[Oneshot] You and I

Author      : Fiia a.k.a Choi Minri (@SexyMyungsoo)

Tittle          : You and I

Cast           : Choi Minri (change with your name), Jo Kwangmin

OCs            : Choi Minho, Krystal Jung

Minri’s presents

Ruangan itu tetap terlihat sama. Tidak ada yang berubah, kecuali debu-debu yang tebal menempel di setiap benda yang ada. Langit-langit ruangan tersebut dihiasi oleh sarang laba-laba yang tebal juga. Seorang gadis melangkahkan kakinya masuk dengan tangan kirinya menarik sebuah koper berwarna merah. Dihempaskannya tubuhnya ke sofa berdebu yang ada di ruangan itu. Dipandangnya setiap sudut ruang apartemennya yang kurang lebih satu tahun ia tinggalkan.

Mengusap wajahnya pelan, lalu bangkit beranjak menuju kamarnya. Menghembuskan nafas panjang, kemudian mengganti pakaiannya dan mulai membersihkan setiap sudut ruangan yang berdebu.

Hari menunjukkan pukul 7 malam saat gadis itu baru saja selesai membersihkan apartemennya. Diusapnya dahi yang berpeluh dan membaringkan tubuhnya diranjang. Matanya terpejam. Sekelebat bayangan masa lalu menghampirinya…

“Minri-ah! Tunggu disini.. jangan kemana-mana, oke?” ujar seorang laki-laki berambut coklat kemerahan pada seorang gadis yang sedang duduk disebuah ayunan. Gadis itu tersenyum dan mengangguk.

Beberapa saat kemudian, lelaki itu kembali membawa dua eskrim cone ditangannya. Ia menyodorkan salah satunya ke bibir sang gadis, “YA~! Oppa!” teriak gadis itu seraya memukul tangan si laki-laki yang ia panggil oppa.

Gadis itu mengerucutkan bibirnya yang sedikit belepotan terkena eskrim. Kwangmin —lelaki yang dipanggil oppa— meletakkan kedua eskrim ditangan Minri. Dirogohnya saku belakang celana jeansnya untuk meraih saputangan dan membersihkan bibir Minri yang belepotan.

 

Sepasang kekasih keluar dari sebuah lift di lantai tiga sebuah apartemen. Sang gadis bergelayut manja di tangan sang laki-laki. Mereka sampai di depan apartemen sang gadis, “Oppa, masuk dulu?”  tanya Minri —sang gadis— menawarkan.

Kwangmin menetapnya dingin, “Kita akhiri sampai disini” balasnya singkat. Minri terbelalak.

Diraihnya tangan Kwangmin yang mulai berjalan menjauh, “Oppa! Oppa-ya! Jangan bercanda! Huh, ini tidak lucu!” teriak Minri dihadapan Kwangmin dengan berlinangan air mata.

Kwangmin menepis lengan Minri dengan kasar, “Aku tidak bercanda! Mulai saat ini kita BER-A-KHIR!” bentaknya lalu meninggalkan Minri sendiri dengan air meata mengalir deras di pipinya.

 

Minri membuka matanya. Air mata juga telah membasahi kedua pipinya saat mengingat kejadian satu tahun lalu. Kejadian menyakitkan saat ia diputuskan secara sepihak oleh kekasihnya. Ia kembali memejamkan mata mencoba menghilangkan beyangan menyakitkan tersebut. Namun usahanya sia-sia, justru cairan bening itu mengalir lebih deras dari sudut matanya.

When I close my eyes, open them

And see that you’re not there, I hate it

I know that we broke up

I hate this reality

TING TONG

Suara bel berhasil menghentikan tangis Minri. Ia mengusap kedua matanya, lalu beranjak bangun menuju pintu. Ditekannya layar intercom untuk memastikan siapa yang datang malam-malam seperti ini. Tidak ada siapa-siapa. Minri menaikan sebelah alisnya, kemudian beranjak membuka pintu.

“Annyeong MInri-ah! Kyaaaa, bogoshipposeo~” teriak seorang gadis langsung menghambur ke pelukan Minri.

Gadis itu melepaskan pelukannya saat Minri memberontak karena nafasnya sesak, “Mian..hehe”

“Kau datang sendiri, Krystal-ah?” tanya Minri menyadari jika tidak ada siapa-siapa lagi selain sahabatnya itu. Gadis yang dipanggil Krystal itu menggeleng dan menoleh ke belakang. Sesosok laki-laki berbalut jaket baseball putih menuju ke arah mereka,

“MINHO OPPA!!” pekik Minri langsung memeluk lelaki yang baru saja datang.

Minho mengacak pelan rambut dongsaeng kesayangannya itu. Melepaskan pelukan mereka, “Mengapa kau tidak menelponku saja, eum? Aku kan bisa menjemputmu” Tanya laki-laki bermata belo tersebut sembari menyentil hidung Minri.

Baru saja Minri ingin menjawab, “EHEM!” Hyejin berdehem keras. Kedua kakak-adik itu mengalihkan pandangan mereka pada sosok gadis yang kini tengah cemberut dengan kedua tangan terlipat di dada.

Mereka berdua —Minho dan Minri— terkikik geli melihatnya. Minho berangsur pindah dari hadapan Minri ke samping Krystal, “Sayang.. Kau cemburu, eh?” goda Minho seraya merangkul Krystal.

Minri membulatkan kedua matanya ketika mendengar kakaknya memanggil sahabatnya dengan panggilan ‘sayang’. “Kalian…!@$#!%@&??” mendengar pertanyaan Minri, raut wajah Krystal berubah. Rona merah menghiasi pipinya, “Aigo.. Sejak kapan?” lanjut Minri.

“Delapan bulan yang lalu, ehehe” jawab Minho.

Krystal mengatasi rona merah yang mulai menghiasi pipinya dan berkata, “YA! Bersiaplah kau menjadi adik iparku, Minri-aa! Hahaha.” teriak Krystal yang disambut dengan jitakan di kepalanya.

“Optimis sekali kau.. Bagaimana jika aku tidak merestui kalian?” celetuk Minri dengan senyuman evilnya. Krystal mendengus.

Minho tergelak mengacak rambut keduanya, “Mau sampai kapan kita berdiri disini?” mereka tertawa lalu masuk.

Untuk beberapa saat, Minri melupakan masa lalunya..

Hanya sesaat..

**

Minri melambaikan tangannya, lau berbalik saat sahabat dan kakaknya menghilang dibalik pintu lift. Ia melangkahkan kakinya kembali ke dalam apartemennya. Senyuman lebar diiringi tawa kecil menghiasi bibirnya saat ia menutup pintu. Cerita tentang bagaimana sang kakak bisa menjalin hubungan dengan sahabatnya berhasil membuat perutnya tergelitik.

Diambilnya sebotol air mineral dan beberapa bungkus snack dari dalam lemari es. Botol dan snack itu dilemparkannya ke atas tempat tidur. Diraihnya computer jinjing dari dalam tas lalu membawanya ke atas tempat tidur.

Tangannya dengan lincah mengetik kata sandi. Setelah menunggu beberapa saat, kedua bola mata hitamya itu terpaku pada sebuah foto yang menjadi wallpaper desktopnya.

Foto itu menampilkan dua buah siluet wajah. Disebelah kanan, seorang gadis dengan bandana hijau toska senada dengan dress yang ia pakai. Disamping gadis itu, seorang laki-laki berbalut kaos hijau dilapisi kemeja kotak-kotak yang tidak dikancingkan, dengan tangan kiri merangkul si gadis.

Buliran air mata kembali menggenang di pelupuk mata Minri. Hal itu tidak bertahan lama karena cairan bening itu mulai menyeruak keluar membasahi kedua pipinya yang putih dan chubby itu.

The tears I shed at night won’t stop

Now, how can I live without you?

I can’t erase you from my memory

Baby, can we turn back the time?

Dadanya naik turun mengiringi isakan tangis dari bibirnya. Pikirannya kembali melayang mengingat kenangannya bersama mantan kekasihnya, Jo Kwangmin.

Seorang namja berdiri di depan sebuah pintu apartemen. Tak lama, pintu apartemen itu terbuka, seorang yeoja berdiri dengan senyum lebar menghiasi wajahnya. “Are you ready, princess?” Tanya namja itu seraya menyodorkan sebelah tangannya,

“I’m ready my prince” jawab si yeoja langsung menggamit lengan si namja yang bernotabene kekasihnya itu.

Ini adalah kencan pertama bagi sepasang kekasih tersebut. Mereka berkencan layaknya pasangan kekasih lain pada umumnya. Mereka duduk di bangku taman yang baru saja mereka kelilingi, “Kau mau eskrim Minri-ya?” tawar si namja, si yeoja menggeleng menolak.

Disandarkannya kepala kekasihnya itu di bahunya. Posisi itu bertahan hingga si yeoja menarik kepalanya, “Wanna take a pict, oppa?” pinta gadis itu dengan puppy eyesnya.

“Of course, princess”. Kwangmin berdiri diikuti Minri, ia mengeluarkan benda persegi dari saku jeansnya. Setelah mendapat pose yang pas, Kwangmin menekan salah satu keypad, BLITZ!

Minri menenggelamkan kepalanya di balik bantal. Tangisnya makin menjadi-jadi. Sesekali ia meneriakkan nama Kwangmin. Tangannya mengepal keras memukul ranjang.

You and I

We cannot break up, I cannot give up

How did this happen?

Whatever is in the memories, its so sad

You and I know that its too late

Lama kelamaan suara isak tangis itu tak lagi terdengar. Kini hanya hembusan dan dengkuran halus yang terdengar. Minri terlalu lelah menangis..

**

Cahaya matahari menelusup dari celah tirai yang terbuka. Seorang gadis menggeliat bangun dari tidurnya dengan kedua mata yang sembab. Ia bangkit dari posisinya, ditutupnya laptopnya lalu diletakkannya di meja.

Diraihnya botol mineral yang masih utuh dan diteguknya hingga tak tersisa. Selesai merapihkan kamar dan sarapan. Ia menghidupkan televisi di ruang tengah. Tangannya sibuk mengotak-atik channel berharap menemukan siaran yang bagus. Namun nihil. Dimatikannya televisi tersebut dan melemparkan remotenya ke sofa yang satunya.

Tangannya meraih ponsel bercorak polkadot ungu yang tergeletak di atas meja. Jari-jarinya menekan beberapa digit nomer, “Krystal-ah!” panggilnya saat nomer yang ia tuju tersambung.

“…….”

“Temani aku jalan-jalan hari ini, ya?”

“…….”

“Mwo?! Berkencan?! Aish~ yasudah, aku ikut saja denganmua. Lagipula kau berkencan dengan oppa ku.”

“……”

“Apa kata– YA! YA! Krystal Jung! YA!”

Sambungan telepon itu diputuskan oleh Krystal membuat Minri bertambah bosan sekaligus kesal pada Krystal n yang bernotabene sahabat juga pacar kakaknya. “Aish~ yang benar saja.. Kencan pertama mereka? Bodoh! Sudah delapan Bulan berpacaran, baru sekarang ia kencan? Lain kali mencari alasan yang bermutu, Krystal pabho!” Minri kesal setelah mendengar alasan yang tak masuk akal dari Krystal.

“Baiklah. Sepertinya aku akan berjalan-jalan sendiri hari ini.” ujar Minri pada dirinya sendiri dan berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.

Setengah jam kemudian, Minri telah rapi dengan utbuh dibalut kaos dilapisi jaket. Rambutnya yang panjang sedada dikuncir kuda menyisakan beberapa anak rambut di dekat telinganya. Kakinya yang jenjang ditutupi jeans hitam senada dengan jaketnya. Sneakers putih polos, tidak lupa juga sebuah earphone di telinganya yang sudah tersambung dengan iPod di dalam saku jaketnya.

**

Kedai eskrim, taman bermain, sungai Hangang, dan tempat tujuan terakhir Minri adalah Apgujeong. Kakinya melangkah masuk ke dalam restoran Jepang. Ia mengambil tempat duduk di sudut ruangan dekat jendela yang mengarah langsung ke jalan raya.

Restoran Jepang ini adalah restoran favoritnya. Selain nuansa tradisional Jepang yang kental, tempat ini juga menyimpan banyak kenangan, baik bersama Suzy, Minho, keluarga besarnya, begitu juga… Kwangmin. Minri mengalihkan pandangannya ketika seorang pelayan menanyakan pesanannya.

Bersamaan dengan itu, matanya menangkap dua sosok makhluk hidup yang baru saja masuk. Minri berteriak, “Kalian!” tanpa menghiraukan pandangan orang-orang yang ada disana, ia berteriak sembari melambaikan tangannya pada dua sosok makhluk yang tak lain adalah Minho dan Krystal.

“Anda ingin pesan apa, nona?” Tanya pelayan itu dengan nada sedikit kesal.

Minho dan Krystal duduk dibangku yang ada dihadapan Minri, baru setelah itu Minri menyebutkan pesanannya juga pesanan dua orang dihadapannya. Saat pelayan itu pergi, Minri melipat kedua tangannya diatas meja dan menatap tajam Hyejin, “Bagaimana kencan pertama kalian, huh?” sindirnya.

Minho mengernyit heran, “Kencan pertama? Ini adalah kencan kami yang kesekian kalinya dongsaeng-ah” namja bermata belo itu terkekeh.

Minri mendecak, “Tsk. Kau itu terlalu bodoh untuk mencari alasan Krys!”

Krystal mencibir, “Biarkan saja, daripada kencanku diganggu olehmu. Kalau kau ikut, itu berarti yang berkencan bukan aku dengan Minho oppa, melainkan kau yang berkencan dengannya” ujar Krystal panjang.

“Tentu saja. Dia itu oppa ku. Pasti dia lebih memilih untuk selalu bersamaku dan menjagaku daripada—“

Krystal mendesis, “Lihatlah, sikap kekanakannya mulai lagi.” mendengar itu.

Minri berteriak, “YA~!!” teriakkannya terhenti saat pesanan mereka datang, “Isshhh.. Menyebalkan!”

Minho hanya bisa menggeleng pelan melihat kelakuan dua gadis bersahabat itu. Sambil menyantap makanan, mereka bercerita-cerita tentang kehidupan Minri selama berada di paris. Ya, satu tahun belakangan ini Minri tinggal di Paris, berniat untuk melupakan Kwangmin. Namun, sia-sia. Minri justru sulit melupakan namja itu karena terlalu merindukannya.

Lagi-lagi Minri dibuat kesal oleh Krystal. Ia berniat ingin pulang bersama meeka, tetapi Minho tidak membawa mobil, melainkan motor sport putih kesayangannya. Terlebih lagi saat Minho lebih memilih untuk mengantarkan Krystal. “Kutarik ucapanku jika tadi aku mengatakan kau lebih memilih untuk bersamaku, oppa pabho!”

Ditekannya tombol play pada iPod putih miliknya. Kakinya menghentak-hentak mengikuti irama music yang ia dengar. Tak lama kemudian, sebuah bis berhenti di halte tempat Minri berada. Gadis itu melangkahkan kakinya menuju bangku disudut kiri setelah memasukkan beberapa koin.

Bis itu melaju pelan dan berhenti di beberapa halte. Saat bis tersebut berhenti di sebuah lampu merah yang berada tak jauh dari taman, pandangan Minri terpaku pada dua orang yang tengah berangkulan mesra. Laki-laki yang sedang merangkul seorang gadis itu sangat familiar di mata Minri. Matanya, hidungnya, bibirnya… bahkan senyumnya! Tidak ada yang berubah dari laki-laki itu keuali rambutnya yang kini berwarna pirang, batin Minri.

Pandangannya mengabur. Lampu hijau menyala. Bersamaan dengan itu, air mata Minri menetes jatuh, “Mengapa harus ditempat yang sama?” pekiknya dalam hati. “Pakaian yang sama?” pekiknya lagi saat mengingat jika laki-laki tadi memakai hoodie bertuliskan ‘I Love Her’ sedangkan si gadis memakai hoodie bertuliskan ‘I Love Hin’. Persis seperti yang Minri punya.

Inseparable, the place the two of ud were together

The matching clothes that the two of us wore

Everything is normal now, I cannot end like this

Just can’t let it go..

Minri turun dari bis saat tiba di halte tujuannya. Ia menarik penutup kepala jaketnya hingga sebatas alis, agar orang tidak melihatnya sedang menangis. Kakinya melangkah cepat menuju apartemennya. Kepalanya tetap tertunduk, air matanya terus mengalir.

Langkah kakinya terhenti saat ia melihat sepasang sneakers hitam menghalangi jalannya. Minri menggeser tubuhnya ke kanan, orang yang memakai sneakers itu bergeser ke kiri, membuat Minri tak dapat melangkah maju. Begitu seterusnya, hingga Minri kesal.

“YA! Menga—“ Minri mendongak seketika itu juga ucapannya terputus.

“Annyeong Minri-ya..” sapa seorang laki-laki yang memakai sneakers hitam tersebut. Minri mengalihkan pandangannya. Air matanya yang sempat terhenti saat ia kesal tadi kembali mengalir. Laki-laki itu menarik pergelangan tangan Minri masuk ke dalam apartemen  gadis itu,

“Aku senang kau tidak mengganti kata sandinya” ujar laki-laki itu.

Minri berhasil mengatasi air matanya, apa yang kau lakukan disini, Kwangmin-ssi?” Tanya Minri dengan nada yang dingin dan bahasa yang formal.

“Aku merindukanmu Minri-ya..” namja itu menarik Minri ke dalam pelukannya.

“Lepaskan aku.” pinta Minri. Namun Kwangmin semakin mempererat pelukannya. “Lepaskan aku, kumohon..” Minri memberontak, Kwangmin melepaskan pelukannya. Ia menarik pundak Minri dan menatap mata gadis itu dalam,

“Mian..” ucapnya. Minri menolehkan kepalanya ke samping dengan cepat. Kwangmin menariknya kembali agar gadis itu menatapnya.

You and I were meant to be

Break for just a moment, you’re my destiny

Just a sad moment, lets show love again

“I really miss you, oppa..”

“I miss you my love..”

“I really want you..”

“I ain’t got your love..”

“I really love you..”

“I love you girl..”

“Our relationship, can’t be helped anymore…”

Ucapan terakhir yang dikeluarkan dari bibir gadis itu, membuat senyuman yang terlukis di bibir Kwangmin memudar.

“Wae?” tanyanya. Minri menarik nafas untuk mengisi kembali rongga dadanya yang mendadak terasa menyesakkan,

“Bukankah kau sudah memiliki yang lain, oppa? Aku sudah tahu itu, lebih baik kau bersamanya. Jangan hiraukan aku begitu juga.. perasaanku” ujar Minri berusaha menahan air matanya agar tak lagi terbuang sia-sia.

Kwangmin terkekeh, diangkatnya dagu Minri yang menunduk, lalu memutar tubuh gadis itu menghadap pintu. “Maksudmu dirinya, hm?”

Mata Minri membelalak lebar melihat sepasang kekasih yang tadi dilihatnya di taman dekat lampu merah. Sepasang kekasih itu tersenyum saling berangkulan.

Minri menatap laki-laki yang ada disamping di pintu apartemnnya, dengan laki-laki yang ada disampingnya secara bergantian, “Kalian..?”

“Kami saudara kembar Minri-ya.. Kenalkan dia adikku, sekaligus kembaranku, Jo Youngmin”

Youngmin membungkukkan badannya, “Maaf telah membuatmu salh paham, Minri-ssi..”

Gadis yang bersama Youngmin tadi ikut membungkuk. Ia memperkenalkan dirinya, “Han Soomun imnida.. Tunangan Youngmin.” Rona merah menghiasi wajah gadis bernama Soomun itu.

Minri terpaku. Sadar, ia membalikkan tubuhnya menghadap Kwangmin, “Ya! Nappeun! Mengapa kau tidak memberitahuku jika kau memiliki saudara kembar, huh?” teriak yeoja itu.

“Hei, tidakkah kau dapat membedakan warna rambut kami? Atau jangan-jangan kau buta warna?” tutur Kwangmin dengan sisa tawa di ucapannya.

Minri terdiam. Ia memperhatikan rambut keduanya. Memang, warna rambut Kwangmin coklat kemerahan. Sedangkan Youngmin, pirang.

“Ak- Aku pikir kau merubah warna rambutmu..” ucap yeoja itu malu. Kwangmin kembali terbahak mendengarnya. Minri mendengus kesal,

“Ya! Apa yang kau tertawakan oppa?! Kau harus bertanggungjawab karena telah membuatku kacau selama satu tahun belakangan ini! Kemana saja kau, huh?! Kau—“ teriakan dan pukulan tangan Minri ke dada bidang milik Kwangmin terhenti saat tangan kiri laki-laki itu menahannya.

Sementara itu, sebelah tangannya yang bebas, ia daratkan di bibir gadis itu agar berhenti berbicara. Minri menjatuhkan tangannya ke samping tubuhnya. Kwangmin merogoh sesuatu di dalam saku jaet baseballnya lalu mengeluarkan sebuah kotak bening berisikan sebuah cincin.

“Aku menyiapkan hal ini.. Maaf telah membuatmu kacau, Minri-ah..” ia menarik tangannya yang berada di bibir Minri dan membuka kotak tersebut,

“Would you marry me, Choi Minri?”

Cairan bening kembali tergenang di pelupuk mata Minri, ia menatap Kwangmin dan mengangguk pelan. “I would..”

Kwangmin tersenyum lebar, kemudian menyematkan cincin tersebut di cari manis Minri. Dipeluknya gadis itu erat, “Saranghae Minri-ah..”

Gadis itu menyusup ke dada bidang Kwangmin, “Na do saranghae.. oppa”

END

Aaaaa, first ff with Boyfriend cast ><

Ottokhae?

Sebenernya ini ff udah jadi lamaaa banget, tapi berhub gaada poster.. gak dipost2 -oo- dan poster diatas itu adalah poster abal bikinan sendiri ._.

Sorry for typo .___.v

Don’t forget to leave some comment !! ^^

Advertisements

10 responses to “[Oneshot] You and I

  1. omona, mau ngelamar tp kenapa pake putus hubungan dulu ya?
    tp lucu juga ya, disangka sang mantan sudah memiliki kekasih yg lain tp ternyata orang tersebut tak lain adalah saudara kembarnya..wkwkwk
    bahaya itu klo smpe ketuker pasangannya..kekeke 😀
    cuma mau ksh tau ada typo pas berdehem..disana tertulis hyejin, seharunya krystal bukan..hehehe 😀

  2. di awal awal nya galau maksimal gitu tapi akhirnya so sweet banget :3
    lucu gitu pas minri baru tau kalo si kwangmin punya kembaran~
    daebak thor^^

  3. Youngmin itu bukan kakak nya ya ? Kok di sini di tulis nya adik nya ._.

    Alasan kwangmin ninggalin si cewek kenapa thor ? Kok ga dijelasin ??

    Tapi aku suka ! Dan syukur lah . Happy ending ^^ daebak!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s