[FF/CHAPTERED/PG-13] Hope, Love, and Passion Chap 4

Title : Hope, Love, and Passion

Author : Sarah Sucia Adler

Rating : PG-13

Main Casts : Cho Kyuhyun, Hangeng, Lee Donghae, and  Oh Yang Guan Nan

Other Casts : SM artist and other

Genre : Romance

Length : ? shot

Part : 3 of ?

Previous Chap : Chap 1 | Chap 2 | Chap 3

Disclamer : I don’t own the Super Junior characters here. They belong to SM Entertaiment and themselves.  Oh Yang Guan Nan is belong to me. This story is only a fiction. So please don’t sue me.

A/N : ini semua cuma fiction, kalo ada kesamaan cerita itu semua maunya saya haha. Diksi disini sengaja saya turunin agak jauh dari psycho dan irrational (jujur emang experimen, mencoba biar diksinya gak terlalu berat dan mudah dipahami).

Summary : cerita tentang seorang gadis bernama Oh Yang Guan Nan, asli China, yang menjadi trainee di SM entertaiment,

Happy Reading

***

“Guan Nan!” aku berhenti menari dan menoleh pada sumber suara –pelatih kami. “Apa yang sebenarnya kau pikirkan? Dari tadi gerakanmu kacau semua, tumben sekali, ada apa?”

A.. anni gwenchana..” jawabku singkat.

Masa iya aku harus bilang bahwa aku sedang memikirkan Kyuhyun oppa? Sudah tiga kali dalam seminggu ini aku memergokinya sedang bersama Song Qian jie jie dan mereka terlalu dekat. Aku cemburu? Seharusnya aku tidak boleh cemburu, aku ‘kan bukan siapa-siapa Kyuhyun oppa, aku sama sekali tidak ada hak untuk cemburu padanya. Tapi aku juga tidak bisa bohong kalau selama seminggu ini pula aku memikirkannya. Dan aku terlalu pengecut untuk bertanya padanya, dengan alasan apa? Aku bukan pacarnya! Sudah tiga hari belakangan aku tidak mengangkat telepon darinya. Aku marah? Tentu saja! tapi mau bagaimana? Kami tidak berpacaran.

“Kau sedang ada masalah?” tanya Ha Young tiba-tiba.

Anni.

“Oke mulai lagi dari awal. Five six seven eight,” kami menari dan lagi-lagi aku salah. “Guan Nan…”

“A.. aku izin ke toilet ya, cuci muka,” aku tersenyum canggung dan langsung keluar.

Ah Tuhan apa yang harus aku lakukan? aku benar-benar bingung. Aku terlalu bergengsi tinggi untuk meneleponnya duluan, dan terlalu pengecut untuk mengangkat teleponnya. Jadi apa yang sebenarnya aku mau? Aaaah aku juga tidak tahu.

Aku berjalan gontai dari ruang latihan. Oh Tuhan! Anak-anak Super Junior baru saja keluar ruangan. Apa yang harus aku lakukan? aku sama sekali tidak mau ditanya-tanya. aku mengeluarkan handphone-ku. Lalu berjalan mendekati mereka.

“Ah.. iya, Ibu aku juga kangen kalian, aku ingin pulang ke China deh…” aku pura-pura sedang menelepon aku membungkukkan badan ke arah mereka dan langsung meneruskan berjalan. “Iya tapi aku belum bisa pulang sekarang,” aku kembali berpura-pura. Tadi sempat kulihat Kyuhyun oppa mau bicara tapi aku langsung kabur.

Aku masuk ke kamar mandi dan mulai membasuh wajahku di westafel. Ya ampun Guan Nan kenapa kau jadi melankolis begini sih? Menyebalkan sekali. Eh ponselku berbunyi. Sms dari Kyuhyun oppa.

‘Kau menghindariku, hah?’

Pabo-ya! Dia itu tidak sadar apa kalau punya salah? Kenapa sih pria tuh gak pernah peka? Ingin kubanting handphone ini, kalau gak inget belinya mahal pasti sudah kulakukan. Gimana nih bales gak ya? tidak usah deh biarkan saja. aku kembali membasuh wajahku. He’s frustrating me. Tingkahnya tidak bisa ditebak, aku sama sekali tidak bisa tahu apa yang dia pikir, apa yang dia rasa, apa yang dia mau, aku tidak mengerti.

Aku melihat jam tangan, harusnya latihan sudah selesai, aku gak usah balik lagi ke tempat latihan deh, pasti pada nanya ada apa denganku. Aku ke atap saja, sedikit refreshing. Aku keluar dari toilet seperti agen FBI yang ketakutan bertemu Super Junior –Cho Kuuhyun mungkin lebih tepatnya. Dengan takut-takut aku berjalan dan dengan cepat menaiki tangga. Aku membuka pintu dan jantungku seolah berhenti. Kakiku melemas sepertinya aku akan jatuh. Aku berpegangan pada pintu besi agar keseimbanganku tidak hilang.

Aku melihat Gege berciuman dengan Ji Hyun.

Tanpa aku sadari air mataku turun, aku kalah. Aku memang bisa menyaingi Ji Hyun untuk soal menari dan menyanyi tapi untuk urusan ini aku kalah. Gege mencintainya dan gege hanya menganggapku adik kecil yang manis. Sekali lagi aku kalah. Aku turun dengan perlahan meninggalkan mereka yang masih bercinta. Aku keluar dari gedung SM dan mulai berjalan, berjalan lebih cepat, kemudian berlari. Aku berlari tanpa tujuan, tanpa arah, aku tidak tahu yang aku butuhkan hanya berlari. Aku terus saja berlari aku tidak tahu sudah berapa lama aku berlari yang jelas kini tungkai bawahku sudah sangat sakit, kakiku melemas dan kemudian aku terduduk. Aku menangis tersedu, dadaku sesak. Kenapa aku harus marah? Dari dulu hingga sekarang gege hanyalah seorang kakak yang menjagaku. Kenapa aku harus marah? Kenapa ku tidak bisa bahagia melihat dia menemukan wanita yang dia cintai? Kenapa aku sangat takut kehilangan dia?

Aku melihat sepasang sepatu converse di hadapanku, aku menengadah dan orang itu mengulurkan tangan memintaku berdiri. Aku tidak menyambutnya, aku malah tambah menangis tersedu. Dia mengelus kepalaku merangkul bahuku dan mengajakku berdiri. Kami berjalan ke sekitar sungai Han. Dia menyuruhku duduk dan dia pergi, tidak lama dia kembali sambil menyodorkan sebotol air mineral.

Kamsa,” ujarku dengan isakan.

Gwenchana?” tanyanya. Aku tergelak.

“Orang yang menangis tidak ada yang baik-baik saja, oppa,” dia tersenyum manis.

“Siapa? Gege atau Kyuhyun yang membuatmu begini?”

“Donghae oppa…” aku memukul lengannya.

“Aku serius nanyanya tau, gege atau Kyuhyun?”

Molla,

“Em?”

“Tadinya aku memang sedang kesal dengan Kyuhyun oppa, dia membuatku tidak konsen latihan gara-gara aku melihatnya bersama Song Qian jie jie, makanya tadi aku cabut latihan dance. Niatnya sih mau refreshing ke atap, taunya malah liat gege sama Ji Hyun,” ucapku panjang lebar.

“Mereka…”

“Berciuman.” Aku sempat melihat bibirnya membertuk O.

“Lalu Kyuhyun? Dia  tidak menjelaskan apa-apa?”

“Sepertinya dia ingin, tapi aku yang sedang tidak ingin bicara padanya.” Air mataku jatuh lagi, Donghae oppa melihatnya dan menghapusnya.

“Sini…” dia menuntun kepalaku agar bersandar di bahunya. “Sebenarnya apa yang kau tangisi?”

“Entahlah… aku menghla napas panjang. “Aku bingung,.”

“Apa kau mencintainya? Hankyung hyung,”

“Cinta? Yang aku tahu aku hanya takut kehilangannya, ia selalu ada saat ayah ibuku tidak ada, dia selalu menjagaku kalau aku takut, kok kedengarannya dia seperti baby sitter-ku ya?”

“Kau telah menjawabnya sendiri, kau hanya takut kehilangan semua perhatiannya. Kau takut dia tidak bisa menjagamu, tidak lagi membuatkanmu makanan, tidak lagi memanjakanmu,” aku terdiam.

“Mungkin kau benar,”

“Sudah jangan menangis,” dia lalu memelukku tapi itu malah membuatku makin menangis.

“Susah payah aku ke sini untuk bertemu dengannya, harusnya aku senang melihat dia bahagia, aku egois ya oppa?

“Kau manja bukan egois,” aku makin menangis di bahu Donghae oppa. Nyaman sekali dipeluk begini olehnya. “Sudah jangan menangis, mau ku belikan apa? Yoghurt strawberry atau es krim strawberry?” aku menggeleng. Aku benar-benar tidak bernafsu. Aku melepaskan pelukannya dan menatap lurus ke depan.

Kamsa…

Ne,” dia menaruh telapak tangannya di kepalaku. “Jadi, Kyuhyun?”

“Kenapa?”

“Kalau dia, apa kau mencintainya?”

POV end

***

Donghae POV

Aku menggigit lidahku setelah mengatakan pertanyaan itu. Aku tidak tahu apa yang aku pikirkan, padahal aku sudah tahu jawabannya. Ya, tentu saja Guan Nan mencintai Kyuhyun.

“Aku senang berada di dekatnya, aku senang membuatnya tertawa aku cemburu melihatnya bersama wanita lain, apa itu bisa dibilang cinta?” dia malah balik bertanya padaku.

“Lalu apa bedanya dengan gege? Bukankah kau juga merasakan hal yang sama?”

“Itu berbeda…” jantungku berdegup kencang. “Ketika aku tau gege dengan Ji Hyun hatiku bilang ‘aku kalah’ tapi ketika aku melihat Kyu oppa dengan Song Qian jie jie hatiku bilang ‘biarkan aku sendiri dulu, aku ingin menjernihkan pikiran agar aku dapat bicara tenang denganmu’ aku takut salah ucap, aku takut dia salah paham dan akhirnya pergi.”

“Apa yang kau suka dari gege?” pabo kenapa aku bertanya hal-hal yang membuatku sakit hati.

“Caranya menjagaku,” jawabnya cepat.

“Apa yang kau suka dariku?” dia menatapku dengan tatapan bertanya namun sejurus kemudian tersenyum.

“Caramu memperlakukanku,” jawabnya lagi.

“Dan, apa yang kau suka dari Cho Kyuhyun?” dia menatap lurus ke depan dan tersenyum.

“Aku tidak tahu,” jawaban itu yang tidak ingin aku dengar. “Dia memang tidak bisa menjagaku seperti gege, atau memperlakukanku seperti yang kau lakukan, terkadang kata-katanya agak tajam, atau malah banyak diam, aku juga terkadang tidak mengerti apa yang dia pikir, tapi aku menyukainya. Meskipun tanpa alasan.” Aku terdiam, dia kembali menatapku. “Oppa? Gwenchana?

Naneun gwaencanajyeo neul geuraewasseo hangsang gwiemanisseodo ireohge haengbokhande (I’ll be okay.. I’ve been like this even being behind you. I’m still happy lie this),” aku menyanyiak sebait lagu .

“Angela,” ujarnya singkat.

Nega wiroul ddae hokeun seulp’eul ddaedo jik’yeojul sui ttneun namja naramyeon, Jigeum idaero saranghal su isseo yeongweonhi cheongmal yeongweonhi  (when you’re lonely, or even when you’re sad, if that man who can protect you is me, I can love you right now as you are.. Forever, really forever),”  dia tidak sadar dan malah menikmati tiap bait yang au lantunkan, padahal ini pengakuan. Tapi benarkah aku akan baik-baik saja? dia menyandarkan kepalanya di bahuku.

“Kau tahu oppa? Terasa sangat mudah untuk sekedar menyandarkan kepala di bahumu atau gege. Tapi pada Kyuhyun? Untuk melakukan ini saja aku harus berpikir tiga kali. Sekedar menyentuhnya saja aku harus putar otak, aku benar-benar takut salah sikap padanya.” Aku hanya tersenyum. Padahal kau tidak perlu menegaskan rasa cintamu padanya lagi di hadapanku, Guan Nan.

Aku melihat ke sekeliling, untung sedang tidak banyak orang atau besok pagi akan ada Headline ”Donghae Super Junior bermesraan di sungai Han bersama seorang gadis’ bisa-bisa aku kena omel manajer.

Yobseyo?” Guan Nan tiba-tiba mengangkat telepon, “Oh miana, taruh saja di sana, aku akan kembali ke sana sebentar lagi… Aku tidak tau kapan pulang… iya tidak sampai larut malam… mau pada keluar semua?… ah ya sudah… Annyeong.” Ditutup dan dia kemudian menghela napas.

“Siapa?”

“Ha Neul.”

“Em… Feel better?

“Sedikit, kamsa oppa. Setidaknya aku merasa punya teman,” yah hanya teman.

Choenma, aku lapar sekali nih ayo makan! Aku yang traktir deh,”

“Gak nafsu ah.” Ponselku bergetar dan segera kubaca. Dari Kyuhyun.

‘Jawab dengan jujur, kau bersama Guan Nan?’

Kutekan tombol replay dan kutulis ‘benar, dia sedang sedih.’ Tak lama Guan Nan melihat ponselnya.

Ottoke?” gumamnya sendiri.

“Ada apa?” tanyaku.

“Kyuhyun oppa menelepon, bagaimana ini?”

“Angkat saja,”

Andwae, aku takut…” getarannya berhenti. Sebuah pesan masuk lagi, suruh dia angkat teleponku! Kubalas ‘dia takut padamu, nanti saja kau temui dia,’

“Ahh untung saja dia tidak menelepon lagi, tumben sekali dia menyerah. Biasanya dia meneleponku lebih dari sepuluh kali.” Gumamnya lagi.

“Aku harus kembali ke company, ada yang mau dibicarakan katanya, kau bagaimana?”

“Aku juga mau ke sana, mengambil barang-barang,”

“Ya sudah , ayo…”

Kami mulai beranjak dan pergi ke gedung SM.

***

Guan Nan POV

“Jam segini ruang latihan gak ada yang pakai ‘kan?” tanyaku

“Biasanya sih tidak, mau apa?”

“Menari,” aku tersenyum sok kuat. Kami menaiki lift tanpa bicara, apa aku salah omong lagi ya pada Donghae oppa? Kenapa dia jadi diam begini? Keluar lift kami bertemu Super Junior. Mati. Bagaimana ini? Kyuhyun oppa menatapku seakan aku ini tahanan yang harus dibunuh sebentar lagi. Aku menunduk dan menggigit bibir bawahku –takut.

Gwenchana?” ujar Donghae oppa aku menatapnya. Dan melihat ke arah Super Junior. Kyuhyun oppa hendak mendekat. Tapi ditahan oleh Eeteuk oppa.

“Setelah meeting,” ujar Eeteuk oppa.

“Tapi hyung,” Kyuhyun oppa sangat kecewa.

“ Profesionallah, Kyu.”

“Aku ke sana ya, kalau butuh aku sms saja,” Donghae oppa mengacak rambutku, di hadapan Kyuhyun oppa! Mati. Dia pasti marah-marah. Sudah seminggu kami tidak komunikasi dan dia melihatku dengan Donghae oppa. Ah tapi  dia juga biar saja, biar dia merasakan apa yang aku rasakan ketika melihatnya dengan Song Qian jie jie.

Donghae berjalan ke arah Super Junior dan sempat kulihat gege menatapiku. Dia pasti tahu aku habis menangis. Aku segera masuk ke dalam ruang latihan.

Yah di sinilah aku sekarang. Sendirian ditemani cermin besar yang memantulkan bayanganku. Aku menatapinya. Mataku sangat sembab, aku menyalakan ipod-ku dan menari. Freestyle, itu cukup membuatku merasa lebih baik. Tidak terasa sudah sejam aku menggila. Aku duduk membelakangi cermin sambil memeluk kedua lututku.

Apa sebuah kesalahan aku datang ke Korea? Apa benar aku datang kemari untuk Super Junior? Bukan untuk gege? Apa benar mimpi terbesarku debut di SM? apa benar hubunganku yang tanpa status dengan Kyuhyun oppa selama ini membuatku bahagia? Apa keinginan terbesarku adalah mengalahkan Ji Hyun? Ah aku tidak tahu. Semua pertanyaan-pertanyaan bodoh itu terlontar begitu saja dalam otakku. Aku takut salah langkah, aku takut aku menyakiti diriku sendiri. Aku tahu aku pengecut, aku bodoh, aku manja, tapi sudah sejauh ini, haruskah aku berhenti? Menghentikan semuanya dan kembali ke China? Entahlah.

Aku membenamkan wajahku di antara kedua lututku. Aku menangis lagi, kukira air mataku sudah habis. Tapi kini aku menangis, sendirian, terisak tanpa nada. Sampai ada yang membuka pintu. Aku tidak mau melihatnya memikirkan kemungkinan-kemungkinan siapa dia. Dia masuk dan menutup pintu, mendekatiku kemudian memelukku.

“Ada apa, Tuan putri?” tanya gege, ya dia gege. Aku makin terisak dan menangis sejadi-jadinya di pelukan gege, pangeranku.

“Aku mau pulang ke China, Gege… aku mau pulang…” masih dengan terisak aku bicara.

“Kenapa? Kau bertengkar dengan Kyuhyun? Jangan dipikirkan, anak itu memang begitu sifatnya,” ingin sekali aku berteriak aku menangis juga gara-gara kau bodoh!.

“Aku tahu…”

“Kalau dia membuatmu menangis begini, aku bisa saja memukulnya,” bisakah kau memukul dirimu sendiri?

“Jangan…” ujarku.

“Makanya jangan menangis,” gege mengelus keplaku. Apakah nanti aku tidak akan bisa merasakan pelukan ini lagi? Aku benar-benar takut kehilangannya.

Gege…” aku membasahi kemejanya dengan air mataku.

“Kenapa, Tuan putri?” masih saja dia memanggilku begitu, aku memukul lengannya. Dan dia tergelak. “Sudah Guan Nan-ku jadi jelek kalau menangis,” bolehkah aku memanggilmu Hangeng-ku?

“Jangan tinggalkan aku,”

“Mana mungkin? Nanti siapa yang menjagamu? Kyuhyun? Dia saja membuatmu menangsi begini,” aku mempererat pelukanku pada gege.

“Aku takut,”

“Apa yang kau takutkan?”

“Kehilanganmu.”

“Ya ampun, kau tidak akan kehilanganku, Guan Nan.” Aku melepaskan pelukannya dan menyeka air mataku. “Janji?” aku menyerahkan kelingking dan dia menyambutnya.

“Janji,”  dan aku memeluknya lagi.

“Sudah, nanti Kyuhyun biar aku yang urus,”

“Ini bukan sepenuhnya salah Kyuhyun oppa, biar masalahku dengannya aku saja yang mengatasi.”

“Apa kau yakin bisa meng-handle-nya?” aku mengangguk “Baiklah… mau sampai kapan kau memelukku, hah?”

“Sampai besok,”

“Ih, genit…” aku memukul lengannya lagi, “Kau tahu? Heechul ada di bawah, kalau dia tahu kau menangis gara-gara Kyuhyun, bisa-bisa dia menghajar Kyuhyun,”

“Apa kalau kau membuatku menangis dia akan memukulmu juga?”

“Tapi aku tidak akan membuatmu menangis, Guan Nan,” sayangnya kau sudah gege, “Sudah petang, ayo pulang, aku antar,”

“Belikan aku es krim,”

“Es krim strawberry? Iya aku belikan, hapus air matamu, nanti dipikir aku lagi yang membuatmu menangis,” memang.

Aku mengambil tasku dan merapikan penampilanku. Gege hanya tersenyum saja. aku mendekap lengan gege seolah tak mau melepaskannya. Kami bertemu Heechul oppa.

“Sudah? Kau kenapa Guan Nan?” tanya Heechul oppa.

Anniyo, gwenchanayo,” jawabku sambil tersenyum. “Oppa, gege aku pinjam untuk hai ini ya?”

“Tidak boleh!”

Oppa… please… ya ya ya…”

“Iya tapi jangan bersedih lagi, oke?” dia mencubit pipiku.

Kamsa oppa…” aku memeluk Heechul oppa.

“Heh, jangan genit,” gege menarikku. Aku hanya dapat mengerucutkan bibir. “Kalian masih lama di sini?” tanya gege pada Heechul oppa.

“Kami sudah selesai, kalau Kyuhyun,” Heechul oppa melirikku, “Mungkin masih lama ada tawaran apa gitu, aku tidak mendengarkan,”

“Ah, kalau begitu aku mengantar dia dulu, nanti aku langsung ke dorm,” papar gege.

“Oke, bersenang-senanglah,” aku mendekap lengan gege lagi.

Kami naik bus, dan duduk di kursi untuk dua orang. Aku menyandarkan kepala di bahu gege.

Gege…” panggilku.

“Em?”

“Kita sudah sama-sama dewasa,”

“Oh?  Kau sudah dewasa?”

“Ah gege aku sedang tidak bercanda,”

“Ah oke,”

“Kita sudah sama-sama dewasa, kita bukan lagi bocah kecil yang bisa mandi bersama,” dia tergelak. “Lambat laun kau akan menemukan seseorang yang menarik bagimu…” ah sial tenggorokanku tercekat “Begitu pula aku, mungkin nanti kita tidak akan bisa seperti ini lagi,” aku memeluk pinggang gege.

“Walaupun aku nanti punya seseorang yang spesial, aku akan tetap menjagamu Guan Nan,”

“Tidak mungkin, nanti pacarmu marah, atau cemburu padaku.”

“Apa maksud perkataanmu sih?”

“Aku hanya…”

“Takut kehilanganku?”

“Iya,” air mataku turun lagi.

“Tidak akan Guan Nan, aku janji,” aku tidak bisa memegang janjimu gege, tapi aku selalu coba percaya. Sama seperti janji Eeteuk oppa waktu itu.

“Iya,”

“Jangan menangis, aku lelah melihatmu menangis,” aku mengangguk dan menyeka air mataku.

Gege… Guan Nan mau es krim…” gege tersenyum.

“Iya sayang, kita beli setelah ini,”

Aku memeluknya lagi. Biarlah begini, untuk saat ini. Cukup begini, dan semua akan baik-baik saja.

Ponselku bergetar –sms dari Kyuhyun oppa.

Jebal jangan siksa aku begini, Guan Nan.

Aku membalasnya

Maaf. .

 TBC

well… saya minta maaf karena minggu kmaren ga post, lagi sibuk banget sama lomba maaf ya…

23 responses to “[FF/CHAPTERED/PG-13] Hope, Love, and Passion Chap 4

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s