I’M CANNIBAL [ Chapter 2]

I’M CANNIBAL

Title: I’M CANNIBAL

Author: Luciferain / Aya

Genre: thriller – Fantasy, AU and Little Romance (?)

Leght: Chapter ( On writing )

Ratting: PG – 15

Main Cast:

Choi Minho SHINee

Jung hyori

Lee ji eun a.k.a IU

Shin Dongho U-KISS

 

 

I HATE PLAGIATOR AND SILENT READERS!!! GO AWAY!

DON’T LIKE DON’T READ

HAPPY READING ALL ~^^ ( di baca pelan pelan biar ngerti dan meresapi (?) )

previous chapter IC1

~*~

 

Atmosfir ketegangan berpendar melingkupi sebuah ruang bercat putih, dua jendela disana tampak masih terbuka membuat tirai tirai tipis berwarna merah yang menutupinya sesekali terhempas ditiup ganasnya angin malam.

 

Di dalam sana terlihat sepasang manusia sedang duduk di sofa dengan posisi berhadapan. Sang gadis mengalungkan tanganya ke leher namja dihadapanya, manyadari bahwa namja yang dilayaninya tidak berontak, ia semakin ganas memaikan lidahnya di dalam mulut namja itu sampai akhirnya namja tampan bermata besar itu membalas permainanya.

 

“aahhh… aahhh…” lenguhan Kim Sunny mengisi kekosongan ruang, suaranya seakan melambung diudara lalu lenyap tersapu angin malam. Ini bukanlah desahan yang mengacu pada nafsu birahi, melainkan rintihan kala Minho melumpuhkan semua sistem geraknya, mengunci semua akan pikiranya sehingga terfokus pada sebuah takdir yaitu ‘kematian’

 

BRAKKK…..

Hoshhh…. Hoshhh…

Pintu terbanting dengan sangat kasar, terlihat seorang namja menghempaskan punggungnya ke daun pintu lalu membiarkan tubuhnya merosot dalam posisi terduduk menghentak lantai

wajahnya terlihat pucat, Deru nafasnya memecah kesunyian di sepanjang lorong hotel. Ia menghela nafas panjang mencoba meredam segala emosi yang membuncah. di sekanya darah yang belepotan di sekitar bibir, kemudian Tanpa ragu ia menjilat bekas darah yang menempel di tanganya.

 

Minho mencoba berdiri, menjadikan kenop pintu sebagai tumpuan untuk menahan berat tubuhnya. Dengan nafas yang masih tak beraturan ia mencoba berjalan, langkahnya yang tertatih membuat ia harus menahan tubuh dengan menyentuh sisi lorong.

Tujuanya adalah melarikan diri, sebelum ada yang menyadari kalau Kim Sunny telah tewas dengan raga yang tak beraturan bahkan organ vitalnya telah hilang entah kemana.

 

~*~

 

Minho berjalan di bawah penerangan lampu taman, ia belum terlalu jauh berlari dari tempat kematian Sunny tapi kenapa raganya sudah sangat letih untuk berjalan? Jantungnya berdegub sangat cepat, dadanya terasa sangat sesak.

 

Setiap ia melahap nyawa selalu menyisakan sebersit penyesalan dan amukan pada garis takdir yang melingkarinya. Ia sudah sangat geram, seandainya lingkaran itu bercela, seandainya ujung lingkaran itu tak sampai di garis awal. Seandainya? Cihh… dia benci berandai andai

 

Ia adalah Choi Minho yang ditakdirkan menjadi mahluk kanibal dimana ia akan mencandui aroma darah segar, memakan habis otak kenyal berlendir dan melahap setiap mata yang terkunyah alot demi sebuah kekuatan.

 

Namun pada dasarnya Choi Minho adalah manusia biasa yang harus terikat garis takdir keliru. Raganya kerap kali tak tahan menerima sesuatu tak bernalar untuk dicerna. Ini membuat nafasnya sesak, seakan ada yang mengganjal disana.

 

Kini penolakan dari organ tubuhnya telah mencapai puncak, ia terduduk lemas di depan sebuah patung yang menghiasi pinggir taman. Tubuhnya bergetar hebat, dirinya seakan dihadapkan dengan buah simalakama. Serba salah

 

Hyori mengerjapkan matanya, dengan tatapan tak percaya ia mengamati seseorang yang sedang duduk di depan patung penghias taman. Berawal dari niatnya untuk kembali ke tempat tadi demi mengambil Taddy Bear yang terlepas, dia kembali dipertemukan dengan Minho.

 

“Choi Minho-sii, neo Gwaenchana???” ucapan Hyori terdengar sangat hati hati. Dari guratan wajahnya terpeta jelas bahwa ia takut dengan situasi seperti ini.

Minho menengadahkan kepalanya, ingin merespon kalimat Hyori tapi seperti ada yang mengganjal di kerongkonganya, membuat ia susah mengeluarkan nada bariton khasnya. Ini semua pasti karena bola mata Sunny yang amat keras untuk dikunyah.

Akhirnya Minho hanya mampu menyunggingkan senyuman, membuat Hyori menyernyit pertanda bingung.

 

“perlu Ku bantu?” tawar Hyori ketika ia melihat Minho memegang sisi atas patung untuk menopang tubuhnya.

Hyori mengamit lengan Minho, saat Minho mencoba berdiri tulang kakinya seakan luruh membuatnya seperti melayang hingga hilang keseimbangan. Refleks namja itu berpegangan pada pundak Hyori.

 

Mereka tak sebanding, tubuh hyori yang lebih kecil membuat mereka sama sama terjatuh di atas rerumputan. Posisi Minho yang terjatuh di atas tubuh Hyori, membuat gadis itu menggeliat menahan Minho yang sangat berat.

“kau berat Minho-ssi” ucap Hyori dengan nafas tersenggal.

Minho tak memperdulikan keluhan Hyori, ketika indra penciuman dan perasa miliknya tak sengaja mendarat di permukaan kulit leher hyori, ia seperti menemukan aroma baru. keharuman yang berbeda dari setiap aura yang melingkupi manusia.

 

Aroma yang Membuatnya ingin menikmati terus menerus hinga berujung menjadi candu. Sebenarnya kau siapa, Jung Hyori?

 

~*~

 

“SAENGIL CHUKKAHAMNIDA CHOI MINHO!!!!” seru Hyori, Dongho dan Ji Eun ketika Minho membuka pintu apartmentnya. mereka di beri tugas kelompok oleh Seongsaenim, dan rumah Minho lah yang menjadi tempat penampungan (?)

Ini semua ide Dongho, dia yang pertama kali tau bahwa hari ini bertepatan dengan ulang tahun Choi Minho. Jadi mereka pun merencanakan untuk membuat kejutan sederhana namun menyenangkan.

 

“ayo tiup lilinya and Make your wish” sahut Ji Eun antusias, dia pun menyodorkan kue tart bundar yang diatasnya tertancap lilin berangka -18.

Fiuhhh….

Hembusan nafas Minho memadamkan api kecil di atas lilin. Semua tercengang menatapnya, kenapa begitu cepat? Tidakkah dia melupakan sesuatu?

“Ya!~ Choi Minho apa kau tidak meminta permohonan?” omel Ji Eun

Minho menggeleng pelan “permohonan? Bukankah permohonan adalah harapan yang berawal dari hayalan? Aku benci berkhayal” tutur Minho dingin, kemudian ia berbalik lalu berjalan ke dalam apartment

“tapi…tapi….” Ji Eun merasa tidak terima, namun kemudian ia terdiam juga setelah Hyori menatapnya garang seakan mengartikan jangan-merusak-suasana-Jieun-bawel!!!!

 

“terima kasih telah mengingat ulang tahunku” ucap Minho nyaris tanpa ekspresi. Kini mereka berempat duduk di atas ambal mengitari meja kayu bundar yang diatasnya terdapat tumpukan buku sebagai bahan tugas.

“ahhh… Cheonmaneyo~” seru Hyori dan Ji Eun bersamaan, mereka pun mulai membuka buku lembar demi lembar. Ketika Hyori sedang serius seriusnya mencerna soal, Ji Eun menyenggol lenganya. Membuat ia menoleh dengan tatapan mematikan.

“apa?” tanya Hyori ketus

“mana hadiah mu untuk Minho?” tanyanya dengan volume nada yang hanya dapat dijangkau mereka berdua

“sudah hilang…”

“MWO?!!!” Ji Eun memekik, membuat Minho dan Dongho yang tadinya fokus pada tugas, melayangkan tatapan kesal padanya. Ia pun menggaruk kepalanya yang sama sekali tak gatal sambil menyengir kuda -___-

 

Suasana kembali hening, keempat orang itu sedang sibuk dengan pikiranya demi mengerjakan tugas, sesekali mereka berkomunikasi untuk berdiskusi hal yang rumit. Pembagian tugas, mereka rasa cukup efesien terhadap waktu.

Helaan nafas panjang terdengar di antara 4 orang itu, berharap dengan hembusan nafas rasa letih yang menggelayuti mereka lepas seiring keluarnya udara yang kaya CO2 itu.

“akhirnya selesai juga” ucap Ji Eun sambil memberi perenggangan kecil di lehernya.

“aku ingin segera pulang, aku laparrr” keluh Hyori sambil menepuk nepuk pipinya yang terasa kaku

“woahhhh… kalau aku harus ke toko dulu, Appaku pergi keluar kota dan ia sedikit ragu kalau pegawai barunya tidak lalai. Jadi aku harus mengeceknya dulu” jelas Dongho membuat Ji Eun dan Hyori mangut mangut menanggapinya.

 

Minho beranjak dari duduknya, ia berjalan menuju dapur lalu mengambil gelas kaca yang terletak di rak piring kemudian mengisinya dengan cappucino.

“Minho-ya aku mau juga” seru Dongho, ia berjalan menhampiri Minho. Namun saat Dongho berada tepat di belakangnya, Minho tiba tiba berbalik dan cangkir yang sudah terisi Cappucino itu tumpah meninggalkan noda di sweater putih Dongho.

“ah, Mianhae” ucap Minho, ia buru buru mengambil kotak tisu lalu menjulurkan ke arah dongho. “jeongmal Mianhae aku tidak sengaja”

“nan Gwaenchana” balas Dongho sambil mengambil tisu dari kotak itu lalu membersihkan noda di bajunya yang sempat membuat tubuhnya panas terkena resapan cairan itu.

“kau yakin?”

“Gwaencahayo” kali ini Dongho tersenyum lebar, terlihat sangat tulus dengan gurat persahabatan yang terpeta di wajahnya “kita kan teman”

 

~*~*~*~

“kita kan teman”

Kalimat yang dilontarkan Dongho terus terngiang ngiang di benak Minho. Namja itu menyeringai lebar, benarkah mereka berteman? Bodoh!

Minho membenamkan kedua tanganya ke saku mantel yang ia kenakan, namja itu berjalan di bawah redupnya penerangan lampu di tepi jalan. Langkahnya terhenti ketika ia sampai di sebuah rumah yang terbilang sederhana.

Tak mau berlama lama diluar karena takut akan sangat mencurigakan, Minho segera masuk ke dalam pekarangan rumah. Setelah beberapa kali mengitari rumah itu, ia mendapat sebuah cela. Sebuah jendela terbuka tanpa tralis besi.

Minho tahu pemilik rumah itu sedang pergi karena dia sendiri yang berkata demikian,. Ya, orang itu adalah Shin Dongho. Dan ia juga tahu ada seorang gadis yang di tinggal sendirian.

Waktu yang tepat untuk memburu kepala semu Hydra

‘semoga kau tidak menangisi kepergian adikmu, Shin Dongho’

~*~*~*~

Minho menapaki sebuah kamar bernuansa merah mudah, suasana lembut nan ceria langsung menyapa indra penglihatanya. Tidak hanya itu, aroma darah yang sudah dicanduinya bertahun tahun juga terasa semakin menajam.

Samar samar terdengar bunyi jatuhan air dari dalam kamar mandi. Refleks Minho menoleh kemudian ia berjalan mendekat secara perlahan.

Minho memutar kenop pintu sehati hati mungkin, dibukanya sedikit pintu itu. dengan sebelah matanya dia melihat seorang Yeoja sedang berendam dalam Bathtub yang dipenuhi busa, yeoja itu memejamkan matanya sambil bersenandung kecil.

 

Pupil mata Minho kontan memerah, khirnya kepala Hydra yang ke tujuh akan menjadi miliknya. Minho membuka seluruh pintu, ia melangkah mendekati Bathtub.

“selamat malam”

Yeoja yang tadinya terpejam itu spontan membuka matanya. Dia terbelalak melihat seorang pemuda asing tiba tiba masuk ke dalam rumahnya, yang lebih parah kini pemuda itu dengan seenak jidatnya masuk ke tempat paling privat baginya.

“kau… Arggghhh….”

Minho tak memberi yeoja itu kesempatan untuk berbicara, tatapanya menyerang telak ke arah manik mata yeoja dihadapanya. Seketika Yeoja itu merintih kesakitan, ia memegangi matanya yang mengeluarkan darah akibat efek pupil yang memerah.

Yeoja itu mencengkam tepi Bathub, ia menatap nanar ke arah Minho namun yang ditatap hanya membalas dengan seringai licik.

“aku tahu kau pemilik kepala abadi Hydra, tapi aku mohon jangan ambil nyawaku” pinta Yeoja itu, air mata yang berubah menjadi darah mengalir deras di pipinya.

“permohonan yang sia – sia”

tanpa aba aba Minho langsung menyambar bibir gadis itu. cengraman tangan gadis itu mengendur, tubuh yang tadinya menegang kini melemas ketika Minho menghisap nyawanya secara bertahap.

Minho melepas lumatan bibirnya, gadis yang nyawanya telah dihisap itu tak bergerak sedikitpun pertanda dia telah meninggalkan dunia yang fana ini.

 

Minho merengkuh leher gadis itu, di dekatkanya bibirnya ke telingga yeoja yang tubuhnya sudah memucat. Ia menjilat telingga yeoja itu lalu berbisik pelan

“kau tahu, sebenarnya aku mendekatkanmu dengan kebahagiaan. Karena sebenarnya akulah yang akan menderita selamanya” ujar Minho dengan jari telunjuk yang bermain main di daerah mata gadis itu.

 

Kuku kuku Minho Meruncing, saat ia hendang mencongkel mata gadis itu tiba tiba seuntai kalimat sederhana menyusup dalam benaknya.

~kita kan teman~

Minho menatap Miris adik Dongho yang sudah terbujur kaku akibat ulahnya. Dongho memang tidak mengetahui bahwa Minho adalah kepala abadi Hydra karena keturunan kepala Semu Hydra dilarang memberitahu kecuali pada generasi selanjutnya, tapi ia pasti dendam dengan orang yang merengut nyawa adik semata wayangnya itu.

terlebih lagi, adiknya teramat cantik karena semua yang dilimpahi roh Kepala Semu Hydra memiliki paras yang elok.

 

Pupil mata Minho kembali seperti semula, terbayang sosok Dongho yang teramat tulus menyatakan bahwa mereka adalah teman. Seumur hidup Minho selalu menjauhi pergaulan, baru kali inilah ada seseorang yang mengakuinya sebagai tepan. Tapi sayang…

“itu semua sudah takdir” pupil mata Minho kembali memerah diikuti dengan kukunya yang meruncing.

Minho mencongkel mata kiri adik Dongho, dilahapnya organ vital yang berlumuran darah itu dengan sangat rakus. Darah, seakan menjadi heroin baginya. Tubuh Minho seakan mati rasa jika sekejap saja ia tidak mencicipi cairan berbau anyir itu.

 

Busa busa yang tadinya berwarna putih itu berubah menjadi merah menyala, diikuti dengan warna airnya karena tercampur kentalnya darah yang mengalir dari bekas pemilik kepala Semu Hydra.

Minho menyeringai lebar ketika ia mengoyakkan batok kepala gadis itu lalu menyesap untaian otaknya. Ia menikmati semua ini.

“I’m Cannibal and I’m Psychopath”

 

~*~*~*~

3 weeks Later

Minho berjalan menelusuri rak rak buku yang menjulang tinggi, sejak tadi ia mondar mandir mencari buku tambahan Biologi untuk mengerjakan tugas yang banyaknya ngajubileh.

Langkah Minho terhenti ketika melihat seorang gadis sedang berjinjit berusaha menggapai gapai sebuah buku tebal yang terletak di rak paling atas. Gadis itu menggerutu kesal, sepertinya setinggi apapun ia berjinjit, tanganya tetap saja tak dapat menjangkau buku itu.

 

Minho berjalan mendekat, dari belakang ia tahu percis itu Jung Hyori karena diam diam dirinya mencandui gadis itu.

Tangan Minho terjulur memegang buku tebal itu, namun ia tak segera menariknya. Ia masih diam, posisi Hyori yang berada di sela sela dirinya dengan rak buku membuat dia semakin leluasa meresapi aroma darah segar di setiap permukaan kulit Hyori.

 

Aroma darah yang langka, jauh lebih wangi dari harumnya mawar dan terasa lebih manis dari madu. Inilah kenapa ia mencandui seorang Jung Hyori.

“sebenarnya kau mahluk jenis apa?”

 

__To Be Continue__

Annyeong….

Entah kenapa aku suka banget bikin adegan frontal dalam fanfict. Makasih semuanya *bungkuk bungkuk

 Cheers,

 

LucifeRain ( aya )

 

Advertisements

35 responses to “I’M CANNIBAL [ Chapter 2]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s