Season of The Lucifer [CHAPTER 12]

 

Seasons of The Lucifer

Title: Seasons of The Lucifer

Author: LucifeRain / Aya

Genre: romantic – Fantasy, Friendship, AU

Leght: Chaptered

Ratting: G

Main Cast:

Cho Minhye a.k.a Cho Minhyun

Kim Kibum a.k.a Key

Choi Minho a.k.a Minho

Lee Taemin a.k.a Taemin

Kim Jonghyun a.k.a Jonghyun

Lee Jinki a.k.a Onew

Credit Poster: @dEanKeya

Previous Chapter: Click Here 

 

______________

 

Lucifer

Seseorang berwajah malaikat namun seperti iblis

Hati yang egois

Cinta yang tulus

Kesucian yang keliru

Mengancam

Berulang kali salah seperti malaikat dan iblis

Mempunyai perasaan yang tidak jelas

Lucifer adalah keberanian

___________

Mungkin keberuntungan menjauhi Minhyun hari ini, karena begitu dia keluar seseorang yang sejak tadi terpejam di atas tempat tidur kini membuka matanya. Dia tahu…

 

~*~*~*~

 

Key mengerang pelan sembari memijat kepalanya yang terasa pening, tidak tidur berhari hari membuat tubuhnya seakan remuk. Ia lelah namun terlalu enggan memejamkan mata walau sejenak.

Masa lalu itu selalu menjadi mimpi buruk yang terus meracuni hingga ke ujung asa, membuatnya hanya bisa berdiri di persimpangan antara masa lalu dan masa depan. Ingin melangkah menuju masa depan yang menawarkan semangat baru namun masa lalu menguntitnya dengan ancaman.

Disana ia terdiam menunggu seseorang yang mampu menemaninya untuk menghapus kecupan de javu hingga kepangkal nafas. Kini dirinya sedang membangun jembatan penghubung agar orang itu tak hancur ketika menghampiri. Mencoba menyelamatkan sebelum diselamatkan…

 

Key meraih remote di atas meja samping tempat tidur, ia menekan tombol merah disana. seketika wallpaper pada dinding di depan tempat tidurnya tergulung keatas, dan terlihatlah layar besar yang tersembunyi dibaliknya. Layar itu terbagi menjadi beberapa bagian, menampilkan siaran CCTV yang dipasang di setiap sudut Breath of Heaven.

 

Key menekan beberapa tombol dan menyaksikan rekaman saat Minhyun berada di Breath of Heaven. Ia meraih ponselnya lalu menghubungi Minho seraya menatap layar yang menyiarkan tempat Minho berada.

 

“Lock ponsel mu lalu angkat sejajar dengan kepala. dari pantulan layar lihat ke arah pohon kelapa yang paling besar” ucap Key straight to the point.

 

Minho yang saat itu berjalan dengan dokter dan Onew ke arah Jembatan gantung, langsung mengikut petunjuk dari Key. Ia sedikit memiring ponselnya lalu mengamati pohon kelapa yang paling besar sambil memperlambat langkah.

Sekejap kemudian, Minho tahu apa yang dimaksud Key. Cho Minhyun mengikuti mereka…

 

Key tersenyum samar menyaksikan tampilan layar, ia kembali menghubungi Minho.

“kau tahu kan betapa cerobohnya dia? Tolong ikuti dia, belum saatnya Onew Hyung tau identitas aslinya. Jaga dia untukku”

Key langsung mematikan ponselnya lalu menekan tombol merah pada remote hingga layar itu tertutup. Ia menatap langit langit kamar seraya mensugestikan diri supaya tidak terlelap.

Mata Key semakin memerah dan berair, ia merasa oksigen tak lagi menyelimuti kepalanya. Biasanya rasa lelah itu teralihkan karna keberadaan Minhyun, diam diam Key selalu mencari tahu semua tentang Minhyun dengan berbagai cara.

 

Kejadian tadi pagi terlintas ulang, dimana Minhyun baru tiba di Dorm sehabis memata – matai Taemin. Saat Minhyun berada di kamar, Key menyelinap ke kamar Jonghyun dan mengeluarkan Neverstory dari laci. Ia meletakkan buku itu di atas meja kemudian menyelipkan kamera pengintai di sela sela kumpulan rol film di atas meja belajar Jonghyun.

Key sengaja membuka pintu itu karena ia telah memprediksikan kalau sifat Minhyun yang mudah penasaran pasti akan tertarik melihat pintu kamar Jonghyun – Onew yang tadinya tertutup tiba tiba terbuka. Key juga telah memperhitungkan bahwa Jonghyun selalu pulang sekitar jam 4 sehabis dari Apartment Naomi. Rencananya berjalan lancar…

 

Dugaan bahwa Minho tau segalanya adalah salah besar. Selama ini Key adalah otak dari segala hal dan Minho sebagai tangan yang melakukan segalanya. Semuanya sesuai dengan apa yang dia mau…

 

Obat bius dan obat tidur yang Key simpan dalam laci telah dibuang Minho, dan sialnya obat itu juga habis di tempat penyimpanan rahasianya. Pada akhirnya Key benar benar kalah, matanya terpejam dan potongan masa lalu itu bereinkarnasi menjadi sebuah mimpi…

 

-The Dream –

 

Kim kibum menutup buku setebal 10cm yang habis dibacanya dalam waktu 2 jam dengan membaca Scanning. Metode seperti itu baru diajarkan di sekolahnya, namun sejak Kibum bisa membaca ia sudah menerapkan cara itu dan kini terbukti dia mampu menyerap 100% inti dalam waktu singkat.

 

Ia meraih tasnya dan mengeluarkan buku paket bahasa inggris, hanya butuh beberapa menit soal Evaluasi yang jumlahnya 50 dapat diselesaikan dengan akurat. Meski Kibum belum pernah menetap di negara Western namun Ruang Belajar yang lebih mirip perpustakaan berukuran luas itu, menyediakan buku buku yang membuatnya mengusai bahasa inggris dengan otodidak pada usia teramat muda. 9 tahun.

 

“aigoo… Tuan muda Kim semakin cerdas saja” puji seorang wanita paruh baya berparas ramah, ia adalah pengasuh Kim Kibum.

“berhenti mengganggapku anak kecil, Kim Ahjumma” ujar Kim Kibum sembari beranjak dari duduknya.

 

Kim Kibum lahir dari seorang ibu yang merupakan putri bungsu satu satunya dalam keluarga Han -yang memiliki perusahaan dibidang elektronik terbesar se-Asia, dan ayahnya adalah seorang Profesor besar di dunia. Tak heran mengapa ia teramat kaya dan kelewat cerdas.

Meski begitu, Kim Kibum tak terlalu suka menampilkan kekayaanya. Tapi jika moodnya dalam kondisi buruk, maka ia akan berubah menjadi sangat Arogant seperti sekarang…

 

“cepat jalankan menuju Mall” titah Kibum setelah memasuki mobil.

Mercedes Benz keluaran terbaru itu pun melesat membelah jalan kota Seoul. Kibum yang duduk di bangku penumpang hanya mengarahkan pandanganya keluar jendela, meskipun ia jarang tersenyum namun kali ini ekspresi wajahnya sangat tidak bersahabat.

 

Sesampainya di pusat perbelanjaan terbesar di Seoul, Kibum terus melangkahkan kakinya, tak peduli dengan nafas berat pengasuhnya yang terlalu lelah mengikuti langkahnya mengingat beliau sudah sangat renta.

Langkah Kibum terhenti ketika sudut matanya menangkap senyum Khas seseorang yang sangat dikaguminya… dulu.

Krystal terlihat memasuki sebuah toko perhiasan dengan dirangkul oleh seorang namja yang terlihat jelas lebih tua darinya. Dibalik lekuk tajam mata Kibum, tersirat sebuah kekaguman yang berubah menjadi kebencian. Tak disangka senyum teduh yang dikaguminya menjadi begitu murah.

 

“Kim Ahjumma, apa aku kurang kaya?” tanya Kibum tiba tiba.

“tuan muda Kim bicara apa? Tidak biasanya Tuan Muda mengungkit soal kekayaan” Ucap Kim Ahjumma lembut.

“aku bisa membeli seluruh isi toko perhiasan itu, tapi kenapa dia bisa sebegitu gembira menerima kalung berlian murahan itu?” tukas Kibum tajam.

Kim Ahjumma mengikuti arah tatapan Kibum dan sejurus kemudian ia tersenyum lembut “gadis yang cantik” ulasnya “tapi dia terlalu dewasa untuk tuan muda”

 

“anni! Eomma saja lebih sepuluh tahun lebih tua dari Appa. 7 tahun itu wajar kan?”

Kim Ahjumma hanya bisa menggeleng gelengkan kepala menanggapi argumen Kibum, ia pun mengikuti langkah Kibum yang menjauh dari tempat semula. Dari awal, semuanya sudah melenceng.

“Kim ahjumma, pastikan toko itu sudah menjadi milikku ketika aku datang kesini nanti” tandasnya.

 

Kibum mengalihkan pandanganya keluar jendela, membiarkan cahaya lampu lampu jalan menyapa tatapan kosongnya. Ia memerintahkan sopir untuk memacu mobil lebih cepat karena sudah tak sabar ingin bercerita pada Eomma-nya.

“STOP!” teriakan Kibum membuat sopir menginjak rem secara mendadak, kontan tubuh mereka pun terhempas kedepan.

Kibum menajamkan tatapanya, awalnya dia mengira dirinya berilusi atau semacamnya namun tidak, di depan matanya terlihat jelas krystal sedang menggandeng seorang namja yang berbeda sambil memasuki sebuah hotel bintang lima.

“ahjumma, Kira kira untuk apa namja dan Yeoja menginap di hotel padahal rumah mereka masih di daerah Seoul?” tanya Kibum tiba tiba.

“tuan muda terlalu cepat dewasa” itulah kata yang sering di ucapkan Kim Ahjumma bila tuan mudanya menarik kesimpulan yang terbilang jauh dari kapasitas pemikiran anak seusianya.

 

“Eomma…” mata Key membulat ketika menangkap sesosok wanita yang sangat dikenalinya sedang memasuki hotel dengan seorang wanita yang lebih muda “Eomma…”

-The Dream-

 

~*~*~*~

 

Minhyun menepikan mobilnya dalam jarak yang terlalu jauh dari mobil Onew. Masih dengan langkah ringan ia menapaki jejak langkah Onew sambil sesekali bersembunyi di balik pohon jika namja itu menoleh.

Setelah beberapa saat Minhyun menjadi Stalker dadakan, akhirnya ia disuguhkan fakta penting. Tanpa berfikir panjang, Minhyun pun langsung menghubungi Jinhya.

“Daemyung Accademy, itukah yang kalian maksud?” tanya Minhyun tanpa basa basi.

“right! Berikan aku alamatnya” ucap Jinhya antusias.

“kenapa kau tidak tanya pada Eunki saja hah?!”

“dia tidak mau memberitahu ku, dia bilang aku harus mencari tahu sendiri. Ayolah Min-ah, bukanya aku mau menjebakmu atau apa, tapi kau tahu sendiri kan aku tidak punya fasilitas untuk mengikuti Onew. Lagi pula kau kan sudah pengalaman jadi pengintai hehehe” cerocos Jinhya panjang lebar.

“asih! Ya! Choi Jinhya, kau…” baru saja Minhyun hendak mengomel tapi Jinhya sudah mematikan ponselnya. “ck!”

 

Setelah mengirimkan alamat Daemyung, Minhyun melangkah memasuki sekolah khusus putri itu. sebenarnya ia bisa saja pergi mengingat misinya sudah selesai, tapi sifat mudah penasaranya kambuh lagi.

Dari balik semak semak, Minhyun memperhatikan Onew yang jaraknya lumayan jauh dari tempatnya bersembunyi. Ia semakin heran, mengapa Onew memilih duduk di taman padahal sebentar lagi tengah malam.

Saat Minhyun hendak melangkah lebih dekat, tiba tiba ponselnya bergetar. Voice Message. Ia memejamkan mata dan Earphone putih pun menjuntai dari kedua telinganya.

 

__ FLASH BACK__

 

-salah satu hal tersulit dalam hidup adalah menerjemahkan bahasa nurani-

 

Eunki meletakkan selembar kertas biru di atas meja belajarnya, ia menaiki tempat tidur kemudian menumpukan sikunya pada sandaran tempat tidur dengan posisi telapak tangan menopang dagu. Entah sejak kapan Memperhatikan seseorang sehabis pulang sekolah menjadi rutinitas harianya.

Dari jendela di belakang sandaran tempat tidurnya, diam diam ia selalu memperhatikan seorang anak laki laki yang memiliki senyum teduh namun selalu di cemooh para penghuni Daemyung.

 

Setiap hari Eunki selalu mendapati secarik kertas yang terselip di bawah pintu kamarnya, dari siapa lagi kalau bukan dari Lee Jinki anak laki laki paling membosankan dan sok dewasa –menurutnya.

Ah tidak, Jinki benar, mengartikan bahasa kalbu adalah hal tersulit karena jalan pikiran selalu menampik hasil terjemahan itu. tanpa disadari, bibir mungil Eunki membentuk seulas lengkung senyum yang menurut Jinki paling disukainya.

 

“Eunki… kau sedang memperhatikan apa?”

Seorang wanita berpenampilan angun duduk di sebelah Eunki, ia meraih pinggang Eunki kemudian meletakkan kedalam pankuanya.

“apa memar-mu semakin banyak?”

Eunki menggeleng pelan menanggapi pertanyaan ibunya, melalui mata coklat bening miliknya ia menatap sendu kedua bola mata ibunya.

“Eomma, aku ingin Lee Jinki menjadi kakakku” tuturnya.

“kenapa, sayang?” ucap wanita itu sembari mengelus lembut puncak kepala Eunki.

“dia satu satunya orang yang mau berteman denganku. semua orang menjauhiku karena takut membuatku luka dan berdarah, mereka hanya mau berbicara denganku kalau dibayar. Aku benci mereka.”

 

Wanita itu menghela nafas berat, sebenarnya ialah yang membayar anak anak itu agar mau berbicara dengan Eunki. Ternyata hal ini malah membuat anaknya semakin terluka.

“Eomma, aku tahu umurku tidak panjang. Ku mohon, aku ingin dia menjadi kakakku.aku tidak tega melihatnya selalu dikucilkan anak anak menyebalkan itu”

Wanita itu mengangguk pelan, selama ini Eunki belum pernah memohon padanya. Sifat Gadis kecil itu sangat tertutup, baru kali ini ada kesungguhan yang teramat besar dari mimik wajah yang bisanya dingin itu.

 

~

 

Hemofilia…

 

Potongan kalimat yang dibacanya dari buku di perpustakaan itu selalu membayangi pikiran jinki akan Eunki. Hal itu membuat batinya berkecamuk, memaksa untuk meninggalkan tapak kenangan jika kelak ia terpercik semburat nostalgia.

 

Jinki mengetuk pintu kamar Eunki seraya mengawasi sekeliling, ia sudah berjanji akan mengunjungi Eunki tengah malam ini. tempo ketukan itu semakin cepat karena Eunki tak kunjung membukakan pintu, lagi lagi saat Jinki hendak pergi, pintu itu terbuka.

“ku pikir kau hanya bercanda” tutur Eunki sembari mengucek matanya yang masih enggan terbuka sempurna.

“maaf mengganggu tidurmu, aku hanya ingin mengajakmu ke suatu tempat. Apa kau tidak bosan di kamar terus?”

 

Eunki tampak menimbang ucapan Jinki “tapi aku takut terjatuh” ujarnya.

“ada aku disini” Ucap Jinki sembari tersenyum lembut.

Sadar atau tidak, paras teduh itu mampu memupus keraguan yang selama ini tersimpan. Eunki mensejajarkan langkahnya di samping Jinki, ia menautkan jemarinya di sela jari jari Jinki. Terasa hangat.

“tapi kau tak boleh melepasku ya” pintanya dengan mata berbinar binar.

 

Sepanjang perjalanan, kedua tangan itu terus terayun. Tampak jelas kalau Jinki sangat menjaga langkah Eunki, seakan tak membiarkan sekecil bendapun menyentuh.

“Boleh aku memanggilmu Oppa?” tanya Eunki tiba tiba.

“tentu saja, Nae Dongsaeng” jawab Onew sambil mengusap lembut puncak kepala Eunki.

“ya! Oppa sok dewasa dan membosankan, kenapa banyak sekali tambalan di mantelmu?!”

Jinki terkekeh mendengatr pertanyaan Eunki “ ini satu satunya mantel yang ku punya, aku tak ingin Hwang Ahjumma menghabiskan uangnya untukku”

“lalu kau juga mau bilang kalau kaus kaki bolongmu itu satu satunya yang kau punya?” celetuk Eunki dan hanya dibalas Jinki dengan cengiran. “Aigoo.. kenapa Oppa tak memakai sendal saja?!”

“aku tidak punya”

 

Mendengar ucapan itu, Eunki langsung menghentikan langkahnya. Mau tak mau Jinki pun ikut berhenti, ia menyernyit melihat Eunki melepas sepatunya begitu juga dengan kaus kakinya.

“Oppa yang membosankan dan sok dewasa, kau harus pakai akus kakiku kalau kau tidak ingin kakimu lecet. Cepat!” perintah Eunki sambil memasang kembali sepatunya.

“ini tidak perlu, aku…” Jinki tak dapat melanjutkan kata katanya ketika Eunki menatapnya tajam seakan berkata pilih-memakai-kaus-kaki-atau-mati-lagipula-kaus-kaki-ku-tidak-bau-tau-!!!!!!!!!!!!!!!!!! Uwooow galak juga ternyata.

 

Mau tak mau Jinki pun memasang kaus kaki pink itu, terlihat aneh tapi biarlah. Ia kembali menggenggam Eunki dan melanjutkan langkah.

“Oppa kau itu membosankan dan sok dewasa” komentar Eunki saat mereka menaiki anak tangga.

“eo, kau sudah mengucapkanya ribuan kali. Aku bosan” balas Jinki. Secara hati hati ia menuntun Eunki menaiki anak tangga kayu yang agak reyot.

Ketika Jinki membuka sebuah pintu di ujung tangga itu, deruan angin menerpa wajah mereka. Ternyata Jinki membawanya ke atap gedung asrama. Eunki yang sangat antusias langsung berjalan menuju pagar pembatas dan mengamati kelap kelip lampu gedung yang terlihat seperti serakan bintang.

 

“ini tempat kesukaanku” ucap Jinki ketika berada di sebelah Eunki.

“aku baru pertama kali ke tempat seperti ini”

“kau hanya butuh keberanian dan rasa percaya diri jika ingin ke tempat seperti ini” ujar Jinki sarkatis.

Eunki merapikan jumputan poninya yang berserak kemudian menoleh ke arah Jinki “lalu bagaimana dengan Oppa? Oppa…kenapa kau tak menggunakan keberanian dan rasa percaya dirimu untuk membalas cemoohan anak anak menyebalkan itu?”  cerocosnya.

 

Jinki mentap Eunki sembari tersenyum lembut “aroma musim semi, kau merasakanya? Dari semua musim aku paling suka musim semi. Ada banyak kelembutan dibalik kerapuhanya. Musim semi menyimpan banyak cerita dibandingkan musim lainya”

“musim semi itu seperti Oppa” Eunki memejamkan matanya, membiarkan paru parunya terisi penuh oleh angin malam yang melepas aroma musim semi “hari ini hari terakhir musim semi kan?”

Jinki menggangguk keci “dan mungkin terakhir kalinya aku membawamu kemari, karena aku tak punya banyak keberanian”

 

Setelah kalimat itu melambung, tak ada lagi ucapan yang menyambutnya. Tak ada tampikan karena semuanya benar. Mereka terdiam, merasakan terpaan angin malam yang sebenarnya tak baik untuk tubuh, tapi hanya ini kesempatan terakhir. Membawa orang yang disukai pada hal yang disukai.

 

“SIAPA DISANA?!!!”  terikan itu membuat Eunki dan Jinki terkesiap. Tubuh Jinki menegang, jika ia ketahuan kemungkinan terburuknya adalah di usir dari Daemyung.

Saat Jinki melihat orang yang memergoki mereka berjalan ke balik dinding di sebelah pintu, ia langsung menarik tangan Eunki memasuki pintu untuk menuruni anak tangga.

Tapi Naas, undakan tangga yang diinjak Eunki sudah sangat lapuk. Dengan mata kepalanya sendiri, Jinki melihat Eunki terjungkan dan berguling di tangga. “LEE EUNKI!!!!”

 

__FLASHBACK  END__

 

Minhyun melepaskan Earphone di telinganya, sudah bisa ditebak bagaimana akhir ceritanya. Tapi ada satu hal yang mengganjal pikiranya, Bagaimana bisa Onew selalu menggunakan barang bermerek padahal dulunya ia sangat miskin dan melarat. Lalu kenapa Onew bisa masuk ke gedung asrama seenak jidatnya?

 

Sejak tadi Minhyun memang mengikuti langkah Onew sambil mendengarkan cerita Eunki. Dan kini ia bersembunyi di barik rak sepatu saat Onew berhenti di depan sebuah pintu kamar.

Terlihat jelas Onew menyelipkan secarik kertas di bawah pintu yang di atasnya masih terpampang plang nama “Lee Eunki” yang warnanya agak memudar setelah bertahun tahun.

Dari gerakan bibir Onew, Minhyun dapat menangkap kalimat “Saengil Cukkhae” terucap. Ia merasah tersentuh sekaligus bingung, jika ini hari ulang tahun Eunki kenapa dia lebih memilih bersama Jinhya dari pada Onew?

 

Minhyun keluar dari persembunyianya ketika Onew melangkah pergi. Ia harus terus mengikuti Onew jika ingin keluar dengan selamat karena Minhyun sama sekali tak tau denah asrama ini.

Diluar dugaan ternyata Onew melangkah memasuki gedung Olah raga. Minhyun merasa terjebak karena di dalam gedung itu hanya terdapat alat alah olahraga dan sebuah kolam renang. Tak ada lemari atau benda berukuran besar untuk bersembunyi. Jangan jangan….

 

Tepat ketika Onew berbalik, Minhyun terpaksa menceburkan diri ke kolam. Dan di saat bersamaan semua lampu padam, Onew pun memilih pergi karena mustahil lampu remang yang menyusup dari luar jendela dapat menerobos ke dalam air.

 

Minhyun merasa tubuhnya di tarik, ia terbatuk ketika merasakan disekitarnya bukan lagi air melainkan udara. Seperti ada seseorang membaringkanya namun matanya terlau sulit terbuka karena ia masih sibuk memuntahkan air yang tertelan dan menghirup nafas dalam.

“ceroboh” suara itu bagaikan petunjuk yang membuat Minhyun yakin siapa orang yang menolongnya.

“tak usah menceburkan diri kalau tidak bisa berenang. Merepotkan”

Minhyun menatap Minho dengan nafas yang masih memburu, baju namja itu basah dan artinya…

“kenapa kau tau?!” tanya Minhyun sambil beranjak. Tiba tiba Minho menarik pergelangan tanganya.

Minho berjalan menuju sakelar lampu dan menghidupkanya kembali, ia melangkah keluar dengan tangan yang masih menyeret paksa Minhyun.

 

Tak ada kata yang keluar dari bibir Minhyun, ia merasa tertangkap basah. Minhyun hanya mampu mensejajarkan langkah panjang Minho yang terlalu cepat sampai sampai nafasnya tersenggal karena duakali Minho melangkah, dirinya harus mengejar dengan tiga langkah cepat.

 

“tak bisakah kau pelankan langkahmu? Kau ingin membuatku lari lari tengah malam hah?” protes Minhyun sambil setengah berlari menyeimbangi langkah Minho yang semakin cepat.

“pendek!” umpat Minho. Ia jadi merasa menggandengan anak seumuran Eunmi –adiknya.

 

“aku mau pulang” ronta Minhyun lalu menepis cengkraman tangan Minho.

“bodoh! Sejak awal Onew Hyung sudah mencurigaimu. Kau mau dia semakin curiga melihatmu pulang basah kuyup padahal tak ada hujan”

Minhyun termenung memikirkan ucapan Minho “lalu kau mau membawaku kemana?” tanyanya kemudian

“kerumahku”

 

~*~*~*~

 

Minhyun mematung di depan cermin, sungguh ia tak tau harus melakukan apa dikamar Choi Minho. Catat! Kamar Choi Minho. sekali lagi ini kamar Choi Minho. Biar tegang, ini kamar CHOI MINHOOO!!! OMMOOO!

Mendengar guyuran air dari kamar mandi saja membuat jantungnya berdebar tak karuan.

 

Minhyun tak bisa menolak ketika Minho membawanya ke rumah bergaya mediterania yang ternyata adalah rumah Si Hyukjae sarap ketua yayasan Shine World –ayah Minho sendiri. Awalnya ia mengira akan ditempatkan di kamar tamu, namun ternyata Minho sengaja mengosongkan para pelayan sepanjang jalanan menuju kamarnya agar tak ada yang tau keberadaan Minhyun.

 

Ternyata Minho tak mau Sooyoung dan Hyukjae tau kehadiran Minhyun, pasti akan ada tanda tanya besar kenapa Minho membawa Minhyun ke rumah pada larut malam. Dan ia malas mencari alasan untuk itu.

 

Minhyun terkesiap ketika pintu kamar mandi terbuka, ia berbalik kemudian menghela nafas lega karena ternyata Minho mengenakan T-shirt putih yang dipadukan dengan celana pendek. Untung saja, eh? Apanya?

“Wae?” tanya Minho sembari meletakkan handuknya di towel rack.

 

Minhyun kembali berbalik menghadap cermin, Ia mengenakan Kemeja putih Minho yang sangat kebesaran dibadanya bahkan tangannya pun tak terlihat. Sebenarnya Minho memberinya celana panjang, tapi Minhyun menolak mentah mentah memakai celana itu. sudah cukup tanganya yang menghilang dibalik kemeja ini, ia tidak akan membiarkan dirinya seperti orang tak berkaki karena mengenakan celana gober gober itu. yaiks…

“kenapa kau tak memberiku baju dan celana pendek saja hah?” protes Minhyun ketika Minho berjalan mendekat.

“itu membahayakan”

Minhyun mengaga lebar mendengar jawaban Minho “membahayakan apa?” tanya Minhyun gemas.

 

Tiba tiba Minho meraih tangan kanan Minhyun, perlahan ia menggulung lengan kemeja itu sebatas pergelangan tangan Minhyun. “aku tak bisa meminjam pakaian Yeoja dari Choi Sooyoung. Aku tak mau menyaksikan proses Lee Hyukjae membuat adik untuk Eunmi jika aku masuk ke kamar mereka”

Minhyun hanya mengulum tawa mendengar ucapan Minho, kemudian ia menyerahkan tangan yang satunya ketika Minho telah selesai menggulung lengan kemeja itu.

“Gomawoyo” ucap Minhyun sembari tersenyum.

Tiba tiba Minho mengacak pelan rambut Minhyun “jangan dipotong” ucapnya sembari berlalu. Minhyun pun menoleh ke arah cermin, ternyata Minho menyadari rambutnya yang sudah memanjang.

Sial! Sepertinya habis ini Minhyun disibukkan untuk menangkap jantungnya yang lari kesana kemari. “arghhh… apa yang harus ku lakukan” batin Minhyun tak karuan.

 

“tidurlah”

Minhyun pun mengikuti instruksi Minho, ia membaringkan tubuhnya di ranjang King Size itu kemudian menyelimuti dirinya dengan Bed Cover.

“kau tidak tidur?” sehabis mengucapkan kalimat itu, Minhyun langsung menarik selimut menutupi kepala lalu memejamkan mata kuat kuat. Ia lebih rela ucapanya tadi terdengar seperti nenek nenek yang mengajak cucunya tidur ketimbang seorang istri yang… Hiii… seram.

 

Tapa Minhun ketahui, Minho yang terduduk di depan meja belajarnya tersenyum geli melihat tingkah aneh Minhyun. Sebenarnya ia juga sama gugupnya, namun cepat cepat ia menepis rasa itu dan mengalihkan perhatianya pada lembaran kertas di atas meja belajarnya.

 

Minho membolak balikkan lembaran arsip dihadapanya. kemarin Sebelum ia ke Breath of Heaven, Minho lebih dulu singgah ke Yayasan Theresia, panti asuhan sebelum ia diadobsi dulu.

Ia terpaksa mencuri berkas berkas yang berisikan data kedatanganya di yayasan Theresia, karena sudah bertahun tahun Minho meminta arsip itu namun tak kunjung diberi.

Minho mencocokan arsip itu dengan potongan kertas koran yang ia dapatkan dari ruang rahasia di sebelah kamar Lee Hyukjae. dalam potongan koran bulan Desember itu tertulis “bayi berumur satu minggu” padahal dalam arsip yayasan Theresia tertulis bahwa ia lahir bulan April.

 

Kemarin, Setelah mengetahui orang yang membawanya dalam bis itu adalah wanita bernama Choi Raena, Minho langsung membayar orang untuk mendapatkan informasi tentang Yeoja itu.

Dan beberapa menit yang lalu ia menerima pesan tentang Choi Raena.

“Choi Raena dulunya seorang suster di sebuah rumah sakit. ia menikah dan melahirkan seorang anak laki laki di bulan januari, namun para tetangga di samping rumah lamanya mengatakan bahwa setelah Choi Raena meninggal, suami dan anak laki lakinya mengalami kecelakaan. Suaminya meninggal dan anaknya hilang.”

 

~*~*~*~

Key terbangun dari tidurnya, ia menegakkan punggung dengan nafas berderu tak karuan. Keringat dingin membasahi wajah pucatnya namun tak lama kemudian hilang tak berbekas karena tersapu tiupan angin malam.

Ia beranjak dari tempat tidurnya, kemudian berjalan ke arah dinding kaca yang menjadi sekat antara balkon dan kamarnya. Key menekan tombol di samping sekat, dan dari atas turun dinding kaca transparan yang merupakan pintu untuk kamarnya yang berhadapan langsung dengan balkon tanpa penghalang. Seketika itu deburan ombak dan deruan angin malam pun redam.

 

Key menoleh ke arah jam dinding kamarnya. Masih jam 3 pagi dan ia tak berminat untuk melanjutkan tidur, Key lebih memilih keluar kamar barang untuk mengambil minum atau menikmati makanan kecil.

Namun langkah Key terhenti di atas tangga Spiral rumahnya, ia menatap heran seorang lelaki berparas ramah yang sedang duduk di sofa sambil menonton pertandingan sepak bola. “Abeoji?”

“aku ini ayahmu, bukan hantu” tukas pria itu yang tak terima dengan pelototan Key.

“Abeoji, kenapa kemari?” tanya Key masih dengan raut wajah tak percaya, ia melangkah menuju sofa.

“dasar anak nakal! Kenapa kau tidak pernah bilang kalau kau membangun Glasses House di pulau ini dan tak menempati rumah lagi” ucap pria itu sembari membetulkan letak kacamatanya. Ia meraih gagang cangkir di hadapanya kemudian meyesap cairan hitam kental di dalamnya.

“sudah dua tahun kita tidak bertemu dan kau hanya bertanya kenapa aku kemari? Nappeun namja” keluh pria itu kemudian tertawa lebar. Jika diperhatikan, Key mewarisi semua lekuk ketampanan pria itu. mereka seperti replika satu sama lain

Berbeda dari rekan rekanya yang sudah botak, Pria yang bekerja sebagai Profesor dalam bidang Aerodynamic di jepang itu Masih terlihat tampan dengan senyum ramah khas dirinya. Tapi sepertinya sifat dan senyum ramah pria bernama korea Kim Hyun Joong itu tidak menurun pada Key.

 

“Kim Kibum, apa kau tidak mau memelukku?” tanyanya seraya meletakkan cangkir di atas meja.

“berhenti memanggilku dengan nama itu”

Pria itu terhenyak mendengar ucapan dingin Key “kenapa? Kau masih membenci ibumu?”

 

__TBC__

 

Maafkan segala typo yang ada, itu murni faktor ketidak telitian mata author wkwkwk *plakkk

Banyak yang sudah terungkap disini, kalau kalian teliti pasti udah punya jawaban buat semua rahasia dan Pasti kalian tahu apa yang terjadi di chap selanjutnya. Ada yang bisa nebak? Bilang aja jangan takut salah hehehe…

Oh ya, aku juga mau hiatus untuk persiapan ulangan. Jadi aku nggak bisa ngelanjutin SoL secepatnya, apalagi Killer Kiss. Makasih banyak buat yang udah ngikutin ff sinetron ini dari awal…

Dan terakhir, aku mau tau kalian lebih milih Key-Minhye atau Minho-Minhye?????

Cheers,

LucifeRain (Ayya) 

Advertisements

116 responses to “Season of The Lucifer [CHAPTER 12]

  1. Dari awal aku sudah suka Min-Key couple !!! Minhye Minho dibuat sodaraan aja Author-ssi…

    Jadi otak semua ini ada Key, dan yg menjalankannya Minho. Daebak !!!

    Awalnya Minho bilang Minhye itu miliknya. Tapi di part ini Key bilang ‘jaga dia untukku’. Aaaa… reader galauuu….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s