Immortal

Image

Title: Immortal

Author: Kim Ahra

Genre: AU, Fantasy, Humor, Romance

Length: Universe

Rating: T

Casts:

–          Jo Family

Kim Heechul as Jo Heechul

Meng Jia as Jo Jia

Jo Youngmin as Jo Youngmin

Kim Ahra as Jo Ahra

–          Park Family

Park Jung Soo as Park Jung Soo

Kang Sora as Park Sora

Cho Kyuhyun as Park Kyuhyun

Choi Minho as Park Minho

–          Jung Family

Jessica Jung

Krystal Jung

–          Lee Family

Lee Donghae

–          Lee Taemin as Lee Taemin

–          Bae Suzy as Bae Suzy

Disclaimer: I only own the plot, the characters are all belong to themselves, do not take it out without permission.

‘Tidak ada makhluk immortal di dunia ini.’, itu adalah sebuah pemikiran yang akan aku katakan pada mereka yang percaya akan makhluk immortal. Tetapi pemikiran itu sekarang berubah sejak aku bertemu dengan makhluk immortal yang selalu aku anggap tidak nyata tetapi kenyataannya mereka ada dan nyata. Pertemuanku dengan makhluk immortal  itu merupakan pertemuan yang tidak di sengaja.

Aku pindah menuju kota di mana Appaku, Jo Heechul bekerja sebagai seorang kepala polisi. Kota itu sangat berbeda dengan kota di mana aku dan Ummaku, Meng Jia tinggal. Di kota itu, kau tidak akan merasakan panasnya suhu udara yang menyengat pada siang karena kota itu memiliki curah hujan yang tinggi. Selain itu, banyak pepohonan tinggi yang tumbuh di kota itu.

Aku tiba di rumah Appa, melihat sekeliling rumah ini semua hijau tidak ada yang kering. Udara yang aku hirup sangat segar dan sejuk. Di kota ini sepertinya tidak ada Departement Store karena wilayah yang sempit dan tidak banyak orang yang tinggal di kota ini. Aku akan menjalani hidup yang berbeda di tempat ini.

……

“Ini adalah sekolahmu yang baru. Aku harap kau betah sekolah di sini karena ini satu-satunya sekolah terbaik di kota ini.”, kata Appa ketika mengantarku sekolah.

“Aku akan menyukai sekolah ini.”, ucapku lalu keluar dari mobilnya dan berjalan memasuki wilayah sekolah baruku.

‘Sekolah ini berbeda.’, batinku. Ada sesuatu yang aneh pada sekolah ini, tetapi aku tidak yakin apa itu?

Aku berjalan menuju kantor Administrasi dan meminta jadwal pelajaranku. Pegawai Administrasi itu menyambutku dengan ramah dan langsung memberiku jadwal pelajaran. Aku keluar dari ruangan Administrasi dan berpapasan dengan seorang namja. Ia melihatku dengan tatapan tidak suka. Apa-apaan namja itu, baru ketemu saja sudah menatapku tidak suka. Aku sedang tidak mencari musuh hari ini, jadi kau selamat.

….

“Hey, aku Bae Suzy. Senang bisa mendapat teman baru sepertimu.”, kata seorang yeoja padaku.

“Jo Ahra imnida, senang bertemu denganmu.”, ucapku padanya.

“Ayo kita ke kantin, setelah itu aku akan mengajakmu berkeliling.”, ajak Suzy.

Aku mengikuti Suzy pergi ke arah kantin. Suzy menjelaskan beberapa tempat yang kami lewati ketika perjalanan menuju kantin. Aku dan Suzy mengambil makanan dan duduk di salah satu meja yang terletak di dekat jendela. Ketika kami sedang makan aku melihat beberapa anak masuk ke dalam kantin. Ketika mereka datang beberapa siswa atau siswi langsung melihat ke arah mereka dengan tatapan kagum.

“Siapa mereka?”, tanyaku pada Suzy.

“Itu adalah keluarga Park. Mereka merupakan siswa terbaik, terperfect di sekolah ini.”, jawab Suzy sambil melahap makanannya.

“Apakah mereka semua satu keluarga?”, tanyaku lagi.

“Anhi. Beberapa dari mereka berasal dari keluarga yang berbeda. Yeoja dengan rambut pirang itu bernama Jessica Jung, ia berasal dari keluarga Jung dan merupakan kekasih atau mungkin tunangan dari Lee Donghae namja yang duduk di sampingnya. Yeoja yang satu lagi adalah Krystal Jung adik dari Jessica. Namja kurus yang duduk di samping Krystal adalah Park Minho, lalu namja yang di samping Minho itu yang sedang melihat ke arah kita adalah Park Kyuhyun.”, jelas Suzy.

Jadi namja yang aku temui tadi pagi di ruang Administrasi adalah Park Kyuhyun. Namja itu sedang melihat ke arahku, aku membalas tatapannya sebentar lalu memalingkan wajah darinya.

Seorang namja datang menghampiri Suzy lalu duduk di sampingnya.

“Ahra kenalkan ini Lee Taemin, pacarku.”, kata Suzy.

“Annyeonghaseyo.”, sapaku. Namja itu balik menyapaku, kemudian kami banyak bercerita tentang hal-hal kecil. Sesekali aku melihat ke arah Kyuhyun duduk. Ketika aku menoleh ke arahnya, bukan hanya Kyuhyun yang melihat ke arahku tetapi semua yang duduk bersamanya. Aku cepat-cepat memalingkan wajah. Tatapan mereka padaku sangat aneh, tidak seperti tatapan orang pada umumnya.

“Ahra, apa kau pernah bertemu dengan mereka?”, tanya Suzy ketika menyadari keluarga Park dan temannya memandang ke arahku.

“Tadi pagi aku berpapasan dengan Kyuhyun di ruang Administrasi.”, jawabku.

“Tapi kenapa mereka melihat seperti itu?”, ujar Taemin curiga.

“Aku juga tidak tahu. Mungkin karena aku anak baru di sekolah ini.”, jawabku.

“Nafsu makanku hilang gara-gara mereka, aku duluan.”, ucapku lalu meninggalkan kantin.

Mereka kenapa menatapku seperti itu? Mereka menatapku seperti aku ini adalah musuh mereka, padahal bertemu dengan mereka saja baru sekali mana mungkin aku sudah menjadi musuh mereka.

‘Huft… Mereka berhasil merusak mood ku.’, gumamku.

Aku melihat jadwal pelajaranku selanjutnya adalah kelas bahasa Inggris. Semoga aku tidak sekelas dengan salah satu diantara mereka.

Aku masuk ke kelas bahasa Inggris dan memilih duduk di dekat jendela sambil mendengarkan music dari I-Podku. Aku membaca buku sambil menunggu istirahat selesai. Satu persatu murid mulai memasuki kelas. Aku memasukkan buku yang aku baca ke dalam tas dan berhenti mendengarkan music begitu guru sudah memasuki ruangan. Setelah menyapa guru, masuk seorang siswi dan kalau tidak salah itu adalah Krystal Jung. Ia duduk di sebelahku. Keinginan ku untuk tidak sekelas dengan mereka tidak terwujud.

Selama pelajaran aku merasa Krystal melihatiku terus, aku merasa seperti seorang buronan polisi. Aku menoleh ke arah Krystal dan melihatnya sedang menyalin catatan di papan tulis. Aku benar-benar ingin keluar dari kelas ini. Begitu bel pergantian jam berbunyi, aku segera menuju kelasku yang selanjutnya. Aku benar-benar berharap sekali lagi tidak sekelas dengan salah satu di antara mereka.

Harapanku tidak terkabulkan, di kelas Sejarah aku sekelas dengan Park Minho dan yang lebih buruk lagi, aku satu bangku dengannya. Minho juga memperlakukanku sama seperti Krystal. Ada apa dengan mereka?

‘Ya tuhan, salah apa aku pada mereka?’, batinku.

Aku berjalan menuju lockerku untuk mengambil baju olahraga. Aku berpapasan dengan Suzy dan Taemin.

“Hey, ada apa dengan mukamu?”, tanya Suzy.

“Tidak apa-apa. Aku hanya bingung dan kesal.”, jawabku.

“Wae?”, tanya Taemin.

“Dua jam pelajaran setelah istirahat aku satu kelas dengan Krystal Jung dan Park Minho.”, jawabku.

“Lalu kenapa?”, tanya Suzy.

“Selama pelajaran mereka melihatiku terus dengan tatapan aneh. Aku benar-benar merasa seperti buronan polisi.”, jawabku.

“Aneh sekali, tumben mereka memperhatikan murid di sekolah ini.”, ujar Taemin.

“Apa maksudmu?”, tanyaku.

“Ini adalah pertama kalinya salah satu dari mereka bersikap seperti itu. Mereka biasanya tidak pernah peduli dengan murid-murid di sini.”, jawab Taemin.

“Emm… Ahra apa kau yakin belum pernah bertemu dengan mereka?”, tanya Suzy padaku.

“Huh.. Kalau aku sudah pernah bertemu dengan mereka aku akan menghampiri mereka dan tidak akan bersikap seperti ini.”, jawabku.

“Tidak usah terlalu dipikirkan. Hey, pelajaranmu selanjutnya apakah olahraga?”, tanya Taemin.

“He’em… Aku tidak berharap terlalu besar untuk tidak satu mata pelajaran lagi dengan mereka.”, ucapku.

Suzy dan Taemin tersenyum bersamaan. “Kali ini harapanmu terwujud. Keluarga Park dan teman-teman mereka tidak ada yang mengambil kelas olahraga, jadi kau selamat….”, kata Suzy.

“Benarkah??? Kalian jangan berbohong padaku. Bukan kah kelas Olahraga diwajibkan untuk semua murid di sekolah ini. Dan kenapa mereka tidak mengambil kelas Olahraga?”, ucapku.

“Kami sudah sekolah di sini hampir dua tahun jadi kami tahu apa saja kelas yang tidak di ambil mereka. Untuk apa kami berbohong padamu, apa untungnya bagi kami? Tentang kenapa mereka tidak mengambil kelas Olahraga aku tidak tahu alasannya. Kenapa mereka dibolehkan tidak mengambil kelas olahraga aku juga tidak tahu alasannya.”, jawab Taemin.

“Ohh begitu…”, kataku.

Kenapa mereka bisa serempak tidak mengambil kelas Olahraga? Dan kenapa sekolah ini juga memperbolehkan mereka tidak mengambil kelas olahraga sedangkan murid lain diwajibkan mengambil kelas olahraga.

“Lebih baik kita segera menuju lapangan, aku tidak mau kena marah Shin Songsaenim karena terlambat.”, ajak Suzy.

Aku mengangguk dan mengikuti Taemin dan Suzy dari belakang. Aku benar-benar penasaran dengan mereka. Kenapa mereka diperlakukan berbeda dengan murid lain?

…..

“Ahra mau pulang bersama?”, tanya Suzy ketika aku dan dia berada di ruang ganti.

“Kapan-kapan saja, hari ini aku dijemput Appa.”, jawabku sambil melipat baju olahraga dan memasukkannya ke dalam tasku.

“Oh, baiklah kalau begitu aku duluan.”, ucap Suzy lalu keluar dari ruang ganti.

Selesai melipat baju olahraga, aku berjalan keluar dari ruang ganti menuju lockerku untuk mengganti sepatuku. Aku berpapasan dengan Donghae dan Jessica yang berjalan melawan arah denganku. Tatapan kami sempat bertemu dan aku selaku Hoobae menunduk memberi hormat pada mereka. Mereka tersenyum padaku lalu melanjutkan perjalanan mereka.

‘Setidaknya mereka lebih baik dari Minho dan Krystal.’, batinku.

Aku membuka lockerku dan mengambil sepatuku dan mengganti sepatu olahraga yang sedang aku gunakan. Selesai mengganti sepatu, aku mengunci locker dan berjalan keluar gedung sekolah. Aku berdiri di depan gerbang sekolah menunggu Appa datang menjemputku. Aku melihat ke langit yang sudah gelap menandakan akan datang hujan lebat.

Aku mengambil handphoneku dan menghubungi nomor Appa.

“Ahra, mungkin appa akan telat. Kau lebih baik tunggu di dalam gedung sekolah saja, karena sebentar lagi hujan turun.”, kata Appa.

“Ne, annyeong.”, balasku lalu memasukkan handphoneku ke dalam saku.

Aku memilih untuk berkeliling sekolah ini sambil menunggu Appa. Sekolah ini sudah sepi, hanya tinggal beberapa murid dan guru.

‘Oh, ternyata di sini ada ruang musik…’, gumamku begitu melihat ruang musik.

Aku masuk ke dalam ruangan itu dan melihat berbagai macam alat musik dari yang paling sederhana sampai paling rumit. Aku berjalan menuju piano putih yang berada di pojok ruangan. Aku duduk di kursi lalu mulai memainkan jari-jariku di tuts piano. Sudah lama sekali aku tidak bermain piano. Semoga permainanku tidak memburuk.

Aku memainkan lagu milik 2NE1 yaitu Lonely.

Jigeum naega haneun yaegi
Neol apeuge halji molla
Ama nal jukdorok miwohage doel kkeoya

Naega yejeon gatji antadeon ne mal
Modu teullin mareun aniya
Nado byeonhaebeorin naega nat seolgimanhae

Neomu chakhan neonde neon geudaeroinde Oh

I don’t know I don’t know
Naega wae ireoneunji

Geutorok saranghaenneunde neon yeogi inneunde Oh

I don’t know

Ije nal chatgo sipeo

Baby I’m sorry neowa isseodo nan lonely
Saranghagin naega bujokhanga bwa
Ireon motnan nal yongseohae

I’m sorry ige neowa naui story
Sarangiran naegen gwabunhanga bwa
Ne gyeote isseodo

Baby I’m so lonely lonely lonely lonely lonely
Baby I’m so lonely lonely lonely lonely lonely

Baby I’m so lonely lonely lonely lonely lonely
Baby I’m so lonely lonely lonely lonely lonely

Nega jalmotan ge anya
Naega isanghan geoya
Imi orae jeonbuteo nan junbi haenna bwa ibyeoreul

Jeongmal jalhaejugo sipeonneunde
Hapil sarang apeseoneun wae
Ireoke haneobsi jagajigo oerounji

Aku menghentikan permainanku begitu berada di tengah lagu. Aku tidak pernah menyelesaikan memainkan lagu ini. Aku tidak tahu kenapa aku bisa seperti ini. Hanya lagu ini yang belum bisa aku mainkan sampai terakhir.

‘Kapan aku bisa memainkan lagu itu sampai selesai?’, gumamku.

Aku berdiri dan berjalan keluar dari ruang musik itu, ternyata hujan sudah turun dengan derasnya. Aku memutuskan duduk di bangku yang ada di depan ruang musik sambil menunggu Appa datang.

Dari kejauhan aku melihat segerombolan murid berjalan, semakin mereka mendekat semakin jelas aku melihat mereka.

‘Oh!! Keluarga Park dan teman-temannya!’, ucapku kaget.

‘Bagaimana ini? Appa cepatlah datang!’, batinku.

Aku mengambil handphoneku lalu memainkannya. Begitu suara langkah kaki mereka tidak terdengar lagi, aku memasukkan handphoneku ke saku dan mendongakkan kepalaku.

‘Huft…’

“Kau belum pulang?”, tanya seseorang.

“Astaga!!”, ucapku sambil memegang dadaku karena kaget mendengar suara orang itu. Aku menoleh ke samping dan melihat Krystal dan Minho berdiri di sampingku.

“Sepertinya aku mengagetkanmu.”, ucap Krystal.

Aku hanya bisa tersenyum hambar pada Krystal. Aku bingung harus mengatakan apa padanya dengan tatapan matanya dan Minho yang aneh.

“Kau belum pulang?”, tanya Krystal sekali lagi.

“Belum, aku sedang menunggu Appaku.”, jawabku.

“ohh, kalau begitu kami duluan.”, ucap Krystal lalu berjalan melewatiku.

Begitu mereka pergi, aku mendapat telepon dari Appa yang sudah berada di depan sekolah. Sebelum masuk ke dalam mobil Appa, aku melihat sekeliling karena merasa ada yang melihatiku. Tapi tidak ada siapa-siapa? Mungkin hanya perasaanku saja…

…..

“Appa, kau tahu Keluarga Park?”, tanyaku ketika makan malam.

“Tahu, Park Jung Sooo adalah dokter terbaik di sini. Kenapa?”, tanya Appa balik.

“Aku bertemu dengan anak-anak dari Keluarga Park.”, jawabku.

“Ohh… Bagaimana sekolahmu hari ini?”, tanya Appa.

“Biasa saja…”, tidak mungkin aku cerita tentang Krystal, Minho dan Kyuhyun.

“Bagaimana kabar umma mu?”, tanya Appa.

“Baik.”, jawabku.

“Kau sepertinya lelah? Biar aku yang mencuci piring malam ini, kau tidur lah….”, kata Appa.

Aku hanya bisa mengangguk dan berjalan menuju kamarku.

Aku duduk di meja belajar sambil melihat ke arah jendela yang terbuka.

Image

Tiba-tiba wajah Kyuhyun terlintas di pikiranku.

“Kenapa aku terus terbayang muka Kyuhyun!! Stupid!!”, ucapku sambil memukul-mukul kepalaku.

Aku menutup jendelaku dan pergi tidur. Aku tidak ingin terbayang muka Kyuhyun lagi!!

…..

Hari ini libur, aku bermaksud akan mengunjungi makam Youngmin Oppa, kakak ku yang meninggal 2 tahun lalu. Sampai sekarang aku masih tidak tahu apa penyebab kematian Youngmin Oppa karena jasadnya tidak pernah ditemukan.

“Ahra kau sudah siap?”, tanya Appa dari luar kamarku.

“Ne.”, jawabku lalu keluar dari kamar dan mengikuti Appa menuju garasi mobil.

“Appa tidak bisa menjemputmu, kau bisa pulang sendiri kan?”, kata Appa.

“Aku bisa.”, jawabku.

Appa mengantarku ke makam Youngmin Oppa kemudian ia kembali ke kantornya.

Aku berdiri di depan makam Youngmin Oppa, tanpa mengucapkan apapun. Aku berjongkok sambil mengelus nisan Youngmin Oppa.

“Oppa, aku rindu padamu.”, kataku sambil meneteskan air mata.

“Bagaimana keadaanmu Oppa? Apakah menyenangkan di sana?”, ucapku. Semakin lama aku tidak bisa menahan tangisku. Aku berjongkok sambil memeluk lututku dan membenamkan kepalaku di antara kedua lututku.

Aku benar-benar merindukan Youngmin Oppa. Aku merindukan pelukan, senyum, tawa, candaan dan semua hal tentang Oppa. Sekarang tidak ada yang akan memberiku pelukan ketika aku sedih, tidak ada yang menghiburku dengan candaannya ketika aku bosan, tidak akan ada orang yang seperti Oppa dihidupku lagi.

“Oppa, kenapa kau pergi begitu cepat? Sekarang aku tidak punya siapa-siapa lagi.”, ucapku.

Cukup lama aku berada di makam Youngmin Oppa. Aku tidak melakukan apapun selain menangis.

“Oppa, aku pulang dulu. Aku janji akan sering mengunjungimu.”, ucapku lalu pergi.

…..

Di kelas Biologi, aku satu kelompok dengan Kyuhyun. Aku mengambil mikroskop lalu membawanya ke meja praktikum. Ketika aku sedang berjalan, seseorang dari belakang mendorongku sehingga aku kehilangan keseimbangan. Aku memejamkan mataku ketika akan jatuh. Aku tidak merasakan sakit melainkan genggam tangan seseorang yang dingin. Aku membuka mataku dan melihat Kyuhyun menahan tanganku.

“Hati-hati.”, katanya lalu melepas genggaman tangannya.

“Gomawo.”, ucapku. Aku menggosok tangan yang digenggam Kyuhyun. Rasanya dingin seperti es.

Aneh? Kenapa tangannya sedingin es? Perasaan dia tidak memegang Es selama pelajaran. Selama pelajaran biologi, Kyuhyun selalu menjaga jarak tempat duduknya denganku. Benar-benar aneh!

Begitu bell berbunyi, Kyuhyun langsung keluar dari kelas tanpa menunggu Lee Songsaenim keluar. Aku benar-benar tidak tahu harus bagaimana menilai Keluarga Park dan temannya. Mereka bersikap aneh semua.

“Kau melamun lagi, Ahra…”, kata Suzy.

“Kenapa hari ini aku hanya melihat Kyuhyun saja, dimana teman-temannya?”, tanyaku.

“Aku tidak tahu, biasanya Keluarga Park tidak ada yang masuk sekolah ketika hari cerah seperti ini. Tetapi tumben hari ini Kyuhyun masuk.”, jawab Suzy.

“Kenapa mereka tidak masuk?”, tanyaku.

“Ada yang bilang mereka naik gunung, berlibur ke luar kota, piknik dll.”, jawab Suzy.

“Ohh…”

“Hey, apa kalian sudah dengar kalau liburan minggu depan, kita akan mendaki gunung.”, kata Taemin yang tiba-tiba datang sambil membawa selebaran.

“Mana aku liat!”, kataku merebut selebaran itu dari tangan Taemin.

“Kita mendaki gunung selama 5 hari?? Dan semua murid di wajibkan ikut?”, ucapku.

“Yap, kau benar!”, jawab Taemin.

“Kegiatan ini akan menyenangkan Ahra!”, ucap Suzy.

“Dan kau tenang saja, Keluarga Park dan teman-temannya tidak ikut dalam acara ini.”, kata Taemin.

“Wae?? Bukan kah ini wajib?”, tanyaku.

“Semua yang wajib untuk murid di sini belum tentu wajib bagi mereka.”, jawab Suzy.

“Aku semakin tidak suka dengan mereka.”, ucapku.

“Ahra, aku dan Suzy pulang duluan. Sampai jumpa!”, ucap Taemin lalu menarik Suzy agar mengikutinya.

Aku menyangking tasku dan berjalan keluar dari gedung sekolah. Hari ini Appa tidak bisa menjemputku jadi aku harus pulang sendiri. Aku memilih berjalan kaki sampai ke rumah karena jarak rumah yang tidak terlalu jauh dengan sekolah.

Dulu ketika Youngmin Oppa masih hidup, dia selalu menemaniku pulang sekolah. Mengajakku ke taman hiburan sebelum pulang ke rumah. Tapi sekarang tidak ada yang akan menemaniku pulang sekolah lagi.

Aku mendengar suara klakson mobil yang cukup keras. Aku menoleh ke kanan dan melihat sebuah mobil melaju kencang ke arahku. Aku ingin berlari menghindar tetapi kakiku tidak bisa bergerak. Aku memejamkan mataku menunggu mobil itu menabrakku.

Seseorang menarikku dengan cukup keras sehingga aku menabrak tubuhnya. Tubuhnya dingin dan keras tidak seperti orang pada umumnya. Aku membuka mataku dan melihat siapa orang yang menarikku.

“Kyuhyun…”, ucapku lirih.

Kyuhyun melihat ke arahku dan mundur satu langkah.

“Kau harus hati-hati kalau berjalan, jangan melamun!”, ucapnya lalu berjalan menjauh.

Aku tidak menucapkan apapun padanya karena masih shock.

‘Kyuhyun menyelamatkanku? Kenapa badannya sekeras batu dan sangat dingin? Siapa sebenarnya Kyuhyun?’, batinku.

…..

Hari ini aku membolos kelas Biologi dan Sejarah, aku tidak mau bertemu dengan mereka. Setiap melihat mereka, aku selalu berpikiran kalau mereka bukan manusia. Karena dari bukti-bukti yang aku temukan mereka tidak seperti manusia.

Pertama, Tubuh mereka pucat, keras dan dingin itu berbeda dengan tubuh manusia yang hangat, tidak pucat dan tidak sekeras itu.

Kedua, mereka tidak pernah masuk ketika matahari bersinar dengan terang.

Ketiga, warna mata mereka berbeda dengan manusia pada umumnya. Kalaupun mereka memakai softlens, warnanya tidak seperti itu.

‘Vampire…’ tidak mungkin ada vampire di dunia. Itu semua hanya ada di novel dan tidak mungkin terjadi. Aku terlalu banyak membaca novel sehingga membuat imajinasiku terlalu tinggi.

‘Mungkin ada alasan tersendiri kenapa mereka seperti itu. Aku tidak mau memikirkan mereka lagi.’, batinku.

‘Dari pada aku terus berpikiran aneh-aneh tentang mereka, lebih baik aku mengganti jadwalku agar tidak satu kelas dengan mereka. Aku tidak mau negative thinking tentang mereka.’, batinku.

Aku beranjak dari tempatku duduk dan berjalan menuju ruang Administrasi untuk mengurusi perubahan jadwalku. Aku yakin Appa tidak akan masalah jika aku mengganti jadwal pelajaranku. Aku melihat Kyuhyun berjalan berlawanan arah denganku. Aku mengambil jarak agar tidak terlalu dekat dengannya dan berjalan dengan tidak melihat ke arahnya. Aku yakin mukaku pasti sangat pucat karena rasa takut yang tiba-tiba muncul ketika melihat Kyuhyun.

……

Seminggu ini aku berupaya tidak bertemu dengan ‘mereka’ dan aku berhasil tidak bertemu dengan mereka. Aku tidak bercerita pada Taemin dan Suzy tentang apa yang aku pikirkan tentang ‘mereka’, karena mungkin Taemin dan Suzy akan menganggapku konyol dan terlalu tinggi berimajinasi.

“Kau sudah siap?”, tanya Suzy.

Aku mengangguk menjawab pertanyaan Suzy. Taemin datang menghampiri aku dan Suzy lalu membantu membawakan barang-barang untuk mendaki gunung dan meletakkannya di garasi bus. Selama perjalanan menuju gunung yang akan kami daki, aku lebih memilih diam, sesekali tersenyum mendengar lelucon dari Suzy atau Taemin dan lebih banyak melihat ke arah jendela. Selama seminggu ini aku merasa ada sesuatu yang hilang dalam diriku tapi aku tidak tahu apa itu. Aku lebih banyak melamun dan menjadi pendiam selama seminggu ini.

Begitu sampai di lokasi pendakian, beberapa songsaenim menyuruh para murid mendirikan tenda sebagai tempat untuk bermalam. Setelah selesai mendirikan tenda, kami menyalakan api unggun dan beberapa murid menyanyi, bermain gitar dan ada juga yang menari mengikuti irama lagu yang dibawakan. Aku duduk di depan tenda dan menyaksikan kegilaan api unggun.

“Kau sedang ada masalah?”, tanya Suzy yang datang menghampiriku dan duduk di sampingku.

“Anhi.”, jawabku.

“Kau sedang ada pikiran?”, tanya Suzy lagi.

Yang aku pikirkan banyak, tapi aku tidak bisa cerita padamu karena kau pasti akan menganggapku konyol. “Anhi.”

“Kau tahu, seminggu ini kau menjadi pendiam dan banyak melamun. Kalau kau ada masalah cerita padaku, aku pasti akan membantumu.”, kata Suzy.

“Terima kasih Suzy, kau memang sahabat terbaikku.”, ucapku lalu memeluk Suzy. Ia membalas pelukanku.

“Aigoo… Aku juga ingin dipeluk.”, ucap Taemin yang muncul sambil membawa 3 jagung bakar.

“ANIYO!!”, ucapku dan Suzy.

“Haish… Ini aku bawakan jagung.”, ujar Taemin dan menyerahkan jagung padaku dan Suzy.

Aku beruntung bisa memiliki sahabat seperti mereka. Walaupun kami baru kenal, mereka sangat baik padaku.

….

Pagi harinya, kami membereskan tenda dan memulai pendakian gunung. Lee Songsaenim membagi murid-murid menjadi beberapa kelompok. Satu kelompok terdiri dari dari 3 orang dan harus ada satu laki-laki dalam setiap kelompok. Aku, Suzy dan Taemin berada dalam satu kelompok.

Ketika tengah hari, kami menghentikan pendakian dan mendirikan tenda. Setelah selesai makan siang, Shin Songsaenim menyuruh kami berkumpul sesuai kelompok.

“Cari beberapa tumbuhan langka atau yang jarang kalian temui di tempat tinggal kalian. Berkumpul kembali di sini sekitar jam 5 sore atau sebelum hujan mulai turun. Jangan pernah berpisah dengan kelompok kalian.”, kata Kang Songsaenim.

“Ne, Songsaenim.”, jawab kami.

“Baiklah kalau begitu, pencarian di mulai!”, ucap Kang Songsaenim.

Aku, Suzy dan Taemin berjalan masuk ke dalam hutan dan mulai mencari beberapa tumbuhan langka. Selama mencari, Taemin selalu membuat lelucon setiap ia menemukan sesuatu yang aneh, dan Suzy selalu kesal dan menyuruh Taemin untuk serius dan jangan sering bercanda. Sekitar 3 jam kami mencari, kami tidak banyak menemukan tumbuhan langka. Aku melihat ke langit yang sudah berubah warna menjadi gelap.

“Lebih baik kita kembali ke perkemahan.”, kata Taemin.

Suzy dan Taemin memimpin perjalanan sementara aku berjalan di belakang mereka. Aku berhenti dan mengikat kembali kedua tali sepatuku yang lepas. Tiba-tiba hujan turun dengan deras, aku berlari mencari pohon yang lebat untuk berlindung dari hujan. Begitu aku menemukan pohon yang lebat daunnya dan berlindung di pohon itu, aku menyadari bahwa aku terpisah dari Suzy dan Taemin. Aku mengambil handphone dan hendak menghubungi Taemin.

“Aish!! Tidak ada sinyal!”, gerutuku.

Hujan semakin lebat dan langit semakin gelap. Aku memutuskan untuk berjalan ke arah dimana aku membenarkan tali sepatuku. Aku berharap bisa bertemu Taemin atau murid lain.

Karena tidak hati-hati melangkah aku terpeleset, jatuh dan menggelinding entah kemana. Badan dan kakiku sakit karena terkena batu, ranting dan akar-akar yang menonjol. Aku berhenti menggelinding dan kakiku menabrak sebuah batu yang cukup besar. Aku tidak bisa menggerakkan badanku tapi aku harus berdiri dan mencari pertolongan. Aku tidak mau mati di tempat ini. Aku berusaha berdiri dengan susah payah, menahan semua rasa sakit yang aku rasakan di seluruh tubuh. Aku berjalan sambil menyeret kaki kananku yang terluka cukup parah dan mencari tumpuan untuk berjalan. Aku berhenti di salah satu pohon kemudian duduk sambil menyandarkan tubuhku ke batang pohon dan meluruskan kakiku. Aku membuka tasku dan mencari obat-obatan yang aku bawa tetapi aku tidak menemukan apapun hanya ada foto Youngmin Oppa. Mungkin semua isi tasku keluar ketika aku jatuh.

“Oppa, apa yang harus aku lakukan sekarang?”, ucapku sambil melihat Foto Youngmin Oppa. Aku berusaha berdiri tetapi tidak bisa, akhirnya aku menyerah dan menunggu siapa pun yang datang dan menolongku.

…..

Aku merasa seseorang menggendongku, aku hendak melihat siapa orang itu tetapi mataku tidak bisa terbuka. Aku merasa orang ini melompat secara terus menerus. Aku tidak bisa merasakan apapun dari tubuhku karena rasa sakit yang terlalu.

Beberapa saat kemudian, aku merasa orang yang menggendongku masuk ke dalam sebuah ruangan karena aku merasa hangat berbeda dengan ketika berada di hutan.

“Jung Soo, Sora, tolong!”, teriak orang itu setelah meletakkanku di sebuah kasur.

Suara itu, sepertinya aku tidak asing dengan suara itu.

“Kau keluarlah, biar aku saja yang mengobatinya.”, kata seorang wanita. Setelah itu aku merasa jarum suntik masuk ke dalam lenganku, setelah itu aku tidak sadarkan diri.

……

‘Youngmin Oppa…’

Aku membuka mataku dan melihat sekelilingku yang semua berwarna putih. Aku berada di tempat tidur dengan banyak perban pada tubuhku. Aku baru ingat kalau aku ditolong oleh seseorang dan sepertinya ia membawaku ke rumahnya. Aku tidak memakai bajuku yang kemarin melainkan menggunakan pakaian yang berbeda.

Pintu kamar terbuka dan masuk seorang wanita yang berumur sekitar 35 tahun sambil membawa nampan berisi makanan. Ia tersenyum padaku.

“Kau sudah sadar? Syukurlah.”, ucap wanita itu sambil meletakkan nampan berisi makanan di meja.

“Terima kasih sudah menolongku, aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku kalau kau tidak menolongku.”, ucapku.

Wanita itu tersenyum lembut padaku, lalu berkata, “Jangan berterima kasih padaku, seharusnya kau mengatakan itu pada putraku. Kalau ia tidak menemukanmu, aku tidak bisa menyembuhkanmu.”

“Ohh, begitu…”, gumamku.

“Bagaimana keadaanmu? Sudah lebih baik?”, tanya wanita itu.

“Sudah sangat lebih baik, Ahjumma.”, jawabku.

“Namaku Park Sora, kau pasti Jo Ahra?”, tebaknya.

“Dari mana anda tahu nama saya?”, tanyaku.

“Dari tasmu.”, jawabnya.

“Ohh…”, gumamku.

“Oh ya, kami sudah menghubungi gurumu dan mengatakan agar tidak usah khawatir tentang keadaanmu. Setelah keadaanmu lebih baik, kami akan mengantarmu ke rumah. Kau putri dari Jo Heechul kan?”, kata Sora Ahjumma.

“Ne, kamsahamnida.”, ucapku.

Seharian penuh aku hanya berada di tempat tidur tanpa melakukan apapun. Bosan, itu yang aku rasakan tapi aku tidak bisa terlalu banyak bergerak karena kaki kananku terluka cukup parah. Aku melihat ke arah jendela dan terlihat bulan purnama. Sudah lama sekali aku tidak melihat purnama seperti itu. Pintu kamar terbuka dan aku melihat Krystal masuk dengan membawa pakaian.

“Kau pasti terkejut melihatku? Aku tinggal di sini bersama Kyuhyun dan yang lainnya.”, ucap Krystal.

Jadi sekarang aku berada di rumah mereka??

“Oh ya, ini aku bawakan baju ganti. Aku bantu kau mengganti bajumu. Aku harap baju ini sesuai dengan tubuhmu.”, kata Krystal.

Krystal membantuku mengganti baju, tangannya menyentuh tubuhku dan terasa dingin.

“Krystal… Ada yang ingin…”

“Ada seseorang yang ingin bertemu denganmu…”, potong Krystal.

Selesai menggantikanku baju, Krystal keluar dari kamar dan Kyuhyun masuk.

Aku tidak tahu apa yang harus aku katakan. Aku masih tidak percaya, aku berada di rumah keluarga Park yang selama seminggu ini aku hindari dan sekarang aku bertemu dengan Kyuhyun. Kyuhyun melihat ke arahku sebentar lalu ia berdiri di dekat jendela melihat bulan purnama. Kulitnya begitu putih dan bersinar ketika cahaya bulan mengenainya, terlihat begitu sempurna. Cukup lama ia berdiri menghadap jendela tanpa mengatakan apapun dan aku menikmati memandangnya yang terlihat sempurna.

“Bagaimana keadaanmu?”, tanyanya tanpa menghadap ke arahku.

“Lebih baik dari kemarin.”, jawabku.

“Apakah kau yang menolongku?”, tanyaku.

“Iya.”, jawab Kyuhyun.

“Kamsahamnida sudah menolongku.”, kataku.

“Tidak usah dipikirkan.”, sahutnya.

Aku masih ingat kalau ketika ia menolongku dan membawaku ke rumahnya tidak membutuhkan waktu lama. Padahal seingatku tempat yang digunakan untuk mendaki sangat jauh dari kota dan membutuhkan waktu yang lama untuk sampai ke kota. Bagaimana bisa ia membawaku ke rumahnya dengan tidak membutuhkan waktu yang lama. Aku hanyut dalam pikiranku sehingga tidak menyadari kalau Kyuhyun sudah berdiri di samping tempat tidur.

“Apa yang sedang kau pikirkan?”, tanya Kyuhyun dengan raut wajah penasaran dan kesal.

“Bukan apa-apa.”, jawabku.

“Kenapa kau tidak datang ke kelas Biologi, Bahasa Inggris dan Sejarah lagi?”, tanya Kyuhyun.

“Aku mengganti jadwal pelajaranku.”, jawabku tidak berani melihat ke arahnya.

“Kenapa?”, tanya Kyuhyun.

“Tidak kenapa-kenapa.”, jawabku pelan. Tiba-tiba perasaan takut datang, dan membuatku tidak nyaman

“Ada sesuatu yang kau ketahui tentang kami, benarkan?”, ucap Kyuhyun masih melihatiku.

“Aniyo…”, jawabku lirih dan menundukkan kepalaku.

“Kalau tidak ada, kenapa kau tidak bisa melihat ke arahku tetapi malah menundukkan kepalamu?”, ucap Kyuhyun.

Aku harus bagaimana? Aku tidak mungkin bilang kalau aku mengira Kyuhyun adalah vampire. Bisa-bisa ia tertawa mengejekku atau malah ia tersinggung dengan ucapanku.

Aku memutuskan untuk tidak menjawab apapun, aku benar-benar tidak tahu harus menjawab bagaimana?

“Sebegitu takutkah kau untuk menjawab?”, ucap Kyuhyun dengan nada lembut. Baru kali ini aku mendengarnya berbicara selembut itu. Aku melihat ke arahnya dengan hati-hati. Tatapan matanya begitu lembut.

“Aku…aku mengira kau dan keluargamu bukan lah manusia…”, kataku lirih sangat lirih mungkin dia tidak bisa mendengarnya.

“kau mengira kami apa?”, tanyanya. Aku melihatnya dengan tatapan kaget, bagaimana mungkin ia bisa mendengar perkataanku?

“Vampire… tapi aku rasa itu konyol, karena tidak ada makhluk seperti itu di dunia. Vampire hanya ada di cerita-cerita novel.”, jawabku.

“Bagaimana kau bisa mengira kami vampire?”, tanya Kyuhyun sambil tersenyum miring.

“Emm, dari tubuhmu yang dingin, pucat dan keras aku merasakan itu ketika kau menolongku yang hampir tertabrak mobil. Lalu ketika cuaca sangat cerah kau dan keluargamu tidak pernah masuk, hanya sekali kau masuk itu pun matahari tidak terlalu bersinar terang. Kemudian, warna matamu dan keluargamu setiap harinya berbeda terkadang, coklat, hitam, keemas-emasan. Setiap ke kantin kalian hanya mengambil makanan tetapi tidak memakannya dan kemudian membuangnya.”, jawabku.

Aku melihat raut wajah Kyuhyun yang menunjukkan kalau ia tidak masalah dengan ucapanku.

“Aku tahu itu sama persis seperti cerita di novel, mungkin aku terlalu sering membaca novel itu sehingga otakku terkontaminasi hal-hal seperti itu. Di dunia ini tidak ada makhluk seperti itu kan?”, ucapku.

Kyuhyun hanya diam saja tidak mengatakan apapun. Aku tiba-tiba merasa akan terjadi hal buruk melihat Kyuhyun seperti ini.

Bagaimana kalau vampire memang ada dan nyata?”

 ~TBC~

Advertisements

44 responses to “Immortal

  1. Pingback: CERITA SEX DEWASA – Rahasia Tante Tante Ku | New Software Gratis Full Patch Gratis·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s