{FULL PART} Seasons of The Lucifer [CHAPTER 9]

Seasons of The Lucifer
Title:Seasons of The Lucifer
Author: LucifeRain / Aya
Genre: romantic – comedy, Friendship, AU
Leght: Chaptered
Ratting: PG-15
Main Cast:
Cho Minhye a.k.a Cho Minhyun
Kim Kibum a.k.a Key
Choi Minho a.k.a Minho
Lee Taemin a.k.a Taemin
Kim Jonghyun a.k.a Jonghyun
Lee Jinki a.k.a Onew

Mianhae, tadi ada beberapa Scene yang kepotong. Buat Readers tolong baca ulang ya. Kamsahamnida *bow

Awal awal banyak yang minta digabung tapi belakangan banyak yang minta dipisah, dan yang minta dipisah itu alasanya lebih real ._. karna aku butuh banget saran n masukan kayak gitu.
Jadi aku putusin alurnya dipisah dengan catatatan, aku masih selipin problem Cast yang lain. tapi mungkin part2 akhir akan digabung ._.

Let’s begin, Spring Taemin.
Sekali lagi aku bilang, pertanyaan kalian udah kejawab di part part awal dan Ini latarnya nggak sesuai musim loh ya…
Happy Reading ^_^

SOL [teaser] | SOL [chapter 1] | SOL [chapter 2] | SOL [Chapter 3] | SOL [Chapter 4] |SOL [Chapter 5], SOL [chapter 6] part.A, | SOL [chapter 6] part.B |SOL [chapter 7] part.A | SOL [chapter 7] part.B  | SOL [Chapter 8], | and others

______________

 

Lucifer

Seseorang berwajah malaikat namun seperti iblis

Hati yang egois

Cinta yang tulus

Kesucian yang keliru

Mengancam

Berulang kali salah seperti malaikat dan iblis

Mempunyai perasaan yang tidak jelas

Lucifer adalah keberanian

————————–

“jangan dekati dia”

Minhyun merasa seseorang menarik pergelangan tanganya. Refleks ia pun menengadah, Minhyun terkesiap mendapati Minho yang sudah berdiri diantara dirinya dan Key. Suasana hangat yang tercipta kini membeku seketika. Minhyun bergeming tak kuasa bergerak karena kobaran aurora dalam manik mata Minho menerjang liar.

Syaraf motoriknya seakan terkunci, membuatnya hanya terfokus dalam mutiara hitam pekat yang mendiami mata Elips Minho. Alis tebal yang menaungi kedua matanya kini menyatu, Seperti ada amukan yang membara disana.

“kau milikku, Cho Minhyun. Milikku!”

Minhyun mengalihkan pandang, ia tidak peduli dengan ucapan Minho, tidak peduli dengan tangan kekar minho yang mencengkram lenganya. Pandanganya terfokus ke arah Key, sekejap Minhyun menyadari ada gemila langka dalam lekuk tajam mata Key yang kini teralih ke arah lain setelah mereka beradu tatap. lapisan sendu dalam mata sayu Key berbayang nanar.

Key menyampirkan tas Sport biru ke pundaknya, tanpa kata dia berjalan keluar GOR meninggalkan Minho dan Minhyun yang masih mematung. Semburat ceria di wajah Key terhapus total, seperti di tulari musim dingin hingga memberi efek dahsyat pada kehangatan yang kini membatu.

Minhyun menghujam Minho dengan tatapan jengkel, namun itu tak bertahan lama karena tatapan tajam Minho jauh lebih hebat. Minhyun mendengus kesal lalu menepis tangan Minho yang mencengkram lenganya.

“apa maksudmu hah? Kemarin kau mengaku pada jonghyun kalau aku pacarmu, sekarang kau bilang aku milikmu. Lalu besok besok apa kau akan mengaku pada Onew kalau aku istrimu dan tahun depan kau akan bilang pada Taemin kalau aku nenekmu HAH?” hardik Minhyun panjang lebar, nafasnya sedikit terengah pasca mengomel dalam sekali tarikan nafas.

Melihat espresi datar Minho, Minhyun mendengus sebal. Tipis kemungkinan namja berbisa itu membalas ucapanya. Minhyun melangkah menjauhi Minho dengan tatapan dongkol.

 

Setelah punggung Minhyun menghilang di balik pintu GOR, diam diam Minho meluapkan senyum yang susah payah ia bendung. Sungguh, Minho merindukan ekspresi konyol Cho Minhye kala mengomelinya dengan satu tarikan nafas seperti tadi. Entahlah sudah berapa tahun kejadian itu berlalu.

Minho yakin, Cho Minhye pasti melupakan dirinya dalam peristiwa malam itu. karena saat itu mereka dalam keadaan tidak normal. Tetapi hingga kini Minho masih menyimpan ingatan itu dalam kotak transparan, tak membiarkan sekeping kenangan untuk terbang. First Love in the first sight.

 

Lengkungan senyum yang terpeta di wajah Minho seketika mendatar kala mata tajamnya menangkap siluet seseorang. Orang pertama yang pergi dalam peristiwa tadi kini tampak sedang bersandar pada daun pintu yang terbuka.

“aku butuh penjelasan, Choi Minho!”

Minho membenamkan kedua tanganya ke dalam saku celana, dengan menarik salah satu sudut bibir dia membalas ucapan sinis Key.

 

~*~*~*~

 

Masih dengan langkah Kesal Minhyun berjalan memasuki Evalator menuju English Class -kelas mereka memang tidak tetap karena SShal menerapkan sistem Moving Class. saat pintu terbuka di lantai 5 tiba tiba Minhyun berpapasan dengan Taemin dan Onew yang kebetulan hendak memasuki Elevator juga.

“kalian mau kemana?”

“ke SSedna, kau mau ikut?” tawar Onew, dirinya terlihat sibuk merapikan berkas berkas yang dikapitnya.

Pandangan Minhyun mengarah pada Taemin “kau juga ikut?”

“nan? Tidak ikut kesana adalah keberuntungan, tapi…” Taemin menoleh ke arah onew kemudian bergidik ngeri. Sebenarnya Bukan tatapan tajam yang dilayangkan Onew, hanya sebuah tawa kecil namun menyeramkan.

“kau tau maksudku kan, Cho Minhyun?” tanya Taemin dengan tatapan yang mengandung arti He-is-Freak!

Minhyun mangut mangut berusaha mengulum tawa. Lihatlah ‘mereka’ sangat pandai menyembunyikan rahasia. Wajah Taemin yang santai tak menyiratkan sedikit kehebohan pasca kejadian tadi pagi.

Karena malas bertemu dua namja terkutuk –Minho dan Key- akhirnya Minhyun memutuskan ikut ke SSedna, barang untuk bertemu jinhya yang penting dia lepas dari jeratan dua namja setan itu.

 

~*~*~*~

 

Taemin memisahkan diri dari Onew dan Minhyun di koridor SSedna, mendengar teriakan Yeoja yang mengelu elukan mereka membuatnya Trauma akan kejadian waktu itu. peristiwa naas –paling memalukan- di toilet SSedna, masih  lengket dalam ingatanya.

Biarkan sajalah Onew yang terus dicubiti yeoja yeoja sinting itu dan Minhyun yang tak henti hentinya dikatai imut, yang Jelas dia harus menjaga jarak dengan siswi SSedna –apalagi yang bernama Shin Sungrin.

 

Taemin pun memutuskan untuk masuk ke perpustakaan. disini tidak mungkin ada yang bergosip karena tulisan “Keep Silent” dan “Be Quiet” terpampang besar. Lagi pula Taemin yakin penjaga perpus yang berkacamata tebal dengan model rambut lama itu sudah cukup sangar. Oke, kalau masih ada yang bergosip lagi, dia bisa bersembunyi dibalik rak buku menjulang tinggi yang berjumlah puluhan itu. well, tidak kah ini sangat Over Protective?

Taemin menyusuri rak rak buku demi mencari buku yang menarik, karena mustahil Onew si pengurus Proposal itu hanya memerlukan waktu sedikit. Tak lama kemudian aktifitas taemin berhenti total.

 

Oh hell, orang yang paling tak ingin ditemuinya, kini hanya berjarak lima langkah darinya. Ingin pergi namun dia tertarik menyaksikan tingkah Sungrin yang –berat diakuinya- sangat lucu.

Gadis itu mencoba mengapai buku di rak paling atas, dengan tubuhnya yang tergolong mungil tentu saja hal itu mustahil.

 

Taemin berjalan ke arah Sungrin, Tubuhnya yang tinggi membuatnya dengan mudah mengambil buku itu. Sungrin yang kaget langsung membalikkan badan, ia menengadah lalu tersentak pelan.

“Lee Taemin?” guman Sungrin. Taemin hanya tersenyum, ia merasa Euphoria kecil menjalari hatinya kala mengunci gadis itu diantara rak buku dan tubuhnya. Jarak mereka sangat dekat, sekali dorongan saja maka suatu hal akan terjadi.

“buku mu”

Sungrin terpaku saat Taemin menyodorkan sebuah buku padanya. Awalnya dia senang, namun ketika membaca tulisan pada cover buku itu dia malah ingin menendang Taemin

“Pabboya!” pekik Sungrin, Taemin melotot tajam.

“yang mau ku ambil itu buku Biologi, bukan buku Sex Education, Pabbo! Dasar namja mesum sesat!!” gerutu Sungrin.

Air muka Taemin sontak berubah, dia memutar bola matanya sembari  mendecak kesal “mana ku tahu, tanganmu kan tidak sampai ke tempat buku itu, bodoh!”

“kenapa kau tidak bertanya? Dasar Pervert!” maki Sungrin.

Taemin mendengus kesal, kenapa suara yeoja dihadapanya ini cempreng sekali, jangan jangan Sound System Hyukjae si kepala yayasan itu sering rusak gara gara dimakanya lagi. oke, ini terlalu jauh.

“Mwo? Kau bilang aku Pervert?”

“dari awal kau memang Pervert kan, namja mesum?” Tantang Sungrin.

Gemas, Taemin pun melepas tanganya pada buku –salah-ambil- yang ia pegang, buku itu menghantam lantai dengan posisi terbuka yang menapilkan gambar bertuliskan ‘hard sex’. Taemin mengumpat dalam hati, sebelum buku itu membuatnya lebih malu lagi buru buru ia tendang jauh sampai buku laknat itu menelungkup.

Tatapan Taemin teralih ke arah Sungrin, melihat semburat merah yang berpendar di pipi Sungrin ia tak kuasa membuatnya menahan senyum, namun yang muncul di bibirnya adalah seringai miring meremehkan. Sebersit ide nakal tersirat, Taemin merentangkan kedua tangan hingga telapak tanganya menyentuh sisi rak buku di belakang Sungrin. Yeoja itu terkurung.

“kau mau kutunjukan arti Pervert sebenarnya, Chagiya?”

Detak jantung Sungrin tiba tiba meliar saat mendengar Taemin menyebutnya dengan kata sayang, apalagi ketika Taemin mendekatkan wajahnya ke arah Sungrin.

“kau benar benar liar” desis Sungrin seraya memicingkan matanya.

Brakkk…

Bibir mereka pasti bertemu kalau saja suara benda jatuh itu tidak terdengar. Taemin memutar bola matanya, ia mendecak kesal saat mendapati ternyata para Yeoja sudah berkumpul di ujung lorong rak rak buku. Bagaimana ia bisa tidak menyadarinya.

sontak Taemin melepaskan tanganya, berharap kalau gadis dengan rona merah dipipinya itu tak menyadari detak jantung Taemin yang menggila. Sial, kejadian memalukan ini terulang lagi, bahkan sekarang secara Live!

 

“aigooo… calon suami istri ini berulah lagi”

Diantara celetukan dan siulan nakal,Kalimat godaan yang satu itu tertangkap jelas oleh Taemin, karena dia sangat mengenal suara itu. Taemin menatap Tajam ke arah Jinhya lalu mendecak jengkel pada Minhyun dan Onew yang juga tertawa gila gilaan.

“Eonnie, aku benci sebutan itu” pekik Sungrin nyaring.

Mendengar itu, Refleks tatapan Taemin beralih pada Sungrin. “Mwo? Kau memanggil Jinhya Eonnie?”

Taemin menunduk, mencari name tag Sungrin yang ternyata dipasang pada blazer sebelah Kanan –sejajar dengan lambang SSedna di sebelah kiri. Dengan gerakan kilat Taemin membaca aksara hangul yang tertulis nama Shin Sungrin dan dibawahnya terpampang tulisan  ‘2-A ShineShall’

Sungrin yang menyadari gerak gerik Taemin dan seringai kecil namja itu, langsung menyilangkan tangan di depan dada. Ia menghujam Taemin dengan geram “APA YANG KAU LIHAT BODOH?!!”

“rata begitu apa yang mau dilihat” guman Taemin asal, Sungrin melotot tajam kalau saja Taemin tidak mengelak pasti cap tanganya sudah terlukis di pipi namja itu

“jadi kau masih bocah, Shin Sungrin?” ejek Taemin sembari menjulurkan lidah, tawanya pecah kemudian.

“siapa yang kau bilang bocah, Lee Taemin Pabbo!” tukas Sungrin

“Mwoya? Aku ini Sunbae mu bodoh!”

“aish! Baiklah Taemin Sunbae berotak mesum”

“Ya! Sunbae? Panggil aku Oppa bodoh!” Taemin tercenung mendengar ucapanya. Hey, itu diluar kendali.

“andwae!”

“harus!”

“Andwaeyo!”

 

“aigoo… Taemin jadi ini calon istrimu?” sela Minhyun iseng.

“ANNIYO!!!” seru Taemin dan Sungrin bersamaan, teriakan mereka langsung membuat Minhyun bungkam. Melihat dua orang yang masih mengutuk satu sama lain itu, tawa murid yang berstatus penonton melambung keras.

 

“SILAHKAN KELUAR KALAU INGIN MENGOBROL!!!” teriakan pedas penjaga perpustakaan berhasil mengunci mulut yang melambungkan tawa. Tak lama kemudian para penonton itu bubar diikuti dengan Onew yang masih ada urusan juga Jinhya dan Sungrin yang harus kembali ke kelas.

 

Taemin menyandarkan punggungnya pada sisi penyanggah rak buku. Ia menengadahkan kepalanya menatap langit langit kemudian menghela nafas panjang. Taemin merasa perbuatannya kali ini adalah yang terburuk.

Dengan bodohnya dia membiarkan perasaan girang meletup kuat seperti tanah tandus yang menyeruakan hawa gembira ketika menunggu mekarnya bunga musim semi. Hey, Taemin tahu tempat itu dan suatu saat ia harus mengajak orang yang sudah meracik Euphoria untuknya.

“Kau menyukainya?”

Taemin terkesiap pelan, baru ia sadari ada seseorang yang tersisa dari gerombolan tadi. Taemin tersenyum dengan tatapan kosong, bukan senyum ceria seperti biasanya maupun senyum pedih seperti subuh tadi. Sebuah metafora kosong.

 

~*~*~*~

 

Seorang pemuda melingkarkan dua jemarinya di gagang cangkir bewarna putih susu, ia menarik cangkir itu lalu di sentuhkan ke permukaan bibirnya. Merasa bahwa Ginger Tea yang berada di dalam cangkir masih sangat panas bila terseduh lidah, Ia pun meniup cairan kental itu dengan nafas panjang, uap yang tercipta langsung mengembul meninggalkan bercak di kacamata pemuda itu dan sejurus kemuan hilang tak berjejak.

 

Setelah menyesap separuh dari isi cangkir, pemuda itu meletakkan cangkir putih dalam genggamanya ke meja kayu yang berdiri di atas lantai Gazebo belakang rumahnya. Meski sudah mengenakan Long Sweater putih dan dipadukan dengan Scarf berwarna Tan yang disampirkan asal secara Keffiyeh neck Wrap, tetap saja deruan angin senja masih menjamah kulitnya yang ikut terasa dingin.

“Key!”

Pemuda itu menoleh, ia membetulkan letak bingkai kacamatanya kemudian menatap heran pada seseorang yang sangat dikenalinya. Niat untuk tersenyum kontan memudar kala pening dikepalanya kembali menggila.

Ketika sakit menghampirinya, Key lebih suka berdiam di Breath of Heaven dan mengkonsumsi obat seadanya –bahkan tak jarang ia mengabaikan semua obat. Baginya tempat ini adalah obat penenang yang kekal.

“yo! Choi Minho” sapa Key parau.

Minho berjalan cepat ke arah Gazebo kayu yang atapnya terbuat dari daun rumbia, dia menaiki anak tangga yang terbuat dari bambu lalu menghampiri Key yang duduk bersandar pada kayu berukiran antik yang merupakan penyanggah atap. Key memang sangat menggilai desain Natural-modern seperti ini.

 

“kau sakit?” tanya Minho sembari menyentuhkan ujung telunjuk dan jari tengahnya ke pipi kanan Key “panas” gumannya kemudian.

“baiklah, aku tahu menyuruhmu ke rumah sakit adalah sia sia” Minho menyambar Ipad yang tergeletak di atas meja “aku akan menyuruh dokter keluargaku datang kemari, akan kubunuh kau kalau menolak Kim Kibum!”

 

Bukanya kesal, Key malah tertawa meski suara yang terdengar serak seperti orang menahan batuk. “kau ingat Seungri?” tanya Key pada Minho yang masih mengutak atik Ipad-nya.

“teman Gay mu itu?” jawab Minho sekenanya.

“kau tahu, membunuhmu adalah pilihan terakhirnya. Tapi kalau melihatmu seperti ini, dia pasti langsung menempatkan pilihan pertama untuk membunuhmu!”

“well, Kau menyukainya?” tanya Minho yang sudah selesai berkutat dengan Ipad.

“kalau Phobiaku tak kunjung sembuh, mungkin iya” jawab Key acuh tak acuh.

“setidaknya, itu pilihan terakhir” mereka berdua pun tertawa. Entah apa yang lucu, yang jelas mereka menikmati kehangatan langka ini. Key tersenyum simpul, setidaknya hangat persahabatan masih melingkupinya ketika semua kehangatan sirna sejak 9 tahun lalu.

 

“tadi aku bertemu Suster kepala di panti. Dia bilang tadi kau ke Gereja, benarkah?” Tanya Minho. mengingat tubuh yang terasa lemas, Key hanya mampu mengangguk pelan.

“ck… YA! Kim Kibum, kenapa kau seperti ini hah? kau yang menciptakan Phobia-mu sendiri! Padahal kau bertemu…”

“diamlah” Key memotong ucapan Minho, pandanganya teralih ke arah pantai berombak tenang dihadapanya “aku sudah hafal kalimat yang mau kau bicarakan!”

 

Tatapan Minho menerawang jauh ke arah pantai, deburan suara ombak seakan menjadi lagu latar yang memecah lingkupan atmosfir sunyi di sekeliling mereka. Minho menghela nafas panjang  “sejak ‘dia’ datang kau benar benar berubah!” Dalam hati ia membenarkan itu dengan tambahan bukan hanya Key yang berubah tetapi Onew, Jonghyun, Taemin dia rasa ada yang berbeda pada diri mereka dan terutama pada dirinya sendiri.

“kenapa? Kau takut Minhye mu ku rebut?” goda Key dengan seringai usil “aku tahu kau menyukainya, Choi Minho!”

Minho tersenyum samar, untuk kesimpulan terakhir yang Key buat sepertinya harus di timbang ribuan kali meskipun bagian otaknya sudah terjerumus dalam ke arah sana. Minho mengangkat salah satu sudut bibirnya, dengan mata yang bersinar jenaka dia menatap Key tajam.

“lalu, apa Kau juga mencintainya?”

Meski tak kentara, mata Key yang membulat lebar masih dapat tertangkap penglihatan Minho. Sesuai dugaanya, namja itu sama sekali tidak beraksi. Key menoleh ke arah Minho, menyuguhkan seringai iblis terbaiknya.

 

~*~*~*~

 

Minhyun menapakan kaki di sebuah lorong sunyi, derap langkah yang bergema memecah kebisuan. Sesekali beberapa pegawai melintas di sepanjang lorong itu dan meski samar namun hingar bingar tempo musik yang diredam masih terdengar.

Sebenarnya Minhyun merasa asing dengan tingkat tengah sebuah hotel ini, penampilanya yang berbeda juga terasa aneh. Demi Taemin, dia melancarkan sebuah misi meski dirinya harus berpenampilan sebagai gadis nakal dan masuk ke lingkungan gelap sebuah diskotik

 

Minhyun mengeluarkan Iphone dalam Handbagnya, saat dia membuka kunci tiba tiba yang muncul di layar adalah foto dirinya saat berada di dalam ruang ganti sehabis merubah penampilan.

Errr… entah kenapa Minhyun merasa rambutnya bulat seperti bakpao yang diberi pita, seperti memakai Helm saja -___- well, hanya itu rambut palsu pendek yang ditemuinya. Minhyun sedikit trauma memakai rambut panjang, takut gatal gatal seperti punya Jinhya.

 

Melihat foto aneh itu Minhyun kehilangan nafsu menggunakan ponselnya, Ia kembali memasukan benda itu. menyadari telah sampai di depan sebuah pintu, langkah Minhyun terhenti. Sesaat ia ragu membukanya, namun dari belakakang seseorang lebih dulu masuk membuat Minhyun mau tak mau mengintip sedikit.

“semoga tidak terlalu buruk. Fighting!”

 

Dan ini menjadi pengalaman yang cukup mengerikan bagi Minhyun, karena ketika pintu terbuka dirinya langsung disambut 2 pelayan Pria yang berpakaian kelewat terbuka. Beat musik yang keras membuat telinganya berdengung, Minhyun sempat menutup telinganya dengan telunjuk namun sesaat kemudian ia melepasnya, tak mau dikira aneh oleh para manusia sinting dihadapanya.

 

“mau pesan apa Nonna?”

Minhyun terperanjat kala seorang pelayan menghampirinya. Buru buru ia memalingkan wajah ketika mendapati si pelayan hanya memakai baju jaring jaring (?) tanpa lengan dengan nametag yang tersangkut asal. Arghh! Rasanya ia ingin menyumpali bolong bolong di baju itu dengan bulu ayam Onew.

“a.. anniyo!” tolak Minhyun, Pelayan itu mengangkat bahu sekilas kemudian pergi.

 

Minhyun mengedarkan pandanganya ke ruangan remang yang diterangi lampu warna warni ini. dilantai panas terdapat beberapa penari yang kekurangan kain dan semakin gelap tempat semakin ramai pula lah disitu.

“DJ TAEMIN JUNG IS BACK”

 

Ini benar benar gila. Minhyun mematung menatap seseorang yang mengenakan Headset di balik peralatan DJ yang terletak di atas lantai. Orang itu terlihat serius mengatur irama musik sambil sesekali membuka Headsetnya supaya mendengar lebih jelas derap musik yang ia ciptakan.

Minhyun kenal betul siapa orang itu meski wajahnya hanya disinari gemerlap lampu disco yang redup. Tapi kenapa? Kenapa taemin mengganti marganya?

Penampilan Taemin lebih liar ketimbang yang dilihatnya pagi tadi. Minhyun semakin terbelalak ketika ia melihat Taemin meninggalkan meja DJ dan terjun ke lantai panas yang dipenuhi orang orang yang sibuk menari.

 

“hhuuuuu”

“kyaaaaaaa”

Teriakan heboh mewarnai lantai itu, mereka membentuk sebuah lingkaran dengan Taemin dan beberapa penari bayaran lain yang berada di tengah. Awalnya Taemin hanya menerapkan Moonwalk, namun seiring bergantinya Beat musik tarianya terjurus ke arah Breakdance.

Dan hawa lantai itu semakin panas saja ketika sang DJ mengganti irama musik yang berderap sangat kencang. Para wanita bersorak heboh ketika Taemin membuka satu persatu kancing bajunya dengan diiringi Tarian yang menggairahkan.

Taemin mengedipkan sebelah mata setelah ia menanggalkan kemejanya secara asal, sorotan lampu disco membuat keringat yang membasahi tubuh Taemin terlihat mengkilap. Sangat Normal jika Minhyun merasa Taemin terlihat Sexy.

 

“aigoo… jauhkan pikiran yadong itu Minhyun pabbo!” gerutu Minhyun pada dirinya sendiri.

Ia menelan ludah saat sadar dibalik wajah cute Taemin ternyata ia mempunya tubuh atletis dengan abs yang hampir sempurna “glekkk… apa Taemin ikut judo, karate, Taekwondo atau semacamnya? Mustahil ia mendapatkan kotak kotak itu mengingat dirinya yang selalu di cap Imut” batin Minhyun.

Tarian taemin semakin menjadi jadi, membuat seorang yeoja tak kuasa menahan diri hingga memeluknya dari belakang. Merasa seseorang menjeratnya, Taemin membalikkan badan. Ia merengkuh punggang Yeoja itu lalu mencium bibirnya dengan kilat setelah mengeluarkan senyum iblis yang memikat.

 

“gila, Taemin gila!!! Sinting!!!”

Minhyun mengutuk Taemin habis habisan saat dirinya keluar dari ruangan itu. ia terhuyung huyung berjalan menuju toilet, benar benar gerah berada di dalam sana.

Saat Minhyun membuka toilet, semua mata tertuju padanya. Minhyun menyernyit, namun semua orang disana buru buru menutup relsleting celananya.

“YA! APA YANG KAU LAKUKAN?!!!”

Buru buru Minhyun menutup pintu toilet itu. aigoo… gara gara kaseringan masuk toilet namja dia jadi keterusan padahal sekarangkan dia jadi Yeoja. Untung saja dirinya tak melihat apa yang seharusnya tidak dilihat. Yah, walaupun terkadang hampir sih, psttt…. Ini rahasia hehe.

 

Bantingan pintu menandakan Minhyun telah masuk dengan selamat ke toilet yeoja. Setidaknya namja namja itu tidak bisa masuk kemari. Entah apa hubunganya, tapi Ini semua gara gara Taemin!!!

Minyun membasuh wajahnya di westafel, persetan dengan make up yang susah payah ia buat. Yang jelas dirinya butuh ketenangan untuk menetralkan pikiran. Minhyun memercikkan air yang tersisa dari tanganya sambil menatap cermin di hadapanya.

Tiba tiba seseorang berjalan mendekati wastafel di sebelahnya. Minhyun tertegun, ia kenal betul sosok it. Uzuki Naomi, sedang apa dia disini?. Tak lama kemudian seseorang datang menggunakan Westafel paling ujung.

 

“eh, Naomi-chan, kenapa kau tidak bilang kalau datang kemari” seru yeoja tadi sambil memeluk Naomi.

Merasa Tertarik, Minhyun mengeluarkan sisir bulat dan Menyibukkan diri merapikan Rambut Bakpao yang sebenarnya sudah kaku karena ketumpahan Hairsprai -___-

 

“aw… pelan pelan” pekik Naomi. Refleks yeoja tadi melepas pelukanya, ia menatap miris pada Naomi.

“kau dipukul Jonghyun lagi? kapan terakhir kali dia memukulmu?” tanya Yeoja itu seraya menatap cemas pada Naomi

Mendengar itu, Minhyun membeku seketika. apakah yang dimaksud Yeoja itu Kim Jonghyun Orang teramah yang pernah dikenalnya? Mustahil, pasti salah orang. MInhyun kembali melanjutkan aktifitasnya, tak mau kedua Yeoja itu curiga dengan posisi es batunya.

“kemarin aku terlambat pulang, dia malah besar dan mengiraku selingkuh dengan namja lain” tutur Naomi kemudian memeluk Yeoja dihadapanya. Sepertinya mereka sahabat dekat.

“dia benar benar keterlaluan. Minho juga, dia Tau tapi tidak melakukan apa apa. Mereka brengsek!”

“suatu saat aku pasti memberinya pelajaran” kecam Yeoja itu. ia menepuk nepuk punggung Naomi dengan pelan, mengeluarkan rentetan kalimat menenangkan yang lembut.

 

Setelah mereka keluar, Minhyun tak mampu lagi melepaskan nafas yang ia tahan. Lagi lagi sebuah rahasia yang tak terduga, suatu saat dia harus menyelidiki Jonghyun. Terutama Minho sang maha tau namun memilih bisu, seperti orang luar dia membiarkan semua mencair. Begitukah ketidakpedulianya dengan teman sendiri?

Minhyun bergegas keluar toilet, ia mengekori langkah Yeoja tadi dengan sedikit menyisakan jarak agar mereka tidak curiga. Sesampainya di dalam diskotik Naomi memilih duduk di sofa, sedangkan Yeoja tadi melangkah masuk ke dalam ruangan bertuliskan ‘staff room’

Minhyun mengendap endap, ia yakin Yeoja itu tau banyak tentang rahasia SHINee. Tapi siapa dia?

 

“CL Noona…”

mendengar suara Familiar itu, Minhyun langsung bersembunyi di balik Locker. Ia menatap sekeliling dan kemudian tersadar bahwa dirinya berada di ruang ganti… pria? Untuk apa Yeoja itu kemari? Minhyun menajamkan penglihatanya, mengamati seorang namja yang mendekati yeoja tadi.

“Lee Taemin, ku dapatkan kartumu!” batin Minhyun

 

~*~*~*~

 

“Noona…” sahut Taemin untuk kedua kalinya, dan sukses membuat Yeoja yang di panggilnya itu berbalik. Taemin tersenyum kecil menyambut senyuman yang lebih dulu dilambungkan yeoja itu, ia berjalan mendekat.

“kemana saja kau?” sahut yeoja itu ketika Taemin sudah berada di hadapanya.

“hanya melayani para penggemarku” ucap taemin lalu mengecup singkat kening Yeoja itu. ia menelungkupkan kedua tanganya pada pipi yeoja cantik dihadapanya kemudian mengusap pelan pipi yeoja itu dengan ibu kajarinya. Gadis dihadapanya ini memang memiliki kecantikan di atas rata rata.

 

“YA! Kemana bajumu?”

“aigoo… apa kau tak bisa lembut dengan Calon suamimu ini hah?” Taemin merengkuh Yeoja di hadapanya secara Lembut. wangi tubuhnya yang berbaur dengan aroma Yeoja ini selalu berhasil mendamaikan intuisi yang terpendar pecah.

“calon suami? Kalau begitu jangan panggil aku Noona dan nama samaranku! Kau pikir aku setua apa hah? kita hanya terpaut 4 tahun tau!” cerocos Yeoja itu membuat Taemin melayangkan tawa kecil.

“ne. Lee Chaerin, Jeongmal Saranghae”

“nado Saranghae Lee taemin, nappeun namja!”

Yeoja bernama Chaerin itu tersenyum lebar, ia mengalungkan kedua tanganya di Leher Taemin. Dengan gerakan lembut ia menuntun Taemin agar sedikit menunduk, supaya dirinya lebih mudah mengapai bibir taemin yang sudah tak tahan ingin dilumatnya.

Taemin membalas ciuman itu, mereka sama sama melumat dalam waktu yang cukup lama. Nafas yang memburu terdengar jelas kala Chaerin melepas kontak pada bibir mereka. Yeoja itu menyeringai nakal “kau benar benar liar, Lee Taemin!”

Taemin terpekur sejenak, ucapan itu serupa jaritan Sungrin di perpustakaan. Sejurus kemudian ia menggeleng pelan, tak ada gunanya memikirkan gadis itu. asanya tidak terjangkau.

 

Taemin tersenyum Miring, dengan mata berkilat nakal dia menggendong Chaerin ke atas meja, membiarkan wajah mereka sejajar agar lebih mudah melanjutkan ciuman tadi. Taemin menekan tenguk Chaerin, mengisyaratkan agar Yeoja itu memperdalam gerakanya.

Ditengah aktifitas yang semakin memanas, tiba tiba Taemin melepas ciumanya. Chaerin tersentak pelan, ia menatap Taemin binggung namun namja di hadapanya itu tidak membalas tatapanya. Pandangan Taemin teralih ke arah samping, menatap tajam pada Locker tempat seseorang bersembunyi.

“CK! Aku tahu kau disitu Choi Minhyun! Jangan lari karna sudah lama aku tahu kau adalah Yeoja!” seru Taemin seraya menyuguhkan senyum sinis penuh kemenangan.

 

__ TBC __

 

Annyeong hahaha 😀

Adakah yang sudi membuat poster buat FF ini? tsahhh…

Entah kenapa aku ngakak sendiri pas bikin adegan Taemin sama CL, padahal nggak lucu ye #authorgila -___- well, jangan ada yang protes kalau Yeoja itu CL gitu gitu dia kan 91lines hehe.

Awalnya aku pengen masukin OC, tapi gara gara kebanyakan tokoh jadi aku masukin member GB deh –takut readers pada gak hafal namanya- dan yang kepikiran Cuma CL doang karna aku nggak tau banyak soal GB. Kan cocok tuh sama karakter gelap taemin di ff ini muahahhaha awas kalo protes *ngasah bambu runcing #digorok

Dan aku paling gondok kalo ada yang namya onew kemana, jjong dimana. Pokoknya tunggu aja di Chapter berikutnya. Makasih banyak loh buat Readers dan Siders yang udah tobat *peluk satu satu* jangan lupa RCL ya buat nyemangati aku kkkkkkk~

Cheers,

LucifeRain ( Ayya )

Advertisements

113 responses to “{FULL PART} Seasons of The Lucifer [CHAPTER 9]

  1. Mulai curiga pas Key tanya kalo Minho suka sama Minhyun apa nggak, soalnya kan Minhyun nyamar kan? Kalo Key belum tahu dia pasti tanya juga apakah Minho itu gay, #pemikirankudoangkok :3

    And then Taemin ngomong dia udah tahu siapa Minhyun sebenernya, tambah kaget waah!

    Overall nice banget Author!!!! Aku fansmu sekarang ((((:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s