I’m Not Crazy – [Part 1]

Author: Annisa a.k.a @Joonisa

Main Cast:

– Baek Hyo Jin (as Y O U)

– Choi Si Won

– Lee Dong Hae

-Tiffany Hwang

Support Cast:

– Choi Min Ho

– Kim Hee Chul

– Kwon Yuri

– Goo Hara

Genre: Angst, AU

Rating: PG 15

Read First: PROLOG

Poster By: Park Kyung Jin ^^

====================Baek Hyo Jin’s POV

“Ini pesanan anda, Agassi.” Seorang pelayan wanita meletakkan Ice Dark Chocolate tanpa gula, Lemon Tea, dan Pizza berukuran sedang di atas meja.

“Gamsahamnida.” Ucapku sambil tersenyum.

“Ada yang ingin anda pesan lagi, Agassi?” tanyanya dengan senyum ramah. Aku menggeleng.

“Nanti kalau temanku datang, mungkin aku akan pesan lagi.”

“Baiklah Agassi. Kalau begitu saya permisi dulu.”

Aku mengangguk pelan, tak lupa menyungggingkan senyum. Pelayan wanita itu pergi dari hadapanku dengan membawa nampan kosong. Tanpa ba-bi-bu lagi aku langsung menyeruput Ice Dark Chocolate untuk sekedar melemaskan saraf-saraf di otakku yang sempat akan putus.

“Ah..”

Aku meminumnya dengan sangat pelan, menikmati setiap mililiter cokelat yang melewati lidah dan batang tenggorokanku dengan mata terpejam sambil mendengarkan musik dari iPod-ku. Beginilah caraku untuk menenangkan diri. Ice Dark Chocolate adalah pertolongan pertama pada gejala stres. Yeah, cara ini cukup ampuh, setidaknya untuk pecinta cokelat sejati sepertiku.

Ketika aku mulai menikmati sensasi cokelat yang membelai-belai sarafku, bayangan kejadian beberapa jam yang lalu yang sempat membuat urat-urat di otakku hampir putus kembali berkelebat.

Flashback-

“AAAAAAARRRRRRRGGGGGHHHHHH!!!!!!!”

Si Won berteriak sekuat tenaga, berusaha melepaskan jalinan kain yang membelenggu tubuhnya.

“ARRRRRRGGGHHHHH!!!! WUAAAAAAAAAA!!!!”

 Beberapa kali ia menggeliat dengan penuh kekuatan sampai akhirnya kain itu robek menjadi serpihan-serpihan besar dan tangannya terbebas.

Dia.. begitu kuat.. Mati aku!

Aku segera berlari ke arah pintu dan berusaha membuka knop’nya. Beberapa kali aku memutar knop-nya, tapi tidak juga terbuka.

Sial! Tanganku yang basah membuat peganganku jadi licin! Dan aku tidak bisa membuka pintu ini!!

“Tolooong!!! Siapa saja yang ada di luar, tolong aku!!!”aku menggedor-gedor pintu sekuat tenaga dengan tangan yang gemetaran yang luar biasa.

Keputusan untuk mendekati Si Won dengan berduaan saja dengannya di ruangan tertutup benar-benar sangat tidak tepat untuk saat ini. Keputusanku tadi benar-benar BODOH! Harusnya aku membiarkan setidaknya satu orang sekuriti masuk untuk menemaniku. Dan sekarang lihatlah….. Si Won menatapku dengan tatapannya yang setajam tombak berkarat!

“Si Won-ssi, mau apa kau? Tolong jangan sakiti aku! Aku hanya ingin menolongmu!” pintaku sambil mengitari ruangan sempit itu, berusaha mencari celah di jalan buntu. Tindakan sia-sia…

Si Won memperpendek jaraknya denganku dengan melangkahkan kakinya selangkah. Tatapannya masih setajam tadi, bahkan lebih tajam dan lebih merah. Lututku tiba-tiba lemas sampai-sampai aku terduduk di pojok ruangan.

“Si Won-ssi! Kumohon… jangan cekik atau jangan lakukan apapun yang bisa menyakitiku! Kumohon!!”

Si Won melangkahkan kakinya lagi, kali ini sekaligus dua langkah. Dan jaraknya sekarang tidak lebih dari setengah meter dariku. Aku menekuk kakiku, menghindari agar tidak ditangkapnya.

“Si Won-ssi, kumohon.. kumohon…” ucapku sambil terisak. Seluruh tubuhku bergetar.

Si Won kembali melangkah maju, dan kali ini langkahnya sangat cepat sehingga tidak sampai 2 detik ia sudah sampai di hadapanku. Ia menarik kedua pergelangan tanganku dengan tangannya yang bebas dan menggengggamnya kuat-kuat. Sangat kuat, sampai rasanya tanganku mati rasa.

“Si Won-ssi.. mau apa kau?”tanya ku gelagapan. Aku bisa melihat matanya yang merah dari ujung mataku. Aku tidak berani menatapnya secara langsung.

“Lihat aku…… kalau berani!” ucapnya, pelan tapi mengerikan. Genggaman tangannya sama sekali tidak mengendur, membuat rasa sakitnya semakin menjadi-jadi. Dengan susah payah aku mengumpulkan keberanian untuk menatapnya, setidaknya untuk menunjukkan kalau nyaliku tidak benar-benar menghilang.

Aku .. pada akhirnya.. menatap mata Si Won. Ia juga menatapku, mungkin sudah dari tadi. Tatapannya bukan ke mataku, mungkin lebih ke wajahku. Aku menemukan keseriusan di matanya, bukan tatapan yang kosong.

[BRAKK!!!]

Aku dan Si Won terkejut begitu mendengar suara pintu didobrak. Bala bantuan sudah datang!

Lima orang sekuriti dengan badan seperti petinju masuk, kemudian langsung menangkap Si Won. Aku bisa bernafas sedikit lega ketika tangan Si Won terlepas, karena sedari tadi aku merasa sesak dan sakit. Tapi.. ada yang aneh..

Si Won tidak memberontak, hanya saja badannya mengeras begitu sekuriti-sekuriti itu menangkapnya. Satu orang perawat masuk ke ruangan ini menyusul kelima sekuriti itu, dan langsung menyuntikkan obat penenang dosis tinggi pada Si Won…

Dan Si Won langsung tertidur beberapa detik kemudian…..

-Flashback End-

 Aku bergidik dan menggelengkan kepalaku kuat-kuat untuk menghilangkan bayangan itu. Memang, aku sudah cukup sering menghadapi pasien yang sakit jiwa. Tapi kemarin benar-benar di luar dugaan. Di satu sisi aku yang bodoh karena nekat berduaan dengan Si Won tanpa pengamanan, dan di sisi lain, Si Won yang tampan namun buas dan liar tiba-tiba menyerangku dan menggengggam pergelangan tanganku sampai memerah.

Aku melirik pergelangan tanganku dan merabanya. Rasa sakitnya masih ada…

“Hoy!”

“Waaa!” aku terlonjak saat ada seseorang yang tiba-tiba menepuk bahuku dengan sangat keras. Aku menoleh dan menemukan Hara yang membawa 2 kantong belanjaan sambil terkekeh.

“Kau ini mengagetkan saja!” ucapku sambil mengelus dada.

“Mian..” Hara membentuk tanda ‘V’ dengan terlunjuk dan jari tengahnya. “Habis wajahmu kelihatan seperti habis melihat hantu!”

Hara duduk di seberangku dan langsung mencomot sepotong pizza. Ia memakannya dengan lahap. Aku tahu itu makanan kesukaannya – dan kesukaanku juga sebenarnya.

“Kau kenapa? Apa masienmu mengghanghumu?” tanyanya dengan mulut penuh pizza.

“Habiskan dulu makananmu, baru bicara.”

Hara menelan pizzanya cepat-cepat, kemudian meminum minumannya dengan cepat-cepat juga. Sepertinya dia benar-benar penasaran..

“Kenapa? Hari ini kau diganggu pasien ya?” tanyanya dengan pertanyaan yang sama.

“Hmm.. sebenarnya tidak diganggu. Hanya sedikit syok karena pasienku yang satu ini sedikit lebih agresif dibanding dengan pasien-pasien sebelumnya.”

“Tapi kau tidak apa-apa kan? Kau tidak terluka kan? Loh, itu tanganmu kenapa jadi merah?” tanya Hara beruntun, apalagi setelah melihat tanganku yang memerah, ia jadi cerewet.

“Gwaenchana..” jawabku santai sambil mengambil sepotong pizza. “Resiko pekerjaan.”

“Ck! Kau ini kenapa sih mau-maunya bekerja menghadapi banyak orang gila?” tanyanya setengah mengomel, lalu kembali menggigit pizzanya.

“Panggilan hati, Hara-yah. Sama sepertimu, menjadi guru tari adalah panggilan hatimu juga kan?”

“Arasseo.. Tapi aku tetap mengkhawatirkanmu. Pekerjaanmu sebagai dokter jiwa itu resikonya sangat besar.”

“Semua pekerjaan ada resikonya. Aku juga terkadang takut kalau kau terkilir atau cedera saat menari..” ucapku tulus. Aku benar-benar mengkhawatirkannya kadang-kadang. Hara hanya tersenyum tipis mendengar ucapanku. Kemudian ia mengangkat tangannya.

“Pelayan!”

Seorang pelayan wanita yang tadi melayaniku datang menghampiri meja kami. “Ne Agassi. Ada yang bisa saya bantu?”

“Aku pesan Ice Americano dan spageti ayam.” Ucap Hara tanpa melihat buku menu.

Pelayan itu mencatat pesanan Hara dengan cepat. “Ada lagi, Agassi?”

“Aniyo. Itu saja.”

“Baiklah. Kalau begitu saya permisi.”

“Kau sangat lapar ya?” tanyaku setelah pelayan wanita itu menjauh. Hara menggeleng.

“Itu bukan pesananku, tapi pesanan Dong Hae.”

“UHUK!!” Aku terbatuk mendengar jawaban Hara, karena saat itu aku sedang meminum kembali minumanku. Apa aku tidak salah dengar?

“Kau kenapa?” tanya Hara bingung sambil menyodorkan tissu. Aku mengambilnya, kemudian mengelap bibirku.

“Do.. Dong Hae?”

Hara mengangguk. “Aku tadi ke sini bersama Dong Hae dan dia sedang parkit di vallet. Memangnya kenapa?”

“Kenapa kau mengajak Dong Hae ke sini?” bisikku panik.

“Tadi aku bertemu dengannya di supermarket, lalu aku bilang aku tidak langsung pulang melainkan ke sini dulu untuk makan malam bersamamu. Dia bilang dia mau ikut, jadi aku tidak bisa menolak. Kenapa sih?”

“Aigoo Hara-yah, masa kau tidak tahu? Aku sekarang kan tidak berdandan, aku sedang tidak dalam keadaan prima hari ini!”

Hara tergelak mendengar kepanikanku. “Tenang saja, kau tetap cantik meski tanpa make up- Hyo Jin-ah.”

Wajahku memerah mendengar ucapan Hara. Aku menutup wajahku untuk menutupi kepanikanku.

Lee Dong Hae, sahabatku dan Hara sejak SMA. Ke mana-mana kami selalu bertiga dan tidak terpisahkan. Seharusnya aku tidak perlu panik karena Dong Hae adalah teman lama, bukan seseorang yang baru kukenal kemarin sore. Tapi ada satu alasan yang membuatku merona, malu, bahkan panik seperti sekarang.

Aku diam-diam menyukai Dong Hae, dan hanya Hara yang mengetahuinya..

Sudah lama sekali aku menyukai Dong Hae, mungkin sejak awal masuk kuliah. Persahabatan kami yang begitu dekat menimbulkan perasaan yang lain di hatiku. Detak jantungku menjadi berbeda kalau berada di dekat Dong Hae. Aku begitu menyukai Dong Hae yang baik, ramah, perhatian, pekerja keras, dan periang… Bisa dibilang dialah cinta pertamaku..

Tapi sampai sekarang perasaanku belum tersampaikan. Sebagai yeoja aku tentu saja malu untuk menyatakan duluan. Aku akan menunggu Dong Hae menyatakannya… menyatakan kalau dia menyukai dan mencintaiku… tapi kapan? Sampai kapan?

“Hai!”

Aku menoleh begitu mendengar suara Dong Hae. Ia sudah duduk di sebelahku sambil menyunggingkan senyum manisnya yang selalu membuat hatiku mencelos.

“Kau ini, mau makan-makan kenapa hanya mengajak Hara? Ajak aku juga dong, aku kan juga sahabat kalian!” protesnya sambil mengacak rambutku. Aku bisa merasakan wajahku yang merona, karena pipiku rasanya memanas.

“Kau kan namja, jadi kami malas mengajakmu! Buat apa kami mengajakmu! Weee!” Hara menjulurkan lidahnya.

“Ya! Kau ini! awas ya!” Dong Hae menunjuk Hara dengan skop pizza. Aku hanya tersenyum melihat keduanya yang sedang mengolok-olok satu sama lain. Hara memang mudah saling mengolok dengan Dong Hae seperti itu, sedangkan aku? Aku paling tidak bisa mengolok seperti itu. Dengan Hara pun aku tidak seperti itu. Gaya bercandaku sedikit berbeda dari mereka. Tapi tidak apa-apa, itu bukan penghalang persahabatan kami.

“Hyo Jin-ah, tidak apa-apa kan kalau aku ikut bergabung?” tanya Dong Hae ragu-ragu. Aku mengangguk cepat.

“Ne, gwaenchana.”

“Maaf, ini pesanan anda, Agassi.” Pelayan wanita yang tadi menginterupsi pembicaraan kami dengan mengantarkan pesanan Dong Hae.

====================

“Hyo Jin-ah..” Dong Hae membuka suara ketika mobil mulai meluncur pelan di jalan. Dong Hae mengantarku pulang karena tadi Hara ada janji bertemu dengan seseorang. Hara ini sebenarnya sengaja atau apa?

“Ne?”

“Ada apa denganmu hari ini? Apa kau ada masalah dengan pasien?”

Pertanyaan yang sama dengan Hara. Kenapa mereka bisa menanyakan hal yang sama? Ah.. mungkin karena kami bersahabat cukup lama, jadi dia tahu setiap perubahan di wajahku. Jangan besar kepala dulu Hyo Jin! santaaii..

“Gwanchana, Donghae-yah. Itu sudah resiko pekerjaan. Pasienku kali ini sedikit lebih agresif, dan tadi aku mendekatinya terlalu mendadak. Mungkin dia syok.” Jawabku sesantai mungkin.

“Jinjja?” tanyanya lagi. Karena saat ini sedang lampu merah, jadi Dong Hae menatap ke arahku.

“Ne. Aku baik-baik saja.”

“Kalau begitu ini apa?”

Aku sangat terkejut ketika Dong Hae tiba-tiba menggenggam tanganku dan mengangkatnya sampai ke dekat wajahnya. Wajahku tiba-tiba menjadi panas.

“Aniyo, ini cuma cedera biasa. Tidak apa…”

“Apa pasienmu namja?” potongnya, kali ini Dong Hae menatap serius ke mataku. Aku mengangguk pelan.

“Kau bilang ini tidak apa-apa?”

“Ne, ini tidak apa-apa. Percayalah padaku. Besok juga sudah sembuh.” Jawabku dengan detak jantung yang tidak beraturan.

[TING!]

Lampu berubah jadi hijau dan Dong Hae langsung menjalankan mobilnya tanpa melepaskan tanganku. Dong Hae-yah, apakah ini sinyal yang kau berikan padaku kalau kau juga menyukaiku?

“Pekerjaanmu benar-benar membuatku khawatir, Hyo Jin-ah…”

Aku diam. Bingung, ini pertanyaan atau hanya sekedar pernyataan.

“Bukan hanya aku yang khawatir, tapi Hara juga pasti khawatir. Semua yang menyayangimu pasti khawatir.” Lanjutnya lagi. Matanya fokus menatap jalan.

“Inilah pekerjaanku, Dong Hae-yah.”

“Kalau kau sudah tidak sanggup, berhentilah. Aku tidak mau melihatmu sampai terluka dan terjadi sesuatu yang buruk.”

Aku diam. Sibuk menata pikiranku sendiri. Aku tahu Dong Hae memang sahabatku dan Hara, tapi apa Dong Hae juga memperlakukan Hara seperti ini? Apa arti genggaman tangannya ini?

Dong Hae mengerem pelan mobilnya ketika sudah berada di depan apartemenku, dan saat itulah ia baru melepas genggaman tangannya padaku.

“Gomawoyo, Dong Hae-yah…” ucapku sambil melepaskan sabuk pengaman. Dong Hae mengacak pelan rambutku.

“Apa sih kau ini, pakai berterima kasih segala. Aku kan Cuma mengantarmu, bukan jasa yang besar.”

Aku tersenyum , Dong Hae juga. Dan lagi-lagi hatiku mencelos melihat senyuman yang manis dan indah itu..

“Mau mampir?” tawarku.

“Ani, aku langsung pulang saja. Aku mau tidur cepat hari ini.”

“Ya sudah, kalau begitu aku masuk dulu ya. Annyeong~”

“Ne Annyeong~”

Aku membuka pintu mobil dan keluar. Aku berjalan menuju ke arah lobby.

“Hyo Jin-ah..”

Aku berbalik dan Dong Hae membuka kaca mobilnya.

“Ne?”

Dong Hae terdiam sejenak menatapku. Aku jadi bingung dengan tingkahnya..

“Ada apa?”

“Ah, aniya.. tidak apa-apa. Masuklah.”

Aku sedikit mengerutkan alis. Dong Hae kemudian menutup kaca mobilnya dan memacu pelan mobilnya.

Apa maksudnya ya? Ah, molla.. yang pasti aku sangat senang sekarang. Diantar pulang sampai ke rumah dengan selamat dengan namja pujaan hati, siapa yang tidak senang? ^^

====================

Aku melangkahkan kakiku dengan mantap melewati lorong rumah sakit. Hari ini adalah hari keduaku sebagai dokter yang akan merawat Si Won. Dan hari ini aku tidak akan bertindak bodoh lagi. Aku sudah membawa seorang sekuriti dan seorang suster yang akan mengawasiku dan Si Won, meskipun mereka hanya akan berada di depan pintu.

“Suster, apa kemarin Si Won sudah makan?”

“Belum. Dia hampir tidak pernah makan semenjak dirawat di sini, dokter.”

“Mwo?” tanyaku syok.

“Iya, Dokter. Si Won selalu menendang makanan yang kami berikuan. Minum pun harus dijejali oleh sekuriti. Jadi kami juga sering menyuntikkan vitamin padanya agar dia tetap beisa bertahan.”

Si Won hampir tidak pernah makan? Kasihan sekali… tahan sekali dia tidak makan. Pantas saja dia kurus kering seperti itu…

Dan akhirnya aku sudah sampai di depan ruang karantina Si Won.

“Kalian tunggu di sini, tapi tetap awasi aku. Arasseoyo?”

Sekuriti dan suster itu mengangguk paham. Sambil menarik nafas dalam-dalam, aku membuka pintu ruang karantina itu dan melangkah masuk. Aku menemukan Si Won yang meringkuk seperti udang di lantai. Kali ini ia tidak dibabat dengan kain seperti kemarin, hanya tangannya saja yang diborgol dan kakinya dibiarkan bebas. Ia dalam posisi membelakangiku, jadi bisa kupastikan ia tidak menyadari kehadiranku.

Aku berjalan menuju ke hadapannya. Kali ini aku sudah mempersiapkan fisik dan mental untuk menghadapinya kalau-kalau dia mengamuk seperti kemarin lagi., jadi aku bisa sedikit menguasai rasa takutku. Aku pikir Si Won tidur, ternyata tidak.

“Annyeonghaseyo…” aku membungkuk ke arahnya. Aku tahu dia tidak akan membalas, tapi bagaimana pun aku akan tetap melakukannya untuk kesopanan.

Si Won menatap lurus dan kosong. Aku berlutut agar aku bisa melihatnya lebih dekat. Aku ingin ia menangkap bayanganku di matanya.

“Si Won-ssi… bagaimana kabarmu?” tanyaku lembut sambil tersenyum.

“……”

Si Won diam, tidak bereaksi sama sekali. Aku tidak akan menyerah, aku akan terus mencobanya.

“Si Won-ssi.. Karena kau sekarang adalah tanggung jawabku, aku mencoba untuk tidak takut padamu, tapi bukan berarti ingin menantangmu.”

“……..”

“Aku hanya ingin membantumu. Membantumu agar hidupmu lebih baik.”

“……….”

Aku menghela nafas. Si Won sama sekali tidak beraksi. Dia diam seperti patung. Hhhhh… tapi untunglah dia tidak menyerangku seperti kemarin.

“Si Won-ssi… bicaralah.. keluarkan sepatah kata atau apa saja… tunjukkan kalau kau mendengar apa yang kukatakan..” ucapku sepelan dan selembut mungkin sambil terus menatap ke dalam matanya. Dan aku menyadari satu hal..

Matanya sangat indah….

“…………”

“Si Won-ssi.. matamu sangat indah..” pujiku tulus. Benar, aku tidak bohong. Manik matanya memancarkan sinar yang indah. Setidaknya itulah yang ditangkap oleh indera penglihatku.

“………….”

“Si Won-ssi..”

“……….”

Hufftt.. baiklah… cukup dialogku hari ini dengan Si Won. Hmmm? Dialog? Mungkin lebih tepat disebut monolog karena Si Won sedari tadi hanya diam membisu dan hanya aku yang bicara. Aku tidak mau mengajaknya bicara lagi. Kalau terlalu banyak aku menjejalinya dengan pertanyaan, ada kemungkinan ia akan mengamuk lagi karena merasa terusik.

Aku menepuk-nepuk celana di bagian lututku sebelum berdiri, membersihkan pasir yang mungkin menempel meskipun di sana sama sekali tidak ada pasir. Aku berdiri dan mulai melangkah keluar

“Lapar…”

Aku menoleh ke arah suster dan sekuriti yang berdiri di depan pintu, memastikan siapa yang baru saja mengeluarkan suara. Suara itu terdengar sangat pelan namun jelas. Tapi baik suster ataupun sekuriti, tidak ada tanda-tanda seperti ‘baru saja mengeluarkan suara’.

“Lapar…”

Suara itu kembali terdengar, tapi kali ini lebih keras dari yang tadi. Dan aku kenal suara bariton yang khas itu.

Itu suara Si Won!

Aku berbalik dan cepat-cepat kembali ke hadapan Si Won. Aku berlutut lagi di hadapannya.

“Si Won-ssi, apa tadi kau yang bicara?”

Si Won diam, dengan tatapannya yang masih kosong.

“Si Won-ssi…”

“Aku lapar…”

Si Won bicara! Dia akhirnya bicara meskipun tidak menatapku sama sekali!!!

Aku tidak bisa menahan senyumku. Aku terlalu senang akan hal ini!

“Ne ne! Aku akan siapkan makanan untukmu! Tunggu sebentar ya!”

Aku cepat-cepat beranjak dan mendatangi suster yang sedang berdiri di depan pintu.

“Suster! Siapkan makanan untuk Si Won! Cepat!”

To Be Continue…

 

Annyeong readers ^^ *lambai-lambai*

Pertama-tama aku mau ucapin terima kasih yang banyaaaaaakkk banget sama readers. Aku bener-bener ngga nyangka kalo komen yang ada di part PROLOG mencapai angka 100+.. Aku bener-bener terharu hiks *nyender di bahu Hae* *Plakk XD*.. Jinjja gomawoyoooooo ^^.. Meskipun aku ngga bisa bales satu-satu, tapi aku baca semua komen kalian kok. Jadi segala masukan dan saran aku baca. Tenang aja  hehehee ^^..

Part 1 is published… Boleh banget KOMEN, LIKE, SARAN, dan KRITIK, but NO BASH, NO PLAGIAT yah ^^.. Maaf kalau ada typo atau ada kata-kata yang tidak sesuai EYD #apaini XD ..

Gomawoyooo ^^

139 responses to “I’m Not Crazy – [Part 1]

  1. keren,… Jarang banget bisa nemu ff yg bisa membuatku ingin terus membaca. Apalagi main cast nya bias ku, hhahai, lagipula temanya unik dan gak pasaran.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s