You And I [part 7]

Title : You and I [part 7]
Author : Filla Lavenia Palupy (@fillacullen)
Genre : Romance
Main Casts : Cho Kyuhyun, Seo Joohyun

creditpic: raisinism – tp aku edit sedikit whehehe :3

You And I [part 1] | You And I [part 2] | You And I [part 3] | You And I [part 4] | YouAnd I [part 5] | You And I [part 6] | You And I [part 7]

Annyeong haseyo, lama nggak ngepost ya aku… udah banyak sih sebenernya yang nagih-nagih di twitter tapi mian ya baru bisa ngepost, untuk selanjutnya kayaknya bakalan agak lama lagi  ngepostnya soalnya jujur aku lagi galau mau UAN sama kuliah, doain aja smoga bisa ngepost cepet part selanjutnya.

PS: thanks to mbak nur aka ce cunsung muahahahahahaha

+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kyuhyun POV

Aku berjalan ke balkon apartemenku dan menyalakan sebatang rokok, aku menghubungi Kangin hyung…

“Yeoboseyo? Hyung, aku ingin kau membantuku…. bukan tentang orangtuaku, ini tentang ayah Joohyun, aku benar-benar ingin ingin membunuhnya.. tidak hyung… aku tidak gila.” aku menutup telfon, hampir meremas ponselku sampai remuk.

Aku menghembuskan rokokku yang hampir habis, menyesapnya dalam-dalam dan membuangnya. Kulirik jam pada tanganku yang menunjukkan pukul 23.30 masih belum terlalu larut untukku yang biasa terjaga sampai tengah malam. Kepalaku serasa berputar-putar memikirkan kejadian malam ini, semua terasa baik-baik saja saat aku main game dan menunggu Joohyun yang memang akan datang malam ini, sampai ia menubrukkan dirinya padaku dan menangis sejadi-jadinya.

Aku menutup pintu balkon pelan dan berjalan kembali ke kamarku. Joohyun masih tertidur lelap membuatku tidak tahan untuk tidak mengusap kepalanya. Bagaimana selama ini aku bisa mengatakan pada diriku sendiri dan Joohyun bahwa aku bisa melindunginya jika ini terjadi tanpa sepengetahuanku.. aku tersenyum kecut. Aku tak bisa memaafkan diriku sendiri jika sesuatu terjadi pada Joohyun.

Joohyun masih terlelap dengan seragam sekolah yang masih dipakainya, siapa yang berani melukai Joohyunku akan berakhir ditanganku tapi masalahnya adalah Joohyun tak ingin aku menyentuh ayahnya sediktpun. Tapi aku harus melakukan sesuatu meskipun harus menyakiti Joohyun untuk melindunginya. Aku tau ada sesuatu dengan Joohyun sejak awal aku bertemu dengannya. Pandangan menerawang itu, tubuh yang ringkih itu, hingga sikapnya yang sedikit anti sosial aku tau ada sesutau di balik semua itu, tapi aku tak menyangka akan seburuk ini.

Aku tau Joohyun belum menceritakan semuanya padaku, aku ingin bersabar untuk Joohyun tapi aku tak bisa terus-terusan diperlakukan seperti ini oleh ayahnya. Joohyun hanya menceritakan padaku bagaimana teman ayahnya memperlakukannya dengan tidak pantas dan bagaiamana ayahnya membiarkannya, tapi bagaimana jika ayahnya sudah pernah bertindak lebih dari itu? Bagaimana jika…?

Bahkan aku tak berani memikirkannya. Hanya membayangkan ini saja sudah membuatku jijik dan muak.

Apakah Joohyun sudah pernah diperlakukan lebih buruk dari ini sehingga Joohyun menjadi yeoja seperti sekarang? Perutku serasa ditendang membayangkannya.

Kubelai kepala Joohyun sekali lagi, Joohyun bergerak pelan dan beringsut ke arahku sehingga aku memeluknya. Jika Joohyun sakit aku akan merasakannya sepuluh kali lipat, aku tak pernah berfikir seperti ini sebelumnya untuk mempunyai seseorang disampingku seperti Joohyun.

Aku sempat merasa takut dengan perasaanku terhadap Joohyun. Jujur aku tak pernah merasakan ini seumur hidupku, perasaan ingin memiliki dan diperhatikan. Di satu sisi aku takut karena inilah kelemahanku, Joohyun adalah kelemahanku, sedangkan selama ini aku berusaha mati-matian untuk tidak memiliki kelemahan, untuk bertahan setelah kematian Ahra dan kekacauan orangtuaku. Satu-satunya cara adalah bersikap kuat tidak ada cara lain.

Tetapi setelah aku bertemu Joohyun, aku berbeda aku menjadi terlalu lemah pada beberapa hal karena entah kenapa Joohyun membangkitkan perasaanku yang sudah lama terkubur.

Bel pintu yang berdering membangkitkanku dari lamunan, pasti itu Kangin hyung. Aku pelan-pelan melepaskan diri dari Joohyun sehingga tidak membangunkannya dan beranjak ke depan pintu, aku membukanya dan disana ada Kangin hyung dan Hoya dengan raut wajah serius.

“Masuklah…” kataku dan mereka mengikutiku.

“Joohyun tidur dan aku tidak ingin membangunkannya, bagaimana kalau kita keluar saja?”

Kangin hyung dan Hoya sedang duduk di sofa, mereka hanya mengangguk mengerti tanpa mengatakan sepatah katapun. Kuambil jaket dan kunci motor, lali mencium kening Joohyun sebelum aku keluar.

Kami berjalan dalam diam menuju tempat parkir Apartemenku. Sepertinya mereka tau suasana hatiku yang sedang tak karuan malam ini. Hoya yang memang pendiam tiba-tiba meremas bahuku dari belakang, aku menoleh padanya dan menepuk pundaknya pelan.

Kami naik motor masing-masing dan menuju tempat kami biasa minum-minum. Aku berkendara seperti orang gila dan terus mencengkram erat setir motorku hingga terasa ngilu pada tanganku.

Kami memesan makanan dan soju, Kangin hyung dan Hoya saling berpandangan entah apa yang ada di pikiran mereka tapi aku benar-benar sudah tak sabar mengajak mereka menghabisi ayah Joohyun.

“Kangin hyung pasti sudah menceritakan semuanya padamu kan?” aku menatap Hoya dan ia mengangguk mengerti.

“Tapi jujur kau agak sedikit gila, Hyung, jika ingin bertindak sejauh itu,” Hoya bicara.

“Kau memang perlu memberinya pelajaran supaya bajingan yang Joohyun sebut sebagai ayah itu jera, dan tentu saja teman ayahnya itu juga…” Kangin hyung menenggak sojunya.

Aku hanya mengangguk dan memikirkannya. Sepintas aku juga memikirkan perasaan Joohyun bagaimana ia mengatakan padaku untuk tidak mencelakai ayahnya, kalau sudah seperti ini sekalian saja membunuhnya pikiran itu terlintas berkali-kali, tapi aku juga memikirkan efeknya pada Joohyun dan aku tau bahwa ia akan menyalahkanku esok pagi.

“Geurae hyung, ayo kita beri pelajaran berharga pada ayah Joohyun dan temannya itu.” aku bangkit dari kursiku.

“Kajja…” kulihat raut wajah Kangin hyung menggelap dan berbahaya, bahkan Hoya memandangku dengan sorot berbahaya.

***

Rumah Joohyun terlihat gelap dari depan, tapi suara gelak tawa yang nyaring terdengar dari dalam rumah semakin membuatku geram. Aku mempererat genggaman tanganku pada grendel pintu pagar dan membukanya dengan kasar, bahkan pintunya tidak dikunci benar-benar sekumpulan orang tolol.

Aku masuk bersama Kangin dan Hoya bahkan tanpa menyembunyikan kedatangan kami, tapi tiba-tiba Kangin hyung menghentikanku.

“Aku yang didepan.” katanya singkat dan aku hanya mengangguk.

Seperti yang kuduga pintu depan bahkan tidak dikunci, kami masuk dengan mudah aku ingin cepat-cepat menghancurkan kepala bajingan yang menyakiti Joohyun. Kami bertiga masuk secara spontan dan mengejutkan mereka yang sedang bermain kartu.

“Diantara kalian,” jari telunjukku menunjuk semua muka yang ada di ruangan ini, “siapa ayah Joohyun?” kataku geram.

Seorang laki-laki bertubuh gempal berdiri dari kursinya tampak marah dan mengerutkan keningnya.

“Aku ayahnya. Siapa kalian berani-berani masuk tanpa seijinku?” Seseorang yang mengaku ayah Joohyun mulai geram dan teman-temannya yang bertampang menjijikkan mulai bangkit berdiri membuatku gatal ingin menghabisi mereka.

Tanpa basa-basi aku langsung melayangkan sebuah pukulan telak ke wajah ayah Joohyun, ”Itu untuk tndakanmu memperlakukan Joohyun sesukamu.” Aku menendang perutnya hingga terjengkang. ”Dan yang ini untuk membiarkannya dilecehkan oleh teman-temanmu. Siapa yang berani menyentuh Joohyun?!”.

Ayah Joohyun meludah dan melayangan pandangan membunuh padaku, tapi aku tidak peduli. ”Kau pacarnya? Pantas saja dia aneh belakangan ini. Sering keluar denganmu rupanya, dasar kau anak ingusan. Aku ingin membuangnya atau menjualnya itu bukan urusanmu. Dan kau dengan dua orang temanmu itu bisa angkat kaki dari sini”.

“Ya, setelah aku membunuh kalian semua.” Aku melangkah maju. Emosiku sudah berada tepat di atas kepala sekarang. “Siapa yang berani menyentuh Joohyun tadi?!” Raungku sambil memandangi wajah bajingan ini satu persatu, salah satu dari mereka melirik ke salah seorang temannya yang berpenampilan seperti seorang gelandangan yang berbau alcohol, tanpa basa-basi lagi aku meninju rahangnya yang kuyakin bisa sangat menyakitkan.

Kangin hyung dan Hoya juga menghujani mereka dengan pukulan bertubi-tubi. Aku sudah tidak bisa berpikir apa-apa lagi bahkan aku tak sadar kemana tangan dan kakiku bergerak, aku ingin membunuh bajingan ini.

Pikiranku melayang pada Joohyun yang sedang tidur di apartemenku, bagaimana ia meringkuk seolah ingin berlindung dari sesuatu, aku ingin membebaskan Joohyun dari ketakutannya. Mungkin itu yang membuatku secara membabi buta memukul dan menendang bajingan ini.

Bahkan pikiran ingin menghabisi ayah Joohyunpun sedikit terlupakan karena membayangkan bagaimana bajingan ini menyentuh Joohyunku. Seketika aku kehilangan kendali akan tubuh dan pikiranku, aku sudah tak tau apa yang kulakukan dan yang kulakukan hanya menendang dan memukul sampai Hoya dan Kangin hyung menarikku ke belakang, menahan kedua lenganku dan menarikku mundur.

“Ya Hyung! Hentikan! Sudah cukup, kau sudah hampir membunuhnya! Hyung… Hyung…”  samar-samar aku mendengar Hoya berteriak di telingaku dan seketika kesadaranku kembali. Aku menggeleng-gelengkan kepalaku mencoba berpikiran jernih.

“Ada apa denganmu, hah? Kau bilang kita hanya memberikan pelajaran pada mereka.” kata-kata Kangin hyung menyadarkanku.

Aku melihat ke bawah melihat apa yang kulakukan pada orang yang melecehkan Joohyun. Aku yakin rahangnya patah dan beberapa tulang lainnya serta wajahnya sulit dikenali akibat lebam dan darah yang terus keluar. Aku mengangkat tangan dan mengacak-ngacak rambutku.

Kenapa bisa sampai separah ini? Walaupun begitu, aku sama sekali tidak menyesal.

Kuatur nafasku saat kudengar pintu terbuka dan beberapa orang masuk.

Polisi…. Sial!

Siapa yang memanggil mereka?

***

Joohyun POV

“Joohyun-ah bangun…bangun…” kurasakan seseorang mengguncang-guncang tubuhku dan membangunkanku dari tidurku yang tanpa mimpi.

Aku menyipitkan mata dan hampir terlonjak karena kaget dengan orang yang membangunkanku.

“Su…Sunggyu-ssi apa yang kau lakukan? Dimana Kyuhyun?” kataku tergagap.

Ekspresi di wajah Sunggyu tidak terbaca dan agak menakutkan membuatku mencengkram selimut lebih kuat, Sunggyu mendesah kasar.

“Begini… ini… agak rumit dijelaskan. Singkatnya Kyuhyun pergi menemui ayahmu bersama Kangin hyung dan Hoya tadi….”, aku menahan napas saat mendengar penjelasannya, ”….Mereka ingin memberi pelajaran pada ayahmu dan keadaan menjadi sedikit lebih buruk dari yang diduga dan…. Mereka ada di kantor polisi,” aku merasa seseorang telah memukulku dengan sekuat tenaga.

Kantor polisi? Bagaimana dengan Kyuhyun? Apakah ia terluka? Bagaimana dengan janjinya untuk tidak melukai Appa?

Semua pertanyaan berputar-putar di kepalaku, kulirik jam menunjuukkan pukul 01.20.

“Lalu apa yang terjadi? Apa mereka terluka?, aku menyadari suaraku sedikit bergetar.

Sunggyu menggaruk-garuk kepalanya, ”Aku juga belum tau bagaimana keadaan mereka, yang jelas Leeteuk hyung dan yang lainnya sudah ke kantor polisi untuk mengurusnya. Jadi… kau mau ikut atau tidak?” Sunggyu terlihat tidak sabar dan aku langsung berdiri,

“Tunggu aku sebentar..”

Sunggyu beranjak pergi meninggalkanku sendirian di kamar Kyuhyun, pikiranku kosong dan seperti orang linglung.

Tanpa pikir panjang kuambil tas yang tergeletak disamping tempat tidur dan menyambar jaket Kyuhyun yang tergantung di balik pintu karena aku masih memakai seragam sekolah. Aku melihat ke cermin merapikan rambutku yang kusut. Jaket Kyuhyun yang kebesaran membuatku tenggelam di dalamnya tapi aku menyukai aroma Kyuhyun yang masih menempel di jaket itu, tanpa sadar aku menghirupnya dalam-dalam untuk mambuatku tenang.

Aku menemukan Sunggyu sedang mengetuk-ngetukkan kakinya di lantai dapur ia mendongak saat aku menghampirinya.

“Kajja…” kataku.

Aku hampir berlari untuk menyamai langkah Sunggyu tapi itu bukan masalah untukku. Aku juga ingin segera melihat Kyuhyun dan memastikan semuanya baik-baik saja.

***

Jujur saja tempat ini menyeramkan dengan beberapa orang digiring ke sebuah ruangan dan ada orang mabuk yang terus meracau, membuatku sedikit mempercepat langkahku. Agaknya Sunggyu mengerti ketakutanku dan meletakkan tangannya dipunggungku dan berjalan dibelakangku. Ini jam 02.00 pagi dan kantor polisi ini seberisik pasar, terdengar suara teriakan memaki dari sudut ruangan dan seorang polisi memukul orang yang berteriak tadi.

Sunggyu mendorongku untuk berbelok ke kiri, disana terdapat sel yang kelihatannya penuh dengan beberapa orang mataku mencari-cari Kyuhyun. Kyuhyun sedang duduk di bawah dengan tatapan menerawang tangannya diborgol. Kangin oppa sedang berbicara dengan Heechul oppa dari balik jeruji sedangkan Hoya hanya duduk terdiam.

Mataku perih sehingga aku mengerjap-ngerjapkan mataku. Aku menghampiri sel itu perlahan. Sunggyu masih ada dibelakangku.

“Aku kesana dulu ya..” Sunggyu menunjuk kursi disebelah opsir.

Leeteuk oppa menghampiriku, ”Mereka akan segera bebas. Ayah Kyuhyun sudah mengurusnya.” Leeteuk oppa merangkulku dan aku hanya bisa mengangguk pelan. Leeteuk oppa menghampiri opsir yang ada di pojok ruangan untuk mengeluarkan Kyuhyun sebentar, aku menunggu sambil meremas-remas ujung jaket Kyuhyun yang kupakai hingga kusut.

Kyuhyun menghampiriku pelan, tanpa ekspresi sedikitpun di wajahnya, matanya merah karena mengantuk. Aku berdiri menegang dan menamparnya tapi tangan Kyuhyun lebih sigap menangkap tanganku.

“Bagaimana mungkin kau melakukan ini padaku?” tanpa kusadari suaraku mulai bergetar.

Aku menunggu Kyuhyun menjawab, 10 detik berlalu dan dia tetap diam tangan Kyuhyun mulai mengendur dan melepaskan tanganku.

“Katakana sesuatu…” tangisku hampir pecah dan aku berusaha sekuat tenaga mengendalikannya, aku menarik nafas panjang menunggu Kyuhyun menjawab.

“Aku tidak menyesal…” suaranya dalam saat mengatakannya dan ia menatapku dalam, aku benar-benar tidak melihat penyesalan disana matanya lelah dan keningnya berkerut tapi bukan penyesalan.

“Aku mengerti..” kataku, ”….Kemarahanmu, kekesalanmu, dan kebencianmu pada ayahku setelah aku menceritakan semuanya..”

“Belum, belum semua.” kata Kyuhyun membuatku terkejut, apakah dia tau ayah sering memukuliku? Bagaimana dia tau?

“Kau belum menceritakan semuanya padaku, walaupun aku tak tau apa yang kau sembunyikan dariku aku akan tetap mencari tau.” lanjutnya.

Aku menelan ludah karena bersyukur ia belum tau lebih jauh, memikirkannya saja sudah membuatku ngeri. Kyuhyun bertindak seperti ini setelah mendengarkan ceritaku, bagaimana ia akan bertindak setelah mengetahui lebih jauh tentang tindakan Appa? Aku tak berani membayangkannya.

“Bi.. bisakah kau memelukku sebentar? Aku ketakutan setengah mati dalam perjalanan kesini karena memikirkan sesuatu terjadi padamu.” aku maju satu langkah dan mengulurkan tanganku, menarik bajunya pelan.

Kyuhyun menarikku pelan sehingga aku bisa menyusup ke dadanya dan memeluknya, rasanya seperti pulang bukan seperti rumah tapi seperti tempat seharusnya aku berada, menghirup aroma Kyuhyun yang menjadi favoritku wangi campuran sabun dan cologne-nya. Kurasakan tangan Kyuhyun membelai punggungku naik turun dengan lembut untuk menenangkanku, ia membisikkan kata-kata untuk menenangkanku.

“Dimana ayahku? Apakah dia yang memanggil polisi?” tanyaku setelah Kyuhyun melepaskan pelukannya dan menyuruhku duduk di kursi.

“Aku tak tau dimana bajingan itu, yang jelas tadi dia bersaksi bahwa aku memukuli temannya.” Kyuhyun menggaruk kepalanya tanda frustasi. ”Ayahku sedang mengurus untuk mengeluarkanku dari penjara sialan ini, jadi kau tak usah khawatir kita akan bicara nanti Hyun. Tapi tidak disini… Kembalilah ke Sunggyu dan dia akan menjagamu. Aku akan menemuimu di tempatku arraseo?” aku tak bisa membaca ekspresi apapun yang sedang bermain di wajah Kyuhyun. Aku ragu-ragu meninggalkannya disini karena perasaanku yang tak menentu dan firasatku yang aneh.

“Aku percaya padamu. Aku akan menunggumu di apartemen…” aku mengulurkan tangan dan menyapukan tanganku di keningnya. Rambutnya berantakan dan jatuh ke dahi membuatku gatal ingin merapikannya. ”Aku mencitaimu…“ kataku akhirnya.

“Aku tau…” jawabnya.

Kami berdiri dan Kyuhyun memandangiku lama, lucu memang bagaimana ini masih membuatku lemas walaupun hampir 2 bulan kami pacaran. Kyuhyun membelai pipiku dan mendekatkan wajahnya ke wajahku. Jantungku memburu. Aku bertaruh seisi ruangan bisa mendengarnya sekarang. Aku menutup mataku dan menunggu bibirnya menyentuh bibirku, tapi yang kurasakan adalah bibir lembut Kyuhyun menyentuh keningku pelan dan Kyuhyun menjauhkan wajahnya.

Aku membuka mata dan terkejut karena aku merasa kecewa Kyuhyun tidak mencium bibirku, Kyuhyun sepertinya mengerti apa yang kupikirkan.

“Jangan disini…” katanya sambil menyentuh puncak kepalaku seperti anak kecil.

Pipiku semerah kepiting rebus sekarang.

“Ehem….” seseorang di belakangku sengaja berdehem untuk memberitahu kedatangannya. aku memandang Kyuhyun yang wajahnya mulai menegang sampai otot-otot wajahnya tertarik, seketika tangannya terlepas dari rambutku. Aku berbalik dan melihat ayah Kyuhyun yang sedang memandang jijik ke arah kami….

Bukan. Tapi tepatnya tatapan jijiknya mengarah padaku.

Aku berdiri terpaku dan tiba-tiba seseorang menyentuh punggungku, ternyata Sunggyu.

“Kajja Joohyun-ah…” Sunggyu setengah menyeretku pergi dari situ.

“Aku akan segera kembali, jangan khawatir,” Kyuhyun meremas pelan lenganku dan memandang Sunggyu dengan tatapan aneh yang tak kumngerti, hanya saja Sunggyu menarikku pergi dari situ.

Aku terus memandang Kyuhyun yang berjalan kearah ayahnya yang berwajah garang, Sunggyu terus menyeretku menjauh aku bahkan tak memperhatikan jalan di depanku dan terus menatap Kyuhyun sambil berjalan.

Aku sudah hampir sampai pintu depan saat kulihat ayah Kyuhyun memukul Kyuhyun.

***

Kyuhyun POV

Aku mengusap pipiku yang rasanya panas. Ini bukan apa-apa, aku meyakinkan diriku sendiri. Appa berdiri di depanku. Appaku yang menatap jijik ke arahku. Aku menatapnya tanpa ekspresi dan berharap aku dipenjara saja daripada berurusan lagi dengan Appa.

Dalam sekejap aku, Kangin hyung dan Hoya sudah bebas tentu saja dengan uang jaminan yang tidak sedikit, tapi aku sama sekali tidak menyesal. Dimana lagi Appa akan menghabiskan uangnya kalau bukan untuk anaknya yang brengsek ini? Aku menertawai diriku sendiri.

Kami bertiga berjalan di belakang Appa keluar dari kantor polisi, Kangin hyung dan Hoya menepuk bahuku dan membungkuk pada Appa, Appa bahkan tak meperdulikan mereka.

“Khalke….” aku melambai pada mereka dan dengan tenang mengikuti langkah Appa menuju mobilnya, walaupun aku tak berniat ikut dengannya.

Tiba-tiba Appa berhenti dan menoleh padaku, bersandar pada mobil Bentley kesayangannya.

“Aku tidak menyesal jika itu yang ingin anda tanyakan,” aku melihat rahang Appa yang semakin keras menahan amarahnya.

“Aku tak menyangka kau sudah pintar menjadi seorang bajingan karena seorang yeoja ingusa.,” Appa merogoh sesuatu dari dalam saku jasnya yang mahal dan mengeluarkan sebatang cerutu.

“Kurasa… itu penyakit keturunan.” aku mengeluarkan rokok dan menyalakannya, ”Bukankah begitu? Dan ngomong-ngomong dia punya nama. Joohyun, Seo Joohyun.” aku menghembuskan asap rokok saat Appa menghantamku dengan kepalan tangannya. Aku meludahkan darah yang keluar dari mulutku.

“Aku sudah muak menghadapimu Kyuhyun-ah, mungkin memaksamu tidak akan berhasil membuatmu kembali ke rumah, tapi jika yeoja itu…” Appa berhenti bicara.

Aku tersentak, ”ada apa dengan Joohyun? Jangan pernah membawa-bawanya atau kau akan menyesalinya.” kataku sambil menggertakkan gigi, tidak peduli itu ayahku atau siapa.

“Itu semua terserah padamu, anakku… aku tau yeojamu itu mendapatkan beasiswa di sekolah kan? Aku bisa kapan saja menghentikan beasiswa itu. Mengeluarkannya? Itu mudah. Menghancurkan hidupnya? Itu semakin mudah.”

Tanganku sudah gatal ingin memukulnya tapi aku menahan amarahku dan menarik nafas dalam-dalam, ”Apa yang anda inginkan, heh, Tuan Cho?”

“Ikut aku pulang..” Appa menjatuhkan cerutunya yang masih setengah dan menginjaknya.

“Hanya itu?”

 ***

Joohyun POV

Aku mondar-mandir di dapur dan mencoba menghubungi Kyuhyun lewat ponsel. Tapi tak ada jawaban padahal ini sudah 2 jam berlalu sejak kejadian tadi.

Ia menyuruhku untuk menunggunya pulang, aku memejamkan mataku dan air mataku meleleh dengan sendirinya.

Aku akan menunggumu, kau pasti kembali

-TBC-

Makasih Sudah baca !!!!

yang mau kenalan sama authornya , bisa ke @fillacullen . kalau dia telat post , silahkan bom dia dengan mentionan tagihan FF XD *dijambakfilla* fyi kemaren-kemaren filla nya lumayan stress(?) sama mentionan dari readers yg rata2 tanya FF wkwkwkwkwkwkwk

PS : Buat Embak Filla Lapeeeeee … plis ya piiiilll kalau nulis perhatikan tanda bacanya. kalau akhir kalimat tandanya titik (.) bukan koma (,). perhatikan juga tanpa petiknya, trus kalau nama orang yaaaa seenggaknya diawali pake huruf besar -______- cegeh fill ngedit satu jam lebih … 

98 responses to “You And I [part 7]

  1. Aigo, ini ff terkeren, terbagus, n paling nyentuh yang pernah ane baca. Beribu ribu pujian pun gak bakal cukup buat ff ini n authornya. Pokoknya intinya DAEBAK…!!!
    Ane mohon dengan sangat tolong lanjutin part 8-nya ya chingu, cos ane penasaran banget. And mohon banget chingu lanjutin ff ini.

  2. Pingback: You And I [part 8] | FFindo·

  3. Berani bertruh namsan tower punya Korea LOL
    ini FF daebak abis…kisah cinta’y gak pasaran,,,setiap bc pasti bkin suasana hati cekat,,,cekut tp gak sampe serngan jantung hahaha

  4. . critany kren n bsa buat pnglman bgt … hehehe
    . crita cnta yg buat org bsa mrskn ksedihanny … kren … .

  5. Haha..
    Itu siapa yg nulis P.s supaya penggunaan tanda bacanya diperbaiki. Ne, memang benar, ini hanya sekedar saran yah chingu. Penggunaan tanda (,) dan (.) di ff ini memang kurang rapi. Dan penulisan nama jg hrs didahului dgn huruf besar. Dan setelah tanda titik diakhir kalimat. Untuk mengawali awal kalimat hrs menggunakan hrf besar jg.
    Ah tp terlepas dr semua itu nih, ide cerita, cara penulisan, dan alur ceritanya bagus kok. Yg penting itu ff nya gk bikin bingung dan nyambung.

    Apa yg bakal terjadi sm kyuhyun? Pulang ke rmhnya? Kembali menjalani hari2 bersama kedua ortunya, pasti hal itu berat buat kyu.
    Ayo ayo aku lanjutin yah ceritanya…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s