Happily Ever After (Ch.2)

Happily Ever After

Title : Happily Ever After

Author : zeya

Genre : angst, romance, hurt, friendship

Rating : G | PG-13

Length : Chaptered

Cast (Main) :

Kim Jonghyun | Jonghyun (18)

Jung Sooyeon | Jessica (19)

Lee Sunhye | Hye (18)

Yoon Jisun | Jisun (18)

Lee Taemin | Taemin (18)

Disclaimer : I do not own characters on this fanfic except Lee Sunhye. Do not plagiarize or copying without my permission.

A/N : Diharapkan maklum dengan cerita ini. Beberapa dari kejadian nyata, beberapa rekayasa dengan sempilan kisah nyata. Semoga suka ^^

Previous : 1

 

 

The first thing that I would do is thank God because He made you, the one that I loved, and the one who hurted me… – zeya

CHAPTER II

 

“Aku menyukaimu.. Tidak. Aku menyayangimu.” – Lee Sunhye, Happily Ever After

 

Aku membuka mataku perlahan. Hari masih pagi, aku tau itu. Hari ini hari terakhir sekolah, sebelum minggu libur. Hari yang kutunggu-tunggu selama ini. Aku bisa bermain game sepuas hatiku! Tapi, aku akan jalan dengan Jonghyun…

“Sunhye! Temanmu sudah menunggu!” ujar otoosan dari bawah. Aku menggerutu perlahan, masih mengenakan piyamaku, aku mengintip dari jendela kamarku. Jonghyun sudah menungguku dimotornya. Menguap, aku membuka sedikit kaca jendelaku dan berteriak

“Ya! Kim Jonghyun! Pergi saja duluan!” ia menoleh keatas, tepat padaku. Duh, ada apa denganku? Jantungku berdetak tidak karuan.

“Aku akan menunggu! Siap-siap saja!” ujarnya. Keras kepala, pikirku. Menguap, aku melangkah masuk ke kamar mandi dan bersiap-siap. Setengah jam kemudian-setelah mandi dan makan-aku pamit dan melihat Jonghyun sibuk dengan handphone-nya.

“Kajja!” ujarku padanya. Ia tersenyum dan memberikan helm padaku. Kali ini berwarna biru. “Ganti warna?” tanyaku.

“Kemarin kau bilang tidak suka dengan helm hijau. Yasudah, kuganti saja dengan yang biru.” Aku tertegun. Kenapa ia begitu perhatian?

“Oh.” Jawabku singkat, aku naik kemotornya, dan memeluk pinggangnya. Tampaknya, hari ini akan lama berlalu.

 

._._._.

Jisun tampak kurang bersemangat hari ini saat aku tiba di sekolah. Sebagai sahabat, aku segera menghampirinya yang sedang terduduk lemas dibangku. Sempat kulirik Thunder-yang diam-diam melihatiku-dan mengusap bahu Jisun.

“Ada apa denganmu?” tanyaku penuh rasa khawatir. Ia mendesah keras. Aku mengangkat alisku, ada apa ini? Semua orang bersikap aneh.

“Taemin sakit.” Ujarnya, nada suaranya benar-benar terpuruk. Aku sendiri sampai ikut sedih karenanya. Aku merangkulnya hangat.

“Tenang saja. Dia pasti sembuh! Dia kan kuat!” ujarku, mencoba menenangkannya. Bel masuk berbunyi, membuat percakapan kami sedikit tertunda karena Mr.Kim-si guru killer-sudah masuk, dan siap untuk menjadikan kami mangsanya.

Pelajaran matematika memang kesukaanku, tapi, dengan guru seperti dia ini-Mr.Kim-aku benar-benar tidak berminat. Untung saja ia tidak pernah menyuruhku maju kedepan mengerjakan soalnya yang super duper sulit itu. Dan setelah 80 menit penuh penderitaan, pelajaran diganti dengan BAHASA INGGRIS!

Ms.Tiffany sangat dekat denganku. Aku memang salah seorang murid favoritnya, tetapi, aku juga memang sering cerita dengannya.

“Miss!” seruku saat ia berjalan masuk ke kelas kami. Thunder sempat tersenyum kecil melihatku dengan Ms.Jung, membuat pipiku sedikit bersemu.

“Aw! Sunhye! This is time to study, not chat.” Katanya. Aku memanyunkan bibirku sedikit, dan ia segera mencubit pipiku gemas. “We will talk later, okay?” aku tersenyum dan kembali ke bangkuku. Ketua kelas kami, Kikwang, memberi salam kepada Ms.Hwang.

“Guys, today I give you all free time….” sebelum Ms.Hwang selesai berbicara, semua anak-anak telah berteriak girang. “Silent!” teriaknya, dan kelaspun hening.

“I’ll give you free time, but please, do not go out from class without my permission, and do not to noisy. Understand?” tanyanya.

“Understand, Miss!” ujar kami semua berbarengan. Jisun masih terlihat tidak bersemangat. Bosan, aku meminta izin ke toilet. Melepas ikat rambutku, aku berjalan dengan santai ke toilet, enggan buru-buru dan enggan masuk kelas terlalu cepat.

Sepasang tangan menutup mataku dari belakang, aku berteriak kecil, sebagai tanda kaget. Siapa orang ini? Aku berusaha menempelkan tanganku dimukanya, ingin tau rupanya. Tetapi aku tidak bisa menggapainya.

“Kau seharusnya tau siapa aku…” aku mengenal suara ini. Sangat kenal. Bisa kurasakan hembusan nafasnya ditelinga dan leherku. Kim Jonghyun!

“Jonghyun!” pekikku. Ia terkikik, masih sambil menutup mataku. Aku memukul tangannya beberapa kali, dan ia melepaskannya. Aku berbalik dan menatapnya kesal. “Kalau aku mati gara-gara kau, aku akan mengentayangimu sampai akhir hayatmu!” seruku.

Ia merangkulku. Hangat. Dan ia mengacak rambutku perlahan tetap merangkulku. Aku tidak bisa menolak rangkulan itu walaupun aku mau.

“Kenapa kau keluar kelas?” tanyaku akhirnya. Ia mengangkat bahu kanannya-yang kiri merangkulku-dan tertawa.

“Molla. Bosan.” Jawabnya singkat. “Kau sendiri?” tanyanya.

“Ke toilet. Kau benar-benar mengganggu, Kim Jonghyun. Kau tau itu?” tanyaku padanya, dengan maksud bercanda.

“Aku tau itu!” jawabnya. “Ohya, hari ini aku kerumahmu, ya? Main game!” senyumku mengembang. Aku dan Jonghyun selalu bermain game bersama dari dulu sampai sekarang. Aku mengangguk cepat.

“Tentu! Apasih  yang tidak untukmu?” candaku padanya. Ia menunduk. Ada apa?

“Yang tidak untukku? Hatimu.” Aku tertegun. Apa maksudnya. Ia pasti bercanda.

“Hahaha.. Lucu sekali Jonghyun.” Kataku, menyembunyikan rasa kaget yang berlebih itu.

“Bagaimana kalau ternyata aku sudah bisa melupakan Jessica, dan menyukai seorang gadis lain?” tanyanya padaku. Sedikit miris kurasa.

“Mungkin lebih baik. Kau tidak ingin terlalu lama sakit kan?” ujarku padanya. “Siapa gadis itu?” tanyaku akhirnya.

“Bagaimana, jika gadis yang kumaksud itu kau?” Aku?! Mataku membulat, jantungku berdetak tidak karuan, aku seperti tidak bernapas, aku mencoba mengambil napas, tetapi tidak bisa. Ada apa denganku?

“Aku? Lucu..” jawabku asal. “Lebih baik aku kembali ke kelas. Nanti istirahat ke kelasku saja.” Lanjutku, saat aku berbalik dan mulai berjalan ke kelasku, tetapi Jonghyun menahanku.

“Lee Sunhye. Aku serius.” Aku menepis tangannya, membalasnya dengan senyuman kecil, dan kembali kekelas. Jisun masih terlihat sedih, tidak ingin mengganggunya, aku duduk dan melihat Thunder perlahan. Entah mengapa, perasaan itu terasa hilang digantikan perasaan sebagai teman. Berbeda halnya dengan ke Jonghyun. Ini aneh.

 

._._._.

Jonghyun benar-benar datang ke kelasku saat istirahat dengan membawa bekalnya. Jisun hanya tersenyum kecil melihat kedatangan Jonghyun dan berdiri.

“Kau mau kemana?” tanyaku padanya. Ia hanya membalasku dengan senyuman dan pergi meninggalkanku hanya dengan Jonghyun.

“Kenapa dia?” tanya Jonghyun polos. Ia duduk dibangku Jisun, dan membuka bekalnya. Sushi! Aku mencomot makanannya dan mengangkat bahu.

“Taemin sakit.” Jawabku cepat, lalu kembali mengunyah. Beberapa siswi menghampiri mejaku hanya untuk meminta tanda tangan Jonghyun yang sukses membuatku terbatuk-batuk saat mendengar pujian-pujian dari yeoja-yeoja yang aneh itu.

“Kenapa temanmu banyak yang menyukaiku?” tanyanya padaku. Aku memukul kepalanya sambil mengerucutkan bibir plum-ku yang sukses membuatnya mencubit pipiku dan hampir mengecupnya-sukses kuhadang dengan memukul tangannya-

“Sombong sekali kau. Entah.. Mana kutahu, lebih baik kau tanya saja mereka.” Ada sedikit nada sensi disuaraku, yang kuhapus dari pemikiranku bahwa suara itu maksudnya mengejek saja.

“Oh.. Aku jemput kau hari Minggu jam 1.” Katanya. Aku menatapnya.

“Jadi perginya?” tanyaku perlahan. Ia mengangguk. Tuhan, aku takut sekali!

“Yeah… Tidak masalah kan?” tanyanya. Aku hanya mengangguk sebagai jawaban dan memakan sushi-nya lagi. Ia meletakkan kepalanya dibahuku. Saat aku mencoba menyuruhnya bangkit, ia malah menutup kedua matanya.

“Biarkan.. Hanya sebentar saja..” aku tertegun. Kenapa namja ini menjadi manja sekali? Aku membiarkannya dan hanya menatap rambutnya.

“Kalau gadis yang kau sukai itu ternyata aku, aku akan berterima kasih padamu.” Jawabku. Ia hanya menggumam tidak jelas. Aku bisa merasakan hembusan napasnya dibahuku, dan aku hanya tersenyum kecil saat itu. Perasaan suka, sayang, itu memang datang secara tiba-tiba. Entah itu kepada teman, idola, atau bahkan… Sahabat.

 

._._._.

Jonghyun datang kerumahku dan kami bermain game bersama. F1, tentu saja. Kami berdua adalah penggemar balap mobil dari dulu. Dan dia tetap raja dari permainan itu, walaupun terkadang aku sering mengalahkannya.

“Hye..” panggilnya. Aku menggumam sambil tetap menatap lurus ke layar game. “Aku serius.” Masalah yang tadi lagi, pikirku.

“Dan itu adalah jawabanku.” Aku mem-pause game dan bersandar ke kursi. Aku membuka toples kacang favoritku dan menguyahnya. Jonghyun tetap menatapku, membuatku sedikit risih. “Mwoyaa?” tanyaku. Ia hanya menggeleng pelan.

“Aku tau ini kedengarannya main-main, Hye. Tapi aku serius.” Ini kali ketiga ia mengucapkannya padaku.

“Aku tau kau serius.” Jawabku akhirnya. Ada sedikit rasa ingin menangis yang kutahan. “Dan jawabanku juga serius. Terima kasih.” Lanjutku. Terlihat ia memberikan senyumnya padaku.

‘Aku juga… Menyukaimu.’ Batinku. Entah mengapa, aku merasa rasa suka Jonghyun padaku.. Hanya sebagai pelampiasannya pada Jessica. Ini perasaanku, atau memang ini nyata? Ia benar-benar menyukaiku?

“Apa kau menyukaiku karna kita sudah lama bersahabat?” tanyaku akhirnya. Ia menggeleng. “Lalu?”

“Semua sifat yang kau tunjukkan padaku.” Aku memandangnya tidak mengerti. “Saat kita bercerita kita selalu seru, tertawa bersama, melucu bersama. Kau benar-benar mengerti aku saat aku banyak masalah, kau selalu bersedia menjadi tong curhatku, dan aku suka itu.”

“Hanya karna itu?”

“Dan juga… Karna kau selalu ada kapanpun aku membutuhkan teman. Bahkan Jessica tidak seperti itu.” Aku meringis kecil. Kalau kau memang menyukaiku, jangan samakan aku dengannya, batinku perih.

“Oh..” jawabku singkat. Sedikit miris tau bahwa ia masih memiliki perasaan pada Jessica. Apa benar aku benar-benar sudah menyukai namja yang menjadi sahabatku 3 tahun lalu ini? Aku hanya tersenyum padanya. “Terima kasih.”

Jonghyun pulang jam 11 malam, seperti biasanya dia pulang. Tapi, ia sempat memelukku sekali dan pergi dengan motornya. Pusing, aku memilih segera menjatuhkan badanku di tempat tidurku yang empuk dan terlelap. Berharap esok akan datang lebih lama.

 

._._._.

Aku selalu berharap apa yang terjadi antara aku dan Jonghyun itu mimpi. Tapi, saat aku bangun, memori dikepalaku terus terngiang-ngiang tentang apa yang Jonghyun lakukan terhadapku. Apa aku sudah mulai gila?!

“Ohayou, otoosan, okaasan!” sapaku saat turun kebawah untuk sarapan. Eomma sudah menyiapkan pancake dengan madu, yang sukses membuatku segera duduk tanpa melakukan apa-apa.

“Sun-chan! Cuci tangan dan muka dulu!” titah eomma, aku menggerutu dan dengan cepat masuk ke kamar mandi.

“Otoosan! Okaasan! Aku akan pergi jalan dengan Jonghyun jam 1 nanti.” Kataku. Ibu dan Ayah hanya menggumamkan kata ‘ya’ seperti biasa. Aku hanya menggumamkan kata-kata menggerutu dan melanjutkan sarapanku.

Selesai sarapan, aku segera melangkahkan kakiku ke kamar mandi dan segera bersiap-siap, walaupun sekarang masih jam 9 pagi. Malas, aku bermain komputer hingga jam 11 dan baru mandi.

._._._.

Jonghyun datang 15 menit sebelum waktunya, dan saat aku aku sedang berselonjor di kursi, dia masuk kedalam rumahku dan melempariku dengan bantal yang ada di sofa.

“Ya! Datang-datang malah melempariku. Apa maumu, huh?” tanyaku jengkel sembari mengikat rambutku acak-acakan. Ia terkekeh.

“Kita mau kemana ini hari?” tanyanya. Ia yang mengajak tapi tidak tau mau kemana? Pria ini memang gila!

“Terserahmu sajalah..” ujarku.

“Yasudah, ayo!” ujarnya menarik tanganku. Aku-yang hanya bisa pasrah-hanya berteriak pamit pada otoosan dan okaasan.

 

._._._.

Jonghyun ternyata mengajakku ke cafe favoritku dengannya. Tempat nongkrong kami dengan Jisun-Taemin setiap 2 minggu sekali. Entah mengapa, kali ini hanya kami berdua yang datang. Pelayan yang selalu melayani kami pun-Nn.Lee-tersenyum mengerti. Aku hanya menatap mereka berdua bingung.

“Nn.Lee, Red Italian Soda-nya 1!” ujarku penuh semangat. Minuman kesukaanku disini adalah Red Italian Soda, mhhmm…

“Aku seperti biasa ya, Nn.Lee.” ujar Jonghyun. Nn.Lee mengangguk dan segera menuliskan pesanan kami lalu pergi kebelakang. Kami berdua duduk berhadapan dalam diam.

“Tadi malam aku menelepon Jessica.” Ia membuka pembicaraan dengan topik yang sudah 3 hari kami bicarakan terus menerus. Aku hanya mengangguk. “Dan… Kami secara resmi putus dan ia menerimanya walaupun ia menangis 10 menit karena aku.”

Aku tertegun. Ada sedikit rasa bersalah tersebit dihatiku. Apa ini semua karena aku? Aku hanya mengangguk dan menghela napas panjang.

“Kenapa kau tidak ingin balikan dengannya?” tanyaku akhirnya. Ia menatapku dengan tatapan… Kosong.

“Aku.. Aku tidak ingin membuatnya menderita. Jujur, aku sangaat menyayanginya. Selama 3 tahun hanya ia yang aku sayang….” Dan kenapa kau menyatakan kau menyukaiku, batinku perih.

“… Tapi, aku tau ia terlalu sakit denganku. Dengan semua keegoisanku.” Akhirnya. Aku hanya tersenyum.

“Tidak seharusnya kalian putus kalau kalian masih saling menyayangi.” Jawabku, ada sedikit rasa sedih di suaraku, entah itu sedih untuknya, atau sedih pada diriku sendiri? “Kalian seharusnya masih bisa bersama…” minuman kami datang. Aku mengucapkan terima kasih dengan suara kecil, sedangkan Jonghyun masih menatapku, bingung.

“Aku menyukaimu, Lee Sunhye.” Mataku membulat. Kali ini, matanya benar-benar menatapku serius. Aku menghela napas berat. Ini tidak boleh…

“Jangan…” jawabku. “Aku.”

“Kenapa?” tanyanya, sedikit bingung.

“Jangan biarkan hatinya lebih sakit lagi karna kau berpacaran denganku.” Kataku. Aku bangkit berdiri, bersiap untuk pulang. Mataku perih, ingin menangis. Tapi kutahan. Ia tidak boleh melihat pertahananku runtuh.

“Aku menyukaimu, Hye!” ujarnya. Pura-pura tidak peduli, aku berjalan keluar. Jonghyun berlari mengikutiku, dan menggenggam tanganku kuat.

“Kumohon.. Dengarkan aku.” Ujarnya.

“Aku sudah mendengarnya tadi.” Ujarku sedikit dingin. Ia memegang pipiku dengan kedua tangannya.

“Aku menyukaimu, Hye. Kau mau menjadi pacarku?” kata-kata itu simpel, hanya membuat 2 kalimat, dan aku hanya bisa terpana saat mendengarnya. Dan aku hanya mengangguk. Saat itu, aku memang sudah resmi menjadi kekasih Kim Jonghyun, dan aku tidak menyesalinya.

 

._._._.

“Kau tau… Aku tidak menyesal bisa mengenalmu.” Ujar Jonghyun. Kami berdua sedang duduk di taman dan kali ini, aku mengangguk.

“Na do..” jawabku singkat. Ia menarikku kepelukannya, aku hanya tersenyum kecil. Ini semua sudah indah, aku tidak ingin ini semua berubah. Apa aku bisa?

“Pulang?” tanyanya padaku. Aku hanya mengangguk kecil. Hari itu, hari Minggu itu, hidupku berubah.

 

._._._.

Malamnya, Jisun meneleponku seperti biasa. Saat itu, aku tengah sibuk membereskan barang-barangku.

“Yeoboseyo?” sapaku. Aku bisa mendengar suara Jisun.

“Ya! Bagaimana kencanmu dengan si ganteng itu?” Aku tersenyum kecil. Tapi.. Apakah aku harus memberitahukan ini pada Jisun? Entah.. Pertanyaan itu terus berkecamuk dipikiranku. “Ya! Lee Sunhye!” ujarnya membuyarkan lamunanku.

“Eh.. N-Ne.. Baik-baik saja kok..” ujarku, sedikit berbohong pada sahabatku ini. Ia pasti akan tau esok, pikirku.

“Kalian kemana saja?” tanyanya lagi. Selama setengah jam, aku menceritakan kencanku dengan Jonghyun akhirnya. Jisun hanya mendengarkan, dan menutup telepon karena Taemin akan menghubunginya.

Aku menatap langit. Hari itu… Benar-benar paling indah.

 

._._._.

Jonghyun menjemputku kerumah keesokan harinya. Aku tersenyum padanya. “Tumben cantik?” candanya. Aku memukul lengannya.

“Itu pujian atau hinaan, huh? Sudah, ayo!” ujarku. Kali ini, aku tidak menggerutu ataupun marah padanya. Kami pasangan sekarang.

Hal yang aku kagetkan adalah, ia menggenggam tanganku sesampainya kami di sekolah. Seluruh murid menatap kami dengan tatapan penuh kejutan, terlebih lagi Jisun yang sampai-sampai menjitak kepalaku.

“Gila kau! Tadi malam kau tidak cerita tentang ini!” ujarnya. Jonghyun hanya terkikik geli tanpa melepaskan genggaman tangannya dariku. “Kau tidak bilang kau jadian dengan Jonghyun!!” aku tertawa.

“Sekarang kau tau kan?” tanyaku akhirnya. Aku tertawa kecil. “Mianhae, Jisun-ah… Aku tadi malam bingung bagaimana menjelaskannya padamu. Mianhae, Jisun-ah!” ujarku.

“Tak apa-apa. Aku tadi hanya bercanda..” ujar Jisun sambil tertawa bersama Jonghyun. Sialan kedua orang ini.

“Ohya, katanya ada murid baru?” tanyaku. Jonghyun menggeleng.

“Tidak kok. Dia hanya murid lama, pacar Jungshin. Kau ingat?” tanyanya. Aku berpikir sebentar.

“Choi Jineul?!” tebakku. Jonghyun tersenyum dan tertawa. Aku menatap Jisun. Ia hanya mengangkat bahu.

“Aku tidak mengenalnya. Kau kan tau aku pindah 2 tahun lalu.” Aku tertegun. Benar juga, saat Jisun pindah kesini, Jineul juga pindah.

“Aku kekelas dulu ya!” ujar Jonghyun membuyarkan lamunanku. Aku hanya tersenyum kecil. “Belajar yang baik..” ujarnya mencubit pipiku. Aku meringis pelan.

“Pipikuu~” ujarku sedikit dengan aegyo, ia tertawa. “Kau juga! Belajar yang rajin.” Ujarku padanya. Ia hanya mengangguk dan berlari menuju kelasnya.

“Tampaknya dugaanku benar…” goda Jisun padaku. Aku tertawa kecil.

“Ya. Dugaanmu selalu benar. Dan aku harus mempercayai semuanya.” Balasku padanya sambil tertawa. Ya Tuhan, biarkan aku bahagia dengannya…

 

A.N : Wahh, mianhae agak pendek >< Aku gaada waktu untuk update soalnya. Jadinya segini aja yaa 🙂 Don’t forget RCL .__.v

14 responses to “Happily Ever After (Ch.2)

  1. Ga sangka setelah persahabatannya selama 3 tahun dimana sebelumnya mereka ber2 menyukai orang lain, ternyata tak membuat mereka bahagia..
    Lain saat mereka ber2 mengakui perasaan mereka masing2 yang saling nyaman..
    Dan akhirnya mereka berdua jadian..chukae =D

  2. Ckckck
    Hye nggak jadian sama Thunder tapi malah jadian sama Jonghyun yg udh sahabatan selama 3 tahun ..
    Cinta mang susah ditebak ya ?

  3. yeay, happy ending. Like it.
    Tapi itu kasian thundernya, gmn nasibnya dy skg? Seneng kayanya kalo ini kejadian, soalny jjong nerima apa adany hye yg ‘boyish’
    gumawo thor

  4. Aq masih bingung ma si jjong,sbnr.a suka ma sunhye ato msh sica sih??._.v
    thunder gmn???nasibnya bagaimanaaa??oppa mau gg ma aq??#eh
    taemin sakit apa??;(
    jineul??sp tu??cast barukah??hehe,
    aq tgu part 3.a 🙂

  5. akhirnya ..
    jadi jugak kaaan ..
    wkwkwkk

    thunder malah jadi temen byasa ..
    hahaha
    jjong . jngan bandingin hye sma jess ya ..
    kasian …

    like it .
    just happy moment in here ..
    mian baru comment yaa ..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s