[Freelance] LOVE IN THE SAME SIGHT

Author : Dwlee87
Rating : PG-17
Genre : Romance
Length : one shoot
Main Casts : Yoon Doojoon, Heo Gayoon
Authors note : Author’s note : ff ini sudah pernah dipublikasikan di fan3less

CHAPTER 1

I love you, I love you even if I try blocking it,
the phrase that quietly leaks out of my mouth.
hundreds of thousands of times, hundred of times,
I try to save it but I can’t resist and send you the phrase
I love you even if I lose everything I own,
I love you even if this world ends
I don’t want to forget you, I don’t want to let go of you,
even if I try to hide it you make me smile
(one love – Suki ft gahee)

LOVE IN THE SAME SIGHT
DOOJOON POV
Kupandangi buket bunga yang selalu kubeli pada peringatan kematiannya. Kematian Seorang yoja bernama Yoon Bomi yang memiliki mata coklat terang dengan rambut sebahunya, yoja yang amat kucintai. Aku mengingat memori-memori indah bersamanya saat dia masih hidup sembari memainkan buket bunga yang tak pernah kukirimkan dengan benar, hanya kupegang, dan kusimpan sampai kering. Aku seakan belum bisa menerima kenyataan bahwa dia meninggalkanku. Setiap hari yang kulakukan hanya mabuk dan berharap dia bisa hidup walau dalam khayalanku. Aku hanya bisa tersenyum dalam khayalanku dan menangis dalam hati menghadapi kenyataan yang ada. Bomi-ya, kenapa kamu harus meninggalkanku?
Tak terasa aku sudah sampai didepan pintu rumahku, kulihat sederetan mobil yang begitu apik tetapi asing bagiku. “annyeonghaseyo…” Kubuka pintu depan rumahku. Kulihat beberapa orang memakai jas yang sama berdiri menatapku. Sedangkan di sisi lain ada seorang ahjusi, ahjumma dengan outfitnya yang mahal serta seorang yoja yang begitu cantik dengan pakaian yang begitu apik serta mewah, duduk di kursi ruang tamuku. Sepertinya mereka tamu penting ayahku. Aku menunduk memberikan salam
“Doojoon-a kemana saja kau?? Cepat kemari! Mianheyo tuan Heo, anak ini memang kurang tahu sopan santun” jawab eommaku
“Gwenchanayo nyoya kim, tenang saja” jawab ahjussi itu
Eommaku sesegera mungkin menarikku yang masih kebingungan menuju kamarnya
“cepat ganti baju dengan tuxedomu, kita mau makan malam penting! ya! Kau minum-minum lagi? Bau badanmu penuh dengan alkohol” jawab ommaku memburu sembari menyemprotkan penghilang bau ke tubuhku
“Makan malam penting apa? Tentu saja makan malam itu penting kalau kita lapar” jawabku
“aish! Kau ini selalu saja tidak pernah serius! Ini berkaitan dengan masa depan perusahaan ayahmu! Cepat pakai tuxedo yang sudah kupilihkan! Segera keluar kalau kau sudah siap!” jawab ommaku dengan nada tinggi.
Aku menghela nafas, kenapa harus hari ini? Tidak bisakah hari lain? Aku tak punya pilihan lain selain memakai tuxedo pilihan ommaku. Kurapikan dasinya dan kukencangkan tuxedo yang kupakai. Aku berjalan keluar dari kamar ommaku dengan wajah tanpa gairah.
“doojoon-a cepat kemari” kudengar ommaku memanggilku. Aku berjalan cepat menuju ruang tamu
“annyeonghaseyo, yoon doojoon imnida.” Aku membungkuk memberikan salam
“oh ini anakmu? Tampan sekali! Tidak salah Gayoon memilihnya” ujar ahjussi itu
Memilih? Memilih aku? Apa maksudnya?
“doojoon-a, ini direktur Heo seung wo, dan istrinya park yeon mi, sedangkan ini anak mereka Heo Gayoon.”
“annyeonghaseyo, Heo Gayoon imnida.” Kulihat yoja yang menunduk memberikan salam padaku, dia begitu anggun dan karismatik. Dia memandangku tersenyum. Aku terkejut begitu tahu dia mempunyai warna mata coklat terang yang mengingatkanku pada yoja yang kucintai.
“ehm…bagaimana kalau kita berangkat sekarang?” tanya appaku
“baiklah, gaja” jawab direktur Heo
Dalam kebingunganku, aku mengikuti mereka, aku masuk ke dalam mobilku bersama omma dan appaku
“omma, apa maksud semua ini?.” Tanyaku dalam bingung
Ommaku melihat appa kemudian melihatku, dia menghela nafas begitu panjang
“doojoon-a, kali ini kita betul-betul mengharapkanmu.” Omma menepuk pundakku perlahan
Aku semakin bingung, “mengharapkanku??untuk apa?”
“saat ini perusahaan ayahmu sedang resesi, kita tidak tahu lagi harus berbuat apa, kalau dibiarkan ayahmu akan bangkrut.” Jawab ommaku
“aku masih belum bisa mengerti omma.”ujarku
“Perusahaan direktur Heo menawarkan pada kita untuk bekerja sama, dan itu suatu pertolongan luar biasa yang tidak mungkin kita dapatkan bahkan dalam mimpi sekalipun, kau tahu kan? Direktur Heo adalah pemilik saham no 2 terbesar di Seoul.”
“Soal itu aku tahu, tapi apa kaitannya denganku?” otakku masih berpikir keras untuk merangkai kata-kata dari ommaku
“Tapi…mereka mengajukan syarat untuk membantu kita.”
“syarat????”
“sepertinya anak mereka menyukaimu dan mereka memintamu untuk menjadi menantu mereka.”
“MWO???????!!!!!!? Menantu? Kau menjodohkanku dengan gadis yang tidak kukenal omma???? Sirho!!!!!” aku terkejut dengan pernyataan ommaku yang begitu mendadak dan aku benar-benar tak suka. Lagipula bagaimana mungkin anak gadis mereka menyukaiku? Baru tadi aku bertemu dengannya
“YA!!!doojoon-a! kau ingin kita jadi gelandangan? lagipula sekarang hidupmu tidak jelas arah tujuannya! Disini ada kesempatan yang bagus yang tidak mungkin bisa kau raih lagi jika kau menolaknya, atau Kau masih belum melupakan gadis itu?” bentak appaku
Mataku membelalak terkejut dengan pernyataan appaku, aku menarik nafas dalam-dalam
“apa betul-betul tidak ada cara lain lagi appa?” tanyaku memohon
“tidak ada! Lagipula apa yang kau keluhkan dari anak direktur Heo? Dia begitu cantik dan santun, aku yakin kau akan jatuh cinta padanya.” Ujar appaku
“bagaimana kalau aku tetap tidak jatuh cinta padanya?”tanyaku
“Hidup itu penuh pengorbanan, berkorbanlah terhadap cintamu kali ini demi kita semua” jawab appaku
Aku menyandarkan kepalaku ke jendela kaca mobil. Aku memandang jalanan yang kami lewati dengan tatapan hampa. Tidak bisakah aku merasakan cinta lagi? Seumur hidupku? Ah…biarlah…toh jika dia nanti melihatku dan mengerti kehidupanku sekarang aku yakin dia tidak akan tertarik lagi padaku. Siapa yang akan menyukai seorang pemabuk yang tidak bisa melupakan orang yang telah mati?
Mobil kamipun berhenti di sebuah restoran yang terlihat highclass. Kami masuk dan diantarkan ke sebuah meja besar yang sudah tertata apik disana dengan makanan-makanan mewah diatasnya. Kami dipersilahkan duduk oleh direktur Heo. Setelah pembicaraan basa-basi oleh direktur Heo, kamipun dipersilahkan menyantap makanan yang dihidangkan. Yang bisa kulakukan disini hanyalah sibuk menyantap makananku sementara orang tuaku melakukan obrolan-obrolan bisnis yang tidak aku mengerti bersama direktur Heo.
Terus terang aku sungguh tidak tertarik mendengarnya. Mungkin aku yang dulu akan menyambung obrolan-obrolan ini karena topik ekonomi yang mereka bicarakan sangat aku kuasai, tapi aku yang sekarang sangat muak dan tak ada yang membuatku tertarik menggabungkan diri dengan obrolan mereka. Beberapa kali kucuri pandanganku ke yoja bernama Heo Gayoon, kulihat dia sangat serius memperhatikan obrolan orang tua kami dan beberapa kali menyampaikan pendapatnya soal perkembangan bisnis saat ini. Kupikir dia mengacuhkanku pada awalnya, tapi ternyata aku salah. Beberapa kali pandangan kami bertemu dan dia selalu membalas pandanganku dengan menyungging senyumnya.
Bagaimanapun aku mencerna kejadian hari ini, aku tetap kukuh pada kebingunganku. Benarkah anak mereka yang mengajukan perjodohan ini? Pertanyaanku hanya satu, kenapa? Satu-satunya yang kutahu dari yoja ini adalah dia satu universitas denganku, hanya itu! Karena orang tuanya yang begitu berpengaruh, tidak mungkin aku tidak mengenalnya sebagai putri kampus. Aku tetap menyantap makananku dengan kondisi otak yang tidak pada tempatnya. Sesekali kurasakan Gayoon menatapku lekat seakan ingin menelanjangiku. Ingin rasanya kuabaikan pandangan itu, tapi matanya seakan mengunciku sebagai target yang selalu diikutinya kemanapun aku pergi. Pandangan yang sangat membuatku tidak nyaman.
“Sekarang biarkan mereka berdua saja, bagaimana? Rasanya dari tadi kita mengganggu mereka, setidaknya biarkan mereka berkenalan.” Ujar direktur Heo
Apa?ditinggal berdua dengannya????!!! Baiklah, aku pasti mati kutu dibuatnya. Apa yang harus kubicarakan dengan yoja yang baru kukenal? Atau lebih baik kukatakan saja langsung padanya kalau aku tak menyukai perjodohan ini dan kuberitahu segala keburukanku agar dia menolakku dan mengurungkan niatnya? Ya…mungkin lebih baik begitu
“Disana ada meja untuk berdua yang sudah kupersiapkan dengan candle lightnya agar suasana lebih romantis, hahaha” tawa direktur Heo “Gayoon-a, antarkan doojoon kesana, bicaralah berdua dengannya.”
“ne appa.” Kulihat Gayoon menunduk pelan kemudian memandang ke arahku mengisyaratkanku untuk pergi bersamanya. Kulihat omma begitu cemas dan mengisyaratkan padaku untuk tidak bicara macam-macam. Kami berjalan melewati meja-meja restaurant dengan diantar oleh waiter. Kulihat meja kecil untuk pasangan yang sudah dilengkapi dengan lilin dan dessert, betul-betul ditata seromantis mungkin. Kami berduapun duduk dan saling berpandangan.
Kutarik nafasku dan kukumpulkan tenagaku untuk bertanya padanya
“kau….ehmm….agasshi…”
“agasshi? Kenapa memanggilku seformal itu? Panggil saja Gayoon, seingatku kita seumuran.” Jawabnya
“eh?er….tak apakah? Gayoon-ssi?”tanyaku
“sudah kubilang tidak perlu formal, cukup panggil aku Gayoon.”
Sejauh ini dia gadis yang cukup santun dimataku, tapi aku tetap pada pendirianku, aku tak mau dijodohkan dengan cara seperti ini.
“Baiklah…Gayoon, maafkan kalau aku tak sopan menanyakan ini padamu, hanya saja ini sungguh membuatku penasaran……ehm….benarkah kau yang mengajukan pertunangan ini?” tanyaku
“ne…” jawabnya dengan menyantap dessertnya. Aku terkejut dibuatnya
“wae????” tanyaku terkejut
“kau punya pacar?” tanyanya
Pertanyaannya membuatku terhenyak sejenak , kenapa dia malah bertanya balik padaku? Dengan kebingungan aku berusaha menjawab pertanyaannya tapi dia terlebih dahulu memotong keinginanku untuk berbicara.
“ah….aku lupa kalau kau sangat terkenal playboy di kampus….,tidak mungkin kau tidak mempunyai pacar…..ehm, minah-ssi, geurim-ssi,nana-ssi,yeorin-ssi,yeonsi-ssi…. apa diantara mereka ada yang kau cintai dengan serius?” dia tersenyum dingin padaku
“ka…..kau, bagaimana mungkin kau tahu??kau menyelidikiku?????!!!!apa maumu??” aku bertanya dengan nada tinggi padanya. Sekarang aku merasakan ketakutan melihatnya yang tetap tersenyum dingin, seakan aku tak kan bisa mengerti jalan pikirannya.
“oh…sepertinya tidak ada ya? Berarti tidak ada alasan bagimu menolak perjodohan ini.” Ucapnya dengan meminum seteguk wine.
“Tadi memang tidak ada, tapi sekarang aku mempunyai alasan yang kuat! Aku tak suka caramu! Aku tak pernah mengenalmu dan kesan pertamaku terhadapmu…maafkan aku! Tapi kau sungguh tak sopan menyelidiki kehidupan orang lain!”
“Kau ingin menolak perjodohan ini?” tanyanya
“ya!” jawabku tegas
“tapi aku tak mau” Jawabnya tersenyum menatapku “Kau tak berhak menolak perjodohan ini doojoon-ssi. sekali kau menolaknya, appaku akan mencabut bantuannya terhadap perusahaan ayahmu.”
“Kau…mengancamku?!” tanyaku penuh selidik
“mungkin bisa dibilang begitu…..lagipula tidak ada alasan kuat bagimu untuk menolak perjodohan ini.”
Aku menarik nafasku panjang, otakku mencoba untuk berpikir lebih keras lagi
“Ada! aku pemabuk! Aku tak pernah kuliah dengan benar!kau takkan bisa mencintai namja seperti itu kan? lagipula aku punya yoja yang kucintai!” Hampir saja kemarahanku meledak, tapi aku masih memikirkan bumonimku sehingga kutahan amarahku dalam-dalam
“Kau pemabuk dan pemalas aku tak peduli, lagipula yoja yang kaucintai seingatku sudah mati, dan itupun aku tak peduli. Sekali lagi kau ucapkan ingin membatalkan pertungan ini akan kukatakan pada appaku untuk pembatalan kerja sama perusahaan.”
Aku terdiam mendengar kata-katanya, sebenarnya apa tujuannya menyelidiku dan mendekatiku dengan cara seperti ini? Dalam keterkejutanku, kulihat dia mendekati kursi tempat aku duduk dan dia memandangku dengan matanya yang coklat terang. Pandangannya sungguh membuatku gugup
“Ada apa? “ tanyaku menutupi kegugupanku
“Baguslah sekarang kau lebih penurut, ehm….bisa berdiri doojoon-ssi? dasimu miring.”
“bi…..bisa kubetulkan sendiri. “ jawabku tergagap
“berdirilah, nanti aku dikatakan tunangan yang tak perhatian kalau membiarkanmu membetulkan dasimu sendiri, lagipula kau sudah selesai memakan dessertmu kan? Kita sudah ditunggu.” Ujarnya
Akupun berdiri sesuai dengan permintaannya dalam diam. Otakku masih berusaha mencari jalan pikiran yoja yang tepat ada dihadapanku sekarang. Dipegangnya kerah kemejaku untuk membenarkan dasiku yang miring. Tentu saja hal ini membuat dadaku berdegup hebat, aku tak menyangkal kalau dia adalah yoja dengan wajah yang sangat cantik walau kelakuannya bisa kukatakan sangat menyebalkan. Selesai membetulkan letak dasiku kurasakan wajahnya mulai mendekati wajahku dan menatapku dengan pandangan menantang. Keringat dinginku mulai mengucur deras.
“bisa menunduk sedikit?” tanyanya. Akupun sedikit menundukkan wajahku tanpa sadar atas perintahnya, seketika kurasakan tangannya menggamit kerahku, menarikku….dan kurasakan bibir kami bersentuhan, ya!dia menciumku!, dalam keadaan otak kosong aku merasakan ada blitz kamera yang menyilaukanku. Aku menarik tubuhku cepat dan mengusap bibirku
“apa yang kau lakukan!??? Kenapa kau menciumku???dan kau memotretnya??????” sungguh hari ini aku dibuat pusing tujuh keliling. Kulihat dia sibuk dengan iphonenya, mengetik sesuatu dengan cepat dan tersenyum padaku.
“Aku memotretnya sebagai bukti kalau kita sudah bertunangan, aku sudah mengirimnya ke ehmm….siapa saja tadi?ah…. minah-ssi, geurim-ssi,nana-ssi,yeorin-ssi dan yeonsi-ssi, kukatakan pada mereka kalau aku tunanganmu dan jangan pernah mengganggumu lagi,begitu? Kuharap kau siapkan pipimu besok.” Dia mengatakannya dengan menepuk lembut pipiku. Kutampik tangannya cepat
“Jangan kasar pada seorang yoja doojoon-ssi” ujarnya
Aku menelan ludahku cepat, tak bisa mengeluarkan kata-kata sama sekali untuk membalas semua perkataannya. Kurasakan iphoneku mulai bergetar dan kulihat layarnya, AISH!!! Yoja-yoja itu pasti menelponku untuk menanyakan perihal foto tadi! Segera kumatikan iphoneku. Amarahku sudah ada di ubun-ubun sekarang
“apa sebenarnya maumu Heo Gayoon??!!!”tanyaku dengan emosi yang sudah tidak bisa kubendung
“mauku? Aku hanya ingin menikah denganmu, sederhana kan? Ayo, orangtua kita sudah menunggu.” Jawabnya tersenyum, digamitnya lenganku erat dan dia menarikku ke tempat orangtua kami duduk
“bagaimana Gayoon-a” tanya direktur Heo
“Doojoon namja yang baik appa, aku menyukainya” jawabnya tersipu
Aktingnya di hadapan orang tua kami sukses membuatku terperangah menatapnya
“Doojoon-a, tolong jaga putriku, dia yoja yang lemah, jadi kuharap kau bisa menjaganya dengan baik.”
Yoja lemah? Dia??????!!!! Otakku sekarang benar-benar tidak bisa berpikir dengan baik dan aku hanya bisa menganggukkan kepalaku, kulihat Gayoon menatapku dalam dan tersenyum dingin.
GAYOON POV
Flashback
“Kumohon Gayoon-a….kumohon kau mau menjaganya..”
“Tidak bomi-ya! Aku yakin kau akan tetap hidup! Aku tak suka kau pesimis begini!” jawabku tegas
“ Hidupku takkan lama, kau tahu itu, aku sungguh ingin kalau dia bisa bersamamu, kau yoja baik, atau kau sudah punya orang yang kau cintai?”tanyanya memaksaku
“Aku memang belum menemukan mr.prefect-ku tapi itu bukan berarti kau bisa menyerahkan begitu saja orang yang kau cintai padaku!.”
“Kuharap kau mau memikirkannya Gayoon-a…kumohon…uhuk huk huk!”
Aku merasakan ada sesuatu yang kental mengalir di tanganku “kumohon…” ujar bomi lirih dengan menggenggam tanganku erat
Flashback end

“Gayoon-a! bagaimana penelitianmu? Sudah selesai?Gayoon-a?”
Aku tersentak dengan suara Jieun yang membuyarkan lamunanku
“Sudah, hanya tinggal aku revisi saja.” Ujarku
“eheeem…..sepertinya ada yang lagi melamun nih tadi….kudengar kabar kalau kau bertemu dengan calon tunanganmu kemarin?” Jieun bertanya penuh selidik. Aku tersenyum mengangguk
“nugu nugu???siapa namja yang begitu beruntung itu mendapat prefect agasshi di sebelahku ini?” tanya Jieun
“prefect agasshi? Kau berlebihan! Kau…. sangat mengenalnya dengan baik kok..,” jawabku
“ehm…biar kutebak, Lee Gikwang? Anak direktur Lee pemilik perusahaan real estate terbesar itu?” aku menggeleng cepat. “ atau…jang hyunseung? Namja cantik itu, direktur perusahaan termuda saat ini?” aku menggeleng tertawa.
“kau ini, apa hanya mereka yang ada di otakmu?” tanyaku
“lalu siapa? Ayolah , jangan membuatku penasaran!” paksanya
“baiklah….doojoon-ssi, Yoon doojoon, dia tunanganku.” Jawabku cepat
“MWO!!??? Doojoon??yoon doojoon?????playboy teri itu?? Kau yakin?” tanyanya
“kenapa? Ada yang salah dengannya?” tanyaku
“salah! Tentu saja salah! Reputasinya sangat tidak baik ! jangan kau katakan kalau kau mencintainya! Aku tak suka!”
“ya! Tenang saja, aku bisa mengatasinya, lagipula…..dia lucu.”jawabku geli
“apa maksudmu, aish….kenapa pula kau pilih dia? Padahal yoja sepertimu tinggal memilih sekian banyak namja yang mengantri untuk menjadi tunanganmu. Takkan ada yang menolakmu”
“tak ada yang menolakku? Buktinya ada tuh, si doojoon? Dia tidak menyukaiku, malahan kemarin dia ingin menolak perjodohan ini” jawabku
“menolakmu? Jinjja? Namja tak tahu diri, lebih baik kau batalkan saja sekalian!”
“Tapi…aku tak mau….hehehe” aku tersenyum nakal meninggalkan jieun yang terbengong-bengong menatapku pergi.
Aku berjalan menuju taman yang tak jauh dari kampusku, kulihat seorang yoja berbicara dengan seorang namja dengan suasana tegang di bawah pohon rindang yang biasa kutempati untuk berteduh. Aku berjalan mendekat dan baru kulihat dengan jelas bahwa namja itu adalah doojoon
“Ya! Apa maksud semua ini? Apa maksudmu berciuman dengan yoja ini? Benarkah dia tunanganmu? Lalu kau menganggapku apa selama ini.”
Kulihat doojoon hanya terdiam “ Sudahlah, aku tidak mau berargurmen lagi. Aku memang sudah bertunangan dan aku tidak bisa menolaknya”
“Lalu kau anggap apa hubungan kita selama ini? Baiklah aku tanya padamu kau mencintaiku atau tidak?”
Kulihat doojoon hanya terdiam menunduk tidak menjawab dan berlagak acuh
“baik kalau begitu!” yoja itu maju mendekati doojoon dan
PLAAAAK
Terdengar suara tamparan yang begitu keras, rupanya tangan yoja itu mendarat dengan sukses di pipi doojoon dan membuat pipinya merah sekali
“Setidaknya beritahu aku, siapa yoja ini!” Tanyanya lantang
Aku melangkah mendekati mereka dan kutepuk pundak yoja itu, dia menoleh cepat
“yoja itu aku, ada masalah?” tanyaku dengan tersenyum. Dia sangat terkejut melihatku dan sepertinya dia mengenalku. Dia memandang doojoon yang memegang pipinya yang memerah dan pergi mengambil langkah seribu. Kulihat doojoon yang terkejut karena baru menyadari kedatanganku
“Aku sedang tak ingin melihatmu!” Dengan terburu-buru dia mengambil semua barangnya untuk bergegas pergi meninggalkanku
Kutarik tangannya cepat-cepat. “apa?!!! Auch!” kukompreskan tisu basah ke wajahnya
“duduklah.” Dia memandangiku yang akhirnya menurutiku untuk duduk
Kuambil sapu tanganku dan kubasahi dengan air minum yang kubawa. Kukompreskan ke pipinya yang merah
“Auch….!ini semua salahmu!” omelnya
Aku hanya tersenyum dan tidak membalas perkataannya
“hebat juga dia…ehm…siapa??ah….. nana-ssi? Bisa membuat pipimu semerah ini.” Ujarku
“Kau perlu tahu kalau ini tamparan ketiga yang kuperoleh hari ini dan semuanya gara-gara mmsmu itu!”
Dia memelototiku dengan matanya yang tajam. Aku sedikit menekan pipinya karena jengkel
“AUCH!!! Sudah aku bisa mengompresnya sendiri!” direbutnya saputanganku dariku. Aku menertawakan tingkahnya yang seperti anak kecil
“Salahku? Salahmu sendiri pacarmu banyak, dasar playboy, kenapa kau menyalahkanku?” jawabku tak terima
Dia balik menatapku tak terima “aku tak mau berdebat denganmu! Kau sudah cukup merusak hidupku!”
“Merusak hidupmu?aku? kurasa kau salah bicara doojoon-ssi! Bukannya kau sendiri yang merusak hidupmu? Setiap hari bersama yoja yang berbeda? setiap hari ada di club malam? Mahasiswa berprestasi yang berubah drastis menjadi orang tak berguna sekarang.”
Dia terhenyak mendengarkan perkataanku
“itu bukan urusanmu! Aku senang dengan hidupku sekarang! Annyeong!” Diambilnya barang-barangnya dengan segera kemudian pergi meninggalkanku
Aku menghela nafasku panjang. Bomi-ya…sepertinya ini akan jadi perjuangan yang cukup berat untukku
******
2 minggu sudah aku mencoba mengontak doojoon tapi tak pernah ada balasan, dia selalu berhasil menghindar dariku bagaikan belut. Dia juga tidak pernah menampakkan dirinya di kampus maupun pulang ke rumahnya. Kesibukan kampusku juga membatasiku bergerak bebas untuk mencarinya.
“Gayoon-a, aku tidak tahu harus bagaimana. Bagaimanapun dia selalu pulang entah bagaimana keadaannya, baru kali ini dia tidak pulang sama sekali” Nyonya kim menangis di depanku dan aku bingung harus berbuat apa.
“Tenang saja nyonya kim, aku akan membawanya pulang, sepertinya aku tahu dimana dia,oh ya, kumohon jangan beritahu appaku soal ini atau perjodohan ini bisa batal.” Ujarku
Nyonya Kim mengangguk dalam kebingungan
Aku segera menancap gas mobilku, kupencet nomor doojoon yang ada di iphoneku, segera mungkin kugunakan layanan GPS untuk mencarinya,
Tuuut tuuut
Kuharap dia mengangkatnya kali ini dasar namja sial!
KLEK
Kutarik nafasku lega karena adanya indikasi kalau telponku diangkatnya
“yo…bo se…yoo???” kudengar sudara namja yang sepertinya mabuk di ujung sana.
“neo….odi????” tanyaku
“…………..” aish! Dasar pemabuk! Kumatikan iphoneku dan kulihat posisinya dengan GPS. Kutekan no kepala pelayanku cepat-cepat
“ne ….agasshi ada yang bisa kubantu?”
“kirimkan 2 orang ke XXX PUB segera dan jangan kau laporkan pada ayahku!”
“baik agassi, segera saya laksanakan”
*****
Kutatap dingin seorang namja tak berguna yang sedang bermabuk-mabukkan dengan memeluk yoja di sebelahnya
“ah…kau nakal sekali, oppa……” bau minuman keras yang merebak di pub ini benar-benar membuatku ingin muntah.
“yoon doojoon, apa yang kau lakukan disini????pulang!!!” teriakku padanya. Yoja yang dipeluknya memandangku dengan tatapan tak suka. Doojoon memicingkan matanya padaku.
“Neo……!!! Sirho!!!! Aku ingin disini ~~~~.” Dia kembali memeluk yoja disampingnya itu. Dengan kemarahan yang sudah diubun-ubun, aku memberi isyarat pada dua pelayanku untuk menariknya paksa.
“Sirho!!!apa maumu yoja sial??? Aku tak mau pulaaaaaaaaang” kedua pelayanku tetap menariknya tanpa ampun dan kututup kupingku terhadap teriakannya itu
“masukkan dia ke mobilku, kalian boleh pulang.”
“ne agassi…..!”
Dengan keadaannya yang cukup mabuk, dia tidak bisa melawan kedua pelayanku dan tergolek pasrah disamping bangku sopir mobilku. Aku memandangnya dalam-dalam, bomi-ya, apakah kau selalu memandangnya seperti ini? Apakah karena aku memandangnya dengan kedua matamu sehingga aku tak bisa membencinya. Pandanganmu ini selalu memberiku perasaan yang aneh terhadapnya.
Segera kutancap gas mobilku menuju rumahnya
“bomi…ya…..saranghe……nomu saranghe……” Seketika aku terkejut dengan igauan namja di sebelahku ini, kulihat setitik air mata mengalir di wajahnya . Bomi-ya~~apa yang harus kulakukan??? Mr.prefectmu ini masih sangat mencintaimu, andai kau masih ada, dia tidak mungkin seperti ini. Tapi aku tahu, aku hanya bisa berandai.
Kuhentikan mobilku di taman milik keluarga yoon. Nyonya Kim menghampiriku dengan segera dan melihat doojoon dengan cemas
“Aigo…..dia kenapa??” tanyanya
“tak apa nyonya kim dia hanya mabuk.tolong bantu aku mengangkatnya ke kamar.”
Postur doojoon yang terbilang tinggi dan cukup besar membuat kami berdua bersusah payah mengangkat tubuh itu ke kamarnya. Kurebahkan badannya di tempat tidur dan kuseka wajahnya dengan kompres dingin.
“Gayoon….ehmmm agasshi??” Kata-kata agasshi yang keluar dari mulut nyonya kim membuat pandanganku beralih seketika dari doojoon. Kutatap bibir nyonya kim bergetar mencari kata-kata. “mungkin lebih baik perjodohan ini dibatalkan saja, kami akan berjuang sendiri unuk memperbaiki kehidupan kami, aku merasa malu menyandingkan anakku denganmu, kau terlalu baik untuknya” ujar nyonya kim dengan wajah yang merasa begitu bersalah padaku. Kusunggingkan senyum simpulku
“Tidak nyonya kim, aku tidak akan membatalkan perjodohan ini, ada alasan kuat kenapa aku memilihnya dan aku yakin dia bisa berubah. Sekarang izinkan aku menemaninya.”
Nyonya Kim mengangguk dalam dan membiarkanku berdua dengan doojoon.
Kutelusuri barang-barang yang ada di kamarnya, buku-buku kuliah yang lama tak disentuhnya, bola sepak yang tergeletak begitu saja di kolong meja. Laptop merk apple yang tak pernah dibukanya. Aku menghela nafasku dalam, aku tak tahu sehancur apa hidupnya setelah ditinggalkan oleh bomi.
Seketika mataku terbentur pada foto yang terpampang di meja kecilnya. Foto doojoon yang tertawa dan memeluk mesra seorang yoja yang begitu cantik dengan rambut sebahunya. Air mataku mengalir begitu saja menyadari bahwa yoja cantik itu adalah bomi. Kupegang foto itu dan kutatap lekat-lekat.
Bomi-ya, kau begitu cantik di foto ini, kenapa kau harus menyerahkan namja ini padaku? Bisakah kau ajari aku bagaimana aku bisa mencintai mr.prefectmu ini? Aku tak yakin bomi-ya,aku tak yakin aku bisa mencintainya dan dia bisa mencintaiku sebagaimana dia mencintaimu, bagaimanapun kita dua yoja yang berbeda, apakah bisa perasaan ini dipaksakan? Haruskah??
Kupandangi namja yang tidur terlelap di tempat tidurnya. Tak bisa kusangkal dia mempunyai garis wajah yang tegas dan cukup tampan untuk ukuran seorang namja. Seketika dadaku terasa sesak. Kurasakan kembali perasaan aneh yang membuat jantungku berdegup ketika melihat namja ini. Kupegang tangannya erat dan kuletakkan kepalaku di atas tempat tidur. Entah kenapa rasanya aku lelah sekali, akupun terlelap.
DOOJOON POV
Kubuka mataku perlahan, kepalaku terasa berputar hebat dan pening setegah mati, ini pasti gara-gara aku mabuk semalam. Eh? Bukankah ini kamarku? Dan aku di atas tempat tidurku?. Bagaimana mungkin aku sudah ada di kamarku sendiri? Aku sama sekali tak ingat dengan kejadian kemarin. Kurasakan genggaman hangat tangan seseorang dalam kebingunganku. Aku begitu terkejut melihat yoja bernama Heo Gayoon tertidur lelap dengan kepala di atas tempat tidurku dan tangannya yang menggengamku erat. Baru kuingat dialah yang membawaku kembali ke rumahku.
Kuusap mukaku dan kupandangi wajah tidur yoja itu. Eng….apa yang dipegangnya? Bukankah itu fotoku bersama bomi?
“Gayoon-a….ya! bangun!” kutepuk pipinya perlahan
“ehm……ah…..kau sudah bangun?” tanyanya dengan mengusap kedua matanya. Kulepas tanganku cepat-cepat dari genggamannya
“kau…kenapa ada disini???” tanyaku
“mana tega aku meninggalkanmu dalam keadaan mabuk berat seperti itu, aku tak setega itu.” Jawabnya dengan berusaha membuka penuh kedua matanya
“Dan kenapa kau memeluk fotoku?”
“ah……ini?” kulihat dia tersenyum dengan senyum yang tak pernah kulihat selama ini, kesepian tepatri jelas dalam senyumnya.
“aku begitu terpesona dengan mendiang pacarmu ini, dia cantik sekali dan kau begitu tampan bersamanya.”
Kata-katanya membuatku terhenyak seketika.
“Kau terkejut? Kau tak menyangka aku mengetahuinya kan? aku mengenalnya lebih dari yang kau kira doojoon-ssi, aku mengenal Bomi dengan sangat baik, dan dia adalah seorang yoja yang mempesona.”
“Bomi? Kau mengenal Bomi? Sebenarnya apa maumu Heo Gayoon? Aku sungguh tak mengerti, kenapa kau tahu semua tentangku? Terus terang saja aku tidak merasa kalau kau mencintaiku, tidak sama sekali.”
“benarkah? Kalau begitu kuharap aku bisa mencintaimu” jawabnya “aku tahu kau begitu mencintainya, kau sangat mencintai bomi, aku tak memintamu untuk mencintaiku, karena aku memang tak pantas disandingkan dengannya. Tapi kuharap kau mau memperbaiki hidupmu melalui kesempatan yang kuberikan ini, karena hanya itu yang bisa kulakukan, Setidaknya lakukanlah demi mendiang kekasihmu ini, dia pasti tidak mau melihatmu seperti sekarang.”
Aku berpikir dalam peningku. Kepalaku seakan dipukul martil berkilo-kilo, bukan akibat mabukku tapi lebih dikarenakan perkataannya yang ditujukan padaku
“Setahuku Yoon Doojoon yang bomi cintai adalah orang yang bekerja keras, memandang optimis segala sesuatu, mendobrak semua tembok yang menghalanginya, bukan seorang namja pesimis yang bisanya meminum berbotol-botol bir sebagai pelarian masalahnya. Sebaiknya kau pikirkan baik-baik perkataanku ini, annyeong”
Gayoon dengan segera keluar dari kamarku dengan meninggalkanku yang masih berusaha mencerna kata-katanya, merangkai segala sesuatu yang sudah kulakukan. Kusadari betapa aku menjadi namja yang begitu tak berguna setelah ditinggalkan oleh Bomi. Kulihat foto kami yang diletakkan Gayoon di atas tempat tidurku.
Bomi-ya, sebenarnya siapa yoja itu? Apa hubunganmu dengannya? Apakah kau yang mengirimnya untukku? Bomi-ya, aku berjanji akan kembali menjadi yoon doojoon yang dulu, doojoon yang kau cintai, karena sungguh aku tak ingin kau benci walau kau sudah tak berada di sisiku lagi.

CHAPTER 2
A bitter day, it will all get erased like this
It will all be forgotten someday
I might smile when the time comes
A Bitter Day (HyunA ft G.na and Yong Junhyung)

GAYOON POV
Flashback
“Mianhe Gayoon-ssi, aku tak bisa bersamamu lagi” kudengar suara namja yang kusayangi mengeluarkan kata-kata yang membuatku terhenyak dengan begitu dingin
“Gayoon-ssi? Kau memanggilku Gayoon-ssi? Apa maksudmu? aku tak mengerti.” Tanyaku dalam panik
“aku tak bisa lagi mengharapkanmu, sudah 1 tahun aku menunggu kesembuhanmu, dan apa yang kudapatkan? Nihil! Aku tak bisa bersama gadis buta sepertimu.”
“Gadis buta?” Aku masih begitu shock dengan kata-kata kasar yang keluar dari mulutnya
“Jadi kau anggap apa hubungan kita selama ini? Aku tak tahu perasaanmu padaku sedangkal ini.”
“Tak semua kenyataan itu indah, harusnya kau tahu itu. Dunia ini sangat kejam terutama pandangan orang-orang itu…aku sudah tak tahan lagi. Aku memang tergiur dengan kecantikanmu dan kekayaanmu, lagipula derajatmupun tak bisa diremehkan. Tapi aku lelah Gayoon-ssi, lelah menerima ejekan, lelah menemanimu yang berjalan dengan mata sendiripun tak mampu. Sekarang kau tidak mempunyai satu halpun yang bisa kucintai, apa lagi yang bisa kucintai dari seorang gadis buta?? Lagipula aku sudah mempunyai gadis yang lebih menarik darimu dan dia mencintaiku”
Aku begitu terpukul, kata-kata junhyung tepat menghujam hatiku begitu dalam,
“Ternyata kau hanya menganggapku perhiasan yang hanya ingin kau banggakan, sekarang ketika perhiasan itu sudah usang kau dengan dingin membuangnya. Maafkan aku yang menjadi begitu buruk dihadapanmu dengan mataku yang buta ini, tapi aku bersyukur, dengan kebutaanku ini aku tahu cintamu hanyalah sedangkal itu padaku! Jangan kau anggap aku tak tahu kau berselingkuh di belakangku Junhyung-ssi. Aku tahu semuanya. Seperti yang kau katakan derajatku tak bisa diremehkan dan aku memanfaatkan itu dengan sangat baik. Sekarang kuharap kita tidak saling mengganggu kehidupan masing-masing , aku akan menghilang dari kehidupanmu dan menghilanglah dari kehidupanku, kurasa pintu kamarku terbuka lebar untuk kau pergi!”
“Kau jangan sombong Gayoon-a, sekarang yang kau punyai hanya harta, tak lebih!aku juga tak mau berlama-lama disini, annyeong!”
Kudengar pintu kamar pasienku yang tertutup begitu keras. Tanpa kusadari airmataku mengalir begitu deras membasahi mataku yang sekian lama kering.
Flashback end
Aku terbangun dari mimpiku, keringat dinginku mengucur deras. Kenangan yang paling ingin kulupakan kembali menghantuiku. Aku menarik nafasku panjang. Kulihat jam berbentuk kubus di mejaku. SIAL! Jam 10??? Aku langsung bergegas untuk mempersiapkan diriku. Kutancap gas mobilku cepat-cepat.
********
“Tebak apa yang kulihat tadi!!!” Kedatanganku langsung disambut dengan teriakan jieun tepat di telingaku.
“Wae???!! Kenapa pagi ini kau begitu heboh? Telingaku bisa tuli gara-gara teriakanmu!”
“tunanganmu itu!!!ya Tuhan!! Kau apakan dia??? Dia membawa buku bertumpuk-tumpuk dan menghadiri semua mata kuliah, bahkan kudengar dia mengajukan diri untuk penelitian jurnal ilmiah bulan depan!”
“MWO????aku sudah 2 minggu tak bertemu dengannya, jadi aku betul-betul tak tahu.”
Sejak kejadian itu aku sibuk dengan tugas-tugas kampusku dan aku tidak mengontak doojoon sama sekali dengan harapan dia dapat merenung untuk sementara waktu, dan aku begitu terkejut dengan kabar yang kuterima hari ini.
“Aish! Kau ini, kalau kau melihatnya pasti kau bisa meleleh karena terpesona, wajahnya jauh berubah sekarang! Aaaahhhh, menyesal aku, kenapa dia jadi tunanganmu sih??!”
“ya!!! Siapa yang dulu menghinanya, aish dasar chingu gila.”
“Ayo!!! Ppali!!!” ditariknya tanganku kuat-kuat
“Kemana??????aku harus menghadap profesor kim menyerahkan jurnalku” jawabku
“Ah ….itu bisa nanti, yang jelas kau harus lihat tunanganmu itu sekarang!!!”
Kupasrahkan tanganku yang ditarik jieun kuat-kuat ke arah perpustakaan.
“Ah kebetulan!! Itu lihat, dia disana!!!”
Seorang namja berkacamata dengan kemeja kotak-kotak ditekuk rapi sesiku terlihat duduk di meja yang terletak di tengah perpustakaan. Dihadapan terdapat bertumpuk-tumpuk buku yang terlihat tebal dan sulit. Namja itu sibuk menulis sesuatu yang sekiranya penting. Aku berjalan mendekatinya dan sangat terkejut mengetahui namja itu adalah doojoon. Tidak ada lagi wajah putus asa, tidak ada lagi wajahnya yang kusam akibat minum bir semalaman. Wajah yang kulihat sekarang nampak begitu segar dan karismatik.
“doojoon-ssi????” tanyaku perlahan
Didongakkan kepalanya menatapku dan dia tersenyum, senyum yang tak pernah kulihat sebelumnya, senyum yang berhasil membuat jantungku berdegup lebih hebat dari sebelumnya.
“Ah Chagi-ya!!??annyeong!!!” Ucapnya menyapaku. Panggilan chaginya terhadapku masih tidak kudengarkan dengan jelas
“doojoon-ssi, annyeonghaseyo, lee jieun imnida!!” teriakan jieun segera menyadarkanku dari keterkosongan otakku
“ah…..kau teman chagiku???annyeonhaseyo!!”
Cha…..chagi?????tadi dia bilang aku chagi? apa aku tidak salah dengar?
“Wua….kalian sudah saling memanggil chagi rupanya, ehm….sepertinya aku mengganggu. Ah…..aku harus menghadap proffesor kim, annyeonghaseyo!!!” Jieun segera berlari meninggalkan perpustakaan dan memberikan tanda peace padaku, dasar chingu gila!
“kau….tadi memanggilku chagi??atau aku yang salah dengar?” kucoba menata kata-kataku karena aku begitu gugup hari ini di hadapannya. Apa karena dia ingin balas dendam padaku karena perbuatanku selama ini?
“ ani……kau tak salah dengar. Bukankah orang akan merasa aneh nanti jika kita sudah bertunangan dan mendengar kita masih saling memanggil doojoon-ssi dan Gayoon-ssi??? by the way, kenapa kau tidak duduk dulu? Kau akan capek jika berdiri terus ” jawabnya
Aku menarik kursi yang ada di hadapannya “Lalu……apa ini berarti kau tak menolak perjodohan ini lagi??” tanyaku
“ehm…….kurasa aku akan mengikuti saranmu, kita akan belajar mencintai satu sama lain, lagipula aku yakin bisa mencintai orang yang mengenal bomi begitu baik. Kalau boleh tahu, sebenarnya apa hubunganmu dengan Bomi?” tanyanya sembari membetulkan letak kacamatanya
“Aku menganggapnya sahabatku, tapi aku tak tahu bomi menganggapku apa, yang jelas dia begitu baik padaku.”
“lalu apa kaitannya dengan perjodohan ini?” tanyanya
“Dia…..menitipkanmu padaku.”
Wajah doojoon nampak berubah seketika saat kusebutkan alasan itu.
“menitipkanku???padamu???”
“ya, dan……..dia begitu memaksaku, aku betul-betul tak bisa menolaknya. Maafkan aku, tapi hanya ini yang bisa kulakukan untuk memenuhi janjiku pada Bomi. “
“Hanya??? Yang kaulakukan ini menurutku sudah lebih dari cukup. Kau bahkan mengorbankan cintamu untuk ini, tidakkah kau ingin memilih sendiri namja yang kau cintai?” tanyanya dalam kebingungan dan kujawab dengan tersenyum kecut
“Bomi sudah mengembalikan hidupku yang tidak berwarna doojoon-ssi, yang kulakukan ini hanyalah sedikit dari yang bisa kulakukan. Lagipula belajar mencintaimu akan lebih baik….ehm…..aku …..tak pandai memilih namja, terakhir kali aku mencintai seseorang dia mengkhianatiku.”
Doojoon terdiam melihatku . Tiba-tiba dia menutup buku yang dibacanya, mengembalikan semuanya ke tempat semula dan menarik tanganku cepat.
“mau kemana?” tanyaku
“Kita sedang belajar mencintai satu sama lain kan? Bagaimana kalau kita kencan? Setidaknya bisa membangun chemistry yang ada, aku ingin menunjukkan padamu namja yang dicintai oleh bomi dan kuharap aku lebih baik dari namja yang mengkhianatimu itu.”
Aku tersenyum simpul
“neo…..aish …percaya diri sekali, ehm…tapi sebelum kencan bisakah kau membawaku ke suatu tempat?”
“kemana??”
“Rumah sakit Kang neung”

DOOJOON POV
Betapa terkejutnya aku ketika dia membawaku ke rumah sakit dimana bomi pernah dirawat.
“maaf aku belum ada janji tapi…..ehm…dokter park ada? Saya Heo Gayoon” tanyanya di depan meja front office rumah sakit itu
“ah… Heo agassi, kebetulan dokter park baru saja datang, silahkan masuk.”
“ayo..” ditariknya tanganku ke sebuah ruangan dengan tulisan eye medical treatment didepannya
“annyeonghaseyo dokter park!”
“ah…Heo agassi???seingatku janji kita minggu depan?” ujar dokter yang ada di depanku itu
“ah…aku khawatir minggu depan aku sibuk, tidak bisakah sekarang?” tanya Gayoon
“oke …kalau begitu, pemeriksaan ini tak kan lama”
Kulihat mata Gayoon diperiksa dengan beberapa alat yang ada di ruang tersebut
“semua baik-baik saja agassi, sejauh ini perkembangannya jauh lebih baik dari yang kukira”
“jinjjayo?? Kamsahamnida “
“eh…dari tadi aku ingin bertanya siapa namja ini agassi??”
“yoon doojoon imnida annyeonghaseyo.” Aku menunduk perlahan
“ah…dia tunanganku dokter, dalam waktu dekat akan diadakan pestanya, kuharap dokter mau datang.” Jawabnya tersenyum
“wah …chukhae!! Saya turut senang .” ujar dokter itu
“kami permisi dokter.annyeonghaseyo..” kutemani Gayoon membungkuk dalam-dalam
****
Kami berjalan di taman rumah sakit atas permintaan Gayoon. Kulihat dia begitu bernostagia berjalan di atas rerumputan taman.
“kau….ehm…pernah di rawat disini??” tanyaku
“kau tahu doojoon-ssi? Dulu aku pernah buta.”
Perkataannya membuatku menelan ludahku, buta? Dia pernah mengalami masa lalu seperti itu?
“dan aku bertemu dengan bomi, di taman ini, dia….sama sekali tidak tahu siapa aku, dia hanya tahu aku gadis buta dan yang kutahu tentangnya hanyalah dia seorang gadis dengan leukimia yang dideritanya dan dia sangat mencintai seorang namja bernama yoon doojoon.”
Dia menatapku dan melanjutkan ceritanya “dia selalu membicarakanmu, bagaimana rupamu, apa yang kaulakukan jika kau menjenguknya, apa saja kelebihanmu, apa saja yang kau tak suka , dia bahkan hampir tak pernah membicarakan tentang dirinya sendiri.Saat itu, betapa aku ingin melihat kalian berdua berada di pelaminan dan aku menggandeng tangan bomi di upacaranya.Aku merasakan cinta kalian yang begitu dalam di antara kalian walau aku tak pernah melihatnya sendiri. “
Aku melihat wajahnya yang menahan tangis. “Saat mendekati ajalnya, dia mengatakan padaku bahwa dia akan mendonorkan matanya untukku. Pada awalnya aku menolak keras-keras, tapi dia memaksa, dia ingin memberikan apa yang bisa diberikannya untukku, sebagai gantinya, dia ingin aku menggantikannya untuk menjagamu,karena dia tahu kau adalah namja yang kuat tapi rapuh tanpanya. Mata ini….adalah mata milik yoon bomi yang kau cintai doojoon-ssi.”
Kutatap yoja itu lekat-lekat, kutemukan bomi yang memandangku dalam pandangan mata itu.

“Oppa-ya, jika aku nanti sudah meninggalkanmu, kuharap kau bisa bahagia, jangan menutup pintu hatimu, pilihlah yoja yang lebih baik dariku” dia menatapku dan memegang lembut wajahku
“kau bicara apa? Aku tidak ingin melupakanmu! Tidak untuk seumur hidupku! Aku akan selalu mencintaimu egi-ya, dan kau akan terus hidup!” jawabku tak terima, kerongkonganku tercekat mendengar kata-kata itu dari bibirnya
“oppa-ya, terimalah kenyataan walau itu pahit, aku tidak memintamu melupakanku, ingatlah aku seumur hidupmu, tapi janganlah tutup pintu hatimu terhadap yoja lain, kau masih berhak merasakan cinta selain dariku .”

Bomi-ya, apakah kau mengharapkanku mencintai sahabatmu ini? Inikah yoja pilihanmu untukku?
Kugenggam tangan Gayoon erat-erat, kami menyusuri taman rumah sakit kangneung dengan lamunan kami masing-masing.

GAYOON POV
Perpustakaan Seoul university
Kulihat kertas yang dari tadi dicoret-coret oleh yoon doojoon dengan isi sebagai berikut :
Saling memanggil dengan panggilan sayang
Kencan minimal seminggu sekali
Sebagaimanapun sibuknya tidak akan lupa untuk saling sms. Setiap harinya ucapkan kata-kata pengantar tidur
Jika ada proyek jurnal ilmiah keduanya harus ikut atau tidak sama sekali agar tidak jarang bertemu
Sering bermain ke rumah calon mertua
Menyimpan foto berdua dalam dompet dan kamar
………………………..
“ehm………”
“Jangan hanya ehm!! Bantu aku berpikir!!!” ujar namja di depanku
“ yah!kau lebih baik menyuruhku mengerjakan pekerjaan keuangan perusahaan ayahku daripada memikirkan ini! Aku tak tahu apa-apa selain kencan!” ujarku
“tunggu…….memang dulu kencanmu seperti apa??” tanyanya
“ehm…paling ke pesta, dinner candle light, jalan-jalan ke mall, something like that, nothing special.” Kataku
“wuueeeek, pantas saja, mana ada chemistrynya kencan seperti itu, apa tak pernah kalian mencoba tantangan seperti kemah? Atau ke alam seperti ke laut, mencoba sesuatu yang lain?”
Aku menggeleng
“jangan bilang kau tak pernah ke taman bermain..”
“ajak aku ke sana lain kali. Aku tak pernah kencan disana” Jawabku antusias
Kulihat doojoon menepuk jidatnya perlahan. “ ok, itu masalah mudah sekarang kita penuhi dulu point pertama, ehm…kau ingin dipanggil apa?”
“ehm…aku tak biasa dipanggil selain namaku,terserah kau saja”
“baiklah akan kupanggil kau chagi, dan kau panggil aku yeobeo, deal?” tanyanya
“ok, deal, point kedua,ehm…kita mau kencan dimana?” tanyaku lagi
“Kurasa point kedua dan seterusnya itu masalah mudah, kencan bisa kapan saja kapanpun ada waktu, bukankah kau ingin ke taman bermain?”
Aku mengangguk cepat dan tersenyum antusias. Diacak-acaknya rambutku sampai berantakan
“ wae????aish jangan membuat berantakan rambutku!susah sekali aku menatanya!” jawabku
“mukamu itu menggemaskan! Sepertinya aku yang bakal duluan suka padamu.” Perkataannya membuat jantungku berhenti mendadak kemudian kembali berdegup dengan begitu kencang
“Kau ingin membuatku gagal jantung? Baiklah kau berhasil….kubalas lain kali.”
“yah! Ini bukan ujian! Apanya yang berhasil? Dasar yoja aneh, kau itu….betul-betul beda dari bomi.”
“Maaf deh, aku memang tidak seperti bomi yang lemah lembut, sepertinya walau dunia ini terbalik aku takkan bisa seperti dia.” Ucapku dengan menembamkan pipiku bulat-bulat
“kau cemburu?? “tanyanya menggodaku
“ani….aku hanya menyesal kenapa aku tak seperti bomi. Mungkin proses “belajar mencintai” ini akan lebih mudah jika aku sepertinya.” Ku lihat lagi kertas yang berisikan “cara belajar saling mencintai” itu
“Aku justru bersyukur kalian tidak memiliki sifat yang sama, aku jadi bisa melihat kalian adalah dua yoja yang berbeda dan tak bisa kubanding-bandingkan. Aku memang mencintai bomi dengan segala sifat lembutnya. Dan sekarang aku akan belajar mencintaimu dengan segala sifatmu itu.”
Kata-kata dari namja itu membuatku terkesiap dan tertegun, seketika wajahku begitu panas, aku menunduk untuk menyembunyikan wajahku, aku tak ingin dia tahu wajahku tiba-tiba berubah warna. Kufokuskan lagi pandanganku pada kertas corat-coret itu
“ah…ada yang kurang…,ehm…kau tak menulis kita harus melakukan skinship seperti apa.”
“mwo??skinship? ya! Kau sudah pernah menciumku, apa mau minta lebih?nanti saja kalau sudah menikah”ujarnya
“Aish !! dasar piktor!!! Aku dulu menciummu tanpa ada perasaan sama sekali, mana bisa dihitung sebagai skinship??” ujarku
Tiba-tiba dia mendekatkan wajahnya padaku, cukup dekat hingga aku bisa merasakan hembusan nafasnya. Aku menarik nafasku dan menelan ludahku perlahan untuk menutupi kegugupanku
“kalau sekarang, sudah ada perasaan?” tanyanya dengan tersenyum nakal
“kalaupun ada aku tak mau menciummu, apa asiknya ciuman di perpustakaan?” jawabku
Tiba-tiba dia memajukan wajahnya dan kurasakan bibirnya sedetik menyentuh bibirku, sedetik itu membuat aku membelalakkan mataku bulat-bulat. Kutoleh kanan kiriku dan….AISH NAMJA SIAL INI!! Aku menunduk cepat-cepat karena pandangan semua pengunjung perpustakaan tertuju ke arah kami berdua.
“Ini asyiknya, kita malu berdua,hahaha, anggap balasan yang dulu, sekarang kita satu sama, Aku ada janji dengan dosenku, annyeong.”
Aku menahan teriakanku yang hampir keluar dari mulutku saat itu, kuambil barang-barangku dan kuikuti langkahnya keluar dari perpustakaan
“ya! Yoon doojoon!!!!” dia menoleh mendengar teriakanku
“kau gila ya????! Apa maksudmu tadi, kalau ingin membalasku tidak begitu juga caranya!!!!”
“hahahaha anggap saja aku memang gila, sekarang aku begitu menikmati mata kuliah yang bernama “mencintai” dan aku sedang berusaha mendapat nilai A di mata kuliah ini, ketemu lagi sabtu! Annyeong chagi-ya~~~~.”
Ditinggalkannya aku yang belum menutup mulutku akibat terperangah di depan pintu perpustakaan universitas

WRITER POV
Malam itu sebuah mobil classic jaguar berhenti di kediaman keluarga yong. Namja dengan kacamata hitamnya turun dari mobil itu dengan lagaknya yang angkuh. Dipeluknya omma yang berlari menghampirinya setelah 1 tahun tak bertemu dengan anak tercintanya itu.
“junhyungie~~~ bagaimana perjalananmu?”
“capek omma……lagipula kenapa aku disuruh buru-buru pulang si? “
“aigoo…. Kau tak kangen bumonimmu lagi?ommamu ini sudah merindukanmu setengah mati”
“tentu aku kangen….tapi urusanku di sana belum selesai, penelitianku terpaksa kubawa pulang kesini.”
“banyak hal yang harus kaulakukan, termasuk acara pertunanganmu dengan hara,ini berkaitan dengan kontrak kerjasama yang harus dipercepat.”
Junhyung mengerutkan keningnya. Dia berpikir keras-keras dalam kelelahannya
“haruskah secepat ini omma? Aku sedang tak berminat memikirkan masalah ini.”
“junhyungie, omma tak mengerti apa maumu, Kau tidak bisa seenakmu sendiri sekarang karena ini berkaitan dengan nama baik dan bisnis ayahmu.”
Namja itu menghela nafasnya panjang
“ne omma, arasseoyo”
Junhyung melangkah gontai menelurusi lorong rumahnya yang begitu besar menuju kamar yang lama tak ditempatinya.

Junhyung POV
Kumasuki kamar yang begitu lama tak kutempati itu. Kuambil poto kecil yang terpampang di mejaku dan kurebahkan badanku di kasur. Poto seorang yoja berambut panjang terurai dan tersenyum sedang kupeluk erat di pinggangnya. Aku tak menyangkal hara adalah seorang yoja yang cantik dan baik terhadapku, bernilai tinggi sebagai seorang menantu keluarga yong, tapi entah kenapa aku tak merasakan sesuatu yang istimewa dengannya. Sesuatu yang kurasakan saat bersama Gayoon.
Kutarik foto yang ada dibaliknya, fotoku bersama Gayoon yang masih tersimpan rapi dan tak bisa kubuang. Sebenarnya apa yang kulakukan? Hanya demi gengsi ? atau memang aku yang menjadi terlalu bodoh akibat celaan teman-temanku dan paksaan orangtuaku untuk segera putus darinya? Sekarang semua sudah terlambat. Kuletakkan foto itu di meja kecil samping tempat tidurku, akupun tertidur dalam lelah.

CHAPTER 3
If even from a long distance
I could look upon you
That’s what you call love
If perhaps this yearning, this longing
When it sounds, when it touches
Please just act like you didn’t know
Although the closer I get to you, the more scared I get
I guess I cannot stop this love
(Can You hear me – taeyeon)

DOOJOON POV
Kumasuki kamar yang diisi berbagai macam furniture dengan warna dominan hitam putih dan walpaper abstrak yang menghiasi temboknya . Berbagai foto terpampang rapi dan keterangan-keterangan dibawahnya. Foto kelulusan SD, SMP, SMA, kejuaraan lomba karya ilmiah, foto-foto keluarga, semua berjajar apik di dindingnya. Kulirik seorang yoja yang masih terlelap dalam alam mimpinya berada di atas tempat tidur dengan bed cover putih bermotif bunga kecil yang terletak di tengah kamar itu. Kudekati dia perlahan, kududuki kursi kecil yang ada di samping tempat tidurnya. Kuperhatikan wajah yoja itu dengan seksama, apa semua yoja begitu mempesona ketika sedang tidur? Seperti ada magnet yang menarik para namja sehingga tak bisa lepas memandanginya. Kusentuh pipinya dengan telunjukku perlahan,
“engg….??” Yoja itu hanya mengigau sejenak, lalu melanjutkan perjalanan di alam mimpinya itu.
Aku sungguh tak tega membangunkannya walau hari sudah beranjak siang, seingatku dia mengerjakan tugas dari profesor kim semalam suntuk. Kusentuhkan telunjukku lagi sebanyak dua kali ke pipi yoja itu.
“ennnng?? Nugu?? Jam…..”
Dia meraba-raba meja kecil di samping kasurnya dengan mata yang masih diusahakannya untuk dibuka, dilihatnya jam kubus yang berhasil dipegangnya itu. Tiba-tiba dia terkaget dan duduk di atas tempat tidurnya dan berusaha untuk membuka penuh kedua matanya
“MWO????jam 10.30?? AISH aku harus segera…..KYAAAAAAAA!!!!!!!”
Seketika dia teriak saat menyadari kehadiranku di sebelah tempat tidurnya
“ah….akhirnya kau bangun juga.” Ujarku tersenyum
“kau!!sedang apa di sini?? Kenapa kau masuk ke kamarku????!!!!!” tanyanya panik. Kulihat dia berusaha menata rambutnya yang masih berantakan
“Katanya kau kemarin lembur semalam suntuk untuk mengerjakan tugas profesor kim? Makanya aku menjemputmu agar kau tak usah menyetir mobil. Tadi ommamu bilang kau masih tidur dan menyuruhku untuk masuk ke kamarmu.”
Gayoon menepuk dahinya perlahan dan bergumam sendiri, dia masih membenahi rambutnya yang berantakan dan mengusap wajahnya dengan kedua tangannya.
“Wajahmu lucu saat tidur. Eunmph!!!!” lemparan bantal Gayoonpun sukses mendarat di wajahku.
“tolong keluar aku mau siap-siap dulu.” Ujar Gayoon dengan wajah marahnya tapi terlihat menggemaskan bagiku
“ne…ne… arasseo….., by the way fotomu waktu kecil imut juga….y EUMMPH!!” lemparan bantal kedua Gayoon kembali sukses mendarat di wajahku.
“keluuuaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaarrrrrrrrrr!!”
Akupun mengambil langkah seribu untuk segera keluar dari kamarnya dan akupun tertawa terbahak-bahak karena sukses mengerjai yoja yang satu ini. Entah kenapa aku begitu senang untuk mengerjai Gayoon. Ada keasyikan tersendiri melihat reaksi yang berbeda dari wajah karismatiknya itu. Aku berjalan menuju ruang tunggu yang ada di lantai satu rumah keluarga Heo.

GAYOON POV
“Doojoon paling suka kalau melihat yoja dengan dress putih.” Ujar bomi
“ah….berarti setiap kali kencan kamu pakai dress putih? Memang berapa dress putih yang kau siapkan untuk kencan?? “tanyaku bercanda
“hahahaha, tidak selalu tapi sering, aku punya berbagai macam model dress putih dan aku begitu senang melihat wajah doojoon yang terpesona dengan penampilanku.” Terdengar suara bomi menjawabku dengan nada tersipu yang membuatku tersenyum
“ Lalu dia tidak suka bau parfum wanita yang terlalu menyengat.”
“ehm….apa mungkin dia lebih suka bau antiseptik??auch!!” kurasakan tangan bomi yang memukul lenganku
“aish kau ini bercanda terus.Dia suka bau yang natural, katanya bau parfum wanita yang terlalu menyengat membuatnya mual” jawab bomi
“Dia bakal terus mual kalau ada di pesta perusahaan.”
Tawa bomi meledak
**********

Aku berkaca pada cermin yang melekat di dinding kamarku, kupakai dress putih, celana coklat ¾ dan hiasan rambut sederhana di rambutku yang kuikat samping. Kukenakan blazer warna coklat agar serasi dengan celanaku. Kupakai parfum dengan wangi natural seperti yang dinasehatkan bomi padaku. Kututup pintu kamarku rapat dan berjalan menuju tempat dimana namja itu menungguku.
“Mianhe lama, ayo berangkat.”
Namja itu menoleh dan begitu terkejut dengan dandananku
“kau……bomi mengatakannya padamu???”
“mengatakan apa??” tanyaku pura-pura tidak tahu .
“mengatakan kalau…..aish….tak penting, gaja.” Namja itu tersenyum simpul dan menggandeng tanganku
“Nyonya park, saya pinjam Gayoon sebentar.” Ujar doojoon
“ah ne….pinjam saja dia seharian, selamat bersenang-senang.” Kulihat ommaku begitu senang melihat kami
“omma aku pergi dulu, annyeonghaseyo” kubungkukkan badanku dalam-dalam
“ne……….hati-hati egi-ya..”
******
Mataku bermain mengamati wahana-wahana di taman bermain itu. Aku begitu antusias menaiki wahana permainan satu demi satu. Maklum, aku jarang ke taman bermain, terakhir kali aku ke taman bermain kelas 6 sd bersama teman-temanku. Kutarik tangan doojoon untuk menemaniku menaiki semua wahana permainan. Doojoon hanya tersenyum mengikuti langkahku.
“agak dekat sedikit”
“ehm….begini? “tanyaku
“yup , hana…dul……..set” KLIK
“ hasilnya bagus” kata doojoon melihat hasil foto yang tercetak keluar dari fotobox
“simpan ini di dompetmu dan sisanya pasang di kamarmu. Aku akan simpan sisanya.” Ujarnya
Kupandang foto itu dengan tersenyum geli .”ne….”
“kita istirahat sebentar , kau ingin minum apa? “ tanyanya padaku
“ehmm…coffee cream?” jawabku
“ok sebentar, tunggu di sini.”
Aku duduk di dekat bianglala, wahana terakhir yang kami naiki tadi. Aku begitu takjub melihat kota seoul yang terlihat begitu indah dan menawan dari ketinggian. Agak sedikit kesal rasanya ketika doojoon menertawakanku karena aku menempelkan wajahku lekat-lekat di jendela bianglala dan tak bergerak sama sekali. Kupandangi bianglala itu berputar perlahan dan membuatku sedikit pusing. Tunggu….pusing??kenapa aku pusing? Kurasakan kepalaku agak sedikit pening, ah sepertinya akibat lembur semalaman kemarin. Kupijat leherku sedikit. Dari kejauhan doojoon terlihat berlari menghampiriku. Kuturunkan tanganku dari leherku karena aku tak ingin dia tahu aku sedikit sakit.
“tidak lama kan?” tanyanya sambil memberikan minuman pesananku
“ani….” Kuminum coffee cream untuk melegakan tenggorokanku.
Tiba-tiba doojoon mendekatkan wajahnya ke wajahku dan aku begitu terkejut, aku hanya bisa memejamkan mataku dalam keterkejutanku itu, kurasakan dahinya menyentuh dahiku perlahan
“ehm?? Kenapa??” tanyaku sedikit lega, aku tidak ingin dikerjainya lagi dengan insiden ciuman tiba-tiba
“badanmu agak sedikit hangat, sepertinya kau sedikit flu gara-gara lembur semalam? Harusnya aku tidak mengajakmu keluar hari ini.” Ucapnya khawatir
“gwenchana….lagipula aku senang hari ini.”
“ayo!” doojoon berjongkok didepanku dengan memunggungiku
“mwo ya??”
“aku gendong sampai mobil, setidaknya kau bisa istirahat sebentar.”
“gwenchana??” aku sedikit ragu dan malu untuk menerima tawarannya itu.
“ayolah, aku tak mau kau tiba-tiba pingsan nantinya.”
Akhirnya akupun menerima tawarannya. Akupun bersandar perlahan pada bahunya yang bidang. Hangat badannya membuat peningku sedikit hilang dan sedikit mengantuk.
“ehm…doojoon-ssi.” Ucapku
“ya! Apa kau bilang tadi? Bukankah sudah deal kalau kau akan memanggilku yeobeo??” jawabnya
“ah…mianhe…ehm…yeobeo?? “
Kulihat dia tertawa karena mendengar nada bicaraku yang canggung saat memanggilnya dengan sebutan yeobeo. Tawanya membuat jantungku berdegup cepat seakan mau melompat keluar dari tubuhku. Kusentuhkan bibirku perlahan di pipi namja yang menggendongku ini. Dia menatapku dengan ekspresi terkejut dan wajahnya yang berubah warna menjadi kemerahan.
“sekarang kita dua sama” ujarku tersenyum.”gomawo”
Dengan wajahnya yang tersipu doojoon melanjutkan langkahnya yang dipercepat.
“Sepertinya kau benar-benar butuh tidur sekarang!” jawabnya gugup
Aku tersenyum simpul. Kuletakkan kembali kepalaku di bahunya. Bomi-ya, Can I really love your mr.Prefect? I think I start to fall in love with him.

Junhyung POV
“Mwo???dia sudah keluar??dia sudah sembuh???”
“ne….Heo agassi sudah lama keluar dari rumah sakit ini, terakhir kali operasi matanya berhasil karena ada donor mata yang cocok.”
“oh…kamsahamnida…” aku membungkuk dalam
Gayoon sudah sembuh? Benarkah Gayoon sudah bisa melihat lagi? Hatiku begitu gembira mendengar kabar itu. Aku begitu ingin menghampiri yoja yang dulu pernah kucintai itu? Dulu…?? Tidak ….sepertinya sampai sekarangpun aku masih mencintainya.
aku akan menghilang dari kehidupanmu dan menghilanglah dari kehidupanku
Aku masih begitu mengingat kalimat penuh kebenciannya akibat perbuatanku padanya. Aku sungguh tak punya wajah untuk bertemu dengannya lagi, tapi aku begitu rindu padanya. Otakku berpikir keras, Kutelusuri lorong rumah sakit kangneung perlahan.
Rrrrrrr
Kuangkat iphoneku yang bergetar dari sakuku
“yeobeoseyo?”
“egi-ya……neo eodi?” terdengar suara yoja dengan nada manjanya di seberang sana
“ah…..aku ada perlu dengan temanku, kenapa?” tanyaku
“besok ada pesta ulang tahun perusahaan ayahku, sekaligus pengumuman pertunangan kita, kau belum fitting baju kan? Lebih baik kita berangkat bersama .”
“ah? Besok? Pengumuman pertunangan kita besok?” aku begitu terkejut karena aku tak tahu apapun tentang rencana ini.
“aish…ommamu tak memberitahumu, ah…kita sudah tak ada waktu, sebaiknya kau lekas ke rumahku, kutunggu egi-ya..annyeong.”
Kupandang iphoneku lekat-lekat. Apakah ini balasanku yang telah menyakiti Gayoon? Tak ada lagi hak bagiku untuk bahagia dengan pilihanku sendiri. Aku hanya bisa melangkahkan kakiku gontai menuju mobilku.

Doojoon POV
Kediaman keluarga Heo
“mianhe doojoon-ssi, biasalah perempuan, persiapannya lama.” Ujar nyonya Park
“ah…gwenchanayo, aku saja yang terlalu cepat datang.” Jawabku
“ehm….yeobeo….., otte??”
Kutolehkan wajahku perlahan, mataku terbelalak seketika melihat yoja dengan gaun biru tuanya dan rambutnya yang digelung ke atas. Leher dan tangannya yang dihiasi mutiara dengan desain elegan dan rambutnya yang dihiasi perhiasan bernilai tinggi membuatku menahan nafas.
“Nomu yeppo.” Baru kali ini aku begitu terpesona melihat kecantikan Gayoon. Pertama kali aku bertemu dengannya belum kurasakan debaran yang begitu kencang seperti yang kualami hari ini. Kubenarkan perhiasan di rambutnya yang sedikit miring. “ehmm…..gaja?” tanyaku
Digamitnya lenganku cepat. “ne…ayo omma, appa…”
********
“hhh….pesta perusahaan itu melelahkan.”ujarku
“kau harus terbiasa karena ini juga akan menjadi masa depanmu kelak.” Ucap Gayoon yang menyebarkan senyum bisnisnya.
“aish…..begitukah? sepertinya aku harus belajar senyum bisnismu itu.” Aku mendesahkan nafasku panjang
“chingudeul~~~~~.” Kudengar teriakan seorang yoja yang memanggil kami
“ah….Jieun-ssi?”
“Kalian serasi sekali, ah…kapan kalian mengumumkan pertunangan kalian, aku sudah tak sabar!”
“hey, siapa yang mau tunangan siapa yang bingung coba? Dasar kau ini.” Ujar Gayoon
Jieun tertawa memandang kami “Gayoon-a….aku senang kau bahagia sekarang.” Kulihat Jieun menepuk lengan Gayoon perlahan.”aku kesana dulu, annyeong.”
Senyum mengembang di wajah Gayoon dan melambai pada temannya itu. Hatiku bertanya-tanya, bahagia? Benarkah sekarang dia bahagia? Kami masih dalam proses “belajar mencintai” walau kurasakan kemajuan kami lumayan baik.
Satu kendala yang kami hadapi adalah kami masih belum mengungkapkan isi hati kami masing-masing. Aku belum tahu apakah Gayoon sudah mencintaiku atau tidak, sedangkan aku? Aku sudah mulai mencintai yoja ini, aku begitu menyukai tawanya, wajahnya yang marah terlihat begitu menggemaskan dimataku, suaranya yang canggung ketika memanggilku yeobeo sering membuatku tersenyum simpul. Tapi aku belum begitu percaya diri untuk membahagiakannya, lagipula secara finansial dia jauh diatasku. Bagaimanapun aku punya harga diri sebagai seorang laki-laki agar bisa sejajar dengan yoja yang kucintai. “Gayoon-a?” kutolehkan kepalaku ke arah suara namja yang memanggil Gayoon. Seketika senyum tadi menghilang dari wajah Gayoon, dipandangnya dingin namja yang berdiri di hadapan kami

JUNHYUNG POV
Aku begitu muak menghadapi tamu-tamu perusahaan appa hara yang tak henti-hentinya menanyaiku. Bagaimana amerika? Perkembangan perusahaan lancar? Kapan pernikahanmu? Pertanyaan-pertanyaan itu sungguh membuatku mual. Aku bersandar menyendiri menjauh dari keramaian pesta. Kulihat sekeliling ruangan itu berharap menemukan sosok yoja yang ingin kutemui. Seingatku, keluarga hara menjalin kerja sama yang cukup baik dengan keluarga Heo. Kemungkinan besar Gayoon datang ke pesta ini. Mataku menyusuri ruangan dengan teliti, kulihat satu persatu wanita-wanita yang hadir di pesta ini, dan…aku menemukannya!! Aku tersenyum, mataku terfokus pada seorang yoja dengan gaun biru tuanya dan…..menggandeng seorang pria??? ANDWAE!!!! Kupercepat langkah kakiku menuju Gayoon.
“Gayoon-a?” kupanggil dia perlahan, dia menoleh ke arah aku yang memanggilnya. Ditatapnya wajahku dengan mata coklat terangnya, tatapan darinya yang cukup menusukku dan membuatku menelan ludah.
“Junhyung-ssi? Kudengar kau di amerika? Kapan kau kembali?” tanya Gayoon dingin
“ehmmm……aku baru tiba kemarin lusa.” aku begitu gugup menghadapi yoja yang pernah kutinggalkan dengan dingin itu. “Kalau boleh tahu, ehm….siapa pria disebelahmu ini?”
Aku berharap begitu dalam agar namja itu bukanlah kekasihnya, dan ternyata harapanku itu kandas dengan sukses
“Dia? Dia tunanganku, secepatnya akan kami resmikan.” Digamitnya lengan namja itu dengan erat membuat hatiku begitu panas. “Aku tak tahu kalau kau juga datang kemari, ah…..sepertinya untuk pengumuman pertunanganmu dengan hara begitu?”
“eh? Ehm…ya….begitulah, ah maaf terlambat memperkenalkan diri, yong junhyung imnida”
“yoon doojoon imnida annyeonghaseyo.”
Yoon doojoon? Yoon? Anak dari keluarga yoon? Apa maunya yoja ini? Derajat keluarga yoon sangat tidak sebanding dengan keluarga Heo. Bagaimana mungkin dia memilih pasangan dari kalangan yang tidak sejajar? Apakah yoja ini begitu putus asa untuk mencari pasangan hidupnya? Aku tertawa dalam hati.

DOOJOON POV
“ah….dari keluarga yoon rupanya.” Namja itu tersenyum seakan mengejekku, memandangku dengan tatapan meremehkan.
“Gayoon-a, aku sungguh tak mengerti, bagaimana mungkin kau bisa…ehm…bersama seseorang dari keluarga yoon?”
DEG! Harga diriku seakan dilempar jauh-jauh dari badanku,
“mianheyo junhyung-ssi? Ehm….aku rasa tak ada yang salah dengan keluargaku? Apakah tak boleh aku bersanding dengan seorang agassi dari keluarga Heo?” kutahan emosiku dalam-dalam
“ah….mianheyo doojoon-ssi, bukan maksudku, ehm tapi…bukankah itu benar adanya? Mungkin dulu perusahaan keluarga yoon sedang dalam kondisi baik, tapi kudengar belakangan ini sedang resesi? Atau yang kudengar hanya gosip? Ehm…kurasa tidak. “ujarnya
“Urusan perusahaan appaku dan urusan keluargaku itu urusanku.” Ujarku menahan amarahku yang hampir meluap.
“ah, mianhe kalau kau tersinggung, aku hanya penasaran, apa kau berharap bantuan dari keluarga Heo dengan pertunangan kalian?” tanyanya dengan senyum mengejek
Kemarahanku yang sudah dibendung tak tertahankan lagi, tanganku mengepal kuat, badanku maju mengambil jarak yang cukup untuk memukul namja yang menginjak-injak harga diriku itu.
PLAAAAAAAAK
Terdengar bunyi tamparan yang cukup keras dan kulihat kepalan tanganku masih ada pada tempatnya.
Tangan Gayoon terlihat memerah setelah menampar namja yang ada di depannya. Kurasakan semua pandangan orang-orang sekitar terfokus ke arah kami.
“junhyung-ssi, kau sama sekali tak berubah rupanya. Bukankah sudah kubilang padamu untuk menghilang dari kehidupanku? Dan aku akan dengan senang hati tidak akan muncul di kehidupanmu lagi, atau kau sudah tuli?” suara Gayoon terdengar bergetar begitu hebat, kupegang tangannya erat-erat, sepertinya dia mempunyai kenangan yang cukup menyakitkan dengan namja yang ditamparnya itu
Terlihat yoja berlambut panjang lurus berlari ke arah kami, “egi-ya…..gwenchana??” dia segera memegang pipi junhyung yang memerah dengan perlahan “Gayoon-ssi? Apa maksudmu?kau ingin merusak pestaku?” tanya yoja itu
“aniyo hara-ssi, tapi lebih baik kau katakan pada tunanganmu, jaga baik-baik mulutnya itu, maafkan aku jika aku berlaku tak pantas,kami akan segera pergi, annyeonghaseyo” digamitnya tanganku dengan erat ditariknya aku keluar dari ruangan yang menyesakkan itu

JUNHYUNG POV
Kupegang pipiku yang panas akibat tamparan Gayoon
“masih merah? Aigo….apa sebenarnya mau yoja itu? Egi-ya….” Hara mengompress pipiku dengan saputangannya yang sudah diberi air dingin
“auch! Gwenchana, jongmal gwenchana” ucapku
Ada apa denganku ini? Aku mengulangi kesalahan yang sama seperti dulu. Mengungkit masalah derajat,memikirkan masalah gengsi, sebenarnya apa pentingnya semua itu? Gayoon-a, apakah kau bahagia bersamanya? Kau begitu mencintainya hingga kautampar aku seperti ini?
Tak sedikitpun kutangkap cinta di wajahnya terhadapku seperti dulu. Tatapan dinginnya terhadapku membuat hatiku begitu sakit dibandingkan tamparannya padaku. Inikah karma yang harus kuterima?
“Ayo egi-ya, saatnya kita mengumumkan pertunangan kita.” Ujar yoja yang menggamit lenganku erat
Aku hanya bisa pasrah dan mengangguk. Inilah takdir yang kupilih dan harus kujalani.

GAYOON POV
Kutahan tangisku dalam-dalam, kupercepat langkahku untuk segera keluar dari tempat yang menyesakkan itu. Sudah cukup dia merusak hidupku dulu,tapi tidak kali ini,tidak lagi!
“Gwenchana?” suara namja disebelahku ini meredam amarahku seketika, kuhentikan langkahku , aku menunduk, kutarik nafasku dalam-dalam
“mianhe, jongmal mianhe, kau terlibat dalam masalah yang tak semestinya.”
Doojoon menggeleng ringan, wajahnya terlihat begitu khawatir melihatku.
“mungkin kita lebih baik segera pulang, wajahmu terlihat pucat.” Tanyanya
Aku mengangguk.
*******
Kuseduhkan kopi ke dua cangkir kecil yang kuletakkan di meja ruang tamu. Kulihat doojoon yang tertunduk dalam seakan memikirkan sesuatu.
“jangan dipikirkan kata-katanya.” Ucapku. Doojoon memandangku dalam-dalam
“kau sendiri, sepertinya mau menangis dari tadi?” tanyanya
Aku menghela nafasku, kudongakkan kepalaku agar airmataku tidak mengalir ke wajahku
“namja itu…..kau tahu? Dia mencampakkanku ketika aku buta dulu.”
Doojoon terkesiap mendengar kalimat yang keluar dari mulutku
“ Dia bilang kalau dia tak bisa mencintaiku lagi karena kebutaanku, karena aku tak bisa dibanggakan lagi, dia lelah dengan celaan orang-orang terhadapnya mempunyai tunangan buta sepertiku. Cintanya padaku hanya sebatas harga diri.” Kuseka airmataku yang mengalir setetes di wajahku
“chagi-ya…..mianhe kalau aku mengatakan pada saat yang tidak tepat, tapi……apakah…kita tak apa begini?”
“maksudmu? Apa kita ada masalah?” tanyaku
“Terus terang, aku merasa awal kita bertemu adalah suatu kesalahan, kita bertemu ketika finansial keluargaku yang tidak baik dan kau membantuku dengan syarat aku menjadi tunanganmu, dan sampai sekarang kita tidak tahu bagaimana perasaan kita masing-masing, apakah baik begini?”
“kau memikirkan kata-katanya!!!! Wae????? Memang awal kita bertemu mungkin suatu kesalahan, tapi hanya itu yang bisa kupikirkan, lagipula selama ini kita bisa menjalaninya dengan baik.” Entah kenapa aku begitu takut doojoon mengeluarkan kata-kata yang tak kuinginkan dari mulutnya. Aku tak ingin hanya gara-gara ejekan namja sial itu hubungan yang kubangun bersama doojoon berantakan.
“Bagaimanapun dari segi finansial dan derajat, aku tak sebanding denganmu, aku tak punya kepercayaan diri untuk membahagiakanmu, lagipula apakah kau tak ingin bersama namja yang betul-betul kau cintai tanpa proses “belajar” seperti ini?”
Kata-kata doojoon membuatku terhenyak, finansial? Derajat? Apalah arti itu semua? Cinta? Aku sudah menemukan namja yang benar-benar kucintai yaitu doojoon, apalagi yang harus kucari?
“Doojoon-ssi”
Doojoon membelakkan matanya dengan panggilan doojoon-ssi yang kulontarkan padanya
“kukatakan padamu, aku tak peduli derajat, finansial, atau apapun itu, yang kubutuhkan hanyalah seseorang yang dapat mengerti diriku dan mencintaiku apa adanya, hanya itu. Sekarang apa benar kau ingin aku memutuskan semua yang sudah kujalani bersamamu ini?” tanyaku
“Aku hanya ingin kau lebih bahagia bila kau bersama orang yang kau cintai dan mungkin lebih pantas untuk bersanding denganmu.”
“Bolehkah aku bertanya, sejak kita melakukan pendekatan satu sama lain, dengan proses yang kita jalani selama ini, adakah kau sedikit perasaan cinta padaku?”
Kutatap namja itu dalam-dalam, kunantikan jawaban dari bibirnya yang bergetar mencari kata-kata yang tepat untuk menjawab pertanyaanku
“Kalau tidak ada sedikitpun perasaan cinta dihatimu terhadapku doojoon-ssi, aku akan melepasmu, sungguh, aku takkan memaksamu, hubungan kita adalah sekedar rekan kerja sama antar perusahaan keluarga yoon dan keluarga Heo, akupun takkan memutuskan hubungan pertemanan kita, tapi…..aku ingin kau tahu, aku sudah mencintaimu, aku sudah merasakan rasa cinta yang pernah dirasakan bomi untukmu.”
Seketika doojoon menatap wajahku
“Mungkin takdirku kalau cintaku padamu bertepuk sebelah tangan, bagaimanapun hati tak bisa dipaksakan, aku…….. tak..kan memaksamu.” Air mataku mengalir membasahi wajahku
“mianhe…” aku berlari menuju kamarku, aku ingin melepasnya pergi tapi hatiku begitu ingin dia membalas perasaanku. Aku tak suka dia melihatku dalam keadaan lemah seperti ini. Kututup pintu kamarku, kuambil tisu untuk menyeka air mataku yang mengalir tak terbendung. Aku menyalahkan diriku yang terlalu naif dan berharap perasaanku akan dibalasnya. Bagaimanapun namja itu tidak bisa melupakan bomi dan aku baginya hanyalah sahabat bomi tidak lebih.
Kudengar ketukan pintu kamarku
“Gayoon-ssi??” namja itu memanggilku dengan suara lembutnya

DOOJOON POV
Aish! Namja babo! Namja tolol!!bagaimana bisa kau membuat seorang yoja menangis?? terlebih lagi yoja itu mencintaimu!!!mencintaimu dengan segala kekuranganmu!! Apakah yang lain penting? Tidak sama sekali!!! Aku mengusap wajahku, kulangkahkan kakiku mantab ke arah kamar Gayoon. Terdengar isakan tangis yoja yang sudah kusakiti itu,kuketuk pintu dengan perlahan
“Gayoon-ssi??” kupanggil namanya perlahan
“mianhe….aku tak apa….sungguh, …..” jawabnya , isak tangisnya masih menghalanginya untuk berbicara.
“Seharusnya aku yang minta maaf, kau tak salah sama sekali.” Aku menelan ludahku “ jongmal mianhe, bisakah kau buka pintunya? Aku ingin bicara denganmu bukan dengan pintu.”
“Aku..tak bisa doojoon-ssi, walaupun kukatakan kalau aku akan melepaskanmu,hatiku masih tak rela, aku tak ingin kau melihatku lemah begini. Aku ingin kau mengingatku sebagai yoja yang kuat.”
Ya Tuhan….kenapa aku bisa begitu bodoh? Yoja ini…..dia sudah berkorban bagitu banyak untuk memenuhi janjinya pada bomi, dia sudah menolongku dari keterpurukanku, dia berusaha mencintaiku dan dia berhasil, sekarang apa yang telah kulakukan?
“Gayoon-ssi, kumohon buka pintunya…..aku ingin melihat wajahmu , aku…ingin memastikan perasaanku. Kenapa kau menyimpulkan segala sesuatunya sendiri? Aku belum menjawab jelas pertanyaanmu tadi.”
Hening. Pintu di depanku terbuka perlahan, kulihat Gayoon dengan matanya yang sembab menatapku
“mianhe, aku hanya tak ingin menangis di depanmu.”
Kuseka setitik airmatanya yang masih mengalir di wajahnya, kupandang yoja itu lekat-lekat.
“Kenapa kau menyimpulkan aku tak menyukaimu?” tanyaku
“Aku hanya bisa berpikir alasan itu, alasan kenapa kau ingin menghentikan “proses belajar” ini.”
“Apa aku tadi tidak salah dengar? Kalau kau mencintaiku? “
Gayoon mengangguk “Derajat atau apapun bagiku tidak penting, aku hanya ingin tahu apakah perasaanku ini berbalas atau tidak. Lagipula bumonim kita sudah saling setuju, sekarang semuanya tergantung jawabanmu” ucapnya
“Sepertinya ……….“proses belajar” ini memang harus dihentikan.” Jawabku
Kulihat Gayoon menghela nafas panjang dan menatapku
“ah…….begitu? Jadi itu jawabanmu?…kalau begitu….. nanti soal pembatalan rencana pertunangan ini akan ku..ehm?”
Kupeluk yoja yang ada didepanku erat “ aku mencintaimu…. dan kau ….mencintaiku,sekarang kita sudah tak butuh proses belajar kan?”
Kurasakan tangan Gayoon memukul –mukul dadaku
“yah! Sakit!”
“kau ini!! Benar-benar! Disaat seperti inipun kau masih ingin membuatku berpikir? Kenapa kau masih bisa bercanda? Apa kau tak tahu hatiku begitu sakit dengan perkataanmu tadi? Kau ingin mengujiku??????!!!!!!“
“Mianhe…..Jadi ….aku masih boleh memanggilmu chagi?”
“ya! Dan aku tidak akan memanggilmu yobeo lagi tapi babo! Dasar namja siaaaaaal!!!”
Kupegang cepat kedua tangannya yang dari tadi memukuliku itu,
“kalau mukamu menggemaskan seperti itu kucium lagi lo?” kulihat wajahnya yang merah seketika mendengar kata-kataku, dilepaskan tangannya paksa dari kedua genggamanku.
“Sudah malam, lebih baik kau istirahat, besok kita ketemu di kampus, annyeong.” Kucium pipi yoja itu dengan cepat dan kuambil langkah seribu “saranghae!!!” kuteriakkan kata-kata itu keras-kears
“kau ini!!!!yoon doojoon babo-ya!!!!”
Bomi-ya….kami berhasil, kau senang? Pilihanmu untukku betul-betul tepat. Aku berjanji akan menjaganya baik-baik dan takkan mengecewakanmu.

Chapter 4
don’t go away from me
Stand next to me a little closer
Can you stand close to me?
Can I show you all of my heart?
Maybe, acting stupidly
I’ll keep you safe hundreds of times
You don’t know my heart
Maybe, I don’t know you want me to stay always with you
(I don’t know – A pink)
GAYOON POV
“Mwo???jepang????Kau…akan ke jepang??????” tanyaku mendengar kabar yang begitu mengejutkan pagi ini dari mulut tunanganku
“Ne…aku akan ke jepang, aku akan belajar untuk mengembangkan perusahaan appaku disana.” Jawabnya
“ehm…kenapa tidak disini saja? Kenapa harus jepang?” tanyaku yang masih begitu bingung dengan berita mendadak ini
“Di Jepang perkembangan bisnis sangat baik, tidak akan sebanding jika bisnis ini dikembangkan hanya di korea saja.”
Aku menunduk, aku tak bisa membayangkan bagaimana aku akan begitu rindu bila namja ini tak ada sisiku.
“Lagipula…..aku ingin cepat menjadi namja yang sejajar bagimu, aku tak ingin orang lain mencela kita lagi.”
Aku terkesiap mendengar kata-kata namja itu. Kulihat kesungguhan di matanya
“Aku bukan namja yang akan diam saja dengan celaan orang disekitarku, akan kubuktikan kalau aku bisa.” Dia tersenyum memandangku
“kapan berangkat?” tanyaku
“minggu depan.Aku ingin kita tunda dulu pengumuman resmi pertunangan kita, aku juga sudah bicara pada appamu.”ujarnya
“wae??kau tidak ingin terikat ya? Biar bisa bebas begitu?” tanyaku agak jengkel
“Aish ….ani…….apa kau tidak ingin bertunangan dengan bangga? bahwa tunanganmu adalah namja yang hebat?”
Aku menunduk lagi, aku berpikir dalam kebingunganku. Jauh dalam hatiku aku tak rela dia pergi, aku tak peduli itu kebanggaan, ketenaran, dan apapun itu. Peduli amat apa kata orang, aku sangat pandai menutup telingaku rapat-rapat, lagipula apa peduli mereka ini hidupku yang akan kujalani sendiri. Tapi…….. aku memikirkan kebanggaan doojoon sebagai seorang namja, pastinya dia ingin meraih kejayaan keluarganya melalui tangannya sendiri, sebagai anak keluarga yoon satu-satunya.
“Kenapa begitu cepat sih ???aku bahkan belum menyiapkan apa-apa untukmu. Ah ini saja…..” kuambil liontin berbentuk daun yang biasanya kupakai dari leherku “simpan ini. Kuharap kau mengingatku jika melihat liontin ini” Kupakaikan liontin itu di lehernya.

“Gomawo” dia tersenyum sembari memutar-mutar liontin berbentuk daun itu, “ehm? liontin ini bisa dibuka?” Dibukanya liontin itu perlahan. Kutepuk dahiku, hyaa….babo! aku lupa foto memalukan yang kuletakkan di dalamnya seharusnya kuambil sebelum kuberikan padanya, SIAL!
“aish !!!itu….aduh….jangan!!!!!….aigo….>.<” kutundukkan kepalaku rapat-rapat, aku malu setengah mati, wajahku panas sekali
“ah…ya! Kau masih menyimpan foto ini???” namja itu tersenyum geli melihat foto yang kuambil saat aku pertama kali menciumnya dulu
“yah! Pokoknya simpan saja! Kalau kamu sampai selingkuh di sana awas!!” kukepalkan tinjuku mengancamnya. Dia menertawakanku karena ancamanku yang sangat lucu bila disandingkan dengan wajahku yang belum kembali ke warna semula.
“ani….tidak akan ! kau sendiri awas saja kalau sampai kembali pada junhyung gila itu.” Ucapnya
“kembali? Tidak akan! Lagipula kenapa kau khawatirkan dia?” tanyaku
“aish! Kau tak lihat pandangannya padamu? Dia masih mencintaimu, walau….sekarang dia bertunangan dengan hara, tapi aku pasti tidak salah.”
“ah…………. kau cemburu?” tanyaku menggodanya
“tentu saja aku cemburu! kalau aku tidak cemburu berarti aku tidak menyukaimu aish….dasar einku ini rada-rada babo !” dicubitnya pipiku dengan keras. Aku tersenyum simpul mengetahui kecemburuannya yang manis itu.
“auch! Sakit tahu! ehm…berapa lama kau akan di Jepang?”
“sekitar 2 tahun.” Jawabnya
“2 tahun?…ehm..Baiklah, buktikanlah selama 2 tahun itu bahwa kau namja yang sanggup sejajar dan pantas bersanding denganku. Aku tak mau kau hanya omong besar!”
“Lihat saja nanti.Sementara hanya ini yang bisa kuberikan padamu.” Diambilnya sekotak perhiasan kecil dari sakunya. Dibukanya perlahan kotak kecil itu. Mataku terkesima melihat cincin platina bermata permata biru yang ada di kotak kecil itu. Doojoon mengambil cincin itu dan disematkannya di jari manisku
“aku hanya bisa mengikatmu dengan ini, cincin ini dulu belum bisa kuberikan pada Bomi, sekarang kuberikan ini padamu.”
Bomi? Cincin ini seharusnya milik Bomi? Seketika airmataku mengalir melihat cincin mungil yang tersemat di jariku
“wae? Jebal…uljima….kenapa kamu menangis? Apa aku salah memberikan cincin ini padamu? Atau lebih baik kucarikan yang lain saja untukmu?”
“Ani….Bukan, aku hanya merasa bersalah pada Bomi……Bomi-ya…mianhe, harusnya dia yang memakai ini di jarinya, bukan aku……” aku terisak, kupegang cincin yang ada di jari manisku itu erat-erat.
Doojoon menyeka airmata yang mengalir di wajahku, dikecupnya keningku perlahan.
“Bomi akan senang kau yang memakainya, ok? Tersenyumlah, aku lebih senang melihatmu tersenyum daripada menangis.” Diusapnya kepalaku perlahan.
“Ne….jongmal gomawo……” Kutata hatiku, kutarik nafasku dalam. “Kabari aku soal keberangkatanmu nanti, aku akan mengantarmu ke bandara.”

EPILOG
2 years latter
“saengil chukhae chagi-ya~~~~.” kudengar suara namja itu di telepon dalam kantukku, seketika mataku membelalak dan kantukku hilang seketika
“yobeo!!!!! ??? kau ingat ulang tahunku??padahal tahun lalu kau lupa!” ujarku
“ya!!!tahun lalu aku tidak lupa! Aku hanya tidak sempat mengucapkan padamu karena kesibukanku”
Aku tersenyum mendengar suara namja yang kurindukan itu. Biasanya dia hanya mengirim email atau SMS, terkadang mengirim foto-foto selcanya bersama para karyawan perusahaannya.
“gojitma~~~~~L……..kapan kau pulang?”
“Mungkin bulan depan, aku sedang berjuang untuk proyek terakhirku, doakan aku!”
“ne.. aku selalu mendoakan kesuksesanmu, tapi aku juga ingin kau cepat pulang, bisa-bisa aku jadi perawan tua menunggumu.” Ujarku manja
“sebegitu rindunya kau padaku? “ tanyanya menggodaku
“kau sendiri? Apa tak merindukan einmu yang cantik ini?”
“rindu! Jinjja bogoshippho sampai mau gila rasanya, aku rindu menggodamu, hahahaha.”
Ah…andai aku bisa melihat tawanya saat ini, aku begitu merindukan tawanya yang seperti anak kecil itu
“………..”
“wae chagi-ya? Kau masih bangun kan?” tanyanya
“bogoshippo…..yobeo…jinjja…..aku rindu melihat wajahmu, sungguh….”
Aku menunduk, ingin rasanya airmataku tumpah, sudah lama aku menahan rinduku pada namja ini. Tapi airmata itu kutahan sebisa mungkin, aku tak ingin dia mendengar tangisanku
“ne….aku juga, bersabarlah sampai bulan depan, aku pasti pulang, oh ya, kado istimewaku untukmu kutitipkan ommaku, jalga…nae chagi-ya..”
“jalga……”
Kutatap iphone itu lekat-lekat, kurebahkan kembali badanku di tempat tidur, kupejamkan mataku, berharap aku bisa melihat wajah namja yang kurindukan itu walau dalam mimpi.
****
2 tahun sudah doojoon ada di Jepang. Rupanya doojoon tidak hanya omong besar, dia sukses menjadi pengusaha termuda yang berhasil memenangkan berbagai tender di jepang. Saham perusahan ayahnyapun menjadi naik dan nama keluarga yoon tak bisa lagi diremehkan. Sering sekali kulihat fotonya terpampang di berbagai majalah bisnis.
“Gayoon-a kau sudah siap?”
Aku terkejut mendengar suara ommaku memanggilku
“Ne…omma….aku siap”
Hari ini pesta ulang tahunku, diadakan di kapal pesiar di tepi sungai han bersama beberapa kerabat dan rekan kerja perusahaan ayahku. Sebenarnya aku tak berminat, tapi appaku memaksaku. Aku tahu appaku khawatir pada anaknya yang akhir-akhir ini tidak bersemangat. Entah kenapa akhir-akhir ini aku begitu rindu dengan namja yang ada di seberang lautan itu, semangatku hilang bila kuingat rinduku padanya. Sering aku menghitung mundur hari dimana dia akan pulang menemuiku. Sekarang aku hanya bisa tersenyum tanpa arti menyalami tamu-tamu yang menyalami dan mengucapkan selamat padaku
“Gayoon-aaaaaaa!!!” Kutolehkan kepalaku dan kutemukan sosok jieun mengenakan gaun merah muda dan …menggandeng seorang namja???
“ya! Ji eun!! lama tak bertemu denganmu! I namja nugu ya??” Kulihat namja imut di sampingnya mengenakan tuxedo hitam dengan dasi kupu-kupunya
“Yang yoseob imnida annyeonghaseyo”
“annyeonghaseyo, Heo Gayoon imnida…..kamu…pacarnya Jieun?” tanyaku menyelidik
Dia mengangguk dengan wajahnya yang salah tingkah, imut sekali
“wah, Jieun chukhae! Kutunggu peresmiannya! Kau kesini hanya mau pamer padaku?” tanyaku sedikit sebal
“aish kau ini! Namjamu sendiri? Dia begitu hebat, sekarang fotonya menghiasi berbagai majalah bisnis.kapan dia kembali?” tanya Jieun
“bulan depan…..Jieun-a …ottae?? Aku sudah begitu rindu padanya..”
“Gayoon-a, semuanya dia lakukan demimu dan kau tinggal bersabar satu bulan saja, aku yakin kau bisa.” Ucap Jieun tersenyum padaku
“ne….aku mengerti…” kupandangi pemandangan sungai han malam itu, ah…..andai aku bisa melihatnya bersama doojoon saat ini.
Seketika lampu kapal pesiar mati. Aku terkejut dan kulihat seberkas lilin dari arah tengah ruangan
“saengil chukha hamnida….sangil chukha hamnida,saranghaneun nae chagi……saengil chukha hamnida…”
Kudengar suara namja yang begitu kukenal menyanyikan lagu ulang tahun di hadapanku. Kuusap kedua mataku, berharap ini bukan mimpi. Kulihat doojoon di depanku dan menghampiriku.
“aku pulang, lama tak bertemu, kau tambah cantik ya?”
Aku masih terbengong-bengong melihat namja yang ada di depanku ini. Aku takut semua ini hanya fartamogana akibat aku yang terlalu merindukannya.
“Ya! Kau mau sampai kapan bengong melihatku? “
Kucubit pipiku dan kucubit pipi namja di depanku itu.
“AuUCH!!!! Sakit! Kau masih mengantuk atau bagaimana sih?”
“Doojoon ? nae yobeo?? Ini benar-benar kamu?” Aku benar-benar tidak menyangka kalau ini adalah kenyataan. Dua tahun tak melihat wajahnya benar-benar membuatku hilang akal.
Kurasakan bibirku diciumnya perlahan, dipandanginya wajahku lekat-lekat “ sekarang kau sudah sadar? Sudah kubilang aku pulang.”
Kupeluk erat namja yang ada di depanku itu, kurasakan hangat badannya sebagi tanda kalau dia nyata dan dia pulang! Dia sudah pulang! Hatiku begitu gembira bercampur bingung.
“Kau bilang akan pulang bulan depan? Bagaimana proyek terakhirmu itu? Lalu kapan sebenarnya kau pulang? Kenapa tak mengabariku? “ tanyaku
“aigo….kalau tanya satu-satu ya chagi-ya…yang jelas aku ingin memberikan surprise, proyekku semua sudah beres minggu lalu, aku pulang tadi pagi, kalau mengabarimu tidak surprise namanya. Ini kado istimewaku untukmu, kepulanganku, kau senang??”
Aku mengangguk cepat. Kupuaskan diriku menatap wajahnya yang sudah lama tak kulihat itu, dia lebih tinggi, lebih tegap, dan lebih berkarisma dengan setelan jas mahalnya.
“ah….ada satu lagi hadiah untukmu.” Doojoon menggamit tanganku dan sedikit membenahi jasnya. Aku hanya bisa menatapnya dengan ekspresi kebingungan
“ehem….hadirin sekalian…aku….meminta perhatian kalian sebentar, ….ehm….hari ini….aku yoon doojoon, putra keluarga yoon meminta kalian sebagai saksiku.” Dia menoleh dan memandang wajahku
“maafkan aku membuatmu menungguku, tapi sudah kubuktikan kalau aku berhak bersanding denganmu sekarang. Aku takkan membuatmu menunggu lebih lama….ehm…maukah kau menikah denganku?”
Kudengar tepuk tangan riuh dari tamu-tamu yang melihat kami. Aku hanya terbengong melihat wajah doojoon yang begitu sungguh-sungguh di depanku. Kepulangannya yang mendadak sudah membuatku shock setengah mati, sekarang dia tiba-tiba melamarku??
“jawabanmu?”
Kutatap doojoon lekat-lekat,
“Kau sudah tahu jawabanku, tak perlu kujawab.” Aku tersenyum menggodanya
“aish harus kau jawab! Aku ingin kau mengatakan iya! Apa susahnya sih?”paksanya dengan agak merengek
“iya! Iya! Iya! Mau kujawab berapa kali sih? IYA! Puas? “
Dia tersenyum dan diangkatnya aku tinggi-tinggi
“yah! Turunkan aku!”
“tak mau! Aku sudah lama tak menggodamu!”
Aish….kubiarkan dia membopongku sepuasnya, Namja yang kucintai telah kembali ke sisiku. Sekarang dia sudah menjadi namja yang sejajar dan bisa kubanggakan. Bomi-ya kau melihat kami? Kebahagiaan kami kurang lebihnya adalah karenamu. Aku hanya bisa berterimakasih. Kuharap aku bisa menggantikan kebahagiaanmu di dunia ini. Gomawo.
FIN

20 responses to “[Freelance] LOVE IN THE SAME SIGHT

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s