[FICLET] TITIK JENUH

TITIK JENUH

Author: LucifeRain

Length: Drabble

Genre: Sad Romance

Ratting: General

Main Cast:

Park Jiyeon

Key a.k.a Kim Kibum

IU a.k.a Lee Ji Eun

 

 

~*~*~*~

 

Hanya sebuah cerita biasa yang dapat kau temui pada orang orang di sekitarmu. Tapi percayalah, jika kau merasakanya maka kau akan meronta menuntut kebeasan meski akhirnya kau hanya bisa diam memandang kebebasan semu karena kau tak dapat beranjak sedikitpun dari rasa sakit ini. rasa sakit yang mampu menikam ke ulu hati.

Kau ingin mendekapnya namun ia hanya sebuah bayangan abstrak.

Kau ingin memeluknya namun kau tak bisa melangkahi lubang diantara kalian.

Kau ingin memilikinya namun pandanganya hanya lurus kedepan tanpa memperdulikanmu yang masih berdiri pada titik yang sama.

Dia meraih kebebasanya namun kau tidak. Kau masih berdiri pada suatu titik demi menunggu dia yang telah meninggalkanmu, menyambut bahunya ketika ia berbalik dan tersenyum kepadamu walaupun kau tahu itu hanya impian kosong yang mempunyai tingkat kemungkinan setipis kabut fajar.

Titik jenuh. Dimana kau berdiam pada titik itu dan merelakan sebagian hatimu terbawa pergi bersama dia yang terbang melingkarimu dengan sayap kebebasan di punggungnya tanpa membagi satu kepakan untukmu.

Bukankah cinta tidak mempunyai alasan?

Ketika aku bertanya kenapa dia mencintaiku, ia bungkam. Menyuguhkan senyum yang paling tulus hingga membuatku jatuh terhanyut dalam naungan kasihnya.

Apakah artinya dia mencintaiku? Lalu kenapa dia meninggalkanku demi pemuda lain? Ketika aku bertanya mengapa dia mencintai pemuda itu, dia memberiku seribu alasan.

Lalu apakah aku harus percaya bahwa cinta tidak mempunyai alasan?

Aku tidak tahu alasan mengapa aku mencintainya, aku juga tidak punya alasan mengapa rela menunggunya, tapi aku mempunyai alasan kenapa tidak bisa merengkuhnya dalam dekapanku.

Karena sahabatku pemilik gadisku…

 

~*~*~*~

 

Tring…

Lonceng kecil di sudut kiri atas pintu berbunyi ketika aku menarik benda kayu persegi dihadapanku, membuat batang besi tipis yang tergantung di dalam lonceng bergoyang kemudian bersentuhan dengan dinding berwana emas sehingga melambungkan bunyi kecil.

Ku sapukan pandanganku kesekeliling. Tempat ini adalah Café kegemaranku, tempat dimana aku sering membuat janji dengan sahabatku dan tempat dimana aku pertama kali bertemu denganya.

Sebuah Café sederhana yang di desain klasik namun langsung berhadapan dengan danau buatan yang dipenuhi pohon akasia raksasa disekelilingnya. Keharuman aroma alam dan panorama sejuk membuatku betah berlama lama disini, terutama pada tempat di bawah pohon cemara itu. tempat Favorite-ku.

 

“Key!” aku melambai pada sahabatku kala matanya menangkap pandanganku. Dengan gerakan santai ku hampiri dia kemudian duduk disampingnya dengan diawali seulas senyum terbaik.

“kemana saja kau? Kenapa lama sekali hah?” gerutu Key. Well, sahabatku itu memang tergolong sengak, namun kau tak dapat menemukan ketulusan yang kekal selain dalam dirinya.

“kemana Ji eun?” aku tak menggubris pertanyaan Key. Karena sesungguhnya aku datang kemari hanya untuk bertemu dirinya.

Sejak dia berjumpa dengan Key, seperti ada kabut tebal yang terbantang dalam jarak pandangnya terhadapku. Dia menganggapku tidak normal dan terus menjauhiku.

Aku menyesal mengenalkanya pada Sahabatku meskipun aku memiliki keberuntungan kecil karena aku dan dia sama sama dimiliki orang yang sama walau dalam status berbeda.

Sadarkah ia jika aku masih bertahan untuk menunggunya demi menyambung jembatan kisah klasik yang dulu menghubungkan titik hidupnya dan hidupku.

 

 

Awalnya, Cinta tidak membutuhkan alasan.

pertemuanku denganya seperti dibubungkan dengan tinta merah. Tak wajar, namun mampu menghanguskan ilalang yang menjadi jarak kami dengan kobaran maut.

Kala itu rasa bosan telah menjadi gas beracun dalam otakku. Penat, inti dari semua yang ku rasakan. Derap langkahku tenggelam ketika kakiku menginjak hamparan rumput yang terbentang di depan danau.

Setelah beberapa beberapa langkah ke arah sebuah pohon cemara, kakiku terhenti mendapati seorang gadis tengah terlelap di atas kursi panjang yang biasa aku tempati saat aku berkunjung ke Café ini.

Jarak tempat ini dan Café memang tidak dekat. menginggat matahari hampir masuk sempurna ke dalam perut bumi, sekitarku pun menjadi sunyi dan cahaya yang tersisa hanyalah penerangan redup lampu taman.

 

Aku duduk di samping kepala gadis itu. ku perhatikan ia, tubuhnya bergerak pelan pertanda nafasnya yang teratur. Cantik, itulah hasil pengamatanku. Pipinya yang putih dengan sedikit rona merah, bibir tipis berwarna Cherry dan hidung yang mungil menjadi awal ketertarikanku.

Entah mendapat dorongan dari mana, aku mendekatkan wajahku dengan wajahnya. tak ada alasan yang terlintas ketika aku menyentuh permukaan kulit berwarna Cherry itu dengan bibirku. Ini gila, tapi aku benar benar menciumnya.

Hanya sebuah sentuhan kecil namun berefek besar karena mampu meletupkan Euphoria dahsyat dalam hatiku. Ku rasakan pipiku memanas dan tanpa alasan aku ingin menyatukan titik kisahku denganya.

 

Dia datang, gadisku datang. Taukah dia bahwa aku merasakan ledakan kembang api yang hebat menjalari perasaanku sehingga membuatku mati matian menahan diri agar tidak beranjak untuk memeluknya.

Dia menatapku, luar biasa meskipun tak lebih dari sedetik setelah ia melangkah kearah Key dan memberi kecupan ringan di pipi sahabatku itu. salahkah aku jika menginginkan hal yang sama seperti apa yang di dapatkan Key.

Dulu, aku juga memilikinya…

 

“maaf, aku tahu ini keterlaluan” lirihku dengan wajah penuh penyesalan.

Ku lihat air bening menggenangi pelupuk matanya, kau tahu aku lebih memilih dihantam truk berbobot 5 ton dari pada mendapati kesedihanmu. Dia sadar akan ciumanku karena dia belum sepenihnya tertidur.

“kenapa kau menciumku? Kau merebut ciuman pertamaku” ucapnya. Dan aku menyadari satu hal, suaranya benar benar lembut.

Aku menggeleng pelan “aku tidak tahu” sejurus kemudian ku tatap matanya, sedikit senang, ah tidak, tetapi sangat bahagia ketika aku mendapati genangan air itu telah berpendar pergi “aku menginginkanmu”

 

“sayang, kau mau pesan apa?” tanya Key mesra. Membekukan segala kebahagiaanku.

“Soda teh” jawab Ji Eun. Aku selalu suka nada ceria yang terlantun dari suaranya.

“dan kau?” Key mengedikkan dagu ke arahku lalu kembali sibuk membaca buku menu.

“sama seperti Ji Eun” jawabku sambil tersenyum manis pada gadis itu, tak sampai sedetik kami bertemu tatap, ia langsung mengalihkan pandangan nanarnya.

Lee Ji Eun, mengapa kau menyiksaku seperti ini. tak sadarkah kalau kau mematahkan semua anganku terhadapmu, bukankah dulu kau sendiri yang membuka kisah klasik kita?

 

Aku kembali bertemu denganya, di tempat yang sama dan di waktu yang sama pula. Dia masih tetap terlihat manis dengan dress berwarna lembut yang membalut tubuhnya sepanjang lutut.

Aku tersenyum dan ia membalasnya. ini pertemuan kami yang ke-12, aku selalu menghitungnya karena pertemuan kami sangat berharga. dia mulai bisa menerimaku, menerima ketidak normalanku.

Aku mempunyai alasan mencintainya tapi dia tidak. Aku pernah bertanya pada pertemuan kami yang ke-9.

“Ji Eun, kenapa kau mencintaiku?” tanyaku seraya mengamati wajahnya. seketika pipinya bersemburat merah, terlihat sangat lucu sehingga aku tak tahan untuk tidak mendekapnya.

“bukankah cinta tidak membutuhkan alasan?” suaranya mengalun sangat lembut, menyusup hingga kerelung kalbuku yang paling dalam. Dia mencuri semua titik kasihku.

“lalu, apakah ketidak normalan cinta kita juga tidak membutuhkan alasan?”

Ku rasakan ia menggeleng pelan dalam dekapanku, ku elus rambutnya dan aroma Shampoo yang sangat wangi merasuki indra penciumanku.

“cinta kita dianggap tidak normal karena tergolong langka. Jika di bumi ini banyak merasakan cinta yang sama dengan kita, bukankah itu akan dianggap normal?” ujarnya sarkatis, aku hanya bisa tertawa kecil. Gadisku ini pintar sekali.

 

“Key, aku ketoilet sebentar ya” ucapnya lalu beranjak dari bangkunya.

Ketika ia melangkah pergi, aku ikut berdiri berniat menyusulnya. Ku lirik Key, sepertinya dia tidak peduli karena terlihat wajar jika aku dan dia bersama ketempat itu.

Aku berlari kecil mengejarnya, tapi sekejap kemudian dia menyadari langkahku yang mengekorinya. Dia berlari dan aku mengejarnya, tak lama tanganku sudah melinggkari pergelangan tanganya.

Aku menatap tajam namun sebenarnya tersirat rasa sakit yang teramat dalam disana. Tak tahukan ia ada luka yang menganga dihatiku karena ia mengacuhkanku. Seandainya dia tahu berapa lama waktu yang ku korbankan demi menunggunya di sebuah titik hingga aku hampir mati rasa.

“kenapa kau menghindar”

 

Dan ini adalah awal penyesalanku…

Aku mengajak Key bertemu denganya di tempat yang sama dan di waktu yang sama karena aku ingin bertanya pada sahabatku apakah cinta kami tergolong tidak normal?

Kami menempati meja bundar yang disisipi 3 kursi disekelilingnya. Key berhadapan denganya dan aku seperti berada di antara mereka. Key yang awalnya sengak lama kelamaan dapat meracik tawa di wajah gadisku.

Niat utuk bertanya memudar karena aku juga larut dalam obrolan. Key memang selalu pandai membawa diri.

“namaku Key” Key mengulurkan tanganya ke arah gadisku. Dia menyambut uluran tangan Key dengan senyum Favoritku.

“Lee Ji Eun. Senang berkenalan dengan mu Key” balasnya dengan senyum lebar.

Bodoh! Karena saat itu aku tidak menyadari ada binar yang berbeda dalam mata gadisku. Ketika aku tahu, semua sudah terlambat karena sebulan lebih aku sibuk dengan kuliah dan tak dapat bertemu dengan gadisku.

Saat aku kembali datang ke Café, aku melihat dia bersama Key duduk di bawah pohon cemara sambil mengumbar tawa. Awalnya aku biasa saja, namun hatiku tertohok begitu dalam kala Key mengatakan

“kami sudah jadian minggu yang lalu, ternyata Ji Eun pernah mengirimku surat cinta sewaktu SMA. astaga, aku tidak percaya gadis culun waktu itu ternyata sangat manis sesudah dewasa”

 

Dan setelah kalimat itu terurai, kian lama aku merasa Ji Eun seperti menjauh dari gabungan garis klasik yang mengitari kami. Seiring bergulirnya waktu, dia keluar semakin jauh dari lingkaran kami.

Dia terbang bebas sedangkan aku masih berdiam dalam titik yang sama demi menunggunya membawaku bebas dengan kepakan sayap penyatu garis klasik kami yang sempat terputus.

dia memandangku dengan tatapan nanar. Sungguh aku tak sanggup lagi menghitung berapa banyak dia menohokku seperti ini. sakit tepat di ulu hati.

“lupakan kisah kita”

Katakan bahwa yang ku dengar ini hanya sebuah ilusi. Senandungkanlah sesuatu agar aku dapat merasa ada oase yang menjalar di tengah hangusnya perasaanya terhadapku.

“kenapa?”

Dia menapis cengraman tanganku. Matanya berkilat tajam, ku mohon jangan menyiksaku lee Ji Eun.

“kisak kita tidak normal!” bentaknya. Aku membeku, bukankah dulu dia yang membela kisah klasik kami? Aku merasa anganku telah lenyap tak berbekas.

“kenapa kau memilih Key?” tanyaku denga tatapan kosong.

“karena dia baik, dia tampan, dia selalu memperhatikanku dan aku punya seribu alasan lainya. Tapi yang terpenting, cinta kami normal!” nafasnya tak beraturan sehabis melontarkan kalimat tajam itu.

“lalu apa kau punya alasan kenapa aku harus bersamamu?”

Aku bungkam. Dia tak mengucapkan alasan apapun saat ku tanyakan cinta padanya. Sekarang aku sadar, cinta tanpa alasan adalah omong kosong.

 

“Park Jiyeon. aku seorang gadis dan kau juga sama, adakah alasan yang menyebut cinta kita normal?”

Dia menjauh dan aku tetap berdiri dalam posisi yang sama. Dirinya sudah terlampau jauh untuk ku jangkau. Akhirnya aku sudah tak mampu untuk menunggunya, rasa sakit ini membuncah dan meletup kuat tanpa bisa ku bendung.

Kini aku beranjak dari titik setiaku menunggunya. Rasa jenuhku telah berpendar menjadi titik titik pilu. Aku melangkah dari titik kejenuhanku, bukan berjalan kedepan untuk mengejarnya melainkan berbalik kebelakang, melangkah menjauhinya.

Seharusnya aku sadar, kisah klasik ini tidak normal. Ji Eun benar. Aku seorang gadis dan dia juga sama. Seperti ajaran yang ku dengar sewaktu sekolah minggu, Tuhan menciptakan manusia berpasangan.

Mungkin Ji Eun memang sisandingkan dengan Key. Tenang saja, aku tak akan menunggumu lagi, Ji EUn. Karena rasa jenuhku menunggumu sudah bereinkarnasi menjadi kebencian yang teraman dalam.

 

-FIN-

 

Well, aku tidak akan menjelaskan apapun. Yang jelas (?) ide sederhana yang muncul mendadak ini ngalir gitu aja. Aku suka cerita yang agak melenceng.

Cheers,

LucifeRain ( ayya ) 

baca ceritaku yang lain ya ^_^ klik this

Advertisements

24 responses to “[FICLET] TITIK JENUH

  1. Aku mengabaikan main cast cuma karena foto IU..
    Dan terkejutlah aku pas endingnya ternyta ff Yuri…
    Demi Tuhan selama ini aku mghindari baca ff yuri atau yaoi…
    Dan akhirnya aku membacanya melalui punya kamu..

    Narasinya bagus..
    Deksripsinya juga dapet banget…
    Dan sbg slh satu mahasiswa sastra, aku setuju kalo kamu masuk di sastra…
    Kamu pintar mainin kata dan alur, chingu!!!!
    Itu yg pntg…

    Dan kali pertama aku pake bhsa resmi…
    Ya elaaah,,
    kagak enaka banget dah!!!
    Intinya,,
    aku suka ceritanya!!
    Keren,…

  2. waw!! pertama baca bingung juga eh ternyata ff yuri u.u
    aduuh thor keren banget2an bahasa yg dipake!
    kereeeen! pokoknya keren dah, bingung mau komen apa.___.v

  3. aaaaaaaaaaaaaaaaaaaah ini bner2 bikin aq nebak2 dri awal,,,, ternyata ff Yuri toh,,,,
    aq smpet dbikin bingung aq smpet ngira dy cwo,,,,,kkk
    aaaaaaaaaaaaaaaah kereeeeeeeeeeeeeeen 😀

  4. bener-bener gag nyangka, awalnya agak bingung ini cerita dari sudut pandang siapa? kok si tokoh menyebutkan ‘gadisku’ aku pikir ini tokoh cowok. setelah aku baca ulang aku baru sadar kalau itu Ji yeon, sumpah gag nyangka banget >.<
    bahasanya bener-bener bagus, puitis banget.

  5. ini ff yuri pertama yg gk sengaja ane baca u.u
    ane kira namjanya it minho, ternyata yeoja.
    tapi pinter thor bahasa dapet, feel dapet, daebak..! 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s