Me, Myself, and Time Part 12A

Title       : Me, Myself, and Time Part 12A

Author    : @dee_9576

Genre   : Straight, Romance, Angst

Rating   : PG-15

Casts     : Kim Jaejoong, Shim Changmin, Park Taehyo,  other DBSK members, and random k-idols

Length  : Chapters

A/N       : Setelah dua minggu lebih hiatus, akhirnya author kembali dengan part 12a.. Tadaaaaaa! ^O^

Chapter 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8a | 8b | 9a | 9b | 10a | 10b | 11 | 12a

 

LAST CHAPTER…

 

“Kurasa aku pernah melihat mobil itu..” Jihye menggumam pelan, tampak berpikir keras.

Aku meliriknya sekilas.

Mungkinkah..

 

 

***

 

Taehyo’s POV

 

“Jadi..”

Aku mengangkat kepalaku seraya meletakkan cangkir teh yang kupegang. “N-ne, Chunnie Oppa?”

Junsu Oppa dan Jihye menatap ke arahku, lalu ke arah Yoochun Oppa.

“Kau pergi ke mana saja, Hyo-ya? Kau tahu kami semua mencemaskanmu.. dan kau pergi tanpa kabar.” Yoochun Oppa meneguk tehnya.

“Mian..”

“Kau pergi kemana Hyo-ah?” Jihye angkat bicara kali ini.

“Su sangat panik, kau tahu.. Ia terus-menerus meratap dan mengatakan ‘Changmin akan membunuhku, Changmin akan membunuhku, blablabla’ dan ‘eoddeokhae Chunnie-ah? Eoddeokhae? Eoddeokhae Chunnie-ah?’ sampai membuatku bosan.” Kami tertawa pelan, meninggalkan Su Oppa yang cemberut.

“Ya~!!! Memangnya salah kalau aku khawatir? Dan lagi, Changmin tampak, well, setidaknya walaupun sedikit, seperti seorang psikopat yang kejam, kau tahu.” Su Oppa mengerucutkan bibirnya.

“Kembali ke topik awal..” Chunnie Oppa menatapku. “Kau kemana saja, Hyo-ya?”

“Mmm..” Aku melirik Jihye sekilas. “Aku menginap di rumah teman.”

“Teman?” Yoochun Oppa dan Junsu Oppa saling berpandangan selama beberapa saat.

“Nuguseyo?”

“Kurasa kalian tak mengenalnya..” Aku kembali mengangkat cangkirku dan meminumnya perlahan.

“Nugu, Hyo-ah?”

“Mmm.. Kim.. Taehee..”

“Jinjjayo?”

“Ne..”

“Aku belum pernah mendengarnya..” Jihye mengerutkan dahinya.

“Mmm.. ia teman sd-ku..”

“Oh..” Junsu Oppa manggut-manggut.

“Baiklah~ yang ditunggu telah datang.. aku pulang dulu.” Jihye berdiri dari kursinya.

“Su-ah, bukakan pintu untuknya.”

Junsu Oppa menatap Chun Oppa sekilas, lalu mengiyakannya. Ia dan Jihye berjalan meninggalkan ruang makan.

Suasana kembali hening, hingga akhirnya Yoochun Oppa bangkit, berdiri dari kursinya. “Kalau kau mau berbagi, aku selalu siap untukmu.” Ia menepuk kepalaku, lalu melingkarkan tangannya di pundakku dan meletakkan kepalanya di atas kepalaku.

“Chunnie Oppa~” Aku menyenderkan kepalaku kepadanya.

“Waaaaaeyo?” Ia tertawa pelan.

“Anniiiiiiiiiyoooooo.” Aku terkekeh pelan.

“Kau sudah sarapan, Hyo-ya?”

Aku mengangguk pelan. “Nee~”

“Aku berani bertaruh kau belum mandi..” Chunnie Oppa tertawa mengejek.

“Well…” Aku menyengir.

“Chun-ah~~~” Junsu Oppa memasuki ruang makan.

“Hm?” Yoochun Oppa menjawab tanpa memalingkan mukanya dariku.

Junsu Oppa berdecak, membuatku dan Chunnie Oppa tertawa.

“Waeyo, Jun-chan~? Bilang saja  bila kau ingin memeluk Hyo juga..” Ia terkekeh.

Aku berani bertaruh mukaku memerah sekarang.

Junsu Oppa tertawa pelan dengan muka yang sedikit memerah. “Chun-ah, ayo main PS~ !!”

“Hm? Tapi..” Yoochun Oppa memandangku. “Bukankah disini tidak ada PS?”

“Di rumah Changminnie Oppa ada..”

“Tapi nanti Hyo akan sendirian..”

“Anniya~ Gwaenchanayo oppa ^^ Kalian pergi saja ke rumah Minnie Oppa.. nanti aku akan menyusul ke sana.. Lagipula aku juga perlu mandi hehe..”

“Baiklah kalau begitu..” Chun Oppa menepuk kepalaku, lalu melepaskan pelukannya.

“Kami pergi dulu, Hyo-ah..” Su Oppa tersenyum kepadaku, lalu mengusap kepalaku pelan.

“Neee~”

 

***

 

Jaejoong’s POV

 

Aku berjalan menuju ke arah pintu depan rumahku, setelah sebelumnya memarkir mobilku di halaman rumahku.

Sebelum aku sempat memutar knob atau bahkan menyentuh knob itu, pintu telah dibuka.

“Hey Jae~”

“Ya Yunho!! Kau mengagetkanku saja!” Aku memukul lengannya.

“Mian~” Ia terkekeh sembari menutup pintu.

“Yura masih di sini?’

Yunho mengangguk. “Di ruang tamu, menonton TV.”

Aku hanya manggut-manggut saja, lalu  berjalan memasuki ruang yang dimaksud Yunho.

“Yura-ah~” Aku melambai padanya, lalu mengambil tempat di sebelahnya.

Ia tersenyum menatapku. “Kau baru pulang, Jae-ah?”

Aku mengangguk. “Kau menungguku dari tadi?”

“Well..” Ia tersenyum tipis, melirik kotak di dalam kantong kertas yang dibawanya. “Aku baru ingat aku membawakanmu bubur.. tapi mungkin kau tak membutuhkannya lagi, jadi akan kubawa pulang saja. Lagipula pasti sudah dingin.”

“Anniyo~ Biar kumakan saja nanti..”

“Keundae..”

“Gwaenchanayo, Yura-ah..” Aku mengambil kantong kertas itu, dan berjalan ke arah pintu. Aku menatap Yunho yang sedang berdiri di ambang pintu. “Yunho-ya, mengapa kau tak duduk?”

Yunho mendengus pelan, lalu memutar kedua bola matanya. “Kurasa aku mulai mengerti perasaan Chullie.. dan juga Hyunseung.. dan mungkin, Hyunjoong.. -.- “

“W-waeyo?”

“Bukan apa-apa.” Ia menepuk pundakku lalu berjalan ke salah satu sofa dan duduk di sana.

Aku mengangkat bahu dan berjalan ke ruang makan, meletakkan kantong kertas itu di atas meja, lalu kembali ke ruang tamu dan duduk di sofa yang kududuki tadi.

“Jae-ah, Chullie baru saja mengirim SMS padaku. Kau bisa datang ke Gelato Shop tempat biasa kita datang sore ini? Ia mau mentraktir kita.” Yunho menatapku.

“TIdak masalah.”

“Kurasa aku akan mengajak Soo~” Yura tersenyum. “Aku akan ke rumah Soo sekarang. Sampai ketemu nanti, Jae-ah, Yunho-ah.” Ia bangkit dari sofanya dan berjalan menuju pintu.

Aku mengikutinya dan membukakan pintu untuknya. Setelah itu, aku kembali ke ruang tamu. “Kau tak pulang, Yunho-ah?” Aku tersenyum dan duduk di sebelahnya.

“Jadi setelah mengabaikanku tadi, sekarang ceritanya kau mengusirku, Jae-ya?” Yunho mengerucutkan bibirnya.

Aku tertawa pelan dengan tangan kananku menutup mulutku. “Anniya, Yunho-ah.”

“Jinjjayo?” Ia memasang muka layaknya anak kecil yang dijanjikan akan pergi ke Disneyland.

“Neeeee.” Aku mengusap-usap kepalanya. Seperti Vick saja.

“Jiji-yaaaaaa~” Yunho menatap kucing peliharaanku yang kini berjalan ke arah kami.

Kucing berwarna abu-abu kehitaman itu duduk di pangkuan Yunho yang kini duduk di lantai. Yunho mengusap-usap kepalanya.

“Hey Jiji-ah..” Aku mengelus kepalanya. “Aku bahkan sempat lupa bahwa aku punya kucing.” Aku terkekeh pelan.

“Ya~ bagaimana bisa kau menelantarkannya??” Yunho mengerucutkan bibirnya tanpa memalingkan mukanya dariku.

“Aku baru teringat noona mengantarkannya ke sini kemarin pagi..” Aku mengikuti Yunho yang kini berjalan menuju dapur sambil menggendong Jiji untuk mengambil makanan kucing.

“Dan kau bahkan berencana untuk membeli seekor kucing lagi.” Yunho menuangkan susu ke sebuah mangkuk dan memberikannya pada Jiji –yang tampak kelaparan.

Aku berdeham. “Sebenarnya, sudah kubeli..”

Yunho menatapku. “Jeongmalyo?”

“Aku menitipkannya di tempat noona.” Aku terkekeh pelan. “Namanya Yoyo.”

“Yoyo?” Yunho mengerutkan keningnya.

Aku mengangguk sembari memperhatikan Jiji yang tengah menikmati sarapannya –atau makan siangnya, apapun itu.

“Yunho-ah, apakah kau akan disini sampai sore?”

“Yep. Sudah lama aku tidak makan masakanmu.”

“Kurasa kau harus membatalkan niatmu kalau demikian. Aku akan makan bubur buatan Yura siang ini.” Aku tertawa pelan.

“Ya Joongie-ya~!!!! Tapi kan kau bisa, setidaknya memasak untukku..” Ia memasang puppy face.

Aku memutar kedua bola mataku. “Oh come on, Yunho! Kau cukup besar untuk memasak sendiri.”

“Oh yeah. Besar. Tapi tak cukup ahli. Setidaknya tidak sehebatmu.”

“…”

“Jebalyo~”

-.-

“Onegaishimasu.”

-_-

“Pleaaaaaaaaseeeeee?”

>_>

Aku menatap Yunho yang kini memperlihatkan puppy face khasnya.

“Oh yeah. Baiklah. Kau mau makan apa?”

“Yes!! Kare!!”

“Ne.. -.-“

“Tenang saja, Jae-ah, nanti kau boleh minta bagianku, tapi kau harus membagi bubur Yura untukku~” Ia mengedipkan sebelah matanya padaku.

Ckckck.

“Mandi sana!! Aku tak mau terlambat makan siang. Bagaimana bila aku maag nanti? u,u “

Geez namja satu ini malah keasyikan..

Aku mengambil kotak sereal yang ada di dekatku dan menimpuknya.

“Ya Joongie!!!!”

“Aku mau mandi dulu. Urus Jiji, Yun-ho-ya~” Aku membalikkan badan dan melambai, lalu berjalan keluar dari dapur, meninggalkan Yunho yang merutuk dan mengomel pada Jiji.

 

***

 

Changmin’s POV

“Kalian harus membaca pola lawan.. Yang terpenting adalah kerjasama tim. Ingatlah bahwa kalian main untuk tim, bukan untuk diri sendiri. Kalian harus saling bekerja sama untuk menang. Eli latih lagi dunk-mu. Soohyun, kau harus sering latihan untuk menembus pertahanan lawan. Lawan kita untuk pertandingan besok sangat berat, juara tahun lalu. Hyukjae, coba tingkatkan keakuratan long shoot-mu. Donghae dan Changmin, kalian sudah cukup baik. Nanti sore kita latihan lagi. Istirahatlah. Jangan keluyuran kemana-mana, terutama Eli.” Pelatih menatap tajam Eli, lalu berlalu dari hadapan kami.

Aku melangkah gontai ke arah salah satu bangku penonton terdepan, tempatku meletakkan tasku.

“Tubuhku serasa mau remuk..” Soohyun berkata sambil terengah-engah.

“Istirahatlah di kamarmu.” Eli menepuk pundaknya, mendahuluinya berjalan ke kursi pemain cadangan untuk mengambil botol minumnya.

Aku melirik sekilas ke arah Hyukjae dan Donghae yang masih bermain basket, berusaha merebut bola dari satu sama lain.

“Ya, Donghae!! Hyukjae-ya!!! Berhentilah bermain dan istirahatlah. Aku tak mau disalahkan pelatih kalau misalnya kalian pingsan saat latihan sore nanti.” Soohyun menatap mereka sambil mengelap keringatnya yang bercucuran.

Yang diteriaki hanya menyengir saja, lalu melempar bola basket asal ke ring sambil membalikkan badan. Dan ajaibnya, ntah bagaimana, bola itu masuk.

“Ya Donghae!! Kau lihat itu?” Hyukjae berjalan mendekati Donghae dan ber-high5.

“Daeeebak..” Eli terperangah. “Ya Hyukjae-ya!” Ia melempari Hyukjae dengan handuk miliknya.

“Hanya kebetulan saja..” Hyukjae tertawa. “Bau, kau tahu!” Ia melempar balik handuk Eli.

Aku terkekeh pelan. Tanganku merogoh tasku dan menemukan apa yang kucari. Botol minumku. Aku menenggak isinya hingga habis.

Aku merasakan handphone milikku bergetar pelan. Cepat-cepat aku merogohnya di tas.

SMS masuk dari nomor tak dikenal.

Hm? Nugu?

Aku membuka pesan itu. Seketika juga aku merasa.. lega, bercampur.. senang.

 

Changminnie Oppaaaaaaa ^^

Kau tidak membalas SMS-ku kemarin.. u.u

Apa kau sedang sibuk? >.<

Kapan pertandingannya?

 

PS: Semoga aku tidak mengganggu latihanmu. Oppa hwaiting! ^^ Gidarinda..

 

Aku tersenyum.

“Changminnie Oppaaaaaaa. Kau tidak membalas SMS-ku kemarin. Apa kau sedang sibuk? Kapan-“

Aku menoleh ke belakang, mendapati Eli yang sedang nyengir. “Hehe.”

“Ya Kim Eli!!! Bappa!!! Keojyeo!!” Aku menutupi layar hp milikku dari pandangannya.

“Sejak kapan kau mulai menirukan Sun dari Secret Garden? Ckckck.”

Aku memasang tampang whatever-i-don’t-care khas Eli, hingga membuatnya keki sendiri.

Hyukjae, Donghae, dan Soohyun tertawa melihat Eli yang mengomel sendiri.

Setelah memastikan Eli-si-tukang-ngintip-yang-pemalas tidak berada di dekatku, aku menekan nomor yang telah kuhapal di luar kepala, lalu mendekatkan handphone-ku ke telinga.

“Yoboseyo, Minnie Oppa?” Sebuah suara yang sangat familiar berbicara padaku.

“Hyo-ah..” Bibirku dengan sendirinya membentuk sebuah senyuman.

“Mworago isseo, Changminnie Oppa?” Ia tertawa pelan.

“Anniya..”

“Jinjjayo? Bilang saja, Minnie Oppa.. Aku sudah mengenalmu selama 4 tahun, bukan baru kemarin bertemu denganmu.”

“Benar-benar tidak ada apa-apa, Hyo-ya..”

“Benarkah?”

“Ne..” Bogoshipda, Hyo-ah..

“Oppa, kau sedang apa? Apakah SMS-ku mengganggumu? Kapan pertandingannya?”

Masih Hyo yang biasa..

“Pelatih menyuruh kami beristirahat. Jadi kupikir.. well, lebih baik meneleponmu saja, lebih cepat daripada sms-an. Kedua, tidak, sama sekali tidak. Dan yang ketiga, pertandingannya akan diadakan besok, jam 10.”

“Oh..” Ia tertawa lagi.

“Apakah ada yang lucu?”

“Anniya aku-“

TIba-tiba aku merasakan seseorang menarik handphone-ku. Aku segera berbalik. Eli telah berhasil merebut handphone milikku, dan berlari menuju ujung lapangan tempat ketiga member tim basket kami berkumpul.

Ia menyetelnya ke loudspeaker dan membesarkan volumenya.

“Yoboseyo? Changminnie Oppa?” Suara Hyo terdengar jelas dari tempatku berdiri. Aku segera berlari menuruni tangga, berlari ke arah mereka.

Oh shit Eli!!!!!

“Yoboseyo..”

“Nugu..seyo?”

“Eli imnida.. teman Changmin..” Eli menyengir ke arahku yang tinggal beberapa meter darinya.

“Oh.. annyeong haseyo, Park Taehyo imnida..”

“Aku tahu. Changmin sering membicarakanmu..” Eli tampak berusaha menahan tawanya, sedangkan yang lain terkikik pelan.

Sial!!!!!!!!!

“Ya Kim Eli!!!!!!!!!! Berikan itu padaku!!!!!!!” Aku berlari ke arahnya.

Eli langsung berlari menghindariku, diikuti tiga orang member basket –oh sebut sajalah, pelengkap tim- tersebut.

“Masa..?”

“Neeee.” Eli menjulurkan lidahnya ke arahku.

Holy crap!!!

“Taehyo-ya, kau tahu, Changmin sangat kesepian tanpamu..” Eli tertawa pelan. “Setiap hari ia tampak bosan.. dan terkadang ia melamun memikirkanmu..” Eli menyengir ke arahku.

Donghae, Hyukjae, dan Soohyun tertawa, kali ini cukup keras.

“Eli!!!!!!!!!!!!!”

“Tidak sopan!! Panggil aku hyung!! Meskipun seangkatan, aku lebih tua.” Eli mencibir, lalu tertawa.

“Yoboseyo?” Suara Hyo kembali terdengar dari telepon.

“Ne, Taehyo-ah..” Eli menjawab.

“Apakah aku mengganggu kalian?”

“Anni.. Changmin bahkan akan dengan senang hati menelantarkan kami semua hanya untuk menemuimu.” Eli terkekeh.

Taehyo hanya tertawa saja mendengarnya.

Aku berjalan mendekat ke arah keempat namja itu.

“Taehyo-ah, ajarkan Changmin-mu untuk lebih sopan terhadap hyung-nya, terutama aku, ara? Dan lagi, minta dia agar tidak menyemprotku habis-habisan setelah ini hanya karena aku memberitahukan hal yang sebenarnya..”

Aku menggeram.

“Namja chingu-mu tampak seperti akan menerkamku, Taehyo-ah.”

“Eli Oppa, dia bukan-“

“Tak perlu menyangkal, Taehyo-ah. Geez Changmin selalu mengatakan hal yang sama denganmu, tapi aku berani bertaruh ia sangat menyukaimu –mencintaimu. Kau bisa bertanya anggota tim basket yang lain bila tak percaya.” Eli tertawa, diikuti anggukan dan tawa ketiga pelengkap itu.

“Baiklah, cukup, Eli!!!!” Aku merebut handphone-ku dari tangan Eli.

“Hyo-ah, nanti aku telepon lagi, ok?”

“A-ah.. ne, Minnie Oppa..” Hyo memutuskan telepon.

“Suaranya melembut hanya saat berbicara dengan kekasih tercintanya..” Soohyun tertawa.

Aku mendesis padanya, lalu mengantongi handphone-ku.

Aku berbalik. Mataku menjelajahi sekeliling lapangan basket indoor itu, tapi aku tak menemukan satu nyawa pun didalamnya –selain aku, tentunya.

Oh sial!!! Mereka telah kabur lebih dulu. Tsktsktsk

 

***

 

Yunho’s POV

 

Aku memainkan boneka-boneka kucing yang ada di kamar Jae. Jujur saja, terkadang aku tak mengerti jalan pikirnya. Mengapa ia harus membeli boneka sebanyak itu? Kurasa Jiji tak akan membutuhkan ‘’teman’’ sebanyak itu..

Mataku beralih ke meja di kamar Jaejoong yang juga didesain minimalis. Aku memperhatikan buku-buku yang tergeletak di atas meja. Tanganku bergerak membuka laci meja belajarnya.

Aku mendengar suara pintu dibuka. Aku menoleh.

Jaejoong berdiri di depan pintu kamar mandi –yang berada di dalam kamarnya- hanya dibalut handuk pada bagian bawah tubuhnya, dengan rambut yang masih basah, dan air yang bercucuran, menetes di tubuhnya yang berotot dan sixpack.

“Yunho-ya.. Mengapa kau masuk ke kamarku begitu saja? Bukankah aku menyuruhmu untuk mengurus Jiji?” Ia mengerucutkan bibirnya seraya berjalan ke arah lemarinya, memilih pakaian yang akan ia kenakan.

“Aku sudah memberinya makan.”

“Lalu? Kau sudah memandikannya?” Ia bertanya tanpa mengalihkan pandangannya dari baju-bajunya.

“Belum.” Aku terkekeh pelan. “Tapi ia masih bersih, jadi kurasa tak perlu.. Sepertinya noona telah memandikannya sebelum membawanya kemari, karena ia tahu kau akan sibuk dan mungkin lupa mengurusnya.” Aku tertawa.

Ia menatapku dan memutar kedua bola matanya, lalu kembali memasuki kamar mandi dengan pakaian di kedua tangannya. Beberapa saat kemudian, ia telah keluar dengan pakaian lengkap.

Tanpa basa-basi, ia langsung berjalan keluar dari kamarnya dan menutupnya tepat sebelum aku hendak memanggilnya.

“Ya Joongie-ah!!” Aku mengerucutkan bibir seraya melesat keluar mengejarnya.

Ia telah berada di dapur, menyilangkan kedua tangannya dan memasang tampang cool, membuatku tertegun selama sepersekian detik.

“Kau mau kare, bukan?”

Aku mengangguk pelan.

Ia mengeluarkan dua buah apron dan melemparkan sebuah ke arahku. “Bantu aku.”

“Ya!!!”

Ia diam saja, tak memperlihatkan reaksi apapun.

“Ya!!!” Aku memutar kedua bola mataku.

Ia masih tetap pada posisinya, tak bergeming sedikitpun.

“Ya!!”

Kulihat tubuhnya bergetar pelan.

“Joongie-ah, gwaenchanayo?” Aku berjalan menuju ke arahnya.

Ia tidak menjawab. Tubuhnya masih bergetar.

Aku berhenti tepat di belakangnya. “Jaejoongie?” Aku membalikkan badannya.

Oh great!

Ia tertawa lebar.

Aku memutar kedua bola mataku. “Kurasa tidak selucu itu, Jae-ah.” Aku merengut sambil mengenakan apron –yang anehnya bergambar Hello Kitty– yang dilemparkannya.

“Hello Kitty?” Aku menatapnya setengah tak percaya. “Sejak kapan kau suka Hello Kitty, Jae-ah?”

Ia memutar kedua bola matanya, lalu mulai menyiapkan bahan-bahan kare. “Itu milik Suk Jin Noona.. Ia yang membawanya ke sini saat ia menginap.. Yun-ah, tolong keluarkan wortel dari kulkas.. Kau tahu tempat aku meletakkannya kan?”

Aku mengangguk dan membuka kulkas, mengeluarkan sayuran yang dimaksud dan meletakkannya di atas meja. “Suk Jin Noona? Lalu mengapa ia tidak membawanya pulang?”

“Well, ia bilang agar ia bisa membantuku memasak bila ia menginap di sini.”

Aku melihatnya mulai mengupas wortel dan memotongnya.

“Biar kubantu, Jae-ah.” Aku berjalan ke arahnya dan berdiri di sebelahnya.

“Kau yakin? Nanti kau akan mengacaukan dapurku lagi.” Ia menatapku ragu-ragu, setengah mengejek.

“Ya!!! Kau masih saja menyinggung soal itu!!! Itu tiga tahun yang lalu!! Waktu itu aku kan terburu-buru, Jae-ah!!! Dan lagi, well, kuakui saat itu aku memang tidak bisa memasak.. selain ramyun tentunya..” Aku mengusap-usap rambutku.

“Kau mau membantu, bukan?” Ia tersenyum penuh arti padaku.

“N-ne Jae-ah..” Entah mengapa insting-ku mengatakan ini bukan sesuatu yang baik, ataupun menyenangkan.

Ia menyerahkan selembar kertas padaku. “Pergilah ke minimarket terdekat dan beli semua bahan yang tertulis di sini.”

Aku melongo. “Ya!!! Joongie-ah..” Aku mengerucutkan bibirku. “Kau tega sekali padaku..”

“Baiklah kalau kau tidak mau kare..” Ia berjalan ke arah ruang makan dan kembali dengan kotak berisi bubur buatan Yura.

“Fine..” Dengan berat hati aku berjalan keluar dari dapur, meninggalkan Jae yang –tanpa perlu berbalik pun aku sudah tahu- tersenyum lebar.

 

***

 

Yoochun’s POV

 

“Chun-ah..”

“Hm?” Aku menjawab tanpa mengalihkan perhatianku dari layar TV.

“Mengapa Hyo belum datang juga Chun-ah? Sudah sejam..”

Aku menolehkan kepalaku menghadap Su yang sedang menatapku. “Entahlah..”

“Kurasa ia tak mungkin mandi selama itu, Chunnie..”

“Well.. mungkin saja ia mandi busa?” Aku terkekeh pelan.

“Kau tak khawatir, Chun-ah? Bisa saja ia ‘menghilang’ seperti kemarin..”

“Anniya~ Hyo bukan tipe orang yang seperti itu.. Ia selalu memberitahuku atau Minnie bila akan pergi.. kecuali bila ada sesuatu yang tidak memungkinkannya..” Aku tersenyum menenangkannya.

“Bisa saja terjadi sesuatu padanya Chun-ah.. bagaimana bila misalnya ada pencuri masuk ke rumahnya, atau-“

“Maling di siang bolong, Su?” Aku memutar kedua bola mataku. “Berusahalah agar lebih kreatif, Su-ah.” Aku menepuk pundaknya dan menggelengkan kepalaku pelan.

“Ya!!! Masa kau tidak khawatir padanya??” Ia mengerucutkan bibirnya.

“Mengapa kau tak pergi saja dan mengecek keadaannya Su-ah?” Aku tersenyum jahil.

“Mwo?! Mengapa aku Chunnie-ah? Kau sepupunya, kaulah yang lebih bertanggungjawab.” Ia menyikut lenganku.

“Akui sajalah bila kau khawatir. Pergilah, Su. Shu, shu.” Aku mendorongnya seraya tertawa pelan.

“Kau saja, Chun-ah.”

Aku memasang ekspresi serius.  “Kau harus mendengarkan hyung-mu, Su-ah.”

“Umurku sama denganmu, Park Yoochun-ssi!!!”

“Tetap saja aku lebih tua, walaupun beberapa bulan.” Aku tersenyum penuh kemenangan.

Ia mengangkat bahu dan berjalan keluar dari ruang tamu rumah keluarga Shim.

Kurang dari dua menit, ia telah kembali dengan Hyo berjalan di belakangnya.

“Yaa.. Apakah kau berlari, Su-ah?” Aku mengamati mukanya yang bebas keringat dan bajunya yang masih rapi. Tidak ada tanda-tanda ia habis berlari. Tapi.. bagaimana bisa ia bolak-balik dalam waktu dua menit? Apalagi pintu dikunci. Untuk membuka pintu, harus minta tolong pada ahjumma, lalu ke rumah Hyo dan menunggu Hyo membuka pintu, menguncinya, blablabla, seharusnya itu memakan waktu sekitar lima menit lebih.

“Anniya..” Ia menggelengkan kepalanya, memperlihatkan tampang innocent khasnya.

Apakah..

“Su-ah.. jangan bilang kau belajar sihir pada Voldemort atau kau pernah sekolah di Hogwarts sebelumnya..” Aku menatapnya, mengerjap-ngerjapkan mataku.

Aku melihat Hyo membungkukkan badannya sedikit akibat tertawa.

“Auww..” Aku mengusap kepalaku pelan. Sebuah bantal sofa telah mendarat tanpa sepengetahuanku tepat di atas kepalaku. Yeah, nice shoot Su! -__-

“Ya Kim Junsu!!!!!!!” Aku melemparkan kembali bantal itu.

Ia memungutnya dan memukulku. “Aku sudah pernah mengatakan kepadamu untuk tidak terlalu sering membaca Harry Potter, Chunnie-ya.”

“Sebenarnya..” Aku berdeham. “Aku baru pernah sekali membacanya, dan ucapanmu salah. Aku sering menontonnya, bukan membaca novelnya. Kau kira aku mau menghabiskan waktuku membaca tujuh novel Harry Potter yang bila ditumpuk bahkan bisa digunakan sebagai kursi??!!!!!” Aku merebut bantal itu dari tangan Su dan berdiri, lalu memukulnya hingga ia terjatuh ke atas karpet bulu.

“Ya!!!”

Aku tertawa pelan, diikuti tawa Su. Kulihat Hyo sendiri telah berjongkok karena terlalu banyak tertawa.

***

 

Hyunjoong’s POV

 

Aku melirik jam tanganku sekilas. Pandanganku menyapu seisi café. Masih tak ada tanda-tanda kedatangan Heechul, ataupun Yunho dan Jae.

“Sluuuurp.”

Aku mengangkat kepalaku, mendapati Seunghyun dengan santainya menyedot minuman pesanannya.

                “Ya Seunghyun-ah!! Mengapa mereka bertiga belum datang juga?? Ini sudah lewat lima belas menit dari waktu yang dijanjikan..” Aku berdecak pelan.

                Ia menghiraukanku dan kembali sibuk dengan minumannya.

                “Ya!!”

“Tidak bisakah kau menunggu saja dengan tenang, Hyunjoong-ah? Kau sudah menanyakannya kepadaku entah yang ke berapa kalinya.” Ia memberi isyarat kepada seorang pelayan -yang langsung berjalan mendekatinya- dan kembali memesan minuman yang sama setelah sebelumnya menyorongkan uangnya kepada pelayan tersebut.

Aku mengangkat bahu dan akhirnya memutuskan untuk menikmati hidanganku yang belum tersentuh.

Aku mengeluarkan handphone-ku dari kantong celanaku. Ada sebuah pesan.

 

From: Jae

 

Kurasa kami akan telat sedikit Hyunjoong-ah~ Mian hehe

Yunho dan aku akan tiba sebentar lagi disana setelah kami menjemput Yura.. Tunggu saja disana Hyunjoong-ah, ara?

^^v

 

“Kurasa mereka akan sampai sebentar lagi..” Aku melirik jam tanganku –lagi.

Ia mengangguk dan menggumamkan sesuatu yang terdengar seperti “Yeah, entahlah” bagiku.

Aku memerhatikan beberapa pengunjung yang berlalu lalang. Kebanyakan tamu-tamunya adalah remaja, yeoja.

“Hey.. ada kabar dari Chullie?” Aku menolehkan kepalaku pada Seunghyun, yang seketika menggeleng.

“Aish namja satu itu..” Ckckck.

“Yo Hyunjoong~!”

Aku menoleh.

Pintu terbuka. Yunho, Jae, dan Yura telah masuk. Mereka berjalan menghampiri kami dan duduk di kursi-kursi kosong yang masih tersedia di meja berbentuk persegi panjang itu.

“Mana Chullie?” Yura tersenyum padaku, melirik kursi tak berpenghuni di sebelah Seunghyun.

“Belum datang.” Ia menjawab singkat.

“Sepertinya si ksatria yang sok cool sedang bosan..” Yunho terkekeh.

Seunghyun menatapnya tajam.

Aku tertawa pelan, diikuti dengan Yura, Yunho, dan Hyunjoong.

“Ayo pesan dulu, Jae-ah. Heechul akan membayar semuanya nanti bukan?” Yunho nyengir.

“Kurasa begitu.” Aku terkekeh pelan.

Kami bertiga –Yunho, Yura, dan aku- bangkit dari tempat duduk kami masing-masing dan berjalan menuju counter dan memesan dessert –cukup banyak, tentunya. Jarang-jarang kami bisa ditraktir Chullie haha.

“Aku saja yang bayar dulu. Nanti kita tagih Chullie.” Yunho tertawa.

Aku mengangguk pelan dan tersenyum membayangkan ekspresi Chullie nantinya.

Kami bertiga kembali ke tempat duduk kami masing-masing.

“Chullie tidak membalas sms-ku..” Hyunjoong menggerutu pelan. “Jangan bilang ia tidak datang..”

Tiba-tiba handphone Seunghyun berdering. Ia meraih handphone touchscreen miliknya itu. “Yoboseyo?”

Ia diam selama beberapa saat, lalu menatap kami semua bergantian. “Yeah, Chul-ah tidak bisa datang..”

“Mwo??! Ya!! Bagaimana bisa??” Hyunjoong berdiri dari tempat duduknya dan merebut handphone Seunghyun. “Ya Kim Heechul!!! Kau sendiri yang bilang kau akan mentraktrir kami dan-“

“Bye~ Aku ada kencan sebentar lagi~ An-nyeong~” Heechul menutup telepon.

Aku menatap handphone di tanganku dengan tidak percaya. “Aish!! Jinjja!!!” Ia meletakannya dengan kasar di atas meja.

“Sepertinya aku tak akan mendapatkan uangku kembali..” Aku melirik Yunho yang menatap makanannya dengan penuh simpati, serta Jae dan Yura serta Seunghyun yang terkikik pelan.

 

***

 

Changmin’s POV

 

“Akhirnya aku bisa beristirahat..” Aku membaringkan badanku di atas kasur hotel yang empuk setelah selesai mandi.

Latihan selama beberapa jam tadi telah menguras tenagaku.

Eli hanya mendengus pelan. “Kurasa tak secapek itu..”

Aku bangkit dari posisiku dan duduk. “Yeah, bagimu. Aku tidak makan banyak sebelumnya..” Aku kembali membantingkan badanku dan meraih guling terdekat.

                “2 piring penuh, dan kau masih bilang itu sedikit?” Ia sedikit terperangah.

“Kau tahu sendiri jatah makanku tiap hari. Hyung.

Ia memutar kedua bola matanya. “Yeah, seharusnya aku tidak heran bila itu kau.” Ia tertawa pelan.

“Sesukamu lah.”

Kami tetap pada posisi kami, dalam diam.

“Eli hyung. Bukankah sudah saatnya bagimu untuk mandi?” Aku mencibir pelan.

“Tidak mandi pun tidak akan membuatku mati.” Ia terkekeh pelan, seraya menatap tempat tidurnya yang berantakan lalu menyender pada dinding di belakang ranjangnya.

“Terkadang aku heran kita bisa berteman..” Aku tertawa pelan.

Ia diam saja.

Tidak ada satu orangpun di antara kami yang membuka suara.

Aku meliriknya sekilas yang kini memejamkan matanya. Apakah ia tertidur? Entahlah.

“Bagaimana Hyo?” Ia membuka kedua kelopak matanya dan menyengir menatapku.

“Bukan urusanmu.”

“Masa?” Ia terkekeh. “Apakah ia menyukaimu, Changmin-ah?”

“Harus bagaimana lagi agar kau percaya bahwa ia hanya dongsaeng-ku, Eli-ah?!!” Aku menyilangkan kedua tanganku.

“Hanya dongsaeng? Tak lebih? Benarkah itu?” Ia menelungkupkan badannya, kini menatapku.

“Yeah, tentu saja.”

“Kalau begitu, ia boleh untukku?” Ia tersenyum penuh arti. “Ia cukup cantik.. manis.. dan lagi, ia pintar. Dan kelihatannya ia juga baik.. dan lagi.. well.. kurasa ia akan menjadi seorang yeoja chingu-ku yang menyenangkan..”

Aku melemparkan guling yang sedari tadi kupeluk tepat ke arahnya. “Teruslah bermimpi.”

“Ya!!!” Ia menarik guling itu dan melemparnya pelan ke ranjangmu. “Kau bilang ia hanya dongsaeng-mu bukan? Bukankah tak salah bila aku menginginkannya? Dan lagi, setelah itu, bukankah kau jadinya akan dipanggil hyung? Seperti yang selalu kau inginkan..” Ia kembali tersenyum.

“Lebih baik aku tak dipanggil hyung daripada menyerahkannya padamu!!” Kali ini aku melempar bantalku padanya.

“Ya!!!! Kenapa sih kau hobi sekali melempar orang?!!!” Ia mengerucutkan bibirnya.

“Karena ada seorang Eli yang menyebalkan disini? Dan lagi, kau harus meralat ucapanmu. Aku tidak melempar orang. Aku hanya melemparkan benda-benda yang lembut ke seorang Kim Eli.”

Ia memutar kedua bola matanya. “Sesukamulah.”

Aku diam saja dan kembali berbaring.

“Jadi…?? Kurasa ia boleh untukku..” Ia turun dari ranjangnya dan berjalan menuju meja di seberang ranjang. “Aku minta nomornya Chang-min-nie-ah~!”

Aku segera bangkit dari posisiku. “M-mwo??”

“Hm.. kau menyimpan kontaknya dengan nama apa? Jagiya? Kurasa bukan.. Dongsaeng?” Ia menatap layar handphone-ku. “Ah.. Hyo.. nomornya..”

Aku segera berlari ke arahnya dan merebut handphone milikku dari tangannya. “Sampai matipun tak akan kuberitahu.”

Ia tersenyum. “Aku tahu. Akuilah, Choikang Changmin.. Kau menyukai dongsaeng-mu..” Ia tertawa.

“Ya!!! Sudah kubilang ia hanya dongsaeng-ku saja!!!!”

“Lalu kenapa kau tak membiarkanku mencatat nomornya?”

“..”

“Kau juga tidak memperbolehkan Kibum mendekatinya..”

“..”

“Kau tak suka aku mendekatinya heh?” Ia terkekeh.

“Kau kira aku rela dongsaeng-ku didekati orang sepertimu dan Kibum?!!” Aku menatapnya sewot.

“Jadi.. orang seperti apakah yang akan membuatmu rela?” Ia tersenyum penuh kemenangan. “Kau?”

“Aish.. ige namja..” Aku mendengus.

“Changmin-ah..” Wajahnya berubah serius.

“Hm?” Aku menatapnya malas.

“Jangan-jangan..” Matanya membesar.

“Ne?”

“Jangan-jangan..” Ia menatapku.

“NEEE??”

“Apa kau..” Perkataannya terhenti. Matanya menelitiku dari atas hingga ke bawah, seperti layaknya melihat-lihat barang dagangany.

“Menyukainya? Tidak.” Aku menyilangkan kedua tanganku, menatapnya sebal.

“Aku tidak bilang begitu, Changmin-ssi..” Ia tersenyum penuh arti.

“Jadi?? Cepatlah.. sebentar lagi waktu makan malam..” Aku melirik jam yang terletak di atas meja kecil tempat aku meletakkan handphone milikku tadi.

“Apakah mungkin.. kau..”

“Aku apa??”

“Kau..”

“Ya!!! Kenapa kau suka sekali membuat orang penasaran setengah mati?!! Kalau kau tak mau memberitahuku, katakana saja!!!”

Ia menatapku lurus. Kedua tangannya memegang bahuku. Tatapannya berubah serius. “Shim, Changmin.. apakah kau sister complex?”

Aku terbengong.

“Mwo?!!!! Ya Eli!!!!”

Sebelum aku sempat melakukan apapun, ia telah lari masuk ke kamar mandi di ruang hotel tempat kami menginap.

Aish.. jinjja!!!!

 

-tbc-

Comments pls! >.<

Semoga cukup panjang dan memuaskan.. 🙂

19 responses to “Me, Myself, and Time Part 12A

  1. Uoo…aku kira Yunho ama Yura bakal ngungkit soal Jae ama hyo tapi ternyata engga~ tapi aku masih bingung juga nihh ama perasaannya Jae ama hyo
    part kali nie gada scene Jaehyo >.<~~ tapi gapapa dehh Yunho-nya lucu apalagi pas dia tau kalo akhirnya dia yg nraktir chingu2nya bukan si Chullie haha x'D Kasian amad bang uno…sabar yah bang! lol
    Eli iseng bgt sihh, deuhh minnie lamaan dong di Busan<< ._.v
    Nice part eon~ hwaiting n' keep writing ya eon^^ next part dinanti~

  2. Muahaha
    lucu bnget mereka.ckkkk
    jae sama hyo suka daaah..tapi gimana changminnya ??huaa~
    lanjut aa dah thoor…muahaha

  3. Pingback: Me, Myself, and Time part 12 B | FFindo·

  4. Pingback: Me, Myself, and Time Part 13 | FFindo·

  5. Pingback: [FF] Me, Myself, and Time Part 14 | Fun Fiction·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s