Seasons of The Lucifer [CHAPTER 11]

Seasons of The Lucifer

Title:Seasons of The Lucifer

Author: LucifeRain / Aya

Genre: romantic – Fantasy, Friendship, AU

Leght: Chaptered

Ratting: G

Main Cast:

Cho Minhye a.k.a Cho Minhyun

Kim Kibum a.k.a Key

Choi Minho a.k.a Minho

Lee Taemin a.k.a Taemin

Kim Jonghyun a.k.a Jonghyun

Lee Jinki a.k.a Onew

Support Cast:

Lee Eunki

Choi Jinhya

Credit Poster: @dEanKeya

 

 

Let’s begin, Autumn Onew.

Happy Reading ^_^

 

______________

 

Lucifer

Seseorang berwajah malaikat namun seperti iblis

Hati yang egois

Cinta yang tulus

Kesucian yang keliru

Mengancam

Berulang kali salah seperti malaikat dan iblis

Mempunyai perasaan yang tidak jelas

Lucifer adalah keberanian

______________

 

Minhyun menarik nafas lega ketika membaca kejadian itu, ia bisa membayangkan secara sempurna karena tulisan yang sangat detail. Belum lagi potongan Koran itu ternyata berita kejadian yang dipublikasikan lewat media masa.

Minhyun melirik jam. 04.00. padahal ia belum membaca sampai habis, Minhyun kembali membuka lembar selanjutnya, namun tanganya menegang saat sebuah suara melambung dan membuat dirinya membeku seketika.

“berani sekali kau membaca buku itu!”

 

~*~*~*~

 

Bertepatan saat Minhyun menoleh ke belakang, sebuah bogem mentah mendarat di pipinya. Ia terpental ke lantai dan terkulai lemas karna kepalanya terbentur keras. Ketika Minhyun membuka matanya yang terpejam pasca benturan, tatapan murka Kim Jonghyun menyambar penglihatanya.

Jonghyun berlutut dengan posisi perut Minhyun berada di antaranya, penyampaian emosi tersalur jelas dalam tatapan matanya. Ia manarik kasar kerah keme Minhyun dengan tangan kirinya sedangkan tangan yang satunya terkepal ke udara. Dan..

 

Kraaakkkkk….

Pukulan tak mendarat tetapi kedua tangan Jonghyun menarik paksa kemeja Minhyun secara berlawanan, dan terbukalah. Mata Minhyun terpejam, ia mengigit bibirnya kuat kuat, memaki diri sendiri karna begitu bodoh membiarkan Jonghyun melihat tubuhnya yang hanya berbalut tanktop.

“ternyata benar dugaanku, kau adalah seorang Yeoja” Jonghyun melepas seringai iblis terbaiknya, sekejap kemudian suara tawanya menggema dalam ruangan itu. tawa yang asing, bukan ciri khas seorang Kim Jonghyun yang biasa. Mengerikan.

 

Bughhh…

Refleks Minhyun membuka matanya, ia mendapati Jonghyun tersungkur di sebelahnya. Pandangan Minhyun teralih ke arah Taemin yang berdiri dengan tangan terkepal, penampilanya telah kembali normal namun tersirat jelas kemurkaan pada rahangnya yang mengeras.

 

“ck! Jadi selama ini kau tahu semuanya?!” bentak Jonghyun, Taemin hanya mampu membuang muka dengan tatapan kosong.

“aku muak! Tempat ini sudah seperti neraka!” umpat Jonghyun sembari melangkah keluar setelah membanting keras pintu kamar.

 

Dengan tubuh yang bergetar hebat, Minhyun mencoba bangkit berdiri. Ia mencengkram kedua sisi kemejanya lalu berjalan melewati Taemin, namun sial ia tak bisa lepas karena Taemin menyeretnya paksa.

Taemin menghempaskan Minhyun di atas tempat tidurnya, kemudian ia berjalan ke kamar mandi dan tak lama setelah itu terdengar suara kucuran air. Minhyun terkesiap pelan ketika pintu terbuka, masih ada trauma yang tersisa.

“aku sudah menyiapkan air panas. Kau mandi saja dulu, baru kita bicara. Tapi jangan lama lama karna aku belum tidur, arraseo?” cerocos Taemin. Dalam hati Minhyun sedikit lega, Taemin mulai bawel dan dia merindukan sifat itu.

 

Taemin menguap lebar untuk kesekian kalinya, ia tampak jenuh menunggu Minhyun yang tak kunjung keluar dari kamar mandi. “YA! CHOI MINHYUN! KAU TIDUR DALAM AIR, HUH?” teriaknya dongkol.

Tak ada jawaban dari Minhyun, karna sudah tak sabar Taemin pun menimpuk pintu kamar mandi dan membuatnya terbuka kecil. Ia mendecak kesal melihat Minhyun yang sudah berpakaian lengkap duduk di atas bathtub.

“pabboya! kalau sudah selesai kenapa tak keluar?” omel Taemin geram.

 

Minhyun tertunduk “mianhae…”

Taemin menghela nafas panjang “kau takut padaku?”

“kenapa? Kenapa kau tiak marah padahal aku sudah mengganggu privasi-mu dan aku membohongi kalian semua…”

 

Taemin menghempaskan punggungnya dengan tangan bertautan di atas kepala, ia tersenyum tipis. “aku bukan orang seperti itu. ku anggap kita seri karena kau tahu rahasia terbesarku dan aku juga tau rahasiamu”

“tapi bagaimana dengan Kim Jonghyun?” tanya Minhyun ragu.

“kuakui nyalimu sangat besar bisa membaca Neverstory, kami tak berani menyentuhnya karna Onew Hyung pernah dibanting setelah ia memegang buku itu. tapi kau tenang saja, Jonghyun Hyung tak mungkin rahasiamu meskipun dia sering bergosip dengan orang”

“lalu soal Uzuki Naomi…”

“kita tidak bisa menyalahkan Jonghyun Hyung sepenuhnya. Mungkin itu cara penyampaian rasa sayangnya, meskipun sangat melenceng dan membahayakan”

 

~*~*~*~

 

 

Minhyun menyentuh pipi kirinya yang masih terasa sakit, ternyata ujung bibirnya sedikit sobek karna pukulan jonghyun tadi. Entah harus tenang atau cemas karena Jonghyun, Key dan Minho tidak masuk sekolah hari ini.

Yang terlihat hanya Taemin yang ikut menggosip dengan para namja yang menggumpal di pojok kelas, dan Onew entah apa yang dia lakukan sepertinya namja itu sibuk meniup setiap telinga teman temanya.

“dasar namja namja abnormal” guman Minhyun, sejurus kemudian ia mengaga lebar karna teman sekelasnya langsung menghujamkan tatapan tajam. Hey, dia hanya berguman. Aigoo…

 

“Minhyun-ah!” seri Onew, ia berjalan mendekat.

“aku mau pergi, bilang pada guru yang masuk nanti kalau aku ada urusan. Okey?” sahut Onew sembari memasang jas sekolahnya.

“apa Eunki ikut denganmu?” tanya Minhyun spontan.

“anni. Dia tidak terlihat dari tadi, aku juga heran”

 

Drttt… drtttt…

Ponsel Minhyun bergetar bertepatan saat Onew keluar kelas. ia meraih ponselnya lalu menjawab video call dari Jinhya.

“Min-ah kau pasti tidak percaya!” sambar Jinhya berapi api.

“Waeyo?”

“Eunki ada bersamaku dan dia baru saja menceritakan masa lalu Onew!”

“mwo? Bagaimana bisa kau melihat Eunki?” tanya Minhyun kaget.

“nanti akan ku jelaskan semuaya! Apa Onew ada di sana?”

Minhyun menoleh ke arah pintu “dia baru saja pergi!” sambungnya

 

Ada yang aneh dari Jinhya, dia melihat ke samping lalu seakan berbicara dengan seseorang padahal tak ada siapa siapa disana. Minhyun menyadari sesuatu “kau bicara dengan Eunki?”

“ne, dia bilang kau harus mengikuti Onew! Aku akan menceritakan masa lalu Onew. Ikuti saja kemana Onew pergi dan beri tahu aku tempatnya!”

 

Setelah Video Call itu dimatikan, Minhyun langsung bergegas keluar kelas. ia memasuki jalan keluar rahasia yang berada di belakang Dorm. Minhyun  mempercepat langkahnya mendengar suara Mobil dijalankan. Onew baru saja keluar dan tanpa berfikir panjang Minhyun langsung berbelok ke ruang parkir rahasia lalu mengejar Onew dengan mobil Porsche Cayenne putihnya.

 

Onew memacu mobilnya dengan sangat cepat, membuat Minhyun kewalahan karena harus mengikuti sekaligus menjaga jarak. Tiba tiba Ponsel Minhyun berdering, buru buru ia menyambar ponselnya dan membuka sebuah pesan.

“aku merekamnya karena Eunki yang menyuruhku”

Pesan yang singkat, namun di bawahnya terdapat Voice message berdurasi panjang. Minhyun membuka pesan itu dan terdengar suara asing seorang gadis,  dia yakin ini Bukan suara Jinhya.

Minhyun menatap tidak percaya, ini pasti suara Lee Eunki. Dia bercerita…

 

__FLASHBACK__

 

Seorang anak laki laki menutup buku setebal 10cm dihadapanya. Ia menggendong buku itu lalu memanjat sebuah kursi dan menjulurkan tanganya setinggi mungkin agar sampai pada rak buku itu berasal.

Kemudian anak itu mengambil serbet dan kemoceng yang terongok asal di bawah meja, sudah diprediksinya bahwa Hwang Ahjumma sebentar lagi akan datang untuk memeriksa pekerjaanya.

Dengan gerakan cepat ia menyusun buku buku yang tergeletak asal di atas meja ke tempat semula lalu membersihkan rak rak buku itu dengan serbet basah dan kemocengnya.

 

“Jinki-ah, apa sudah selesai?” tanya seorang wanita paruh baya, tubuhnya terlihat ringkih namun aura kelembutan terpancar jelas dari paras ramahnya.

“sedikit lagi, Ahjumma” jawab anak laki laki itu.

 

Dia Lee Jinki, anak berwajah polos yang berumur 10 tahun. Ia tidak pernah tahu siapa ibunya, dan ayahnya meninggal sewaktu dia kecil. Kini Hwang Ahjumma lah yang menjaganya karena Hwang ahjumma satu satunya orang yang menemukan mereka saat kecelakaan.

Hwang ahjumma membawanya ke Daemyung Accademy karena ia tinggal disana dan berprofesi sebagai kepala Pelayan. Daemyung accademy merupakan sekolah asrama khusus putri tingkat sekolah dasar, karena itulah Jinki hanya berkeliaran saat murid murid sudah masuk asrama. Dia ikut membantu tugas Hwang ahjumma dan dia juga bersekolah meski kualitas sekolahnya berbanding terbalik dengan Daemyung Accademy.

 

Perpustakaan adalah tempat kesukaan Jinki, ia selalu beralibi ingin membersihkan perpustakaan padahal hampir sepertiga buku di perpustakaan yang lebih luas dari sekolahnya ini sudah dibacanya.

Disini dia bisa menemukan buku buku menarik dan harganya tentu saja sangat mahal mengingat sebulan uang sekolah disini sama dengan uang sekolahnya selama satu tahun.

 

“sudah selesai ahjumma” ucap Jinki sambil menyusun buku terakhir.

Hwang Ahjumma yang sedang menyapu, menoleh ke arahnya “di dapur ada puding, sebaiknya kau makan dulu”

Jinki mengangguk patuh. Puding yang dimaksud tentu saja puding sisa dari murid Daemyung. Jinki tidak pernah suka murid murid disini, mereka manja dan sombong makanan rusak sedikit saja tidak mau makan.

 

Sehabis menyatap makan malamnya, Jinki melangkah menuju lantai 3 –tingkat teratas gedung asrama. Kamarnya terletak di paling ujung dan terpencil, hanya sebuah ruang yang ia yakin toilet di setiap kamar asrama lebih besar dari kamarnya.

 

Langkah Jinki terhenti ketika beberapa anak perempuan yang memakai piyama keluar dari sebuah kamar. Ia bersembunyi di balik guci besar karna tak mau berpapasan dengan mereka.

Setiap Jinki bertemu dengan Murid Daemyung, mereka pasti menghina Jinki habis habisan. Ia merasa terkucilkan dan lebih baik menghindar.

 

“menyebalkan! dia pikir dia siapa?!” omel seorang anak perempuan.

“kalau bukan karena dikasih sekantung coklat hazelnut kesukaanku, lebih baik aku tidur dari pada bicara denganya” sahut anak yang lain.

“sudah penyakitan, sombong lagi! kalau tidak dibayar mana ada yang mau berteman denganya!”

 

Jinki semakin merapatkan tubuhnya ke dinding ketika anak anak itu lewat, namun tetap saja dirinya terlihat.

“haha lihatlah si curut ini, masih berani bertemu kita”

“aku yakin pasti dia yang menghabiskan makanan sisa. Dia kan miskin!” cibir mereka kemudian berlalu dengan sombongnya.

Ini masih belum seberapa, tak jarang Jinki merasa sangat disudutkan. Bahkan ia pernah menjadi bulan bulanan para murid yang melemparinya dengan sampah, sampai sekarang dia masih tidak mengerti sebenarnya apa salahnya? Salah kah bila ia hanya menumpang disini?

 

Jinki mengamati kamar tempat anak anak itu keluar, Kamar itu dihuni anak dari ketua yayasan Daemyung accademy. Jinki belum pernah melihat rupa anak itu karena ia dipindahkan beberapa bulan yang lalu, lagi pula kamar itu dijaga sangat ketat oleh para pelayan.

“ambilkan aku susu coklat, sekarang!” jerit seseorang dari dalam kamar dan tak lama kemudian Seorang pelayan keluar dengan terburu buru. saat Jinki melewati kamar itu, pintunya sedikit terbuka.

Penasaran, ia pun menjinguk ke arah pintu dan mendapati seorang anak perempuan sendang berpangku tangan di atas sandaran tempat tidurnya. Anak perempuan itu mamandang keluar jendela, namun tatapanya kosong, seakan tak bercahaya.

 

Anak perempuan itu mendengus, saat ia berbalik matanya membulat lebar ketika melihat Jinki.

“Aaaa!” jeritnya lalu melempat pintu itu, membuat Jinki sukses bersundulan dengan pintu.

Jinki mengusap keningnya seraya meringis kesakitan. Namun ia sadar sesuatu, ketika mata sayu anak itu membulat, Jinki langsung terkesima dengan matanya yang berwarna coklat terang dan terlihat sebening ait. Cantik meskipun cahayanya meredup.

Jinki melirik plang nama di sebelah pintu, ia heran ternyata kamar kamar ini Cuma dihuni satu orang padahal di kamar pada umumnya berisikan 3 orang. Dalam hangul terbaca “Lee Eunki”

 

__FLASHBACK END__

 

Minhyun meletakan ponselnya, Lee Eunmi menggambarkan menjabarkan latar belakang Onew secara gamblang. Sangat mudah divisualisasikan dalam hayalan.

 

Sembari menunggu pesan lanjutan dari Jinhya, Minhyun mengamati keadaan sekitar. Ternyata Onew membawanya menuju pantai yang cukup ramai. Tapi mobil Onew tak berhenti di pantai itu, ia berbelok menelusuri jalan beraspal di samping pantai yang tidak terlalu ramai

Mobilnya berhenti di depan sebuah rumah berderet yang terpagar. Di depanya bertuliskan ‘Yayasan Theresia”

Minhyun menepikan mobilnya agak jauh dari mobil Onew. Dugaan Minhyun salah karena Onew bukan masuk ke tempat itu, tetapi ia berjalan mengitar kemudian berhenti di depan jembatan gantung sepanjang 200 meter

Onew meraih sepeda yang bertengger di bawah pohon. Ia menaiki sepeda itu lalu mengayuhnya setelah tersenyum samar sembari menyematkan kaca mata hitam.

 

Melihat itu, Minhyun bergegas menghubungi Jinhya “Jinhya-ah, Onew pergi ke sebuah pulau” sambar Minhyun ketika melihat ujung jembatan itu merupakan sebuah pulau yang di penuhi pohon kelapa di setiap tepi jalanya.

“mwo?! Bukan itu tempat yang ku maksud. Tapi ikuti saja dia” titah Jinhya.

 

Minhyun berjalan di atas Hanging Bridge setelah Onew tak lagi terlihat, ia terkesima karena pemandangan yang disuguhi sangat natural dan menakjubkan.

Setelah melewati jalan beraspal yang di penuhi pohon kelapa berdaun rimbun pada tepinya, Minhyun dihadapkan pada sebuah Glasess House berdesain klasik yang terlihat sangat elegant (pict = SoL Chapter 7)

 

Glasses House itu membuat Minhyun dengan mudah memastikan bahwa tak ada seorangpun di ruang depan. Ia pun memberanikan diri melangkah ringan ke arah dinding kaca itu lalu mengamati sisi tengahnya.

“Mwo? Tidak ada? Dimana kenop pintunya?” gumanya heran. Baru disadarinya bahwa disana sama sekali tak ada lubang kunci padahal jelas jelas ini bagian depan Glasses House.

“Lalu bagimana orang masuk? Aigoo… apa Onew itu juga seperti Eunki? Apa dia alien atau sebangsanya hiiiiiii…..” batin Minhyun ngawur.

Frustasi tak menemukan pintu, Minhyun menyusuri sekeliling. Ia mendapati kolam renang yang berhadapan dengan laut, sebenarnya agak janggal ada kolam renang di depan laut tapi hal ini membuat Glasses House terlihat semakin unik.

 

Melihat ada pintu Slide di belakang Glasses House, Minhyun langsung berjalan kesana namun sekali lagi dia tak menemukan knop pintu. kalaupun pintu ini otomatis setidaknya pasti punya lubang kunci atau terbuka ketika mendeteksi manusia. Tidak seperti dinding tanpa celah, atau ini benar benar dinding? Lalu dimana pintunya?

“aishhh! Sebenarnya ini rumah mahluk apa?!” umpatnya frustasi.

 

Ketika Minhyun berbelok ke arah kiri, disana terdapat sebuah gazebo  yang atapnya terbuat dari daun rumbia. Di setiap tiang penyanggahnya dihiasi kain putih yang semakin memperindah Gazebo berdesain sederhana itu.

Minhyun menengadah, di atas Gazebo itu terdapat sebuah Balkon yang ujungnya menghubungkan sebuah jembatan ke lantai dua di  sisi lain Glasses House (pict= SoL Chap 7)

 

Deburan ombak yang tadinya kencang, perlahan hanya menyisakan deruan kecil. Seakan ingin memberikan waktu pada Minhyun untuk menyimak sesuatu. Samar samar Minhyun mendengar percakapan seseorang, ia memejamkan matanya demi menajamkan pendengaran.

 

“kenapa dia di infus?” tanya seorang namja, tidak salah lagi ini suara Onew.

“key kelelahan” sebuah suara melambung tenang, Minhyun yakin ini suara Minho.

 

Minhyun membuka matanya ketika Minho mengucapkan nama Key. “jangan jangan ini… Breath of Heaven?” terkanya dalam hati

 

“kami terpaksa membiusnya karena Tuan Kim bersih keras tidak mau tidur. Terlihat jelas dari wajahnya kalau dia tidak tidur berhari hari” jelas seseorang berusara Bariton.

“mwo? Tapi dia baik baik saja kan, dokter?” tanya Onew.

“sepertinya tuan Kim depresi. Kami menemukan botol botol kosong obat bius disamping lemarinya. Sepertinya Ia sering membius dirinya sendiri untuk tidur”

“aish! apa dia gila hah?!”

“dia menderita, Hyung!”

Minhyun merinding mendengar kalimat terakhit Minho. Lamunanya terbuyar ketika ponselnya bergetar dan terpampang Voice Message disana. Minhyun menyandarkan punggungnya di balik Gazebo lalu memasang Earphone yang sudah dipersiapkanya.

Suara Eunki pun mengalun…

 

__ FLASH BACK __

 

Seorang anak laki laki meraih sapu yang bertengger di bawah pohon, dengan cekatan ia membersihkan dedaunan yang berguguran di pekarangan Daemyung accademy.

Berbeda dengan anak lain, Sepulang sekolah Jinki tidak langsung ke kamar dan mengganti pakaian. Ia memilih merapikan Taman Daemyung Accademy sembari menunggu murid murid Daemyun memasuki ruang makan. bisa jadi bahan cemoohan jika dirinya lewat ketika murid Daemyung berada di asrama.

 

“aaww!” Jinki meringis sembari mengusap kepalanya yang terkena lemparan seuatu. Ia menoleh ke atas dan mendapati murid murid Daemyung mengejeknya dari jendela ruang makan.

Jinki hanya bisa menunduk saat cibiran pedas dilayangkan padanya, ia meraih sebuah sendok yang dilempar murid tadi lalu menyimpanya di tas agar dapat dikembalikan malam nanti.

 

Karna murid Daemyung sudah berada dalam ruang makan, Jinki pun bergegas ke asrama dan menghambur ke dalam kamarnya. Ia harus cepat ganti baju jika tidak ingin berpapasan dengann murid Daemyung saat keluar nanti.

 

Jinki berjalan menyusuri lorong lorong asrama, namun langkahnya terhenti ketika mendengar dentingan piano yang mengalun lembut. Ia memfokuskan pendengaranya seraya berjalan menuju ruangan dimana melody itu berasal.

Ruang itu… kamar yang semalam. Jinki memutar gagang pintu lalu menyisakan sedikit ruang agar matanya dapat melihat ke dalam ruangan.

Ia terpaku menatap seorang anak perempuan di depan Boesendorfer Grand Piano yang terletak tepat di sudut siku siku ruangan tersebut, yang mananterdapat dua buah jendela kaca pada dinding yang diibaratkan sebagai sisi alas dan sisi tegaknya.

 

“etude-nya Chopin” guman Jinki ketika mendengar alunan dari tuts hitam putih alat musik papan kunci tersebut. anak itu sangat berbakat.

Anak perempuan itu tiba tiba tersenyum, cahaya matanya yang biasa redup menjadi bercahaya ketika jemarinya menari diatas tuts piano. Jinki merasa anak itu seakan bersinar karena jendela besar di belakang piano yang menampilkan langit kelabu musim gugur seperti menjadi background yang memberi efek samar. Cantik .

 

Prangggg….

Tiba tiba Anak itu menekan tuts piano saat menyadari kehadiran Jinki. Ia merampas benda di atas meja lalu melempar ke arah pintu hingga pintu itu tertutup. Jinki mendengus, untung dia tidak bersundulan dengan pintu lagi.

 

Jinki terpekur sejenak. Kenapa anak itu begitu dingin terhadap orang? Kenapa dia suka sekali mengurung diri dikamar? Berlandaskan pertenyaan yang belum terjawab, Jinki menulis sebuah kalimat pada buku catatan kecil yang selalu dibawanya.

Ia menyobek kertas itu lalu menyelipkan di bawah pintu.

 

‘kenapa kau selalu mengurung diri? Apa tidak bosan? Bertemanlah dengan orang lain karena aku pernah mendengar peribahasa Spanyol yang berkata “hidup tanpa seorang teman bagai kematian tanpa saksi”’

 

Jinki beranjak dari duduknya, sekitar 15 menit ia menunggu di depan pintu tapi anak itu tak kunjung keluar. Ia cukup tahu diri, mana mungkin anak orang kaya itu keluar menemuinya yang notabene bukan siapa siapa.

Ketika Jinki melangkah terdengar suara decitan pintu, Jinki pun berbalik dan melayangkan senyum lebar pada anak perempuan yang berdiri di ambang pintu.

“kau tidak tahu apa apa, jangan campuri urusanku!” tandasnya tajam.

“maaf aku tak bermaksud apa apa” tutur Jinki halus. kali ini berbeda, ia sama sekali tak menunduk getir.

 

Jinki merasa tatapan Lee Eunki tidak menolaknya, berbeda dengan pandangan anak anak lain yang menghujatnya. Baru kali ini dia merasa diterima.

“aku tidak ingin melihat wajahmu lagi! jangan dekati aku!”

Jinki tersenyum menanggapi kalimat pedas itu “John Paul Richter pernah berkata ‘jangan berpisah tanpa kata perpisahan yang indah untuk diingat, karena saat kau kesepian mungkin kita tak akan pernah bertemu lagi dalam kehidupan’ jadi, aku akan menjauhimu bila kau membuat kalimat perpisahan yang indah untukku”

 

“kau berlebihan” komentarnya, namun dalam diam Eunki merasa terhenyak dengan kutipan itu. sangat mengena, membuatnya tanpa sadar melebarkan pintu dan mengisyaratkan supaya Jinki masuk.

 

Setelah Jinki memasuki kamar itu, pandanganya tertuju pada rak buku mini di samping Boesendorfer Grand Piano. Dalam rak itu tersusun buku buku tebal yang mempunyai judul besar Frederic Chopin, Ludwig Van Beethoven, franz liszt, Schubert dan sebagainya.

 

“kau suka musik klasik? Hebat sekali punya buku seperti itu” tanya Jinki

“dulu aku tinggal di Praha, disana kakekku mengajari berbagai macam musik klasik. Kau tahu musik klasik?”

Jinki menggangguk “Hwang Ahjumma suka sekali musik klasik, Ahjumma sering memutar musik itu dan bercerita. aku suka Petrouchka, L’isley jeyouse debussy, etude-nya chopin, bethoveen, liszt, schubert dan lain lain”

“pelafalanmu buruk sekali. Lebih terdengar seperti hmmm… Patrick? Shcoby doo be doo? Bathman? Hahaha”

 

Jinki menghampiri Eunki yang terduduk di depan tempat tidur, mata mereka beradu. “teruslah sepert itu kau memiliki lengkung senyum yang bagus”

Eunki terdiam, ia mengekori langkah Jinki yang terduduk di sebelahnya “kenapa kau terlihat percaya diri di depanku? Bukanya kau selalu menunduk di depan yang lain”

Jinki membalas tatapan Eunki “dan kau selalu dingin pada semua orang. Kenapa sekarang kau mau berbicara denganku?”

“hey! Kau memperhatikanku?!” tanya mereka bersamaan sejurus kemudian melambung tawa malu malu khas anak anak.

“aku tidak tahu kenapa” jawab Jinki sembari menatap langit langit kamar yang terdapat banyak gantungan bulan bintang dan akan bercahaya bila gelap.

“aku juga…” lanjut Eunki.

 

“kenapa kau tidak pernah bermain dan kenapa kamarmu selalu dijaga pelayan? Untung saja sekarang para pelayan sedang makan siang” celoteh Jinki.

“ibuku yang menyuruhnya, padahal dia sendiri tidak pernah mempedulikanku. Coba saja ayahku masih hidup” ujar Eunki sembari menghela nafas

 

Jinki menatap lekat ke arah Eunki, ia heran mendapati ada banyak memar di kaki dan tangan Eunki “kenapa ada banyak memar di tubuhmu?”

Eunki tersenyum getir “kau tahu kenapa aku selalu di jaga dan tak pernah keluar? Itu semua karena penyakit keturunan dari ayahku”

“penyakit apa?” tanya Jinki

“hemofilia”

 

__ FLASHBACK END__

 

Minhyun melepas Earphone-nya, ia terhenyak mendengar cerita masa lalu Onew dan Eunki. Namun perasaan tersentuh itu tak bisa berkembang sekarang karena suara percakapn dari atas tak terdengar lagi.

 

Minhyun terpaksa memanjat tiang penyanggah Gazebo, pagar balkon dan atap Gazebo jaraknya tak terlalu jauh membuatnya dengan mudah melompat dan menggapai pagar balkon.

 

Dengan langkah ringan Minhyun memasuki ruang tak berpintu yang langsung berhadapan dengan luar balkon (pict = SoL Chap7).

Ia mematung sesaat ketika melihat Key sedang terlelap di atas tempat tidur, Ternyata ruang elegant yang terkesan simple ini adalah kamar Key. MInhyun menatap Key lekat, Terlihat kantung hitam di bawah matanya dan dari guratan wajah Key tampak jelas bahwa ia kelelahan.

 “benar kata Minho” batinya.

 

Minhyun berjalan menuju pintu kamar Key yang terbuka, namun langkahnya terhenti ketika melewati meja belajar yang diatasnya berserakan buku buku dan kertas. Bukan itu yang membuatnya terkejut, melainkan sebuah kotak kaca berisikan topeng berlapisi kelopak bunga Eidelweis. Topeng OxyGEn Jinhya.

 

“Uisa-nim, mari saya antar kedepan. Saya juga mau pergi, ada urusan” Ucapan Onew yang terdengar samar itu membuat Minhyun mengumpat sebal.

Di satu sisi ia masih betah mengamati topen itu namun di sisi lain ia mempunyai misi yang lebih penting. Dengan berat hati Minhyun melangkah keluar setelah menatap dalam topeng itu.

 

Mungkin keberuntungan menjauhi Minhyun hari ini, karena begitu dia keluar seseorang yang sejak tadi terpejam di atas tempat tidur kini membuka matanya. Dia tahu…

__TBC__

Advertisements

74 responses to “Seasons of The Lucifer [CHAPTER 11]

  1. Q kira onew itu kluarga kaya raya kayak member yg lain trus apa alasanny dia bsa msuk shinee apa cma karena dia ckev ato pinter hhhhhm
    Ok pertnyaan q td trjawab trnyata onew gk gila cma dia biaa liat arwah astagaaaaa horor romance,,,ok seruseru

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s