Meosjin Hospital [part 9]

Annyeong reader semuanya, ada yang kangen sama author? #plak yang adapada kesel yah ini ff keluarnya lama banget? mian, jeongmal mianhae… beneran ga tau gimana harus minta maafnya. pas author itung-itung, jaraknya uda 5 bulan dari part 8 kmaren ke part 9 yang sekarang ini dan pasti readernya uda pada kabur ini T___T *nasib2*. bukan sengaja mau kaya gini, tapi author emang lagi sibuk banget sama kuliah dan kegiatan2 ekstra lainnya dan baru bisa menyelesaikan part 9 ini dan akhirnya di posting di hari yang sama dengan keluarnya highlight medley Sherlock-SHINee #gaknyambung
Ya udah, semoga yang pada nunggu bisa terhibur, dan di part ini emang lagi dibanyakin romancenya, biar pada jelas semuanya…hehehehehe. yang udah baca jangan lupa buat like n comment ya… Gomawo…. Enjoy… 😀

Title: Meosjin Hospital

Author: Hyunvy (follow me @vyivyivy)

Main Cast: SHINee, Song Hyunwon

Length: Series

Rating : PG-15

Genre: Romance, Friendship, Comedy (?)

Desclaimer: ff ini banyak terinspirasi dari komik ‘God Hand Teru’ dan komik-komik kedokteran lainnya juga dari “Grey’s Anatomy” drama tentang kedokteran juga, tapi untuk plot, tokoh, dan yang lainnya author yang bikin sendiri dan hanya milik author (?). ini ada sedikit edukasi kedokterannya, jadi kalo yang minat sama kedokteran semoga bisa nambah-nambah ilmu juga…hehe. Enjoy ^^

Nanti dibawah (di akhir cerita tiap partnya) bakal ada keterangan penjelasan buat kata-kata istilah kedokteran yang mungkin belum banyak diketahui sama para readers, ya semoga nambah pengetahuan juga…

Summary: Kelima namja super dihadapkan dengan pilihan, pilihan dokter bedah spesialis, membuat mereka mulai bergumul dengan masalah tersebut. Minho dan Minhyo berhasi menyelesaikan sebuah kasus kocak, mengeluarkan kunci yang tertelan. Kasus itu mungkin membuat mereka semakin dekat, mulai terjalin sebuah hubungan baik. Sekali lagi Jonghyun dibuat bingung oleh Hyunwon yang mengigau kalau ia sudah membunuh pasiennya.

Meosjin Hospital (prologpart1 / part 2 / part3 / part4 / part5 / part6 / part7 / part8)

***

Hyunwon mengerjapkan matanya perlahan karena sebuah sinar telah menyilaukan matanya. Beberapa detik kemudian akhirnya ia berhasil membuka matanya lebar dan otaknya mulai menalar apa yang ada di sekitarnya dan yang pasti ia ketahui adalah sekarang sudah pagi dan ia baru saja terbangun dari tidurnya.

“hhmmhh” ia berdehem pelan sambil berusaha untuk mengangkat kepalanya

“ssshhhh” sekarang ia meringis karena kepalanya terasa sangat berat dan rasanya sakit sekali, seperti ditindih benda berat

Hyunwon mulai bermain dengan pikirannya sembari ia kembali memejamkan matanya, berharap agar rasa sakit yang ia rasakan berkurang. Ia mulai mengingat hal apa yang terakhir kali ia ingat dan dimana ia berada sekarang.

Ya, ia bisa mengingat kejadian kemarin malam itu sangat jelas, saat ia tidak bisa menyelamatkan sebuah nyawa. Dan tiba-tiba kepalanya bertambah sakit, sampai ia ingin meremas kepalanya sendiri.

“aaaawwwww….” Ia mulai merintih kesakitan

“Hyunwon-ah…” Jonghyun yang sedari tadi duduk dan tertidur disamping Hyunwon pun menyadari ada yang tidak beres dengan yeoja di depannya itu. Ya Hyunwon sedang berbaring lemas di tempat tidur pasien dengan Jonghyun yang setia menemani disampingnya sepanjang malam.

“kepalamu sakit?” tanya Jonghyun cemas

“nde, oppa ini sakit sekali…” jawab Hyunwon dengan nada lemas dan ia masih meremas-remas kepalanya sendiri

Jonghyun terdiam sejenak, kemudian tersenyum.

‘sejak kapan ia memanggilku oppa? Tapi baguslah…’

Jonghyun bergegas pergi ke bagian farmasi yang kebetulan dekat dengan kamar itu, dengan segera ia meminta obat golongan analgesik kuat untuk mengatasi rasa sakit yang dialami Hyunwon.

“ini…” ujar Jonghyun dengan sebuah tablet obat berwarna putih dengan segelas air putih kehadapan Hyunwon. Dengan segera Hyunwon menegak obat dan air yang ada dihadapannya sampai habis, ternyata ia kehausan juga.

“hhuuuffftttt….” Hyunwon menghela nafas sambil kembali berbaring dan memejamkan matanya

“semoga obat itu bisa membantu menghilangkan rasa sakit kepalamu…” ujar Jonghyun sambil membereskan sampah obat dan gelas bekas

“gomawoyo…”

“nde, cheon…”

Hening. Hyunwon masih terbaring di tempat tidurnya dan Jonghyun pun terduduk di kursi tepat di sebelah Hyunwon.

10 detik. 2 menit. 10 menit.

“chogi……” keduanya bergumam secara bersamaan, entah karena sehati, atau apa….

“ah, kau duluan saja, Hyunwon…” ujar Jonghyun sambil menundukan kepalanya malu

“ah, sakit kepalaku sudah mulai berkurang, aku hanya ingin mengucapkan terima kasih…”

“oohhh…hehe” Jonghyun hanya terkekeh

“lalu apa yang ingin kau katakan?”

“aku ingin menyuruhmu istirahat saja, dan sepertinya lebih baik aku kembali bekerja daripada aku mengganggu waktu tidurmu… annyeong…”ujar Jonghyun cepat sambil bangkit dari tempat duduknya dan bergegas pergi

“chankaman…” tangan kanan Hyunwon berhasil menggapai lengan kiri Jonghyun

“wae?” Jonghyun berbalik menatap Hyunwon

“aku sedang tidak ingin sendirian” ucap Hyunwon agak manja sambil memalingkan wajahnya kearah lain

“arraseo… aku akan menemanimu disini…” Jonghyun tersenyum sebentar lalu kembali duduk ditempatnya tadi

“mianhada…”

“untuk apa?”

“karena aku sudah merepotkanmu…”

“tidak perlu meminta maaf…hehehehe”

“tadi malam aku mengigau lagi ya?”

“nde, sepertinya tiap malam kau selalu mengigau ya??hahahahahaha” Jonghyun berusaha membuat lelucon, tapi sayang Hyunwon hanya menatapnya  dengan tatapan kau-sedang-menghinaku?

“anni, anni… aku bercanda, Hyunwon-ah…” air muka Jonghyun mulai berubah menjadi ekspresi bersalah

“aku tahu selera humormu tinggi oppa….hahahahaha” Hyunwon ikut tertawa kecil

“kau memanggilku oppa…”ujar Jonghyun pelan sambil kemudian tersenyum kecil

“wae? Kau tidak suka aku panggil oppa? Kau kan lebih tua dariku…”

“hahahaha, aku suka kau panggil aku oppa” aku Jonghyun agak tersipu

“oppa…”

“nde?”

“neomu bogoshiposo…” ujar Hyunwon pelan dengan pandangannya yang kosong

“eh?! Aku ada disini, untuk apa kau merindukanku?”

“……….” Hyunwon tidak merespon

“Hyunwon-ah… Hyunwon-ah…” Jonghyun mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah Hyunwon, dan seperti dugaannya, Hyunwon sedang melamun

“aaaaahhhh, nde?” akhirnya Hyunwon tersadar dan pandangannya kembali ke arah Jonghyun

“ceritakan padaku mengenai keluargamu…” ujar Jonghyun to the point membuat Hyunwon menganga

“hah? apa kau bilang, oppa?” Hyunwon mencari kejelasan, apakah benar ia diminta untuk menceritakan keluarganya, atau ia hanya salah dengar

“aku bilang ceritakan tentang keluargamu…”ulang Jonghyun dengan menegaskan disetiap katanya

“keluarga?”

“nde, keluarga…”

Menceritakan tentang keluarganya berarti membuka kembali luka lama yang sudah berusaha ia pendam selama 20 tahun terakhir ini. Kenangan pahit mengenai keluarganya yang sampai sekarang belum bisa berubah menjadi manis atau setidaknya menjadi tidak pahit bagi hatinya.

“keluargaku…. Aku…. ah, baiklah…. Ijinkan aku mempersiapkan diri untuk membuka kembali cerita lama ini…” Hyunwon mengatur nafasnya yang sedari tadi sempat tidak beraturan. Dan entah mengapa ia mau menceritakan hal ini pada Jonghyun

“aku punya seorang oppa, umur kami kira-kira terpaut 5 tahun. Eomma, appa, oppa dan aku hidup sangat bahagia dengan appa ku seorang dokter spesialis bedah sepertimu dan eomma ku seorang dokter spesialis kecantikan. Sampai suatu saat, saat umurku  6 tahun, kejadian itu terjadi”

Flashback:

Saat itu sekolahku sedang libur dan aku sedang berada di rumah pamanku, Dong Woo ahjushi. Kebetulan oppa ku tidak libur, jadi sepulang oppa dari sekolah, eomma dan appa menjemputku.

“nde, eomma sudah bersama oppa mu, kau keluar ya, kita sudah dekat…”itu suara terakhir dari eomma yang bisa aku dengar

“arraseo eomma…” dengan segera aku menutup telepon rumah ahjushi dan langsung berlari keluar rumah, menunggu eomma, appa dan oppa ku datang. Tak lama aku bisa melihat mobil mereka, oppa ku dari kursi belakang membuka kaca dan melambaikan tangannya padaku, sontak aku tersenyum sambil membalas lambaian tangannya. Sekitar 20 meter lagi mobil mereka sampai di depan rumah ahjushi ku dan sedikit berbelok untuk masuk ke garasi, tetapi maut sedang berpihak pada mereka. Sebuah truk besar menabrak mobil mereka tepat di depan mataku. Teringat jelas setelahnya apa yang terjadi. Mobil mereka terpental, berguling-guling dan terbalik. Dengan cepat Dong Woo ahjushi menutupi mataku dengan telapak tangannya. Namun terlambat, kejadian itu begitu cepat terjadi dan aku terlanjur menyaksikan semuanya.

Flashback End

Air mata yang sedari tadi hanya menggenang mulai mengalir keluar dari mata Hyunwon. Kejadian itu seakan terulang dalam pikiran Hyunwon seperti sebuah film yang diputar ulang. Kejadiannya begitu nyata dan begitu menyedihkan untuknya.

“mianhae…”ujar Jonghyun dengan nada bersalah sambil kemudian merengkuh tubuh Hyunwon yang sedang tersedu kedalam pelukannya.

***

“hyung, bagaimana kalau hari minggu nanti kita pergi ke taman bermain? Sudah lama aku tidak pergi kesana…” Taemin mulai mengeluarkan ‘aegyeo’nya yang bersifat sangat kekanakan

“ah, araseo, araseo, aku setuju!”ujar Kibum tak mau ambil repot

“tetapi ada satu syarat?”Taemin berhasil membuat keempat hyungnya memalingkan wajah kearahnya

“mwo? syarat? Mau pergi ke taman bermain ada syaratnya?”Jonghyun membulatkan matanya

“kalian harus pergi bersama yeoja yang kalian sukai karena aku akan membawa Jiyeon noona. Berarti Jinki hyung harus membawa Shinri noona, Jonghyun hyung membawa Hyunwon, Kibum hyung membawa Jesang dan Minho hyung membawa Minhyo noona, otte?” kalimat panjang Taemin tidak disambut baik oleh keempat sasarannya

“mwoya?! Andwae! Andwae!” kali ini Minho yang berteriak agak keras sambil menggelengkan kepalanya

“tidak ada kata tidak bisa! Hari minggu jam 8 pagi di taman bermain!” dengan langkah santai Taemin meninggalkan ruangan kerjanya

***

Kebetulan sekali hari minggu itu kesepuluh petugas kesehatan itu mendapat jatah off, walaupun sebenarnya mereka pun masih harus siap sedia jika mereka mendapatkan telepon dari rumah sakit dan segera melesat kembali ke tempat mereka menghabiskan setengah dari kehidupan mereka. Dan entah bagaimana kejadiannya, sekarang kelima pasangan sudah berada tepat di depan pintu gerbang taman bermain. Jinki-Shinri. Jonghyun-Hyunwon. Kibum-Jesang. Minho-Minhyo. Taemin-Jiyeon. Dan tentu saja pasangan Taemin-Jiyeon yang paling bersemangat dan makin mesra, bagaimana tidak, mereka sudah menjalin hubungan cukup lama, mungkin sudah sekitar 6 bulan. Tamin mendahului para hyungnya.

Jangan salah, Jinki pun sudah menjadi milik Shinri mulai 2 bulan kebelakang. Tetapi mereka tidak suka mengunbar hubungan mereka, cukup mereka sendiri yang menikmatinya. Kibum dan Jesang tinggal menunggu waktu yang tepat, entah itu 1 bulan lagi, 3 bulan atau mungkin 6 bulan, biarkan saja mereka yang menentukan. Minho dan Minhyo, kedekatan mereka masih seumur jagung, mereka masih butuh banyak waktu untuk saling mengenal satu sama lain. Tidak menutup kemungkinan ini akan membutuhkan waktu yang cukup lama mengingat keduanya tipe orang yang agak diam dan tertutup. Tapi siapa tahu kalau sebenarnya mereka sudah menyimpan rasa satu sama lain.

Sedangkan untuk Jonghyun dan Hyunwon, ini mungkin salah satu yang cukup sulit. Setelah insiden-insiden yang tidak sengaja melibatkan Jonghyun masuk ke dalam kekelaman kehidupan Hyunwon yang tidak diketahui siapapun. Mungkin Jonghyun sudah menjadi orang terdekat Hyunwon saat ini, karena selama ini Hyunwon jarang sekali mempunyai teman yang sangat akrab sampai ia menceritakan masa lalu kelamnya. Perasaan yang dirasakan Jonghyun terhadap Hyunwon memang agak membingungkan, entah itu hanya rasa kasihan atau benar-benar perasaan cinta.

Mereka memasuki taman bermain yang pada hari itu cukup ramai. Terbentang luas berbagai macam permainan, mulai dari permainan anak-anak sampai permainan khusus orang dewasa yang membutuhkan keberanian yang sangat tinggi. Kesepuluhnya terlihat bersemangat, karena jarang sekali mereka bisa bermain atau bahkan hanya sekedar refreshing.

Mereka akhirnya memutuskan untuk berpencar dan akan bertemu lagi pada pukul 1 siang di food court, untuk makan bersama tentunya. Semangat mereka mulai membawa langkah kaki mereka ke arah permainan yang mungkin sudah lama sekali tidak mereka mainkan.

“kau mau pergi naik apa?”tanya Jonghyun sesaat keempat pasang lainnya sudah meninggalkan tempat mereka berkumpul barusan

“apapun, terserah kau…”jawab Hyunwon sambil matanya menjelajah sekeliling

“baiklah kalai begitu, kajja…”Jonghyun meraih tangan Hyunwon dan mulai membawanya pergi menuju kerumunan orang yang sedang mengantri

“ini masih pagi dank au sudah membawaku ke arena roller coaster?!”protes Hyunwon karena sekarang mereka sedang berada dibarisan antrian untuk naik wahana pemicu adrenalin tersebut

“kau bilang terserah aku, ya aku ingin naik ini”Jonghyun mengendikkan bahunya sambil membuang muka

“aish, napeun namja!”ujar Hyunwon sambil memukul punggung Jonghyun pelan

“ya! Apoyo…” Jonghyun meringis kecil walaupun sebenarnya pukulan Hyunwon tidak sekeras itu

Jonghyun memalingkan wajahnya ke arah Hyunwon yang sedang melamun. Air mata sudah menggenangi pelupuk matanya, sekali saja ia berkedip, air mata itu pasti akan jatuh membasahi pipinya.

“Hyunwon-ah, waeyo? Kau tidak mau naik wahana ini? kau takut?”

“anni, gwnchanayo…”Hyunwon mengedipkan matanya dan benar saja, air matanya jatuh dan dengan segera ia menghapusnya dengan punggung tangannya

“waeyo?”

“aku suka sekali wahana ini, saking sukanya sampai-sampai aku menarik paksa eomma dan oppa ku yang sangat takut untuk menaiki wahana ini” pandangan Hyunwon kembali kosong tak berarah

“sudahlah, anggap saja kau sedang mengenang masa-masa indah itu”ujar Jonghyun sambil merengkuh tubuh Hyunwon yang sedang terpaku

***

“ya! Kibum-ah, mengapa kau menabrak ku tadi? Sakit sekali, tahu!” Jesang mengelus lengan kirinya yang terbentur bagian dalam mobil bombom car yang baru saja mereka mainkan

“mianhae, kalau aku tidak menabrakmu, permainan tadi tidak akan seru…hehehehe” Kibum terkekeh sambil melayangkan pandangan nakalnya ke arah Jesang

“omo?! Kau ini, sudah kasar, genit pula!” Jesang kembali memprotes perlakuan Kibum

“mianhae, aku kan sudah meminta maaf padamu…”Kibum merangkul Jesang dengan tangan kirinya sembari tangan kirinya itu mengusap lengan kiri Jesang yang perlahan rasa sakitnya mulai berkurang. Jesang memasang wajah bingung dan menghentikan langkahnya

“wae?! Aku salah lagi? Aku sedang berusaha menunjukkan kepedulian dan sisi kelembutanku”ujar Kibum tulus

“anni…”Jesang hanya tersenyum penuh arti sambil kembali berjalan dengan tangan Kibum tetap merangkul tubuhnya

***

“kau mau bermain apa?”tanya Minho agak canggung, tidak, sebenarnya suasana mereka berdua benar-benar canggung

“sebenarnya aku tidak terlalu suka bermain semua wahana itu”Minhyo mengedarkan pandangannya ke sekeliling

“lalu kau menerima ajakanku ke sini? Padahal kau tidak menyukainya…”

“aku belum selesai bicara… tapi aku suka suasana disini dan itu….!!!” Minhyo menunjuk salah satu kedai yang menjual berbagai macam permen dan coklat

“hahahahahaha, ternyata kau seperti anak kecil, suka permen” Minho tertawa agak keras dan suasana diantara mereka berdua mulai mencair

“memangnya tidak boleh aku menyukai semua itu?”

“anni, kau boleh membeli semuanya…”Minho menggeleng cepat sambil membawa Minhyo menuju kedai permen itu

“aku ingin permen kapas dan lollipop itu…”ujar Minhyo sambil menunjuk makanan favoritnya itu

“araseo, ini…” Minho memberikan pesanan Minhyo, membayarnya dan mulai memperhatikan Minhyo yang sekarang mulai terlihat sifat kekanakkannya. Dengan semangat Minhyo membuka bungkus permen kapas yang berukuran super besar itu dan Minho hanya memperhatikan wanita dihadapannya itu sambil tersenyum senang

“kau tidak beli? Jangan bilang kau tidak suka permen!”ujar Minhyo sambil asik berkutat dengan ‘mainan’ barunya

“mwo?! kau akan menghabiskan semuanya itu dan tidak berbagi denganku?”Minho membulatkan matanya kaget

“biasanya semua ini aku makan sendiri, kalau masalah barang yang satu ini aku tidak bisa berbagi…”ujar Minhyo santai sambil mulai memakan permen kapasnya

“kau ini jahat sekali…” Minho mengerucutkan bibirnya dan memasang tampang kesal

“kau lucu sekali, ini…”Minhyo menyodorkan permen kapasnya ke arah mulut Minho. Dengan semangat Minho membuka mulutnya dan hendak menggigit sedikit dari permen kapas yang super besar itu, tapi sayang, ternyata Minhyo masih belum bisa merelakan makanan kesukaannya itu. Minhyo menarik kembali permen kapasnya dan menggigitnya. Selanjutnya apa yang terjadi? Mereka mulai berebut permen kapas seperti 2 anak kecil yang memperebutkan permen kesukaan mereka.

***

“oppa…”

“nde?! Waeyo?”

“kau yakin mau masuk wahana rumah hantu itu?”

“kenapa kau takut?” Jinki menghentikan langkahnya

“aku takut, tapi sebenarnya aku ingin mencobanya…” Shinri mulai menampakan wajah cemasnya

“tenang saja, semua itu hanya bohongan, ingat, aku akan selalu menggenggam tanganmu…” Jinki mengeratkan genggaman tangannya dan mulai berjalan menuju wahana menakutkan itu

“ah, araseo, kalau aku berteriak histeris kau jangan kaget ya…”

“aku yakin teriakanmu akan mengalahkan teriakan para hantu di dalam…hahahahaha”

“opppaaaaaa!!!!” Shinri melayangkan pukulannya tepat di lengan atas tangan kiri Jinki

***

“ayo Taeminnie, kau pasti bisa!!! Hwaiting!!!” Jiyeon mengepalkan kedua tangannya di udara memberikan semangat kepada Taemin

“nde, noona, aku akan memenangkan hadiah utama itu…” ujar Taemin bersemangat sambil lengannya memegang sebuah bola tennis yang sebentar lagi akan dilemparkanya kearah tumpukaan kaleng. Ada 2 susunan kaleng disitu, jika ia berhasil menjatuhkan serangkaian kaleng itu, ia akan mendapat hadiah utama sebuah boneka beruang yang sangat besar.

Taemin mulai mengambil ancang-ancang, ia mundur beberapa langkah dan beberapa detik kemudian ia melangkah cepat sambil tangannya melempar bola itu keras.

‘braaakkk’ kaleng-kaleng itu berjatuhan. Taemin dan Jiyeon hanya bisa berharap sekarang, berharap agar semua kaleng itu bisa terjatuh.

“sayang sekali, ada 3 kaleng yang masih bertahan, kalian masih bisa mendapatkan hadiah kedua, ini…” ujar sang penjaga permainan tersebut sambil menyodorkan sebuah boneka berukuran sedang. Sebenarnya jumlah boneka ini adalah 3 boneka yang tersusun menjadi satu. Sepasang beruang yang sedang memegang bantal hati berwarna merah yang bertuliskan ‘love forever’ dan sepertinya hadiah itu lebih cocok untuk mereka berdua.

“neomu kyeopta…” ujar Jiyeon sambil memeluk boneka itu

“nde… kau boleh menyimpannya…” Taemin tersenyum melihat yeojachingunya yang kesenangan

“aku lebih suka hadiah ini… gomawo…”Jiyeon menyelesaikan kalimatnya dan mengecup pipi Taemin kilat. Taemin membeku untuk beberapa saat, meyakinkan dirinya bahwa semua ini adalah kenyataan.

***

Tampak seperti pasangan anak sekolah yang sedang melakukan kencan bersama di taman bermain. Tapi itulah mereka diluar kehidupan kerja mereka yang mengharuskan mereka bertindak serius dan agak mengenyampingkan jati diri mereka yang sebenarnya. Mereka sudah tahu dimana mereka harus menempatkan diri. Seperti saat ini, sudah tak ada yang mereka sembunyikan, itulah diri mereka yang sebenarnya.

Jarang-jarang mereka bisa melakukan semua itu, bermain layaknya pasangan-pasangan yang lain. Mereka tidak menginginkan hari itu berakhir, mereka ingin selamanya dimasa seperti itu.

***

Tak terasa waktu sudah menunjukan pukul 1 siang. Dan sesuai dengan apa yang sudah mereka sepakati, mereka akan bertemu di food court karena tidak dapat dipungkiri, perut mereka pun sudah menringis meminta untuk diisi.

Kelima pasang itu sudah berada di tempat mereka. Mereka menyusun 5 meja sehingga pas untuk 10 orang yang duduk saling berhadapan. Dan tepat mereka berhadapan dengan pasangan mereka masing-masing. Merasa bosan? Tentu saja tidak. Kapan lagi mereka bisa bermain sampai sedekat ini?

Taemin mulai membuka pembicaraan mengenai apa saja yang mereka lakukan, mulai dari naik bianglala sampai yang paling ia banggakan, sepasang boneka beruang yang mereka dapatkan dari permainan itu. Disusul Shinri yang menceritakan ketakutannya didalam rumah hantu, diiringi dengan kekehan Jinki yang sebenarnya agak mengejek, karena Shinri sesungguhnya memang agak berlebihan saat mereka di dalam rumah hantu itu. Pasangan Kibum dan Jesang pun mulai ikut ramai menceritakan kejadian-kejadian barusan, apa saja yang mereka alami, entah itu ketakutan, kegembiraan ataupun kebodohan-kebodohan yang tidak sengaja terjadi seperti saat permen kapas Minhyo yang super besar itu menempel dan menutupi seluruh wajah Minho, dan alhasil muka Minho pun lengket karena permen kapas itu mencair di wajahnya.

Tidak ada cerita dari Jonghyun dan Hyunwon. Mereka hanya menjadi pendengar yang baik dan ikut terbahak saat cerita yang sungguh lucu terlontar dari salah satu bibir temannya itu. Semuanya mulai menunggu sebuah cerita dari pasangan dokter itu. Tak usah sebuah cerita, sebuah kalimat saja. Tapi penantian mereka tidak membuahkan hasil. Mereka tidak sedikit pun menceritakan apa yang baru saja terjadi diantara mereka.

“sedikit saja hyung, masa tidak ada?” ujar Taemin dengan nada agak kesal kekanakkannya

“biarkan Hyunwon saja yang bercerita…”tanggap Jonghyun dan sebuah tendangan langsung mendarat di kakinya. Ya, Hyunwon menendang kaki Jonghyun sambil menatapnya dengan tatapan –mengapa harus aku?-. Jonghyun hanya mengendikan bahunya dan semua mata tertuju pada Hyunwon sekarang, dan ia bingung harus bercerita apa.

“ah, araseo, araseo, aku akan bercerita…” Jonghyun agak terhenyak, mengira-ngira apa saja yang akan Hyunwon ceritakan

“tadi kami menaiki roller coaster sebanyak 5 kali. Tamat.” tidak sampai 5 detik, Hyunwon sudah menyelesaikan ceritanya

“mwoya?!” serentak kedelapan temannya itu berterian kaget

“kalian sudah gila apa? 5 kali berturut-turut?!” tanya Kibum dengan nada tidak percaya. Jonghyun dan Hyunwon hanya mengangguk.

“kalian memang pasangan yang aneh…”ujar Jinki sambil menggeleng

“jeongmal daebak!!!” sahut Jesang sambil bertepuk tangan kecil

“memangnya kalian tidak pusing?” nada bicara Shinri lebih kearah khawatir. Dan lagi-lagi pasangan Jonghyunwon itu hanya menggeleng, tidak bersuara sedikit pun.

‘juliette, oh…’ salah satu handphone dari kesepuluhnya berdering. Hyunwon yang sadar bahwa sumber suara berasal dari tasnya segera mengambil handphonenya, ia sudah tahu bahwa ia harus dengan cepat mengangkat telepon itu, penting, darurat.

“yoboseo? Nde, araseo. 15 menit.” Hyunwon terlihat sangat tergesa dan mereka semua sudah tahu situasi apa yang sedang mereka hadapi. Segera kesepuluhnya bersiap.

“aku mengatakan 15 menit, sebaiknya gunakan ‘kuasa’ kalian sekarang!” ujar Hyunwon kepada kelima namja yang akan mengendarai mobil mereka masing-masing. Kuasa apa yang mereka bicarakan? Kuasa untuk menerobos lampu merah dan menggunakan kecepatan tinggi dalam berkendara. Mereka mempunyai kuasa tersebut karena memang ada peraturan khusus yang memperbolehkan seorang dokter bedah dan dokter kandungan untuk melanggar beberapa peraturan lalu lintas.

Dengan kecepatan tinggi mereka melesat pergi ke ‘rumah kedua’ mereka. Meosjin Hospital. Sayang sekali, hanya setengah hari yang berpihak pada mereka, sedangkan setengahnya lagi mengharuskan mereka menjalani rutinitas mereka yang melelahkan.

—–tbc—–

Advertisements

17 responses to “Meosjin Hospital [part 9]

  1. akhirnya.. dikira authorny udh asik bkin ff baru, hehehehe….
    keren2.. tp disini lebih ngambil sisi romance nya ya thor??
    dilanjut ya thor, jgn kelamaan yaaah? hehehe

  2. kirain dah slesai ternyata belom, aish,
    Palli Unnie !!*maksabangetsihh*
    pnasaran ama Jonghyun n Hyunwon..
    1 kalimat buat Ivy unnie..
    ‘dimana ada Ivy Unnie ,pasti ada Jonghyun Oppa !’
    hahahahaha…. Peace..
    daebak dehh !!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s