu dengan parau.

“Hyeong! Lihatlah, Abeoji sudah mempersiapkan uang untuk kita berdua. Dia ingin, ketika Jeongsok Art High School membuka pendaftaran baru, kau dan aku bisa masuk dan bersekolah bersama disana!Bukankah itu juga impian kita berdua?”

“Panggung Theater adalah impianku sejak waktu itu. Sejak, hyeong bilang ingin sekali masuk ke Jeongsok Art High School. Aku jadi mengubah impianku, dan ingin masuk ke sana juga. Ini, karna aku ingin selalu ada didekat hyeong!”

Kedua tangan Joon bergetar, begitu juga dengen kertas itu, membuat bunyi yang terkesan berisik. Air mata Joon pun tidak berhenti keluar, terus menetes dan membasahi bajunya.

“aku akan masuk, aku yakin aku bisa masuk kesana. Dan impian itu, pasti akan terwujud”

(*THEATHER*)

To be Contineud

Ottokhae? BWAHAHA #GUBRAK! Aku mau ketawa dahulu ^^9 . Ini adalah FF duet antara Naru dan juga Zen 😀 gimana? Kurang memuaskan? #reader :gangguk.

Tenang ! ini masih versi Joon doang =.=a Nanti Versi SEUNGHO,GO,THUNDER,MIR menyusul yooo~ aku sengaja buat, biar tahu latar belakang mereka masuk ke sekolah theater itu 😀

Mohon ditunggu para Aplus ! BADers dan juga Nineteeners !HIMNAEEE !!

Sebenarnya, aku kemari mau post buat ulangtahunya Zen yang ke 15 -_______- tapi gak ada waktu, jadi aku kasih covernya dulu sama, summarynya oke!!

Summary :

Ini adalah hari ke- 19 .

Tepat pada jam 12 dan  96 detik hari itu.

Jika pada satu titik kita tidak akan dipertemukan, lalu kapan lagi?

Jika pada saat itu kau diambil, lalu apa yang harus aku lakukan?

Ketika hanya kata perpisahaan yang tertinggal, apa aku harus mengucapkannya?

Ketika hanya jalan inilah yang bisa membuat kita bersatu, haruskah aku mengitung waktu?

19 Days, 12 Hours, 96 Seconds

 Short Story :

Jika aku bisa memutar waktu kembali dan kembali, aku tidak ingin kita bersatu.

[KRIIIIINGGG!!]

Aku terbangun dari tidur panjangku, pelajaran terakhir untuk hari ini sudah berakhir. Dan aku bersyukur, bahwa Sir Antony tidak melihat kalau aku tidur pada saat jam pelajarannya. Mungkin saja, kali ini dia sibuk dengan nilai sejarah kelas kami yang menurun secara drastis. Atau paling tidak, dia sibuk dengan Blue Film yang diberikan oleh Eunhyuk, dua hari yang lalu.

Masa Bodoh, itu tidak penting.

Buku-buku sejarah yang tergeletak dimejaku penuh dengan cairan, sial, aku menumpahkan semua air liurku dibuku ini. Apa aku terlalu lelah, sampai seperti ini?

Ini aku, Yoo Eun Ji. Gadis tolol yang bersekolah di Universitas terkenal tanpa niat. Cucu dari seorang pengusaha minyak ternama, dan tinggal di perumahan elit di Seoul. Gadis yang selalu mendapat nilai C, dan diceramahi oleh setiap professor yang ada dikampus.

Hidupku ini lucu, tidak bermanfaat. Membosankan untuk ditelusuri atau dijadikan biografi indah.

========

TADA! gimana? gaje Mianhae -__- RESPONE ditunggu 😀 Semoga kalian menikmati tiap aliran jiwa yang aku masukkan xD. Himnaeeeee !

Saran dan kritik ditunggu. Typo banyak Mianhae. aku gak edit lagi soalnya ^^

 

 

 

 

 

 

 

 

 

12 responses to “The Theater [Who I’m?]/[Joon Side]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s