[FREELANCE] Your Eyes

Annyeongggg,,, author lagi pengen bikin ff sedih. Entah kenapa, huhu 😦
Reader yang baik pasti akan meninggalkan komennya untuk aku. 🙂
 
Title :: Your Eyes
Author :: Jeni_Jenay
Main cast :: Choi Sulli
Lee Taemin
Genre :: Romance, Sad
Length :: Oneshot
Rating :: PG-13
Disclaimer :: Plot punya saya. Sulli dan Taemin pun punya saya 😛
N.b :: FF ini aku buat waktu dengerin lagunya f(x) yang beautiful goodbye, sumpah ni lagu bagus bener menurutku, aku sempet nangis pas mereka nyanyi bagian reff yang beautiful goodbye nya <<sumpah lebay!
Saran aja deh, kalau baca ni ff sekalian dengerin lagu itu. Nyentuh banget tu lagu 😀
[Taemin Pov]
“Oppa, bagus yang mana? Yang kanan atau yang kiri?” Tanya sulli sambil melihatkan buku yang ia pegang kehadapanku. Aku tersenyum.
“Yang kanan berwarna putih, yang kiri berwarna biru.” Jelasku sambil ikut memegang buku itu ditangannya.
“Oppa suka yang mana?” Tanyanya tersenyum.
“Aku suka yang kanan.” Jawabku ikut tersenyum.
“Aku ambil yang kanan saja.” Sulli meraba-raba sekelilingnya mencoba mengembalikkan buku yang ada ditangan kirinya.
“Sini, biar aku yang kembalikan.” Aku mengambil buku yang ada ditangan kirinya dan meletakkannya kembali pada tempatnya.
“Gomawo oppa, mataku memang menyusahkan.” Sulli terus saja memasang senyumnya yang menurutku membuatnya menjadi tambah manis.
“Aniyo, matamu itu tidak menyusahkan.” Aku menggandeng tangannya lembut ke arah kasir untuk membayar buku yang ia beli.
Aku berjalan ke arah kamar sulli dan mengetuknya.
“Nugu?” Tanyanya dari dalam.
“Aku.” Jawabku singkat.
“Oppa? Masuklah.”
Aku menyembulkan kepalaku di pintu kamar sulli. Ku pandangi sulli yang sedang membelakangiku dia terlihat sangat anggun. Sulli berbalik dan meraba-raba sekitar.
“Oppa kau dimana?” Tanyanya dengan nada suara yang khawatir. Aku berjalan mendekatinya dan duduk disampingnya. Kuraih tangannya dan ku letakkan tangannya diwajahku.
“Aku disini.” Jawabku yang langsung membuat raut wajahnya menjadi lega.
“Ada apa oppa kesini?” Tanyanya sambil tersenyum.
“Jadi, aku tak boleh kesini?” Aku balik bertanya yang sukses membuat wajah sulli menjadi merasa bersalah mungkin.
“Aniyo, bukan itu maksudku.” Sulli menggerak-gerakkan tangannya yang menandakan arti tidak. Aku terkekek pelan.
“Ani, aku hanya bercanda.” Aku mengusap puncak kepala sulli dengan lembut.
“Hanya oppa yang mau bersamaku dan mendekatiku.” Sulli menunduk, senyum yang sering ia tampakkan kini hilang entah kemana.
“Bahkan saat aku di panti asuhan, tidak ada yang mau berteman denganku.” Sambungnya, suaranya terdengar bergetar.
“Apa oppa tidak malu mempunyai adik dengan mata seperti ini?” Bisa ku ketahui sulli sedang menangis sekarang.
“Buat apa aku malu? Aku tidak pernah malu mempunyai adik sepertimu.” Aku memegang kedua bahu sulli mencoba menenangkannya. Sulli mendongkak, sepertinya ia ingin melihat kejujuranku. Tapi, sepertinya dia tau dia tidak mungkin bisa. Aku menariknya kedalam pelukanku.
“Kau tidak perlu takut aku membohongimu. Aku tidak akan pernah membohongimu.” Aku mengecup puncak kepalanya. Aku tak bisa membohongi perasaanku. Aku memang menyayangi sulli bahkan mencintainya. Sulli bukanlah gadis yang baru aku kenal. Aku mengenalnya sudah dua tahun yang lalu. Dan selama dua tahun itu sulli tinggal bersamaku, orang tuaku mengangkatnya sebagai anak. Perjalanan hidupnya memang sangat melelahkan. Dimulai saat Ayahnya pergi meninggalkan Ibunya yang tengah mengandungnya. Kemudian, saat melahirkan sulli ibunya meninggal. Sulli pun diasuh oleh neneknya. Selang beberapa tahun saat sulli sekolah, peristiwa na’as itu pun terjadi. Sulli mengalami kebutaan. Kata ahjumma yang mengurus panti, waktu itu sulli masih duduk dibangku sekolah dasar, kejadian itu terjadi saat jam istirahat ketika sulli bermain-main dengan temannya. Si teman tidak sengaja menerbangkan mainannya dan mainan itu pun mengenai bola mata sulli. Sulli sempat dilarikan ke rumah sakit, tapi percuma matanya tidak dapat ditolong kecuali dengan operasi pendonoran kornea. Sulli pun sekolah dengan keadaan mata yang seperti itu. Tak beberapa lama setelah sulli lulus sekolah dasar, sang nenek pun meninggal. Akhirnya sulli tinggal dipanti asuhan ini. Panti yang didatangi pleh orang tuaku. Eomma ku sangatlah tersentuh ketika ahjumma pengurus panti ini menceritakan jalan hidup sulli. Makanya eomma sangat bersemangat mengangkat sulli sebagai anaknya. Awalnya aku hanya menyayangi sulli sebagai seorang adik, karena perbedaaan umurku yang tidaklah jauh darinya. Waktu itu umurku baru saja 15 tahun dan sulli 14 tahun. Berbeda tipis saja bukan? Tapi dengan berjalannya waktu perasaanku kini telah berubah. Aku menyayanginya sebagai seseorang yang spesial dihatiku. Entah mengapa perasaan itu tiba-tiba muncul. Yang aku tau, aku hanya ingin membuatnya selalu tersenyum.
“Aku menyayangimu oppa.” Sulli membalas pelukanku. Sedikit membuatku gugup, walaupun aku tau ia hanya menganggapku sebagai kakaknya. Tapi, tidak untuk aku!
“Nado. Saranghae.” Aku kembali mencium puncak kepalanya.
“Apakah eomma dan appa masih lama disana?” Tanya sulli mencoba mengalihkan pembicaraan sebelumnya.
“Sepertinya, mereka sangat sibuk di Amerika sana.” Jawabku sambil mengangkat kedua bahuku.
“Oppa, jam berapa ini?” Tanya sulli melepaskan pelukannya dariku.
“Jam 21.00 KST.” Jawabku ikutan melepaskan pelukanku.
“Sudah malam, kau harus tidur. Besok kau sekolah kan?” Aku menyentil hidung sulli pelan, membuatnya tersenyum.
“Oppa, tidur disini saja ya. Temenin aku.” Sulli menggenggam tanganku sambil tersenyum.
“Geurae, aku akan menemanimu.” Aku mengacak-acak rambutnya pelan. Sulli mendengus sambil memperbaiki rambutnya dengan tangan yang satunya.
“Oppa tidur disampingku ya.” Sulli menarik tanganku untuk tidur disampingnya, aku terkejut. Satu ranjang kah?
“Malam oppa.” Sulli berbalik membelakangiku masih terus menggenggam tanganku. Mungkin posisiku seperti tengah memeluknya sekarang.
Bruuuukkkkk, baaaaraakk, braaaaannnggggg, prrraaaannnggg
Suara ribut-ribut apa itu? Kubuka perlahan demi perlahan mataku, masih gelap? Jam brp ini? Ku raba-raba sampingku. Sulli sudah hilang rupanya. Kemana dia? Mataku langsung membulat, jangan- jangan dia yang membuat suara ribut itu. Aku baru ingat pembantu rumah tanggaku sedang pulang kampung. Aigo, sulli-ah. Aku berlari sekencang mungkin ke dapur. Benar dugaanku. Sulli menjatuhkan beberapa panci dan beberapa alat dapur.
“Sulli-ah, kau sedang apa?” Tanyaku sedikit kesal. Ini masih sangat pagi. Kenapa dia sudah membuat keributan?
“Mianhae oppa, aku hanya ingin memasakkan bubur untukmu.” Sulli menunduk, suaranya terdengar sangat bergetar.
“Kita bisa membelinya nanti, kau tidak usah repot-repot. Ini masih sangat pagi. Tapi, kau sudah membuat keributan.” Aku mulai emosi, tidurku terganggu hanya karena ulahnya.
“Mianhae oppa, aku tak bermaksud membangunkanmu.” Sulli meraba-raba sekitar, mencoba membersihkan barang-barang yang ia jatuhkan.
“Percuma, tetap saja ribut!” Aku semakin membentaknya. Entah kenapa, mungkin faktor bangun tidur.
“Mianhae oppa, aku hanya…”
“Diam!” Potongku cepat. Aku berbalik meninggalkannya. Aku sudah malas mendengar penjelasannya. Taukah dia aku masih mengantuk? Apakah dia tidak melihat jam berapa sekarang? Masih jam setengah 4 malam. Huh!! Aku kembali tidur, didalam kamarku tentunya.
Aku kembali terbangun, bukan karena ribut-ribut melainkan sekarang sudah pagi. Jam menunjukkan pukul 6. Huh!
Aku baru ingat, hari ini aku sekolah. Begitupun sulli. Sulli? Aku langsung beranjak dari kamarku dan berlari kearah kamar sulli.
“Sulli?” Aku langsung membuka pintunya dengan kasar. Kemana dia? Jangan-jangan karena tadi aku terlalu memarahinya dia langsung pergi? Tapi, kemana dia akan pergi? Aku menutup kembali kamar sulli dengan lesu. Aku menyesal telah membentaknya tadi pagi, diakan hanya ingin membuatkanku makanan.
“Oppa?” Sulli berjalan dengan tangan yang meraba-raba. Aku langsung menghampirinya dan memeluknya.
“Mianhae, oppa terlalu kasar padamu tadi pagi.” Aku semakin erat memeluknya.
“Gwencana oppa ini memang salahku, aku yang terlalu ceroboh.” Sahut sulli lembut.
“Aku sudah membuatkanmu air panas oppa, sekarang mandilah.” Sulli melepaskan pelukanku. Betapa baiknya gadis ini, bahkan dia sama sekali tidak menyimpan kesal terhadapku.
“Geurae, aku mandi dulu jagi.” Aku mencubit dagu sulli pelan lalu pergi meninggalkannya yang hanya bisa mendengus pelan.
“Kau yang memasaknya?” Tanyaku saat sampai dimeja makan.
“Ani, tadi aku membelinya keluar.” Jawabnya sambil mencari-cari sendok mungkin.
“Kau ini kelewat baik jagi.” Aku duduk disamping sulli sambil mengambil mangkok yang sudah tersedia didepanku.
“Oppa, biar aku yang siapkan.” Sulli mengambil mangkok yang ada dihadapanku. Sepertinya dugaanku tadi salah, dia bukan mencari sendok melainkan mangkok. Aku tersenyum sambil sedikit membantunya.
“Akan ku antarkan kau sampai kelas.” Aku melepas sabuk pengamanku dan langsung keluar dari mobil, membukakan pintu untuk sulli.
“Tidak usah oppa, biar aku jalan sendiri saja.” Tolak sulli lembut.
“Shireo! Pokoknya kau akan ku antarkan.” Aku menggandeng tangan sulli dan menariknya untuk ikut jalan bersamaku. Ku pandangi sulli, wajahnya sangat lucu saat marah. Aku dan sulli satu sekolah, aku sendiri yang memintanya. Saat sulli memasuki tahun ajaran baru di SMA. Banyak yang memandang kami berdua aneh. Bahkan teman satu kelasku berpendapat aku tidak cocok berjalan dengan sulli. Mereka terlalu meremehkan sulli ternyata. Mereka tidak tau, sesungguhnya sulli itu anak yang sangat pintar dan berbakat. Bayangkan saja, sulli mampu mengalahkan siswa-siswi yang normal, saat hasil UAN diumumkan. Sulli mendapatkan peringkat pertama untuk tingkat provinsi. Betapa bangganya kedua orangtua ku saat mengetahui itu.
“Oppa, apa sudah sampai?” Tanya sulli yang sontak membuat lamunan ku buyar seketika.
“He? Oh, ne. Ne, sudah sampai. Annyeong. Saat istirahat tunggu aku. Jangan sampai tidak, ka..”
“Ne oppa, berapa kali oppa harus mengingatkanku?” Sahut sulli gemas.
“Geurae, annyeong.” Aku langsung mengecup pipinya cepat.
“Jangan marah.” Aku setengah berlari, takut dia akan mengejarku. Bisa ku lihat raut wajah sulli terlihat sangat kesal.
Aku berjalan memasuki ruang kelas sulli acuh tak acuh. Aku langsung menghampiri sulli yang tengah asyik membaca bukunya. Sulli termasuk pembaca yang cepat, walaupun membacanya hanya menggunakan tangan. Ku sentil telinganya pelan.
“Nugu?” Tanyanya dengan tampang serius. Aku tertawa pelan. Ku sentil lagi hidungnya. Kini sulli terlihat sangat gusar.
“Nugu?” Tanyanya lagi. Aku tidak bisa menyembunyikan tawaku. Aku tertawa lepas melihat tingkah sulli yang kocak seperti itu.
“Oppa.” Dengusnya pelan. Sulli memasang wajah cemberutnya sekarang.
“Haha. Ya! Jagi-ah, kau tidak boleh marah.” Aku menarik-narik lengan bajunya manja.
“Jangan memanggilku dengan sebutan jagi.” Serunya datar. Wajahnya terlihat sangat kesal.
“Geurae, aku tidak akan menemanimu tidur lagi.” Ancamku, aku mulai berdiri dan ingin meninggalkannya.
“Oppa, andwe! Gwencana, panggil saja aku dengan sebutan itu.” Sulli menarik-narik ujung bajuku
“Shireo!” Sahutku. Aku terkekeh kecil melihat wajah sulli yang terlihat sangat kusut.
“Oppa, mianhae. Jangan marah padaku.” Sulli masih terus menarik-narik ujung bajuku.
“Kau harus janji sesuatu dulu padaku.” Aku kembali duduk disampingnya. Sulli mengangguk semangat.
“Pulang sekolah kau harus mau menemaniku berjalan-jalan. Eotthkae?” Tanyaku sambil menatapnya ceria. Sulli terlihat berpikir, namun akhirnya ia mengangguk juga.
“Kita mau kemana oppa?” Tanyanya lemas.
“Kita akan ke toko kacamata. Aku ingin membelikanmu kacamata yang terbaru.” Aku menarik tangan sulli memasuki toko kacamata tersebut.
“Coba yang ini.” Aku menyodorkan kacamata yang harganya cukup mahal ke hadapan sulli. Sulli meraba-raba sekitarnya. Aku mendengus dan langsung memasangkannya.
“Neomu yeppeo.” Seruku girang.
“Aku akan membelikanmu yang ini.” Lanjutku dan langsung menariknya ke kasir.
“Coba kau pakai.” Aku memasangkan kacamata itu di mata sulli. Sangat sesuai, dia terlihat seperti salah satu member f(x)*?*.
“Oppa, aku lelah.” Rengek sulli manja.
“Kita akan pulang setelah ini.” Ku gandeng tangannya dan mulai menariknya ke kedai ice cream.
“Kau mau ice cream rasa apa?” Tanyaku pada sulli. Sepertinya ia benar-benar kelelahan.
“Sama seperti oppa saja.” Jawabnya pelan.
“Ahjumma, dua ice cream vanilla.” Pesanku pada ahjumma yang menjual ice cream.
“Ini.” Ahjumma itu menyodorkan dua buah ice cream ke hadapanku.
“Gomawo.” Seruku langsung pergi dari kedai itu. Aku mencari-cari tempat untuk bisa diduduki.
“Kajja kita kesana.” Aku kembali menarik tangan sulli. Dan, akhirnya kami pun duduk. Setelah berjam-jam lamanya berkeliling. Aku memberikan satu ice cream ke tangan sulli.
“Habis ini kita pulang kan oppa?” Tanya sulli lemas sambil memakan ice creamnya.
“Ne.” Jawabku singkat. Rasanya aku masih ingin berlama-lama dengannya.
Sulli memasuki kamarnya dengan langkah lesu.
“Panggil aku kalau kau ingin tidur.” Aku setengah berteriak dari luar kamar sulli. Tidak ada respon. Sepertinya dia sangat kelelahan.
“Sulli-ah.” Aku mengetok-ngetok pintu sulli pelan.
“Masuk oppa.” Sahut sulli dari dalam. Aku pun membuka pintu kamar sulli dan memandangnya sekilas.
“Kau belum tidur?” Tanyaku sambil menutup pintu kamarnya.
“Aku baru saja mau memanggil oppa.” Jawabnya tersenyum. Lagi-lagi tersenyum. Jantungku suka berdegup sendiri saat melihatnya tersenyum.
“Kajja kita tidur.” Aku merangkul bahu sulli. Sulli terkekeh pelan.
“Kau kenapa?” Tanyaku heran.
“Aniyo.” Jawabnya singkat. Ia mulai merebahkan dirinya dikasur, sedang aku? Aku masih diam menatapanya, menunggu respon darinya.
“Oppa?” Sulli kembali bangun dari posisinya.
“Mwo?” Jawabku singkat.
“Kajja tidur.” Ajaknya lembut.
“Aku sudah mau tidur.” Ucapku berbohong, padahal aku sedang menunggunya untuk mengajakku tidur disampingnya.
“Tidur disampingku. Lindungi aku.” Sambungnya dengan wajah yang sedikit khawatir.
“Geurae. Kau yang memaksaku.” Sahutku pasrah, pasrahkah aku? No! No! Justru senang yang ku rasakan. Aku memasang wajah bahagiaku saking girangnya.
Pagi ini aku berniat mengajak Sulli ketaman. Mumpung sedang tidak sekolah.
“Jagi, kajja kita ke taman.” Aku menggandeng tangan sulli lembut.
“Kajja.” Sahutnya girang sambil membalas gandenganku. Sepanjang jalan kami terus bernyanyi riang. Sampai ditaman kami pun duduk dibangku panjang yang berada di tengah-tengah taman.
“Oppa, bagaimana kondisi taman ini sekarang?” Tanya sulli yang sontak membuatku menoleh ke arahnya.
“Dulu, saat aku masih belum sekolah halmeoni sering membawaku kesini. Aku masih ingat tempat ini. Bangku ini pun aku masih ingat letaknya dimana. Ditengah-tengah taman kan oppa? Disebelah kanan bangku ini ada beberapa ayunan. Terus disini terdapat rumah pohon yang letaknya tidak jauh dari sini.” Jelas sulli sambil menerawang.
“Kau benar.” Seruku pelan. Aku baru tau sulli pernah kesini.
“Berarti taman ini tidak pernah berubah. Padahal itu sudah 9 tahun yang lalu.” Sulli memonyongkan bibirnya. Kami sama-sama diam, terbawa pikiran masing-masing.
“Oppa.” Panggil sulli. Aku menoleh kearahnya.
“Kenapa kau diam?” Tanyanya khawatir.
“Aniyo, hehe.” Aku nyengir tidak jelas.
“Seandainya saja aku bisa melihat, pasti aku tidak akan merepotkanmu.” Sulli tersenyum, pandangannya lurus kedepan. Entah kenapa, aku merasa hatinya sedang menangis sekarang.
“Aku akan berusaha mencarikanmu pendonor.” Aku merangkul sulli. Mencoba menguatkannya.
“Oppa tidak usah repot-repot, aku sudah bahagia dengan ini semua. Aku mempunyai orang tua serta oppa yang menyayangiku. Ini sudah membuatku merasa nyaman. Asalkan ada oppa, aku pasti bahagia.” Sulli menyenderkan kepalanya dibahuku, dan mulai memelukku. Aku berjanji sulli-ah, akan mencarikan pendonor untuk matamu.
“Eomma, appa. Kenapa tidak menelpon kalau mau pulang.” Aku sedikit terkejut melihat eomma dan appa sudah duduk manis di sofa ruang tamu.
“Tidak perlu, issh kau ini.” Appa menghampiriku dan memelukku sekilas.
“Lihat, anak eomma makin cantik.” Puji eomma pada sulli. Sulli hanya bisa tersipu malu. Aku sedikit tertawa melihat wajahnya yang memerah.
“Bogoshipeo eomma, appa.” Seru sulli yang langsung mendapatkan pelukan dari eomma dan appa.
“Baiklah, eomma mau menyiapkan makan malam dulu.” Eomma beranjak pergi ke arah dapur.
“Appa mau mandi dahulu.” Sambung appa ikut beranjak pergi.
[Author Pov]
“Apa eomma sudah menemukan pendonor untuk sulli?” Tanya taemin saat diruang tengah, yang hanya ada taemin dan eommanya.
“Belum jagi, sangat susah mencari seorang pendonor.” Jawab eomma taemin lemas.
“Sepertinya sulli sangat ingin melihat.” Taemin ikutan lemas.
“Mau bagaimana lagi?” Tanya sang eomma bingung.
“Kenapa tidak menggunakan mataku saja? Aku bisa menjadi pendonor untuk sulli.” Taemin menatap eommanya penuh harap.
“Apa maksudmu? Kau kira menjadi pendonor itu mudah? Kau yang akan menjadi buta.” Seru eomma taemin kesal. Emosinya mulai memuncak.
“Demi sulli eomma, lagipula kalau eomma tidak mau aku menjadi buta aku bisa memberikan satu mataku untuk sulli. Jadi, kami masih bisa sama-sama melihat.” Jelas taemin panjang lebar sambil terus memasang harapan.
“Itu kalau operasinya berjalan dengan lancar. Kalau tidak, bagaimana nasibmu?” Eomma taemin menatap taemin tajam. Taemin hanya bisa menunduk.
“Baiklah eomma.” Itulah kata yang bisa taemin katakan. Ia terlalu takut melawan eommanya.
[Sulli Pov]
“Yeobo, aku sudah mendapatkan pendonor untuk sulli.” Appa berjalan mendekati eomma yang sedang asyik membaca majalahnya.
“Jinjja? Nugu?” Tanya eomma senang, matanya terlihat bersinar-sinar.
“Molla, pihak rumah sakit yang menangani tidak mau memberi tau, katanya ini kemauan dari sang pendonor.” Appa memegang tanganku lembut.
“Kau akan bisa melihat lagi nanti.” Appa mencium keningku lembut.
“Kapan operasi dilakukan?” Tanya oppa tiba-tiba.
“Satu minggu dari sekarang. Semoga saja berhasil.” Jawab appa.
1 week later
“Mianhae jagi, aku tidak bisa ikut menemanimu. Seongsenim menyuruhku membantunya untuk mengurus persiapan ujian nanti. Aku sangat menyesal.” Oppa memelukku dan mencium keningku lembut. Aku memasang wajah masam.
“Tapi, oppa harus janji akan menemaniku jalan-jalan setelah aku bisa melihat nanti.” Aku mengacungkan kelingkingku. Bisa kurasakan kelingking oppa mengait di kelingkingku.
“Aku janji. Saranghae.” Oppa mencium kedua pipiku bergantian. Aku hanya tersenyum.
“Kau siap jagi?” Tanya eomma memegang kedua pundakku. Aku megangguk yakin. Appa memapahku berjalan keluar.
“Semoga operasinya berjalan dengan lancar. Aku janji akan datang secepat mungkin.” Kudengar oppa berbicara dari belakangku.
“Eomma berangkat, jaga dirimu.” Balas eomma.
Eomma, appa, oppa doakan aku, semoga operasi ini berjalan dengan lancar. Aku janji akan membuat kalian bahagia setelah ini. Aku janji, aku janji. Entah mengapa pandanganku menjadi buram. Mungkin aku sedang di bius.
Aku mendengar suara-suara yang sedikit ribut disekitarku.
“Eomma.” Panggilku pelan.
“Sulli, sulli, kau sudah sadar.” Bisa ku dengar sahutan eomma. Aku membuka mataku secara perlahan-lahan. Aku baru ingat, bahwa tadi aku dioperasi. Aku berharap pandanganku tidaklah gelap lagi. Betapa terkejutnya aku, aku bisa melihat eomma. Pandanganku tidak gelap lagi sekarang. Rasanya aku ingin berteriak sekuat mungkin saking bahagianya.
“Eomma.” Ulangku sekali lagi.
“Sulli, kau bisa melihat eomma?” Tanya eomma memasang wajah khawatir. Aku tersenyum dan mengangguk. Eomma langsung memelukku.
“Sulli harus dirawat beberapa hari disini. Jadi, dia tidak boleh pulang dulu.” Dokter datang menghampiri kami. Eomma dan appa sama-sama membungkuk.
“Eomma, apa oppa sudah datang?” Tanyaku pelan. Eomma menggeleng. Sepertinya oppa benar-benar sibuk.
Sudah dua hari aku dirawat disini. Sampai saatnya aku pulang pun oppa masih belum datang juga. Apa dia benar-benar lupa terhadapku? Aku berjalan dengan langkah lesu meninggalkan rumah sakit ini. Coba saja oppa ada disini.
Aku memasuki rumah dengan lesu. Oppa kau dimana? Apa kau tidak mencemaskanku sama sekali?
Cklek,
Aku menoleh kebelakang dan kudapati oppa sedang memasuki rumah.
Brukk, oppa menabrak vas bunga yang ada disamping meja. Oppa kenapa? Langkahnya seperti orang yang sedang sakit.
“Oppa?” Aku tersenyum lebar hendak menghampiri oppa, tapi eomma mencegahku.
“Kau harus istirahat dulu jagi.” Eomma membawaku kekamar, sedangakan appa pergi menghampiri oppa.
“Istirahatlah dulu, setelah itu baru kau menghabiskan waktu bersama taemin.” Eomma menyerka airmatanya. Eomma menangis? Tapi,  menangis karena apa? Apa terharu karena terlalu senang? Aku mengangguk lalu tersenyum. Eomma pergi meninggalkanku dikamar.
Sudah hampir dua jam aku dikamar. Oppa kenapa tidak kemari? Apa oppa tidak mau bersamaku lagi? Aku pun memutuskan untuk mendatangi oppa dikamarnya.
“Oppa.” Aku mengetok pintu oppa pelan. Tidak ada jawaban. Kemana oppa? Aku pun memberanikan diri memasuki kamarnya. Ternyata oppa sedang tertidur, sepertinya dia sangat sangat kelelahan. Akupun berniat keluar dari kamarnya.
“Jagi.” Panggilnya pelan. Aku berbalik dan mendapati oppa sudah bangun dari posisinya. Aku menatap oppa penuh kebahagiaan, aku menghampirinya dan langsung memeluknya.
“Aku sekarang bisa melihat oppa, nanti kita jalan bersama-sama lagi ya.” Aku bergelayut manja dipelukannya. Oppa tersenyum memandangku.
“Oppa ikut bahagia kalau kau bahagia.” Oppa mengusap-usap rambutku lembut.
“Jagi.” Oppa mengetok-ngetok pintuku.
“Masuk oppa.” Aku berjalan kepintu dengan hati yang sangat bahagia. Bisa kubayangkan bagaimana nanti aku dan oppa berjalan bersama-sama. Oppa berjalan dengan penuh hati-hati kearahku, sesekali oppa juga meraba-raba sekitarnya.
“Oppa, kau kenapa?” Tanyaku khawatir. Oppa menunduk. Sepertinya akan ada kabar buruk untukku. Oppa mendongkak dan meraba-raba wajahku.
“Mianhae, sulli-ah.” Oppa memegang kedua pipiku lembut.
“A..apa mak..maksud op..oppa?” Tanyaku mulai menangis. Oppa menarikku kedalam pelukannya. Aku menangis sejadi mungkin. Kupukul-pukul dadanya pelan. Kenapa oppa melakukan ini?
“Kenapa oppa? Kenapa harus kau?”
Tanyaku dalam tangisan. Oppa makin erat memelukku.
“Karena aku cinta padamu. Aku sayang padamu. Kau sangat berharga untukku.” Oppa mulai merenggangkan pelukannya. Aku terdiam mendengar ucapannya.
“Aku sangat mencintaimu, bahkan rasa cintaku melebihi rasa cinta seorang kakak ke adik.” Sambung oppa, kini ia melepaskan pelukannya. Aku menatapnya dengan mata yang masih berair. Aku langsung memeluknya, tak peduli bagaimana keadaannya sekarang. Yang ku tau, aku juga menyayanginya bahkan aku juga mencintainya.
“Nado oppa. Jeongmal saranghae.” Aku membenamkan kepalaku dipelukannya. Bisa ku rasakan oppa membalas pelukanku.
“Kau mau menjadi milikku oppa?” Tanyaku masih sedikit terisak. Oppa mengangguk yakin.
“Kita akan segera menikah, setelah kau lulus nanti.” Oppa mengecup puncak kepalaku.
“Tapi, apa eomma dan appa menyetujuinya?” Aku menatap oppa khawatir.
“Semoga eomma dan appa mengerti.” Sahut oppa. Kami berpelukan sangat lama.
Setelah menunggu satu tahun lamanya,akhirnya hari yang ku nantikan pun tiba, hari ini aku dan oppa akan menikah. Awalnya eomma dan appa sangat terkejut, tapi betapa senangnya aku bahwa mereka menyetujuinya dan sangat mendukung hubungan kami. Aku tak bisa menyembunyikan rasa senangku
“Jagi, kau sudah siap?” Tanya eomma dari balik pintu ruang rias.
“Ne eomma.” Aku membuka pintu ruang itu dengan senyum yang terus mengembang. Eomma tersenyum memandangku.
“Neomu yeppeo jagi, taemin pasti sangat terpesona.” Eomma memandang ku dengan tatapan menggoda. Aku mengkrucutkan bibirku. Tapi, tetap saja rona merah pipi ini tak bisa disembunyikan.
“Kajja, mereka sudah menunggu.” Eomma menggandeng tanganku.
Aku berjalan ke altar dengan appa disampingku. Senyumku makin mengembang saat melihat oppa sudah berdiri tegap disana. Appa meninggalkanku dan aku mulai berjalan menghampiri oppa. Oppa berbalik dan tersenyum memandangku, oppa menyodorkan tangannya ke hadapanku. Aku menyambut dengan hati yang gembira. Didepan pastur dan Tuhan kami mengucapkan janji pernikahan itu. Janji yang tidak akan pernah aku ingkari.
Epilog.
“Aku bersyukur ada orang yang mau mendonorkan matanya kepadamu oppa.” Aku bersandar dibahu oppa manja.
“Tapi, ini sangatlah seram. Aku menggunakan mata yang pemiliknya baru saja meninggal.” Oppa menatapku gemas.
“Tapikan, dia sendiri yang berpesan. Kalau dia sudah meninggal matanya akan diberikan ke orang yang membutuhkannya.” Aku memonyongkan mulutku.
“Intinya aku sangat mencintaimu jagi.” Oppa memandangku dalam. Aku tersenyum dan menutup mataku.
Chu…
Oppa mencium bibirku lembut.
END.
Kyaaaaaa, feel sad nya ga dapet banget.. Huaaaaaaa, niatnya pengen sad ending. Tapi, setelah dipikir-pikir jadi ganti happy ending. Tapi, waktu dipikir lagi maunya sad ending. Aku bener-bener bingung sama endingnya mau kayak gimana. Mau sad, trus bikin si taemnya meninggal/buta total, kasihan sama sulli ntar*nunjuk-nunjuk sulli disamping.
Mau happy, hati berkata lain trus juga ntar oppa taem marah-marah ga dapat feel sadnya*ngelirik taem yang sudah masang wajah algozo. Ahh, yasudahlah aku make apa yang ada dipikiranku aja… Yaitu, happy end. Walaupun hati sudah meraung-raung meminta sad end. Tapi, tetap aku gak tega sama sulli onn*narik-narik ujung baju sulli.
Huhuhuhuhu, mianhamnida. Jeongmal mianhamnida… Semoga tetap suka ya 🙂 *senyum sedih.
Gomawoooo *bow
Salam : Jeni_Jenay
Follow yo : Jeni_Jenay
Add jga ya : Jeni Azzah
Listen yoo : Jeni_Jenay
😀

50 responses to “[FREELANCE] Your Eyes

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s