Seasons of The Lucifer [CHAPTHER 6] part.B

Seasons of The Lucifer

Title:Seasons of The Lucifer

Author: LucifeRain / Aya

Genre: romantic – comedy, Friendship, AU

Leght: Chaptered

Ratting:General

Main Cast:

Cho Minhye a.k.a Cho Minhyun

Kim Kibum a.k.a Key

Choi Minho a.k.a Minho

Lee Taemin a.k.a Taemin

Kim Jonghyun a.k.a Jonghyun

Lee Jinki a.k.a Onew

 

Kenapa part 6 aku bagi 2? Setiap part udah aku hitung berapa konfliknya, nah part 6 ini kebagian konflik yang penjabaranya panjang banget. Meski 1 part nggak panjang panjang amat tapi kalo 2 part di gabungin kan jadi panjang banget. Entar kalo ada readers yg cepert bgt bosen kyk aku, tiba2 ninggalin pdhl blum slese baca kan brabe (?) klo 2 partkan bisa dicicil hehehe

Aku juga nggak ngerti kenapa masih ada yg bilang part sebelumnya pendek, padahal semakin lama setiap part semakin panjang loh –yg kmaren kmaren-

Ya sutralah dr pd author abal yg satu ini ngebacot terus mending baca aja ya. Jgn lupa RCL.

SOL [teaser]SOL [chapter 1]SOL [chapter 2]SOL [Chapter 3]SOL [Chapter 4], SOL [Chapter 5], SOL [chapter 6] part.A,   and others

______________

 

Lucifer

Seseorang berwajah malaikat namun seperti iblis

Hati yang egois

Cinta yang tulus

Kesucian yang keliru

Mengancam

Berulang kali salah seperti malaikat dan iblis

Mempunyai perasaan yang tidak jelas

Lucifer adalah keberanian

—————————–

 

~*~*~*~

Back to 19.15

Pintu sebuah gapura berwarna putih gading terbuka lebar ketika Mobil  Sport berwarna Silver berhenti tepat di depanya. Mobil itu melaju kencang meninggalkan gapura berukuran cukup tinggi yang kembali menutup kala Mobil tadi menjauh.

Kap Mobil Silver itu terbuka otomatis atas kehendak sang pengemudi, memperlihatkan seorang namja tampan yang sedang mengendarai Mobilnya di atas bentangan jalan menuju sebuah rumah besar nan megah.

 

Minho melepas kaca mata hitamnya lalu menaruh asal di atas dasbor, ketika ia turun dari Mobil seorang pria langsung berjalan menghampirinya kemudian membungkuk pertanda hormat. Ia pun segera menyerahkan kunci mobil untuk di pindahkan ke ruang parkir keluarga Lee.

Ya, dia sekarang sedang berada di rumah keluarga angkatnya. Selepas “kejutan” yang disuguhkan Key, pikiranya kacau seketika. Minho pun memutuskan untuk pergi kerumahnya untuk menyelesaikan teka teki yang sebenarnya lebih memusingkan.

 

Minho melangkahkan kakinya memasuki rumah bergaya Mediterania yang di padukan dengan ukiran Khas Eropa. Desain perabotan yang klasik juga tataan interior berseni tinggi membuat rumah ini terlihat unik berada di tengah nuansa Asia timur.

Semua orang pasti mengira Choi Sooyoung sangat menggilai desain interior berseni tinggi atau semacamnya, karena mengingat guratan wajahnya yang tegas dan berwibawa pada wanita itu. Namun sejatinya ayah angkatnyalah yang menggilai semua hal itu.

Lee Hyukjae yang terkenal aneh dan selebor dalam berbagai hal ternyata sangat ahli menciptakan polesan berbeda yang sukar di tebak dalam semua aspek yang di kuasainya.

~

 

“dimana mereka?” tanya Minho pada seorang pelayan. “mereka” yang Minho maksud disini tentu saja keluarga angkatnya.

“tuan dan nyonya Lee sedang menghadiri acara, begitu juga dengan nona Lee”

 

Minho tersenyum tipis lalu berjalan menaiki gundukan anak tangga dengan tempo yang semakin cepat. Ia melangkah ke arah kiri, kamar orang tua angkatnya berada disana.

Di samping kamar itu terdapat sebuah ruang, pintu ruangan itu terlihat kuno dan lapuk bahkan Hyukjae bilang tempat itu adalah gudang yang tak pernah digunakan. Tapi diam diam Minho tahu, itu adalah ruang rahasia keluarga Lee.

 

Minho memasuki kamar luas bernuansa klasik yang merupakan kamar orang tua angkatnya, ia berjalan ke sudut tembok sebelah kiri lalu menyibakan sebuah tirai. Sekilas itu tampak seperti jendela yang ditutupi namun sebenarnya itu adalah pintu rahasia ke gudang jadi jadian tadi.

Pintu depan yang terlihat lapuk tadi hanya kamuflase untuk menyembunyikan bertapa berharganya ruangan ini.

 

Minho mengambil potongan kertas kecil yang menganjal di sela sela pintu, Hyukjae pasti mencurigainya jika kertas itu terjatuh. Terkadang Minho berfikir

“orang jenius itu tak jarang terlihat aneh dan melakukan tindakan yang -menurut orang berotak biasa- terlihat bodoh. Padahal dia sudah berjalan 10 langkah kedepan, sedangkan orang –berotak biasa- yang hanya berjalan 1 langkah mengganggap perkembangan itu tidak normal”

 

Layaknya Lee Hyukjae, Key juga begitu. Minho tahu, namja yang sulit di tebak itu sudah menyusun rencana setelah menyaksikan adegan dimana ia berciuman dengan Minhyun.

 

Minho melangkah masuk ke dalam ruangan dimana terdapat rak rak yang di penuhi buku buku tebal, tentu saja dengan isi bacaan berat dan nama penulis yang sudah mendunia.

Ia kesini bukan untuk bermain main, tapi demi sebuah misi. Misi yang ia buat sendiri untuk memecahkan kasus dibalik terangkatnya ia menjadi anak keluarga Lee yang kaya raya.

 

Minho tidak mempercayai anggapan bahwa ia hanya seorang anak beruntung atau hanya kebetulan ia mendapat orang tua angkat yang luar biasa kaya . Ia yakin ini semua pasti sudah di rencanakan, termasuk berkumpulnya 5 pemuda yang terstempel dengan nama SHINee. kalian tahu? Ini adalah sebuah permainan.

 

Minho berjalan ke arah meja kerja yang terletak di depan jendela. Ia membuka semua map yang berada di atas meja. Beberapa tahun ia mengetahui tempat ini, ia sudah menggeledah semuanya dan tak ada satupun bukti yang berarti.

Sooyoung bilang bahwa Minho adalah anak kakanya yang menghilang, namun yang jadi pertanyaan Minho “bukankah Choi Sooyoung adalah anak tunggal? Lalu ia mendapatkan kakak dari mana?”

Kalaupun “kakak” yang di maksud Choi Sooyoung adalah saudara atau semacamnya, kenapa dia bisa tahu secara detail kehidupan Minho. Kenapa dia sangat dekat dengan istilah “tertarik” pada kehidupan Minho?

 

Minho mengacak acak rambutnya, frustasi. Sooyoung tahu segalanya tapi ia tidak tahu semua alasan Sooyoung.

Tiba tiba pencarian Minho berhenti, matanya tertuju pada secarik koran yang sudah terpotong. Diatasnya bertuliskan “sebuah bis kota menghantam pagar pembatas jalan”

Bola mata Minho bergerak secara horizontal menelusuri rangkaian kata yang menjadi sebuah kalimat. matanya melebar ketika ia membaca sebaris tulisan “semua penumpang dinyatakan meninggal, tapi ada seorang bayi yang….”

 

Tin…. Tin…. Tin….

Bunyi klakson yang terdengar liar memecahkan konsentrasi Minho. Ia membalikkan badan, mengintip ke arah luar melalui jendela di belakang meja kerja tadi.

“oh, Shit!” umpatnya saat tahu ternyata keluarga angkatnya sudah pulang.

Secepat kilat Minho merapikan tatanan berkas berkas di atas meja kerja itu tanpa merubah letaknya sedikit pun. Kemudian ia melangkah keluar setelah meletakkan potongan kertas kecil tadi di sela sela pintu.

 

~*~*~*~

Minho mengenakan Pea Coat hitamnya dengan sekali gerakan tangan, ia bergegas menuruni anak tangga berniat pergi sebelum bertemu keluarganya –terutama Lee Hyukjae. Dia pasti akan di tanyai macam macam.

Ketika Minho menginjak undakan tangga terakhir, seorang anak perempuan memeluknya. Minho mengendus, tak ada cela untuk menghindar.

“Hello Oppa, I miss you” sapa anak perempuan kecil berparas cantik itu.

“hello Eunmi, I miss you too. Sejak kapan kau berbicara bahasa inggris?” tanya Minho sambil menggendong Eunmi. Senyum ramah menghiasi wajahnya, Eunmi sudah di anggapnya sebagai adik sendiri. Lagi pula Eunmi itu lucu dan menggemaskan.

 

“I’m smart, Oppa!” seru Eunmi, ah ya, Minho Lupa kalau Eunmi juga menuruni kejeniusan orang tuanya “aku tidak mau seperti Appa” cibir Eunmi sambil mengerucutkan bibirnya.

“OMMMMOOOOOOO~!” lengkikan suara fals membahana. Bukan, itu bukan suara yeoja melainkan suara namja berambut Spike berwarna coklat gelap.

 

Minho menatap malas ke arah Hyukjae, sejak kapan lagi ayah angkatnya itu berganti model rambut? Tiba tiba seorang wanita menghampiri mereka, dia terlihat anggun seperti biasa.

“annyeong Minho, tumben kau kemari” sapa Sooyoung lembut.

“ne, aku rindu pada…”

“PADAKU?” sela hyukjae, ia menatap Minho penuh harap seakan berkata Choi-Minho-kau-memang-anak-baik-berhati-budiman-ramah-tidak-songbong-dan-rajin-menabung.

 

Minho memutar bola matanya lalu mendengus kesal. Menyadari Eunmi yang menguap lebar ia langsung menaiki anak tangga berniat menidurkan Eunmi di kamarnya, untung saja dia tidak ditanyai macam macam.

Sepeninggalan Minho, Hyukjae berjalan mendekati istrinya.

“tumben kau tidak bertanya apa apa”

Sooyoung mengangkat sebelah alisnya “buat apa? Aku sudah tau semuanya. Lagi pula aku lelah”

“ceritakan padaku”

“Aku yakin kau tidak akan percaya. Ini diluar perkiraan kita”

“mwo? Ayo ceritakan. Jebal” pinta Eunhyun tapi Sooyoung malah pergi melaluinya.

“aku lelah besok saja”

“YA! Choi Sooyoung tak akan ku kasih jatah kau malam ini” seru Hyukjae

“seharusnya aku yang berkata begitu, Eunhyuk Pabbo!!!”

 

~*~*~*~

Minho melirik jam bermerek Tag Heuer yang melingkar di pergelangan tanganya. 20.30 KTS . tiba tiba ia teringat dengan Key.

Semoga saja Key pergi ke Breath of Heaven bukan clubbing ke tempat para Gay, harap Minho. Ia pernah memasuki tempat itu dah hampir muntah karena melihat pemandangan yang tidak normal dan…. Menjijikan.

Minho menatap Eunmi yang sudah tertidur pulas, lalu pandangana teralih ke luar jendela. Gedung SShall dan SSedna masih terlihat dari situ karena jaraknya tidak terlalu jauh.

 

Minho menatap ke bawah, tepatnya ke sebuah taman yang terletak di samping kediaman keluarga Lee. Taman yang bagus, banyak orang yang berlalu lalang di jalan taman itu.

Tiba tiba mata Minho terfokus pada satu titik. Seseorang terlihat duduk di bangku taman dan terlihat membelakanginya. Sekilas orang itu terlihat aneh karena bahunya berguncang seperti orang tertawa. Saat orang itu menoleh ke samping…

“Onew?”

Minho menautkan alis, dia semakin fokus mengamati gerak gerik orang yang diduganya sebagai Onew. Selain tertawa sendiri, mimik wajahnya juga seperti berbicara.

Minho tahu Onew punya penyakit Sangtae akut. Tapi kalau seperti orang gila begitu, tidak waras namanya.

 

Tiba tiba orang yang diduganya sebagai Onew itu berdiri, samar samar ia terlihat tersenyum ke arah samping. Langkahnya menapaki jalan taman dengan santai walau gerimis mengguyur meski tidak terlalu deras.

Setelah punggung Onew menghilang di balik pohon rimbun yang menutupi taman itu, terlihat seorang gadis menapaki jalan yang sama denganya. Gerak gerik gadis itu persis menyerupai penguntit tapi dia mengenakan seragam SSedna. Sebenarnya apa yang terjadi?

 

~*~*~*~

Minhyun mengedarkan pandanganya ke sekeliling taman, sepuluh menit yang lalu dia menginjakkan kaki di taman ini namun tanda tanda adanya Onew atau Jinhya belum terlihat sama sekali.

Ingin rasanya ia menghubungi Jinhya tapi Jinhya sudah melarangnya lebih dulu agar tidak menghubunginya karena takut Onew akan sadar dengan kehadiranya. Tapi Minhyun harus bagaimana? Ia benar benar buta jalan di taman ini.

 

Minhyun memasang Hoodie-nya karena gerimis yang mulai menjalar ke kepalanya, kemudian ia melangkah cepat mengitari jalan taman yang cukup luas itu sambil memperhatikan sekitar.

Langkah Minhyun terhenti, ia menyipitkan matanya menangkap sosok seorang gadis yang bersembunyi di balik pohon.

“Jinhya?” Minhyun mengguman samar, ia mengikuti arah pandangan Jinhya. Dan ternyata arah mata gadis itu menyorot seorang namja yang sedang duduk di bangku taman.

 

Minhyun ingin menghampiri temanya itu, tapi tidak mustahil. Mana mungkin mereka berdesak desakan di balik satu pohon, sudah pasti tidak muat yang ada malah heboh sendiri.

 

Minhyun memilih bersembunyi di balik semak semak, ia berjongkok di balik sana sambil mengamati Onew. Tak lupa pula di petiknya sehelai daun keladi untuk memayungi kepalanya. Biar terlihat seperti di pelem pelem, pikirnya -,-

Meski lampu taman meremang, namun Minhyun masih menangkap mimik wajah Onew, sepertinya ia sedang bersenandung kecil.

 

Semakin Minhyun memperhatikan Onew, semakin sakit pulalah jempol kakinya. Matanya yang mengamati tapi jempol kakinya yang terasa sakit. entah apa hubunganya yang jelas jempol itu terasa semakin sakit. sesaat Minhyun tercenung…

“AAAAAAKHHHH” teriak Minhyun kala menyadari kakinya di injak seseorang.

Minhyun menoleh ke samping, tiba tiba mulutnya langsung di bekap seseorang. Yang lebih parah orang itu juga membekap hidungnya, jadi Minhyun harus bernafas dengan apa? Mana mungkin dengan telinga.

 

“pssstttt…..” bisik orang itu.

Mata Minhyun melebar ketika menyadari orang yang menginjak jempol kakinya dan menutup semua saluran pernafasanya adalah….

“emmm… emmm…. Emmm….” Guman Minhyun namun tidak jelas karena mulutnya tertutup.

Jantung Minhyun berdegub liar ketika menyadari seorang Choi Minho membekap Mulutnya dan mereka hanya berjarak beberapa senti dengan posisi Minho menoleh ke arah Onew.

 

Minhyun melibas kepala Minho dengan daun keladi yang dipetiknya tadi, ternyata ada gunanya juga. Spontan Minho pun melepas bekapan tangannya lalu menatap Minhyun yang sedang heboh mengirup nafas.

“YA! Aku kehabisan nafas, Pabbo!” omel Minhyun tapi ia langsung tidak berkutik ketika tatapan tajam Minho menyambar matanya.

“jempol kakiku sakit, tau!” Omel Minhyun lagi, kali ini ia buru buru memalingkan wajah sebelum mendapat sinar kutukan dari Minho.

 

“Cuma disini tempat yang pas” guman Minho, pandanganya masih mengarah ke tempat Onew.

“kau menyadarinya juga?” tanya Minhyun.

Minho tidak menggubris ucapan Minhyun, ia langsung beranjak pergi ketika melihat Onew melangkah meninggalkan bangku yang di dudukinya tadi.

Sadar akan situasi yang sama, Minhyun juga beranjak dari posisinya. Ia mengikuti Minho dari belakang namun langkah panjang Namja itu terlalu cepat membuatnya harus berlari kecil.

Dan adegan stalking itu berakhir ketika Onew berhenti di sebuah halte di sepan taman. Tak lama kemudian Bis datang dan ia masuk dengan orang orang yang juga menunggu di halte tersebut.

 

Minho berlari ke arah bus, saat ia berada di depan halte dan hendak menaiki bus, teriakan seseorang menghentikan langkahnya. Minho menoleh ke belakang dan mendapati Minhyun dengan pakaian kotor seperti terciprat genangan air.

Minho mencoba untuk tidak memperdulikan Minhyun, tapi ketika ia menoleh ke depan bus tadi sudah menghilang dari hadapanya.

“Damn!” rutuk Minho kesal, gara gara Minhyun ia jadi ketinggalan Bus yang dinaiki Onew padahal dia sanagat penasaran dengan temanya itu.

 

Gerutuan dan umpatan yang terlontar dari bibir Minhyun mau tak mau menyita perhatian Minho. Ingin dia meninggalkan Minhyun, tapi bukan prinsipnya membiarkan orang lain kesusahan. Dengan sedikit enggan Minho berjalan mendekati Minhyun.

“Gwaenchana?”

 

Mendengar kalimat itu, Minhyun yang menunduk sambil membersihkan noda di bajunya langsung mendongak. Baju Minhyun sangat kotor terlebih lagi wajahnya yang belepotan membuat Minho mengulum tawa tapi ia tetap tidak dapat menahan senyum gelinya.

Minho jadi penasaran seberapa dalam kubangan itu sehingga sebuah mobil bisa membuat airnya melompat setinggi 1,6m.

 

Diam diam Minhyun tertegun. Ternyata es batu itu bisa tersenyum juga. Bukan, ia bukan sedang terpesona dengan senyuman itu. Minhyun hanya merasa senyuman itu tidak asing baginya meski itu adalah senyuman Minho yang pertama kali dilihatnya.

Seperti mengingatkanya pada seseorang, tapi siapa?…

 

“lepas saja jaketmu, kaus mu bisa basah” ucap Minho datar.

“Shireo, aku tidak mungkin membuang hoodie ini.” Tukas Minhyun.

“jangan bergurau, aku yakin kau mampu membeli 1000 hoodie seperti itu”

 

Tiba tiba Minho melepas Pea Coat yang dikenakanya. Ia langsung menjulurkan ke arah Minhyun yang tercengang menatapnya.

“kau sangat kotor. Buang saja hoodie-mu”

Awalnya Minhyun ragu menerima Coat Minho, tapi ia juga tidak mungkin membiarkan tangan Minho terjulur seperti itu. dengan sangat hati hati Minhyun menyambar mantel itu.

 

Langsung saja Minhyun bersemunyi di balik pohon, setelah merasa tak ada orang di sekitarnya, ia pun melepas Hoodie-nya lalu mencampakkan ke sembarang arah.

Dengan cepat Minhyun memasang Coat itu, ia tak mau ada orang yang melihatnya. Meski badanya tak sebagus para model, tetap saja ia punya harga diri.

 

“gomawoyo” ucap Minhyun ketika ia kembali berdiri di hadapan Minho. Minhyun pun sibuk menggulung lengan mantel itu karena Pea Coat yang dikenakanya sangat kebesaran. Ia seperti memakai baju terusan saja.

Minho membalikkan badan, ia langsung berjalan meninggalkan Minhyun. Minhyun ternganga, merasa bingung ia pun meilih untuk berjalan di belakang Minho.

 

Keheningan menyelimuti mereka. Minhyun yang tidak pernah suka dengan suasana hening memutar otaknya untuk mencari topik pembicaraan

“kau tidak melihatku berganti baju kan?” kalimat itu terlontar spontan dari Mulut Minhyun. Mati matian Ia mengutuk mulutnya yang berbicara seenak jidat itu. uhhh… ia malu sekali.

 

Minho tidak merespon, ia masih berjalan dengan santai. Diam diam Minhyum membuang nafas lega, namun sejurus kemudian nafasnya kembali tertahan ketika Minho berkata

“kenapa? Kau takut aku melihat badan ratamu?”

~DOENGGG~

Minhyun jelas jelas tidak terima, sebagai wanita yang teraniaya (?) ia merasa ini penghinaan besar bagi kaum perempuan. Ia pun melirik kebawah, memastikan apa yang disebut Minho sebagai “badan rata” dan ternyata…

Badanya benar benar rata, hueeee ini bukan hal yang patut di banggakan.

 

“tentu saja rata, aku kan menyamar. Mana mungkin aku menunjukkanya padamu” oceh Minhyun

“menunjukan apa?”

Doengg… lagi lagi pertanyaan Minho seakan menendangnya ke kutub utara. Kalau saja sepatunya longgar sudah di pastikan akan melayang ke namja menyebalkan yang berada di depanya itu.

“eummm…. Ya menunjukan apa yang kau sebut rata” Minhyun kembali merutuk, berniat membalas tapi balasanya tak kalah bodoh. Menyebalkan.

 

Langkah Minho berhenti, ia membalikkan badanya secara tiba tiba. Minhyun yang sedang fokus berjalan pun harus berhenti mendadak, sungguh naas ia terlambat karena mereka terlanjur bertabrakan.

 

“YA! Kenapa kau menabrakku?!” bentak Minho pada Minhyun yang sibuk mengusap usap keningnya karena tersundul (?) oleh dagu Minho.
“salah sendiri kenapa kau berbalik tiba tiba” rungut Minhyun kesal, ia masih mengusap usap jidatnya.

Minho membalikkan badan, ia meneruskan perjalananya dengan santai membuat Minhyun mendecak kesal, dasar namja aneh!.

Keheningan kembali mengambil alih, Minhyun cuma bisa menatap punggung Minho yang hanya mengenakan Long Shirt berwarna abu abu. Lagi lagi Minhyun membenci suasana seperti ini, lalu satu pertanyaan melintas dalam benaknya.

“Minho-ssi, apa kau masih berniat membongkar identitas ku?” tanya Minhyun dengan suara yang amat kecil. Tersirat jelas keraguan disana.

 

“tidak…” jawab Minho datar namun memberikan dampak hebat bagi Minhyun, bukankah namja itu sendiri yang kemarin berkoar koar ingin membongkar identitasnya? Lalu sekarang….

“Kenapa?”

“Key”

Minhyun menyernyitkan dahi. Satu nama yang dilontarkan Minho namun mampu menciptakan sejuta tanya. Dugaan dugaan negatif pun bersliweran dalam benaknya.

“kenapa? Apa dia tahu identitas asliku atau…” Minhyun menggantungkan kalimatnya, ia takut dugaan terakhirnya melesat. Dirinya semakin dibuat heran ketika Minho membalikkan badan lalu menatap tajam kearahnya.

“Key… dia Gay!”

“Mwo?” mata Minhyun membulat lebar. UNRELIABLE!!!.

 

~*~*~*~

 

04.25 KST

 

Key terduduk di depan meja belajarnya. 15 menit lalu ia sampai di Dorm, sebenarnya Key bisa saja melanjutkan tidur mengingat seharian ini dia begadang hingga menciptakan sebuah kantung gelap di bawah matanya.

Tapi key menampik pilihan itu, ia tidak ingin mimpi buruk menghampirinya lagi. Key memilih menyibukkan diri dengan sebuah pulpen yang menari nari di atas kertas yang sudah terpenuhi dengan coretan.

Pikiranya kosong, ia sedang malas berfikir karena sehebat apapun ia memilih topik untuk dipikirkan pada akhirnya tertuju di sebuah nama. Choi Minhyun.

Ia bersumpah, Orang itu harus bertanggung jawab.

 

Key pun menyibukan diri dengan aktifitas yang tidak berarti sampai waktu untuk berangkat sekolah tiba.

 

“Morning key, apa tidurmu nyenyak?” sapa Onew berseri seri.

Key hanya mengangguk, sedikit heran karena tak biasanya Jinki seceria itu. Onew, Taemin, Jonghyun dan Minho sudah duduk di depan meja makan dengan balutan seragam yang rapi.

Tanpa berfikir panjang, Key langsung menduduki kursi yang biasa di ditempatinya. Ia melirik ke arah Taemin.

“annyeong Taemin” sapa Key membuat 4 namja di sekitarnya menatap heran. Tidak biasanya key menyapa seseorang di pagi hari.

“ann.. hyeom Hyum” balas Taemin dengan mulut yang penuh makanan, meski begitu Taemin masih mencoba melemparkan senyum Khasnya.

Key memangut samar, sejujurnya ia hanya mengetes taemin dan namja itu terlihat seperti biasa padahal semalam mereka mengalami kejadian yang luar biasa.

 

Key tersenyum tipis lalu melahap makananya. Taemin sama sekali tidak jijik dengan status barunya –dan ia menyukai itu. terlebih lagi, semalam Key telah mengetahui sebuah rahasia besar yang di pendam Taemin selama ini.

Key yakin tidak ada orang yang percaya meski ia membeberkan semua rahasia Taemin. Semua sangat kontras dari sifat lugu seorang Lee Taemin.

 

“annyeong Minhyun” sapa Onew dengan senyum lebar ke arah Minhyun yang berjalan Linglung menuju meja makan.

Minhyun duduk di kursi sambil menatap bingung, ia sama sekali tak habis pikir kenapa 5 namja yang semalam menghilang dari Dorm, tiba tiba melahap sarapan mereka dengan santai pagi ini. seperti tak ada sesuatu yang terjadi.

 

Minhyun melirik Jonghyun, namja itu terlihat seperti biasa dengan raut wajah yang santai. Kemudian Minhyun menoleh ke arah Onew, pagi ini dia terlihat sangat ceria tapi tidak normal karena namja itu terus tersenyum.

Apa yang sebenarnya terjadi?

BRAKKKK….

Minhyun memukul meja sekuat tenaga, ia bangkit berdiri dengan telapak tangan yang tertumpu pada meja. Kemarahan terpancar jelas dari ekspresinya.

“JANGAN BERLAGAK TIDAK TERJADI APA APA! SEBENARNYA KALIAN SEMUA KEMANA SEMALAM?” bentak Minhyun, emosinya meluap luap. Ia muak melihat 5 orang di hadapanya yang seakan menutupi segala hal.

 

Tiba tiba Key mendelik ke arah Minhyun, membuat dia terkunci terkena tatapan tajam dari bola kristal coklat yang bersemayam di balik mata elips Key. Sulutan emosi terpancar jelas dari sana.

“JANGAN IKUT CAMPUR! KAU BUKAN SIAPA SIAPA!”

 

~*~*~*~

Fiuhh… akhirnya selesai juga *ngelap keringet pake baju minong ._. lebay ya? Mian kkkk~

Oh iya, akhir akhir ini lagi marak masalah plagiat ya? Kita saling menjaga aja ya. Aku juga nggak mau ep-ep ini ditiru. Ya meski jelek jelek gini aku sampe sering begadang loh buatnya *gaknanya* meskipun nggak selesai2 karna kebanyakan bengong di depan leptop dari pada ngetiknya *sumpah nggak elit banget*

 

Untuk itu, tolong tinggalin komenya muahehehhehe…

 

Cheers,

 

LucifeRain  ( aya )

Advertisements

89 responses to “Seasons of The Lucifer [CHAPTHER 6] part.B

  1. wah, si minhyun berani juga ya?! author, aku kok ngrasa bacanya cepet banget ya? apa ceritanya yg kependekan? anyway, lanjut aja deh..

  2. nyahahahah… aku sih yakinnya bukan ceritanya kependekan, tapi karena seru dan ga ngebosenin jadi ya kaya yg bentar bacanya *akujujurloheonni*

  3. wah keren keren… kalau aku jadi minhyun aku bakal langsung ngibrit aja kesekolah atau gak ke dunia lain/? wkwkwk serius udaranya mencekam. oke aku lanjut baca

  4. apa yg bakal terjadi ni…..minhyun berani bgt ampe gebrak meja gitu!!!!!!
    apa mgkin minho tu sbagian masalalu ny minhyun ya

  5. Key-Taemin semalam mengalami kejadian yg luar biasa ? Kejadian apa ??

    Di part ini nampaknya Minho mulai melunak ke Minhyun. Daebakkkk… Shinee benar-benar bisa menyembunyikan rahasia masing-masing.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s