[FREELANCE] Me, My Love And It’s You ~Just Once~

Judul     : Me, My Love And It’s You ~Just Once~

Author  : thunderkyu (For everyone who will publish this, hope you understand I use this                              name only)

Cast      : Yang Seungho (MBLAQ), ShinYoungra (OC) & find it more

Genre    : Romance ❤

Rating   : PG 13

Note      : Hope you like it ^^

Really only you only you are everything to me

Even though I’m looking at you, even though I’m holding you, my tears are falling

How could you come to me?

As much as how that seems unbelievable to me

…I love you… – My Heart is Beating (K.Will)

 Ketika aku mencintainya dengan sepenuh hati, pernahkah dia berpikir untuk mencintaiku walaupun hanya satu detik? –Shin Youngra-

 

Saat ini musim dingin sedang berlangsung di kota Seoul dan jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam, namun masih terlihat seorang perempuan yang sedang duduk sendiri di tengah taman kota. Kepulan uap yang keluar dari mulutnya terihat semakin tebal, menandakan bahwa cuaca telah semakin dingin. Tetapi dia terlihat tidak gentar menanti seseorang yang ia tunggu kedatangannya sejak jam 3 sore tadi.

“Youngra, kau bodoh! Sebenarnya apa yang kaulakukan disini? Walaupun kau tunggu selama ini, Seungho tidak akan pernah datang. Kau benar-benar bodoh” gadis itu, berkata lebih kepada dirinya sendiri.

“Tetapi…sepertinya tidak apa-apa jika aku menunggunya sebentar lagi. Mungkin saja dia lupa dan sebentar lagi akan mengingatnya.” Sejak pukul 3 sore Youngra, nama gadis itu, terus meyakinkan dirinya sendiri bahwa lelaki itu akan datang menemuinya.

— (a few days ago)—

“Seungho-ya! Tunggu aku!” Youngra berlari sepanjang koridor lantai sembilan di kantor tempatnya bekerja untuk mengejar Seungho. Tetapi orang yang dipanggil sama sekali tidak meghiraukan panggilan tersebut.

“Yak! Seungho! Jahat sekali kau meninggalkanku dibelakang padahal aku sudah berteriak memanggilmu,” kata Youngra yang akhirnya dapat menjajari langkah lelaki itu. Sambil terus berjalan dan tidak memandang sedikit pun kepada perempuan disebelahnya kemudian Seungho berkata,

“Ada apa? Aku ingatkan, saat ini masih berada di kantor. Aku adalah atasanmu dan sebaiknya kau tidak memanggilku seperti itu.”

“Mianhae. Maaf jika aku membuatmu kesal,” Youngra menundukkan kepala tanda ia sangat menyesal sambil terus mengikuti langkah Seungho hingga akhirnya terhenti ketika menunggu pintu lift terbuka.

Ding! Tanda pintu lift terbuka. Seungho kemudian memasuki lift duluan diikuti oleh Youngra. Hanya ada mereka berdua di dalam lift tersebut. Hingga pintu lift tertutup kembali, tidak ada pembicaraan sama sekali diantara mereka. Youngra yang merasa jengah dengan situasi seperti itu akhirnya mulai membuka suara duluan.

“Seungho-ya, bolehkah aku menumpang padamu hingga ke arah itaewon? Yah jika dihitung-hitung aku mungkin dapat menghemat uang biaya menggunakan bus…hehehehe,” Mereka memang tinggal di wilayah yang sama. Tetapi sebenarnya Youngra berbicara seperti itu hanya untuk mencoba memecah kebisuan di antara mereka.

“Maaf. Tidak bisa. Gyuri sudah menungguku di bawah,” Seungho menjawab dengan nada seperti tidak tertarik pada percakapan itu sama sekali. Deg! Detak jantung Youngra seperti terhenti demi mendengar nama Gyuri diucapkan oleh Seungho.

“Gyuri. Dia memang lebih penting bagimu, Seungho”. “Gyuri…ya Gyuri. Hanya dia perempuan yang sangat kau cintai saat ini dan mungkin untuk selamanya. Ini sangat benar kan, Seungho-ya? Hingga kau tidak pernah melihat diriku yang telah berada disini untuk dirimu, sejak pertama kali kita bertemu tujuh tahun yang lalu,” ucap Youngra hanya dalam hatinya. Setelah itu diam, tidak terjadi pembicaraan di antara mereka sama sekali.

            Ding! Pintu lift sudah terbuka menandakan bahwa mereka telah sampai di lantai dasar. Langsung saja Seungho keluar lebih dulu dari dalam lift dan setengah tergesa dia menuju lobi di kantor perusahaan besar berlantai dua puluh itu. Dan benar saja seorang gadis berparas cantik telah menunggunya di lobi tersebut. Youngra yang juga telah keluar dari dalam lift hanya dapat menatap dengar tatapan nanar dari dekat pintu lift ketika kejadian itu berlangsung.

“Yeobo~…,” suara Gyuri terdengar dari tempat Youngra berdiri. Seungho setengah berlari menghampiri kekasihnya itu dan setelah itu mereka saling berpelukan di tengah kepadatan kantor karena saat itu sudah jam pulang kantor

“Apa mereka tidak malu berbuat seperti itu?” Youngra baru menyadari bahwa ada seseorang disebelahnya berbicara yang entah datang darimana dan itu adalah Minha, teman baiknya di kantor.

“Yah wajar sajalah, Minha-ya. Mereka kan orang yang sedang jatuh cinta,” Youngra tersenyum lemah ketika berbicara seperti itu.

“Kajja! Kita pergi dari sini saja. Aku sudah muak melihat adegan romeo dan juliet disini,” Minha menarik tangan Youngra menjauhi Seungho dan Gyuri yang masih bercakap-cakap di lobi kantor.

“Youngra-ya, apa sih yang kau suka dari Seungho? Mengapa begitu lama kau menyukainya?” Minha berbicara dalam perjalanan mereka menuju pintu keluar lainnya di samping kantor mereka.

“Aku tidak tahu, Minha.”

“Mwo? Kau tidak tahu alasan mengapa kau menyukainya? Aneh sekali kau, Youngra. Jika mencintai seseorang harus dengan alasan.”

“Yak! Kau tidak pernah dengar pepatah, huh? Cinta yang tulus itu sebenarnya tanpa alasan. Misalnya saja kau mencintai seseorang karena tampan, berarti ketika ia tidak tampan lagi kau tidak akan mencintainya lagi begitu?” Youngra tersenyum masam menyadari ucapannya sendiri.

“Yah, benar juga sih apa katamu, Youngra. Tetapi kenapa dulu kau sampai menyukainya? Maksudku sejak kapan kau menyukainya?”

“Aku menyukainya sejak aku melihatnya bermain piano di acara amal universitas dulu. Aku benar-benar suka waktu melihat permainan pianonya. Apalagi ketika dia bermain piano mengiringi anak-anak kecil dari sebuah panti asuhan saat malam puncak kegiatan amal saat itu. Rasanya damai sekali. Sejak itu aku tahu bahwa dia sangat hebat bermain piano,” Youngra berkata sambil mengingat kejadian di masa lalunya.

“Oh ya? Jadi Seungho dapat bermain piano? Aku tidak tahu jika kau tidak menceritakannya. Wah lain kali kita harus menyuruh Seungho sajangnim untuk bermain piano di acara kantor.”

“Minha-ya, sepertinya rencanamu tidak akan pernah menjadi kenyataan.”

“Wae? Bukankah kau bilang Seungho sangat hebat bermain piano?”

“Begini Minha-ya. Sejak aku tahu bahwa Seungho sangat pandai bermain piano, aku juga mendapatkan informasi dari teman-temannya bahwa dia tidak akan pernah bermain piano tanpa alasan yang jelas. Waktu itu saja karena ada acara amal di universitas sehingga dia mau bermain piano, itupun setelah di paksa oleh pihak universitas sendiri,”

“Wah aneh sekali itu. Masa dia tidak mau menghibur rekan kerja sendiri sih,”

“Dan ada satu lagi rahasia yang di bongkar oleh temannya waktu itu,” Youngra berkata pada Minha sambil membuka pintu kantor mereka untuk keluar dari gedung itu.

“Apa?” Minha penasaran dengan ucapan Youngra.

“Bahwa dia hanya akan bermain piano untuk orang yang dicintainya saja. Teman-temannya dulu juga berkata bahwa mereka mengetahui Seungho pintar bermain piano dari mantan kekasihnya waktu di sekolah dulu. Jadi disini aku dapat menyimpulkan bahwa dia hanya akan memperlihatkan kemampuannya hanya pada kekasihnya saja. Karena sejak acara amal universitas itu, aku sama sekali tidak pernah lagi melihat Seungho bermain piano hingga saat ini,” Youngra memperlihatkan wajahnya yang kecewa.

“Sudahlah jangan bersedih seperti itu. Aku yakin suatu saat kau akan mendapatkan kesempatan untuk melihatnya bermain piano lagi, bagaimana?” Minha mencoba membesarkan hati sehabat baiknya di kantor itu.

“Tetapi kapankah kesempatan itu akan ada, Minha-ya?”

“Suatu saat aku yakin,” senyum Minha membuat Youngra menjadi lebih baik..

“Gomawo, Minha-ya. Hanya kau teman baikku di kantor ini yang mau mengerti dan mau mendengarkan semua ceritaku mengenai Seungho.”

“Itulah gunanya teman. Jika ada apa-apa segeralah berbicara padaku? Okay?” Minha berhenti berjalan dan kemudian menjulurkan jari kelingkingnya untuk membuat janji dengan Youngra.

“Yaksokhae! Aku berjanji” Youngra menautkan jari kelingkingnya dengan milik Minha. Setelah itu mereka berjalan lagi dan kemudian melanjutkan obrolan mereka di sebuah cafeteria di dekat kantor karena Minha tiba-tiba merasa haus.

“Youngra-ya. Selama ini kau menyukai Seungho, kau tidak pernah mengatakannya?” Minha bertanya sambil meminum cappuccino ice di gelas yang ia pegang. Mereka memilih untuk duduk terlebih dahulu di cafeteria tersebut.

“Anni! Aku tidak pernah mengatakannya. Aku terlalu takut. Karena dari semasa kuliah itu banyak sekali perempuan yang mendekatinya dan semuanya cantik-cantik.. Aku tidak memiliki keberanian sama sekali untuk mendekatinya. Dulu kami hanya berbicara seperlunya saat mengerjakan tugas jika kebetulan kami mengambil kelas yang sama. Setelah itu dulu aku cukup sering mencoba mengiriminya pesan tetapi ia tidak pernah mau membalasnya sama sekali jika itu tidak berhubungan dengan kuliah. Aku sangat kaget ketika bekerja di kantor ini dan ternyata dia atasanku. Aku pikir bisa mendekatinya saat di kantor. Tetapi lihatlah sendiri, dia tetap mengacuhkanku seperti dulu.” wajah Youngra terlihat muram kembali.

“Yah..Seungho sajangnim sepertinya memang orang seperti itu. Sebelum kau bergabung di kantor ini, dia terkenal sebagai seseorang yang serius walaupun sebagian orang berkata dia memiliki sisi humoris. Dia memang akan cukup dingin ketika ada pegawai perempuan yang mulai mendekatinya dengan gaya ingin mengenal lebih jauh dengannya. Tetapi aku baru tahu dia dapat berlaku seperti itu, peluk-memeluk dengan seorang perempuan seperti tadi itu, setelah dia berpacaran dangan Gyuri, anak senior kepala divisi humas,” Minha meminum lagi cappuccino ice-nya hingga habis. Setelah itu mereka diam beberapa lama hingga Minha mengeluarkan ide yang cukup mengejutkan Youngra.

“Youngra-ya! Bagaimana jika kau mengajaknya berbicara langsung mengenai perasaanmu? Ide bagus bukan!”

“Mwooo? Yak! Minha! Apakah kau gila? Shireoh! Aku tidak mau melakukannya,” Youngra langsung menolak dengan tegas.

“Wae? Bukankah itu hal yang biasa saat ini, perempuan mengungkapkan perasaannya terlebih dahulu.”

“Aniyo! Itu tidak biasa bagiku. Aku…aku belum pernah melakukannya sebelumnya. Dan jujur aku belum pernah juga merasakan bagaimana rasanya seseorang menyatakannya perasaannya padaku. Jadi aku tidak memiliki gambaran sama sekali mengenai hal itu.”

“Mwo? Jangan bilang bahwa kau tidak pernah berpacaran sebelumnya dan Seungho adalah lelaki pertama yang kau sukai? Dan kau tidak pernah menyukai lelaki lain setelah itu?” Minha bertanya dengan mata hampir keluar.

“Yah sayang sekali tetapi memang begitulah kenyataannya,”

“What? Youngra-ya, apa yang kau lakukan semasa sekolah dan saat kuliah?” Minha masih tidak percaya dengan pernyataan Youngra mengenai Youngra yang tidak pernah berpacaran.

“Semasa sekolah aku hanya belajar dengan rajin. Pergi sekolah kemudian ke bimbingan belajar. Aku tidak pernah memikirkan soal lelaki dan sebagainya. Semasa kuliah itulah baru aku merasakan jatuh cinta. Tetapi kau tahu sendiri, aku jatuh cinta pada orang yang salah,” Youngra seperti tersenyum tetapi tersenyum masam lagi.

“Youngra-ya…malang sekali hidupmu. Oke sekarang kau harus selangkah lebih maju. Kau harus mengajak Seungho bicara dan beritahu perasaanmu yang sudah….sudah berapa lama, Youngra?” Minha bertanya pada Youngra lagi dengan penuh tanda tanya dikepalanya.

“Tujuh tahun,” Youngra menjawab dengan lesu.

“Tujuh tahun??? Oke ini tidak dapat dibiarkan berlangsung lebih lama lagi.Kau harus mengatakannya!!! Karena menurut pendapat beberapa orang, setelah menyatakan perasaan itu pasti akan terasa lega walaupun pada akhirnya kau tidak dapat bersamanya. Paling tidak kamu dapat merasakan sudah mengeluarkan beban dari punggungmu.”

“Tetapi bagaimana caranya memulai dan mengajaknya pergi, Minha? Dia juga sudah mempunyai Gyuri. Tidak mungkin aku mengajak lelaki yang sudah mempunyai kekasih untuk bertemu berdua”

“Ajak dia bertemu saat libur kerja hari minggu nanti. Oke? Bagaimana? Tak apalah dia sudah berpacaran dengan Gyuri. Masa bodoh saja. Ini kan urusan sejak tujuh tahun yang lalu. Bahkan sebelum Gyuri ada di antara kalian”

“Jadi, aku yang harus menghubunginya duluan untuk mengajaknya pergi?” Youngra masih merasa ganjil dengan situasi seperti itu.

“Yap! Seperti itulah. Oya, Youngra. Kau pulang dengan siapa?”

“Ya dengan dirimu, Minha. Memangnya aku harus pulang dengan siapa lagi?” Youngra merasa bingung dengan pertanyaan temannya.

“Oh okelah jika begitu. Tadi Changsun mengajakku pulang bersama, tetapi aku akan menolaknya karena kau pulang denganku. Tunggu sebentar,“Minha mulai mengeluarkan ponselnya dari dalam tas kerja untuk menghubungi Changsun.

“Eits! Minha! Jangan. Tidak usah. Kau pulanglah saja dengan Changsun. Aku akan pulang sendiri,” Youngra mencegah temannya untuk menolak ajakan Changsun.

“Aniyo. Sudahlah tak apa. Aku akan menolaknya,”

“Yak!” Youngra bangkit dari tempat duduknya dan merebut ponsel milik Minha. “Pulanglah saja dengan Changsun. Aku tidak apa-apa pulang sendiri. Oke. Cepatlah! Changsun pasti sedang menunggumu saat ini,” Youngra memaksa temannya untuk segera pergi.

“Yakin tidak apa-apa jika kau pulang sendiri?” Minha masih mengkhawatirkan temannya.

“Yap! Sangat yakin. Ayolah jangan buat Changsun menunggu terlalu lama lagi.”

“Baiklah jika kau berkata seperti itu. Aku pergi dulu ya? Jangan lupa untuk rencana yang tadi. Hubungi Seungho dahulu dan ajak dia bertemu. Sampai jumpa. Hati-hati di jalan ya,” Minha kemudian pergi setelah mencium pipi teman baiknya di kantor itu. Youngra hanya terseyum melihat kepergian temannya. Dia merelakan teman baiknya itu pulang dengan Changsun karena Youngra tahu bahwa Minha akhir-akhir ini sedang jatuh cinta pada teman kerjanya itu.

            Kemudian Youngra berjalan menuju halte bus terdekat dari kantornya. Dia sudah terbiasa menggunakan bus untuk pulang-pergi kerja. Ketika dalam perjalanannya menuju halte bus, ia melihat mobil Seungho melewatinya. Terlihat perempuan di samping Seungho yang menduduki kursi penumpang mobil Seungho dengan sangat nyaman. Saat itu Youngra hanya dapat berpikir mengenai kapan kesempatan itu, kesempatan untuk duduk di samping Seungho di kursi penumpang mobil itu, akan datang padanya. Selama berada dalam bus sepanjang perjalanan menuju apartemennya, Youngra terus berpikir mengenai saran Minha yang dibicarakan tadi. Perasaan ragu untuk memulai duluan sempat menghinggapi pikiran Youngra, namun pada akhirnya ia meyakinkan dirinya untuk melakukannya.

            Malamnya Youngra mulai memberanikan dirinya untuk menghubungi Seungho duluan setelah mangalami pergulatan batin selama hampir 2 jam sejak pulang kantor tadi. Akhirnya Youngra memutuskan untuk mengirimi Seungho pesan singkat.

To. Seungho ❤

(Message Sent at 07.30PM)

Seungho-ya. Apakah kau sudah pulang ke apartemen?

Kau sedang apa sekarang?

 

            Setelah mengirim pesan seperti itu, Youngra kemudian merutuki dirinya sendiri mengapa mengirimkan pesan seperti itu. Dan benar saja perkiraan Youngra karena pesan tersebut tidak juga di balas hingga jam menunjukkan pukul setengah sepuluh. Youngra pun akhirnya memutuskan untuk mengirim sebuah pesan lagi kepada Seungho.

To. Seungho ❤

(Message Sent at 09.30PM)

Seungho-ya. Maaf mengganggumu kembali dengan pesanku.

Tetapi bisakah kau datang ke taman kota hari minggu pukul 3 sore?

Aku mohon agar kau mau meluangkan waktumu sebentar

karena ada hal yang ingin aku bicarakan denganmu.

Tolong balaslah pesan ini.

Mianhae jika mengganggu J

 

            “Ya Tuhan, semoga kali ini dia mau membalasnya!” doa Youngra dalam hati. Tetapi hingga 15 menit kemudian tidak ada balasan sama sekali dari Seungho. Youngra pun akhirnya menyerah menunggu balasan dan bersiap untuk tidur ketika telepon genggamnya yang berada di meja nakas samping tempat tidurnya bergetar. Drtt..drrtt..drtt…

            One Message Received! Dan ternyata dari Seungho. Youngra sempat hampir melonjak kesenangan karena menerima pesan balasan dari Seungho.

From. Seungho

(Message Received at 10.00 PM)

Mianhae. Aku tidak bisa datang.

 

            Seketika setelah membaca pesan tersebut, Youngra merasa seperti hilang akal hingga akhirnya dia membalas pesan Seungho dengan sedikit memaksa.

To. Seungho

(Message Sent at 10.05PM)

Aku akan tetap menunggumu disana.

Hari minggu di taman kota pukul 3 sore.

Aku harap kau akan datang.

Tidak masalah jika kau datang terlambat.

Aku akan terus menunggu hingga kau datang.

 

            Setelah mengirimkan pesan seperti itu, Youngra merasakan matanya sedikit panas dan tidak lama titik-titik air mulai keluar dari sudut matanya. Sepanjang malam itu dia hampir tidak dapat memejamkan matanya.

            Setelah malam mengirim pesan tersebut, Youngra tidak pernah bertemu Seungho di kantor karena ia harus mengurus pekerjaan di luar kota. Selama menunggu akhir pekan yang rasanya begitu panjang bagi Youngra, ia terus berharap bahwa Seungho akan datang saat itu.

            Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam ketika Youngra melihat jam yang melingkari tangannya. Hatinya saat itu terasa kosong, tidak dapat merasakan apa-apa. Udara di sekeliling yang semakin dingin, sama sekali tidak membuat tubuhnya menggigil kedinginan. Otaknya terus sibuk memikirkan alasan apa yang membuat lelaki yang ditunggunya sejak tadi tidak juga datang. Akhirnya dengan tangan gemetar karena menahan segala gejolak yang ada pada dirinya, ia memutuskan untuk menelpon seseorang.

“Yoboseyo?” orang yang menjawab telpon itu bersuara dengan nada malas menahan kantuk..

“Minha-ya, bisakah kau menjemputku di taman kota sekarang?” nada suara Youngra terdengar sangat lirih dan tidak bersemangat.

“Yak! Youngra! Ini sudah malam…apa yang kau la..ku…” Minha tidak melanjutkan pertanyaannya lagi karena dia kemudian teringat mengenai rencana teman baiknya itu.

“Youngra, gwaenchanayo? Apakah kau baik-baik saja?”

“Ne, nan gwaenchana…Apakah kau dapat menjemputku di taman kota sekarang?”

“Oke…Youngra baiklah. Tunggu aku disana. Aku akan datang sekitar 15 menit lagi. Kau hati-hati oke? Jangan beranjak dari tempatmu saat ini hingga aku datang.” Seketika setelah menutup telpon, Minha segera bergegas mengenakan mantelnya, mengambil kunci mobilnya dan kemudian mengenderai mobil itu menuju taman kota.

“Youngra, ternyata kau benar-benar melakukan rencanamu hingga seperti ini? Ya Tuhan, bahkan ini sudah larut dan dia masih menunggu? Argh! Seungho-ssi kau memang benar-benar keterlaluan membiarkan seorang perempuan menunggumu hingga larut. Jam 3 sore? Ya Tuhan! 7 jam?!? Aku berharap Youngra tidak beku di taman kota. Ini sangat dingin sekali!” Minha berkata-kata sendiri ketika menyetir mobilnya yang sedang melaju menuju taman kota.

            Seperti perkataannya ketika di telpon tadi, 15 menit kemudian Minha telah sampai di taman kota. Setelah memarkir mobilnya di tempat yang sekiranya cukup aman kemudian dia mulai memasuki taman kota untuk mencari teman baiknya itu. Setelah berkeliling sebentar Minha akhirnya dapat menemukan Youngra sedang duduk sendiri di bangku taman yang berada di dekat kolam dengan kepala tertunduk. Minha kemudian mendekati Youngra dengan perlahan sambil memastikan bahwa temannya itu dalam keadaan baik-baik saja.

“Youngra-ya…gwaenchana?” hanya kata-kata itu yang dapat diucapkan Minha ketika pertama kali menghampiri Youngra. Youngra hanya mengangguk, kepalanya masih menunduk. Minha membiarkan keadaan dalam diam selama beberapa saat. Hingga akhirnya ia mengajak Youngra pulang.

“Youngra. Ayo sebaiknya kita pulang sekarang. Ini sudah sangat larut dan udara juga semakin dingin.” Youngra kemudian mengangkat kepala. Dan selama beberapa saat Minha terpana melihat keadaan teman baiknya itu. Wajahnya pucat dan bibirnya sudah sedikit membiru karena menahan udara dingin dari sore hingga malam hari. Saat berdiri Youngra sedikit terhuyung, segera saja Minha menggandeng lengan Youngra dan memapahnya saat berjalan munuju mobil.

“Gomawo, Minha-ya,” hanya itu kata yang diucapkan Youngra sebelum Minha menstater mobilnya. Setelah mobil melaju, tidak terjadi lagi percakapan diantara mereka. Minha pun berjanji menahan dirinya sendiri untuk tidak bertanya mengenai kejadian tadi. Youngra pun hanya memandang dengan kosong kearah jalanan melalui jendela mobil sebelum beberapa saat kemudian ia tertidur.

“Youngra-ya, ireona. Ayo bangun. Kita sudah sampai.” Youngra mengerjapkan matanya selama beberapa saat sebelum sadar sepenuhnya bahwa ini bukanlah lingkungan apartemennya.

“Youngra. Mianhae aku tidak mengantarmu pulang ke apartemen. Malam ini aku mohon kau menginap saja dirumahku,” Minha menjelaskan kepada Youngra. Minha khawatir dengan keadaan Youngra yang terlihat tidak baik sehingga mengajaknya untuk menginap.

“Baiklah, Minha. Tidak apa-apa. Jeongmal kamsahaeyo,” Youngra mengulas senyum ketika berbicara.      Setelah itu mereka masuk ke dalam rumah Minha yang kebetulan hanya tinggal sendiri. Minha sempat menawarkan Youngra untuk mengisi perutnya yang pasti kosong entah sejak berapa lama, tetapi Youngra menolaknya dan memilih untuk segera tidur. Setelah masuk ke dalam kamar, Youngra kemudian menutupi tubuhnya dengan selimut hingga kepalanya. Selama beberapa saat Minha mendengar isak tangis Youngra dari bawah selimut. Minha bear-benar tidak tahu apa yang harus dilakukannya saat itu hingga ia hanya membiarkan Youngra dengan isak tangisnya itu sampai tertidur.           Minha ikut merasa bersalah dengan kejadian yang berlangsung tadi. Karena bagaimana pun dia yang mempunyai ide untuk melakukan semua hal itu. Dan Minha sendiri benar-benar tidak menyangka jika Youngra benar-benar melakukannya ketika ia berkata akan menunggu selama apapun hingga Seungho datang.

“Ini tidak dapat dibiarkan. Seungho memang sangat keterlaluan.” Minha segera mengambil telpon genggamnya dan kemudian men-dial nomor ponsel Seungho yang memang sudah ada di dalam contact list di telpon genggamnya. Cukup lama nada sambung terdengar hingga kemudian seseorang di ujung telpon menjawab.

“Yoboseyo?” suara berat lelaki menjawab telpon Minha. Minha yang yakin suara Seungho yang menjawab telponnya langsung saja tanpa basa-basi memarahi lelaki itu.

“Yaaak! Seungho-ssi kau memang benar-benar keterlauan. Lelaki macam kau itu, huh?!? Benar-benar tidak memiliki perasaan. Apa kau tidak pernah memikirkan perasaan orang sama sekali?”

“Yak! Minha-ssi! Apa yang kau katakan? Menelpon pada jam segini dan langsung memarahiku tanpa alasan. Kau sangat mengganggu sekali!” Seungho membalas perkataan Minha dengan dengan nada cukup tinggi juga.

“Apa katamu? Aku menelpon tanpa alasan! Yak! Neon babo saramiyeyo! Bodoh! Neon jeongmal micheoseoyo? Apakah kau juga gila?!” Minha semakin emosi dengan perkataan Seungho.

“Aku akan menutup telpon ini jika kau terus memarahiku seperti itu. Benar-benar perempuan yang tidak memiliki sopan santun.” Seungho baru akan menutup telponnya ketika Minha berteriak melalui sambungan telpon itu.

“Yaaaaak! Seungho-ssi! Apakah kau benar-benar tidak memiliki perasaan hingga membiarkan seorang perempuan menunggumu hingga larut malam?”

“Jika ini mengenai Youngra. Aku benar-benar akan menutup telpon ini.”

“Seungho-ssi kau memang seorang lelaki tanpa hati! Ya ini memang mengenai Youngra. Apakah kau tidak berniat untuk menemuinya walau hanya satu detik? Kau tahu berapa lama dia menunggumu di taman kota?!”

“Aku sudah berkata padanya bahwa aku tidak dapat datang. Jadi sekali lagi kau kuperingatkan bahwa itu semua bukan kesalahanku. Dan temanmu itulah yang bodoh, tetap memaksa untuk menungguku padahal aku telah mengatakan bahwa aku tidak akan datang,” nada Seungho sudah kembali normal ketika berbicara.

“Seungho-ssi. Tidakkah kau mau meminta maaf padanya? Kau tau dia hampir beku kedinginan di taman kota karena menunggumu! Apakah kau tidak mau tahu sama sekali?!” Minha benar-benar merasa marah dengan ketidakingintahuan Seungho mengenai keadaan Youngra.

“Oke aku akan minta maaf jika itu akan menghentikanmu untuk memarahiku di telpon di waktu seperti ini. Sampaikan pada teman baikmu itu aku meminta maaf padanya. Dan juga bilang padanya untuk tidak menggangguku lagi di kantor maupun di luar kantor.” Setelah itu Seungho menutup telponnya tanpa mengatakan apa-apa lagi.

“Yak! Seungho! Kau benar-benar lelaki tidak berperasaan sama sekali. Lelaki gila! Bagaimana bisa kau mengatakan bahwa kepada Youngra untuk tidak mengganggumu di kantor ataupun di luar kantor lagi!” Minha masih marah-marah di depan telpon genggamnya setelah Seungho menutup sambungan telpon itu terlebih dahulu.

Tanpa Minha sadari, sedari tadi Youngra telah terjaga dari tidurnya untuk mendengarkan pembicaraan antara Minha dan Seungho melalui telpon. Tanpa mendengar jawaban Seungho secara langsung dengan telinganya, dengan hanya mendengarkan reaksi Minha yang sudah marah hingga terdengar sepertinya mengeluarkan uap itu, Youngra yakin bahwa Seungho tidak peduli dengan apa yang dilakukannya tadi. Tanpa terasa titik-titik air mata mulai keluar lagi dari mata Youngra yang jika tidak dalam keadaan seperti ini akan terlihat sangat cantik. Youngra segera menarik selimutnya lebih rapat menutupi tubuhnya. Hari ini ia hampir tidak dapat tidur lagi karena Seungho. Walaupun badannya terasa lelah luar biasa setelah menunggu Seungho dari sore tadi, tetapi pikiran Youngra tidak dapat diistirahatkan, yang kemudian membuat matanya tidak dapat menutup hingga menjelang fajar.

Advertisements

35 responses to “[FREELANCE] Me, My Love And It’s You ~Just Once~

  1. Pingback: SAKAUPOKER – Agen Poker Online Terpercaya | Bisnis Online Terbaru·

  2. Pingback: DAUNPOKER - Agen Poker Online Terpercaya | Bisnis Online Terbaru·

  3. Pingback: SAKAUPOKER – Agen Poker Online Terpercaya·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s