Seasons of The Lucifer [CHAPTER 10] Part. B

Seasons of The Lucifer

Title:Seasons of The Lucifer

Author: LucifeRain / Aya

Genre: romance – thriller action / Fantasy

Leght: Chaptered

Ratting: G

Main Cast:

Cho Minhye a.k.a Cho Minhyun

Kim Kibum a.k.a Key

Choi Minho a.k.a Minho

Lee Taemin a.k.a Taemin

Kim Jonghyun a.k.a Jonghyun

Lee Jinki a.k.a Onew

Support Cast:

Uzuki Naomi

Uzuki Naoki

Elison Kim

Credit Poster: @dEanKeya –Jeongmal Gomawo*bow

 SOL [teaser] | SOL [chapter 1] | SOL [chapter 2] | SOL [Chapter 3] | SOL [Chapter 4] |SOL [Chapter 5], SOL [chapter 6] part.A, | SOL [chapter 6] part.B |SOL [chapter 7] part.A | SOL [chapter 7] part.B  | SOL [Chapter 8], | SOL [Chapter 9] | SOL [Chapter 10] Part.A | and Others

Let’s begin, Summer Jonghyun.

Mungkin Jonghyun akan sedikit menyebalkan… oke bukan sedikit tapi sangat.

Tulisan yang aku bold itu berarti masa lalu jonghyun yang dibaca lewat buku Neverstory

Well, kalo aku udah sadis bakalan sadis banget *minjem evil Smile Kyu*

Happy Reading ^_^

Backsound:

        SHINee – Better

        SHINee – Obsession

        SHINee – quasimodo

______________

 

Lucifer

Seseorang berwajah malaikat namun seperti iblis

Hati yang egois

Cinta yang tulus

Kesucian yang keliru

Mengancam

Berulang kali salah seperti malaikat dan iblis

Mempunyai perasaan yang tidak jelas

Lucifer adalah keberanian

______________

 

Minhyun berdebar tak karuan saat membaca kalimat terakhir, semakin kesini foto yang menghiasi buku itu semakin sedikit. Tapi cerita yang tertulis sangat detail, namun tak ada satu kalimatpun yang menyatakan bagaimana perasaan Jonghyun.

Ternyata di balik kecerian seorang Kim Jonghyun, ia sangat tertutup dengan semua hal yang menyangkut perasaan dan masalah Pribadinya.

‘tapi bukanya Minho tau tentang Jonghyun dan Naomi?’ batin Minhyun.

Ia tidak mengerti bagaimana Minho bisa tahu padahal Jonghyun setertutup ini. lagi pula ada satu hal yang membuatnya tak habis pikir, bagaimana bisa Jonghyun menjadi Kejam terhadap Naomi padahal pertemuan mereka sarat akan keceriaan.

Diumpamakan seperti musim panas, melingkupi kehangatan namun dapat menghanguskan dengan sekali terjangan. Musim yang misterius, penuh kejutan namun sangat dibutuhkan.

 

~*~*~*~

 

Minhyun membalik halaman berikutnya, sesaat ia mengerutkan dahi menatap sebuah foto di lembar yang terbuka itu. foto orang jepang yang tak dikenalnya dan tidak mungkin itu gambar Naoki karena sama sekali tidak mirip dengan Naomi.

Minhyun kembali terfokus pada paragraf awal di laman itu. sulit dipercaya karena Jonghyun menulis semua tentang perasaanya mulai lembar ini.

Ternyata Jonghyun tak sebersih yang Minhyun pikirkan, ada titik titik hitam yang membanjiri topeng putih setianya dan semakin kesini keabu-abuan itu kian menjelas.

 

~

 

Jonghyun menegakkan punggungnya, ia mengerjap pelan lalu memejamkan matanya lagi seraya memberi perenggangan kecil pada lehernya. Terlihat jelas kantung hitam yang melingkar dibawah kelopak mata Jonghyun, semalaman dia tak bisa tidur memikirkan bagaimana misinya nanti. Bagaimana nasib naomi? Apakah ia masih bisa memiliki gadisnya secara utuh?

Entahlah, Jonghyun tak menemukan titik terang dari jawaban itu. begitu buram.

Jonghyun melangkahkan kakinya ke arah jendela dan menyibakan gorden hijau muda yang menutupinya, membiarkan secerca cahaya yang tadinya menelusup di sela sela tirai kini dengan leluasa masuk melingkupi kamar bergaya minimalis itu.

 

Jonghyun menatap matahari yang sudah duduk disinggasananya, pancaran yang begitu terik membuatnya sadar akan waktu yang menginjak tengah hari. Melihat kilat yang terpancar dari balik jendela, sebersit ide menghampirinya secara beruntun. Ia harus cepat jika ingin mendapatkan Naomi-nya. Yeahh… naomi miliknya!

 

 

“bisa aku bertemu Uzuki Naoki?” tanya Jonghyun pada seorang petugas polisi yang duduk di balik meja.

Polisi itu menatap layar monitor sekilas lalu kembali menatap Jonghyun “kau hanya punya waktu 15 menit untuk itu”

Jonghyun menggangguk, ia mengekori langkah polisi yang mempesilahkanya masuk ke dalam lapas. Setelah melewati beberapa ruangan akhirnya polisi itu berhenti dan ia menyuruh Jonghyun untuk duduk dikursi, sementara ia berjaga di sudut ruang.

Tak lama kemudian seorang polisi datang membawa naoki yang terborgol dengan baju tahanan. Wajah yang bisanya begitu ceria dimata Jonghyun kini terlihat amat menderita seperti orang depresi yang memikul banyak beban.

 

Cih… apa dia pikir menjerat adiknya kedalam lelehan api adalah hal terbaik? Maki Jonghyun dalam hati. Ia benar benar menyesal pernah mengagumi Naoki.

 

“bagaimana keadaanmu?” tanya Jonghyun basa basi. Mereka dipisahkan oleh sebuah dinding kaca yang ditengahnya terdapat lingkaran berisi lubang lubang kecil untuk menyalurkan bunyi.

“kau sudah mendengar semua tentangku?” Tanya Naoki dengan dahi berkerut, jonghyun hanya mengganggku kecil menanggapinya. “dari siapa? Hanya Naomi yang tau hal ini dan aku yakin kau tidak bertemu denganya semalam kan?”

 

“memang tidak. Ah, boleh aku tanya satu hal? apa kau membiarkan naomi seorang diri atau kau memulangkanya ke hokaiido?”

“tidak, dia pasti akan dikucilkan orang jika dipulangkan kesana. Aku menyerahkan naomi pada kekasihnya, aku yakin orang itu mau menjaganya karena dia juga sahabatku” tutur Naoki.

Jonghyun yang tadinya datar mentap Naoki liar “jadi apa kau pikir aku tak sanggup menjaga Naomi”

Naoki membalas tatapan Jonghyun dengan heran, ia bingung mengapa pemuda berparas ramah itu tiba tiba memasang ekspresi yang seolah siap menerkamnya. Naoki mendengus kecil “kau baru 16 tahun Kim Jonghyun!” tukas Naoki, tak menyadari efek dahsyat yang diciptakanya.

Rahang Jonghyun mengeras, menimbulkan gemeretak kecil pada giginya yang beradu “kau salah besar!” desis Jonghyun sembari menyunggingkan senyum iblis paling sempurna kemudian bernjak pergi. Ia muak.

 

~~~

 

Jonghyun baru saja melangkah keluar gedung kepolisian saat Naomi hendak meangkah masuk. Ia mencekal pergelangan tangan gadis itu, memaksa secara lembut agar Naomi menatapnya.

“membesuk naoki?” tanya Jonghyun dan hanya dibalas anggukan kecil oleh Naomi.

Jonghyun menelusuri seriap lekuk wajah gadisnya, hatinya miris melihat keadaan Naomi yang berantakan bahkan wajahnya sedikit pucat dan tersirat ketakutan yang amat besar disana. Jonghyun merasa kehilangan gadis polosnya.

“tapi jam besuk sudah habis” ucap Jonghyun, berbohong.

Naomi membuka mulutnya, hendak menyela tapi Jonghyun lebih dulu menariknya. Naomi bungkam, ia mengurungkan niatnya karena ekspresi Jonghyun ketika itu benar benar menentang sebuah penolakan.

 

Jonghyun membawa Naomi kesebuah taman yang tak jauh dari sana, ia mendudukkan Naomi pada kursi panjang di bawah pohon kemudian menyusul di sebelahnya. Jonghyun merengkuh pundak gadis itu, menuntun naomi agar berhadapan denganya.

“kalau tidak keberatan kau bisa menceritakan semuanya. Kau tahu, aku sangat mengagumi Naoki” ucap Jonghyun lembut bahkan tak lupa dia memoles seulas senyum di bibirnya.

 

“aku tidak pernah mengerti sifat Naoki, dia membuatku kecewa” ungkap naomi bergetar. Ia merasa matanya memanas dan akan mengeluarkan cairan bening tanda kelemahan kalau ia tidak menengadah menatap langit seperti sekarang.

“orang tuaku meninggal 2 tahun lalu dan naoki harus membanting tulang untuk membiayai sekolah kami, tentu saja aku juga membantunya” tutur naomi, ia memejamkan matanya sekejap kemudian ia menghela nafas panjang seperti menghembuskan beban yang enggan beranjak.

Jonghyun mengusap pelan puncak kepala Naomi, dengan sabar ia menanti lanjutan kisah dari bibir naomi tanpa berniat menyelanya sedikitpun.

“Naoki selalu pulang lewat tengah malam dan anehnya dia masih sanggup untuk kuliah pagi. Ku pikir belakangan matanya sayu dan tubuhnya yang agak kurus karena ia kelelahan tapi setahun lalu aku memergokinya sakau di toilet rumah”

“aku tak menyangkan bahwa Naoki pecandu obat terlarang itu. aku kecewa padanya tapi aku tak sanggup berbuat apa apa karena dia sudah sangat ketergantungan. Dia memakai obat itu supaya kuat bekerja demi membiayai keidupan kami, aku pun tidak akan sanggup beraktivitas seharian penuh sepertinya”

“karena itulah aku membiarkanya sambil memikirkan cara bagaimana menghentikan kecanduan naoki dan menutup hal ini dari saudaraku yang aku yakin tak akan peduli. tapi semua terlambat, dia berhutang dan tak tau harus membayar dengan apa? Naomi terpaksa menyerahkan diri lagi pula dia akan membongkar sindikat narkotika terbesar, aku rasa itu hebat” jelas Naomi panjang lebar.

 

“kau yakin seperti itu?” tanya Jonghyun menanggapi kata terakhir Naomi. Konyol sekali gadis  ini, pikirnya “apa kau tidak takut gembong narkoba itu membunuhmu?”

“tidak, karena aku percaya Aoi akan menjagaku” ujar Naomi sambil menyunggingkan senyum kecil di bibirnya dan Jonghyun membenci senyum yang bukan untuknya itu.

“kau terlalu polos, Naomi!” desis Jonghyun “Aoi siapa dia?

“Nakamura Aoi, dia kekasihku”

 

kalimat itu seperti pernyataan perang bagi Jonghyun. Sejak ia melihat Naomi, Jonghyun menaruh harapan besar pada gadis itu untuk menjadi satu satunya kebahagian yang ia miliki. Seumur hidupnya, jonghyun tak mampu mendefinisikan kebahagiaan secara sempurna. Hidupnya seakan terkutuk.

Ia Lahir dari rahim seorang Pimp Prostitute, hidup di lingkungan menjijikan dengan uang haram meski sangat berkecukupan, menyendiri disaat anak sebayanya masih bergandengan tangan dengan kedua orang tua mereka. Bahkan ibu yang ia sayangi -meski profesinya sangat terhina- telah pergi dengan penyakit paling menjijikan. Belum lagi kenyataan dimana ia harus mengabdi pada seseorang yang paling dibencinya.

Dan apa lagi sekarang? Ia harus kehilangan satu satunya kebahagiaan dan merasa bahwa tak ada satupun kebahagiaan yang sudi melekatinya? Tidak! Naomi miliknya, gadis itu kebahagiaanya!

 

Jonghyun melepas senyum licik dari bibirnya ketika Naomi menoleh ke arah lain “boleh aku lihat fotonya?”

Naomi menganguk, ia membuka tasnya dan meraih sebuah dompet. mengeluarkan foto Nakamura Aoi dari dalam sana dan memberikan pada Jonghyun.

Jonghyun tersenyum miring dan kali ini dia tak kuasa menyembunyikan seringainya “kau percaya pada orang seperti ini?”

Naomi mengangguk takut, ia merasa risih ditatap Jonghyun seperti seorang tawanan. “me… memangnya kenapa? Aku sudah menjalin hubungan denganya sejak 2 tahun lalu”

“kau tidak percaya padaku?”

Naomi menyatukan alis menanggapi ucapan Jonghyun, wajahnya yang begitu serius membuat Naomi takut “maksudmu? Kau berbelit belit!” ucapnya gusar.

 

Jonghyun meletakkan telunjuknya di sudut mata Naomi, secara perlahan ia menelusuri pipi putih pucat gadisnya dan berhenti tepat di dagu lancip gadis itu. dengan lembut ia memberi dorongan kecil pada dagu Naomi supaya ia bisa leluasa menyelami sorot kecemasan yang terpancar dari mata gadisnya.

Dan mata elips Naomi langsung membulat lebar saat Jonghyun mengucapkan sesuatu yang mampu menohoknya hingga sekujur tubuhnya dingin membeku.

“Seharusnya kau takut karena pahlawanmu itu tak ada disini sedangkan kau berhadapan dengan pria yang akan menyandramu”

~*~*~*~

 

Jinhya terbangun dari tidurnya, dengan mata yang masih tertutup ia menegakkan punggung sembari mengumpulkan nyawa yang tadinya melalang buana. Sekejap kemudian ia mengerjap dan sedikit membuka matanya, mengintip pada jam dinding yang menunjukkan angka 3. Masih terlalu dini untuk memulai aktifitas, tapi hal itu hanya berlaku jika tak ada seseorang yang tertidur pulas di sofa kamarnya.

 

Kedua sudut bibir Jinhya tertarik ketas saat ia menatap lekat wajah polos yang terbaring nyenyak di sofa. Jinhya menyibakkan selimutnya lalu melangkah ringan ke arah sofa.

Entah setan apa yang merasukinya sehingga dengan entengnya ia membiarkan seorang Lee Jinki masuk dan menginap di kamar yang berukuran luas itu tanpa diketahui kedua orang tuanya.

 

Ini hal tergila yang pernah dilakukanya. Semua berawal saat Jinki mengalami kebocoran ban di jalan yang berhadapan langsung dengan jendela kamar Jinhya. Kala itu waktu sudah menunjukan pukul tengah malam dan tak ada satu taksipun yang lewat.

Jinhya yang kebetulan berada dirumah karena penghujung minggu, tanpa sengaja melihat Onew. Sebenarnya Onew bisa saja menginap di mobil, tapi Jinhya tidak tega saat melihat gurat kelelahan yang tercetak di wajah namja itu. ia menyuruh Onew masuk melalui jendela karena mustahil orang tuanya mengijinkan seorang pria bertamu tengah malam, lagipula pasti orang tuanya sudah tidur.

 

Ketika Jinhya datang membawa secangkir teh, ia mendapati Onew sudah terlelap di atas sofa. Sepertinya namja itu sangat kelelahan dan efeknya malah ia yang tak bisa tidur karena bagaimanapun ia berbaring matanya tak ingin lepas dari sosok Lee Jinki.

 

“Onew… have a nice dream” bisik Jinhya saat dirinya duduk di depan sofa berhadapan dengan Onew.

Jinhya menelungkupkan telapak tanganya di pipi Onew, merasakan sensasi mendebarkan ketika ia menelusuri bagaimana tekstur wajah namja itu. ia tersenyum menginggat bagaimana intonasi Onew ketika memanggilnya, bagaimana cara Onew tersenyum dan cara mata itu memandangnya.

Terlalu banyak imajinasi yang ingin diwujudkanya bersama Onew. namun namja itu terlalu buta untuk menyadarinya, Dia selalu sibuk dengan dunianya sendiri.

 

“Saranghae” satu kata yang paling ingin diungkapkanya itu akhirnya terucap. Jinhya menaruh harapan kecil agar kata itu mampu menyusup kesela sela mimpi namja dihadapanya ini.

Dan satu hal lagi yang ingin diwujudkanya adalah menggenggam tangan Onew. Jika bisa, ia ingin namja itu membawanya ke suatu tempat dan terus menggandeng tanganya.

Jinhya menjulurkan tanganya, berniat menggenggam tangan Onew. Ketika ia menyentuh jemari Onew, dirinya terlonjak kaget mendapati seorang gadis dengan aura putih terpancar dari tubuhnya tiba tiba muncul.

Jinhya terhuyung kebelakang namun tanganya tak bisa lepas. Gadis tak kasat mata itu menindih tanganya dan tangan Onew. Gadis itu tak berekspresi, terlalu datar meski diakui ia sangat cantik.

“si… siapa kau?” tanya Jinhya nyaris menjerit, wajahnya pucat pasi.

Gadis itu tersenyum dengan raut wajah yang sulit dimengerti “ Lee Eunki imnida”

 

~*~*~*~

 

Minhyun membalik halaman berikutnya dan tak menemukan satupun foto, hanya menemukan tulisan yang sangat padat. Penasaran, ia pun membalik lembar berikutnya dan menemukan foto foto buram yang sepertinya diambil dari kamera CCTV.

Minhyun melirik ke arah jam beker di atas meja. Sudah jam 3 berarti ia harus cepat membaca seluruh halaman jika tak ingin ketahuan. Minhyun pun membalik laman sebelumnya dan kembali membaca.

~

Jonghyun menghempaskan punggungnya disebuah sofa yang warnanya telah usang. Ia mengikuti perintah Eli agar menyekap Naomi di gudang penyimpanan kayu yang dijadikan kamuflase untuk penyeludupan Narkoba.

Susah payah Jonghyun menyeret naomi karena harus membius gadis itu kemudian menggendongnya dari taman ke dalam mobilnya tanpa membuat satu orangpun curiga. Jonghyun mendudukan Naomi lalu mengikatnya dengan sangat hati hati namun tak membiarkan sedikit celapun, ia juga memasang penutup mata karena dirinya tak mampu membayangkan bagaimana Naomi menikamnya dengan tatapan tajam seolah ia adalah buronan.

 

Jonghyun menggeleng. Tidak, ini bukan salahnya tapi salah Naomi. Seandainya saja gadis itu memberi kepercayaan untuk menjaganya maka detik itu juga ia akan berontak pada Eli meski harus mati sekalipun.

Ia percaya Naomi adalah kebahagiaanya, tapi Naomi tidak. Dan Jonghyun punya rencana besar terhadap Naomi. Sebagaimana awalnya, Uzuki Naomi adalah miliknya dan ia akan membiarkan Naoki membusuk dipenjara sementara dirinya akan bersenang senang dengan Naomi. Itu hukuman karena Naoki berani mengorbankan gadisnya.

 

“emphh…”

Jonghyun tersadar dari lamunanya ketika ia mendengar erangan tertahan dari mulut Naomi. Sepertinya pengaruh obat bius akan segera hilang.

Naomi mengerakkan tubuhnya, ia berontak ketika sadar dirinya sedang diikat dan penglihatanya gelap karena tertutup kain hitam “lepaskan aku!” jerit naomi. Jonghyun sengaja tak menyumpal mulut Naomi karena suara gadis itu adalah bagian Favorite-nya.

“jangan banyak bergerak karena tali itu bisa melecetkanmu”

Suara Jonghyun berhasil membuat Naomi berhenti “JONGHYUN! AKU TAK PERCAYA KAU SEBIADAB INI!”

Jonghyun menyunggingkan senyum dengan mata berkilat tajam “jadi kau lebih percaya aku yang biadab dari pada aku sebagai orang yang kau percayai? Menarik sekali”

“BRENGSEK KAU KIM JONGHYUN! JADI KAU KOMPLOTAN BANDAR NARKOBA ITU? BAJINGAN KAU!!” maki Naomi, ia semakin keras memberontak.

 

Jonghyun tersenyum miris, tak menyangka gadis polosnya dapat berbicara seperti itu. menikamnya hingga kepuncak asa. “aku bajingan?” Jonghyun menyeringai kecil “kalau begitu apa bajingan tidak boleh bahagia?”

Naomi berhenti meronta, ia terenyuh kala menangkap getaran sendu yang ikut meluncur dari suara Jonghyun. “kau menangis?”

Jonghyun sadar Naomi begitu polos untuk ditawan bersama dengan Ego dan obsesinya, namun ambisi untuk memiliki Naomi sudah menjalar terlalu jauh. “Naomi… Kepercayaanmu adalah kebahagiaanku, tapi kalau kau tidak percaya padaku bagaimana aku mendapatkan kebahagiaan itu” lirih Jonghyun kemudian.

“kau tidak boleh bersama pria manapun kecuali aku. Mereka bisa menyakitimu tapi tidak denganku. Ku mohon Naomi, jadilah kebahagiaanku”

Naomi terhenyak, apakah Jonghyun sebegitu hausnya dengan kebahagiaan sehingga ia meraung meminta hak itu. “kau menyakitiku, Kim Jonghyun”

“TIDAK! AKU TIDAK PERNAH MENYAKITI APA YANG MENJADI MILIKKU! KAU MILIKKU, NAOMI… UNTUK ITU JANGAN PERNAH LARI” jonghyun menendang meja dihadapanya, ia melangkah keluar gudang yang berukuran cukup besar itu.

 

~*~

 

Jonghyun terpaksa meninggalkan naomi karena ia harus menerima paket berisikan pistol yang dijanjikan Eli. Paket itu tak bisa diantar sembarangngan karena berstatus ilegal, untuk itulah ia harus mendatangi sindikat yang berada di jepang.

 

Jonghyun keluar dari sebuah Flat. Baru saja ia mendapatkan pistol itu dan langsung mengamankanya di dalam Saddlebag hitamnya.

Sesampainya di depan jalan, Jonghyun menengadah menatap langit. Ia mengangkat tanganya, menghalangi sinar mentari yang menyerang ganas.

Matahari adalah maskot utama musim panas, mempunyai ego tertinggi untuk menjadi penguasa di atas segala musim meski sebenarnya mustahil karena badai salju dapat meredam panasnya, sapuan angin musim gugur mampu mengalihkan sengatanya dan semerbak warna indah mahkota bunga dapat menghalangi pesonanya.

Jika dibiarkan memilih satu perumpamaan, Jonghyun akan mengibaratkan dirinya seperti matahari di musim panas. Berusaha mendapatkan tahta tertinggi namun malah melukai karena pancaran yang terlalu berlebihan.

 

Tapi apakah Matahari akan berjuang demi kebahagiaan? Layaknya sekarang Jonghyun sedang memperjuangkan kebahagiaan Naomi. Pria yang dipercayainya itu sangat tak pantas untuknya.

“keparat!” geram Jonghyun. Ia tak kuasa menahan emosi saat melihat Nakamura Aoi mengantar seorang gadis ke Flat yang berada di hadapanya. Meski jarak mereka lumayan jauh, tapi Jonghyun yakin itu pria yang dipercayai Naomi. Bahkan ia sempat mencocokan wajah Pria itu dengan foto yang masih ditempatnya.

 

“naomi, aku tidak akan membiarkanmu disakiti” guman Jonghyun. Ia meletakan tas hitamnya di samping lalu memberi sedikit cela pada relsleting agar tanganya bisa masuk.

Jonghyun mengarahkan mulut pistol ke arah Nakamura, meski dirinya tidak mengeker terlebih dahulu tapi dia yakin tembakannya nanti tak akan meleset setitikpun. Jonghyun sudah dilatih memperkirakan sudut yang diambil untuk membidik sasaran dengan tingkat keakuratan tinggi dan itu sangat berguna.

 

Jonghyun mengokang pistolnya ynag ternyata bisa dilakukan walau hanya menggunakan ibu jari, ia menarik pelatuk dengan telunjuknya dan menembak.

HEBAT! Tidak ada bunyi ketika peluru timah itu lepas. Ini pasti pistol tercanggih yang dimiliki Eli. Dan tembakan itu melesat memecahkan pot bunga, tepat sasaran karena pot itu jatuh di atas kepala Nakamura. Dirinya masih berbaik hati karena tak langsung membunuh pria itu meski kemungkinan selamat hanya setengah persen. Percobaan yang  fantastis.

~*~*~

 

Jinhya masih menarik tanganya dengan sekuat tenaga namun sia sia. Tanganya seakan tertindih mahluk beraura putih itu padahal Dia hanya meletakan tanganya di atas tangan Jinhya tanpa memperlihatkan ekspresi penekanan sedikitpun.

Gadis yang mengenakan dress putih itu menatap lekat pada Jinhya. Jinhya ingin berteriak namun serasa ada yang mengganjal di kerongkonganya, ia tertunduk lunglai.

 

“kau mencintai Onew Oppa?”

Jinhya menengadah mentap gadis yang kini tersenyum padanya. Rasa takutnya menurun ketika melihat sorot teduh dari mata gadis itu. Lee Eunki menarik tanganya, membiarkan tangan Jinhya terlepas.

“Aku kesini untuk menepati janji pada Onew Oppa. Tapi Oppa tidak menepati janjinya padaku”

“maksudmu? Apa kau hidup? Kenapa aku bisa melihatmu?” tanya Jinhya bertubi tubi.

“karena kau mencintai Onew Oppa”

Jawaban gadis itu sama sekali tak mengurangi kadar rasa penasaran Jinhya, malah semakin membuatnya mendidih. “kau berbelit belit”

 

“baiklah, karena aku percaya padamu maka aku akan menceritakanmu masa lalu Onew Oppa. Tapi biarkan dia pergi dulu karena ini rahasia ” gadis itu berjalan kebalik sofa, ia membungkukan badanya kemudian mengecup pangkal hidung Onew.

Jinhya terpaku saat menyaksika tubuh Lee Eunki menjadi transparan dan kelamaan menjadi titik titik yang memudar. Tak terlihat namun ia masih bisa merasakan aura dingin yang berpendar lembut dari gadis itu.

 

Tubuh Onew bergerak kecil, tak lama kemudian matanya terbuka secara perlahan. Onew meletakkan tanganya di puncak kepala, ia menegakkan punggung seakan mengumpulkan nyawa.

Onew menggaruk tenguknya yang sama sekali tak terasa gatal, ia menatap heran pada Jinhya yang terduduk dihadapanya. “maaf aku ketiduran” ucapnya dengan ekspresi linglung

“gwaenchana” balas Jinhya sembari mengulum senyum, ekspresi Onew benar benar lucu.

 

Onew mengedarkan pandanganya kesekitar, tatapanya tertuju pada sebuah jam digital yang berada di atas meja rias jinhya. Jam 03.15 “sebaiknya aku pulang, bus pertama pasti lewat 15 menit lagi. lagi pula aku masuk kesini kan secara ilegal hehe”

Sebenarnya Jinhya tak ingin membiarkan Onew pergi, tapi ini pasti rencana Eunki karena ada hal penting yang harus dibicarakannya bersama gadis itu.

“Jeongmal Kamsahamnida” ucap Onew kemudian keluar dari jendela kamar Jinhya secara perlahan. Untung saja ketinggian jendela itu dengan tanah luar hanya sekitar satu meter sehingga Onew tak terlalu banyak mengeluarkan bunyi.

 

Jinhya menutup jendela ketika bayangan onew tak mampu tertangkap penglihatanya lagi. ia membalikkan badan dan menemukan Eunki sudah duduk manis di atas sofa. Gadis itu tersenyum misterius.

 

~*~*~*~

 

Minhyun membalikkan halaman berikutnya, ia menemukan sebuah peluru berdiameter sekitar 5mm dengan ujung yang sangat runcing merekat di sudut kiri atas buku itu. Di bawah peluru terpajang foto pistol berwarna perak bercorak golden. Dari gambarnya saja sudah bisa dipastikan betapa mematikanya senjata itu.

 

~

 

Naomi terkesiap dari pekuranya, tubuhnya menegang kala mendengar derap langkah kaki segerombolan orang menggema dalam ruangan ia disekap. Naomi menajamkan pendengaranya, di antara celotehan yang diyakininya terdiri dari banyak pria, terdengar seringai yang membuat bulu jangatnya meremang.

“jadi ini bonekanya?” sahut salah seorang pria dengan bahasa Korea, membuat naomi semakin ketakutan.

Naomi memang fasih berbahasa korea, ibunya keturunan separuh jepang dan Korea. Sewaktu kecil keluarganya pernah tinggal di negeri gingseng tersebut, tentu saja sebelum orang tuanya bangkrut dan meninggal. Dulu mereka sangat berkecukupan.

“sayang sekali kalau gadis secantik ini tidak diapa apakan sebelum mati” cibir salah seorang pria.

Pria itu berjalan mendekat kemudian membuka penutup mata Naomi secara paksa. Ia menyeringai lebar membuat Naomi memberontak dalam ikatanya namun tak merubah apapun.

 

“JONGHYUN!!!” teriak Naomi, tanpa sadar ia berharap banyak dari namja itu.

“cihh… si bodoh itu” umpat pria tadi.

“apa maksudmu, brengsek?!!” maki Naomi, ingin sekali ia meludahi pria berambut cepak dihadapanya ini.

“dia itu bodoh! Mau maunya di peralat Eli, padahal ibunya meninggal karna tertular virus HIV dari ayahnya Eli. Bodoh sekali dia mau jadi anak buah Elison Kim” cerocoh pria itu.

Naomi tertegun, tapi cepat cepat ia menutupi ekspresi ibanya. Ia mendendang kaki pria dihadapanya “memangnya kau siapa, bodoh?! Kau anak buahnya juga kan?!”

 

“banyak omong!” emosi, pria itu mendendang kursi yang diduduki hingga jatuh, membuat kepala Naomi terbentur lantai dengan hentakan keras tapi gadis itu tak mampu bergerak.

Gerombolan pria itu berjalan mendekat dengan senyum yang menjijikan, mereka memandang Naomi lekat lekat seakan ingin menerkamnya. pria yang mendorongnya tadi meringsek maju, ia mendekatkan wajahnya ke wajah Naomi dan…

 

“AAAAAKHH!!!!!”

BUKKK…

Pria itu terkapar di lantai, sepertinya ada orang yang menendangnya dari samping ketika hendak mencium Naomi. Naomi sadar ia belum bisa bernafas lega karena Jonghyun sedang berhadapan dengan gerombolan pria yang ingin mempermainkanya tadi.

“brengsek kau, Kim Jonghyun!” seorang pria meyangkan tinjunya dari arah belakang ketika Jonghyun sedang sibuk menghajar lawan lawanya.

Tapi tinju itu tak lebih cepat dari insting Jonghyun, tendangan kaki kanan Jonghyun menghantam kepala Pria itu. Jonghyun melompat, ia menenendang pundak tiga orang pria dengan sekali putaran lalu melesatkan bogem mentah ke kepala orang yang hampir memukulnya dengan balok kayu.

Jonghyun menepis tangan seorang pria yang hendak memukul rahangnya, ia meelintir lalu menghantam kepala pria itu dengan sikunya. Pria yang lain menyerang perutnya dengan kepalan, dengan ganas Jonghyun memukul pria itu sambil menendang perutnya. ia terus menghajar dan dihajar pria pria berbadan kekar itu.

 

DOOORRR….

Terdengar letupan pistol dari arah samping, Jonghyun berhasil menghindar meski jaraknya dengan peluru hanya berkisar satu kilan. Dalam sekali gerakan cepat Jonghyun menunduk, ia mengokang pistolnya lalu menembak kaki seorang pria secara kilat. Pistol pria itu terjatuh disertai kucuran darah yang menyembur dari lubang bersemayamnya peluru.

 

Seseorang menyerang bahu Jonghyun dengan hantaman kayu, jonghyun tersungkur pukulan itu sangat kuat bahkan balok kayu itu ikut hancur. pria yang lain datang menendang bahu Jonghyun, mereka orang yang tadinya terkapar menerima pukulan Jonghyun.

Jonghyun meringis sesaat, ia meraih pistolnya kemudian menembak asal ke sembarang arah namun tepat sasaran. Tak ada satupun dalam posisi berdiri dalam ruangan itu, semua terkapar dilantai.

 

“Naomi…”

Dengan susah payah jonghyun menyeret langkahnya ke arah Naomi, nafas Jonghyun tersenggal ketika ia membuka tali yang mengikat Naomi. Ia mengisyaratkan agar gadis itu duduk di sampingnya, dengan kelembutan yang tersisa Jonghyun memeluk Naomi.

“jangan takut, aku tidak akan menyakitimu” lirih Jonghyun dengan suara parau, ia mengecup puncak kepala Naomi. Tubuh gadis itu bergetar hebat.

“Jonghyun… seharusnya kau tidak bekerja pada Eli” ucap Naomi takut takut.

Jonghyun tersenyum tipis “aku senang kau bisa berbahasa Korea”

 

Naomi menatap Jonghyun lekat, ada luka di bawah pelipis namja itu dan wajahnya membengkak. “Jonghyun… kau hanya menyakiti dirimu. Seharusnya kau membalas perbuatan Eli, aku tahu semuanya termasuk kematian ibumu. Berhentilah jadi anak buah Elison Kim. Dia hanya memanfaatkanmu saja”

Naomi menhela nafas panjang … dan berat “aku yakin kau bisa membedakan mana yang baik dan yang buruk. Jika kebahagiaanku adalah kebahagiaanmu, maka aku akan bahagia kalau kau terlepas dari jeratan bandar Narkotika itu.”

Jonghyun memejamkan matanya, ia terenyum mendengar ucapan Naomi dan perasaan menyesal pun menggerogoti hatinya. Tiba tiba pintu gudang terbuka lebar disusul dengan hentakan keras, disana tampak seorang pria mengenakan jas kulit tanpa lengan dan beberapa Pria di belakangnya. Dia Elison Kim.

 

“Naomi, lari!” ucap Jonghyun sambil menatap kumpulan pria itu.

Naomi tak beranjak sedikitpun “aku tidak mau meninggalkanmu!” tukasnya

“LARI NAOMI!!!” teriak Jonghyun geram.

“TIDAK AKAN!”

PLAKKK…

Naomi menempelkan tanganya pada pipi yang memerah. Jonghyun menamparnya, Sakit namun hatinya lebih sakit. terpancar jelas kilat kemaran dari sinar mata Jonghyun.

“aku tak akan segan segan memukulmu kalau kau tidak mematuhi perintahku!” desis Jonghyun penuh penekanan.

Tanpa berfikir panjang, naomi melangkahkan kakinya dan pergi dari situ. Ia membuka pintu samping lalu menyusuri deretan lorong yang dipenuhi tumpukan kayu, sangat kotor dan bau.

Naomi berusaha mencari pintu keluar dan ia telah membuka banyak pintu. bukan bermaksud untuk lari, ia bertekad akan ke kantor polisi dan melaporkan semua ini demi menyelamatkan Jonghyun.

 

Naomi memperlambat langkahnya ketika ia berhadapan dengan sebuah pintu, pintu ini adalah pintu terakhir yang belum dibukanya. Naomi menggenggam kenop pintu, ia berharap banyak ketika kenop pintu diputar.

Tapi sepertinya harapan itu telah kandas karena ketika pintu terbuka ia berhadapan dengan seorang pria yang mengenakan jaket kulit hitam tanpa lengan dan sedang melayangkan seringai iblis padanya.

“E… Elison Kim?”

~*~*~*~

 

Seorang Namja menggeliat kecil dibalik selimut yang menutupinya sebatas dada, ia menghadapkan tubuhnya ke samping lalu mengulurkan tanganya untuk memeluk gadis yang berada di sampingnya.

Tapi sekejap kemudian ia menarik tanganya, Namja itu membuka matanya secara perlahan lalu menatap miris pada gadis yang sedang terlelap disampingnya. Gadis itu tak bisa direngkuhnya, karena semalam ia kembali kalap dan menyakiti gadisnya lagi.

 

Jonghyun mengepalkan tanganya di atas kening, ia mengutuk dirinya habis habisan. Mengapa semudah itu ia terbuai dalam emosi, seringan itu kah tanganya melayang.

“Mianhae, Naomi” lirih Jonghyun yang entah keberapa kalinya.

Jonghyun tidak pernah suka Naomi dekat dengan Pria manapun selain dirinya, bukan karena alasan cemburu yang kerap kali ia katakan pada gadis itu. tetapi karena Jonghyun begitu takut kehilangan Naomi, takut kalau gadis itu pergi darinya bersama Pria lain dan takut Pria itu menyakiti Naomi.

Lagipula, ia takut pria yang mendekati Naomi adalah anak buah Elison Kim yang diperintahkan untuk balas dendam mengingat Eli divonis seumur hidup. Pria brengsek itu selamat tapi cacat.

 

Tapi… Naomi miliknya, Naomi Kebahagiaanya. Itulah yang dipegangnya hingga saat ini.

 

Jonghyun menyibakkan selimut, ia beranjak lalu membuka lemari Naomi dan mengambil sepotong kaus. Ia memang hanya memakai celana saja. Jonghyun menatap pantulan dirinya di atas cermin, tanganya meraba bahu sebelah kiri. Terdapat luka jahitan disana, tempat peluru yang dulu pernah bersarang.

Jonghyun mengenakan kausnya, ia menyambar kunci motonya yang tergeletak di atas meja rias. Dia harus pulang sekarang.

 

~*~*~*~

 

Minhyun membalik halaman berikutnya, tanpa ia sadari tubuhnya ikut menegang ketika membaca setiap kata yang tervisualisasi secara detail dan jelas. Ia dapat merasakan gejolak emosi itu dengan kuat.

Passion, Egoism, obsession, ambition and intuition”

Minhyun membalik lembar berikutnya, heran. Ada banyak potongan koran yang tertempel sana sini. Sepertinya sesuatu yang menakjubkan telah terjadi.

 

~

Naomi tersungkur ke lantai ketika Eli mengarahkan sebuah Revolver tepat ke wajahnya, jantungnya berdegub liar Saat Eli menyusupkan telunjuknya ke lingkaran pelatuk dan bersiap membidik.

BRAGG…

Pistol Eli terjatuh ke lantai, sama sekali tak ada bunyi letupan tapi penglihatan Naomi masih menangkap sebutir peluru melesat dari arah samping dan menghantam pistol itu hingga jatuh.

Naomi menoleh ke samping, tak jauh dari sana terlihat Jonghyun berdiri dengan penuh lebam di wajah dan terdapat banyak bekas luka di tubuhnya.

 

Jonghyun mengacungkan pistol dengan kedua tangan yang sejajar. Tangan kananya menggenggam pistol dengan telunjuk menyentuh pelatuk dan tangan kirinya berada di atas bersiap untuk mengokang.

DORRR…

Jonghyun tersungkur, Gunshot itu itu bukan berasal dari Pistolnya ataupun Revolver Eli yang kemungkinan besar telah hancur karena ditembaknya. Jonghyun menatap anak buah Eli dengan geram, Pria itu berhasil menembakkan peluru timah di bahu kirinya.

 

Darah mengucur dari bahu Jonghyun, tapi ia tak tinggal diam. Dengan gerakan kilat Jonghyun mengokang pistolnya kemudian menembak Senapan yang diarahkan anak buah eli padanya. Setelah senapan itu melayang Jonghyun menembak pria itu dalam selang waktu beberapa sekon.

Peluru menembus perut Pria itu dibarengi dengan semburan darah yang mengalir deras.

 

“Penghianat tidak tahu diri! Gadis ini seharusnya mati karena kakaknya membeberkan semuanya”

Jonghyun menoleh ke arah Eli, ia tak berkutik ketika melihat Pria itu mencekik leher Naomi yang megap megap kehabisan nafas.

“Lepaskan dia!” titah Jonghyun namun Eli semakin memperlebar seringainya.

“Kemarikan pistolmu, Brengsek!!” Umpat Eli.

 

Terpaksa Jonghyun melangkah ke arah Eli, ia mencampakkan pistol itu ke tangan Eli namun sial, tangan Eli yang satunya masih mencekik leher Naomi.

Nafas Jonghyun tersenggal, ia terus memegangi pundak kirinya yang semakin terasa menusuk. Kesempatan, Eli mengokang pistol ditanganya, namun ia kalah cepat karena tiba tiba Jonghyun melompat ke atas tumpukan kayu disampingnya lalu menendang kepala Eli dengan sangat keras.

Eli tersungkur dan Jonghyun segera menarik Naomi dan membawa gadis itu lari.

“Sialan Kau!” Eli mengarahkan Pistolnya pada Naomi yang berlari dibelakang Jonghyun. Ia membidik tapi SIAL! PELURUNYA HABIS! Pistol terhebat yang dimilikinya itu sama sekali tak berguna.

 

Jonghyun mempercepat larinya karena Eli mengejar dari belakang, semua anak buah Eli telah kandas dan ia menaruh harapan besar ketika dirinya dan Naomi masuk ke mobilnya yang terpakir tepat di depan pintu utama gudang.

Jonghyun mengendarai mobilnya, melesat secepat angin karena ternyata Eli mengikutinya dari belakang. Pria itu pasti punya banyak senjata dalam mobilnya.

“jonghyun lukamu….” Naomi meringis menatap Jonghyun. T-sirt putih yang dikenakan Jonghyun telah berubah menjadi warna merah beserta bolong di bagian bahu kiri karena tertembus peluru.

“Sial, ini harus dikeluarkan!”

 

Jonghyun membuka perkakas yang terletak di laci bawah dashboard sedangkan tangan yang satunya masih berkutat pada setir. Ia berniat mengambil apapun yang bisa digunakan untuk mencongkel peluru yang bersemayam di pundaknya, tak peduli meski benda itu nantinya ikut melukai tulangnya sekalipun.

Dua buah tabung silinder berwarna merah dengan lilitan kabel yang cukup tebal dan jam digital di atasnya, bertengger di atas alat perkakas mobil. Jonghyun dan Naomi saling pandang, ada banyak cara untuk mati rupanya.

 

“B… BOM?!” Naomi memandang Jonghyun ketakutan.

Jonghyun kembali memegang setir, air mukanya berubah ketika ia menginjak rem tapi mobil itu sama sekali tak berhenti “sial! Remnya Blong!” umpat Jonghyun, bagaimana ia seceroboh ini. sudah pasti mobil ini menjadi sorotan Eli dan antek anteknya.

“bagaimana ini?” ucap Naomi gusar, wajahnya pucat dan keringat dingin membasahi wajahnya.

“aku… bisa menjinakkan Bom” ujar Jonghyun, Berbohong. Ia hanya pernah membaca cara menjinakkan bom, belum pernah mempraktekkanya.

 

“aku harus mengendalikan mobil ini, jadi semua tergantung padamu” Jonghyun menatap Naomi sambil sesekali memandang ke arah jalan. “ambil pisau di samping Bom itu dengan hati hati” perintah Jonghyun. Naomi menurut, ia meraih pisau itu dengan tangan bergetar.

“potong kabel Hitam dan biru tapi jangan sampai kena kabel merah, itu bisa meledak”

Dengan hati hati dan gerakan cepat Naomi memotong semua kabel hitam dan Biru tapi sial, tanpa sengaja ujung pisau menyentuh kabel merah dan mengoyakkan pelapisnya.

“NAOMI!!!” Jonghyun berteriak, ia memukul keras kemudi membuat tangan Naomi bergetar semakin hebat hingga pisau itu terjatuh. Gadis itu sangat ketakutan.

 

Percikan api timbul semakin lama semakin banyak. Jonghyun merasa otaknya berputar, ia harus berpikir Kritis dalam kondisi fisik yang sangat lemah. Tiba tiba terlihat sebuah truk besar di hadapanya, Jonghyun melirik kaca Spion mobil Eli masih mengikutinya dari belakang.

“BUKA PINTUMU!” Perintah Jonghyun, Naomi pun langsung membukanya. Jonghyun menoleh ke arah Spion dan kini terlihat Eli mengarahkan Revolver ke Mobilnya.

PRANGG…

Kaca belakang mobil Jonghyun pecah, membuat serpihan kaca itu berserakan di jok belakang bahkan ada yang melompat ke depan.

 

Jonghyun menatap ke arah Jalan, di depan terlihat sebuah tikungan tajam dan jarak mobilnya semakin dekat dengan truk. Percikan api dari kabel merah sedikit lagi mengenai tabung silinder.

Tanpa berfikir panjang Jonghyun menarik Naomi melompat keluar, sebelumnya ia sudah membanting setir kekanan dengan keras. Membuat mobil itu berputar putar dan menghantam truk yang hendak berbelok di tikungang.

Bom dalam mobil meledak ketika itu juga, Eli yang mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi tak sempat mengerem dan akhirnya ia terlibat dalam ledakan dahsat itu. kepingan bagian mobil yang hancur melayang diudara dan berserak.

 

Jonghyun dan Naomi berguling di hamparan rumput yang terletak di samping jalan. Beruntung api dari ledakan tak sampai menyambar tubuhnya. Jonghyun terkulai lemas di atas rerumputan, nafasnya satu satu namun ia tersenyum lega.

“Jonghyun!” dengan tenaga terbatas, naomi merayap ke arah Jonghyun yang tergeletak tak jauh dari dirinya.

Ia terduduk kemudian mengangkat kepala Jonghyun dan meletakkan ke atas pahanya. Naomi menangis menatap Jonghyun yang benar benar hancur, rasa sakit di tubuhnya tak seberapa di bandingkan jonghyun.

 

Bahu Naomi berguncang diikuti dengan isakan yang keluar dari mulutnya, sesaat tangisnya berhenti karena mata Jonghyun mengerjap.

Jonghyun terbatuk pelan, ia menghela nafas pelan lalu tersenyum seadanya pada Naomi. “kau… Bahagia?” ucap Jonghyun parau.

Tangis Naomi pecah, ia merasa ucapan itu begitu tulus. Batinya terhenyak. “Gomennasai (Mianhae)” lirih Naomi di sela isakanya.

Jonghyun tersenyum lagi, membuat perasaan naomi semakin terguncang. Mata Jonghyun menutup, ia seakan tak punya tenaga bahkan untuk bernafas sekalipun “Da.. Daijobu (Gwaenchana)” ucap Jonghyun, nyaris seperti bisikan yang tersapu angin.

“a… Arigatoo” Naomi merengkuh Jonghyun dalam dekapanya. Ia sadar, ia berhutang banyak pada Jonghyun.

 

Tiba tiba seperti ada pusaran angin kencang yang menggerakkan rerumputan dan sekitarnya. Naomi menengadah, sebuah helikopter terlihat buram karna menghalangi cahaya matahari musim panas.

Helikopter itu mendarat tak jauh dari Naomi dan Jonghyun. Begitu pintu terbuka, Herry Kim keluar dari sana dan disusul dengan beberapa orang berseragam medis.

Naomi tersenyum lemah, mereka tertolong.

~*~*~*~

 

Minhyun menarik nafas lega ketika membaca kejadian itu, ia bisa membayangkan secara sempurna karena tulisan yang sangat detail. Belum lagi potongan Koran itu ternyata berita kejadian yang dipublikasikan lewat media masa.

Minhyun melirik jam. 04.00. padahal ia belum membaca sampai habis, Minhyun kembali membuka lembar selanjutnya, namun tanganya menegang saat sebuah suara melambung dan membuat dirinya membeku seketika.

“berani sekali kau membaca buku itu!”

 

__ TBC __

 

Fiuhh.. *lap keringet. oke jangan tanya kenapa ada foto nakamura aoi yang nyasar kesini. ß #lagi ngepens (?)

Udah pernah kelilipan becak atau kesedak sepatu (?) Ku pastikan kalian akan mengalaminya kalau masih bilang part ini pendek *kebawa sensi gara gara cerita*

Duh, aku nggak pede banget sama part ini. kesanya ancur dan terlalu ke kanak kanakan deh kayaknya, makin nggak jelas aja nih cerita jadi pengen cepet cepet aku tamatin deh.

 

Buat kuis yang kemaren, ada satu yang bisa jawab tapi sayang nggak nyertain nama penulis *yahhh… tapi aku kasih 1 permintaan deh. Mau apa? buat yg udah ngintipin TL aku tgl 17 loh ya, mian aku lupa usernamenya haha *timpuk

 Cheers,

LucifeRain (ayya) 

Advertisements

83 responses to “Seasons of The Lucifer [CHAPTER 10] Part. B

  1. Jonghyun itu sebenernya baik cuma dia terlalu cinta sama Naomi jadinya terobsesi, kasian sama Naomi tapi kasian juga sama Jonghyun #lahgimana:3

    Terus si Onew nggak gila/? Berarti kan? Si Eunki yang nemenin dia di Taman Bermain (namanya apa lupa he he) itu nyata cuma tak terlihat ya?
    Dan btw Jihya suka sama Onew tapi Key suka sama Jihya terus Minho suka sama Minhyun tapi aku ngeshipperinnya MinhyunKey gimana dong/?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s