Uncontrol [Part 1]

Title :Uncontrol

Author : Inthahindah

Length : Series

Genre: Romance, Trik (?)

Cast :

  • Yang Yoseob B2ST
  • Goo Hyemi (OC)
  • Lee Ji Eun / IU

Disclaimers :This story really mine!!!

Yuhuuuuuuuuuuu!! Here I am.. Kakakaka…. Mau posting series baru neh *padahal yang udah ada bloon kelar* Biarin dah!!! kekeke… tadinya mau di post pas ultah Bang Ucup,, tap karena sikon kantong yang gak memadai, jadinya tertunda. Dan cerita yang awalnya oneshot pun jadi beranak… Dibaca yaq!! Jangan lupa RCL!!

*** Uncontrol ***

Yeoja itu mengerjapkan matanya. Matanya perlahan mulai beadaptasi dengan ruangan di sekelilingnya. Ia bangkit dengan gusar. Masih menerka-nerka tempat ia berada sekarang.

CKLEK!

Matanya langsung memburu ke pintu, asal suara. Seorang namja tengah menatapnya. Namja berkulit putih bersih dengan garis muka yang mungil dan sangat imut *hiduuup ucuuup!!*

“Sudah bangun?” tanyanya.

Yeoja itu tak menjawab. Ia sibuk dengan pikirannya sendiri. Ia pernah melihat namja itu.

“Nan eodie?” tanyanya balik tak lama kemudian. Matanya tajam memandang namja di depannya. Si pemilik tubuh yang dilihat hanya tersenyum. Ia melangkahkan kakinya menuju jendela dan mulai membuka tirai.

“Jawab pertanyaanku!” bentaknya.

Namja itu kemudian berbalik. “Wah, agasshi! Kau benar-benar bermulut kasar. Aku terluka lo!” balasnya dengan santai.

Yeoja itu menatapnya sinis.

“Baiklah, aku jelaskan! Pertama, kau di rumahku. Kedua, aku membawamu karena tadi malam kau mabuk dan muntah tepat di atas kap mobilku, kemudian pingsan dengan indahnya di depanku. Dan ketiga, tak terjadi apa-apa antara kita, jadi tak perlu seketus itu.”

Yeoja itu mencibir. Wajahnya benar-benar menyiratkan ketidaksenangan.

“Kenapa kau tidak mengantarku pulang?” tanyanya datar.

“Agasshi, bagian kata mabuk mana yang tidak kau mengerti? Lagipula, bersyukurlah. Aku tidak pernah membawa yeoja ke sini sebelumnya.”

“Shierro!” ucapnya.

Yeoja itu menyingkap selimutnya. Ia sedikit lega mendapati dirinya masih dalam keadaan normal, dalam arti masih berpakaian. Setidaknya dia yakin kalau malam itu memang tak terjadi apa-apa. Ia beranjak dari tempat tidur. Mulai memakai heelsnya yang tergeletak di lantai. Ia meraih tas tangannya yang berada di meja rias.

Namja itu memerhatikannya. “Neo mwohae?” tanyanya.

“Kau tidak lihat? Aku mau pulang!”

Ia melewati namja itu dengan santai. Langkahnya begitu ringan. Namja itu mengikutinya ke luar. Ia membuka pintu rumah dan mulai melangkah ke luar. Dan keningnya berkerut. “Ini dimana?”

Namja itu menyeringai. “Sudah kujawab tadi, kan?”

“Maksudmu kita di Jeju? Rumahmu di Jeju?”

Namja itu tak menjawab. Ia hanya memerlihatkan seringaiannya. Seringai yang justru membuat ia terlihat lebih imut.

Lama. Yeoja itu terdiam. Antara terkejut akan kenyataan keberadaannya, dan terpesona pada sosok di depannya.

Ia kembali membanting pintu dan masuk ke dalam.

“Kenapa kau membawaku ke sini, Yoseob-sshi?” tuntutnya.

“Itu juga sudah kujawab tadi!” jawabnya sambil menjatuhkan tubuh di atas sofa.

“Sialan! Tadi malam kita masih di Seoul, Yoseob-sshi. Bagaimana kau bisa membawaku ke sini?” umpatnya.

“Kau lupa? Aku Yang Yoseob, seorang main vocal dalam sebuah boyband besar Korea, B2ST. aku cukup punya kuasa melakukan yang kumau, Agasshi.” tekannya.

“Apa tujuanmu? Kita bahkan tidak saling kenal sebelumnya.”

“Aku tidak, tapi temanku mengenalmu. Dan aku mendengar keluhannya. Awalnya aku tidak percaya ada yeoja yang begitu kasar, tapi sepertinya kali ini aku harus mengalah. Karena yang dikatakannya memang benar.” ucapnya sinis.

Yeoja itu membalasnya dengan tatapan membunuh. “Terima kasih atas pujianmu, Yoseob-sshi! Temanmu, maksudmu Jang Hyunseung-sshi? Cihh! Kalian sama saja.”

Dia kembali melangkahkan kakinya. “Mau kemana?” tanya Yoseob.

Ia tak menjawab, dan tetap melanjutkan langkahnya ke pintu.

“Kau tidak akan kemana-mana, Hyemi-sshi! Dua minggu ke depan kau akan tetap di sini bersamaku.”

Ucapan itu sontak langsung menghentikan langkah yeoja itu, Goo Hyemi! Ia berbalik dan menatap namja itu seolah meminta penjelasan. Yoseob melipat tangannya. “Kau akan di sini untuk dua minggu ke depan. Dan aku akan mengajarimu bagaimana seharusnya bersikap. Jangan berpikir kau bisa lari! Tidak akan ada transportasi menuju Seoul selama kita di sini.”

Mata Hyemi berkilat. Ekspresinya memancarkan kemarahan yang kentara. Tapi Yoseob seolah buta akan hal itu. Ia malah membalas tatapan yeoja manis itu.

*****

Yoseob gusar. Berkali-kali ia memanggil Hyemi, tapi ia tak juga menyahut. Ini sudah malam. Yeoja itu bahkan tidak menyentuh makanan dari pagi.

Yoseob kembali menaiki tangga. Langkahnya menuju kamar tempat Hyemi berada. Ia mencoba mengetuk kamar itu untuk ke sekian kalinya. Dan menerima hasil yang daritadi berulang kali didapatnya.

Yoseob merogoh saku celananya. Ia mengeluarkan kunci cadangan. Mulai diarahkannya kunci tersebut ke lubang pintu.

Cklek!

Kamar itu gelap. Selain cahaya penguasa malam yang hanya secercah, tak ada lagi yang menerangi ruangan itu. Yoseob melihat ke sekeliling ruangan. Mencoba mencari setidaknya bayangan yang menunjukkan titik akhir yang ingin diraihnya. Dan ia menemukannya, di tepi jendela yang terbuka lebar dan menghadap lepas pantai.

“Apa yang kau lakukan di tengah gelap?” tanya Yoseob sambil menyalakan lampu. Sosok itu tak bergeming. Tetap mengarahkan matanya ke sana.

Yoseob menghela nafas. Ia tidak pernah mengira hal ini adalah salah satu resiko. Yeoja yang dihadapinya bukanlah tipe orang yang dikiranya akan melakukan hal ini. Yoseob melangkahkan kakinya mendekati Hyemi.

“Kau menangis?” tanyanya. Ia tidak melihat, hanya ingin memastikan. Apalagi yang dilakukan yeoja jika keinginannya tak terpenuhi? Apalagi sambil menatap kegelapan.

Hyemi berbalik. Di luar dugaan Yoseob, wajah yeoja itu bahkan tak menyiratkan kesedihan sama sekali. Selalu, raut yang sama. Kesombongan, dan dingin.

“Menangis? Untuk apa? Untukmu? Cihhh! Tak ada yang perlu kutangisi.” sahutnya ketus.

Yoseob melengos. Menyesal sudah mengkhawatirkannya. “Lalu kenapa kau tidak keluar? Kau juga belum makan dari pagi.”

Hyemi tidak menjawab. Sebaliknya, ia kembali melontarkan pertanyaan pada Yoseob.

“Kenapa kau melakukannya? Ini tidak ada hubungannya denganmu, Yoseob-sshi.”

“Memang. Aku hanya kasihan padamu.” jawabnya.

Jawaban singkat itu membuat Hyemi mengerutkan keningnya. “Mworago?”

“Kau tidak kasihan pada dirimu sendiri? Kau cantik, Hyemi-sshi. Bagaimana kau bisa bersikap menyebalkan dengan wajah secantik ini? Kau tidak takut tidak akan ada namja yang mencintaimu nantinya?”

“Hoo! Seorang Yang Yoseob memikirkan nasibku. Haruskah aku tersanjung?” sindir Hyemi dengan nada datar. Yoseob memandangnya tajam. “Dengarkan aku, Yang Yoseob-sshi! Kau, tidak tahu apa-apa tentang aku. Tidak perlu melakukan hal yang tak perlu. Bukankah kau orang sibuk? Bagaimana kau bisa punya waktu kosong selama dua minggu? Cihh! Aku tidak butuh bantuanmu, Tuan Besar.” sambungnya dengan penuh penekanan di setiap katanya.

Keras kepala sekali yeoja ini! Dia bahkan tidak merasa bersalah. Yoseob bergumul dengan hatinya sendiri.

“Terserah kau! Tapi aku bukan orang yang mudah kau intimidasi, Agasshi.”

“Kau kan rasakan akibatnya jika orang tuaku tahu akan hal ini. Ini sama saja dengan penculikan.” tekannya.

“Aku sudah mengurusnya!”

Yoseob mulai berjalan ke luar. Ia merasa emosinya mulai bergejolak. Dan ia tidak ingin itu mencuat. Tidak mala mini, ketika hanya ada mereka berdua di rumah itu.

“Dan turunlah untuk makan! Aku sudah menyiapkan makanan untukmu.”

*****

“Kau yakin dengan ini, Seobie?” tanya seorang yeoja pada Yoseob.

Itu sore ketiga setelah Yoseob dan Hyemi berada di Jeju. Hyemi belum menunjukkan kerjasama yang diharapkannya. Dan ini cukup membuatnya gerah. Beberapa kali Hyemi berhasil menyulut emosinya, meski Yoseob masih bisa menyembunyikannya jika mereka masih bertatap muka. Sayangnya, ia tak yakin ia akan terus bertahan jika mereka hanya berdua saja dalam dua minggu ke depan.

“Gaereom, Sunbae! Kurasa Sunbae adalah orang yang tepat untuk, setidaknya menjadi contoh baginya. Dan kuingatkan, mulutnya sangat tajam, Sunbae. Bersiaplah jika suatu waktu dia menjatuhkanmu.”

“Jeongmal? Apa itu terjadi padamu?”

“Eo! Baru tiga hari kami di sini, dan dia sudah berkali-kali menyulut emosiku. Dan dia seolah tak termakan akan semua umpanku. Begitu kujatuhkan, ia malah biasa saja.” jawab Yoseob.

Dan ia mulai menerawang. Mengingat saat pertama kali ia melihat Hyemi di sebuah acara. Di antara kerumunan penonton yang sumringah, hanya wajahnya yang terlihat datar. Bahkan saat tanpa sengaja Yoseob dan Hyemi bertabrakan, Hyemi tetap memasang tampang itu. Ia seakan buta akan pesona Yoseob atau namja lainnya. Dan itu membuat Yoseob tertantang. Terlebih setelah tahu namanya, yang mengingatkannya pada Bae Suzy, member Miss A.

Sayangnya, rasa itu terkubur akibat kenyataan. Yeoja menarik itu ternyata bermulut pahit. Yoseob menyaksikannya sendiri, benar-benar mirip dengan peran Suzy di drama itu. Ketika, lagi-lagi di salah satu acara, mereka kembali bertemu. Pertemuan dengan situasi yang berbeda ini membuat Yoseob mengetahui wataknya. Hyemi sengaja bermesraan dengan namja yang merupakan kekasih sahabatnya, yang juga berada di sana. Dan dia tak merasa bersalah akan hal itu, justru membalikkan keadaan dengan menjatuhkan sahabatnya.

“Seobie-ah, kau yakin ini hanya karena sebuah taruhan? Kau tidak memiliki perasaan apapun padanya?”

Yoseob tertegun. “Mworago?”

“Untuk apa kau repot-repot menerima taruhan Hyunseung Oppa jika kau tak memiliki perasaan apa-apa padanya? Kau memiliki uang yang lebih daripada hasil taruhan itu, Seobie!”

“Awalnya, ya, aku tertarik padanya. Tapi itu bukan alasan untuk menutup hatiku akan kenyataan, Sunbae. Yeoja itu perlu orang yang menyadarkannya akan sifat buruknya. Niatku bukan hanya taruhan itu saja. Inipun untuk kebaikannya nantinya.”

*****

CKLEK!

Hyemi meringis. Ia yakin sekali Yoseob akan kembali melancarkan usahanya agar Hyemi mau bekerja sama. Ia lelah bertengkar. Dan ia memutuskan akan diam kali ini ketika dihadapannya justru hadir sosok berbeda.

“IU.. Ani, Lee Ji Eun-sshi.”

Hyemi bangkit dari duduknya dan membungkukkan badannya.

IU tersenyum. “Tidak perlu melakukan hal itu. Anjjayo!” ucap IU. Itu seperti titah bagi Hyemi, karena dengan segera tubuhnya beraksi terhadap ucapan itu. Ia duduk, yang kemudian diikuti oleh IU.

“Apa yang kau lakukan di sini, Ji Eun-sshi?” tanya Hyemi.

“Kebetulan aku sedang tidak ada jadwal. Dan Yoseob memintaku untuk datang ke sini dan menemanimu.”

Hyemi mendesah mendengar nama itu. “Dia! Aku heran kenapa ada manusia seperti dia. Untuk apa dia membuang waktu seperti ini? Aku tidak membutuhkannya. Ji Eun-sshi.”

IU lagi-lagi hanya tersenyum. “Namamu Hyemi?” Hyemi mengangguk. “Mianhe atas kelancangan Yoseob.”

“Aniyo! Ini bukan salahmu, Ji Eun-sshi. Ini sepenuhnya salah si namja sok imut itu. Cihh! Bagaimana kau bisa tertipu pada sosoknya? Kau harusnya mencari namjachingu yang lebih baik daripada dia.” gerutu Hyemi.

IU melongo. Sejenak kemudian ia melepaskan tawanya. Hyemi balik menatapnya heran.

“Hyemi-sshi, kau salah paham! Aku di sini karena dia menghargaiku. Karena aku seperti keluarga untuknya. Dan kami tidak punya hubungan apa-apa. Murni hanya teman.” ralat IU.

“Jeongmal? Syukurlah! Kau akan sengsara jika bersamanya, Ji Eun-sshi.”

“Bisakah setidaknya kita menyingkirkan formalitas? Kau bisa panggil aku Eonni, atau IU saja.”

“Benarkah aku boleh melakukannya? Boleh memanggilmu begitu?” tanya Hyemi berbinar.

“Tentu saja! Dan, kurasa kau tidak seburuk yang dikatakannya.”

“Apa yang dikatakannya?”

“Kau adalah yeoja dengan mulut tajam.”

“Eo? Itu!” katanya lagi.

“Wae? Apa itu hanya topeng?”

“Ani! Itu benar.” jawab Hyemi. Ia menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi.

“Lalu? Kau baik-baik saja denganku.” IU mengerutkan keningnya. Cukup terkejut akan kenyataan betapa ramahnya yeoja di depannya.

“Karena kau bukan orang yang perlu kukhawatirkan. Kau bukan sainganku. Kita berasal dari dunia yang berbeda. Jadi tidak ada gunanya memerlihatkan sikap itu.”

“Dan kenapa sikapmu pada Yoseob begitu kasar? Dia dari dunia yang sama denganku.”

“Karena namja itu berjalan memasuki duniaku, membuatnya setara dengan yang lain.”

*****

“Sunbae, kau darimana? Sudah sarapan?” tanya Yoseob kala melihat IU memasuki rumah.

“Eo! Sudah. Aku tadi sarapan dengan Hyemi.”

Yoseob menghentikan aktivitasnya. Keningnya berkerut. Ia memandang IU penuh tanya. IU tersenyum melihatnya.

“Aku bahkan baru berjalan-jalan dengannya. Ia sedang menyusuri tepi pantai sekarang.” jawab IU tanpa ditanya.

Dan kerutan di kening Yoseob bertambah. Ia memercepat proses sarapannya. Segera setelah selesai, ia beranjak dan berjalan ke luar. Matanya beredar mencoba menemukan sosok yang dikenalinya.

Sampai di satu sudut, Yoseob terpaku. Di depan matanya, sosok Hyemi yang dicarinya tengah bersama seorang anak perempuan. Dan tertawa! Tawa yang sangat lepas. Yoseob bahkan tak pernah bisa membayangkan yeoja itu memiliki ekspresi normal itu. Selama ini, yang ia tahu jika membahas senyum, Hyemi hanya bisa tersenyum sinis. Kali ini? Bukan hanya senyum, yeoja dingin itu bahkan sedang tertawa. Yoseob tersenyum melihatnya. Mungkin selama ini ia salah menilai yeoja itu.

Yoseob mendekat. “Aku terkejut kau bisa tertawa.”

Hyemi sontak menutup mulutnya. Dan wajah yang biasa dilihat Yoseob kembali menghiasi lekuk pipi Hyemi. “Mau apa kau?” tanyanya datar.

Yoseob menyesal berpikir bahwa Hyemi mungkin yeoja baik. Ia meringis. “Kurasa tadi itu hanya kedokmu saja?” tebak Yoseob.

Hyemi tak menjawab. Ia mengelus lembut rambut anak itu. Ia kemudian melangkah meninggalkan Yoseob di sana.

Yoseob menggerutu. Benar-benar kesal ia diacuhkan. Ia menatap anak yang masih berdiri di depannya dan menatapnya. Yoseob tersenyum pada si bocah. Dan di luar dugaan, si bocah justru menjulurkan lidahnya pada Yoseob. Yoseob lagi-lagi terkejut.

*****

“Mwohae?”

Hyemi menoleh. Iu tersenyum memandangnya, yang juga dibalas dengan seringaian kecil.

“Eonni, pasti bosan, kan? Aku juga! Tidak ada yang bisa kulakukan di sini.”

“Bagaimana kalau kita ikat Yoseob dan melarikan diri dari sini?” usul IU.

Hyemi tergelak. “Eonni, kau yakin? Kalau aku, aku lebih memilih mengikatnya dan melemparnya ke laut. Kurasa dia lebih cocok hidup di sana.”

IU ganti tergelak kali ini.

Dan mereka mulai bercanda lagi. Tawa mengisi ruangan yang tadinya sepi itu.

Yoseob terpaku di depan pintu. Ia tak tahu apa yang mereka bicarakan, tapi suara tawa itu jelas menggema. Dan ia penasaran bagaimana bisa yeoja itu tertawa.

CKLEK!

Yoseob melangkah masuk. Dan tawa itu lenyap. Dua pasang mata tengah menatapnya. Dan slaah satu memberikan tatapan membunuh.

“Aku ketinggalan sesuatu yang sangat lucu?” tanya Yoseob santai tanpa peduli pada tatapan tajam Hyemi.

IU baru mau membuka mulut ketika Hyemi sudah meluncurkan kata-kata. “Kau tidak diundang, Tuan Besar! Bisakah kau keluar?”geramnya.

Yoseob meringis. Yeoja ini bisa berubah hanya dalam sekejap mata. Dan ia sedikit menyesal menerima taruhan dari Hyunseung.

Suasana tegang menyelimuti lingkup ruangan itu.

“Aku akan tinggalkan kalian berdua.” IU beranjak dari kursinya. Ia melangkah menuju pintu. “Hyemi-ah, pikirkanlah!” ucap IU sebelum menutup pintu. Hyemi membalasnya dengan senyum.

“Dan kau bisa tersenyum seperti itu?” tanya Yoseob lagi.

Hyemi, kembali memasang wajah datarnya. “Aku putuskan untuk bekerja sama denganmu, Yoseob-sshi!” katanya sambil melempar pandang ke lautan.

Yoseob melongo. “Mwo? Bagaimana bisa?” tanyanya heran. Tadi sore yeoja itu masih bersikeras tak akan mengalah. Sekarang?

“Jangan berpikir kau bisa membodohiku dengan berpura-pura akan bekerja sama, Hyemi-ah!” tekan Yoseob.

“Aku tidak sedang berpura-pura!” tegasnya.

“Lalu? Kenapa kau jadi berubah pikiran?” tanya Yoseob masih curiga.

“Kurasa tidak ada jalan lain. Satu-satunya Ini sudah hari keempat, dan orang tuaku bahkan tidak menyebarkan berita kehilanganku. Entah apa yang kau lakukan.” Ia berbalik memandang Yoseob.

“Kkokjong hajima! Aku sudah memberitahu ayahmu bahwa kau bersamaku.”

Hyemi melengos. “Pantas saja! Orang tua itu.”

“Jadi, kita sepakat?” Yoseob mengulurkan tangannya.

“Kita lihat apa kau benar-benar bisa mengubahku.” tekan Hyemi dengan nada sarkastis.

*** To be continue ***

WARNING!!

Ini gak sama ama “I Hate Happy Ending!!!” meskipun karakter cast agak mirip. Yang jelas ceritanya beda, dan endingnya juga beda!!!

Komen yaq! Komen yaq! Komen yaq!
Kalo dikit doank komennya, aku kagak jadi lanjutin..
Kalo lumayan banyak, aku post lagi lanjutannya…

55 responses to “Uncontrol [Part 1]

  1. Aduih aku ketinggalan banget nih baru baca 😦 tapi aku usahain setiap baca aku komen deh hehe
    Wah part 1 nya cukup bingung nih soalnya banyak banget pertanyaan :3 kenapa sih yoseob bersikukuh pengen kerjasama sama hyemi? Trus kenapas sih hyemi kayaknya benci bgt sm yoseob? Oke aku akan mencaritau jawabannya hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s