[KyuYoung Sequel] The Reasons

Title: The Reasons

Author : Inthahindah

Length : Oneshot

Cast :

  • Cho Kyuhyun Super Junior
  • Choi Sooyoung SNSD
  • Eomma Kyu
  • Seo Joohyun SNSD
  • Shim Changmin DBSK

Genre : AU, Romance, Humor (I hope)

Disclaimer : This story really mine!!! Diangkat dari kisah nyata….

Read first What do you want from me?

And i’m back!!!! *jeng jeng*
Kali ini buat menjawab pertanyaan yang sempat singgah dari readers di KyuYoung sebelumnya. Sekalian aku mau bilang KAMSAHAMNIDA buat atensi readers yang RCL waktu itu. You have no idea how happy i am, yeorobun!!! Seneng banget tho ff bisa diterima. Dan semoga ini juga masuk di akal. Karena, sekali lagi, ENDINGNYA NGASAL. Happy reading dah yaqqq!!!

Warning! Segala kesalahan tulisan, bahasa, dan ketidakcocokan antara judul dengan isi adalah kesalahan laptop, bukan salah author *plaaakkkk*

*** The Reasons ***

“Kyu?”

Aku berbalik dan menemukan Eomma di depan tv. Matanya masih menatap layar tv. Bagaimana dia tahu aku yang datang?

“Eo, Eomma. Belum tidur?”

“Mana bisa, bodoh! Eomma daritadi sengaja menunggumu.”

“Wae?” tanyaku heran.

“Kyu, apa karena Eomma sering mengataimu bodoh makanya jadi seperti ini? Tentu saja Eomma mau mendengar tentang Sooyoung. Kau pikir Eomma menunggumu untuk apa, eo?”

Kali ini perhatiannya sepenuhnya beralih padaku. Aku menghela nafas. Kuurungkan niat untuk segera masuk ke kamar. Akhirnya aku malah berjalan menghampiri Eomma dan duduk di sisinya. Eomma langsung mematikan tv yang tadi ditontonnya. Antusias sekali setiap membahas Soo. Tsk!

“Lalu? Apa yang terjadi, Kyu?”

Eomma menatapku penuh harap. Aku menghembuskan nafas berat. Pelan, kuceritakan pembicaraan yang terjadi antara aku dan Sooyoung beberapa saat yang lalu. Eomma mendengarkan dengan seksama, bahkan menurutku terlalu berlebihan. Kadang dia berteriak histerius, kadang memukul-mukul bahuku.

“Kenapa wajahmu begitu? Bukankah bagus, Soo bersedia menjadi pacarmu?” tanya Eomma yang mungkin menyadari betapa kusutnya wajahku.

“Eomma, aku harus bagaimana?”

“Mwoya?”

“Tadinya aku bermaksud menceritakan yang sebenarnya pada Soo. Tapi dia pasti mengira yang bukan-bukan. Makanya, aku hanya mengatakan aku memutuskan Seohyun karena dia memecahkan PSPku. Bagaimana kalau Soo tahu yang sebenarnya?”

“Yaa! Bukankah memang itu alasanmu memutuskan Seohyun? Atau kau yang sebenarnya diputuskan, Kyu? Atau kau memang menyayangi dia?”

“EOMMA!!” pekikku. Eomma hanya menertawakan ekspresiku. “Aku tidak bohong! Alasan terbesar memang karena itu! Tapi aku cukup kenal Seohyun, Eomma. Dan bukan mustahil dia akan mengatakan hal itu, penyebab pecahnya PSPku.”

Eomma mengelus punggungku. “Gwaenchanha. Semuanya pasti akan baik-baik saja, Kyu!”

Aku mengangguk. Setelah pamit pada Eomma, aku kembali melangkah menuju kamarku.

Eo?

Sudahkah aku memperkenalkan diri? Mianhada!

Aku Cho Kyuhyun. Mahasiswa super jenius, terutama di bidang matematika. Kebanyakan teman-temanku memanggil Kyu, atau GameGyu. Wae? Karena aku seorang maniak game. Aku mencintai PSPku yang selalu kubawa kemanapun aku berada. Kalau hidupku harus ku-list, PSP akan ada di peringkat kedua setelah keluargaku. Tak pernah ada yang berhasil menggeser nilai PSPku di dalam hatiku. Yah, setidaknya sebelum aku bertemu dengan yeoja itu. Yeoja itu?

Namanya Sooyoung. Aku pertama kali bertemu dengannya ketika masuk universitas. Aku melintas di depannya, dia memerhatikanku. Wajar, sebenarnya, mengingat wajahku yang keren dan tubuhku yang atletis. Hahaha! Baiklah, itu terlalu berlebihan! Yah, awalnya semua berjalan biasa saja. Kami akrab, sama seperti teman-teman yang lain. Tidak ada hal yang membuatku tertarik padanya. Hingga pada acara api unggun universitas beberapa bulan kemudian, Soo menyumbangkan suaranya untuk memvisualisasikan sebuah puisi. Itulah awal berubahnya perasaanku. Tapi aku tak pernah punya nyali untuk jujur.

Kau tahu? Sekitar empat bulan yang lalu Soo menyatakan perasaannya padaku. Dia menyukaiku. Kau bisa bayangkan? Eomma pernah bilang, hal yang paling membahagiakan adalah ketika kita tahu orang yang kita cintai mencintai kita. Dan itu memang kurasakan. Sayangnya, aku adalah namja bodoh! Dibanding mengedepankan kebahagiaanku demi Soo yang kusayang, aku malah memilih tetap menjalani hubungan dengan yeoja lain yang kala itu memang berstatus sebagai yeojachinguku.

Tapi itu sudah berlalu! Sekarang aku sudah memilikinya, Soo-ku! Itupun harus melewati beberapa hal yang hampir membuatku menyerah untuk ke sekian kalinya. Tapi tetap saja, dia sudah jadi milikku sekarang. Nae yeojachingu! Hehehe…

*****

“Kyu?”

Aku berbalik. Dia memandangku heran. Aku hanya memberikan seulas senyum.

“Waeyo? Pagi sekali.” tanyanya.

Aku mengernyit. “Wae? Aku tidak boleh datang sepagi ini ke rumah yeojaku?”

Ia tertegun. Kutangkap semburat merah sedikit memancar dari pipinya. “Neo yeoja? Eiyyy.. Masuklah!” sahutnya.

Aku mengeluarkan smirk khasku. Mau tahu salah satu alasan aku menyukainya? Karena dia tak pernah membiarkan dirinya jatuh dengan mudah dalam rayuanku.

“Kau ada kelas hari ini, kan?” tanyaku sambil duduk di atas sofa.

“Eo! Kau mau minum apa? Kau sendiri ada kelas?” Suaranya terdengar samar, karena kakikanya yang melangkah menjauh menuju dapur.

“ Terserah kau saja! Kelasku mulai jam 10. Makanya aku ke sini dulu, sekalian mengantarmu. Kelasmu jam 9, kan?”

“Eo? Bagaimana kau tahu?”

Soo menyodorkan minumannya padaku. Aku menerimanya sembari memberikan senyum terbaikku. Bukannya senang, dia malah mencibir. Benarkan? Dia merantai dirinya dengan ketat agar tak mudah tergoda.

“Kyu, aku bertanya padamu! Bagaimana kau tahu jadwal kuliahku?” Dia mengambil posisi duduk di dampingku. Aku memandangnya.

“Aneh memangnya? Kau kan yeojaku!” ucapku lagi.

Dia lagi-lagi mencibir. Aku tertawa pelan. “Awas saja kalau kau mengatakan aku yeojamu sekali lagi!” ancamnya.

Aku melongo. “Wae? Kau kan memang yeojaku!”

“Enak saja! Aku pacarmu, bukan yeojamu!” ralatnya.

“Apa bedanya, Soo?” geramku sambil mengacak rambutnya.

“Tentu saja beda, bodoh! Kau hanya boleh mengatakan itu kalau kau sudah jadi suamiku. Arra?!” tegasnya.

“Andwae! Aku lebih suka mengatakannya sekarang. Nae yeoja! Nae yeoja! Nae yeoja!” ulangku.

Pipinya memerah lagi. Aku terbahak. Kali ini dia pasti benar-benar senang.

Soo beranjak dari duduknya. Sebelum dia bergerak pergi, kutangkap tangannya. Soo menoleh padaku. “Aku serius, Soo! Kau tidak tahu betapa senangnya aku menyadari kalau sekarang kau milikku.” ucapku.

Soo diam. Kami saling pandang untuk waktu yang cukup lama.

Akhirnya, kutarik tangannya hingga tersentak dan membuatnya kembali duduk. Kali ini, Soo tepat duduk di atas pangkuanku. Tangannya yang kutarik tadi kini berada di pundakku. Soo menunduk begitu menyadari posisinya. Sebelah tanganku mengangkat wajahnya agar kembali menatapku. Tanganku yang lain menyentuh sejumput rambutnya yang menutupi pipi dan matanya.

“Jangan minta aku berhenti mengatakan kalau kau adalah yeojaku, Soo! Aku tidak akan pernah melakukannya!” Kukatakan itu dengan suara sedalam dan selembut mungkin.

Semburat pipinya makin jelas. Perlahan, Soo mengangguk. Aku tersenyum lega. Dan karena suasana sudah mendukung, aku berniat melanjutkannya. Kudekatkan wajahku ke arahnya. Soo tampak sedikit tersentak. Namun sejurus kemudian, dia memejamkan matanya. Senyum di wajahku bertambah lebar, tentunya. Dan terjadilah!!

KRING! KRING! KRING!

Suara telepon rumah itu langsung membuat Soo membuka matanya dan beranjak dari pangkuanku.

Demi Tuhan, aku kesal sekali! Siapa sih yang mengganggu kami?

“Soo, aku mau menciummu! Kenapa malah peduli pada telepon itu?” rutukku geram.

Soo hanya tertawa tanpa menjawabku.

“Yeobuseyo? Eo, Oppa! Nde….. Akh, gaereu?…. Arrasseo. Aku akan usahakan. Nde! Oppa, hanbonman! Kemarin malam, tentang Kyu, mianhe, Oppa!.. Nde!….Joha. Gomawoyo!… Ne, annyeong!”

Aku meliriknya. “Neogu?”

“Changmin Oppa!” jawabnya santai.

Aku membelalak. Untuk apa Changmin menelponnya?

“Wae? Apa yang dikatakannya?”

“Hanya ingin bertemu. Ada yang ingin dibicarakannya.” sahutnya santai.

“Andwae! Aku tidak mengijinkanmu menemuinya.” pekikku.

“Waeyo? Yaa, kau masih cemburu padanya? Bukankah sudah kukatakan kalau Changmin Oppa sudah menikah? Lagipula, ini sebagai permintaan maaf karena kau mengusirnya kemarin, Kyu.” tegasnya. “Tidak ada, Kyu! Tidak ada yang perlu kau protes. Aku sudah jadi yeojamu, ingat?!” tambahnya lagi tepat saat aku akan mengeluarkan suara.

Aku hanya bisa pasrah. Lagipula, aku cukup senang dia akhirnya mengaku kalau dia adalah yeojaku.

*****

“Gomawoyo!”

Soo melepas seatbeltnya sembari tersenyum manis. Aku hanya membalasnya dengan simpul. Kening Soo sedikit berkerut. Ia urung turun dari mobil.

“Wae, Kyu?” tanyanya lagi. Mungkin karena wajahku yang daritadi kutekuk.

“Gwaenchanha!” sahutku.

“Wae?” ulangnya. Kali ini ia menghadapkan tubuhnya menatapku.

“Aniyo! Aku hanya terpikirkan tentang Changmin itu. Soo, tak bisakah kau menolaknya?” pintaku.

Soo meringis. “Kyu, kita sudah membicarakannya.”

Aku menghela nafas berat. Tentu saja. Soo juga sudah beberapa kali mengatakannya, dia sudah berkeluarga. Tapi mau bagaimana lagi? Aku memang tidak tenang melepasnya bersama namja itu. Entahlah, perasaanku tidak enak saja tiap berpikir tentang namja itu. “Lusa, kan? Aku ikut ya, Soo?” bujukku.

Soo melihatku heran. Aku tahu sekali arti tatapan itu. “Kyu, aku tidak sedang berselingkuh. Ayolah! Kita baru berpacaran dua hari, kau sudah bertingkah seperti ini.”

“Arrasseo! Tapi dia mantanmu, Soo! Aku cemburu, kau tahu?” ungkapku akhirnya. Kurasa pipiku memerah, karena panas di sekitar wajahku. Aku membuang pandang ke luar sebelum Soo menyadarinya. “Mianhe! Pergilah. Sebentar lagi kelasmu dimulai.” Tidak ada gunanya berharap lagi. Aku cukup mengenal watak Soo untuk tahu apa jawabannya. Dia bukanlah orang yang dengan mudah mengubah prinsipnya. Satu lagi alasanku menyukainya dulu.

“Kyu…” panggilnya.

“Gwaenchanha! Aku mengerti.” Aku masih belum menatapnya.

“Kyu…” katanya lagi. Kali ini tangannya membawa wajahku kembali menatapnya. “Kau tahu aku menyayangimu, kan? Tidak ada apa-apa lagi, Kyu.” tekannya.

Kuharap dia tidak menyadari perubahan wajahku. Kau bisa bayangkan? Baru dua hari pacaran saja pipiku sudah beberapa kali memerah karenanya. Kelihatan sekali aku begitu menyayanginya. Bisa besar kepala dia!

Yang bisa kulakukan sekarang hanya memercayainya. Kuberikan senyum kecil agar ia yakin. Dan sepertinya itu berhasil. Soo akhirnya memberikan senyum lebarnya untukku. Ahh, dia semakin terlihat memesona jika begitu.

“Joha! Aku turun duluan, eo? Sebelum dosenku datang.” katanya lagi. Aku kembali tersenyum mengiyakan. Soo meraih gagang pintu dan membukanya. Aku pun mulai melepas seatbeltku.

“Eo, Kyu….” panggilnya lagi. Aku mengangkat wajahku dan menatapnya.

Cup!

Sebuah kecupan singkat mendarat di bibirku darinya. Aku termangu. Soo lagi-lagi tersenyum, tapi kali ini disertai semburat merah di pipinya. “Untuk ciumanmu yang batal tadi pagi.”

******

Aku melajukan mobilku secepat yang aku bisa. Aku cukup panik sekarang. Tadi sore ketika kutawarkan akan menjemputnya, Soo bilang dia bisa pulang sendiri, atau bahkan diantar si Changmin itu. Secara tiba-tiba, tadi dia mengirim pesan padaku dan memintaku menjemputnya. Aneh, bukan? Ada apa?

Aku memarkir mobilku dengan serampangan setelah sampai di restoran yang disebutkan Soo. Kuraih ponselku dan menghubunginya. Tidak perlu menunggu lama.

“Soo, eodie? …. Aku sudah di parkiran…. Tidak usah! Aku saja yang ke sana. Gidaryo!”

Langsung kulangkahkan kaki ke dalam. Dengan seksama, kutelusuri tiap sudut dan meja yang ada. Hingga akhirnya kutemukan Soo dan namja itu di salah satu meja yang terletak agak sudut dan sedikit remang. Cih! Pasti namja itu yang memilih tempatnya. Kuhampiri mereka dengan langkah tenang. Bagaimanapun, aku tidak mau lagi membuat malu diriku ataupun Soo di depan namja itu.

“Soo…” panggilku.

Soo menoleh, begitu juga si Changmin itu. Soo tersenyum kecil. Aku menatap namja itu, dan terpaksa menundukkan kepalaku sebagai salam.

“Oppa, gomawo! Senang sekali rasanya bisa berbincang santai seperti dulu lagi.” Aku menoleh, cukup kaget mendengarnya. Apa maksudnya, Soo? Kau menikmatinya?

“Gwaenchanha! Lain kali kita masih bisa bertemu lagi, kan?” Aku hampir terbelalak. Namja ini sengaja ya? Padahal aku ada di samping Soo. Berani-beraninya dia mengatakan hal itu.

Soo hanya tersenyum menanggapinya. “Kajja, Kyu!” ajaknya.

Aku mengangguk. Aku kembali menatap Changmin itu. “Malam itu, chosunghamnida, Changmin-sshi. Aku hanya tidak suka kau menghubungi yeojaku tanpa setahuku.” ujarku dengan tekanan pada kata yeojaku sambil menundukkan kepala. Changmin hanya mengangguk pelan. Segera kugamit jemari Soo dan menuntunnya keluar.

*****

“Pulanglah!” katanya setelah aku mengantarnya hingga di depan pintu.

Aku menarik tangannya. “Wae? Kau belum cerita kenapa tiba-tiba kau memintaku menjemputmu, Soo!”

Soo menatapku. Aku memberikan tatapan menuntut. Tak lama ia menghela nafas. Ia menarik tanganku perlahan menuju kursi terasnya. Ia memberi isyarat untuk duduk. Aku menurutinya.

“Sepertinya kau benar, Kyu!” mulainya.

“Mwonde?” tanyaku tak mengerti.

“Lain kali, kalau aku bertemu Changmin Oppa lagi, ikutlah!” sambungnya.

“Mwoya? Aku masih belum mengerti, Soo.”

“Dia… dia sudah bercerai, Kyu! Dan tadi ia mengatakan keinginannya untuk kembali menjalin hubungan denganku.” sahut Soo pelan. Ia menundukkan kepalanya.

Aku tertegun. Pantas saja tadi namja itu berkata begitu. “Lalu? Apa yang kau katakan?”

Soo diam. Cukup lama. Kuputuskan untuk menggenggam tangannya.

“Dia tahu aku denganmu, Kyu. Katanya, dia tetap akan berusaha. Makanya, aku memintamu menjemputku. Mianhe, Kyu!” katanya lagi. Suaranya sedikit bergetar ketika mengatakannya.

Aku meraihnya ke dalam pelukanku. “Kau masih menyayanginya?”tanyaku nekat, walaupun sebenarnya aku takut sekali mendengar jawabannya.

“Ani! Dia hanya masa lalu, Kyu. Aku hanya merasa bodoh tak memercayaimu. Dan seperti menghianatimu.”

Aku mengeratkan pelukanku. “Gwaenchanha! Aku hanya perlu tahu kalau kau hanya menyayangiku. Kejujuranmu yang menawanku, Soo!”

Soo membalas pelukanku. “Kyu, aku senang kau mengatakannya. Aku senang kau mengatakan kalau aku adalah yeojamu di depannya.”

*****

BUG! BUG! BUG!

Sakit sekali! Apa sih itu?

Aku mulai mengerjapkan mataku seiring sakit yang makin terasa di sekitar kakiku. Kutemukan Eomma di sana. Di sudut tempat tidurku. Tengah menendang-nendang kakiku.

“EOMMA! APA YANG KAU LAKUKAN?” teriakku.

Eomma menyengir. “Eo? Kau bangun juga akhirnya, Kyu! Eomma sudah hampir 10 menit menendang kakimu, tahu?”

Aku melongo. 10 menit menendang kakiku? “Eomma! Untuk apa Eomma melakukannya? Eomma menyakitiku.”pekikku lagi.

“Untuk membangunkanmu, bodoh! Mimpi apa sih kau? Setelah 10 menit baru sadar. Cihh!” cibir Eomma.

“Kenapa tidak gunakan cara yang lebih lembut?”  Aku mulai bangkit dan memilih duduk. Mataku masih setengah terpejam.

“Yaa! Sepertinya kau memang semakin bodoh, Kyu. Dengan kekerasan saja kau susah sadar, apalagi dengan pelan. Kau tidak malu pada Soo?”

Aku membuka mataku cepat. Kuedarkan mataku ke seluruh sudut. “Mana Soo? Kenapa ke sini tidak bilang?” berondongku.

Eomma tergelak hebat.

Aku memandangnya. Apa yang lucu? Lalu mana Soo? Aku masih mengedarkan pandangan.

“Apa yang kau cari?” tanya Eomma masih sambil tertawa. Aku merengut. Kenapa bertanya? Padahal tadi dia yang mengatakannya. “Soo? Kau mencari Sooyoung?” tanya Eomma lagi. Aku mengangguk.

Bukannya menjawab, Eomma malah makin terbahak. Aisshhh!

“Untuk apa mencarinya? Bukannya di sini sudah banyak Soo yang bertebaran? Tuh, di atas meja belajarmu. Di dindingmu. Bahkan di kamar mandi juga ada. Aigoo…. Semangat sekali mendengar nama Soo!”

Aku melongo! Eomma ku itu!

*****

“Kyu!”

“Eo?” sahutku tanpa mengalihkan perhatian dari istriku tercinta.

“Berhenti dulu mainnya, bodoh!”

“Katakan saja!” sahutku lagi.

BLETAK!!!

“Eomma! Kenapa memukul kepalaku? Sakit!” Sontak aku langsung menghentikan kegiatanku dan memandang Eomma yang memang tengah menatapku.

“Kau itu! Segitu terikatnya dengan PSP. Eomma menyesal membelikanmu. Kau sampai mengacuhkan sekitarmu kalau sudah berhadapan dengannya.”

Aku mencibir. Enak saja! Inikan karena PSPku yang sebelumnya rusak. PSP terdahulu kubeli dengan uangku sendiri ketika dulu aku kerja sambilan. Itu juga karena Eomma tak mau membelikannya.

“Wae?” tanyaku akhirnya. Berdebat dengan Eomma tidak akan membuatku menang.

Eomma mengubah ekspresinya, dari kesal menjadi memelas. “Kyu, kapan kau mengajak Soo ke sini?”

“Kenapa memangnya?” tanyaku balik. Meski sebenarnya aku tahu, tentu saja. Dari dulu Eomma selalu menanyakannya.

“Eomma ingin bertemu dengannya, Kyu! Kenapa kau tidak pernah mengajaknya ke rumah? Kalian kan sudah berpacaran lebih dari dua minggu. Eomma bosan hanya mendengar suaranya. Ajak dia kemari, eo?!” pinta Eomma.

Aku memandangi wajah Eomma. Beberapa lipatan keriput mulai tampak di wajah tuanya. Rambut Eomma juga, sebagian sudah ada yang memutih. Kontras sekali dengan kelakuannya yang kadang tak ingat umur. Sekarang saja, contohnya! Eomma mengerjapkan matanya seperti anak kucing yang minta dikasihani. Wajahnya juga dibentuk dengan sesedih mungkin. Eomma bahkan sampai memonyongkan bibirnya. Jinjja!!! Aneh sekali Eommaku.

Aku mengangguk gerah. “Arra! Lain kali akan kuajak Soo ke sini. Berhenti melakukan hal itu! Eomma sudah tak cocok lagi. Ingat umur!”

BLETAK!!

*****

“Ada apa?”

Yeoja itu menatapku. Wajahnya tampak berbinar.

“Anjja, Kyu!” ujarnya memersilahkan.

“Seohyun-ah, jangan berbelit-belit. Katakan saja ada apa!” sahutku dengan wajah datar.

“Wae? Kau takut yeojamu tahu kau menemuiku?” tanyanya mencibir.

“Ne!” jawabku singkat.

Seohyun tertegun, kurasa. “Kau… apa kau benar-benar menyayanginya, Kyu?” tanyanya parau.

“Eo! Makanya, kuminta berhentilah menghubungiku, Seo! Aku tidak mau dia mengira yang tidak-tidak.”

“Kau bohongkan, Kyu? Ini hanya karena namja itu, kan?” desaknya. Seohyun menarik-narik tanganku. Aku menyentak tangannya sehingga terlepas.

“Seohyun-ah, bukankah kau bilang sudah menyerah? Kenapa sekarang? Tolong lepaskan aku dan yeojaku.” Tekanku.

“Yeojamu? Kau tak pernah mengatakan itu ketika bersamaku, Kyu!”

“Tidakkah kau menyadarinya, Seo? Karena memang dia berarti buatku. Mianhe. Jeongmal mianhe aku tidak pernah jadi pacar yang baik untukmu dulu.”

“Kenapa dia, Kyu? KENAPA DIA? APA BEDANYA DIA DAN AKU? Kenapa selalu aku yang dibuang, Kyu? Kenapa? Apa salahku?”

Seohyun terisak.

Aku termangu.

Selama ini, dia tak pernah menunjukkan sisi ini padaku. Yang mencuat ke permukaan selalu Seohyun yang keras dan egois. Tak pernah sekalipun dia terlihat lemah.

Aku duduk di sampingnya. Perlahan kuelus punggungnya. “Kau tidak salah! Hanya saja hatiku memilihnya. Mianhada, Seohyun-ah!”

“Apakah sejak masalah namja itu?” tanyanya lagi. Seohyun menatapku tajam. Matanya penuh dengan riak-riak air bening yang beberapa masih mengalir.

“Ani! Bahkan sebelum aku bersamamu. Hatiku tetap singgah di sana, di tempat dia berada.”

Seohyun menutup wajahnya. Kembali menangis.

Aku tak kuasa melihatnya seperti itu. Akhirnya kuraih bahunya dan membawanya masuk ke dalam dekapanku. Dan ia melepaskan tangisnya dengan kencang kala itu.

“Kyu, aku… aku hamil….”

*****

“Soo, eodisseo?”

“Aku di kampus. Wae?” sahutnya dari seberang sana.

“Waeyo? Ini sudah pukul 4 sore.”

“Latihan dance!”

“Mwo? Sejak kapan kau ada jadwal dance hari ini? Setahuku jadwalmu baru kemarin, dan Selasa nanti.”

“Sebentar lagi ada lomba.”

Aku makin mengernyit. Sepertinya ini bukan hanya perasaan. “Waeyo, Soo? Suaramu berbeda. Ada masalah?” selidikku.

“Eopsoyo! Sudah ya, Kyu. Aku harus latihan lagi.”

“Chankamman! Kau selesai jam berapa? Biar kujemput!”

“Dwesseo!”  Tut! Tut! Tut!

Aneh sekali!

*****

Dia tidak ada!

Padahal Soo bilang dia masih latihan di kampus, kenapa tidak ada?

Lagi-lagi, aku merasa ini bukan sekedar perasaan. Satu minggu ini Soo seperti menjaga jarak denganku. Kalau dulu aku jemput setiap pagi, dia pasti menyambutku dengan sumringah. Beberapa hari ini dia biasa saja. Bahkan kemarin dia beralasan tidak akan kuliah. Saat kukatakan akan menjagainya di rumah, dia malah menyuruhku pergi.

Lalu, masalah telepon. Biasanya setiap malam dia pasti mengirimiku pesan selamat tidur. Sekarang? Jangankan pesan., telponku saja jarang diangkat. Saat pagi kutanyakan, alasannya selalu sama, ketiduran, ponsel di-silent.

Ada apa? Apa aku melakukan sesuatu yang salah? Atau karena aku terlalu mengikatnya kah? Aku juga tidak bermaksud seperti itu. Tapi jika sudah menyangkut Soo, aku selalu saja ingin memonopolinya. Apa dia mulai bosan karena sikapku? Ayolah! Ini belum 40 hari (?).

Tiba-tiba, pikiran itu datang.

Apakah mungkin ini ada hubungannya dengan… Changmin?

*****

“Kyu, etteo? Kau sudah mengajaknya, kan?”

Aku memandang Eomma yang tengah membereskan piring-piring sisa makan malam. Tidak satu kata pun keluar dari mulutku setelah menelepon Sooyoung beberapa jam yang lalu. Di otakku masih berseliweran pertanyaan seputar dirinya.

“KYUUUUUUUUU!” teriak Eomma di telingaku, yang dengan sukses membuat semua yang kupikirkan menghilang entah kemana.

“EOMMA! KENAPA TIDAK BUNUH AKU DENGAN PISAU SAJA? EFEKNYA LEBIH TERASA DARIPADA HANYA SEKEDAR BERTERIAK DI TELINGAKU!” amukku.

“Yaa! Kenapa kau yang marah? Harusnya Eomma yang marah karena kau acuhkan.” balas Eomma.

“Wae? Kenapa harus aku yang mengalah? Kenapa aku tidak boleh marah juga? Eomma yang menyiksaku.” sahutku sengit.

Eomma mengeluarkan smirk yang dicurinya dariku. Aku sudah tahu pasti apa jawabannya. “Naega, neo Eomma! Kalau kau melawan, Eomma kutuk kau jadi Kyu Kundang *abaikan saja kalimat ini*!”

Benar,kan? Selalu mengatakan itu setiap aku memprotes kenapa aku tidak boleh emosi mengahadapi Eomma.

“Yaa! Kau belum jawab pertanyaan Eomma.” kata Eomma lagi sambil menghempaskan tubuhnya di sampingku.

“Mwo? Mwoya?” tanyaku bodoh.

“Cihh! Bagaimana anak ini bisa menang olimpiade matematika sedangkan otaknya begini?” ucap Eomma lirih, YANG TETAP TERDENGAR KARENA DIA SENGAJA MENGATAKANNYA DI TELINGAKU.

“Eomma! Bagaimana Appa bisa jatuh cinta padamu?” tanyaku skeptis.

BLETAAAKKK!

Aku hanya bisa meringis menerima perlakuan semena-mena yang memang sudah biasa kuterima.

“Jawab pertanyaan Eomma!” bentaknya.

“Makanya kutanya tadi, apa yang Eomma tanyakan?” Kuelus-elus bukti kekerasan yang sudah Eomma tinggalkan di kepalaku tadi.

“Kau sudah mengatakan kalau Eomma ingin bertemu Soo?” tanyanya yang membuat aku kembali mengingat Soo dan perubahannya.

Aku menggeleng dan langsung memasang tampang manyun. “Eomma, Soo sepertinya menyembunyikan sesuatu dariku.”

“Mwosun niriya?” tanya Eomma dengan kening berkerut.

Aku kemudian menceritakan semuanya pada Eomma.

“Mungkin dia sedang datang bulan?” tebak Eomma.

“Mwo?” sahutku tak mengerti.

“YAA! Neo jinjja… apa di sekolah dulu kau tidak belajar kalau seorang yeoja akan mengalami turun naik emosi yang kentara ketika tengah datang bulan? Eomma heran bagaimana kau bisa lulus sekolah, Kyu!!” cibir Eomma.

Dan wajahku langsung cerah. Kenapa aku tidak terpikirkan hal itu sebelumnya?

Aku langsung mencium pipi Eomma, yang berakibat terbentuknya sebuah blackhole berisi deretan benda putih dengan semacam senjata merah muda dan reproduksi air yang berlebih (baca : menganga). “Kkalke, Eomma! Gomawo!”

*****

Sudah lebih dari 10 kali aku menghubunginya. Tetap saja tidak diangkat. Dan aku tetap mencobanya. Dan akhirnya, pada percobaan ke 17, aku tak lagi mendengar nada sambung, tapi suaranya.

“Waeyo, Kyu? Aku lelah sekali.” sahutnya dengan nada yang terdengar kesal.

“Mianhe, Soo! Aku hanya khawatir saja. Aku tadi menjemputmu ke kampus, tapi kau tidak ada.”

Aku melangkah pelan menuju pintu rumahnya. Hanya ingin membuat kejutan.

“Mianhe! Mungkin aku sudah pulang saat kau jemput. Na waenchanha!”

“Gaereu? Dahaengida! Neon jigeum eodie?” tanyaku sambil mengayunkan tangan akan memencet bel rumahnya.

“Nan? Aku menginap di rumah Yuri.”

Dan terjatuh terkulailah tanganku!

“Jinjja?” Aku berusaha menghilangkan nada heran dan tak percaya dari suaraku.

Eo!”

“Eo! Kukira kau di rumah. Aku baru saja mau ke rumahmu.”

“Mianhe, Kyu!”

“Gwaenchanha! Aku hanya… Eommaku ingin bertemu denganmu, Soo. Hari Minggu ini dia mengundangmu ke rumah kami. Eotte?” tanyaku.

“Akh, gaereu? Aku tidak berani berjanji. Kami sedang dalam masa latihan ekstra untuk persiapan lomba. Sampaikan salam maafku pada Eommamu. Aku tutup ya, Kyu! Aku benar-benar lelah!” KLIK!

Aku belum mengatakan apa-apa!

Dan lampu rumahnya mati.

Kuralat, DIMATIKAN!

DAN AKU BAHKAN BELUM SELANGKAHPUN PERGI DARI RUMAHNYA!

Bagaimana bisa lampu rumah mati hanya di ruang tamu dan lantai atas saja jika yang punya rumah berada di rumah orang lain?

Untuk apa Soo berbohong padaku?

*****

Aku benar-benar tak habis pikir apa yang sebenarnya terjadi.

Ini minggu kedua Soo mengabaikanku. Dan ini satu minggu setelah aku meneleponnya di depan rumahnya dan dia berbohong padaku tentang keberadaannya. Dan selama satu minggu ini aku berhasil mengikutinya. Beberapa kali. Dan yang kutemukan benar-benar membuatku sakit. Tebakan terakhirku benar!

Soo… dan Changmin!

Beberapa kali aku mengikuti Soo yang bertemu dengan Changmin. Bahkan Changmin sudah menginjakkan kaki di sofa kebesaranku di rumah Soo. Bagaimana kau bisa melakukannya setelah kau mengatakan kalau hanya ada aku di hatimu, Soo?

Aku tak pernah berhenti menghubunginya. Kurasa cintaku padanya terlalu besar untuk menyadari kalau sekarang aku tengah dikhianati. Bahkan saat dia tengah bersama Changmin pun aku tetap menghubunginya. Tapi tetap saja. Hingga akhirnya kuputuskan hanya mengirimkan pesan saja.

To : Nae Yeoja ^-^

          Waeyo, Soo? Aku benar-benar tidak mengerti. Apa kau tidak merasa kita saling menjauh? Kita perlu bicara.

*****

“Mau kemana?”

Aku menghentikan langkahku dan menatap Eomma. “Bertemu Soo!” jawabku singkat.

“Eo, jeongmalyo? Ajak dia ke sini ya, Kyu! Eomma akan memasak makanan enak.” pinta Eomma dengan wajah berbinar.

“Semoga saja akhirnya baik, Eomma!” sahutku lirih.

“Nde?” tanya Eomma.

“Gwaenchanha! Akan kuajak kalau dia tidak sibuk.” sahutku sambil tersenyum.

Aku kembali membuka pesan itu untuk memastikan bahwa aku tidak sedang berkhayal.

From : Nae Yeoja ^-^

          Kita bicarakan di café X jam 10 nanti.

Selama dalam perjalanan aku was-was memikirkannya. Apa yang akan terjadi? Apakah akhirnya Soo akan jujur tentang Changmin? Siapa yang akan Soo pilih? Aku? atau malah si Changmin itu?

Dan lagi-lagi! Di tengah kemelut hatiku, aku kembali terganggu. Ponselku bernyanyi pertanda ada sebuah pesan masuk. Aku mengernyit. Dari Eomma. Meski aku menduga pesan itu hanya berisis omelan Eomma yang mengharuskanku mengajak Soo, aku tetap membukanya. Dan membelalakkan mataku!

From : Eomma

          Eomma tidak mengatakannya padanya. Tapi kenapa kau berbohong, Kyu? Soo sekarang sedang di rumah. Siapa yang sebenarnya kau temui?

Sontak kubanting stir dan mengubah arah tujuan awalku.

*****

“Apa yang kau lakukan?”

Soo sepertinya terkejut menyadari keberadaanku. Dia menjatuhkan beberapa lembar kertas dari tangannya. Atau foto?

“Kyu,…” katanya terbata. “Ani! Aku… aku hanya penasaran… seperti apa kamarmu. Jadi kuputuskan datang dan…”

Kuedarkan mataku ke sekeliling kamar dan menemukan perubahan. Foto-foto Soo yang kutaruh di bawah meja yang dilapisi kaca sudah lenyap. Begitu juga fotonya yang tengah melamun, yang menurutku paling natural dan manis. Foto itu sengaja kupasangi pigura dan kutaruh di samping komputer di atas meja. Dan sekarang pigura itu kosong, tidak ada apa-apa.

Yang kentara terlihat mataku adalah tumpukan foto di dinding di depan kasurku. Foto Soo dengan beragam ekspresi yang kubuat berbentuk hati raksasa. Yang selalu jadi bahan ejekan Eomma tiap masuk ke kamarku. Sekarang hati itu pun sudah terbagi. Tak lagi berbentuk. Entahlah foto-foto yang ada di kamar mandi.

Aku berjalan menghampirinya. “Apa yang kau lakukan dengan foto-foto itu?” tanyaku sembari memerhatikan beberapa foto yang berserakan. Soo cepat-cepat memungutnya.

Aku melangkahkan kaki menuju pintu kamar dan segera menutupnya. Dan menguncinya.

“Apa yang kau lakukan?” tanya Soo heran.

“Menyelesaikan masalah. Dan kau belum jawab pertanyaanku, Soo!” ucapku datar.

Soo menghela nafas berat. “Nado!” jawabnya pelan, dan tegas.

“Mworago? Bukankah kau mengajakku bertemu di café? Kenapa kau malah ke rumahku? Dan mengambil fotoku?”

“Ini fotoku, Kyu! Dan aku tak mengijinkanmu memilikinya.”

“Wae? Kau yeojaku, Soo! Dan itu hanyalah foto.” tanyaku. Hatiku benar-benar sakit sekarang. Kuberanikan diri mendekatinya.

“Geumanhae!”

“Mwo?”

“Berhenti menggunakan kata itu, Kyu! Jangan ucapkan lagi.” tekannya.

“Apa maksudmu?” Kuraih pergelangan tangannya, meskipun hatiku sudah sangat berdebar.

“Ayolah! Kurasa kita bukan anak kecil lagi, dan tidak bodoh!”

Aku mengernyit. “Jadi kau benar-benar memilih namja itu?” tanyaku parau.

“Mwo?” kali ini keningnya yang berkerut.

“NAMJA ITU, CHANGMIN! KAU MEMILIH UNTUK KEMBALI PADANYA, KAN? AKU MELIHATMU PERGI DENGANNYA, SOO. BERKALI-KALI!!” amukku akhirnya. Bagaimana aku bisa bertahan jika cintaku dianggap tak layak?

Dan itu bukan ekspresi yang kuharapkan. Atau kuperkirakan. Soo tidak tampak merasa bersalah, SAMA SEKALI. Ia justru tertegun, cukup lama. Akhirnya ia menghela nafas, dengan sangat tenang. Kuulangi, SANGAT TENANG!

“Kau sudah melihatnya?” tanyanya pelan dan dalam.

Aku mundur beberapa langkah. Kujatuhkan tubuhku di atas kursi belajarku. Kakiku rasanya  sudah tak sanggup lagi berdiri.

“Wae, Soo? Wae? Harusnya kau jujur padaku dari awal kalau kau memang memilihnya. Kau menyakitiku terlalu jauh.” rintihku. Aku menunduk, tak mampu menatapnya lagi.

Soo berjalan mendekatiku. Dia meremas bahuku pelan. Kemudian, ia berjongkok di depanku. “Mianhe, Kyu! Maaf aku melukaimu seperti ini. Tapi aku akan menjadi orang yag paling jahat jika tetap bersamamu. Mianhe.”

Soo menggenggam tanganku. Aku menatapnya. “Kenapa baru sekarang?”

“Karena aku baru punya keberanian. Karena sebelumnya aku masih belum rela melepasmu. Jeongmal mianhe, Kyu!”

Soo berdiri. Perlahan, ia mencoba melepas genggamannya dariku. Aku berusaha menahannya sebisaku. Namun pada akhirnya aku melepasnya. Jika memang namja itu bisa membuatnya bahagia, biarlah!

Kudengar kenop pintu kamar berputar. Aku enggan berbalik. Begitu kusadari dia pergi, aku pasti akan kembali menahannya. Kuputuskan untuk tetap diam dan menatap lantai.

“Kyu, berjanjilah padaku!” Suaranya bergetar.

“Aku mendongak tanpa berbalik. “Mwoya?”

“Berjanjilah kau akan menikahinya! Berjanjilah, Kyu!”

BLAM!!!

Apa itu tadi?

Dan kesadaranku kembali.

Aku segera berlari menyusulnya ke luar.

“Soo, Chankamman!”

Kutangkap pergelangan tangannya. Dan aku melihatnya. Aku melihat air matanya yang tumpah lagi karena kebodohanku.

Kutarik Soo kembali memasuki kamar dan menguncinya. Aku hanya tidak ingin Eomma mendengarnya, meski akhirnya Eomma akan mengetahuinya dari mulutku sendiri. Tetap saja. saat ini, ini hanya antara aku dan Soo!

Aku memeluknya. Membiarkan ia menumpahkan tangisnya di sana. Entah bagaimana, aku selalu memeluknya di saat-saat menyedihkan. Sebelumnya dan sekarang, karena masalah yang sama.

Cukup lama kubiarkan ia di sana, di dalam jangkauan tanganku. Dan Soo tak hanya menangis. Aku merasakan cintanya. Ia juga memelukku dengan erat. Sesekali ia melayangkan pukulan kecil ke dadaku di sela tangisannya.

“Kenapa kau melakukannya, Kyu? Kau menghancurkannya! Kau menghancurkan masa depannya!” rintihnya.

Jujur saja, saat itu aku berusaha keras untuk tidak tertawa!

“Aku tidak menghancurkan siapa-siapa.” sahutku santai.

Soo melepas pelukannya. “KAU MENGHAMILINYA! KAU MENGHAMILI SEOHYUN, KYU! AKU DI SANA KETIKA DIA MENGATAKANNYA…”pekiknya.

Dan aku tak mampu bertahan lagi.

“BWAHAHAHHAHA!”

Aku berusaha untuk tak terlalu menikmati kesalahpahaman ini. Sedikit banyak aku mulai mengerti kenapa dia memilih bersama Changmin. Soo melongo.

“Ini bukan hal yang pantas untuk kau tertawakan, Cho Kyuhyun!” tekan Soo sarkastis.

Kontan aku menghentikan tawaku. Ini kali pertama ia mengucapkan nama lengkapku. Dan aku tahu artinya.

“Ini hanya salah paham.” kataku datar.

“Aku di sana, Kyu!” tegasnya lagi.

Aku menggeram. “Karena itu, Soo! Jika kau di sana hingga akhir, kau pasti mengerti ini hanya salah paham.”

Soo diam. Kurasa kali ini dia merasa kalau ini cukup aneh. Dia menatapku lagi, menuntut penjelasan.

“Baiklah! Aku tidak mengira akan seperti ini. Salahku tak mengatakannya dari awal. Sebenarnya, PSP bukanlah satu-satunya alasan aku memutuskan Seohyun. Saat itu, aku ke rumahnya karena dia bilang dia sakit. Ketika aku datang, Seohyun tampak kaget. Aku lebih kaget, ketika secara tiba-tiba ada namja yang ke luar dari kamarnya hanya mengenakan celana. Meski aku tak menyayanginya, bagaimanapun dia adalah pacarku. Menemukannya seperti itu cukup membuatku kaget. Aku tak ingin menanyakan apa-apa. Ekspresi wajahnya saat itu sudah cukup menjelaskan. Dan aku memilih untuk pulang. Saat itulah Seohyun menahan tanganku yang tengah memegang PSP. Dan terlemparlah PSP itu. Dan kemarahanku langsung memuncak. Mianhe! Harusnya aku mengatakan dari awal masalah ini.” tukasku.

Soo memandangku dalam diam. Aku menyentuh rambutnya dan mengelusnya lembut.

“Katakan sesuatu!” pintaku. Sakit rasanya jika dia bahkan tak ingin menolerir kejujuranku.

Soo menghela nafas. “Lalu kehamilannya? Apa itu hanya kebohongan?”

“Ani! Itu serius. Seohyun memang hamil. Kkeut namja ttaemune, Soo! Bukan karena aku. Kau hanya mendengar bagian hamil saja, kan?”

Soo manyun. “Mendengar itu saja aku sudah stress, Kyu! Aku tak’kan sanggup mendengar lebih jauh. Apalagi kau memeluknya. Kau tidak tahu saja bagaimana rasanya!” katanya dengan ekspresi yang sangat lucu.

Aku tertawa. “Tentu saja aku tahu! Kau kira aku tidak sakit melihatmu dengan Changmin bodoh itu, eo?” Aku mengacak rambutnya. Soo makin memanyunkan bibirnya. “Seohyun tak pernah serapuh itu sebelumnya. Makanya aku memeluknya spontan. Aku tidak bermaksud apa-apa.” lanjutku lagi.

Soo tak merespon lagi. Dia hanya diam dan menunduk.

Aku meraih jemarinya dan mulai menautkan satu demi satu jemariku dengannya. “Kau… apakah karena itu kau berubah? Karena kesalahpahaman itu? Apakah karena itu kau memilih Changmin?” tanyaku sambil mengangkat dagunya. Kutatap dalam ke maniknya.

Soo memerah. Tapi ia tak menampiknya. Ia menganggukkan kepalanya. Anggukan yang tentu membuatku melambung. Itu berarti dia memutuskannya karena perasaan wanitanya. Yeojaku ini!

“Lalu, setelah semuanya jelas, apa kau akan tetap memilihnya?” sambungku.

“Apa kau akan menikahi Seohyun?” tanyanya.

Aku diam sejenak, kemudian berkata, “Aku belum memutuskan apa-apa. Tapi mungkin saja! asal kau berjanji kau akan bahagia bersama Changmin.” Aku mengatakannya dengan tulus. Entah darimana datangnya jawaban maha bijaksana itu. Sepertinya Siwon meminjamkan memori otak bagian kebijaksanaannya (?) padaku.

Soo menatapku termangu.

Bagus! Bukan hanya aku yang heran.

Perlahan bulir air mata kembali turun ke wajahnya. “Wae ddeo?” tanyaku panik sambil menangkup wajahnya.

Bukannya menjawab, Soo malah menghujaniku dengan pukulan dan teriakan.

“NEO PABOOYA! KAU TIDAK SADAR SETELAH INI SEMUA? AKU MENYAYANGIMU, KYU. KAU PIKIR AKU RELA MELEPASMU, EO?”

“Yaa! Appo, Soo! Yaa! Soo! Yaa!”

Aku berusaha menghindari pukulan-pukulan Soo sebisa mungkin. Kucoba menangkap tangannya. Tapi dia malah menggunakan kakinya untuk menghajarku.

“BWAHAHAHAHAHA…”

Aku sontak menoleh ke asal suara. Diikuti juga tatapan Soo. Dan menemukan penampakan di jendela kamarku.

“EOMMA! APA YANG EOMMA LAKUKAN?” teriakku.

Eomma menghentikan tawanya. “Eo? Hehehhe…. Eomma kebetulan lewat. Tadinya mau bilang makan siang sudah selesai. Tapi malah keasyikan nonton sinetron di sini. Hehehhe… “ jawab Eomma cengengesan.

Demi Tuhan! Bagaimana Eomma ku bisa seperti ini?

Aku mengalihkan pandang ke arah Soo. Soo menundukkan kepalanya.

“Kami sudah baikan. Pertunjukan selesai. Sekarang bisa Eomma kembali ke dalam?” pintaku dengan geregetan.

Eomma mencibir. “Cihh! Cepat sekali. Padahal kau belum babak belur.” bisiknya, yang lagi-lagi SENGAJA DIKENCANGKAN. Soo sontak menahan tawa mendengarnya.

“EOMMA!”

“Arrasseo!”

Eomma kemudian menghilang dari peredaran. Kembali tertinggal aku dan Soo dalam keheningan.

Aku memandangnya. Soo masih menunduk.

Kusentuh pipinya dan mengelusnya. “Soo….” panggilku, berharap ia mengangkat wajahnya dan menatapku. Dan Soo melakukannya. Ia menatapku. “Kau masih yeojaku, kan?” tanyaku lembut.

Dan pipinya langsung memerah.

Aku tersenyum simpul. “Jangan lakukan ini lagi padaku! Aku tersiksa, Soo. Kita harus membicarakannya jika memang ada yang salah atau aneh. Aku tidak mau kehilanganmu karena kesalahpahaman lagi.”

Soo mengangguk pelan.

Aku meraihnya lagi dalam pelukanku. Kali ini terasa hangat. “Bagaimana kau bisa mengatakannya dengan tenang?”

Soo mengangkat kepalanya menatapku. Keningnya berkerut. “Aku menuduhmu berselingkuh, dank au tak mengelak. Padahal aku jelas tak punya bukti kalau kau memang benar-benar berselingkuh. Dan kau memintaku bersamanya dengan tenang. Padahal kau tersakiti juga karenanya. Bagaimana bisa?” tanyaku heran. Daritadi aku memikirkannya, apa karena dia putus asa?

“Karena itulah cinta, Kyu! Tak menuntut apapun kecuali wujudnya sendiri. Dan tak member apapun selain wujudnya. Karena aku mencintaimu, aku justru harus melepasmu.” katanya pelan.

Aku tertegun.

Bertambah lagi sebuah alasan kenapa aku bisa begitu menyayanginya. Karena ketulusannya. Karena cintanya. Aku kembali memeluknya penuh kasih.

Aku menyentuh dagunya dan membawanya mendekat ke arahku. Soo mulai memejamkan matanya. Jarak antara kami semakin berkurang. Aku memerhatikannya. Soo terlihat makin bersinar di mataku. Dan setelah jarak itu menguap, aku pun memejamkan mataku. Meresapi lembutnya bibir Soo di bibirku. Menikmati tiap sentuhan yang terjadi di sana.

“KYU, JANGAN LAMA-LAMA! KAU BISA MEMBUNUH SOOYOUNG! BIBIRNYA BISA JONTOR…”

Kami sontak menghentikan ciuman itu. Soo bahkan berusaha melepas pelukanku. Tapi dengan erat kutahan dia di dalam dekapanku.

Aku kembali menatap ke jendela.

Eomma langsung cengengesan tak jelas sambil menggaruk-garuk kepalanya. “Kelepasan, Kyu. Hehhee…..”

“EOMMAAAAAA!”

*** The Reasons FIN ***

Sebagai bonus, aku mau kirim doa ke Tuhan :
1. Tuhan, terima kasih atas berkahmu yang memberikanku keberanian menuliskan kisah menyedihkan ini…
2. Tuhan, tolong berkahi readers yang udh singgah dan ninggalin jejaknya biar mereka sering-sering OL and mantengin tiap tulisan aku *kakakka*
3. Tuhan, tolong maafkan mereka yang terus nyuruh buat sequel karena ku harus bekerja keras menahan air mata akibat luka terpendam yg kembali menganga *plaaaakkk*

Akhir kata, semoga ini memuaskan!!!
Dan tolong kunjungi ff ku yang lain yaaaqqqq…….

75 responses to “[KyuYoung Sequel] The Reasons

  1. Daebak thorr,,keren,,,

    Tuh Eomma kyu knp gitu,,keke,,,,jdi ngebanyangin eomma kyu kya gitu dikehidupan nyata,,,,

    KyuYoung Jjang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s