Because You’re the Prettiest [PART 6]

Title : Because You’re the Prettiest

Author : Lathifah Sinarwulan a.k.a Summer Cho (@chosm96)

Main Casts : Jung Eunji A Pink, Min Jinhong Apeace, Lee Sunghwan a.k.a Sandeul B1A4, Kim Namjoo A Pink, Yoo Dongho Apeace

Other Casts : Kim Jinwoo Apeace, Jung Younguk Apeace, Tia Hwang Chocolat, and others Apeace’s members

Genre : school live, friendship, little bit romantic, little bit comedy, AU

Rating : PG13~

Length : Series

Disclaimer : all casts except Jung Younguk isn’t mine, but the plot and Younguk is mine, kkk~ 😀

Previous : TEASER | PART 1 | PART 2 | Part 3 | SPECIAL EDITION | PART4 |PART 5|

Cover baru, ottee??? ^^
Langsung enjoy aja yee 😀

“Bagaimana kalau kau satu-satunya murid perempuan dikelas yang berisi 21 orang laki-laki?”

# # # # #

Min Jinhong’s POV

“Tia?”

“Oppa.., saranghae.. Kumohon, jangan meninggalkanku sendirian…”

Aku terlarut dalam tontonan sedih dihadapanku ini. Dongho diam, namun tangannya perlahan membalas pelukan Tia. Aku yakin, pasti ia masih menyayangi yeoja itu.

“Aku tau aku salah, oppa. Aku salah paham dan membuat orang-orang disekitarmu menjadi korban kesalahpahamanku. Tapi kumohon, aku benar-benar membutuhkanmu, oppa.”

“Mianhae, Tia-ya…” pelukan Dongho semakin erat dimataku. “Jeongmal mianhae…” yang kulihat mereka berpelukan dan disaksikan olehku juga beberapa murid yang lewat. Pemandangan paling mengharukan yang pernah kulihat. Aku ingat ketika Dongho menceritakannya padaku, matanya berkaca-kaca, menunjukkan kalau ia sangat mencintai yeoja itu.

“Dia adalah anugrah dalam hidupku, aku tidak bisa melupakannya begitu saja…”

“Aku pergi dulu.” Ucapku datar lalu melangkah meninggalkan mereka berdua. Mereka harus diberi waktu untuk membicarakan masalah mereka yang tidak kunjung selesai itu.

# # # # #

Author’s POV

Dua hari kemudian, Eunji sudah masuk sekolah. Murid-murid kelas Unggulan-2 pun berkerumun disekitar meja Eunji. Melontarkan berbagai pertanyaan pada Eunji.

Namun mereka harus kembali ke bangku tanpa jawaban dari pertanyaan mereka karena Park songsaenim, guru baru mereka, sudah datang.

Dijam istirahat, “Dongho-ya, ayo ke kantin!” ajak Eunji pada Dongho yang membawa kursinya dan duduk disebelah Jinhong. Lelaki itu menggeleng pelan.

“Kau saja.”

“Jinhong?”

“Lebih baik aku menemani Dongho disini. Sepertinya ia sedang saaangat membutuhkanku. Dengan yang lain dulu ya.” Jelas Jinhong sambil tersenyum tipis.

“Aish! Berarti aku sendirian! Ayolah, ikut, atau aku akan makan dengan Sandeul!” Jinhong mendongak dan hanya tersenyum pada Eunji membuat gadis itu bingung.

“Silakan saja.” Jawab Jinhong santai.

“Tidak akan marah?”

“Nikmati waktumu.” Eunji melangkah keluar kelas dengan wajah keheranan.

“Padahal kau temani dia saja. Apa kau mau dia direbut orang?” tanya Dongho setelah gadis itu menghilang dibalik pintu.

“Anni. Aku disini saja, mendengarkanmu. Seperti yang kita lakukan sebelum kedatangan Eunji.”

Hening. Jinhong sibuk dengan ponselnya dan Dongho melamun.
“Apa aku harus menerima Tia kembali, Jinhong-ah?” tanya Dongho tiba-tiba membuat Jinhong mendongak. “Rasanya sakit melihatnya menangis kemarin.” Lalu Dongho menoleh pada Jinhong. “Hajiman, aku tidak mau mengecewakan abeoji.”

“Cobalah bicara dengan beliau, siapa tau, beliau mau mengerti.” Ujar Jinhong memberi saran.

Setelah itu keheningan melanda kembali. Jinhong kini sudah sibuk membaca buku dan Dongho sibuk mengamati foto seorang yeoja diponselnya.

“Ya, Min Jinhong!” seru Hoyoung yang berdiri dipintu kelas.

“Mwo?”

“Ada yang mencarimu. Ppaliwa!” Jinhong yang penasaran pun berjalan keluar. Dongho mengikuti. Ketika Jinhong menginjakkan kakinya diluar kelas, seseorang langsung memeluk lehernya.

“Jinhong-ah! Bogoshippeo!” Dongho, Hoyoung, dan beberapa murid yang berada dikoridor diam menyaksikan. Jinhong mematung, terkejut.

“N–Namjoo?”

“Yaa, ternyata kau masih mengingatku! Kukira kau sudah lupa!” seru gadis berambut sebahu yang memeluknya tadi. Jinhong hanya menatap gadis itu dengan tatapan kaget. “Waeyo? Kaget melihatku?”

“B–bagaimana kau bisa ada disini?” tanya Jinhong keheranan. Gadis itu tersenyum lalu mengamit lengan kanan Jinhong.

“Aku akan bersekolah disini lagi.”

“Masa kerja appa-mu sudah habis? Kenapa kau tidak memberitahuku dulu kalau kau akan datang?”

“Aku ingin membuat kejutan untukmu! Untuk itu aku hanya memberitahu Sandeul.”

“Sandeul?” seru Jinhong terkejut.

Tiba-tiba ada yang menepuk bahu Namjoo dari belakang. Ketika gadis itu berbalik Sandeul tersenyum padanya dengan Eunji disampingnya.

“Sandeul-ah!” gadis itu langsung memeluk Sandeul kegirangan.

“Apa kabar, Namjoo-ya? Kudengar kau akan masuk ke kelasku ya?” tanya Sandeul setelah Namjoo melepaskan pelukannya. Jinhong, Dongho, dan Eunji –yang datang bersama Sandeul, hanya diam menyaksikan.

“Ne. Sebenarnya aku ingin sekelas dengan Jinhong, tapi kelasnya sudah penuh.” Mata Namjoo tiba-tiba tertuju pada Eunji yang berdiri disamping Sandeul. Eunji pun nampak kaget melihat Namjoo.

“Eunji-ya?!”

“Namjoo-ya?” Namjoo langsung maju memeluk Eunji.

“Aigoo, bukankah kau bersekolah di Busan? Kenapa bisa ada disini?” tanya Namjoo tidak percaya.
“Aku baru saja pindah ke sekolah ini. Appa dipindahkan ke Seoul, dan kebetulan Jinyoung hyung sedang kuliah di Seoul. Jadi, kami pindah.”

“Berarti kita akan satu sekolah lagi, Eunji-ya! Aigoo, aku rindu sekali padamu, di Tokyo tidak ada teman yang seasyik dirimu! Oh iya, kau dikelas mana?”

“Dia sekelas denganku.” Seru Jinhong cepat. “Dikelas II Unggulan-2.”

“Aigoo, kau sekelas dengan Jinhongie? Aaaaah, kenapa tidak aku saja yang sekelas dengannya?” seru Namjoo dengan wajah kesal. Eunji mengerutkan dahinya bingung. “Eunji-ya, ayo bertukar kelas denganku!” pinta Namjoo dengan nada manja.

“MWO?!”

# # # # #

Jung Eunji’s POV

Apa-apaan Namjoo ini? Bertukar kelas? Sampai kapan pun aku tidak akan menuruti keinginannya! Enak saja!

“Eunji-ya,” aku menoleh ke samping tempat Jinhong duduk. “Wae geurae? Mukamu ditekuk terus sejak tadi.”

“Anni. Hanya sedang kesal saja.”

“Apa karena Namjoo memintamu untuk bertukar kelas?” tanya Jinhong tepat sasaran. Aku berusaha mengontrol ekspresiku, gawat kalau sampai dia tau. “Eunji-ya.”

“Ne?”

“Sejak kapan kau mengenal Namjoo?”

“Kami satu sekolah dasar, dan sejak kelas 1 sampai kelas 6 kami selalu sekelas dan duduk bersebelahan. Kami juga satu sekolah menengah, dan saat lulus ia pindah ke Seoul sedangkan aku tetap di Busan.” Jelasku singkat. Sebenarnya, Namjoo adalah teman yang menyenangkan. Ia selalu melindungiku jika aku di bully murid lain, tapi terkadang sifatnya yang suka seenaknya itu membuatku kesal.

“Oh.”

“Kau sendiri, sejak kapan mengenal Namjoo? Kalian kelihatannya akrab sekali.” Tanyaku balik. Jinhong yang asalnya tengah memerhatikan Park songsaengnim yang sedang menerangkan, menoleh cepat kearahku.
“Kami sekelas waktu kelas 1. Namjoo selalu menyendiri dikelas, tidak ada yang mau berteman dengannya karena ia murid pindahan. Karena tidak tahan, kami pun menyapanya dan sampai sekarang kami berteman baik dengannya.”

“Kami?”

“Aku dan Sandeul.” Mendadak suasana berubah canggung. Eunji merasa tidak enak membuat Jinhong menyebut orang yang tidak disukainya.

“Err, Jin–“

“Jung Eunji, kau tidak memerhatikan pelajaran saya?” baru saja Eunji mau memanggil Jinhong untuk menanyakan sesuatu, Park songsaenim sudah memergokinya.

“Ah–anni! Saem, nan–“

“Sepertinya Eunji ingin meminta pulpennya kembali, saem. Pulpennya habis kupinjam.” Elak Jinhong membuatku terbelalak. Kapan ia meminjam pulpenku?

Namja itu lalu menoleh padaku dan tersenyum. “Eunji-ya, pinjam sebentar ya. Sampai pelajaran ini selesai. Ne?” pintanya dengan ekspresi yang jelas hanya sandiwara. Ia mengerling memberi tanda. Ah, arraseo.

“Ah, ne. Kembalikan saat pulang sekolah saja.” Jawabku lalu menoleh ke depan. Huft, untung saja.

Oh iya, tadi aku mau menanyakan apa pada Jinhong?

“Jinhong-ah!” panggilku ketika Park songsaenim sudah meninggalkan ruangan kelas. Namja itu menoleh.

“Gomawoyo, kau sudah menolongku tadi!”

“Bukan masalah. Memangnya apa yang kau lakukan tadi?” tanya Jinhong yang matanya sudah tertuju pada layar komputer dibawah meja.
“Aku mau memanggilmu.” Jawabku jujur. Namja itu mendongak.

“Memanggilku?”

“Ne.”

“Untuk apa?”

“Anniyo. Aku sendiri lupa aku mau bertanya apa.” jawabku sembari terkekeh pelan. Jinhong hanya menggeleng-gelengkan kepalanya lalu menatap layar komputernya lagi. Lihat apa sih? Serius sekali. Aku berjalan mendekat ke mejanya. Ah, rupanya ia sedang membuka email.

Appa ingin sekali bertemu denganmu, Jinhong-ah. Tidak bisakah kau kembali ke rumah dan berkumpul lagi bersama appa, eomma, dan kakakmu? Sandeul bilang, dia juga merindukan keberadaanmu dirumah.

Mwo? Sandeul?

“Ya! Aish! Sejak kapan kau disini?!” seru Jinhong keras dan langsung menutup email yang dibukanya.

“Min Jinhong, kau berhutang satu cerita denganku.”

“Apalagi?!”

“Apa maksudnya isi email tadi?”

“Apa pedulimu? Lancang sekali kau melihat privasi orang.” Seru Jinhong ketus. Namja itu berjalan ke lokernya mengambil tas lalu berjalan keluar kelas.

“Ya! Jinhong-ah! YA!! Aish!” aku mengacak-acak rambutku kesal. Ppabo Eunji! Kau ini tidak sopan sekali! Aku memukul-mukul kepalaku sendiri, namun ditahan oleh seseorang.

“Kenapa kau memukuli kepalamu seperti orang bodoh, huh? Apa yang terjadi?” tanya Dongho yang menahan tanganku. Aku menurunkan tanganku lalu berjalan ke lokerku, melakukan hal yang sama seperti yang Jinhong lakukan tadi. Tapi bedanya, aku menarik tangan Dongho, ikut keluar kelas bersamaku.

“Dongho-ya, apa kau tau semua tentang Jinhong?”

“Hmm, sepertinya iya. Waeyo?”

“Apa kau tau semua masalahnya dan hubungannya dengan Sandeul?” tanyaku lagi. Dongho menghela nafas lalu menghentikan langkahnya membuatku juga harus menghentikan langkahku.

“Untuk apa kau menanyakannya?” tanyanya dengan nada datar. Aku menggigit bibir bawahku, takut.

“Err, aku hanya ingin tau.”

“Jangan mencampuri urusan orang lain, arra? Sekarang, kau kuantar pulang. Kajja!”

# # # # #

“Eunji-ya!” aku berbalik dan mendapati Namjoo berseragam sekolahku sembari menggandeng tangan seorang namja yang berjalan disampingnya.

Omo, itu kan…, Jinhong?

“A–annyeong! Sudah mulai bersekolah?”

“Ne. Aku tidak sabar ingin cepat-cepat bersama Jinhong lagi. Makanya aku merengek pada appa minta tanggal masukku dipercepat, hehe! Kau datang sendiri, Eunji-ya? Mana Sandeul?” aku terbelalak kaget. Kenapa dia menanyakan Sandeul padaku?

“Ke–kenapa Sandeul?” tanyaku gelagapan.

“Lho? Bukannya kalian dekat. Kemarin bukannya kalian berpegangan tangan? Kukira kalian pacaran!” seru Namjoo dengan wajah polos membuat aku dan Jinhong tersentak.

“Anniyo! Kami hanya berteman, sungguh!” elakku berusaha menghilangkan salahpaham Namjoo.

“Iya juga tidak apa-apa kok! Eunji-ya, jangan kecewakan Sandeul, ne?”

Namjoo tersenyum lalu menarik Jinhong menaiki tangga. Aku hanya melongo ditengah koridor sekolah yang masih sepi itu. Pemikiran Namjoo benar-benar diluar dugaan.

“Eunji-ya! Melamun saja, wae?” tiba-tiba wajah Sandeul muncul dari samping. Aku terlonjak kaget membuat namja itu terkekeh.

Lee Junghwan a.k.a Sandeul’s POV

Aku melihat semua. Bagaimana Namjoo dengan entengnya berkata kalau ia mengira aku dan Eunji pacaran. Bagaimana ia menggandeng tangan Jinhong dengan mesra. Bagaimana mereka menunjukkan seolah-olah mereka itu pacaran.

Tiba-tiba aku merasakan sakit didadaku. Apa aku cemburu? Bukannya aku sudah menyukai Eunji? Mengapa melihat Namjoo bergandengan tangan dengan Jinhong membuatku kesal?

Aku memutuskan untuk menghampiri Eunji yang diam mematung.

“Eunji-ya! Melamun saja, wae?” aku terkekeh melihat ekspresi kagetnya. “Waee? Seperti melihat hantu saja.” Gerutuku kesal.

“Anniyo! Kau mau ke kelas, kajja!” aku tersentak ketika Eunji menggandeng tanganku. Namun, aku tersenyum begitu melihat wajah cerianya.

Kau ini bicara apa, Sandeul-ah. Sudah jelas-jelas kau menyukai Eunji kenapa masih bilang cemburu pada Namjoo?

Ketika kami baru saja selesai menaiki tangga, kami melihat Namjoo yang masuk ke kelas Jinhong bersama namja itu. Akupun melirik Eunji yang berjalan disampingku, ia melamun. “Namjoo sangat menyukai Jinhong.” Ucapku sengaja sembari memasukkan kedua tanganku ke saku celana. “Kadang, kalau mereka sudah asyik berdua, aku dilupakan.”

Eunji berjalan dalam diam disampingku. Namun, mimik mukanya menunjukkan kalau ia menyimak kata-kataku. Tiba-tiba ia menghentikan langkahnya dan mencengkram ujung blazerku.

“Sandeul-ah, ada yang ingin kutanyakan padamu.”

“Memangnya apa?”

“Bisa kita membicarakannya ditempat lain?”

# # # # #

Eunji duduk di atas dinding pembatas yang setinggi perut. Akupun duduk disampingnya dan menikmati angin pagi di atap gedung sekolah ini.

“Baiklah,” aku memutar posisiku sedikit agar menghadap Eunji. “sekarang apayang mau kau tanyakan?”

“Kemarin, aku tidak sengaja membaca email Jinhong entah dari siapa, dan, namamu tercantum disitu.” Aku tersentak kaget. Namaku? “Isi pesannya, meminta Jinhong pulang ke rumah dan katanya kau merindukan keberadaan Jinhong dirumah. Apa kau bisa menjelaskannya padaku?” tanya Eunji sambil menunduk. Sepertinya ia takut untuk menanyakan hal ini padaku. “Apa hubunganmu dengan Jinhong, Sandeul-ah? Tolong jelaskan padaku.”

“Kau benar-benar ingin tau?” yeoja itu mengangguk mantap. Aku mendesah pelan, haruskah aku menceritakan ini? “Tidak akan menyesal?”

“Tidak akan!”

Aku menghirup nafas panjang, lalu membuka mulut, “appa eommaku bercerai waktu umurku 8 tahun. Dan Jinhong sudah tidak memiliki eomma sejak lahir. Jadi dia hanya tinggal dengan appanya dan pembantu-pembantu dirumahnya. Tuhan pun mempertemukan eommaku dengan appa Jinhong. Kami yang saat itu berumur 11 tahun, masih belum mengerti apa maksud pernikahan dan keluarga baru, karena itu kami mengizinkan mereka menikah lagi. Apalagi kami sama-sama anak tunggal,pemikiran kami waktu itu, sepertinya memiliki saudara itu akan menyenangkan.”

“Jadi, kau dan Jinhong adalah saudara tiri?” tanya Eunji. “Hajiman, kenapa nama margamu Lee? Bukannya Jinhong nama marganya Min?”

“Appa tidak mengganti namaku. Katanya, ia ingin mempertahankan nama kelahiranku. Eomma pun menyetujuinya.” Aku menghela nafas. “Aku dan jinhong berhubungan baik seperti saudara kandung, kami memang punya banyak kecocokan yang bisa membuat kami layaknya sepasang kakak beradik. Tapi, karena banyak masalah yang terjadi diantara kami berdua, Jinhong memutuskan untuk pergi dari rumah dan menyewa apartemen.”

“Apakah Namjoo salah satunya?”

“Apa maksudmu?”

“Apa Namjoo adalah bagian dari masalah kalian?”

“Ne, memang.” Jawabku sembari menatap mata Eunji yang serius menatapku. “Padahal ia tau aku menyukai Namjoo, tapi ia selalu saja dekat-dekat dengan Namjoo. Tapi tidak hanya itu, ia juga kesal karena appa dan eomma lebih memedulikanku daripada dia, karena aku lebih menurut dan dia tidak.”

“Bolehkah aku bicara? Sepertinya kau salahpaham, Sandeul-ah. Jin–“

KRIIIIIIINNGGGG!!

“Sudah bel, ayo turun.” Ajakku sambil tersenyum. Ketika Eunji hendak membuka mulut, aku menarik tangannya menuju pintu atap.

Aku tau, pasti kau ingin membelanya, Eunji-ya. Kau mau bilang aku yang salah dan Jinhong yang benar, iya kan?

# # # # #

Jung Eunji’s POV

“Kau mau kekantin, Eunji-ya?” tanya Dongho yang berdiri disamping meja Jinhong. Sang pemiliknya pun sedang duduk dibangkunya.

“Kajja, aku sangat lapar.” Balas Eunji sembari membereskan alat tulisnya. Lalu aku berbalik menghadap Jinhong, namja itu memejamkan matanya dengan sepasang earphone ditelinga kanan dan kirinya.

“Bagaimana denganmu, Jinhong-ah?” tanyaku sembari menarik ponselnya hingga terlepas dari earphone-nya. Sudah kuduga, ia tidak mendengarkan apapun.

“Aku disini saja.” Namja itu merebut ponselnya dari genggamanku. Aku melirik Eunji, ia terlihat murung.

“Sebenarnya apa yang terjadi dengan kalian? Kuperhatikan dari tadi kalian belum saling menyapa hari ini.”

“Err, itu…”

“Anni. Tidak ada apa-apa. Kami baik-baik saja.” Potong Jinhong dengan nada ketus. Aish, namja ini bodoh atau apa, kalau mengelak dengan cara seperti itu sedah pasti ia menyembunyikan sesuatu!

“Geojitmal. Eunji-ya, ceritakan yang sebenarnya padaku.” Pintaku pada Eunji dengan sedikit memaksa.

Eunji menundukkan kepala lalu menceritakan semuanya. “Kau berlebihan, Jinhong-ah. Kalau aku jadi Eunji, aku juga akan penasaran.”

“Tapi, tetap saja, itu kan privasiku.”

“Mianhae, Jinhong-ah.”

“Dia sudah minta maaf. Apa kau sekejam itu?” tanyaku menyudutkan namja bodoh ini.

“Jinhongie!” kami bertiga menoleh bersamaan. Kim Namjoo berdiri dipintu kelas seraya melambaikan tangannya. Ia melangkah ke dalam sambil berkata, kebetulan sekali kalian bersama, aku ingin mengajak kalian makan!” lalu yeoja itu menoleh kearahku. “Kalau Dongho mau, dia juga bisa bergabung.”

“Hmm, keurae. Aku ikut.”

“Kajja, Sandeul sudah menunggu!” Namjoo menggandeng tangan Eunji dan berjalan keluar kelas disusul aku dan Jinhong.

“Kenapa harus ada namja itu..” gumam Jinhong lirih membuatku terkikik geli.

Sesampainya dikantin, kami menghampiri Sandeul yang duduk disebuah meja. “Sandeul-ah, kau tidak keberatan kan Dongho bergabung?” tanya Namjoo seraya mendudukkan dirinya.

“Tidak masalah! Sebaiknya kalian mengambil makanan sebelum kehabisan.”

Butuh waktu yang lumayan lama ketika mengambil makanan. Kami harus berdesak-desakkan dulu. “Ah!!” aku mendengar rintihan kecil Eunji yang ada didepanku. Rupanya ia terhimpit.

Akupun menariknya keluar dari kerumunan dan berkata, “aku akan mengambilkannya untukmu, tunggu disini.” Setelah itu aku menerobos kerumunan, mengambil makanan, lalu keluar dari kerumunan. “Igeo.” Ketika kami kembali, kami hanya menemukan Sandeul. Tidak lama kemudian, Jinhong datang, dan terakhir, Namjoo yang datang.
“Ya, kenapa tidak ada satupun dari kalian yang menolongku tadi? Aku hampir terjatuh karena didorong-dorong terus.”

“Ah, mianhae, Namjoo-ya.” Ujar Eunji dengan wajah bersalah.

“Mian. Kami juga begitu.” Seruku datar lalu melanjutkan makanku. Yeoja itu mendengus kesal lalu duduk disamping Sandeul karena Jinhong duduk disamping Eunji dan Eunji duduk disampingku.

# # # # #

Author’s POV

“Eunji-ya!” Eunji menoleh dan mendapati Namjoo berlari kearahnya. Gadis yang membawa tas pink itu berhenti tepat disamping Eunji. “Pulang bersama ya? Kita kan searah.” Eunji pun mengangguk lalu mereka berjalan beriringan.

“Haah, ternyata dalam waktu 1 tahun itu bisa membuat sifat seseorang berubah ya.” Seru Namjoo tiba-tiba. Eunji menoleh padanya dengan pandangan heran.

“Apa maksudmu?”

“Banyak sekali yang berubah. Sandeul, yang dulunya baik sekali sekarang tidak terlalu memedulikanku. Jinhong, sekarang mulai sering berkata dengan dingin padaku, dan Dongho, dulu ia sangat ramah padaku, tapi entah mengapa sifat mereka sekarang berubah semua.” Jelas Namjoo membuat Eunji semakin bertanya-tanya. Mereka bertiga dulunya begitu?

“Dulu kau, sangat dekat dengan mereka?” tanya Eunji penasaran.
Namjoo tersenyum kearahnya lalu berkata, “ne. Sebenarnya hanya Sandeul dan Jinhong, namun Dongho juga akrab denganku.”

Mereka berdua sampai di halte bus lalu duduk. “Aku kini iri padamu, Eunji-ya. Kau dekat dengan mereka, apalagi dengan Jinhong.” Namjoo menggeser posisi duduknya lebih dekat dengan Eunji. “Eunji-ya, boleh aku minta tolong padamu?”

“Mwo?”

“Aku mencintai Jinhong, Eunji-ya. Aku mencintainya. Bisa bantu aku agar Jinhong membalas perasaanku?”

# To Be Continued #

Maaf kalo ceritanya jadi kacau, ini aku males ngelanjutin tapi dipaksa ngelanjutin jadi gini deh 😀
Komennya jangan lupa ^^

30 responses to “Because You’re the Prettiest [PART 6]

  1. wah,akhirnya dh ada lanjutannya juga #telat sih

    Ow ow ow pihak ke tiga muncul

    Makin penasara,bkin eunji berdarah2 dong thor

    Plsssss,,,,,,

    Minimal jatoh dri lantai 3 ato ketabrak odong2 kek hehehe #abaikan

  2. Pingback: (BYTP IS BACK!!) Because You’re the Prettiest [PART 8] | FFindo·

  3. Pingback: Because You’re the Prettiest [PART 8] | Summer's Neverland·

  4. Pingback: Because You’re the Prettiest [Part 9 - END] | FFindo·

  5. eomoe eomoe eomoe..
    Tia menghilang timbul satu orang baru lagi..
    ckckck
    jadi gemees aku..
    kkk~
    baca part 7 lagi 🙂

  6. Pingback: Because You’re the Prettiest [EPILOG] | FFindo·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s