Seasons of The Lucifer [CHAPTER 6] part.A

Seasons of The Lucifer

Title:Seasons of The Lucifer

Author: LucifeRain / Aya

Genre: romantic – comedy, Friendship, AU

Leght: Chaptered

Ratting:General

Main Cast:

Cho Minhye a.k.a Cho Minhyun

Kim Kibum a.k.a Key

Choi Minho a.k.a Minho

Lee Taemin a.k.a Taemin

Kim Jonghyun a.k.a Jonghyun

Lee Jinki a.k.a Onew

Support Cast:

Jung Krystal

Lee Seungri

 

Aduhhh… maap banget ya baru sempet ngepost sekarang T_T. Karena nggak mau di tabok gara gara Key Cuma nyempil2 doank. So, ini FULL PART-nya Key Minyun Minho.

Mulai dari part ini aku sering mainin waktu, perhatiin ya readers ^_^

 

SOL [teaser], SOL [chapter 1], SOL [chapter 2], SOL [Chapter 3], SOL [Chapter 4], SOL [Chapter 5]  and others

 

______________

 

Lucifer

Seseorang berwajah malaikat namun seperti iblis

Hati yang egois

Cinta yang tulus

Kesucian yang keliru

Mengancam

Berulang kali salah seperti malaikat dan iblis

Mempunyai perasaan yang tidak jelas

Lucifer adalah keberanian

—————————–

 

–         Malam yang sama dengan peristiwa Jonghyun–Naomi –

 

Atmosfir kaku menyelubungi mereka, sebelum Key menyatukan Bibirnya dengan Minhyun kemudian melumatnya pelan.

 

Mata Minhyun membulat, tubuhnya menegang tak berkutik sedikitpun. Detik detik paling mendebarkan ketika Minhyun merasa ciuman Key teramat dingin meskipun dapat ia lihat namja itu memejamkan matanya, seakan terlihat penuh perasaan. Sebenarnya, Yang mana wajah asli Key?

 

Minhyun benar benar membeku ketika sudut matanya menyorot siluet seseorang. Bayangan itu semakin lama semakin jelas, menarik seluruh jiwa yang tadinya berimajinasi liar. Fokus yang mulai kembali itu menohok Minhyun melalui kenyatan bahwa….

 

Choi Minho Menyaksikan segalanya….

 

Minhyun mendorong bahu key lalu menamparnya penuh emosi. Bahu Minhyun naik turun, selain karna kehabisan nafas ia juga terlalu gugup menghadapi kenyataan dan memikirkan cara melewati situasi selanjutnya.

“YOU’RE NUTS!”desis Minyun penuh penekanan. Ia tak habis pikir kenapa sekarang namja itu terdiam.

Minhyun beranjak pergi, bukan ke kamarnya karena Minho berdiri di ujung lorong itu. ia memilih memasuki lift namun sebelumnya sempat dia tangkap sinar sendu di mata sayu Key. Lagi lagi, mata yang menyimpan kepiluan itu berbicara….

 

Key merebahkan punggungnya di atas sofa, ia memejamkan matanya lalu menaruh lenganya ke atas kening. Sejurus kemudian namja itu mendesah pelan.

Tap… Tap… Tap…

Terdengar derap langkah kaki yang semakin lama semakin jelas, akan tetapi bunyi gesekan tapak sepatu dengan lantai itu sama sekali tidak mengusik konsentrasi Key. Masih dalam posisi yang sama….

 

“KENAPA ADA YEOJA DISINI?!!!” bentak Key dengan mata yang masih terpejam.

Hening….

irama langkah kaki itu tak terdengar lagi. Namun yang di tangkap indra pendengaran Key adalah helaan nafas berat seseorang. Orang yang tau semua seluk beluk kehidupa nya.

“apa yang kau lakukan?” tanya Minho pelan, dalam diam Key merasa pertanyaan itu menghakiminya.

 

“seharusnya aku yang bertanya seperti itu, kau pasti sudah tau semuanya kan, Choi Minho?! Apa yang kau lakukan?!!” tuding Key tajam,

Lagi lagi Minho menghela nafas -sesuatu yang tak pernah ia perlihatkan pada siapapun. Kelemahanya adalah menghadapi Key, 17 tahun ia mengenal namja itu tapi hingga saat ini dia belum memahami sifat asli seorang Kim Kibum.

karakter key selalu berubah dan tak ada satupun Sifat yang paling dominan. Bahkan ia ragu kalau ekspresi yang kerap kali Key perlihatkan benar benar mewakili perasaanya. dia lebih mirip orang yang memasang topeng dengan ekspresi berlawanan.

 

“lalu apa yang harus aku lakukan?” pertanyaan bodoh. seorang Choi Minho yang biasa memutuskan sendiri tindakanya, Kini membuka kebimbangan dalam pikiranya sendiri.

 

“aku ingin dia di sini….”

 

Suasana hening seketika, Ucapan Key seakan hilang ditelan semilir angin yang menyeruak masuk dari balkon samping karena pintunya tak tertutup. Minho benar benar tak habis pikir, sebenarnya apa yang diinginkan Key?

 

“apa yang kau pikirkan?!!” tandas Minho, nyaris menyerupai bentakan “sebenarnya apa yang ingin kau lakukan?!”

 

Key membuka matanya, ia menegakkan punggung lalu mendelik tajam ke arah Minho yang berdiri di depan sofa.

“KALAU KU BILANG AKU INGIN MENANTANG MASA LALU, KAU MAU APA?!!” bentak Key keras, ia beranjak meninggalkan Minho yang masih mematung dengan gurat kekagetan.

 

~*~*~*~

19.00 KST

 

Key membuka pintu mobil buggati Veyron miliknya, ia bergegas masuk kemudian melesat meninggalkan jalan belakang SShall setelah membuka pintu rahasia itu dengan sidik jarinya.

 

Di bawah penerangan lampu jalan, sebuah mobil melaju dalam sekejap mata. Jarum speedometer menanjak tajam, Key memacu mobilnya dengan sangat brutal.

Bukan tanpa alasan ia mengambil tindakan ekstrim ini. Sekarang ia mencoba mengalihkan semua pikiran agar fokus mengemudi mobil yang sudah lama tak dikendalikanya ini. Tentusaja dengan tujuan membuat alibi untuk diri sendiri.

 

“sial! Kenapa mahluk setan itu berkeliaran dimana mana” umpat Key.

Ia memacu kencang mobilnya supaya matanya tak menangkap satupun bentuk orang yang disebut yeoja. Namun secepat apapun kendaraan itu melaju, daya lihatnya masih mampu membidik bayangan mahluk terkutuk yang bernama Wanita.

 

Keringat mengucur deras dari dahinya, setiap ia melihat yeoja bayangan Minhyun langsung terlintas dalam benaknya. Key menghirup oksigen dalam dalam, ia seakan berada dalam ruang kedap udara. Nafasnya tak akan kembali normal sebelum 3 sosok gadis mengerikan itu enyah dari pikiranya.

 

Key menjulurkan tanganya ke atas dashboard untuk mengambil ponselnya. Jemarinya menari lincah di atas layar sentuh itu, tak lama kemudian nada sambung terdengar ketika ia merapatkan ponsel ke telinga.

 

“siapkan perahu, aku ingin ke ‘Breath of heaven’ sekarang juga” titah key dengan intonasi dingin.

 

Key meletakkan kembali ponselnya, sejurus kemudian Ia baru ingat kalau mobilnya di lengkapi sistem kemudi otomatis. Key menyentuh tengah setir dan muncul beberapa tulisan, seperti Keypad yang bersinar karena di bawahnya terdapat lampu.

pandanganya terlahil pada GPS di atas board speedometer, ia membuat titik merah pada tempat tujuan. Kemudian mobil itu bergerak secara otomatis dengan kecepatan tertentu dan alarm akan berbunyi jika bahaya teridentifikasi.

 

Key menyandarkan punggungnya, matanya terpejam. Ia butuh ketenangan….

 

~*~*~*~

 

Seorang anak laki laki berlari kecil di sebuah taman sambil membawa sekotak coklat. Coklat itu ia peroleh dari para penggemarnya. Bukan, dia bukan artis. Hanya seorang anak laki laki berumur 9 tahun yang memiliki ketampanan luar biasa.

Bentuk Wajahnya menarik, alisnya tebal dan lekuk matanya yang tajam sangat jarang di temui pada anak laki laki sepantaranya, karena itulah banyak perempuan yang menyukainya meski dia masih duduk di sekolah dasar. Dan satu lagi daya tariknya, dia sangat cerdas. jenius.

 

Saat ia sedang asyik berlari, tiba tiba kakinya tersandung batu. Anak itu tersungkur, kotak coklatnya terhempas membuat isinya berhamburan. Tapi ada satu bola coklat yang menggelinding mengenai ujung sepatu seorang gadis dan membuat gadis itu sadar.

 

“gwaenchanayo?” tanya seorang gadis yang mengenakan Dress putih selutut, ramput panjang hitamnya terurai indah. Satu kata untuknya, cantik.

“nan gwaenchana… tapi coklatku?” anak laki laki itu menatap miris ke arah coklatnya yang berserakan di atas pasir. Mustahil untuk memungutnya, padahal ia sangat menginginkan coklat itu.

 

“untukmu” Tiba tiba sebatang coklat terayun di depan wajah anak tadi. Ia mendongak, menatap gadis tadi yang sedang tersenyum padanya.

Entah kenapa ia merasa senyuman itu sarat akan kehangatan, lesung pipi yang terbentuk di bawah matanya mensyahduhkan garis senyum yang elok. Senyuman sederhana namun terasa mulia hingga ke muara hati. Ia memuja Mu.

 

“kamsahamnida” ucap anak itu setelah menerima coklat tadi. Sebenarnya dia bimbang namun senyum yang terpeta di paras cantik itu terlalu teduh untuk diragukan.

 

“Krystal-ah, kenapa lama sekali? Dasar bebek!” sahutan itu terdengar tiba tiba, kontan mereka menoleh ke sumber suara dan mendapati seorang yeoja berambut pendek berdiri sembari berkacak pinggang.

Krystal… bukankah itu sejenis batu mulia. Dia sungguh pantas menyandang nama secantik itu….

 

“ah, sepertinya aku harus cepat. Annyeong saengie” gadis itu menepuk puncak kepala anak laki laki di depanya sambil tertawa kecil. Ia kemudian berlari menhampiri temanya.

Dan Sepertinya gadis itu diomeli temanya karena terlihat jelas bibirnya yang maju beberapa senti. Pemandangan itu membuat anak laki laki tadi menarik kedua sudut bibirnya, ia menggengam erat coklat di tangganya kemudian berjanji untuk menyimpanya.

 

“Kibum-ah, dari mana saja? Eomma mencarimu dari tadi” seorang wanita berambut panjang menghampirinya dengan tergopoh gopoh.

“mianhamnida, eomma. Tadi aku bertemu kakak yang cantik sekali”

“benarkah? Siapa namanya?” tanya wanita itu sembari menggandeng tangan anaknya untuk menuntunya berjalan pulang kerumah.

“namanya Krystal. Aku menyukainya, Eomma.”

Anak laki laki bernama Kibum itu terus tersenyum sepanjang perjalanan. Perasaan sedihnya sudah terganti dengan rasa bahagia yang menyenangkan.

 

~*~*~*~

Mata yang terpejam itu terbuka lebar, keringat bercucuran di wajahnya, nafasnya tak beraturan. Key mengepalkan tanganya, mimpi itu lagi. pertemuan sederhana namun berakhir pada luka yang tak mampu dijamah.

Luka yang kini kembali dibuka oleh seseorang. Cho Minyun.

 

“SHIT!”

Key membanting setir, ia membelokkan mobilnya ke arah kanan dan itu berarti ia menonaktifkan sistem kemudi otomatis yang telah di rancangnya. Dia menjalankan mobilnya menuju kawasan pinggir kota, dimana terdapat sebuah gedung tertutup disana.

 

Selain ‘Breath of Heaven’ tempat ini adalah wadah teraman meluapkan kerapuhanya, Karena hanya namja yang boleh memasuki gedung itu. diskotik para gay, dimana cinta terlarang tumbuh dan berkembang.

 

Key mengangguk anggukan kepalanya mengikuti hingar bingar musik yang menyuguhnya setelah memasuki gedung. wajah ceria terukir walau sebenarnya ia muak dengan Kedok yang di pasang sendiri. Seperti menutupi musim gugur dengan musim semi.

 

“annyeong honeysweetybunnybeautylovelylulaby”

Key bergidik mendengar deretan kata yang panjangnya melebihi gerbong kereta itu, dia menoleh kebelakang dan langsung di sergap seorang namja. Namja itu mengamit lengan Key tapi dia langsung mendorong wajah namja tadi dengan telapak tanganya.

“YA! Seungri, kau menjijikkan” berontak Key di tengah pertarungan (?)

“tapi aku menyukaimu, karna kau namja ke 100-ku. My Lucky Number. Dan akan ku pastikan aku akan menjadi yang pertama untukmu, bebeh” goda Seungri.

“tidak akan, karena aku pacarnya Minho” canda Key, dan langsung membuat Seungri melipat muka. Sebenarnya ia tidak berniat bercanda tapi justru kalimat itu yang keluar. Entahlah… musim gugur juga butuh keceriaan, bukan?

Tawa melambung di tengan banyaknya pasangan tak lazim. suara itu berasal dari key dan Seungri yang masih tertawa terbahak bahak sambil menikmati minuman beralkohol padahal waktu sudah menunjukkan jam 3 pagi. Temanya yang cerewet itu selalu sukses membuatnya menimbun rasa perih untuk sesaat.

Key tertawa geli menikmati ocehan dari mulut cerewet seungri. Namun di tengah aktifitasnya, ia merasa tertarik mengamati seseorang dengan ujung matanya. Key merasa familiar dengan punggung yang membelakanginya itu.

 

Saat orang itu menghadap ke samping, dugaanan Key terbukti. Itu Taemin.

Penampilanya terasa asing di mata Key, rambut yang mencuat cuat dan pakaian yang asal asalan sama sekali bukan pribadi Taemin yang ia kenal. Key terus mengamati taemin walau mulutnya terus melambungkan tawa dan telinganya masih fokus dengan ocehan seungri.

Taemin terlihat menerima telepon, tapi ia malah mendekatkan ponselnya ke mulut. Sepertinya ia mengaktifkan loudspeaker karena lantunan musik yang menhentak keras.

 

Key melangkah mendekati Taemin, Ia penasaran dengan apa yang dilakukan Taemin. Bukankah jam segini seharusnya maknae itu tidur pulas di atas kasurnya. Lalu untuk apa dia disini dengan pakaian yang tidak normal pula?.

Samar samar Key mendengar suara wanita dari ponsel Taemin, dan percakapan itu semakin jelas ketika DJ menurunkan Volume music. Sepertinya ada pergantian DJ, tapi itu tidak penting.

 

“Taemin, cepatlah pulang! Dia menunggumu sejak tadi”

Key menautkan alis. Pulang? Kemana? Ke Dorm? Dan suara siapa itu? tidak mungkin Minhyun karena suaranya sangat lembut. Lalu siapa yang menunggu Taemin? Key bertanya dalam hati mesiki ia agak merinding mendengar suara itu.

 

Tapi pertanyaan yang memenuhi pikiranya itu harus dikubur dalam dalam karena Taemin tiba tiba menghadap ke arah Key, menyerang telak dengan sorot matanya yang tajam.

“…. Hyung” taemin menyernyitkan dahi, semburat keraguan terpeta jelas.

“… are you Gay?”

 

“yes, I’m Gay” Key tersenyum miring, memantapkan gelar yang baru diakuinya.

 

~*~*~*~

21.00 KST

Guyuran hujan memercik kaca, titik titik air yang bertemu karena hembusan angin membuat jalur sendiri hingga jatuh melewati kaca jendela bus.

Minhyun memandang pantulan dirinya pada kaca jendela yang dipenuhi rintikan air dibaliknya. Pikiranya melalang buana, mencoba menembus jawaban yang menjadi pertanyaan hatinya. Meskipun hanya berupa kemungkinan.

 

Sungguh aneh orang terpandang seperti dirinya memilih menaiki bus. Tapi ia suka berada di tengah keramaian, Meski keramaian yang asing sekalipun. Karena bila kesepian menjalari perasaanya, kekecewaan terhadap takdir itu mencuat.

 

Minhyun menghela nafas berat, peristiwa dimana Key menciumnya seakan menjadi bayangan hitam yang menguntitnya, ditambah lagi kejadian dirumahnya tadi…

 

__FLASHBACK__

 

Minhyun berlari secepat mungkin di sepanjang jalan belakang SShal, dia terus mengusap bibir dengan tangan yang ia gunakan untuk menampar Key. Tangan yang satunya mengepal keras, apa tujuan Key menciumnya?

 

Apakah Key tahu bahwa Yeoja, atau dia penyuka sesama jenis?.

 

Minhyun menghubungi sopirnya untuk menjemput di tempat yang tidak terlalu dekat dengan pintu belakang SShall, dan disinilah ia berada. Berjalan dengan gontai di tinggkat paling atas rumahnya.

Pintu ruangan didepanya dibuka oleh salah seorang pelayan yang mengekorinya. Minhyun melangkah masuk, menemui seseorang dan berharap untuk memperoleh ketenangan disana.

 

“Eomma…”

 

Wanita itu tidak menggubris, ia duduk di kursi roda dengan mata sayu yang memandang ke arah jendela padahal pemandangan di luar sangat gelap, tak ada hiasan yang memenuhi langit.

Seorang pelayan yang tadinya menyuapi makanan wanita itu, langsung membungkuk sekejap ketika sadar akan kehadiran Minhyun. Pelayan itu pergi dan menutup pintu.

“Eomma, bongoshipoyo” ujar Minhyun sambil memeluk ibunya dari belakang.

 

Wanita itu tak merespon, dia hanya bersenandung kecil. Merdu namun terdengar pilu bagi Minhyun.

“Eomma seperti hewan Nocturnal saja, beraktifitas pada malam hari hahaha” ucap minhyun diiringi tawa kaku di akhir kalimat. Wanita itu tetap tak memperdulikan Minhyun, berada dalam imajinasinya sendiri.

 

“Eomma, bicaralah” lirih Minhyun, hatinya sesak menerima kenyataan bahwa ibunya mengalami depresi berat sehabis melahirkan dirinya. Bahkan hingga sekarang ia benar benar buta dengan sentuhan hangat seorang ibu.

 

“anakku laki laki”

Air mata minhyun menetes, setiap diajak berbicara selalu kalimat itu yang keluar dari mulut ibunya.

“eomma….”

“anakku laki laki, kau bukan….” Wanita itu berujar dengan tatapan kosong.

“eomma, jangan ucapkan itu lagi”

“anakku laki laki” kepala wanita itu mengarah pada Minhyun, namun tatapanya masih kosong “kau bukan laki laki”

“Cukup Eomma, Cukup!” Minhyun melangkah pergi. Bukanya ketenangan yang ia dapat, tapi rasa kecewa terhadap takdir yang semakin meledak dalam perasaanya. Padahal ia sangat merindukan sosok seorang ibu. Mungkin, ketentraman yang sesungguhnya hanya sebuah bayang semu.

 

Ketika Minhyun menuruni anak tangga berniat meninggalkan rumah itu, derap langkah kaki tertengar ramai. Minhyun menghentikan langkahnya, tak lama kemudian terlihat seorang Pria paruh baya yang mengenakan jas formal berjalan diikuti dengan beberapa orang asistenya.

 

“Appa…”

Suasana kaku mengambil alih, tak ada pelukan hangat yang didasari kasih sayang sebagai penghapus kerinduan pasca tidak bertemu bertahun tahun. Pria itu berjalan mendekati Minhyun, ia mengangkat tanganya memberi isyarat agar para asistenya itu tidak mengikuti.

 

“mau mengobrol dengan Appa, Minhye-ah?”

Minhyun tertegun mendengar pertanyaan itu. Minhye? Bahkan nama itu terasa asing di indra pendengaranya. Kapan terakhir kali ia menggunakan nama itu?  entahlah dia sudah lupa.

 

Minhyun berjalan di belakang ayahnya, mengikuti langkah pria itu memasuki sebuah ruang kerja. dia duduk di atas kursi yang di depanya terdapat meja dengan nama Cho Kyuhyun.

Minhyun menunduk, diam diam menghela nafas, bahkan ia merasa diperlakukan seperti orang asing.

 

“kau tidak ingin memeluk Appa?”

Minhyun tersentak mendengar kalimat itu, ia mendongak dengan ekspresi tidak percaya.

Kyuhyun beranjak dari duduknya, ia berjalan kearah anak semata wayangnya yang tercengang menatapnya. hatinya teriris melihat penampilan Minhyun yang jauh terkesan normal untuk seorang gadis.

Di usianya yang Ke 17, seharusnya ia tampil cantik dengan baju penuh warna ala remaja terkini. Bukan dengan baju kedodoran dengan maksud menutupi ‘ciri khas perempuan’, bahkan tinggi badanya terlalu mungil untuk seukuran laki laki.

 

“jangan selalu berfikiran buruk terhadap sesuatu, Appa tahu kau sering berfikiran dangkal” ujar Kyuhyun. Ia merengkuh Minhyun dalam pelukanya, mencoba menyalurkan kehangatan yang tidak ia berikan selama bertahun tahun.

Sungguh, ia tidak bermaksud menjauhi anaknya itu, namun rasa bersalah itu semakin menumpuk setiap melihat kondisi putrinya.

 

“Appa senang kita bisa bertemu disini. Setiap kali Appa ingin menemuimu, pasti ada saja hambatan” tutur Kyuhyun disusul dengan tawa hangat di akhir kalimat.

Minhyun tertegun, ternyata ia salah mengira ayahnya lari dari kenyataan. Tapi dia masih tidak mengerti kenapa Ayahnya terkesan menghindar setiap kali mereka bertemu.

 

“Appa… aku masih tidak mengerti kenapa aku harus menyamar sebagai laki laki, kenapa Halmeoni tidak mau mengakuiku dan kenapa Eomma selalu berkata aku bukan anaknya. Aku tidak mengerti, Appa… kenapa?” tutur Minhyun, suranya teramat kecil namun tersirat jelas kekecewaan disana.

“sudah Appa duga, suatu saat kau pasti menanyakan hal ini” Kyuhyun menghela nafas berat, ia mengeratkan pelukanya pada Minhyun “sebenarnya… Appa dan Eomma sedarah. Cinta kami terlarang”

 

Nafas Minhyun tercekat mendengar penjelasan Appa-nya, ia tak menyangkan konflik yang berbuntut panjang ini bermula dari masalah pelik. Bahu Minhyun bergetar hebat.

“aku menderita, Appa”

 

__ FLASHBACK END__

 

Minhyun tersenyum dengan tatapan kosong. Lama lama Mungkin ia akan mengikuti jejak ibunya menjadi orang gila, menarik sekali. Mengingat masalah di Dorm, dia tidak ingin ke sana. Tapi jika dirumah sama saja ia kan membusuk, tempat itu lebih terkutuk.

 

Bus berhenti di sebuh halte, menunggu orang turun dan masuk tentunya memakan waktu. Minhyun menoleh ke arah jendela, ia menjulurkan tanganya untuk mengusap embun yang membaluri kaca tersebut. Sekejap memandang ke luar tiba tiba pandanganya berhenti pada satu titik.

 

“Jonghyun?”  Minhyun menautkan alis, ia menatap heran seseorang yang sedang berdiri di balik jendela gedung apartment.

Minhyun bisa melihat Jongyun karena gedung apartment itu dekat dengan Halte dan Jonghyun berada di lantai empat. Minhyun mengucek matanya, awalnya ia mengira itu hanya ilusi, namun sejurus kemudian ia sadar bahwa itu bukan fatamorgana.

 

Minhyun merogoh saku jaketnya lalu mengambil ponsel di sana, jemarinya menari lincah di atas permukaan layar sentuh itu. tak lama kemudian nada tunggu terdengar setelah ia mendekatkan ponselnya ke telinga. Secara intens Matanya mengawasi gerak gerik orang yang yang diduga adalah Jonghyun.

Jonghyun mengangkat panggilan Minhyun di waktu yang sama saat orang yang diduga sebagai Jonghyun itu memegang ponselnya kemudian mendekatkan ke telinga. Minhyun terkejut, namun ia tak berani berbicara.

 

“jangan ganggu aku”

Minhyun terpaku mendengar alunan suara Jonghyun yang terkesan dingin. Namja yang terkenal keramahanya itu berbicara tajam dan terkesan menusuk? Apakah kehangatanya telah melampaui batas?

 

~*~*~*~

Ting…

Pintu Lift terbuka, Minhyun menghambur masuk ke dalam Dorm dengan raut wajah yang sulit di artikan. Kakinya melangkah ke samping ruang makan dimana kamar Jonghyun – Onew berada.

 

Ia memutar kenop pintu, ketika membuka pintu itu dan tak ada seorangpun yang menyambut penglihatanya. Kosong. Jadi yang dilihatnya tadi benar Jonghyun? Minhyun menyapukan pandang sekali lagi dan tidak mendapati Onew.

 

Minhyun bergegas memasuki kamarnya, ketika pintu dibuka ia sama sekali tak mendapati Taemin. Seluruh ruang di dorm ia jelajahi untuk menemui orang orang itu namun hasilnya nihil.

 

Minhyun menegak ludah ketika tanganya menyentuh kenop pintu kamar Key – Minho. Di hadapanya merupakan kamar orang yang membuat dunianya semakin berantakan. Ketika Minhyun membuka kamar itu… KOSONG?

 

“KEMANA MEREKA SEMUA?!”

 

Ditengah rasa frustasi Minhyun karena tidak menemukan seorangpun yang berada di Dorm, tiba tiba ringtone ponselnya berbunyi memecah keheningan di dalam Asrama yang biasanya selalu ramai itu.

Choi Jinhya. Itulah nama yang terpampang di layar. Tanpa pikir panjang Minhyun langsung membuka Flap ponselnya lalu mendekatkan ke telinga.

“Yoboseyo….”

“Min-ah! Cepat ke taman Hanseul, aku rasa Onew sudah gila!”

“MWO??!!!”

 

__TBC__

Jujur ya, sampai sekarang aku belum tahu Ending cerita ini, part part kedepanya atau apapun. Aku hanya membiarkan ide cerita ini mengalir seperti air di dalam pikiranku, sebisa mungkin aku menghalang jalur jalur kecil yang mengambil alih aliran itu hingga menghabiskan semua airnya. aku akan berusaha mengalirkan ide cerita ini ke suatu muara yaitu akhir dari cerita ini.

Dari semua cerita yang aku buat belum ada satupun yang sampai pada kata END dengan TUNTAS.

 

*duduk di pinggir sungai sambil nyempungin batu* aduh kenapa jadi curcol sok puitis gitu sih? Padahal gak bakat bikin puisi juga *bakar udang* (?)

Yeahh… kalau Season of The Lucifer sebelumnya adalah part kesukaan ku, kayaknya part ini adalah part tergalau buat aku deh *curcol* part ini bener bener bikin aku muter otak *lebay* untuk itu aku sangat butuh dukungan kalian. Terima kasih

 

cheers,

 

LucifeRain (aya)

Advertisements

76 responses to “Seasons of The Lucifer [CHAPTER 6] part.A

  1. eonnii…part ini….aku suka key oppa hoho.-. Berharap banget key oppa bareng minhyun/? Wkwk

  2. astaga…knpa sllu kata ini yg terucap prtma koment dsni hehe…
    bneran schock terapi ni key blang yes i’m gay #astaga nyemplung didanau….
    apalgi ortu ny minhyun tu sedarah.prnikhan sdarah saudara saudara……astaga berasa kejut jantung stiap baca per chapternya.psti ada aja yg tk trduga mncul pas sela2 baca..oenni jjang buat ff ni

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s