Seasons of The Lucifer [CHAPTER 7] Part. A

Seasons of The Lucifer

Title:Seasons of The Lucifer

Author: LucifeRain / Aya

Genre: romantic – comedy, Friendship, AU

Leght: Chaptered

Ratting:General

Main Cast:

Cho Minhye a.k.a Cho Minhyun

Kim Kibum a.k.a Key

Choi Minho a.k.a Minho

Lee Taemin a.k.a Taemin

Kim Jonghyun a.k.a Jonghyun

Lee Jinki a.k.a Onew

Support Cast

–          Choi Jinhya

Annyeong… kayaknya Chapter ini bakalan jadi Chapter paling tenang deh… maap ya kalo aku masukin pict yang errr…. Disini wkwkw

Past di partnya Key bakal banyak narasi dari pada dialog, nikmatin aja ya J) dan bacanya pelan pelan aja. Jangan lupa komennya

SOL [teaser]SOL [chapter 1]SOL [chapter 2]SOL [Chapter 3]SOL [Chapter 4], SOL [Chapter 5], SOL [chapter 6] part.A,   SOL [chapter 6] part.B, and others

______________

Lucifer

Seseorang berwajah malaikat namun seperti iblis

Hati yang egois

Cinta yang tulus

Kesucian yang keliru

Mengancam

Berulang kali salah seperti malaikat dan iblis

Mempunyai perasaan yang tidak jelas

Lucifer adalah keberanian

—————————–

Tiba tiba Key mendelik ke arah Minhyun, membuat dia terkunci terkena tatapan tajam dari bola kristal coklat yang bersemayam di balik mata elips Key. Sulutan emosi terpancar jelas dari sana.

“JANGAN IKUT CAMPUR! KAU BUKAN SIAPA SIAPA!”

Dengan gerakan yang sama Key membanting sendoknya sambil memundurkan kursi yang ia duduki. Raut wajah dingin mengiringi langkah bisunya menuju elevator hingga pintu berwarna Silver itu tertutup.

Minhyun yang tadinya mengekori langkah Key dengan tatapan membunuh, kini kembali menatap empat namja yang melahap sarapan mereka dengan santainya. Lagi lagi mereka bertingkah seakan tidak terjadi apa apa.

“aku bersumpah akan mencari tahu apa yang kalian sembunyikan” desis Minyun mengeluarkan segala emosi yang membuncah dalam dirinya.

“sebaiknya kau diam karena menjadi sub Member pun kau belum lulus” tutur Jonghyun. Semburat dingin menghiasi paras namja itu, ekspresi hangat yang menjadi ciri khas seorang Kim Jonghyun seolah luntur tak berbekas sedikitpun.

Minhyun mengepalkan kedua tanganya hingga buku buku jarinya memutih. Dia menggeleng tidak percaya, pasti ada masalah besar yang disembunyikan. Lalu apa gunanya sahabat dimata bereka?

~*~*~*~

Key melangkah menyusuri lorong jalur belakang SShall, dia sama sekali tak berniat untuk masuk sekolah. Ternyata pelarian di Club kemarin jauh dari kata mampu untuk memindahkan penat yang melingkupi benaknya, meskipun hanya separuh saja.

Key menjalankan mobilnya keluar dari lingkungan SShall dan ketika mobil itu melaju di jalan utama kota Seoul, ia langsung mengaktifkan sistem kemudi otomatis.

Earphone terpasang melingkari kedua telinga Key, namja itu memundurkan sandaran Jok berusaha mendapatkan posisi senyaman mungkin untuk mengistirahatkan raganya tapi tidak untuk pikiranya karena Key tidak berniat tidur sedikitpun.

Sejatinya namja itu adalah manusia biasa. Nafasnya yang semakin teratur menandakan jiwanya telah terbang mengarungi dunia mimpi.

~*~*~*~

Seorang anak bernama Kim Kibum terduduk di tepi danau, seulas senyum mengembang dari bibirnya ketika bel pulang sekolah menggema.

Sejak tiga minggu kemarin, kibum rutin datang ke danau dan duduk menghadap gedung Domyung High School. Bukan untuk bermain main, melainkan untuk memperhatikan seorang gadis yang parasnya menyerupai malaikat. Krystal.

Pandangan Kibum berpendar menelusuri setiap murid yang keluar dari gerbang sekolah. Semakin lama murid yang keluar semakin sedikit namun Berselang beberapa menit, orang yang dimaksud Kibum sudah terlihat.

Seperti biasa, wajah gadis itu sangat cantik dengan senyum yang mampu menenangkan jiwa penikmatnya. kibum memang sudah dalam tahap memuja Krystal, karena paras teduh yang mendekati kata sempurna itu selalu menaungi perasaanya.

Dia merasa kalau senyuman krystal mirip dengan ibunya, itulah sebabnya ibu Kibum memvonis dirinya mengidap Oedipus Compleks dimana ia selalu menyukai wanita yang lebih tua.

Kibum memang lebih suka mengobrol dengan seorang “wanita” dari pada anak seusianya, karena Kibum menganggap hanya orang berusia lebih tualah yang yang dapat menyeimbangi orang kelewat cerdas seperti dirinya.

“noona!” panggil Kibum ketika ia berjalan mendekati krystal.

“noona!!”

Seruan kedua itu membuat Krystal menghentikan langkahnya, ia membalikkan badan kemudian sedikit menyernyit melihat seorang anak melangkah ke arahnya dengan seringai lebar.

Krystal menaikkan tas sandangnya yang sedikit melorot sambil berjalan menghampiri Kibum. Dia tersenyum ramah, senyum yang selalu sukses menaikkan level memuja Kibum.

“Annyeong Dongsaeng, kau yang waktu itu bukan?”

“ah, bagaimana Noona bisa tahu?” ujar Kibum. Seperti ada kupu kupu yang mengepak di sekelilingnya, membuat dirinya dipenuhi luapan bahagia khas anak anak.

“tentu saja” Krystal terkekeh kecil “ada apa memanggilku?” ucapnya kemudian.

“namaku Kim Kibum, Noona” tutur Kibum sedangkan Krystal hanya mengangguk kecil.

“aku ingin memberi Noona sesuatu”

Kibum membuka tas ranselnya, beberapa saat dia mengaduk aduk isinya dan kemudian mengeluarkan secarik surat beramplop merah muda. Mungkin isinya hanya rangkaian kata sederhana, tapi dia mati matian menahan malu saat meminta teman sekelasnya mengajari menulis surat itu.

“untuk Noona” ujar Kibum kala ia menjulurkan sebuah surat di hadapan Krystal.

Krystal menerima surat itu dengan penuh senyum, ia membolak balikkan amplopnya kemudian membaca sebaris kalimat di depan amplop tersebut.

“bagaimana kau bisa tahu namaku Krystal?”

Kibum tersenyum lebar “Karena aku menyukai Noona”

Mendengar itu Krystal tertegun sejenak, kemudian ia membalas senyuman Kibum lalu mengusap puncak kepalanya dengan lembut

“nado”

Kibum tertunduk malu, ia kemudian berbalik lalu melangkah menjauhi Krystal. Entahlah, setelah Krystal mengucapkan kata kata itu perasaanya sangat bahagia, hanya itu yang dia inginkan. Hanya sesederhana itu.

Kibum tak langsung pergi, ketika Krystal tak lagi memandangnya dia segera bersembunyi di balik pohon besar yang tak jauh dari sana. Dia penasaran bagaimana reaksi Krystal saat membaca surat kecilnya. Bahagia kah?

“Krys!”

Seorang yeoja menghampiri Krystal, dan sepertinya ia menyadari surat kecil yang di genggam Krystal. Mereka berdua sama sama memandang surat itu sambil berbicara sesuatu.

Kibum yang tidak dapat mendengar frekuensi suara mereka hanya bisa menerka obrolan itu. sejurus kemudian gurat kekagetan terpeta di wajahnya kala mata Krystal menatap suratnya dengan sinis.

Dengan sekali gerakan Krystal meremas surat itu dalam kepalan tangannya lalu melempar asal ke tempat sampah di tepi jalan.

Bahu Kibum bergetar hebat, ia benar benar tidak menyangka bahwa gadis yang dipujanya selama ini sederajat dengan mahluk bernama iblis.

~*~*~*~

Hosh…. hosh…. Hosh….

Key menyeka keringat dipelipisnya, tangan yang satunya terkepal keras. Mimpi itu seakan memutar film lama yang terlalu tabu untuk di saksikan. Kalimat terakhir Krystal membayangi pikiranya, bayangan abadi yang tak pernah pupus meski keadaan sekitar sama gelapnya.

Key mendengus panjang, namun sejurus kemudian denungan Melody menggema dalam indra pendengaranya. Alunan suara Minhyun terekam seperti nada nada Minor yang menjadi lagu pengiring terkoyaknya luka batin yang mengaga lebar.

“brengsek kau Cho Minhyun” umpat key bertepatan dengan bogem mentah yang dilampiaskan ke arah setir.

Tak lama kemudian mobil Key sudah berpijak pada titik merah yang di tandai dalam GPS. Sepi, itulah suasana yang tergambar disana karena yang ia lewati bukan jalan utama.

Key memelankan laju mobilnya ketika roda roda itu berputar melintasi penghujung jalan, dimana jalan tersebut berujung pada hamparan pasir putih yang menyatu dengan samudera laut tak berujung.

Key membuka pintu mobilnya dan seketika itu pula deru angin laut menerpa keras wajahnya, membuat rambut coklatnya terayun seirama dengan net sweater tipis berwarna putih yang dikenakanya.

Seorang namja menghampiri Key, ia membungkuk sekejap pertanda hormat.

“Speedboat sudah siap, tuan Kim”

Key hanya menatap sekilas ke arah namja itu lalu mencampakkan kunci mobilnya, ia sudah membooking parkiran di hotel terdekat.

Setelah mobil itu diambil alih, key berjalan menuju pantai dimana ada sebuah Speedboat menepi disana. 5 menit perjalanan, Speedboat itu berhenti di tepi sebuah pulau. Pulau keluarga Kim.

Key bergegas menuruni kapal, ia tersenyum lebar memandang pulau pribadi keluarganya. Sejak dua tahun lalu waktu luangnya selalu digunakan untuk merancang setiap detail isi pulau ini.

Breath of heaven. Tempat dimana ia dapat menuangkan segala kepenatan dalam sekali helaan nafas. Serupa dengan namanya, tempat ini adalah replika surga baginya.

Key melangkah menyusuri jalan beraspal yang tepinya dipenuhi dengan pohon kelapa, beberapa menit Key berjalan sampailah ia di depan sebuah Glasses House yang ia desain sendiri hingga ke sudut paling kecil sekalipun.

Begitulah tampak depan Glasses House yang ia rancang, sedangkan halaman belakangnya terdapat sebuah kolam bernang yang dihadapkan dengan bentangan samudra laut biru yang seakan tak berujung.

Pintu kaca terbuka secara otomatis ketika Key berjalan mendekat Karena dia telah memasang jaringan ultrasonik khusus dimana sistem itu akan mendeteksi Chip electro yang merupakan sebuah kamuflase dari kunci Glasses House. Ketika Chip itu terlacak dari jarak 5 meter maka pintu akan terbuka dengan sendirinya.

Tap… tap… tap…

Irama derap sepatu key menggema pelan, namja itu berjalan menuju Spiral Staircase yang terletak di ujung Living Room lalu menaikinya pelan. Key melangkah ke arah Kiri, pintu kamarnya juga terbuka secara otomatis ketika ia mendekat.

Kamar yang selalu terasa nyaman karena langsung berhadapan dengan suasana pepohonan yang rimbun. Natural, itulah aroma yang disukainya.

Dan jika berjalan menuju balkon maka ada sebuah jembatan yang menghubungkan kamarnya dengan dining room.

Key merasa puas dengan hasil karyanya walau menurutnya desain Glasses House ini masih terkesan Sederhana. Yang jelas ia menyukai rumah ini karena setiap sudut matanya bebas melihat lingkungan yang natural.

Key berjalan menuju ruang pakaian yang menyatau dengan kamar, ia membuka almari kecil disana lalu mengambil sebuah kotak kaca yang menyimpan sesuatu paling berharga.

Key yakin bahwa pemilik benda itu dapat menyembuhkan VENUSTRAPHOBIA yang membuatnya menderita. Dengan langkah terseret Key berjalan menuju Sofa yang menjadi sekat kecil antara balkon dan bed room.

Dia memang membenci perempuan namun Diluar dari kenyataan, ada seorang gadis yang senyum dan aromanya dapat ia nikmati. Aura yang terpendari dari sosok gadis itu sangat berbeda dengan setiap gadis yang ditemuinya.  meski ia tidak tahu, gadis itu benar ada atau sekedar fatamorgana?

__ Flash Back__

2 Years ago

“Andwae! Aku tidak mau!!!” teriakan itu menggema.

4 orang namja dengan balutan jas nonformal yang menjadi Icon Fashion berdiri mengelilingi seorang namja yang meringkuk di balik selimut dengan tatapan geram.

Bagaimana tidak? Ini adalah hari bersejarah bagi mereka karena OxyGEn yang merupkan Event terbesar dalam yayasan Shineworlda akan segera dimulai dan ini merupakan event pertama bagi angkatan mereka.

“YA! Kim Kibum ini acara penting!” omel Jonghyun sembari berkacak pinggang.

“sudah ku bilang berkali kali, panggil aku Key, jonghyun Pabbo!” umpat Key masih dalam posisi yang sama

“Key-ah, sejak kita tinggal di dorm kau jarang sekali keluar. Kalau begitu terus Venustraphobia-mu semakin parah, bodoh! Temui yeoja yeoja itu sebelum level venus venus-mu itu meninggi” cerocos Onew.

Key tak bergeming, ia masih betah dalam posisi meringkuk di balik selimut.

“tarik dia” perintah Minho.

Mereka berempatpun menarik kedua tangan dan kaki Key lalu menceburkanya ke dalam Bathtup. Selama persiapan Key terus meronta ronta tapi 4 lawan 1, semua orang juga tahu siapa yang menang.

Key ditarik menuju Golden brige, dia tak lagi melayangkan umpatan umpatan karena tubuhnya terlalu kelu mendengar lantunan musik dari Hall terbesar yang terletak di SSedna. Tampak jelas urat di wajah Key yang menegang.

Jantung Key berdegub liar ketika mereka sampai di depan pintu utama, Keringat dingin mengucur deras dari pelipisnya. Tubuh Key bergetar ketika suasana Glamour didalam menyapa penglihatanya.

“YA! Key! Jangan seperti orang bodoh!” rutuk Jonghyun dan langsung mendapatkan tatapan membunuh dari Key.

Key merasa nafasnya tercekat ketika mahluk yang paling dihindarinya itu tertangkap mata.

Bagi Key semua gaun yang mereka pakai terlalu arogant karena dipenuhi taburan benda kecil yang menyilaukan mata, ditambah lagi polesan bedak yang teramat tebal itu menyerupai sebuah topeng baginya.

Bulu jangat Key meramang ketika bisikan dan tawa perempuan menyusup dalam rongga telinganya. Baginya suara itu seperti rayuan setan yang menjebak dan semerbak aroma parfum terhirup menyengat, membuatnya ingin muntah. Menjijikan, ia benci suasana ini.

“Lepaskan!” ronta Key. Dengan satu hentakan, tangan jonghyun yang menariknya berhasil dilepaskan.

Setelah bebas dari 4 namja itu, Key berlari secepar mungkin. tidak peduli kedua kakinya melangkah ke arah mana, yang ia pikirkan adalah melarikan diri dari Trauma yang mencekam.

Baginya wajah wajah itu mirip satu sama lain, serupa dengan dua orang yang menimbukan luka berat dalam tangis bisunya. Ibu dan Krystal.

Hosh… hosh… hosh…

Key menyeka peluh yang mengalir dari pelipisnya, bahunya naik turun seirama dengan deru nafasnya yang memburu. Sesaat kemudian Key tersadar, dia mengedarkan pandanganya kesekeliling.

Kedua kakinya membawa Key ke area samping Asrama SShall yang berbentuk seperti Castle. Pilar pilar putih terlihat kokoh menopang tepi atap asrama, dinding dinding asrama yang dihiasi jendela berkaca gelap tampak memantulkan pendaran sinar bulan yang berkilau cemerlang.

Key terkesiap pelan ketika sudut matanya menangkap sosok putih yang melintas sekilas di balik pilar. Ia menoleh  ke arah samping. Kosong.

Didorong rasa penasaran yang kuat, key melangkah mendekati pilar yang dicurigainya.

Mata Key membulat ketika mendapati sesosok mahluk yang paling dibencinya kini berada dalam jarak 2 meter dihadapanya, dan itu jarak terkecil yang pernah ia sisakan untuk seseorang yeoja.

Keringat dingin, nafas tercekat dan lintasan bayang masa lalu yang mencekam seketika lenyap dalam dirinya. Key  merasakan aura kedamaian yang langka meski gadis itu dalam posisi memunggunginya.

Tak ada gaun arogant dengan pernak pernik menyilaukan mata, gadis itu hanya mengenakan gaun putih gading bermotif simple tapi terlihat indah. Entah mengapa kaki yang diperintahkan untuk berhenti itu semakin terus melangkah.

Even if I try to avoid you

I can’t find a place to hide

I’m trapped by you

Who I can’t event deny

Key berhenti ketika ia hanya berjarak sejengkal dengan gadis itu. tak ada aroma parfum menyengat yang menusuk idera penciuman, yang ada hanyalah aroma lembut dari harum tubuhnya yang key hirup karena jarak mereka yang semakin minim. She is natural and he attracted to her.

Gadis itu tersentak pelan ketika deru nafas key membelai rambut panjangnya, refleks ia berbalik dan mendapati tangan Key yang terjulur hendak menyentuhnya.

“What are you doing?”

Nada yang terlantun pelan itu terdengar bagai melody pengharapan bagi Key. Kedua sudut bibir key terangkat membentuk seulas senyum tulus, mati matian ia menahan munculnya tanda keramahan itu. but he has defeated.

“I’m going crazy, please tell me that you came to me”

Ekspresi gadis itu tak terlihat karena ia mengenakan topeng -yang menutup area sekitar mata- sebagai ciri Khas Oxyferic Grand Event. Bayang masa lalu sama sekali tak terlintas dalam benak Key, dia merasa gadis ini berbeda.

“you’re Nuts! You look like…

Lucifer”

Gadis itu membisikan kata terakhir tepat ketika ia berjalan melewati Key, tanpa dia ketahui Key membalas kata terakhir itu dengan seringai yang sulit di artikan. Itu adalah sebuah kata kunci.

Your Undeniable spell is the Lucifer

Your Undeniable magic is the Lucifer

With your angelic face

Say the reason you live for me say it

Hanya dengan gadis itulah key bisa melakukan sesuatu yang tak dapat dilakukanya dengan gadis lain. Untuk itu, dia tidak akan membiarkan cahayanya pergi.

Key mengejar, mereka dipisahkan pilar pilar besar dan jendela kaca yang memantulkan bayanganya menjadi petunjuk. Key semakin mendekat dengan bayangan itu, pantulan putih gaunya menandakan berada di balik pilar.

Namun ketika key melesat kesana, ia tak mendapati malaikatnya. Pandanga Key berpendar tapi tak lagi menangkap sosok itu.

Wheter She just a mirage? benar saja… mana mungkin ada seorang gadis yang datang tiba tiba dan dapat memupuskan trauma dalam sekejap. Dia pasti hanya sebuah ilusi.

When I first saw you, I stopped for a short time

If someone was seizing my heart, Not letting it go

You took all of my heart

You make my heart burn out when you’re note here

Semburat kecewa tampak jelas dalam raut wajah Key. Saat dirinya tertunduk, ia benar benar berharap bahwa ini bukah sekedar fatamorgana. Bahwa topeng yang ia yakini milik gadis itu tergeletak di bawah pilar.

__Flashback End__

Key menelusuri sisi kotak kaca dengan jari telunjuknya. Didalamnya bersemayam sebuah topeng sederhana namun sangat catik.

Jauhkan bayangan tentang butiran kristal yang tersebar di atas permukaan topeng tersebut, karena topeng yang berntuknya sangat unik itu berlapiskan kelopak bunga Eidelweis, bungga abadi yang sangat langka.

Kelopak bunga itu terlihat putih bersih meski telah dipendam selama dua tahun, bunga yang tidak layu itulah kenapa Eidelweis disebut bunga abadi. Gadis itu mempunyai makna yang serupa dengan Eidelweis.

Mata key memerah dan sedikit berair, kantuknya sudah tak terbendung lagi. ingin tidur, tapi ia takut masa lalu itu menjadi bungat tidur.

“sial!”

Key berjalan menuju kamar mandi, berniat membasuh muka. Namun raganya menolak perintah dari otaknya, key melanjutkan langkah ke balik sekat bathtub dimana terdapat sebuah Spring Mattress disana.

Key hanya manusia biasa, tubuhnya tak kuat lagi. ketika dirinya merebahkan diri, matanya tak sempat memandang panorama laut di balik dinding kaca. Ia terlelap disana.

~*~*~*~

“Jinhya-ah, karna besok hari minggu aku akan menginap di rumahmu. Tunggu aku, Arra?” cerocos Minhyun tepat ketika Jinhya mengangkat teleponya

“ya, Pabbo! Suaramu seperti atante tante, tahu!” omel Jinhya.

Tak mau mendengarkan omelan itu lebih panjang lagi, Minhyun menutup flap Ponselnya. Ia menyandang ranselnya lalu berjalan menuju Elevator, pintu Elevator terbuka dan terlihatlah Onew disana.

“kau mau kemana?” tanya Onew saat melangkah keluar bersamaan dengan Minhyun yang memasuki elevator.

“menginap di rumah Jinhya” seru Minhyun acuh tak acuh, meninggalkan Onew dengan tampang cengo. Mungkin dia heran seorang Cho Minhyun terang terangan mengaku akan menginap dengan Yeoja.

30 menit kemudian akhirnya Minhyun sampai di depan rumah Jinhya, rumah Jinhya memang agak jauh dari SSedna.

Rumah dihadapanya ini lumayan besar, satu yang Minhyun sukai yaitu suasana rumah ini sarat akan kehangatan –tidak kaku seperti rumahnya.

Minhyun memencet bel disamping pintu dan tak lama kemudian seorang wanita membuka pintu itu.

“annyeong haseumnikka, Ahjuma” sapa Minhyun dengan senyum ramah.

“Annyeong. Aigoo… Cho Minhye kau sudah besar rupanya” balas Choi Ahjumma sambil memeluk Minhyun. Choi Ahjumma sudah Minhyun anggap sebagai ibunya, karena beliau sangat baik dan ramah.

“Annyeong Minhye Eonnie” sahut seorang anak perempuan berumur sekitar 12 tahun, namanya Choi Min Ji dan biasa disapa Minzy. Dia adik Jinhya.

“annyeong Saengie”

Keluarga ini memang tahu identitas asli Minhyun, itulah sebabnya ia nyaman berada disini karena bisa menjadi diri sendiri –sesuatu hal yang langka.

“dimana Jinhya?”

“ah, Jinhya Eonnie sedang berpacaran dengan laptop. Sebaiknya janggan diganggu karna Minhye Eonnie pasti akan dapat benjolan besar seperti di kepalaku” ringis Minzy sambil mengusap puncak kepalanya

“aigooo… Jinhya memang badak berekor sembilan” ejekku membuat kami tertawa. Sepertinya baru saja Jinhya dan Minzy membuat perang ketiga jadi jadian.

“seandainya aku memiliki keluarga sehangat ini” lirih Minhyun dalam hati. Jujur dia iri, sangat iri. Kenapa kebahagiaan sesederhana itu susah sekali untuk diraih?

“siapa yang kau bilang badak, jempol gajah?!!!” suara Jinhya menggelegar diiringi dengan aura hitam yang terpancar horor. Sontak Minhyun dan minzy bersiul siul tak jelas.

“syalalalala~ Eomma datang membawa makanan terenak sepanjang masa” sahut Choi Ahjuma yang datang tiba tiba

Minhyun bergidik ngeri menatap hidangan yang tersedia di atas meja. Brokoli asam manis, ubi isi Brokoli, hamburger Brokoli, brokoli goreng tepung dll. Ya! Minhyu tahu keluarga Jinhya memiliki kebun Brokoli terluas seAsia.

Tapi Minhyun tidak suka brokoli.

“kamsahamnida Ahjuma, kapan kapan aku akan memakanya” ucap Minhyun dan langsung menarik jinhya menaiki tangga menuju kamar.

Begitu sampai dikamar Jinhya, Minhyun langsung merebahkan tubuhnya di atas Spring bed. Benar benar ngeri membayangkan brokoli brokoli itu masuk ke dalam perutnya.

“aku kapok” rutuk Minhyun mengingat ia pernah muntah hebat karena memakan brokoli.

“hahaha… kau harus biasa bila berada disini” ledek Jinhya

“mengerikan!”

Jinhya ikut berbaring di sebelah sahabatnya yang bermuram durja itu -___-. Ia menoleh ke arah Minhyun yang kebetulan juga menoleh ke arahnya.

“ada apa datang kemari?”

“aku bosan di Dorm bersama 5 namja gila itu” Minhyun membalikkan badanya,  mengambil posisi tengkurap.

“ah, apa kau tahu kenapa onew seperti orang gila begitu? Tadi pagi dia terus tersenyum dan itu sangat-tidak-wajar” papar Minhyun

“anni… aku juga heran. Kemarin kebetulan aku lewat taman itu dan menemukan Onew berbicara sendiri. Dia juga senyam senyum tak jelas seperti orang gila, karena penasaran aku pun membuntutinya. Tapi waktu di bis ramai sekali, dia duduk di depan sedangkan aku terhimpit di belakang” cerocos Jinhya panjang lebar lalu menghena nafas panjang.

“apa akhir akhir ini dia banyak masalah? dia aneh sekali… membuat khawatir saja” imbuh Jinhya kemudian.

Minhyun mengerling nakal “kau menyukainya?” pertanyaan itu sontak membuat mata Jinhya terbelalak.

“a…anniyo, itu tidak mungkin” jawab Jinhya gelagapan, tergambar jelas semburat merah dipipinya.

“bohong, sudahlah mengaku saja dari awal kau menyukai Onew, bukan?” goda Minhyun

“sudah ku bilang, tidak!” elak Jinhya seraya membuang muka.

“kau-me-nyu-ka-i- Lee-Jin-Ki”

“ANNIYO!” pekik Jinhya membuat Minhyun terkekeh geli.

“sudahlah Jinhya, bukan setahun dua tahun aku mengenalmu. Kalau kau menyukai onew, nyatakan saja perasaanmu” goda Minhyun dengan senyuman nakal.

“itu hanya membuatku malu, tahu!”

“tuh kan, kau menyukainya” ucap Minhyun telak.

“aish… sialan kau Cho Minhye” gerutu Jinhya dan langsung melempar Minhyun dengan boneka, tapi sayangnya tidak kena yang ia dapatkan hanyalah wajah bodoh Minhyun saat memeletkan lidah.

“sudahlah, nyatakan saja perasaanmu, aku yakin onew lebih suka ayam goreng dari pada memakan manusia tak berdaging sepertimu. Bukankah sekarang jamanya emansisapi wanita?”

“emansipasi, Minhye Babo!!!” rutuk Jinhya sambil memutar bola matanya. Kalau saja orang menyebalkan dihadapannya ini bukan sahabatnya dari orok (?) sudah dipastika Jinhya akan mencabik cabik rambut orang itu seperti brokoli

Minhyun beranjak, ia berjalan menuju toilet. Namun langkahnya terhenti ketika melihat sebuah benada di balik lemari kaca.

“ini topeng keduamu sebagai Juliette di OxyGEn kan? Aigoo… cantik sekali” tutur Minhyun saat memandang topeng perak yang bertaburan krystal bening di permukaanya.

Yang menjadi juliette memang dihadiahi sebuah topeng Khusus, dan itu adalah topeng yang sangat istimewa karena berbeda dari tahun ketahun.

Minhyun melirik Jinhya “sayang sekali topeng pertamamu menjadi Juliette hilang”

“biarkan saja” ucap Jinhya enteng.

“tapi topeng itukan dihiasi kelopak bunga Eidelweiss. Kau tahu kan betapa langkanya bunga abadi itu?” papar Minhyun.

“sudahlah, lagi pula topeng itu membuatku dapat pengalaman yang luar biasa hahaha” Jinhya tertawa ringan, jemarinya kembali memainkan laptop.

Minhyun hanya bisa menggeleng pelan melihat kelakuan sahabatnya itu. sejurus kemudian ia melanjutkan langkahnya ke toilet.

__ TBC __

Annyeong, makasih loh buat yang udah komen di part sebelumnya. Ada beberapa orang yang udah bener nebaknya tapi sebagian melencengnya jauh banget dan bikin aku ketawa ngakak jiahahhahaha

Masa ada yang bilang Eunhyuk pinter Cuma dipanpik ini ß #ngakakgila

Oh ya buat reader yang males komen, ilangin dong sipat malesnya. Soalnya aku bakan bikin part yg nggak gratis tapi nggak bayar juga (?) kalo nggak baca pasti pertanyaan terus jiajajajjajajjaj *nyengir bajaj

Cheers,

LucifeRain (ayya)

Advertisements

88 responses to “Seasons of The Lucifer [CHAPTER 7] Part. A

  1. Itu topeng Jinhya ? Omo! Omo! Omo !

    Semoga aja topeng Julliette Jinhya itu dipinjam Minhye trus gak sengaja dia ketemu Key (ngarep/ngasal/ngenes).

    Part ini Jjanggg !!! Penggambaran pulaunya bagus banget, serasa pengen pacarin Key biar diajak kesitu *abaikan*.

  2. Haaaaaaa gk rela key ama jinhya😮😨😵 entah knpa q sukany key sam minhye aja plis plis buat jd knyataaan 😄😄😄

  3. annyeong thor.. aku reader baru thor.. hehe…setelah sekian lama aku mencari ff shinee yg bagus… eh nemu yg ini.. keren banget thor.. jadi ketagihan bacanya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s