{KyuRa Moment} The Warmest Gift

Author   :  syipoh and elftodie21

Cast      :  Cho Kyuhyun, Lee Hyora, Lee Donghae, Eun Hyuk, Cho Ahra

Rate      :  PG13

Genre   : comedy, romance, marriedlife, family, sedikit geje ama mesum #plaakkk

*****

Annyeong~… Holla… Holla.. Dua author kesayangan Kyuhyun kembali… *diinjekreaders* Kami berdua kembali hadir membawakan cerita yang mungkin kalian tunggu-tunggu atau bahkan tidak *nangisdipojokan*. Walo rilis bulan februari, setting ff ini pas bulan Desember, jadi ambil tema Christmas gitu… Mian kalo kelamaan Mood nya bener-bener nggak beres. Yasuda. Daripada bosan baca kalimat pembuka, langsung aja baca ff nya. Ditunggu jejak kalian di hati kami. *eaaaa*

*****

Author’s P.O.V

“Hatcchi…” Kyuhyun mengusap hidungnya yang gatal. Udara di dalam apartemen Kyuhyun dan Hyora masih terasa dingin meskipun sudah ada penghangat ruangan. Wajar saja. Sekarang sudah bulan Desember. Itu artinya musim dingin sudah mulai menyergap wilayah Korea Selatan tentunya yang merupakan negara dengan empat musim.

“Hatcchi… Hatcchi…” Kyuhyun kembali bersin. Hyora yang sedang mengaduk teh di dapur sedikit mencondongkan badannya, melihat ke arah Kyuhyun yang kini tengah bersin-bersin di ruang tengah, tepat depan televisi rumah mereka.

“Aigoo… Kau sakit?” ujar Hyora yang kini sudah berada di depan Kyuhyun. Tangannya diarahkan ke dahi Kyuhyun yang malah bermain psp. Musim dingin ternyata tidak menyurutkan niat Kyuhyun untuk bermesraan dengan istri keduanya itu. =,=”

“Tubuhmu sedikit panas. Kau mau minum obat?” tanya Hyora. Kyuhyun pun menaruh psp nya di atas meja. Dia merasa kepalanya sedikit pusing. Bagaimana tidak? Dia sudah bermain dengan psp nya sejak pagi. Sementara itu, sekarang sudah hampir petang.

“Ani. Aku tidak sakit.” bantah Kyuhyun yang memang sangat tidak menyukai obat-obatan.

“Ayolah… Dari kemarin kau sudah bersin-bersin terus. Kau tidak mau sakitmu tambah parah, kan?” Hyora mengambil obat flu di kotak obat lalu menyerahkannya kepada Kyuhyun.

“Shiro…” tolak Kyuhyun.

“Ayolah…” bujuk Hyora.

“Shiro…” Kyuhyun menjauhkan obat dan air putih yang dipegang Hyora.

“Cho Kyuhyun…” ucap Hyora dingin. Kyuhyun memandang ke arah Hyora yang kini tengah menyodorkannya satu gelas air putih dan obat flu. Sebenarnya, bisa saja dia menolak permintaan Hyora untuk meminum obat yang paling dibencinya itu. Tapi, melihat tatapan menusuk dari Hyora yang entah dia pelajari darimana itu membuat Kyuhyun mau tak mau mengambil obat dan air putih tersebut.

“Ara…” ujar Kyuhyun lemah sambil mengambil obat dari tangan Hyora dan kemudian meneguknya dengan wajah yang tidak mengenakan. Hyora pun tersenyum penuh kemenangan saat Kyuhyun menelan obat flu itu. Kyuhyun menghela nafas lega saat obat itu sudah masuk ke dalam sistem pencernaannya. Yah… Setidaknya rasa pahit itu tidak bertahan lama di mulutnya.

“Minumlah juga ini…” Hyora memberikan secangkir teh lemon madu hangat untuk Kyuhyun.

“Hatchi.. hatchi…” Kyuhyun kembali bersin untuk kesekian kalinya setelah meminum tehnya. Kemudian ia merebahkan kepalanya di pangkuan Hyora sambil menepuk-nepukkan kepalanya.

“Gwaenchana? Kau pusing Jjangmyeon?” Hyora terlihat cemas saat melihat keadaan suaminya. Kyuhyun mengangguk sambil memejamkan matanya.

“Hatchii… hatchi…” lagi-lagi ia bersin.

“Igo…(ini)” Hyora memberikan beberapa helai tissue yang ada di dekatnya. Kyuhyun mengusapkannya pada hidungnya yang memerah. Wajahnya juga sedikit pucat, disilangkannya kedua tangannya untuk mengurangi rasa dinginnya.

Hyora menggosok-gosokkan kedua tangannya untuk membuat hangat kedua telapaknya menghangat. Lalu dia menempelkannya pada kedua sisi pipi Kyuhyun yang sedikit hangat itu karena demam ringannya seperti yang dilakukan Donghae padanya jika sedang sakit dulu. Sentuhan tangan Hyora yang menyentuh wajah Kyuhyun memberikan sensasi tersendiri. Begitulah kurang lebih yang Kyuhyun rasakan saat ini.

“Sudah kubilang kan supaya kau memakai jaket yang lebih tebal, syal, dan sarung tangan jika kau mau keluar. Tidak menurut sih…. Beginilah akibatnya. Kau ini memang tak pernah mendengarkan aku, Cho Kyuhyun.” omel Hyora.

“Sarung tanganku ada di rumah, belum sempat kuambil. Beberapa helai benang dari syal yang diberikan Nuna sudah lepas dan aku belum membeli lagi. Jadi, tadi aku hanya memakai jaket saja.” jawab Kyuhyun masih sambil menutup matanya.

“Apeojima… Jjangmyeon~ah…(jangan sakit jjangmyeon~ah)”

Salah satu sifat Hyora yang disukainya adalah ketika dia berbuat sesuatu yang tidak benar, Hyora akan mengomelinya atau memarahinya tapi setelah itu dia akan membenarkan. Seperti saat ini. Setelah dia mengomelinya karena mengkhawatirkannya.

Perasaan hangat segera mengalir ke seluruh tubuh Kyuhyun hanya dengan kata-kata yang dilontarkan Hyora tadi. Hal itu membuat Kyuhyun membuka matanya. Di atasnya kini ada wajah Hyora yang sedang memandangnya dengan penuh rasa khawatir.

“Eo, kkokjongma… Aku akan sembuh sebentar lagi…” jawab Kyuhyun pelan. Tangannya terulur untuk sekedar membelai pipi Hyora.

Posisi mereka yang sangat dekat ini sontak membuat wajah Hyora memerah. Rona warna merah muda pun dengan segera terlukis di wajah putihnya, ekspresi kesukaan Kyuhyun. Entah ide darimana ide itu berasal. Yang jelas raut wajah Hyora yang terlihat malu-malu ini membuat Kyuhyun ingin menggodanya.

“Wae? Kenapa wajahmu memerah? Kau sakit juga?” goda Kyuhyun sambil meletakkan punggung tangannya ke dahi Hyora yang sontak menjauhkan tubuhnya dari Kyuhyun.

“A-ani…” Bahkan Hyora pun masih tergagap saat Kyuhyun menggodanya. Kyuhyun bangun dari pangkuan Hyora, menutup mulutnya menahan tawa saat dilihatnya wajah Hyora semakin memerah. Tapi, sepertinya dia tidak bisa menahan tawanya hingga akhirnya suara tawanya keluar.

“Bwahahaha… Bwahahaha…” Hyora mendelik ke arah Kyuhyun yang kini malah tertawa lepas. Ingin rasanya ia memukul kepala suaminya itu dengan sandal rumah yang sedang dipakainya sekarang. Tapi, Hyora tidak memiliki cukup keberanian untuk melakukan hal itu.

“….”

“Bwahahahahaha….”

“……” Kyuhyun yang tidak mendengar reaksi Hyora pun menghentikan tawanya. Dia mengusap perutnya yang terasa sakit akibat suara tawanya sendiri.

“Hyora~ya…” Kyuhyun bangun dari pangkuan Hyora.

“….” Hyora masih terdiam.

“Hyo? Kau marah?” Kali ini Kyuhyun terlihat khawatir.

‘Apa aku sudah keterlaluan?’ pikir Kyuhyun.

Dia pun mendekati Hyora. Tangannya diarahkan ke wajah Hyora. Kyuhyun ingin melihat ekspresi wajah Hyora lebih jelas. Tapi, baru saja tangannya ingin menyentuh wajah istrinya itu, Hyora sudah menampiknya dengan kasar. Kyuhyun terkaget melihat tingkah Hyora yang lain dari biasanya ini.

“Aigoo… Kau benar-benar marah padaku?” tanya Kyuhyun memelas. Dia pun mendekatkan tubuhnya dan menggoyangkan pundak Hyora pelan.

“Kkkkk..Kkkk.. Bwahahahaha….” Tapi ternyata reaksi yang dikeluarkan Hyora berbanding terbalik dengan apa yang Kyuhyun harapkan.

“Ya! Kau tidak marah ternyata?” bentak Kyuhyun.

“Hahahaha. Tangsinie Babo nikka… (karena kau bodoh.)” ledek Hyora sambil menghapus bulir air mata di pelupuk matanya akibat terlalu banyak tertawa.

Kyuhyun yang merasa dibohongi pun memutar otaknya, memikirkan pembalasan dendam apa yang pantas untuk Hyora. Senyum licik pun kemudian tergambar jelas di wajah Kyuhyun, tanpa Hyora sadari tentunya. Sebab, Hyora sendiri masih sibuk menertawakan kebodohan Kyuhyun dan kemenangannya.

“Anak nakal. Kau harus diberi hukuman.” bisik Kyuhyun, jelas sekali di telinga Hyora. Hyora langsung terdiam seketika. Dia merasa akan ada ancaman yang membahayakan dirinya. Dia membalikkan tubuhnya pelan untuk melihat ekspresi wajah Kyuhyun. Benar saja. Ekspresi wajah Kyuhyun kini menyiratkan sesuatu.

“A-apa ma..umu?” ucap Hyora tergagap. Hyora memundurkan badannya sedikit demi sedikit.

“Menurutmu?” Kyuhyun pun memajukan tubuhnya seiring dengan Hyora yang memundurkan tubuhnya. Hyora berhenti memundurkan tubuhnya karena sekarang tubuhnya telah terhambat oleh batas sofa yang mereka duduki. Sementara itu, Kyuhyun semakin mendekatkan tubuhnya, mengeliminasi jarak diantara mereka berdua.

Kini, posisi mereka berdua pun sudah sangat dekat. Deru nafas yang memburu diantara mereka berdua di tengah udara dingin yang menerpa tubuh mereka seolah menjadi satu kesatuan, melengkapi kebisuan yang menyergap mereka berdua. Kyuhyun juga sepertinya sudah lupa dengan penyakitnya yang memungkinkan menular pada Hyora.

Tubuh mereka yang terlampau dekat ini ternyata langsung menimbulkan efek bagi tubuh Kyuhyun. Dia pun mendecak kesal saat merasa ada keinginan yang mendesak di dalam tubuhnya. Wajah polos Hyora yang menatap intens ke arah Kyuhyun  membuat keinginan itu semakin besar. Dan dia memang sudah tak peduli apakah dia itu sedang sakit atau tidak.

‘Sial!’ pikir Kyuhyun dalam hati.

Perlahan, tangan Kyuhyun bergerak membelai rambut panjang Hyora. Lalu, membelai pelan pipinya. Hidung mereka yang bersentuhan kemudian menjadi awal semuanya. Awal dimana Kyuhyun akhirnya menempelkan bibirnya lembut di atas bibir Hyora. Kyuhyun melepas ciumannya sebentar, memandangi wajah Hyora yang kini tertunduk serta memerah karena malu. Entah kenapa Kyuhyun sangat menyukai ekspresinya yang malu-malu itu meskipun mereka sudah cukup lama hidup bersama.

Kyuhyun menangkup wajah Hyora dengan kedua tangannya. Dikecupnya puncak kepala Hyora. Lalu, turun ke hidungnya, pipinya, hingga akhirnya bibir Kyuhyun dan Hyora pun kembali berpagut. Kecupan-kecupan Kyuhyun terasa seperti sengatan listrik bagi Hyora, menggetarkan seluruh organ tubuhnya dan melumpuhkan kerja otaknya. Dia tidak berpikir apapun selain membalas ciuman Kyuhyun yang kini mulai memanas. Dia bahkan tidak sadar kalau posisi mereka kini sudah jauh berbeda dibanding saat pertama tadi. Hyora kini sudah berada di bawah Kyuhyun dengan posisi tidur.

Tangan Kyuhyun pun sudah bergerak liar, mengeksplorasi bagian tubuh Hyora. Kadang, ia memberikan sentuhan lembut di bagian sensitif Hyora yang membuatnya menjengit dan melengkungkan tubuhnya. Kyuhyun menurunkan ciumannya ke leher Hyora saat merasa bahwa istrinya itu kehabisan nafas. Dia tentunya tidak ingin menyandang status duda secepat itu. Apalagi jika akibat status dudanya itu karena istrinya meninggal kehabisan nafas saat berciuman dengannya. Sungguh menggelikan, bukan?

Kyuhyun mulai memberikan lukisan-lukisan berwarna merah di sekitar leher Hyora. Memberi tekanan lembut pada bagian sensitif di leher Hyora. Tangannya yang sedari tadi bergerilya itupun kini mulai memasuki kaos Hyora melalui perutnya. Diusapnya pelan perut Hyora, membuat yeoja itu menggelinjang geli.

“Kyu…Kkkk…” ucap Hyora geli. Tapi, bukan Kyuhyun namanya kalau dia berhenti karena gangguan seperti itu. Tangannya malah dimasukkan lebih dalam dan merambah ke bagian atas Hyora. Sensasi geli yang Hyora rasakan kini pun berubah menjadi sensasi yang berbeda.

‘Ini pasti tidak akan berhenti sampai disini.’ pikir Hyora.

Benar saja apa yang dipikirkan Hyora. Kyuhyun mulai mengangkat kaos Hyora perlahan hingga sebatas dada lalu dia menghentikan aksinya, terengah. Bahkan, di saat suhu yang mendekati 40 celcius itu pun menjadi terasa panas bagi mereka berdua. Dengan serta merta, Kyuhyun menarik lepas sweater yang Hyora pakai dan kaos yang dia pakai. Hyora memalingkan muka saat melihat Kyuhyun melempar kaosnya.

“Wae?” goda Kyuhyun.

“A-ani…”

“Kau masih malu?” ucap Kyuhyun sambil menarik wajah Hyora pelan dan menatap mata Hyora dalam. Hyora memalingkan matanya dan tak memberikan jawaban. Namun Kyuhyun sudah tahu arti dari kelakuan istrinya itu. Bahkan di saat pernikahan mereka sudah hampir berusia satu tahun Hyora pun masih malu untuk memandang tubuh Kyuhyun.

“Barabwa…” Kyuhyun menatap Hyora lekat. Ditariknya tangan Hyora dan diletakkannya di atas pundaknya. Didekatkannnya wajah Hyora dan Kyuhyun pun kembali melumat bibir Hyora yang kini merangkul pundak Kyuhyun dan mendorong kepalanya agar ciuman mereka lebih dalam. Tangan Kyuhyun pun mulai meraba punggung Hyora, berusaha untuk membebaskannya. Baru saja Kyuhyun akan melepaskannya, tiba-tiba…

‘Ting tong…’ terdengar suara bel. Kyuhyun melepaskan ciumannya sebentar dan memandang Hyora.

“Ada tamu…” bisik Hyora. Kyuhyun melirik ke arah pintu depan apartemen mereka. Lalu, tatapannya kembali ke wajah Hyora yang kini menutup bagian depan tubuhnya yang telah polos.

“Aish… Lanjutkan saja.” Belum sempat Hyora mengajukan protes, Kyuhyun sudah mengunci bibir Hyora rapat.

‘Ting tong.. ting tong…’ Kyuhyun masih melanjutkan aksinya.

‘Ting tong.. ting tong… ting tong.. ting tong..’ Kali ini Kyuhyun sudah mulai terpecah konsentrasinya. Dipandangnya arah pintu apartemen dengan kesal.

“Buka saja, Kyu~…”

“Ani. Lanjutkan saja.” Kyuhyun pun mulai kembali. Tapi…

‘Ting tong… ting tong.. ting tong… ting tong.. ting tong…’ Emosi Kyuhyun benar-benar memuncak kali ini. Dia pun segera bangkit dari atas Hyora dan duduk di atas sofa.

“Aish, jinjja. Siapa yang berani menggangguku…” ucap Kyuhyun frustasi. Hyora yang merasa bahwa suaminya bisa meledak kapan saja pun segera mengambil kaos dan pakaian dalamnya yang tergeletak di lantai lalu memakainya cepat.

“Biar aku yang membuka pintunya…” Hyora pun segera bangkit berdiri dan berjalan menuju pintu depan apartemen mereka. Kyuhyun mendengus keras.

“Ah… Sial sekali hari ini. Kau yang sabar, ya?” ucapnya lemah sambil menunduk ke arah celana panjangnya. Kyuhyun pun dengan segera mengambil kaos nya yang juga tergeletak di lantai lalu berjalan ke arah depan. Saat Hyora baru akan membukakan pintu mereka, Kyuhyun memakai kaosnya.

“Annyeong~!” sapa orang yang berada di luar apartemen mereka.

“Lama sekali, Kyuhyun~ah… Aku kedinginan di luar sana.”

“Aku lapar, Hyora~ya…”

“Huwaa… Hyora…” Kyuhyun terdiam untuk beberapa saat, mengepalkan kedua buku tangannya erat. Hyora yang melihat suaminya terdiam pun meneguk air liurnya pelan. Dia takut kalau Kyuhyun akan…

“Ya! Kalian!!!” bentak Kyuhyun.

End of Author’s P.O.V

 

Kyuhyun’s P.O.V

“Bwahahahaha… Bwahahahaha….”

“Jadi, kalian sedang…errr…. Hahahahahaha….”

“Aigoo… Aku tidak tahu kalau kalian… hahahahah…”

“Mianhae, Hyora~ya… Kkk…”

Terus. Terus saja kalian menertawakanku. Aish, jinjja. Bagaimana bisa aku memiliki Hyung dan Nuna serta teman yang seperti mereka ini? Bukannya kasihan padaku, mereka malah menertawakanku. Apa mereka tidak tahu betapa menderitanya aku dan teman kecilku ini?

“Terus saja kalian menertawakanku…” ucapku yang sontak membuat mereka diam membisu. Huh. Efek seorang Cho Kyuhyun memang luar biasa. Muahahaha.

“Kau marah, huh?” tanya Ahra Nuna. Tapi, nada ucapannya ini bukan nada seseorang yang ingin bertanya. Melainkan nada seseorang yang ingin mengancam.

“Iya. Lalu kenapa?” balasku. Aku dan Ahra Nuna saling bertatapan tajam. Suasana yang tadinya hening menjadi lebih hening lagi.

“Kyu…” Hyora menarik ujung kaosku. Aku menatapnya yang kini memberikan tatapan ‘sudah-jangan-bertengkar’ nya kepadaku.

“Aish, jinjja…” Dengan tatapan puppy-eyes nya, mana bisa aku menolaknya?

“Begini, Kyuhyun~ah… Kami kesini tidak bermaksud untuk mengganggu kalian. Tapi, kami sebenarnya ingin mengajak kalian jalan-jalan saat tahun baru. Eotte? Kalian mau ikut?” tawar Donghae Hyung.

Tunggu. Jalan-jalan? Tawaran yang cukup menarik. Tapi, kalau aku ikut berlibur dengan mereka yang ada aku tidak ada waktu berduaan dengan Hyora.

“Shireo!” tolakku.

“Ah, wae?” tanya Eunhyuk Hyung sambil memakan pisang yang entah darimana dia mengambilnya.

“Aku mau liburan di rumah saja.” jawabku.

“Benar kalian tidak mau? Kita akan berlibur di villa milik Siwon Oppa. Disana kita bisa main ice-skating sepuasnya. Dan itu semua gratis, Kyu…” bujuk Ahra Nuna.

Walaupun ini gratis karena aku yakin jika menginap di villa milik Siwon Hyung, jatah makan dan semuanya akan dia penuhi. Apalagi aku dan Hyora sedang tidak ada kerjaan. Cish!! Tapi Aku tidak akan termakan rayuanmu, Nuna~ya…

“Ish… Aku tidak….”

“Mau!” Belum selesai aku melanjutkan kalimatku, Hyora sudah memotongnya.

“Aku mau, Eonni! Kyuhyun~ah… Ayo kita ikut liburan bersama mereka…” pinta Hyora. Matanya yang bulat itu memandangku dengan tatapan yang aish… Bukankah sudah kukatakan kalau tatapan matanya itu selalu membuatku tidak bisa berkutik?

“Arasseo… Baiklah. Kita pergi ke sana.” Mendengar jawabanku, sontak suasana apartemen kami berdua menjadi ricuh. Mereka ini…

“Yay! Akhirnya kita bisa berlibur bersama!” Sorak sorai terdengar di apartemenku. Mereka ini benar-benar menginginkan keponakan yang lucu tidak, sih? Jika begini terus, bagaimana bisa aku membuatkan keponakan yang lucu untuk mereka.

“Jjangmyeon~ah… Gomawo. Hehehehe…” Hyora mencubit pipiku. Aish!! Jinjja!!

“Hyora~ya…” panggil Boram setelah mereka mengantarkan jamuan untuk kami.

“Wae?” tanya Hyora. Dan aku melihat Boram berbisik padanya. Sesaat kemudian Nuna menarik istriku ke kamar.

“Kyuhyun~ah… Apakah ada game baru?” tanya Eunhyuk Hyung yang kini sedang mengotak-atik PSP-ku.

“Tumben Hyung. Kau tidak menanyakan ‘Apakah ada video yadong terbaru?’ padaku?” Wajah Hyuk Hyung langsung saja berubah. Kkkkk….

“Ya! Untung saja aku tak mengajak Jiyeon kemari. Kalau ada dia, sudah kubungkam mulutmu dengan kaos kakiku.” ancamnya.

“Eo? Jadi ada game terbaru Kyu?” Kali ini Donghae Oppa yang bertanya sambil merebut PSP-ku dari Hyuk Hyung.

“Hyung!!! Andweee… Kau mau membunuhku dengan menyentuh PSP-ku? Kau tidak ingat pernah membuat layar laptopku retak?” Aku buru-buru merebut PSP-ku, barang paling penting setelah Hyora dan laptopku. Tangan Donghae Hyung itu kan sedikit ‘ajaib’. Bisa merusakkan barang-barang.

“Ah iyakah?” Donghae Hyung langsung saja menggaruk kepalanya dan pura-pura bodoh kemudian menuju TV dan mengganti-ganti channelnya.

Aku mengamankan PSP-ku lalu bergabung bersama Donghae Hyung untuk menonton TV. Tak lama kemudian Hyuk Hyung ikut bergabung juga sambil membawa laptopku.

“Jadi kau punya video terbaru, huh?” tanya Hyuk Hyung menaik turunkan alisnya, membuatku ingin melemparnya dengan pisang agar tidak merusuhiku terus.

“Harusnya aku yang bertanya begitu padamu, Hyung….” jawabku.

“Hoo… Kalau begitu akan kuberikan videoku yang terbaru.” Eunhyuk Hyung menarik sebuah flashdisk dari saku celananya.

“Hehehehe… Kau harus menontonnya dan mempraktekkannya pada Hyora. Araji?” bisiknya. Wajah Eunhyuk Hyung berubah lagi menjadi mesum.

“Aish!! Sebenarnya kalian ini mau apa kemari??!!! Argghhh… aku berharap tahun depan kalian semua sudah menikah jadi tak mengganggu aku dan Hyora lagi….!!!” omelku kepada Nuna dan Hyungku yang merusuh di apartemen kami. Membuat kepalaku makin pusing saja.

“Aaammmmeeeennn….” Eunhyuk Hyung, Donghae Hyung, serta Ahra Nuna segera mengamini. Aku menengok ke arah Ahra Nuna yang kini telah keluar bersama Boram dan Hyora.

“Ah, ya. Kyuhyun~ah… Aku pinjam Hyora sebentar, ya?” ujar Ahra Eonni.

“Huh? Eottiga?” Yang benar saja. Mereka sudah mengacaukan ‘kegiatanku’ sekarang malah mau menculik Hyora. Enak saja. Aku kan juga sedang sakit. Kenapa mereka mau meminjam istriku? Tsk…

“Mau tahu saja. Ini urusan yeoja. Ada yang harus kami lakukan. Sebentar saja.” ucap Ahra Nuna yang membuatku merasa ada sesuatu yang tak beres dalam ucapannya. Cara dia mengucapkan kalimat itu seperti menyiratkan sesuatu. Belum lagi senyum licik yang terpancar dari wajahnya. Membuatku semakin begidik ngeri saja.

“Kau tidak akan berbuat macam-macam terhadap Hyora kan, Nuna~ya?” selidikku.

PLETAK!

“Kenapa kau memukul kepalaku, Nuna!” bentakku. Kenapa malah jadi aku yang dipukul? Eunhyuk dan Donghae Hyung pun malah tertawa cekikikan.

“Wajahmu seperti setan.”

“Mwo?!Nuna! Wajah seperti malaikat begini. Darimana setannya?” tolakku. Enak saja. Wajah setampan ini bisa dibilang seperti setan. Aku tidak terima.

“Sudahlah, Kyu… Terima saja. Kau kan pangeran kegelapan.” ucap Donghae Hyung diselingi tawa Eunhyuk Hyung.

“Kalian….” Cukup sudah. Sepertinya emosi yang ada di dalam tubuhku ini sudah akan meledak. Tidak cukupkah mereka mengganggu ‘kegiatan’ kami? Sekarang mereka malah mau menculik Hyora begitu saja. Tidak bisa. Ini tidak bisa dibiarkan. Aku harus…

“Annyeong, Kyuhyun~ah….” Ahra Nuna kini telah menarik tangan Hyora.

“Mwoya??!!” Aku melihat ke arah pintu keluar dan sekarang aku baru menyadari kalau pikiran-pikiranku untuk membalas dendam ke mereka itu malah membuatku kehilangan kesempatan. Hyora sudah dibawa kabur ke luar rumah.

“Mianhae, aku pergi sebentar. Nanti akan kubelikan obat untukmu, Kyu…” Hyora terlihat sedikit khawatir ketika meninggalkanku. Tapi, ini semua pasti gara-gara ancaman Nunaku jadi dia juga tak bisa berkutik.

Aku melirik ke samping kiri dan kananku. Melihat dua hyungku yang tertawa riang itu rasanya membuat emosi di ubun-ubunku semakin meningkat saja. Bibirku pun tertarik membentuk senyuman. Senyuman yang yah…. Kalian tahu pasti apa makna yang terkandung di dalamnya.

“Hyung….” panggilku manja.

“Wae??” jawab mereka bebarengan.

“Aku sedang sakit…”

“Mwo??!! Kau sakit??” Eunhyuk Hyung melepaskan perhatiannya dari laptop.

“Otti apeo?(mana yang sakit?)” tanya Donghae Hyung.

“Aku demam… Gara-gara kalian datang, Hyora yang sedang menghangatkanku jadi pergi begitu. Kalian harus bertanggung jawab Hyung… Huattchii…”

“Kotjimal…(bohong)” kata Donghae Hyung lagi.

“Jinjja?”

“Kau tidak percaya Hyung? Coba raba ini, aku kan memang sedang demam…” kataku sambil menarik tangan kedua Hyung dan meletakkannya di dahiku.

Kedua Hyungku akhirnya menyadari kalau aku tidak berbohong.

“Jadi… Kau benar-benar sakit?” tanya Donghae Hyung dengan wajah khawatir.

Aku menjawabnya dengan menganggukkan kepalaku dan memperlihatkan wajah memelasku.

“Aish!! Kenapa kau tak bilang dari tadi? Tahu begini takkan kubiarkan Ahra menculik Hyora.” lanjut Eunhyuk Hyung.

“Baiklah, kau mau apa? Biar kubuatkan…” tanya Eunhyuk Hyung lagi. Dia sudah hapal dengan kebiasaanku ketika sakit. Muahaahahaha… Ini saatnya membalaskan dendamku. Aku akan meminta apa saja yang aku inginkan dari mereka. Kkkkkk…

“Eo, akan kami buatkan Kyuhyun~ah…” jawab Donghae Hyung juga.

“Aku mau Jjajangmyeon, Hyung…” kataku.

“Jjajangmyeon tidak baik untuk orang sakit. Aku buatkan bubur saja…” Eunhyuk Hyung segera menuju dapur.

“Mwo!! Aku mau jjajangmyeon!!!”

“Araasseo. Akan kubuatkan bubur jjajjangmyeon untukmu.” jawab Hyuk Hyung asal saja.

Ah… Ya sudahlah. Tidak apa-apa. Yang penting aku tidak kerja. Huahahahahha. Aku beralih pada Donghae Hyung dan mengeluarkan aura memelasku.

“Hyung… Pijiti aku…”

“Arasseo… Kemarilah…” Donghae Hyung sungguh baik sekali. Hahaha… Padahal dia sedang kukerjai. Tapi, kedua Hyungku ini memang orang-orang baik.

“Hyung, apakah kalian tahu mereka mau kemana?” tanyaku.

“Molla… Ahra menyuruh kami menemanimu saja…” jawabnya sambil memijitku.

“Kalian ini benar-benar sangat patuh pada Nuna…”

“Kau tahu kan apa yang bisa dia perbuat pada kami?”

“Kkkk… Sudah bisa kuduga. Oh iya Hyung bagaimana kabarmu dengan Hyunri?”

“Gwaenchanha… Dia akan segera lulus kau tahu? Lalu… Mungkin aku akan mengajaknya menikah. Hehehe.”

“Jinjja? Kau sudah bertemu dengan orang tuanya?”

“Molla… Tapi akan ku atur itu segera. Doakan aku, Kyuhyun~ah…”

“Hwaiting Hyung!!” Aku menyemangatinya.

“Eo, gomawo…”

“Ah Johta… Kau pintar sekali memijit, Hyung… Sebelah sini, Hyung…” Aku menyuruhnya mengganti posisi pijatannya. Huahahaha… Beginilah enaknya punya dua Hyung yang bisa ku suruh.

End Of Kyuhyun’s P.O.V

—–

Hyora’s P.O.V

“Annyeong~!” Di saat seperti ini kenapa Oppadeul, Ahra Eonnie dan Boram yang datang. Hyuu… Wajah Kyuhyun sudah terlihat menakutkan gara-gara kegiatan kami terhenti.

“Lama sekali, Kyuhyun~ah… Aku kedinginan di luar sana.”

“Aku lapar, Hyora~ya…”

“Huwaa… Hyora…” Aku melihat Kyuhyun yang terdiam mengepalkan kedua buku tangannya. Sebentar lagi dia pasti akan…

“Ya! Kalian!!!” bentak Kyuhyun. Aku sudah menutup telingaku sebelum itu terjadi.

Hampir saja Cho bersaudara itu bertengkar. Untung saja aku segera meminta Kyu untuk sedikit mengalah pada Nunanya. Setelah keadaan sedikit mereda, Donghae Hyung menjelaskan maksud kedatangan mereka.

“Begini, Kyuhyun~ah… Kami kesini tidak bermaksud untuk mengganggu kalian. Tapi, kami sebenarnya ingin mengajak kalian jalan-jalan saat tahun baru. Eotte? Kalian mau ikut?” tawar Donghae Oppa.

Mwo?jalan-jalan? Assa!! Tapi baru aku mau menjawabnya, Kyuhyun sudah menjawab duluan.

“Shireo!”

“Ah, wae?” Eunhyuk Oppa segera memprotes.

“Aku mau liburan di rumah saja.” Jawabnya. Cish… Apa asyiknya liburan berdua di rumah. Dasar Kyuhyun babo!

“Benar kalian tidak mau? Kita akan berlibur di villa milik Siwon Oppa. Disana kita bisa main ice-skating sepuasnya. Dan itu semua gratis, Kyu…” bujuk Ahra Eonnie. Mwo?? Gratis? Ice- skating? Salju. Hoaaaaaaa…. Mataku membulat senang.

“Ish… Aku tidak….”

“Mau!” Aku memotong kata-kata Kyuhyun.

“Aku mau, Eonni!” Aku melirik ke Kyuhyun dan mengeluarkan jurus merayuku padanya.

“Kyuhyun~ah… Ayo kita ikut liburan bersama mereka…” pintaku sambil membulatkan mataku. Dia kan selalu tak bisa menolak jika aku berakting seperti ini.

“Arasseo… Baiklah. Kita pergi ke sana.” Kyuhyun menyerah juga.

“Yay! Akhirnya kita bisa berlibur bersama!”

“Jjangmyeon~ah… Gomawo. Hehehehe…” Aku mencubit pipi kyuhyun yang sedikit tampak kesal di sela sorak sorai Oppadeul, Ahra Nuna dan Boram.

“Hyora~ya…” panggil Boram setelah kami menyajikan cokelat panas untuk para tamuku.

“Wae?” tanyaku.

“Ayo kita ke kamar. Ganti bajumu. Kita akan menemani Ahra Eonnie.” Bisik Boram.

“Kenapa kau berbisik?”

“Kaja…” Boram dan Ahra Eonnie menarikku ke dalam kamar.

“Ya~ cepat ganti bajumu… Kita belanja.” ajak Ahra Eonnie.

“Geunde Eonnie… Kyuhyun….”

“Apa gunanya ke dua namja yang aku ajak kemari? Sudah kau terima beres saja… Palli hae…”

“Eo… Eonnie…” Aku tak tega meninggalkan Kyuhyun yang sedang sakit itu. Tapi, Ahra Eonnie terlihat lebih menakutkan. Kalau begitu, biar nanti sekalian saja akan kubelikan obat dan vitamin untuknya.

Kami bertiga keluar setelah aku siap pergi dengan mereka.

“Aish!! Sebenarnya kalian ini mau apa kemari??!!! Argghhh… Aku berharap tahun depan kalian semua sudah menikah jadi tak mengganggu aku dan Hyora lagi….!!!” Kami mendengar Kyuhyun mengomel.

“Aaammmmeeeennn…” Hyuk Hyung, Donghae Hyung, serta Ahra Eonnie mengamini omelan Kyuhyun ehm.. doa tepatnya.

“Ah, ya. Kyuhyun~ah… Aku pinjam Hyora sebentar, ya?” ujar Ahra Eonni.

“Huh? Eottiga?”

“Mau tahu saja. Ini urusan yeoja. Ada yang harus kami lakukan. Sebentar saja.”

“Kau tidak akan berbuat macam-macam terhadap Hyora kan, Nuna~ya?”

PLETAK!

Omo!! Ahra Eonnie memukul kepala Kyuhyun. Aigoo… Kasihan sekali… Dia kan sedang pusing. Dan yang terjadi selanjutnya adalah kedua kakak beradik ini sudah bertengkar entah siapa yang memulainya. Tapi, pertengkaran Ahra Eonnie dan namdongsaengnya itu berhenti karena Ahra Eonnie segera meninggalkan Kyuhyun yang masih mengoceh.

“Mianhae, aku pergi sebentar. Manti akan kubelikan sesuatu untukmu, Kyu…” Aku mengikuti Ahra Eonnie dan Boram dengan pasrah.

—–

“Jadi, kau sudah menyiapkan hadiah natal apa untuk Kyuhyun?” tanya Ahra Eonni dalam perjalanan kami ke mall untuk menemaninya belanja.

“Mwo? Hadiah?” tanyaku. Astaga! Kenapa aku bisa lupa? Aaaa… Ottokhae??

“Kau belum membeli hadiah?” tanya Boram. Aku menggelengkan kepalaku lemah.

“Mwoya?!!!” teriak Ahra Eonni dan Boram. Aish… Mereka ini. Kenapa suka sekali berteriak seperti ini? Aku melirik ke sekitarku dan mendapati beberapa orang melihat ke arah kami. Aigoo…

“Eonni… Orang-orang melihat ke arah kita.” bisikku.

“Habis kau ini. Benar-benar. Kenapa sekarang kau jadi tertular Kyuhyun? Cuek sekali.” ucap Ahra Eonni.

“Aku benar-benar lupa, Eonni. Aku sibuk menyelesaikan skripsiku sampai-sampai tidak sadar kalau sekarang sudah mau natal.” sesalku. Kulihat Boram dan Ahra Eonni memandangiku lalu tersenyum.

“Untung kami mengajakmu. Kami memang akan mengajakmu membeli hadiah natal. Dan kami akan membantumu untuk memilihkan hadiah untuk Kyuhyun!” ucap Boram riang.

“Eo! Maja! Kaja. Kita pergi ke mall.” ajak Ahra Eonni yang dengan serta merta menyeretku dan Boram ke mall yang letaknya di sebelah kafe milik Siwon Oppa. Sebelumnya, Ahra Eonni sempat berpamitan dengan Siwon Oppa. Aku bisa melihat raut wajah kemerahan Ahra Eonni. Hohoho. Ternyata Ahra Eonni cukup manusiawi juga. Ups. Kalau dia tahu aku bicara seperti itu, mungkin dia akan menghadiahiku jitakan super nya. Kkkk.

——

“Bagaimana kalau itu saja?” tanya Boram. Dia menunjuk ke arah toko mainan yang sudah pasti berisi kaset games terbaru. Huwaaa… Itu sungguh surga dunia. Mataku berbinar seketika memandang isi toko itu dari luar. Jika aku membelikannya kaset games itu, aku juga bisa memainkannya juga kan? Jadi, sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui. Hehehehe… yah ini seperti sambil menyelam minum air bukan? Aku menarik bibirku pelan, membentuk sebuah senyuman. Baru saja aku hendak melangkah ke dalam toko itu, sebuah tangan menarik pergelangan tanganku.

“Eonni… Wae?” Aku melihat ekspresi Ahra Eonni yang seolah-olah menganggap bahwa jika aku masuk ke dalam toko itu sama saja dengan aku masuk ke gerbang neraka.

No no no….” Ahra Eonie menggelengkan kepala dan jari telunjuknya bersamaan. Kau tidak ingin Kyuhyun mengacuhkanmu sepanjang hari, kan?” tanyanya.

“Ani…” jawabku lemah.

“Kaja!” ajak Ahra Eonni. Aku pun hanya bisa mengikutinya sambil tertunduk lesu. Selamat tinggal kaset games… Aku memandang ke arah Boram yang memandangiku dengan rasa iba.

“Mianhae, Hyora~ya…” bisiknya pelan.

“Eo, gwaenchana.”

Ahra Eonni pun dengan semangatnya mengajak kami berdua berkeliling mall ini. Sepertinya Eonni-ku yang satu ini tidak punya rasa bosan. Padahal, aku saja sudah merasa bosan. Kami sudah bolak-balik ke beberapa toko. Dari toko baju, perhiasan, elektronik, bahkan sekarang kami menuju toko….

“Pakaian dalam!” teriakku dan Boram tertahan.

Ahra Eonni melirikku bosan lalu mengisyaratkanku dan Boram untuk mengikutinya masuk ke dalam toko ini. Toko ini cukup besar. Dengan berbagai macam yah… pakaian dalam di dalamnya. Dari yang bermodel polos, berenda, bahkan yang bermodel aneh seperti yang aku pegang sekarang.

“Apa ini? Kenapa modelnya aneh begini?” Aku memegang sebuah celana dalam dengan model tali di pinggir kiri dan kanannya. Tapi, kenapa di bagian tengahnya terbuka seperti ini. Apa yang memakainya tidak masuk angin? Sungguh aneh sekali. =,=”

Sementara itu, Boram sibuk memilah-milih beberapa pakaian dalam yang sepertinya sedang diskon. Ah, aku lupa. Dia kan paling suka dengan barang sale. Buktinya, sejak tadi dia yang paling sibuk memilih barang dan dia pula lah yang paling banyak membeli barang. Disusul oleh Ahra Eonni yang ternyata juga suka belanja. Sedangkan aku? Tanganku masih kosong seperti ini.

“Ayo, Hyora~ya… Kita ke sana.” tunjuk Ahra Eonni. Aku pun mengangguk lalu menaruh celana dalam dengan model aneh tadi.

“Boram~ah… Kau ikut tidak?” tanyaku. Dia hanya menggoyangkan tangan kanannya, mengisyaratkan bahwa dia masih ingin memilih-milih barang. Kalau dia sudah seperti ini, itu artinya dia sudah tidak bisa diganggu gugat lagi. Akhirnya, aku memilih mengikuti Ahra Eonni yang kini sedang berjalan ke arah bagian pakaian dalam PRIA!

“Mwoya??!!” Aku berteriak cukup kencang sehingga beberapa namja yang ada di sekitarku menatapku aneh. Aku segera menundukkan kepalaku malu lalu berjalan cepat ke arah Ahra Eonni.

“Eonni….” rengekku.

Bukannya menanggapiku, Ahra Eonni malah sibuk memilah-milih celana dalam namja.  Banyak namja yang melihat ke arah kami dengan pandangan aneh. Tentu saja. Bagaimana tidak aneh. Kami berdua adalah seorang yeoja dan sekarang sedang berada di bagian celana dalam PRIA. Catat. Celana dalam PRIA. Dan Ahra Eonni bisa dengan santainya memilih-milih celana dalam yang ada di rak sale diantara para namja yang sedang memilih. Ah… Aku malu sekali… >/////<

“Ya! Kenapa kau diam saja? Cepat pilih!” ucap Ahra Eonni santai. Dia bahkan tidak memperhatikan beberapa namja yang melirik ke arah kami dengan pandangan aneh.

“Mwo?? Un-untuk siapa?” tanyaku tergagap.

“Untuk Kyuhyun. Kau pikir untuk siapa?” tanya Ahra Eonni. Dia menggelengkan kepala saat memegang celana dalam bermotif polkadot. Lalu, mengambil celana dalam bermotif leopard.

“Siwon Oppa.” jawabku polos. Sontak Ahra Eonni menjatuhkan celana dalam bermotif leopard itu ke rak sale yang ada di hadapannya. Dia menatapku kaget, sedangkan aku menatapnya takut. Apa Ahra Eonni marah?

“Ya! Kenapa jadi Siwon Oppa?” Aku menundukkan kepalaku takut. Melihat Ahra Eonni melotot secara langsung bisa membuat ibu hamil keguguran bayinya.

“Ani. Hanya saja. Kenapa aku harus memberikan celana dalam kepada Kyuhyun untuk hadiah natal?” ucapku pelan. Untung saja namja-namja yang tadi berada di sekitar kami sudah banyak yang pergi. Aku jadi bisa sedikit santai jika ingin berbicara dengan Ahra Eonni.

“Sekali-sekali. Biasanya kan suami yang memberi lingerie untuk istrinya. Sekarang gantian. Istri yang memberikan celana dalam untuk suaminya. Hohoho. Ide bagus, bukan?” Entah kenapa kali ini aku mendengar nada bicara Ahra Eonni ini agak sedikit errr…. Mesum? Aish. Kenapa kau jadi membicarakan kakak iparmu seperti ini, Hyora~ya…

“Err… Aku rasa ini akan berdampak buruk padaku, Eonni…” Aku bisa membayangkan kalau Kyuhyun akan berpikir yang ‘iya-iya’ jika aku membelikan celana dalam untuknya. =,=”

“Hahaha. Jinjja? Bukannya itu akan berdampak baik pada kita semua? Kau bisa cepat punya aegi dan aku bisa mempunyai keponakan yang lucu untuk kudandani.” ucapnya riang.

Memang sih, benar juga kata Ahra Eonni. Aku juga sebenarnya sangat menginginkan seorang aegi. Tapi, aku masih teringat perkataan Kyuhyun untuk menjalani hidup kami seperti air yang mengalir karena Tuhan pasti sudah mempunyai rencana sendiri untuk kami.

“Tapi, Eonni…Aku tidak tahu ukuran celana dalamnya Kyuhyun…” elakku. Sebenarnya, aku tahu ukurannya. Ini hanya trik saja untuk menghindari keinginan gila Ahra Eonni.

“Masa kau tidak tahu ukuran suamimu?” tanya Ahra Eonni. Aku menggelengkan kepalaku lemah. Assa! Sepertinya ini akan berhasil. Ahra Eonni pasti akan langsung menyerah dan aku pun tidak perlu membelikan celana dalam untuk Kyuhyun.

“Aish, jinjja. Baiklah… Aku yang pilihkan. Yang ini saja.” Ahra Eonni kemudian tersenyum aneh sambil menunjuk celana dalam ketat bermotifkan leopard.

“Eonni!!!!” Aku bisa melihat beberapa orang namja yang ada di sekitarku melihat ke arah kami.

—–

“Ffuh…” Aku meniup poni di atas dahiku pelan.

Sementara itu, aku bisa mendengar Ahra Eonni yang mengomel sepanjang perjalanan. Err… Kurasa itu salahku juga. Aku…. Entah mungkin karena shock atau bagaimana yang jelas setelah aku berteriak memanggil Ahra Eonni aku langsung kabur ke luar toko.

Dan aku tidak tahu kalau Ahra Eonni mengejarku sambil membawa celana dalam bermotif leopard itu hingga akhirnya alarm keamanan toko itu berbunyi. Ahra Eonni hampir saja dibawa ke pos keamanan kalau saja aku dan Boram tidak membantu menjelaskan bahwa Ahra Eonni tidak bersalah. Yah… Meskipun pada akhirnya Ahra Eonni tetap harus membeli celana dalam itu karena pihak toko yang tidak mau tahu.

“Mianhae, Eonni…”

“….” Ahra Eonni hanya diam saja dan masih memandang lurus ke depan, menyetir tanpa suara. Sementara itu, Boram yang duduk di kursi belakang pun hanya mengedikkan bahunya saat aku memandangnya dengan pandangan ‘minta-tolong’ kepadanya.

“Eonni… Kau marah padaku?” tanyaku. Aku melirik Ahra Eonni takut-takut. Bukannya apa-apa. Kyuhyun saat marah saja sudah mengerikan. Apalagi Ahra Eonni.

“Gwaenchana… Kau tenang saja.” ucapnya santai. Aku membulatkan mataku. Apa aku tidak salah dengar? Ahra Eonni tidak marah padaku? Dan dia malah terlihat errr… tersenyum? Aku tidak habis pikir dengan apa yang dia pikirkan saat ini. Apa dia punya rencana aneh? Bukankah dia suka sekali membuat rencana aneh? Kemarin saja waktu aku sedang ada di rumah orang tua Kyuhyun, dia dengan teganya memberikan minuman dengan obat perangsang di dalamnya sehingga aku… aku… ah… Ige mwoya? Kenapa aku jadi melantur seperti ini? Aku jadi terlihat seperti tante-tante girang. Argh… Aku menggelengkan kepalaku cepat. Sepertinya setelah menikah aku sudah menjadi yeoja yang suka berpikir mesum. Apa aku ini normal?

Dan sekarang, aku sedang berpikir bahwa ternyata aku belum membeli hadiah apa-apa untuk Kyuhyun sementara ini sudah satu minggu menjelang natal! Aigoo… Bagaimana ini? Apa yang harus kulakukan? Otakku benar-benar buntu. Aku ingin memberikan hadiah yang istimewa untuknya.

“Ya! Kenapa kau menggelengkan kepalamu seperti itu? Aneh sekali.” tanya Ahra Eonni.

“Err… Ani.. Tidak apa-apa…” jawabku gugup. Bisa gawat kalau Eonni tahu aku sedang memikirkan…

“Kyuhyun? Kau sedang memikirkannya?” tebak Ahra Eonni dan itu sungguh tepat sasaran.

“Mwo? Bagaimana Eonni tahu?” tanyaku tak percaya. Ahra Eonni hanya tersenyum. Tapi, senyuman yang ini berbeda dari senyum yang sebelumnya. Senyumannya terkesan lembut. Dan aura yang dimilikinya pun bukan aura setan seperti yang biasa dia dan adiknya keluarkan itu. Tapi, ini lebih seperti aura saat seorang yeoja sedang jatuh cinta?

“Itu karena cinta. Cinta memiliki aturannya sendiri. Tak bisa dicerna kecuali dengan mata hati.” ucapan Ahra Eonni ini sontak membuatku dan Boram membuka mulut kami lebar-lebar. Ini… Ada yang tidak beres disini. Ahra Eonni yang biasanya ceplas-ceplos bisa mengucapkan kalimat seperti ini?

“Eonni… Kau tidak sakit, kan?” ucap Boram sambil menempelkan punggung tangannya di kepala Ahra Eonni.

“Ya! Kau pikir aku gila?” teriak Ahra Eonni yang kali ini membuat kami berdua tertawa terpingkal-pingkal.

“Ini baru Eonni-ku…” ucapku masih dengan tertawa.

“Aish, jinjja. Image-ku sepertinya sudah hancur sekali di mata kalian.” Kami berdua pun semakin tertawa mendengar celotehannya kali ini.

“Oh, ya. Hyora~ya… Lalu, bagaimana dengan kado natal untuk Kyuhyun? Bukannya kau tadi tidak jadi membeli celana dalam untuknya? Kecuali kalau kau mau memberi celana dalam yang sudah terlanjur dibeli oleh Ahra Eonni tadi sebagai kado untuk Kyuhyun. Kkkk.” ucap Boram diselingi suara tawanya.

Ah, benar juga yang dikatakan Boram. Kenapa aku bisa sampai terlupa begini? Tapi, masa aku memberi Kyuhyun kado celana dalam sebagai hadiah natal? Dia bisa berpikir yang aneh-aneh kalau aku memberinya kado seperti itu. Aku tidak memberinya kado seperti itu saja dia sudah sering berpikir yang aneh-aneh. Apalagi jika aku memberi kado seperti itu.

“Errr…. Menurutmu apa yang harus kulakukan?” tanyaku. Aku takut aku tidak punya pilihan lain. Bagaimana mungkin aku bisa memberikan kado natal sebuah celana dalam kepada Kyuhyun? Yang benar saja.

“Bagaimana kalau kau pura-pura mengajak Kyuhyun berjalan-jalan. Kau kan bisa melihat benda apa yang kira-kira membuat matanya tertarik. Dan… Tada… Tinggal beli saja. Gampang, kan?”

“Ah… Benar. Kau pintar juga, Eonni…” ucapku sambil tersenyum riang.

“Tentu saja. Cho Ahra…” ucap Ahra Eonni sambil menepuk dadanya pelan. Sungguh. Ternyata memang benar kalau Ahra Eonni adalah tampilan Kyuhyun dalam versi perempuan. Mirip sekali mereka ini. =,=”

——

“Kyu… Ireona…” Aku mencoba membangunkan Kyuhyun yang masih tidur berselimut tebal. Udara di kamar ini terasa begitu dingin meskipun kami sudah menggunakan pemanas ruangan.

“Enghh…. Jam berapa ini, Hyo? Aku masih mengantuk.” jawab Kyuhyun malas. Dia menggeliat pelan. Namun, akhirnya masuk kembali ke dalam selimutnya. Aku mendengus kesal. Dia ini. Kalau dia masih tidur, bagaimana aku bisa tahu apa kado yang dia inginkan natal nanti.

“Kyu… Kyu….” Aku menggoyang-goyangkan tubuhnya. Tapi, dia tidak ada respon sama sekali. Aish, jinjja. Dia ini kalau sudah tidur benar-benar seperti mayat. Tidak mau bergerak sedikitpun jika sudah terlelap.

“Kyu…” Kalau sudah begini, akupun tidak bisa melakukan apa-apa selain…

BUKK!

Aku menyibakkan selimut yang menggulung tubuh Kyuhyun. Mungkin dikarenakan posisi tidur Kyuhyun yang ada di pinggir, akibatnya dia pun dengan sukses jatuh ke lantai.

“Ooppss…” Aku menutup mulutku.

“Ya! Aish, jinjja. Hyora~ya…” omelnya sambil mengusap pinggangnya. Ah… Akhirnya dia bangun juga. Aku pun segera memasang senyum termanisku.

“Tidak bisakah aku tidur sebentar lagi? Aku benar-benar mengantuk.” Diusapnya kedua matanya yang masih tertutup itu.

“Jjangmyeon~ah… Ayo jalan-jalan…” ajakku. Dia melebarkan matanya dan memandangku tak percaya.

“Mwo? Yang benar saja, Hyora~ya… Sekarang masih terlalu pagi dan udara di luar juga pasti sangat dingin. Shireo!” tolak Kyuhyun. Dia pun bangkit dari atas lantai kamar kami, tempat dia jatuh, yang kini sudah bertutupkan karpet tebal. Tentu kalian sudah tahu apa akibatnya kalau kamar kami tidak ada karpet tebal ini? Kami pasti bisa kedinginan sepanjang malam.

“Kyu…” Aku menarik bajunya pelan saat dia sudah mau menelungkupkan badannya lagi ke dalam kasur. Aku tidak boleh gagal untuk mencari tahu kado apa yang diinginkannya.

“Ayo kita jalan-jalan. Sudah lama kan kita tak jalan-jalan berdua saja?” tawarku.

“Lalu di Dongdaemun dulu itu apa? Kita kan sudah berkencan kemarin.” Dia menyipitkan matanya ke arahku.

“Oh… Jadi kau tidak mau kencan denganku hari ini??!!” Aku menyilangkan tanganku.

“Baiklah kalau maumu begitu Tuan Gaem Gyu… Awas saja kalau kau mau menyentuhku malam ini. Jangan harap kau…….”

“Ara… Ara…!!” Kyuhyun menjawabku dengan ketakutan. Aku pun tersenyum lebar saat dia akhirnya menyerah. Kkkk… Padahal kalimatku saja belum selesai. Memangnya dia pikir aku akan berbuat apa? Dasar Kyuhyun babo.

—–

“Bagaimana dengan jaket ini Kyu? Neo johahae?(kau suka?)” tanyaku untuk kesekian kalinya.

Kami berdua sekarang sedang berjalan-jalan ke mall untuk mengetahui kado natal apa yang Kyuhyun inginkan. Tapi, masalahnya sejak tadi aku bertanya padanya tentang barang apa yang dia sukai, dia selalu menjawab suka semuanya. Huh! Masa aku harus membeli semuanya?

“Eo, joha joha…” Dia mengangguk-angguk.

“Woaaa… Igo ddo johta… Geure? (Woaaa… Ini juga bagus… Ya, kan?)”

“Eo… geure guere…”

“Kau suka yang mana?” tanyaku antusias.

“Aku suka semuanya.” jawabnya cuek.

“Aish! Ya sudah kalau kau memang suka semuanya… Beli saja semuanya!!” Aku jadi kesal sendiri. Dia itu tidak spesifik sekali menyebutkan barang yang dia inginkan. Menyebalkan sekali. Aku pun akhirnya berjalan mendahuluinya. Kalau begini aku kan jadi semakin susah untuk berpikir kado apa yang diinginkannya.

“Ya~ ya~… Neo wae geure? (kau kenapa?)” Dia menarik tanganku dan membalikkan tubuhku.

“Aniya…” jawabku masih kesal.

“Apanya yang aniya? Kau marah padaku? Dengar Myeonjjang… Apapun yang kau pilihkan untukku, aku sudah pasti menyukainya. Araji?” Entah kenapa, jawabannya sedikit membuatku senang. Tapi, tetap saja aku merasa jengkel padanya.

“Ah… Kita sudah berkeliling seluruh kompleks mall ini. Neo baeanggopa? (Kau tidak lapar?) Jjajangmyeon meokja…(ayo kita makan jjajangmyeon)” ajaknya.

Kyuhyun pun melajukan mobilnya menuju kedai Jjajangmyeon langganan kami. Aroma Jjajangmyeon kesukaan kami pun segera menyeruak masuk ke dalam hidung kami. Membuatku lapar seketika itu juga.

Saat kami masuk ke dalam kedai, beberapa yeoja yang ada di situ memandangi suamiku seolah ingin menerkamnya saja. Apa mereka tidak melihat keberadaanku? Bukankah jelas-jelas Kyuhyun ada di sampingku dan menggandeng tanganku? Cish. Benar-benar menjengkelkan. Kenapa seorang Cho Kyuhyun harus ditakdirkan mempunyai wajah yang bisa membuat yeoja-yeoja menggelepar. Baiklah… Kali ini kuakui kalau dia itu memang tampan. Tapi, tidakkah mereka bisa bersikap biasa saja?

“Jalmeogeoseumnida…” katanya ketika pesanan kami datang. Dia segera saja makan jjajangmyeonnya dengan lahap.

“Cheoncheonhi, Kyuhyun~ah…(pelan-pelan, Kyuhyun~ah)” kataku ketika dia terbatuk karena terlalu cepat makan.

“Aku ada janji dengan Sungmin Hyung.” jawabnya, masih dengan mulut penuh jjajangmyeon.

“Mwo?”

“Eo! Jadi, nanti aku antarkan kau sampai depan apartemen saja, ya?”

Aku mengangguk dan meneruskan makan. Kyuhyun makan cepat sekali. Dia menyelesaikan satu mangkuk porsi besar Jjajangmyeonnya kurang dari lima menit.

“Kau sudah selesai?” tanyaku. Dia mengangguk sambil memasukkan tangannya ke dalam saku jaketnya. Aku pun melanjutkan lagi memakan setengah porsi jjajangmyeonku yang tersisa di mangkuk. Mataku sempat menangkap matanya yang sedang melayangkan pandangannya ke seluruh ruangan. Kuperhatikan matanya juga. Dia memandang kea rah beberapa yeoja. YEOJA!!! Aku jadi tidak tenang. Ada apa dengannya? Tidak biasanya dia memandang para yeoja. Biasanya dia akan dengan acuh jika ada yeoja yang menatapnya dengan tatapan memuja. Tapi sekarang? Dia malah memperhatikan beberapa yeoja yang berlalu lalang di jalanan.

‘Sabar, Hyora~ya… Jangan berprasangka dulu….’ Aku menahan rasa jengkelku.

Kyuhyun sesekali juga melihat ponselnya untuk mengecek jam di situ.

“Kau buru-buru?” tanyaku setelah selesai dengan jjajangmyeonku.

“Eum… Jogeum (sedikit)…” gumamnya. “Kkeutnasseo? (sudah selesai?)”

Aku mengangguk lalu dia segera bangkit dari tempat duduk dan menuju kasir. Lagi-lagi meninggalkanku.

“Palliwa…” Tangannya melambai-lambai padaku untuk segera menyusulnya. Dia menggandeng tanganku lalu menuju mobil kami dan mengantarkanku sampai depan gedung apartemen kami.

“Aish… Apa yang harus aku beli untuk Kyuhyun ya? Cara tadi gagal total. Kyuhyun tak bisa di tebak. Aigoo… Eottokhae? Hari natal masih seminggu lagi dan aku belum mendapatkan juga apa yang akan aku berikan padanya…” gumamku sendiri sambil mencuci piring yang tadi belum sempat aku cuci sebelum kami pergi ke mall.

“Tapi… Kenapa dia berperilaku sangat aneh? Kenapa dia memperhatikan para yeoja tadi? Apakah…….” Aku teringat kembali kejadian di kedai jjajangmyeon tadi.

“Ah~… Ani ani… Aku harus membuktikan dulu… Dia tidak mungkin kan….” Aku menggeleng-gelengkan kepalaku berusaha menghilangkan pikiran dan prasangka buruk mengenai suamiku. Dia tak mungkin seperti itu. Aku percaya padanya. Yah… Walaupun ada sedikit rasa aneh yang aku sendiri tak bisa menjelaskannya. Seperti ada sesuatu yang mengganjal di hatiku.

Aish, kenapa kau malah memikirkan hal yang tidak penting Hyora babo? Aku harus fokus lagi terhadap hadiahku. Tidak bisa begini. Aku harus berpikir. Pikirkan Hyora… Pikirkan dengan benar. Aigoo… Sepertinya aku harus jalan-jalan sendiri lagi untuk mencari tahu kado apa yang kira-kira Kyuhyun inginkan. Aku segera beranjak dari dapur dan memakai mantelku lagi untuk pergi berjalan-jalan sendiri. Siapa tahu aku bisa menemukan kado yang tepat untuk Kyuhyun.

Suara bel di pintu gift shop yang aku datangi berbunyi saat aku melangkah masuk ke dalamnya. Banyak hiasan natal yang tergantung di dalam toko. Aku menyapukan pandanganku ke seluruh toko itu dan mulai melihat-lihat barang-barang yang ada di situ. Banyak benda-benda bagus yang dipajang disitu. Tapi, aku merasa tak ada yang cocok untuk dihadiahkan kepada suamiku yang super cuek itu.

“Uwa… Lihat ini! Ini saja yang kau berikan padanya. Neomu kwiopta…” Aku mendengar dua orang pelajar mengomentari sebuah barang yang ada di belakangku.

“Semoga saja Minhwan menyukainya. Lalu bagaimana denganmu? Kau sudah punya kado yang akan kau berikan untuk Seonwoo?”

“Na? Belum…”

“Mwo? Kau belum memutuskan untuk membeli apa untuknya?”

“Ani, belum selesai…”

“Jadi, apa yang akan kau berikan padanya?”

“Aku mau memberinya hadiah yang aku buat sendiri…”

“Mwonde? (apa itu?)”

“Aku membuatkannya sarung tangan. Maka dari itu, kau temani aku ke toko rajut untuk membeli benang lagi. Benangku habis lagi.”

“Oke. Kaja! Kita bungkus kadoku dulu.”

Aku menyimak pembicaraan kedua yeoja haksaeng ini. Hadiah yang kau buat sendiri? Aku teringat jika Kyuhyun meninggalkan sarung tangannya di rumah dan syalnya pun sudah lepas rajutannya seperti yang dia bilang kemarin. Ah! Aku punya ide. Bagaimana jika aku buatkan dia itu saja. Sepertinya menarik. Lagipula aku cukup pandai merajut.

Aku tahu kado yang seperti itu terdengar klasik. Tapi, setidaknya aku bisa memberikan hadiah yang bermanfaat untuknya, kan? Aku keluar dari gift shop terakhir setelah memilih beberapa barang untuk appaku, Donghae Oppa, Ahra eonnie, Eommunim, Abeonim, Boram, dan juga Eunhyuk Oppa. Lalu, kulanjutkan perjalananku menuju toko rajutan untuk membeli beberapa benang, jarum rajut dan beberapa perlengkapannya. Semoga saja 1 minggu ini aku bisa membuatkannya syal, sarung tangan serta topi untuknya.

End Of Hyora’s P.O.V

 

Author’s P.O.V

“Jjangmyeon…” panggil Hyora malam harinya saat Kyuhyun baru saja mandi setelah pulang dari rumah Sungmin.

“Wae?”

“Apa yang sedang kau lakukan?”

“Kau tidak lihat? Aku sedang menonton TV.” jawab Kyuhyun tanpa mengalihkan perhatiannya dari acara pertandingan game di TV. Hyora tiba-tiba menyandarkan kepalanya pada pundak Kyuhyun. Kyuhyun sedikit terkaget dengan perilaku tak biasa dari istrinya itu. Tapi, dia hanya tersenyum menanggapinya. Sesaat kemudian jantungnya kembali mendapatkan shock therapy karena Hyora tiba-tiba saja menggenggam tangannya dan dengan tenangnya kini di mengamati tangan Kyuhyun.

“Kau sedang apa, Myeonjjang?” Kyuhyun terkikik melihat Hyora yang sedang membandingkan tangan Kyuhyun dengan tangannya sendiri.

“Huh?” Hyora sontak memandang ke arah Kyuhyun.

“Ada apa dengan tanganku?”

“Berikan tanganmu yang kiri…” pinta Hyora tanpa menjawab pertanyaan Kyuhyun.

“Mwo?” tanya Kyuhyun bingung.

“Palli!!” perintah Hyora lagi. Kyuhyun menunjukan smirk nya, sedikit menertawakan kekonyolan istrinya sendiri. Tapi, mau tak mau dia menyerahkan juga tangan kirinya dan acara menonton TV yang tadi dilakukannya pun menjadi terbengkelai. Hyora pun mengingat-ingat ukuran tangan Kyuhyun yang dia ukur secara manual dengan berpatokan pada tangannya.

“Ehmm… ini topimu Kyu?” Setelah itu, Hyora kembali menanyakan sesuatu yang sangat aneh. Kyuhyun pun mengernyitkan alisnya heran.

“Iya, ini topiku. Hadiah dari Eunhyuk Hyung…”

“Aku ingin kau memakainya…” Hyora kemudian memakaikan topi baseball milik Kyuhyun itu.

“Jalsaenggyeopta…(tampan sekali)” gumam Hyora sambil merapikan topi Kyuhyun.

Jantung Kyuhyun yang sedari sudah mendapatkan shock therapy akibat perlakuan Hyora yang beda dari biasanya kini pun semakin berdetak kencang. Jalsaenggyeopta… Kata-kata itu bukanlah kata yang asing di telinga Kyuhyun. sebelumnya, dia sudah sering mendengarkan kata itu dilontarkan yeoja-yeoja yang menggilainya. Tapi, baru sekali ini Hyora mengucapkan hal itu kepadanya. Dan entah kenapa hal itu malah membuat kerja jantungnya berantakan.

Sedetik kemudian keduanya sudah saling berpandangan, Kyuhyun segera menarik tangan kanan Hyora dan mengalungkannya ke belakang leher nya. Lalu, diraihnya tangan kiri Hyora dan mengalungkan tangan satunya itu ke leher Kyuhyun. Dipandangnya tajam Hyora yang kini hanya bisa menelan ludahnya. Tak memerlukan waktu yang lama, Kyuhyun mengecup cepat bibir Hyora.

“Ige… Nae seonmul… (Ini… Hadiah dariku…)” kata Kyuhyun setelah kecupannya. Dan seterusnya, mereka sudah hanyut dalam dunia milik mereka sendiri.

——

“Kyu… Kyu…” Hyora menggoyangkan tubuh Kyuhyun pelan. Tapi, sepertinya Kyuhyun tidak mau bergerak dari tidurnya.

“Sudah tidur rupanya.” Hyora pun membuka selimut yang dia pakai lalu beranjak turun dari tempat tidur mereka tanpa meninggalkan suara. Dia berjalan pelan menuju pintu kamar mereka dan membuka pintu kamar itu pelan.

Akhirnya, setelah Hyora berhasil keluar dari kamar mereka, dia pun segera berjalan menuju kamar belajar. Hyora menyalakan lampu belajarnya dan mengambil hasil rajutannya yang masih belum selesai juga di laci meja belajarnya. Dia sengaja menyembunyikan hasil rajutannya dari Kyuhyun karena Hyora ingin memberi kejutan kepada suaminya itu. Hyora sempat tersenyum singkat saat mengingat kenyataan bahwa dia akan memberikan benda di tangannya itu kepada Kyuhyun sebagai hadiah natal. Dia sendiri dapat merajut dengan baik jadi saat mengerjakan topi dan sarung tangannya sedikit cepat.

“Ja! Hwaiting!” pekik Hyora pelan. Dia mulai merajut lagi topi yang akan dia berikan kepada Kyuhyun. Sebelumnya, dia sudah mengukur ukuran kepala Kyuhyun dari topi yang Kyuhyun punya. Jadi, bisa dipastikan topi rajutan yang akan dia berikan tidak terlalu besar atau terlalu kecil. Dalam waktu dua hari, dia bisa menyelesaikan dua buah sarung tangan untuk Kyuhyun.

Hyora merajut topi itu dengan tekun. Dia tidak ingin melakukan kesalahan seperti kemarin lagi sehingga dia harus mengulang untuk membuat topi rajutan. Dengan perlahan dan hati-hati, Hyora merajutnya. Hyora merajut benda itu dengan segenap perasaan yang dimilikinya untuk Kyuhyun. Tanpa lelah. Tanpa mengeluh sedikitpun. Meskipun rasa kantuk yang menderanya sudah sangat kuat, Hyora terus mencobanya dan mengabaikannya hanya demi untuk menyelesaikan rajutannya yang belum selesai. Suara detak jam dinding pun menjadi semacam musik yang mengiringi kegiatan Hyora ini. tanpa disadarinya, jam di dinding kamar belajar itu pun sudah menunjuk pukul tiga pagi. Hyora menggeliat pelan saat akhirnya dia merampungkan sisa rajutan topi itu.

“Selesai… Hoam.. Aku mengantuk sekali.” ucapnya pelan. Dia menguap pelan lalu memandang sebentar hasil karyanya.

‘Yah… Lumayan. Tidak terlalu jelek dan cukup layak pakai.’ pikir Hyora.

Hyora pun memasukkan topi rajutan yang sudah jadi beserta sarung tangan dan benang yang akan digunakan selanjutnya untuk membuat syal. Diliriknya jam dinding di kamar belajarnya itu.

“Sudah dini hari. Aku rasa lebih baik aku tidur dulu. Aku bisa melanjutkannya besok.” Hyora pun memasukkan semua benda yang digunakan untuk membuat kado untuk Kyuhyun ke dalam kantong kertas yang kemudian dimasukkannya ke dalam laci meja belajarnya.

“Tinggal sehari lagi, Hyora~ya… Kau pasti bisa!” Hyora menyemangati dirinya sendiri.

Dia pun mematikan lampu di meja belajarnya lalu beranjak keluar kamar belajarnya, kembali ke kamarnya untuk tidur. Hyora mendapati Kyuhyun masih terlelap tidur sambil memeluk guling. Saat Hyora mendekat, dia dapat melihat Kyuhyun menggumamkan sesuatu sambil menggerak-gerakkan bibirnya.

Hyora terkekeh pelan melihat tingkah suaminya itu. Dia memang tidak bisa diam. Bahkan jika tidur sekali pun. Hyora pun meringsuk naik ke atas tempat tidur dan memakai selimut, berusaha menghangatkan tubuhnya di tengah suhu udara yang semakin menurun. Akhir Desember merupakan puncak musim dingin di Korea.

Tapi, saat dia baru menyelimuti tubuhnya dan hendak menutup matanya, dia merasakan sebuah tangan besar tiba-tiba memeluknya. Hyora yang sudah mau tidur itu pun langsung membuka kedua matanya lebar.

Hyora menghela nafas lega saat mengetahui bahwa Kyuhyun lah yang memeluknya. Hyora menatap wajah Kyuhyun dalam. Menyusuri setiap lekuk wajah Kyuhyun. Tangannya diarahkan ke wajah tampan suaminya itu.

“Aku baru tahu kalau kau itu begitu tampan…. Pantas saja banyak yeoja yang terpesona padamu. Jadi selama ini akulah yang bodoh tak mau mengakui hal ini?” kata Hyora dalam hati.

Perkataan yang menurut Hyora sangat berbahaya jika diucapkan saat Kyuhyun sedang terbangun. Kyuhyun pasti akan dengan percaya dirinya mengatakan bahwa memang dirinya-lah makhluk ciptaan Tuhan yang paling tampan. Hyora tersenyum saat membayangkan hal itu. Kepercayaan diri Kyuhyun akan ketampanannya memang kadang membuatnya kesal.

Tapi, entah kenapa dia bisa menyukai Kyuhyun. Namja dengan segala kepercayaan dirinya. Namja yang membuatnya bahkan rela tidak tidur semalaman hanya untuk membuatkan kado untuknya meskipun sebenarnya dia bisa membeli kado di luar. Namja yang selalu membuat otaknya kacau seketika dan tidak bisa berpikir dengan jelas. Yang jelas, Kyuhyun lah alasan dari semua hal yang dia lakukan saat ini.

—–

“Lagi? Kau mau ke rumah Sungmin Oppa lagi?” kata Hyora di telepon.

“Semaumu sajalah Cho Kyuhyun!!” Hyora menekan tombol reject dengan cepat.

“Lagi-lagi ke rumah Sungmin Oppa, tega sekali dia meninggalkanku terus. Apa yang dia kerjakan disana? Aish!! Kenapa rasanya sebal sekali pada Kyuhyun?” umpat Hyora.

Hyora merasa semenjak mereka pergi ke mall itu, Kyuhyun selalu pulang malam Hyora merasa kesal kenapa Kyuhyun tak mengajaknya pergi bersama ke rumah Sungmin Oppa. Hyora mendengus pelan.

“Sabar… Aku harus sabar….” ucap Hyora menenangkan dirinya sendiri. Dia sadar bahwa dirinya bukanlah tipikal orang yang akan dengan mudah menumpahkan emosinya. Jadi, lebih baik dia menenangkan diri dulu agar emosinya tidak meluap-luap.

Baru saja Hyora hendak menuju dapur untuk mengambil air minum, suara bel apartemen mereka berbunyi.

“Ne?” tanyanya setelah membuka pintu dan melihat ada yang sedang mengantarkan sebuah pohon natal.

“Kiriman dari Lee Byunghun-ssi untuk Lee Hyora-ssi. Dimana saya bisa meletakkannya?”

“Baiklah, silahkan masuk. Letakkan di sini saja…” Hyora tidak menyangka appanya akan mengirimkannya pohon natal. Diantara rasa kecewanya pada Kyuhyun, akhirnya ada juga yang membuatnya sedikit gembira.

“Ini hiasan natalnya dan lampu hiasnya juga… Silahkan anda tanda tangan disini.” kata petugas itu sementara petugas yang lainnya meletakkan pohon natalnya.

“Baiklah, Nona… Kami pergi dulu. Selamat natal!” kata petugas itu yang lalu pergi bersama yang lain.

“Ne, gomaseumnida… Selamat hari natal juga, Ahjussideul…” jawab Hyora sambil tersenyum. Dia lalu menelepon appanya untuk berterima kasih atas kiriman pohon natalnya.

Hyora berdiri di depan pohon natal yang lebih tinggi darinya sedikit. Dia memulai membuka hiasan natal yang dikirimkan appanya dan mulai menghiasinya, sendiri…

Tak terasa air matanya keluar dari pelupuk matanya. Rasanya sedih sekali menghias pohon natal sendiri di apartemen mereka yang cukup luas itu. Biasanya, dulu dia dan Donghae akan berebutan menghias pohon natalnya bersama appa mereka. Tapi, sekarang? Saat dia sudah berdua bersama orang yang dipilihnya untuk menjadi teman hidupnya, dia bahkan tidak bisa melakukan hal yang sama.

—–

“Huff…” Hyora merebahkan diri ke tempat tidur setelah menonaktifkan double lock nya agar Kyuhyun bisa langsung masuk ke dalam apartemen, karena sepertinya Kyuhyun akan pulang malam lagi hari ini. Dia telah menghias pohon natal juga hari itu, kecuali lampu natalnya yang masih belum dipasangnya.

Dia juga ingin tidur cepat agar bisa menyelesaikan syal untuk Kyuhyun. Waktu untuk membuat syal benar-benar sangat pendek. Hari natal tinggal beberapa hari lagi. Syal buatannya sudah setengah jadi. Maka dari itu, dia akan menyelesaikannya secepat mungkin. Sebenarnya, dia sendiri tidak yakin akan membuatkan syal karena saat membuat topi dan sarung tangannya saja sudah menyita waktu lebih dari satu minggu. Dia sempat melakukan kesalahan saat membuat topinya. Dan syal adalah yang terlama menurut perhitungannya. Namun, dia memaksakan diri untuk membuatkan syal nya. Sayangnya seberapa kerasnya Hyora berusaha menutup matanya, dia masih saja tak bisa tidur. Dia sangat mengkhawatirkan Kyuhyun yang belum pulang.  Hyora pun akhirnya berhasil tertidur jam 10 malam itu. Sepertinya kegiatan membersihkan rumah siang hari tadi membuatnya cukup lelah.

—–

Hyora’s P.O.V

“Eunghhhh…” Aku membuka mataku dan mendapati lengan Kyuhyun ada di leherku. Kuusap ke dua mataku agar bisa lebih jelas melihat jam.

“MWO!!!” Aku terbangun dan tercengang melihat jam di sebelah tempat tidur kami yang sudah menunjukan pukul 10 pagi. Aish!! Aku tak bangun tadi malam. Kyuhyun sudah mematikkan alarm yang kupasang agar aku bisa bangun awal untuk menyelesaikan syalnya. Kutatap namja di sebelahku ini dengan pandangan marah. Dia ini benar-benar membuatku jengkel sejak kemarin. Rasa jengkelku padanya meningkat menjadi 1000% karena aku sendiri sekarang sedang datang bulan. Dan sepertinya diperparah dengan PMS yang sudah jelas menyerangku. Jinjja!! Ingin rasanya aku…..

“Myeonjjang…” panggilnya.

“….” Tak kujawab panggilannya.

“Myeonjjang….Myeonjjang… Myeonjjang…”

“Mwoo???!!” Akhirnya kujawab juga dia masih dengan kejengkelanku.

“Zzzzzzz….” Dia tidur kembali. Aish!! Jinjja!! I namja… Aku segera berjalan ke kamar mandi untuk mandi. Huh… Untung saja ini sedang liburan natal. Jadi, aku bisa sedikit santai. Dan aku rasa tubuhku sudah mau membeku. Bagaimana mungkin aku yang sudah mandi dengan menggunakan air hangat pun masih terasa kedinginan? Akhirnya, aku pun pergi ke dapur setelah usai mandi untuk menyiapkan makanan. Samar aku mendengar suara air di kamar mandi kamar kami, sepertinya dia sudah bangun.

“Annyeong…” sapanya sambil tersenyum. Aku tidak membalasnya. Namja ini benar-benar membuatku sangat sebal hari ini.

“Meokgo…(makanlah)” perintahku dingin.

“Weire?(ada apa denganmu?)” tanyanya.

“Aniya…” Aku menjawab singkat.

“Oh, iya. Pohon natal itu…”

“Appa yang mengirimkannya.” jawabku singkat.

“Abeonim?” Aku mengangguk.

“Aku akan pergi…”

“Ke rumah Sungmin Oppa lagi?” sindirku.

“Eung…” Dia mengangguk sambil menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.

“Geurae… Kalau begitu aku juga mau pergi.” ucapku dingin.

“Ottiga?”

“Jalan-jalan.”

“Mwo? Jalan-jalan? Kenapa kau tidak mengajakku?!!” protesnya.

“Untuk apa aku mengajakmu? Kau saja tidak mengajakku pergi bersamamu ke rumah Sungmin Oppa.” Lagi-lagi aku menyindirnya.

“Ah~… Geuge….(itu…)” Dia sedikit ragu tapi akhirnya menjawab, “Geurae(baiklah), kau bisa pergi jalan-jalan.” Dia menyetujuinya dengan mudah. Tidak bisa di percaya. Semudah itu? Biasanya dia akan mengomel panjang jika aku pergi sendirian. Dasar Cho Kyuhyun menyebalkan!!! Aku ingin sekali berteriak padanya.

“Oh, iya. Eomma tadi meneleponku. Dia menyuruh kita untuk makan malam bersama dengan Abeonim dan Donghae Hyung juga pada hari natal besok.”

“Arasseo…” jawabku dengan malas.

“Aku selesai… Na kanta, Myeonjjang~ah (Aku pergi, Myeonjjang~ah)…” Kyuhyun mengacak rambutku pelan setelah meletakkan sumpitnya. Dia bahkan menyelesaikan makannya tanpa menungguku selesai makan.

End of Hyora’s P.O.V

 

Author’s P.O.V

Hyora memutuskan untuk mengerjakan kembali syalnya setelah dia pulang berjalan-jalan sendirian melepaskan stresnya dan sekaligus mencari beberapa hadiah untuk keluarganya yang kemarin belum sempat terbeli. Padahal, dia ingin sekali berjalan-jalan bersama Kyuhyun. Entah apa yang dikerjakan namja itu sampai-sampai dia tidak mempedulikan istrinya itu.

“Dia pasti sedang bersenang-senang sendiri…” Hyora berkata sendiri.

“Jjamkkan… Bersenang-senang sendiri?? Itu artinya……..” Lagi-lagi Hyora teringat kembali saat di kedai Jjajangmyeon dulu.

“Aish!! Jinjja…!!!” Hyora mengumpat karena rajutannya sedikit salah sehingga dia harus mengulangi beberapa bagiannya. Dia jadi susah berkonsentrasi memikirkan suaminya yang bertingkah aneh, memperhatikan yeoja lain dan juga meninggalkan dia untuk beberapa hari.

‘Padahal ini kan liburan hari natal? Kenapa dia tak mengajakku pergi ke rumah Sungmin Oppa?’ pikirnya.

“Aaaaaa!!” Hyora terlihat frustasi dengan hal ini. Dia melemparkan rajutannya ke sampingnya.

“Neottaemune Cho Kyuhyun …(karena kau, Cho Kyuhyun…)” geram Hyora. Hyora merasa bahwa usahanya untuk melanjutkan rajutannya pasti akan sia-sia. Mood buruk yang sekarang sedang menderanya pasti bukannya akan membuat benda rajutan itu selesai. Malah yang ada bisa membuat rajutannya hancur berantakan. Akhirnya, dia memilih mengambil ponselnya yang tergeletak manis di meja belajarnya itu dan menekan nomer telepon sahabatnya, Park Boram.

“Park Boram…”

“Euhm… Wae Lee Hyora?”

“Kau ada di rumah?”

“Iya.”

“Aku ke rumahmu, ya?”

“Oke.” Dan setelah itu, Hyora segera berganti pakaian dan menuju rumah Boram. Mungkin, dia akan lebih berkonsentrasi mengerjakan syalnya disana.

——

Kyuhyun menekan bel apartemennya berulang kali.

“Annyeong, na wasseo?” sapanya ketika Hyora membukakan pintu. Namun reaksi Hyora tidak seperti yang dia harapkan. Wajahnya terlihat kusut, sepertinya dia baru bangun tidur.

Kyuhyun mencopot syalnya yang benangnya sedikit lepas. Namun, masih bisa dia gunakan seperti yang di ceritakannya dulu. Dia pun segera menyusul Hyora yang kini ada di dapur membuatkannya secangkir coklat panas untuknya.

Kyuhyun duduk di meja makan sambil tersenyum sendiri memandang punggung istrinya.

“Ini malam natal pertama kita kan, Hyo?” tanya Kyuhyun sambil menopang kepalanya memandang Hyora lagi yang datang padanya membawakan mug berisi coklat panas.

“….” Hyora tak menjawab Kyuhyun. Hyora terlalu jengkel karena sikap Kyuhyun yang terlalu cuek padanya. Dia meletakkan mug nya di depan Kyuhyun.

“Aku ke kamar dulu. Aku masih sangat mengantuk.” Lalu, setelah itu dia meninggalkan Kyuhyun yang bahkan belum sempat menjawab kata-katanya.

‘Ada apa dengannya? Ini tidak beres… Jam seperti ini dia biasanya sedang bermain game atau menonton TV.’ pikir Kyuhyun.

Dia pun menahan langkah Hyora yang menuju kamar.

“Kau ini kenapa?” tanya Kyuhyun.

“Mwo? Kau tanya aku kenapa?” Hyora mengangkat wajahnya yang sudah memerah karena marah. Matanya pun ikut memerah menahan air mata yang ditahannya. Meskipun akhirnya cairan bening itu turun juga.

“Kau menyebalkan Cho Kyuhyun!!!” teriak Hyora yang lalu meninggalkan Kyuhyun dan membanting pintu kamar mereka, merasa telah sedikit mengeluarkan kemarahannya pada suaminya. Dia melemparkan tubuhnya ke tempat tidur dan mulai menangis.

End of Author’s P.O.V

Kyuhyun’s P.O.V  

“Hyo… Kau kenapa? Bukalah pintunya. Aku perlu menjelaskan sesuatu…”

Aku menghela nafas dari balik pintu kamar. Sepertinya dia marah. Hyora~ya… Tak bisakah kau mendengar penjelasanku? Sedikit saja? Apa semua yang kita telah lewati bersama selama ini tidak bisa membuatmu percaya kepadaku? Kututup kembali pintu kamar kami pelan, berusaha untuk tidak menimbulkan suara.

Aku menghembuskan nafasku keras. Sebenarnya, aku tidak ada niatan sama sekali untuk membuatnya marah apalagi sedih. Melihatnya menangis seperti tadi, membuatku merasa menjadi seorang pengecut. Aku merasa bahwa semua kesedihan yang dia rasakan itu semua karena ulahku.

Aku pun berjalan ke arah pohon natal yang dikirimkan oleh Abeonim kepada kami. Sebuah pohon natal yang tidak terlalu besar. Namun, terkesan pas jika berdiri tegap di tengah apartemen mungil kami. Aku tersenyum miris saat melihat beberapa hiasan natal sudah terpasang di pohon natal ini. Apakah dia melakukannya sendirian? Apa dia tidak kesepian saat dia hanya memasang hiasan natal itu sendirian? Aku jadi ingat. Waktu aku kecil, aku dan Ahra Nuna pasti akan saling berebutan untuk memasang hiasan. Aku akan selalu mengejeknya yang lebih pendek dari aku karena aku dapat memasang hiasan tertinggi di pohon natal ini. Sungguh. Aku merasa telah menjadi nappeun namja.

“Ige mwoya?” Aku menarik sebuah kotak karton coklat yang berada di samping pohon natal ini. Aku pun membuka tutup kotak itu pelan. Lampu natal? Tanganku pun secara refleks, menarik hiasan lampu natal yang berada di dalam kotak itu dan mengeluarkannya. Aku mengelilingi pohon natal itu seraya memasangkan lampu natal ke sekeliling pohon. Aku mendesah pelan lagi saat melihat ke arah kamar tidur kami setelah aku selesai memasang lampu natal. Apa dia sudah tidur? Apa dia masih menangis? Apa yang sedang dia lakukan sendirian di dalam kamar? Hyora~ya… Sesungguhnya aku tidak bermaksud untuk membuatmu marah. Apalagi menangis seperti sekarang ini. Aku hanya ingin memberikan sesuatu yang spesial untukmu di malam natal nanti. Maka dari itu, aku pun belajar kepada Sungmin Hyung yang pintar bermain gitar.

Kulirik gitar yang kuletakkan di samping pohon natal ini. Gitar yang kemarin kupinjam dari Sungmin Hyung. Aku memang tidak begitu pintar bermain gitar. Tapi… Aku menarik kursi yang ada di ruang makan sehingga posisinya kini berada di dekat pohon natal yang kami beli berdua. Perlahan, aku meraih kursi yang tadi telah kusiapkan dan duduk di atasnya. Aku berdehem pelan, berusaha untuk mengurangi kegugupanku.

‘When we first met, I feel something different….

Something that I can’t describe it with a word…

My heart beat so fast…

Aku mulai menyanyikan bait demi bait sambil memetik gitar. Lagu yang kuciptakan khusus untuk yeoja babo itu. Yeoja babo yang sangat kusukai. Ani. Aku cintai.

I feel like a fool when said “Marry Me” to you…

Why all of sudden I said that to a stranger? Why?

But, then I think again… This marriage will be fun…

And all of my expectation is being true

Your white image

Your shy face

Even your angry face

That’s always make my heart pounding like there is no tomorrow

“Cklek…” Aku mendengar suara pintu kamar kami terbuka. Aku menghentikan nyanyianku sebentar. Aku tersenyum kecil saat mendengar derap langkah kakinya yang sepertinya mendekat ke arahku. Kubalikan tubuhku menghadapnya dan melanjutkan nyanyianku sambil memandangnya yang berdiri tak jauh dariku.

Heartbeat…

You said that it’s your favorit song

Is it 2pm song, I said?

But, you just gave me a melodious giggle and said

No, your hearbeat is my favorit song

The song that make me always calm, you said…

You always think that you’re not good enough for me

But, what was I looking for? While in yourself I can find my reason to life

To be happy with you…

This is true from the start

I love you without a doubt…’

Akhirnya… Aku menyelesaikan bait lagu yang kubuat sendiri. Kini, dapat kulihat dengan jelas. Hyora sudah berada di depanku dengan mata yang berkaca-kaca. Apa dia masih menangis? Apa perasaanku tidak tersampaikan, Hyora~ya? Kuletakkan gitar itu disamping kursi.

“Kyuhyun~a…” Dan tanpa ada sepersekian detik. Tubuh mungilnya sudah menerjang tubuhku dan memberikan sentuhan hangat. Aku bisa mendengar suara isakan kecil yang dikeluarkan dari mulutnya itu. Tanganku menggapai kepalanya dan menenggelamkannya ke dadaku. Kuelus kepalanya, berusaha untuk menenangkannya.

“Uljima… Jangan menangis, Hyora~ya…” Dia pun mengendurkan pelukannya, memandangku dengan tatapan nanarnya. Matanya masih sembab akibat tangisannya itu.

“Jangan pergi lagi… Aku… aku…” Aku menariknya lagi ke dalam pelukanku. Melihat Hyora menangis seperti itu, rasanya seperti ribuan paku menusuk tubuhku. Begitu menyakitkan.

“Hmmm… Aku tidak akan pergi lagi. Aku tidak akan meninggalkanmu, Hyora~ya… Mianhae…” Kulepaskan pelukan kami pelan. Dalam suasana hening seperti ini aku dapat mendengar suara detakan jantung kami berdua yang seakan berpacu satu sama lain. Kami masih dalam posisi aneh seperti ini dalam diam. Aku masih memegang pinggang Hyora, meskipun tidak seerat tadi karena pelukanku sudah kurenggangkan. Sementara itu, tangan Hyora yang tadinya berada di punggungku diturunkannya pelan.

“Lagu kesukaanku…” bisiknya lemah seraya tersenyum kecil. Tangannya diarahkan ke dadaku yang memang sejak tadi sudah berdentum keras. Kau mendengarnya kan, Hyora~ya… Jantung ini selalu berdetak abnormal jika berada di dekatmu. Aku bahkan tidak bisa mengontrol kecepatan jantungku sendiri. Kuangkat dagunya pelan. Matanya sedikit membulat, membuatnya terlihat polos. Entah kenapa aku bisa merasakan suara helaan nafasnya yang kian mendekat ke wajahku. Udara hangat di sekitar wajahku akibat wajah kami yang hampir bersentuhan, membuat perasaan nyaman menyelusup masuk ke dalam hatiku. Kudekatkan wajahnya sehingga aku dapat melihat dengan jelas pantulan diriku yang berada di matanya. Aku rasa dia juga dapat melihat dengan jelas pantulan dirinya di mataku.

CUP! Sebuah kecupan pelan dan hangat kusisipkan ke bibirnya. Kecupan pelan yang kemudian berubah menjadi ciuman panas. Bibirku bergerak liar di atas bibirnya. Menciumi setiap sudut bibirnya. Tanganku pun secara refleks menarik kepalanya untuk semakin mendekat. Tubuh kami pun limbung, bergerak ke sana kemari. Hingga akhirnya….

CTEK! Tanpa terasa gerakan limbung kami membuat salah satu dari kami menekan steker yang membuat lampu natal yang baru saja aku pasang menyala. Kami melepaskan ciuman kami karena terkejut akan lampu natal yang kini sudah menyala dengan indahnya berkelap-kelip di apartemen kami. Aku bisa melihat raut kegembiraan di wajah Hyora yang mau tidak mau membuatku ikut tersenyum. Matanya membulat takjub.

“Yeppeuda…” ujarnya pelan. Suara jam tiba-tiba berdentang 12 kali. Aku melirik ke arah jam dinding yang berada di ruang tv, tak jauh dari tempat kami berdiri. Sudah waktunya, ya?

“Selamat natal…” ucapku.

“Huh? Memang sekarang jam berapa?” tanyanya kaget. Aku hanya menunjuk ke arah jam dinding yang berada di ruang tv. Jam dinding itu tepat menunjuk angka 12. Hyora pun kembali menatapku dan kami berdua tersenyum bersamaan.

“Natal pertama kita…” Aku pun menciumnya lagi, menumpahkan seluruh perasaanku terhadapnya. Perasaan yang entah sejak kapan berubah meluap-luap. Perasaan yang bahkan aku sendiri tidak bisa mendeskripsikannya dengan jelas.

Kudorong tubuhnya pelan hingga akhirnya tubuhnya terjatuh di atas sofa yang berada di ruang tv. Ciuman kami masih berlanjut dengan diriku yang mendominasi tentunya. Hohoho. Hyora nampak sedikit kewalahan untuk membalas ciumanku. Sepertinya ciuman ini tidak akan berhenti sampai disini saja. Ciuman ini pasti akan berlanjut ke hal yang ‘kalian-tahu-itu-apa’. Tanganku yang sedari tadi memegangi kepalanya pun mulai bergerak turun ke pinggangnya. Aku mencoba menyelipkan tanganku ke daerah sensitifnya di bawah sana.

PLAK!

“Yak! Kenapa kau pukul tanganku?” Aku sedikit terkaget dengan ulahnya kali ini. Kenapa dia menampik tanganku? Apa dia masih marah?

“Ya!! Aku sedang datang bulan. Areo? (kau tahu?)…” ucapnya galak. Aku hanya bisa mematung saat mendengar ucapannya.

“Argghhhh….” erangku frustasi.

“Baiklah kita olah raga pemanasan saja kalau begitu.” kataku akhirnya. Dan aku kembali menyerangnya. Muahahahahhaa…

“Ehmmmpp… Kyuu….”

End Of Kyuhyun’s P.O.V

 

Hyora’s P.O.V

Kubuka mataku pelan saat merasakan sinar matahari yang sedang berusaha bersusah payah menerobos masuk ke dalam kamar. Kugerakkan tubuhku pelan. Namun, aku merasa sedikit kesusahan.

“Ugh… Berat, Kyu…”

Tentu saja terasa berat. Kyuhyun sedang memelukku. Ah, ani. Lebih tepatnya menindihku dengan tubuhnya. Aku pun bersusah payah keluar dari dekapannya. Kutatap wajahnya yang menyiratkan kelelahan. Aku terkekeh pelan saat melihat kejadian semalam. Dia menyanyikan sebuah lagu untukku dan itu lagu ciptaannya sendiri. Aku sedikit terpesona saat melihatnya menyanyikan lagu dengan penghayatan yang seperti itu. Sedikit? Yah… Baiklah… Tidak sedikit. Aku sangat sangat terpesona padanya.

Semalam dia juga menjelaskan tentang alasannya yang sering pulang malam dan kenapa dia pergi ke rumah Sungmin Oppa. Ternyata dia belajar untuk bermain gitar kepada Sungmin Oppa dan membuat lagu itu untukku. Aku tidak menyangka dia akan berbuat seperti itu padaku. Aku mengerti sekarang. Jika dia pergi meninggalkanku bukan berarti dia benar-benar pergi untuk mengabaikan aku. Tapi, justru dia akan melakukan sesuatu di luar dugaan serta di luar kebiasaannya. Kalian ingat kan saat ulang tahunku dulu? Dia meninggalkanku dan ternyata dia memasak untukku. Mengingatnya saja membuatku tersenyum sendiri.

“Kenapa kau tertawa sendiri seperti itu?” Aku melotot kaget saat sebuah tangan besar menarik pinggangku mendekat ke tubuhnya.

“Kau sudah bangun?” tanyaku.

“Hmm… Suara tawamu yang seperti nenek sihir lah yang membuatku bangun.”

“Ya!”

“Hahahaha.” Dia pun bangun dari posisi tidurnya. Rambutnya yang acak-acakan itu entah kenapa membuatnya terlihat semakin…

“Tampan?”

“Huh?”

“Kau mau bilang aku tampan, kan?” godanya. Dia mendekatkan tubuhnya ke arahku. Wajahnya yang sudah berada beberapa senti saja dari wajahku membuatku secara refleks menutup mataku.

TAK!

“Aww…” Aku pun membuka mataku saat merasakan sentilan di dahiku.

“Uri Myeonjjang sangat ingin mendapatkan morning kiss dariku, ya?” godanya lagi dengan alis yang terangkat naik-turun. Aku bisa merasakan wajahku memerah karena malu.

“Cho Kyuhyun!!” Aku pun menarik bantal yang ada di kasur dan melempar ke arahnya. Meskipun lemparanku itu meleset.

“Hahahahaha…” Tawanya terdengar keras sekali. Dia sampai memegangi perutnya dan membungkukkan tubuhnya. Tertawa saja terus. Menyebalkan.

“Myeonjjang~ ah…” panggilnya.

“Myeonjjang… Myeonjjang…” Aku masih diam. Paling-paling dia hanya ingin mengerjaiku saja.

“Yeobo~…” Mataku melebar saat mendengar kalimat itu keluar dari mulutnya. Aku menatap gugup ke arahnya. Senyum pun terkembang di wajahnya.

“Kau mau mandi bersamaku?” Dan dengan sekali gerakan aku melempar mukanya dengan bantal.

——

“Kita jadi pergi ke rumah eomonim nanti malam?” Sekarang aku dan Kyuhyun sedang sarapan.

“Eo!” jawabnya dengan mulut penuh. Dia makan lahap sekali. Seperti orang yang tidak makan tiga hari saja.

“Makannya pelan-pelan saja…” Dia hanya menganggukan kepalanya dan melanjutkan makannya dengan lahap.

“Myeonjjang~ah…” panggilnya.

“Ne?”

“Aku akan pergi keluar sebentar. Aku mau mengembalikan gitar punya Sungmin Hyung.”

“Arasseo…” Kami pun melanjutkan makan dalam diam. Kyuhyun sudah menyelesaikan makannya dan berdiri.

“Aku pergi dulu, Myeonjjang~ah…”

“Ne…” jawabku lemas. Padahal tadi malam kami baru berbaikan. Sekarang dia sudah pergi lagi. Kenapa sekarang ini aku jadi suka merasa kesepian, ya? Coba kalau kami sudah punya aegi. Aku pasti tidak akan kesepian. Aish. Kenapa aku malah memikirkan hal itu lagi.

“Myeonjjang~ah…” panggil Kyuhyun yang kini sudah berada di samping pintu keluar apartemen kami. Aku pun berjalan medekatinya.

“Ada yang tertinggal?” tanyaku.

“Eo… Ada yang tertinggal.” jawabnya singkat.

“Apa yang terting…gal…” Suaraku mendadak hilang di bagian terakhir kalimatku saat kurasakan sapuan lembut bibirnya mengenai puncak kepalaku. Dia menatapku seraya tersenyum.

“Aku pasti segera pulang.”

BRAK! Dia pun menutup pintu apartemen kami pelan. Sedangkan aku? Aku masih mematung karena ciumannya tadi. Kutarik pipiku pelan.

“Aaaa… Sakit…” Aku tersenyum lebar saat mengingat ciumannya tadi. Bukan ciuman yang panas atau dalam. Tapi, hanya sebuah kecupan ringan di dahiku. Dan itu nyaris membuatku lumpuh sesaat. Aku teringat nyanyiannya lagi yang katanya adalah kado untukku. Rasanya sama seperti ketika aku mendengarkan lirik lagu itu. Tunggu… kado??

“Astaga! Syal nya kan belum selesai!” Aku pun melesat cepat ke arah kamar belajar kami. Bagaimana bisa aku melupakan hal sepenting itu? Aigoo… Kau babo sekali, Hyora~ya…

Kutarik laci meja belajarku dan mengeluarkan syal setengah jadi beserta peralatan menjahitku. Syal ini harus selesai hari ini juga.

—–

“Hyora~ya… Kau sudah siap?” tanya Kyuhyun dari luar kamar.

“Ne, sebentar lagi…” ucapku sedikit berteriak. Aku melirik puas ke arah kotak berwarna merah yang ada di atas meja riasku. Kuambil kotak itu dan kusembunyikan di balik punggungku.

“Kyu…” panggilku saat aku sudah berada di hadapannya. Dia sedang asyik bersama istri keduanya rupanya, psp, sambil menungguku.

“Eo? Junbi dwaesseo?” Dia meletakkan psp kesayangannya itu di atas meja dan beranjak dari sofa.

“Eo. Na junbiya…(Aku sudah siap.)” jawabku.

“Kalau begitu, ayo kita berangkat. Semuanya pasti sudah menunggu kita.” Dia memandangku dan mengulurkan tangannya.

End of Hyora’s P.O.V

 

Author’s P.O.V

“Kalau begitu, ayo kita berangka. Semuanya pasti sudah menunggu kita.” Kyuhyun memandang Hyora dan mengulurkan tangannya untuk menggandengnya.

“Jjamkanman…. Igo…n…nae seonmul.” Dengan jantung yang mulai terpompa tak karuan dan tergagap, Hyora mengulurkan kadonya juga yang sedari tadi kusembunyikan di belakang punggung.

Kyuhyun mengerutkan keningnya.

“Untukku?” Dia menerimanya. “Kenapa kau memberikannya sekarang?” tanyanya penasaran.

Hyora mendekatinya dan membantunya membukakan kado itu.

“Selamat natal pertama kita, Jjangmyeon~ah… Agar kau tak sakit lagi!” Kyuhyun membacakan pesan yang Hyora tulis di dalam kartu ucapannya. Pandangannya beralih dari kartu itu kepada Hyora yang dibalasnya dengan senyuman lebar. Kyuhyun pun hanya menggelengkan kepalanya saja. Mata Kyuhyun kemudian beralih ke kado yang diberikan Hyora itu.

“Ini kau yang membuatnya sendiri?”

“Ehem…” Hyora mengiyakan dan membantunya memasangkan kado yang pertama. Topi untuknya.

“Agar otakmu tidak menjadi beku.” kata Hyora menggodanya.

“Ya~! Apa kau bilang tadi?? Otakku beku juga gara-gara kau….” jawabnya pura-pura kesal. Hyora tertawa sambil merapikan topinya.

“Waaa… kwieopta…” seru Hyora. Topi rajut berwarna putih buatannya yang juga senada dengan topi yang Hyora pakai hari ini terlihat cukup bagus menghiasi kepala Kyuhyun.

“Aku tampan, Hyo… Bukan kwieopta..” protesnya.

“Ini benar-benar kau yang membuatnya?” Kali ini di angkatnya sepasang sarung tangan.

“Aish!! Makanya jangan meninggalkan aku terus. Son!!(tangan!)” perintah Hyora. Kyuhyun pun mengulurkan tangan kanannya. Lalu, Hyora memakaikannya sarung tangan. Setelah itu, dia juga mengulurkan tangan kirinya dan Hyora melakukan hal yang sama.

“Ah~… Jadi, waktu kau sedang menggangguku saat menonton TV dulu, kau itu sedang mengukur tangan dan kepalaku?”

“Maja! (benar!)”

“Kenapa aku tidak curiga, ya?”

“Babonikka…(karena kau bodoh…)” jawab Hyora.

“Aku bodoh juga karena kau, kan? Melakukan hal-hal bodoh juga itu karenamu…”

“Ani, geunyang babo neo… (tidak, kau bodoh saja…)” Hyora terkikik melihat bibir Kyuhyun yang sudah mengerucut.

“Dan yang terakhir…”

“Ini agar kau tetap hangat. Dan kau harus memakainya tiap kali kita pergi. Arasseo??” Hyora mengeluarkan kado terakhirnya yang berupa syal dan mengalungkannya ke sekeliling leher Kyuhyun.

“Kkeut… Neomu kwiopta, Jjangmyeon~ah…”

“Tampan Lee Hyora… Aku ini tampan.” sungut Kyuhyun.

“Kkkk…” Hyora masih merapikan syalnya sambil terkikik menggodanya.

“Gomawo…” kata Kyuhyun sambil tersenyum. Senyumannya itu berbeda dengan senyuman yang biasa dikeluarkannya. Senyuman yang hanya muncul di saat-saat tertentu saja.

“Gereomyeon… Aku juga punya sesuatu untukmu.” Kyuhyun merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah kartu ucapan dan kotak kecil.

Diraihnya kartu itu pertama kali oleh Hyora dan membacanya dalam hati.

‘Lee Hyora… Maafkan aku karena belum bisa menjadi namja yang baik untukmu…

Selamat natal, Myeonjjang…”

Hyora sudah hampir menangis sekarang. Kyuhyun membuka kotaknya setelah Hyora selesai membaca. Kotak tersebut ternyata menyimpan sepasang anting dengan bentuk bunga. Mata berlian yang menjadi kelopaknya berwarna pink lembut dan di tengah hanya satu titik berlian putih.

“Mianhae jika kau tak menyukainya. Aku tak tahu harus beli yang mana…”

“Apapun yang kau pilihkan untukku pasti aku akan menyukainya, Kyuhyun~a…”

“Jinjja?”

“Yeppeo jinjja…” Ketika Hyora sedang mengagumi sepasang anting itu, Kyuhyun merapikan rambutnya ke belakang telinga dan bergantian memasangkannya.

“Gomawo…” Hyora menatapnya terharu.

“Aku yang harusnya berterima kasih padamu, Hyora~ya…” Hyora pun menghambur ke dalam pelukan Kyuhyun. Mereka berpelukan seraya menyelami pikiran kami masing-masing, mensyukuri apa yang telah mereka punya selama ini. Terutama, mensyukuri bahwa Tuhan telah memilihkan Kyuhyun untuk Hyora dan Hyora untuk Kyuhyun.

Hyora melepaskan pelukannya dan lagi-lagi mereka tersenyum satu sama lain. Wajah Kyuhyun kini mendekati wajah Hyora. Secara otomatis, dia pun menutup matanya sampai ada sentuhan lembut yang menyapu bibirnya.

“Ting tong ting tong….”

“Jjangmyeong… Sepertinya itu Ahra Eonnie…” kata Hyora melepas ciuman mereka.

“Oh… Jadi, dia benar akan menjemput kita?” tanyanya.

“Kaja…” Kyuhyun menggandeng lengan Hyora. Mereka berdua menuju pintu dan membukanya. Tapi, tidak ada siapa-siapa di depan pintu.

“Aish!! Siapa bilang ini Nuna?” sergah Kyuhyun kesal.

“Jinjja?”

“Tak ada siapapun di depan.”

“Ya sudah… Kita tunggu eonnie saja di depan gedung apartemen. Kau keluar dulu biar aku yang mengunci pintunya.” saran Hyora.

Kyuhyun mengangguk dan melangkahkan kakinya keluar apartemen mereka. Saat melangkah, dia menendang sesuatu yang tergeletak di lantai.

“Ige mwoya?” Kyuhyun mengangkat benda yang seperti kado tersebut.

Ada sebuah note yang terselip di dalam kotak kado yang tak terlalu besar itu.

‘For Kyuhyun

 From Hyora’ tulisnya.

“Untukku? Dari Hyora lagi? Wah… Dia benar-benar istri yang baik. Memberiku dua kado sekaligus. Kkkkk….”  Karena itu tertulis untuk nya, Kyuhyun pun segera membuka kotak kado tersebut.

“Apa itu Kyu?” tanya Hyora.

“Kenapa tanya padaku? Bukankah ini darimu?” jawabnya sambil membuka kertas yang menutup isi kado tersebut.

“Mwo? Aku tidak….” Hyora tak meneruskan kata-katanya dan terbelalak saat melihat motif leopard yang muncul pada kado itu.

“Ige mwo…”

“Andwaeee…” Hyora berusaha menahan Kyuhyun untuk tidak mengangkat benda itu. Tapi, terlambat. Kyuhyun sudah mengangkat benda itu tinggi-tinggi.

“Celana dalam??? Ige…neo….” Kyuhyun memandang Hyora dengan tatapan tajam.

“A…ani….” Hyora tergagap.

“Selamat nataaaaaaaaaaaaallll….” Ahra tiba-tiba keluar dari persembunyiannya.

“Eonnie….”

“Nuna!” teriak Kyuhyun dan Hyora bersamaan.

“Waaa… Kau dapat celana dalam ya, Kyu? Pasti dari Hyora, ya? Kkkkkk…” ledeknya tanpa dosa.

“Eonnie… Apa-apaan ini??!!” Hyora melotot ke arah Ahra dengan wajah memerah.

“Hyo~ya…” Kyuhyun masih meminta penjelasan.

“Kyuhyun~ah… Aniya…. Ini dari Ahra Eonnie… Dia yang…”

“Ah~… Jangan begitu, Hyora~ya… Katamu, kemarin kau ingin sekali melihat Kyuhyun memakai celana dalam itu. Kau bilang dia pasti seksi dan liar sekali jika memakainya. Rarwwwrrr!” Ahra memperagakan geraman leopard dengan wajah yang menggoda.

“Muahahahahahaha….” Tawa Ahra meledak. Dia meledek Hyora dengan puas. Wajah Hyora pun sudah merah padam.

“Aish!! Nuna~ya… Semua juga tahu ini pasti perbuatanmu yang seperti setan ini… Hyora tak mungkin….” Kyuhyun belum menyelesaikan kalimatnya, tapi Ahra sudah membekap mulutnya dan dirangkulnya namdongsaengnya itu.

“Ja!! Kaja kaja… Kita berangkat!!! Chulbaaaaallll, Hyora~ya… Kyuhyun~ah… Merry Christmas!!” Ahra tak peduli dengan Kyuhyun yang meronta-ronta karena dia menariknya dengan semena-mena. Dan Hyora pun hanya tersenyum melihat tingkah kakak iparnya yang tak normal tersebut. Dia mengikuti mereka dari belakang untuk berangkat makan malam bersama keluarga besar mereka sambil membawa kado yang lain. Mungkin ini adalah salah satu natal yang tidak akan Hyora lupakan. Natal pertamanya bersama orang yang dicintainya. Natal pertama bersama keluarga barunya.

*****

Oke. Muntahlah… Muntahlah sepuas kalian. Kita siapin ember juga kok. Hohoo… Annyeong, kkumers… Lama tak jumpa, ya? Kalian pasti mungkin ngerasa kita mengabaikan kalian karena dalam sebulan ini ga posting ff sama sekali. Bukan. Bukan karena kita sibuk milih celana dalam yang pas buat Kyuhyun. #plaaakk. Tapi, yah… Bulan Desember itu merupakan bulan sibuk buat kami berdua. Syipoh ada uas dan kegiatan lain sedangkan esa eonni sibuk ngurus rapot murid-muridnya.

Sebenarnya, ini ff tadinya mau kita posting pas natal gitu. Eh… Ga taunya pas natal uda bosok aja belum sempet ke posting. Ini juga kalau ga diancem ama esa eonni, mungkin belum selesai juga ini ff. Well, kita ga tahu mau bilang apa. Aku ngerasa udah banyak mengeluarkan kalimat gombal. Ditambah lagi buku yang aku kasih ke esa eonni bikin tingkat kegombalannya meningkat akut. Yang jelas… Kita ucapkan terima kasih banyak buat kkumers yang masih setia nunggu ff kita. *bows*

Ahahaha… benar sekali author Syipoh… dan ff ini juga sedikit jadi kado special buat diri saya sendiri sebenarnya hehehehe….*ngedipin Kyu*. Gomawo untuk readers yang setia dan selalu menjawab ‘Tenang aja eonnie aku tunggu dengan sabar….gak papa deh lama juga’ ahahaha… kalo ketunda biasanya karena mood rusak (biasanya Kyuhyun yang bikin rusak) ato juga karena kesibukan saya kerja. Mianhae dan kamsahae untuk semua… semoga kalian tetep setialah dengan ff geje kami ini. Majimakesseo, happy reading ^^….

Advertisements

46 responses to “{KyuRa Moment} The Warmest Gift

  1. bwahahaha….ngakak sendiri bacanya
    astaga Ahra eonni knapa usil bgt jdi orang
    bner2 gk ada yg ngalahin evilnya wkwkwkwk….
    dan KyuRa makin romantis aja hohoho…..
    udah lama nunggu KyuRa moment
    eh…pas buka FF indo trnyta ada yg baru
    langsung sikat 😀
    bner2 daebak dech thor
    KyuRa moment selanjutnya ditunggu 🙂

  2. SUMPAH!!! DEMI APAPUN INI FF DAEBAKKKKKKKK banget!!!! *capslock jebol* thoooor bikin sequelnya lagiiii huaaa

  3. anyeong haseyo
    chonun naya imnida
    wahhhhhhhhhhhhhh
    udah lama banget akuu gogling eehhh nemu ff kereeeeeeeeeeeeennn bnge aku suka saat author menggambarkan ceritanya gakkk ngebosaniinn
    apalagi cara penulisannnya

  4. hahaha..
    lucu bgtt! ahra eonni gatel bgt pengin ksh kado natal celana dalem bwt kyuhyun oppa.. 😀
    kece bgtt min ceritanya,unyuuu!!
    hehehe..

  5. Ahh.. Aku g tau Mau bling apa, Ada bagian dri certain ini yg bikin aku terharu, ada juga yg buat aku ketawa.. Pokoknya bagus banget deh FFnya ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s