Pink Bandana

Tittle : Pink Bandana

Author : Kazu1chi

Rating : PG-13

Genre : Romance, Drama, Mystery, Darkfic

Cast : Donghyun (Boyfriend) as Hendru, Hyunseung (Boyfriend) as Judy, Jung Eunji (Apink) as Lita, and other.

Disclaimer : Segala artis dalam cerita ini bukan milik saya, tapi milik manajemen mereka, lalu milik Tuhan, dan tentu milik kalian dong.. 😛 Oh ya, ini tadinya cerita non-Fanfiction yang kubikin jadi Fanfiction.. Happy Reading yo.. 🙂

Pink Bandana

“Hendru, ini untukmu,” ucap seorang gadis — yang tak kukenal tapi hanya kutahu dia adik kelasku — dengan lirih. Segelas air yang dingin yang sangat menyegarkan tubuhku yang diberikan olehnya, kutolak. Aku mengetahuinya bahwa pasti rasa kecewa sedang menghantuinya. Kuakui aku memang orang yang super dingin. Aku sungguh tak mau menerima pemberian orang lain, apalagi orang itu tak kukenal.

“Gak, makasih,” balasku dingin tanpa ekspresi.

Waktu istirahatku telah usai, aku terus melanjutkan pertandingan bola basket tanpa menghiraukan pemberian hadiah orang-orang yang seperti gadis itu juga. “Go Hendru, Go Hendru, Go!” seru para penyemangatku sambil memukul drum. Mendengarkan sorakan dari mereka saja sudah membuatku muak, apalagi menerima pemberian dari mereka. Masuk telinga kiri, keluar telinga kanan, itulah prinsipku.

Tak terasa sudah satu jam berlalu, akhirnya pertandingan bola basket dimenangkan oleh timku. Sorakan meriah dari penonotn juga dari penyemangatku menggempar dengan luas. Membuat telingaku terasa sakit. Segera ku menghentakkan kakiku dengan cepat ke ruang istirahat khusus timku. Setiba disana, aku langsung dikejutkan dengan banyak bingkisan kado yang mengatasnamakanku. “Buset, banyak amat hadiah untukmu, Hen. Bagi-bagi napa?” ujar Judy melihat kedatanganku. Kuputuskan untuk berjalan menghampiri kado-kado itu, mengambilnya, lalu membuangnya ke tong sampah.

“Apa yang kau lakukan, Hen? Jangan dibuang, sayang amat!” Judy mencoba menghentikanku. Seketika ia mengambil sebuah kado ang lumayan kecil dan menahannya. Melihat ia mengambil sikap seperti itu, aku segera menari kkado itu. Maka terjadilah tarik-menarik antar kami berdua, yang menghasilkan kado itu robek dan terbuka isinya. Memang itu membuat kami terkejut. Tapi lebih mengejutkan lagi adalah isinya yang jatuh itu adalah sebuah bando berwarna pink!

Apa-apaan ini?! Bando warna pink?! SIapa yang memberiku warna yang paling kubenci? batinku kesal.

Dalam waktu sekejap, suasana yang tadi biasa-biasa aja berubah jadi berisik, karena tawa mereka yang sedang menertawaiku. “Kalau begini hadiahnya, lebih baik untukmu saja. Ingat, hadiah ini semuanya untukmu!” tawanya sambil berkomentar.

“Sialan!” geramku menggenggam erat bando pink ini. Mereka semua menertawaiku. Sial! Aku belum pernah ditertawakan seperti ini. Berani-beraninya mereka menertawaiku. Karena ak usudah kesal, aku membanting tas khusus olahraga yang kugendong serta bando pink sialan itu seketika. Dengan langkah tergesa-gesa, ku keluar dari ruang istirahat, kemudian keluar dari lapangan basket menuju ke kelas kampus untuk mengambil tasku. Sesampai disana, orang-orang disana terkejut melihatku bersikap kesal. “Mau kemana? Bukannya kau masih ada pelajaran lagi?” tanya Lia bingung.

Aku diam. Hendak pergi dari ruang kelas tanpa menghiraukan pertanyaan yang dilontarkannya. Sekembaliku di ruan g istirahat, hanya tinggal beberapa hadiah yang tergeletak di lantai. Tak berapa lama kemudian, pintu terbuka. Tampak seorang pebasket, Judy, datang dengan nafas yang tak beraturan.

“Kau kemana aja? Dicari di kelas, gak ada, di toilet, gak ada, di parkiran, juga gak ada,” suara Judy tampak putus-putus karena sambil jeda untuk menghela nafas.

“Aku ada dimana itu terserahku, apa pedulimu?” cuekku seraya mengangkat dan membopong tas khusus olahraga, juga menendang-nendang semua kado yang berserakkan yang belum sempat kuambil. Terlihat dari gaya tubuh dan wajahnya, dia hanya bisa pasrah saja sambil memandang kado-kado yang mulai rusak itu. Karena kado-kado itu mulai rusak, ada salah satu dari kado-kado itu terbuka dan berisikan sepucuk surat putih kekuning-kuningan yang mulus. Kuambil surat itu dan kubaca.

“Hendru Pangestu Sebastian,

Aku bukan menghina atau mengejek, akan tetapi bando pink sangatlah berharga. Dan tak ada tandingannya. Ku tahu dia sangat menyukaimu, bahkan layar desktop komputernya saja bergambar dirimu. Tak ada salah dia menyukaimu atau tidak. Tapi yang pasti, aku sangat mengucapkan terima kasih padamu. Mohon diterima hadiahnya.

Salam.”

Surat tak bernama. Kembali lagi surat itu hadir di kehidupanku. Sudah berkali-kali surat tak bernama ini tertuju padaku ; gak disini saja, tapi di saat aku berada di restoran, seorang pelayan memberikan surat tak bernama ini untukku, saat ditanya seperti apa orangnya, dia hanya mengatakan seorang cewek berambut panjang. Aku berasa terus diikuti setiap saat, layaknya kriminal yang dijaga ketat oleh penjaga penjara. Aku berasa diawasi dengan baik-baik, mau aku keluar rumah maupun saat pulang ke rumah. Bahkan untuk makan saja, susah karena rasa tak nyaman ini menghantuiku.

Rasa kesal ini bertambah karena hadirnya surat tak bernama ini disertakan bando pink ; benda wanita yang berwarna paling kubenci. Apa maksudnya semua ini? Ingin mempermalukanku atau ingin menjadi fansku? Benar-benar kurang ajar!

Surat tak bernama itu langsung kurobek berkali-kali dan membuangnya ke tempat sampah. Ku meludahinya. Biarin orang berkata apa terhadapku, yang penting barang itu harus lenyap dalam hidupku! Aku melihat Judy ternganga begitu melihat apa yang baru saja kulakukan.

“Kurasa, ku sudah punya yang gila,” komentar Judy,”Orang-orang justru senang punya penggemar, kau sama sekali tak menunjukkan sikap itu.”

“Aku bukan dirimu, bro,” balasku menepuk pundaknya lalu pergi. Sesekali kulihat ia menggelengkan kepalanya berkali-kali.

***

“Apa?! Suamiku dikasih bando pink?!” dengarku saat kuberjalan menuju kantin kampus.

Memuakkan! Itu pendapatku mengenai salah satu seorang gadis yang sedang bergosip ria itu. Bagaimana bisa gadis itu memanggilku dengan sebutan ‘suami’. Dasar ababil!

Bukan aku merasa percaya diri dengan sebutan ‘suami’ yang jelas-jelas itu tertuju padaku. Melainkan aku ingin sekali menendang gadis itu ke luar angkasa, agar aku terbebas dari hiruk-piruk para gadis ababil yang super gak jelas itu.

Selain itu, aku ingin sekali membaung Judy ke tong samapah hidup-hidup. Kenapa? Karena pasti dialah penyebar gosip mengenai aku yang dihadiahkan bando pink!

Sampaiku di kantin, kulihat Judy sedang makan ramai-ramai di sudut kantin. Aku pun segera menghampirinya dengan langkahan yang lumayan cepat. Sesampaiku di sebelahnya, ia hanya melemaparkan seulas senyuman, tak tahu itu sebuah kepuraan atau bermakna lain.

“Hendru, gak makan?” tanya Judy dengan tatapan orang bingung, tapi kuyakin dibelakang menutup-nutupi sesuatu. “Cuma berapa menit lagi, jam kuliahmu tiba loh.”

Ku tersenyum sinis dengan tatapan mengejek padanya. “Kata siapa gak akan? Aku lagi makan. Makan mulut harimaumu!” sesalku dengan nada mengejek dan marah.

“Huh?! Apa maksudmu, Hen?”

“Masih gak tahu ya? Atau pura-pura gak tahu?!”

“Sumpah, Hen! Aku sama sekali gak ngerti dengan kedatanganmu seperti ini.”

“Oh.. berubah jadi amnesia sekarang, setelah menyebar gosip bando pink, ya?”

“Huh?!” tiba-tiba ia berhenti mengunyah makanan, matanya terbuka lebar tanda orang lagi kaget. “Jangan berprasangka buruk dulu, Hen. Kau tahu aku kayak gimana, ‘kan?” lanjutnya.

“Bando pink? Insiden yang tadi di ruang istirahat basket, ‘kan? Hahaha..,” timpa teman-temanku sambil tertawa. “Hendru.. Hendru.. keren sekali penggemarmu itu.”

Tawa mereka terhenti seketika, saat melihatku mengepalkan kedua tanganku. “Terima kasih banyak!” senyumku terpaksa seraya pergi meninggalkan mereka dan mau gak mau harus mendengar tawa riang mereka sekali lagi.

Satu kata.. sial!

***

Kembali lagi bando pink itu muncul di hadapanku di keesokan harinya. Masih sama seperti kemarin-kemarin, munculnya bersamaan dengan sepucuk kertas aneh. Aku melihat ke sekelilingku, mereka menahan tawa mereka.

“Kalian semua lihat, siapa yang taruh ini?!” tanyaku dengan suaar keras dan menunjuk benda sialan ini.

Semuanya menatapku dan menggeleng-gelengkan kepala. Kulangkahkan kakiku ke tempat duudk Lia. Lia hanya bisa menatapku dengan tatapan penuh tanda tanya.

“Aku sungguh tak tahu, Hen,” dia menaikkan kedua bahunya serta menggeleng-geleng kepala.

“Benarkah?” balasku ragu.

“Iya, itu sudah ada sebelum aku tiba,” tambah Lia — orang yang selalu sampai pertama kali di kampus, karena rumahnya yang sangat dekat dengan kampus — mengangguk-anggukan kepalanya penuh yakin.

Seusai mendengar ungkapannya, aku langsung mengambil kertas aneh itu dan membukanya. Mohon diterima, bacaku dalam hati sambil melirik bando pink itu. Kugenggam kedua barang sialan itu, kemudian kubuang ke tong sampah. Sesudah dibuang, ku berjalan dengan langkahan santai ke tempat dudukku.

***

Air hujan membasahi kota Jakarta yang penuh dengan mobil-mobil serta motor-motor yang melintas di sekelilingku. Suara gemuruh dari hujan membuatku ingat pada teriakan para penggemarku. Mereka semua membuatku tidak konsentrasi pada waktu itu. Saat itu, aku sedang mengikuti perlombaan basket. Karena aku tidak konsentrasi, tm basketku kalah. Karena kekalahan yang disebabkan oleh aku inilah, yang memnyebabkan aku kehilangan salah satu sahabatku, Vino. Dia sangat marah, karena saat itu aku tidak mengoper bola padanya ketika aku sedang memerhatikan para penggemarku. Karena itulah, aku benci para penggemarku. Terutama terhadap seseorang..

Tak beberapa lama kemudian, akhirnya aku sampai di depan rumahku. Baru hendak melangkahkan kakiku, aku melihat di bawah pagar rumahku ada sebuah bingkisan kado yang tengah basah kuyup karena diguyur oleh hujan. Pikiranku sudah memikirkan kalau itu pasti bando pink lagi. Kusegera mendekati bingkisan itu, lalu melemparkannya ke tengah jalanan biar bisa dilindas oleh kendaraan.

Tiba-tiba telepon genggamku berdering. “Halo?” ucapku malas-malasan. “Siapa ini?”

Aku segera masuk ke kamarku sambil membereskan badanku. Ketika kuletakkan tas di kasurku, terdengar suara perempuan, “Hendru.. maafkan aku,” ucap orang itu sambil tersendat-sendat. Aku mencoba melihat siapa yang meneleponku, akan tetapi tertulis, ‘Unknown Number‘.

“Aku benar-benar ingin bicara denganmu.. tapi aku selalu memendamnya.. Bolehkah aku minta maaf padamu?” sabung orang itu. “Kalau kau tak mau memaafkan aku.. aku mengerti perasaanmu.”

“Siapa kau?” tanyaku bingung.

“Aku bukanlah siapa-siapa kamu.. aku tahu kok.. bahkan aku sangat mengerti. Kehadiranmu di hidupku, sudah sangat berarti buatku. Sebenarnya aku sangat takut sekali mengungkapkan ini. Tapi, aku tak au menyesal.. jika kau mencintaiku, maka aku juga mencintaimu. Jika kau tak mencintaiku, aku tetap mencintaimu sepenuh hatiku.. terima kasih banyak telah mengisi hari-hariku dengan bayangan dirimu di sisiku..,” dengan sekejap, terdengar bunyi ‘tut..tut..tut..‘ di teleponku, yang menandakan dia menutup telepon.

Siapa dia? Apakah dia baru saja menembakku? tanyaku dalam hati. Cewek yang aneh.

Pintu kamarku diketuk oleh seorang yang ternyata ibuku begitu aku mendengar suaranya. “Hendru.. tolong buka pintu. Ada hadiah untuk kamu, nih.” Aku segera membuka pintu, dan mendapati ibuku sedang membawa bngkisan kado yang tadi kulempar itu. Bingkisan itu lagi.. itu lagi.

“Siapa yang kiirm kado ini, bu?” tanyaku curiga.

“Ibu tak tahu. Tadi ketemu kado ini di jalan. Terus, ibu lihat kado itu tertuju nama lengkapmu, Hendru. Coba kamu buka dulu sana.”

Aku sudah tahu isinya. Dibuka juga perc uma, karenapasti itu bando pink. Tapi karena atas kemauan ibuku, aku membukanya meski secara paksa. Dan ternyata dugaanku memang tepat. Selain bando pink, disitu terdapat surat tak bernama lagi. Itu lagi.. itu lagi.

“Hendru Pangestu Sebastian,

Aku mencintaimu.

Salam.”

Ibuku terheran-heran membacanya. Begitu juga denganku. Firasatku mengatakan, kalau surat dan bando pink ini ada hubungannya dengan telepon misterius dari seorang cewek itu. Inti tampak seperti sebuah teror, tapi aku sama sekali tak merasakan ini sebuah teror. Aneh memang..

Akhirnya aku menyerah untuk membaung bando pink itu. Kuberikan bando pink itu untuk ibuku. Karena semakin lama, perasaanku semakni aneh. Tak sperti biasanya. Begitu mendengar suara cewek di telepon misterius itu dan membaca surat tadi.

***

“Hendu.. kau masih marah?” tanya Judy menarik lenganku. “Sumpah.. bukan aku pelakunya, Hen.”

“Sudah, Jud. Lupakan,” jawabku setengah santai, dan lebih anehnya lagi aku sama sekali tak merasakan kemarahan yang seperti kemarin-kemarin itu.

“Baiklah. Jadi bagaimana bando pink itu?” tanya lagi Judy mencoba mengetahui apa yang terjadi.

“Aku kasih ke ibuku. Memangnya kenapa?”

“Oh begitu.. tidak apa-apa. Kok sekarang kau jadi berbeda? Biasanya, kau selalu tolak semua pemberian dari penggemarmu iktu.”

“Aku tak tahu. Kali ini, aku malah berasa harus menerimanya. Aneh, ‘kan?”

“Ternyata bando pink itu telah merubahmu menjadi yang dulu lagi, Hen.”

“Memang. Tapi, aku masih marah dengan kejadian dulu. Sudahlah, tak usah diungkit lagi.”

Dia terdiam seketika. Aku melanjutkan membaca buku di perpustakaan. Sesekali aku melihat ke arah Judy yang sedang menunduk. “Kenapa kau, Jud?”

Judy memintaku untuk duduk. “Ada yang harus kukatakan, Hendru,” tatapannya tak seperti biasanya.

“Ini,” dia menyerahkan sepucuk kertas untukku.

“Hendru Pangestu Sebastian,

Aku tak tahu, kau kenal aku atau tidak. Tapi yang pasti, aku sangat mengenalimu. Mungkin ini bukanlah surat penting, tapi ini sangat penting untukku. Namaku, wajahku, mungkin sudah tak asing lagi bagimu. Karena aku selalu ada di sekitarmu. Maafkan aku. Karena akulah, yang membuat kau kehilangan kesempatan untuk menang dan sahabatmu. Aku benar-benar menyesal. Aku sangat menderita, begitu tahu kau sangat marah padaku. Air mataku tak dapat kubendungl agi, begitu aku juga mengetahui, bahwa aku mengidap penyakit leukemia. Aku sangat kehilangan harapan untuk hidup. Aku hanya mampu menulis surat sebanyak-banyaknya sebagai permintaan maafku. Maafkan aku. Karena aku pingsan karna penyakitku inilah, aku membuatmu jadi tak konsentrasi bermain basket. Aku benar-benar pengecut. Yang hanya bisa meminta maaf lewat surat saja. Kakakku selalu menyuruhku untuk tidak menemuimu dengan kondisiku sekarang ini. Tapi aku tetap mau bertemu denganmu, sampai-sampai aku selalu terjatuh pingsan.

Asal kau tahu, aku menyukaimu bukan karena ketampananmu. Melainkan karena aku sangat mencintaimu. Aku sungguh minta amaf, jika aku tak bisa mengirim surat permintaan maaf ke kamu lagi. Mungkin ini adalah surat terakhir dariku, tapi cintaku takkan pernah berakhir.

Salam,

Lita.”

Kali ini, surat ini sukses membuatku diam seribu kata dan membuat mataku berkaca-kaca. Dia.., ucapku dalam hati.

“Dia adalah adik kandungku, Lita, penggemarmu. dia cinta mati sama kamu. Bahkan, meski dia memiliki penyakit berbahaya di tubuhnya, dia masih saja ingin bertemu denganmu. Dialah pemilik bando pink itu. Selama ini, aku berusaha membantunya untuk minta maaf ke kau lewat surat. Tapi, surat kemarin, surat terakhir, dan suara cewek di telepon itu adalah dari Lita. Aku selalu berusaha mengirim bando pink kepunyaan Lita untkmu. Aku takkan pernah menyerah, sebelum adikku tenang disana,” jelas Judy yang membuatku tambah terkeut.

“Jadi.. selama ini.. kau..?” tanyaku ragu.

“Ya. Akulah yang mengirim semua surat. Telepon yang misterius itu juga dariku, dengan rekaman Lita yang sedang sekarat waktu itu. Surat-surat itu ditulis Lita sewaktu dia masih ada,” jawab Judy yang tak mampu menahan air matanya. “Terkadang, aku berpikir bahwa adikku bodoh sekali. Tapi, akhirnya aku mengerti apa yang dia inginkan.. cuma kau, Hendru.”

“Judy.. sebenarnya rang yang bodoh itu bukanlah dia. Tapi aku. Aku juga mencintainya, tapi aku tak tahu dan tak sadar kalau dia mencintaiku. Aku memang memendam rasa marah dan benci, tapi aku tak bisa melupakan bahwa aku mencintainya. Aku terkejut saat melihat orang yang kucintai itu pingsan. Aku memang marah dan benci. Tapi aku akan sangat benci pada diriku sendiri, kalau aku menang tapi tidak memedulikan Lita.”

“Hendru.. kau mencintainya?”

“Ya. Aku mencintainya sejak dia baru masuk kuliah. Tapi aku tak tahu kalau dia itu adikmu.”

“Hendru.. kenapa kau tak mengungkapkannya dari dulu?!”

“Karena.. aku tak tahu harus berbuat apa,” balasku yang membuat suasana hening seketika.

***

“Lita.. aku juga mencintaimu. Aku sangat menerima permintaan maafmu, jika aku tahu kalau itu adalah kau. Aku sangat menyesal karena aku menyia-nyiakan cintamu kepadaku. Semogak au tenang disana, Lita,” kataku dengan mata berkaca-kaca sambil menyium bando pink milik Lita.

Tenang saja, Lita. ku takkan pernah melupakanmu sedikitpun. Aku akan selalu membawa bando pink ini. Biarlah orang berkata apa, yang penting aku  mencintaimu, Lita. Aku takkan menyia-nyiakan cinta dari penggemarku lagi, aku akan selalu menghargainya karena cinta adalah nyawa. Aku mencintaimu selamanya seperti kau mencintaiku, bacaku dalam hati pada sepucuk kertas yang kutulis. Kemudian, kumasukkan surat ini ke dalam botol. Lalu membiarkannya terhanyut oleh air laut.

Goodbye, my love. I’ll stay in love with you forever.

The End

12 responses to “Pink Bandana

  1. Mewek~ T,T
    awalnya bner2 gak ngerti sama jalan critanya .
    itu si lita udah lama meninggal ato gmana si ?

    • jiahh, jangan sedih donk.. 🙂
      iyo itu sengaja dibikin kyk surprise ceritanya, hehe.. 😛
      iya, si Lita uda lama meninggal, itu si kakaknya atau Judy yang ngirim” surat buatan Lita ke Hendru gitu.. 🙂

      hehe, gomawo uda mampir, baca, komen.. 😀 *bow*

  2. Ternyata yg ngirim itu Judy alias Hyunseung Oppa ..
    Kirain Litanya masih hidup ternyata….udah nggak ada ..

    • iya yg ngirim dy si Judy atau Hyunseung.. 😀
      iyo, dy uda lama meninggal.. 🙂

      hehe, gomawo uda mampir, baca, komen.. 😀 *bow*

  3. Mianhae Karen eonni, aku baru bisa baca skrng :((

    Akhirnya kok sedih ya? Menyentuh gitu (?) xD
    Oh, ini berlatar Indonesia.. kukira Jepang 🙂 xD
    FF nya bagus eon, aku suka 😀
    Tapi bahasanya agak kurang pas.

    Segitu dulu comment dariku, eonni.. hehehe :3

    • haha, gwenchanayo.. 😀
      iyo.. 🙂 jiahh.. (= =”)
      wee, yg Jepang mah bukan yg ini tapi yg satu lg.. 😀
      haha, gomawo.. 😀
      iyo, itu ada saat” nya eonni lg depresi diksi (?) jadi begitu deh.. 😛
      oh sippo, hehe.. :3
      gomawo uda mampir, baca, komen.. 😀 *bow*

  4. Jeongmal mianhae eonni, baru bisa baca sekarang :((
    Sumpah eon~ rame! Nangis aku bacanya juga 😦
    Suka deh karakter Donghyun disini 😀
    Oh.. jadi Lita itu udah lama meninggal.. kasian jga.. Eh itu, harusnya Hyunseong, bukan Hyunseung ._.V
    Btw, ini toh FF eonni yg berlatar Indonesia, kirain yg Jepang XD #eh
    Segini dulu deh komentar dari aku. Keep writing lagi, eon 😀

    • jiahh kedua kalinya.. =))
      wee, rame maksudnya?? (?)
      ini sepi kok yg komen (?)..
      owalah.. jangan nangis dongsaeng.. 😦
      hehe.. 😀
      iyo uda lama meninggal dy.. 😦
      LOL, uda kebisaan Hyunseung dibandingkan Hyunseong.. 😛
      iyo ini FF yg berlatar Indo.. 😀
      hehe, gomawo uda mampir, baca, komen.. 😀 *bow*

  5. maaf eon, aku baru baca sekrang 😀 soalnya sibuk, sama kwangmin oppa *plak*.. Awalnya smpet engga ngerti, kirain lita-nya msih hidup eh ternyata…. Huhu T_T

    • haha, gwenchanayo.. 😀
      hehe, mianhae jg baru balas nya sekarang (?) soalnya baru taw na sekarang jg.. (= =”)
      LOL, hehe memang sengaja dibikin perkiraan kalo Lita masih hidup.. 😛
      hehe, mianhae uda bikin sedih.. 😦

      gamsahamnida uda mampir, baca, komen.. 😀 *bow*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s