KISS KISS KISS – Kyaaaaaaa!!!

Cerita ini terinspirasi dari KISS NOTE dan Komik yang saya lupa judulnya (?) MUAHAHAHHAHAHAHAHA *dibekep

Kiss Kiss Kiss

Author: LucifeRain ( Ayya )

Genre: Romance/Fantasy/Comedy

Ratting: General

WARNING! THIS IS LONGSHOOT NOT ONESHOOT.

DON’T LIKE DON’T READ

 

Yang suka awalnya, baca sampe abis ya pasti kalian bakalan kaget *apanya (?) ^^ terserah mau komen apa nggak, aku tau kok aku bukan penulis hebat *ngitungin biji pete di pojokan* #eh? buat Siders aku kasih hadian deh *nyebarin tomcat ._.

 

~*~*~*~

terpaan angin yang semakin kencang akhirnya membuatku dengan amat sangat terpaksa membuka mata yang terasa berat. Aku mendengus sebal menatap langit yang sudah terhiaskan semburat jingga. Kesal tapi tak tahu harus menyalahkan siapa, huh sebenarnya siapa yang bodoh disini????!!!!

Sudah setahun terakhir setiap pulang sekolah aku langsung pergi ke atap gedung utara, gedung ini memang sudah tua, lapuk dan jarang dipakai pula. namun hanya disinilah aku bisa merasakan ketenangan yang sempurna, pemandangan disini bagus sekali tapi sayang murid murid kaya yang sombong itu tak menyadarinya.

Ku lirik jam tangan ungu yang melingkar di pergelangan tanganku, sepertinya aku sudah tertidur 3 jam dan bersiaplah kena sembur ayah saat pulang nanti.

Oke, cukup basa basinya. Namaku Nana dan kau tidak perlu tahu apa margaku karena itu sangat norak. Aku seorang gadis biasa yang tidak terlalu pintar namun mengenyam pendidikan di SMU paling bergengsi yang menarifkan uang sekolah ngajubileh mahalnya.

Ini bukan seperti di pelem pelem drama yang tokoh utamanya mendapatkan beasiswa untuk bersekolah di kalangan elit, ayahlah yang mati matian bekerja di toko tahu keluarga kami dan memaksaku untuk bersekolah disana. Karena itu permintaan ayah, aku tak dapat melakukan apa apa karena hanya Ayah keluarga yang aku punya.

Satu hal yang aku banggakan… aku keturunan Jepang – Korea, lho!. Lihat ini!

Cantik bukan? Oke, jangan bilang aku mirip seperti anak SD atau SMP karena begitulah orang menilaiku pertama kali karena wajah ku yang cute dan tubuhku yang mungil. Rasanya aku harus selalu menyiapkan batu untuk melempar siapa saja yang mengataiku seperti itu. I’M GRADE 2 IN ARCHANGEL INTERNATIONAL HIGH SCHOOL!!

 

Ku tarik tanganku ke udara, memberi perenggangan kecil pada leher, tangan dan kakiku. Refleks aku berbalik ke arah kiri, tapi astaga aku lupa bahwa aku hanya tidur di bangku panjang dan Brukkk…

tubuhku mendarat sempurna di lantai dan jidatku dengan sangat romantisnya mencium sebuah kotak merah muda, sehingga menciptakan kiss mark merah menyala di keningku.

“aw… sakit…” erangku seraya mengusap usap kening dan dengkul ku.

Ku lirik kotak merah muda yang menjadi patner ciuman jidatku, kotak apa ya? Kenapa ada disitu? Seingatku aku tidak membawa kotak model begitu.

Ku raih kotak yang tingginya sejari telunjukku dan panjangnya sekitar 2 kilan kemudian lebarnya 1 kilan tanganku. Ku tatap sekeliling, sepertinya tak ada siapa siapa di sekitar sini. Ya jelas saja, mana ada orang yang mau berkunjung ke atap gedung reot ini. lalu kotak ini terbang dari mana?

Sebenarnya aku ingin cepat cepat membuka kotak ini, namun melihat matahari yang semakin dekat ke peraduanya membuatku mau tak mau harus cepat pulang. Gedung ini kalau malam cukup membuat bulu kuduk berdiri lah…

Ku masukkan kotak itu ke dalam tas ku, ah ternyata muat! Dan bersiap untuk pulang.

 

~*~*~*~

Butuh waktu 10 menit menaiki bus dan berhenti di halte dekat rumahku. setelah berjalan sekitar 50 meter aku pun sampai di depan sebuah toko tahu yang buka dari jam 4 pagi sampai jam 9 malam.

Toko yang tidak bernama namun di atas pintu masuknya terpampang Plang kayu coklat yang bertuliskan slogan “kami membuat tahu lebih putih dari susu dan lebih manis dari madu”

Oke aku amat sangat malu mengakuinya, namun karena tak mau dibilang maling kutang, eh kamsudnya anak durkaha jadilah aku mengakui toko tahu dengan slogan menggelikan itu adalah toko sekaligus rumahku.

Sudah ribuan kali aku meminta bahkan merengek pada ayah agar mengganti plang itu, karena tahu disini rasanya tidak seperti madu melainkan sepet sepet pait kalo belum dimasak dan warnanya selain putih ada juga yang kuning. Bagaimana bisa itu disebut lebih putih dari susu HAAAAHHHH??!!!

Tapi ayah tetap bersih keras, katanya itu adalah kenangan dengan ibu. Dan orang orang juga sudah terlanjur mengenal tahu kami dengan nama “tahu susu” atau “tahu madu” aish! Menjijikan!

 

Yosh! Sepertinya ayah tidak menyadari kedatanganku karena ia sibuk melayani pelanggan, selain menjual tahu mentah toko yang paling malas aku sebutkan sloganya ini juga menjual tahu matang dengan variasi bumbu ciptaan ayah.

“NANA! Dari mana saja kau?” teriakan ayah sukses membuatku menjadi patung dadakan.

ku hentikan langkahku, berbalik kemudian melayangkan cengiran aneh pada ayah. Hehehe

 

~*~*~*~

Keesokan harinya ku jalani seperti biasa, setelah menyampirkan tas di kursi aku berjalan menghampiri sahabatku yang bernama Shin Maeri *author ngeksis #ditimpuk* dia anak konglomerat dan berasal dari Seoul. Yang aku suka dari Maeri adalah sifat baiknya dan tidak pilih pilih teman seperti kebanyakan murid Archangel. Dia lebih cantik dan pintar dariku dan aku pun meringkuk di pojokan setelah mengakuinya. Oke ini berlebihan.

 

“Kepada seluruh murid Archangel diharapkan berkumpul di Aula utama karena ketua yayasan Shineeworld, Lee Hyukjae akan mengadakan pidato singkat” Speaker di langit langit kelas berbunyi.

Uwoooo… ketua yayasan yang biasa di tulis author “si Lee Hyukjae sarap” datang. Archangel juga merupakan salah satu sekolah dibawah naungan yayasan Shineeworld dan di Seoul ada sebuah sekolah khusus putra dan putri yang diberi nama ShineShall dan ShineSedna yang sangat terkenal itu. Kalian tahu, disana ada 5 namja tampan bernama SHINee loh *SOL ngeksis dimana mana kkkkk~* dan Maeri adalah mantan kekasih Choi Minho, semoga mereka pacaran lagi karena mereka cocok sekali, tampan dan cantik *author ngakak*

Langsung ku tarik Maeri menuju pintu kelas, ternyata di lorong lorong kelas semua murid berlari ke arah aula dan kami pun menyusup di sela selanya.

Hanya butuh beberapa menit siswa siswi Archangel sudah berbaris rapi dan berhadapan dengan mimbar pidato Lee Hyukjae selaku ketua yayasan. Ia menyampaikan beberapa point penting karena hanya sebulan sekali ia berkunjung ke sini. Tapi satu hal yang paling aku tangkap dalam kalimat pidatonya adalah…

“gedung utara akan dihancurkan karena sudah sangat tua”

“APPAAA?!!!” ku bekap mulutku karena setelah jeritan itu semua mata dari seluruh siswa plus Lee Hyukjae langsung mengarah padaku. Refleks aku pun membungkuk bungkukan kepala pertanda maaf.

“kalau ada yang tidak setuju dengan penghancuran gedung utara demi menggantinya dengan gedung baru yang lebih modern, silahkan protes ke kepala sekolah”

 

Aku menggelembungkan pipi yang merupakan kebiasaanku saat geram. Mengganti gedung berarti tak akan ada atap yang tenang. Oh tidak, atap itu sudah menjadi temanku. Setiap aku mengantuk aku selalu tidur disitu, setiap aku marah aku selalu berteriak di situ dan setiap aku mendapatkan nilai jelek selalu ku buang di situ. Psstttt… jangan bilang ayah!

Dan apa katanya?! Kalau mau protes harus ke kepala sekolah? BAGAIMANA BISA? Sewaktu naik kelas 2 kepala sekolah kami diganti karena faktor usia dan kepala sekolah yang baru ini belum pernah menampakan batang hidungnya. Catat itu baik baik!

 

“kepala sekolah macam apa yang belum pernah menampakan dirinya? Pasti dia jelek dan terlihat bodoh. Atau jangan jangan rupanya separuh binatang atau dia keturunan alien…”

-Pletakkk-

Maeri menjitak kepalaku karna aku terus menyerocos sekeluar dari aula. Aku pun meringis lebar sambil mengusap usap puncak kepalaku.

“kau bisa diam tidak? Setiap ada yang mengungkit kepala sekolah kau pasti mengomel hal yang sama. Lagi pula bagus kan gedung utara di hancurkan, supaya kau tidak bisa bolos lagi” semprot Maeri di depan wajahku.

Kyaaaaa!!! Tega sekali dia, sahabatku itu kalau mengomel memang mengerikan. Ku kejar Maeri yang melangkah menuju kelas, saat aku hendak melanjutkan ocehanku tiba tiba seorang guru datang dan aku pun terpaksa kembali ke tempat duduk.

Saat aku menyandarkan punggung di bangku yang sebelumnya sudah ku sampirkan tas ku disana, aku merasa aneh. Tak bisanya tas ku sebesar ini. sejurus kemudian aku inggat sesuatu.

Ku tepok jidat, astaga… aku melupakan kotak itu.

 

~*~*~*~

Aku berada di sebuah Café terbuka yang berhadapan langsung dengan deretan pohon pinus dan pohon akasia. aku sangat menyukai suasana natural di tempat ini, lagi pula tempat ini hanya berjarak sekitar 200 meter dari sekolah.

Meskipun harus masuk banyak gang dan tidak nyasar adalah suatu keberuntungan, tapi dijamin kau akan puas ketika melihat pemandangan alami dari Café ini ditambah lagi Vanila Late yang enak dan rasanya sangat berbeda di tempat lain dan Tempat favoritku adalah di bawah pohon akasian yang rindang ini.

Ku seruput segelas Vanila Late, setelah cairan itu habis setengahnya ku letakkan kembali gelas itu kemudian ku raih tas ransel ku yang ku letakkan di samping kursi.

“ahhh… tempat ini benar benar indah” gumanku setelah menyapukan pandangan ke sekitar. Di samping pepohonan pinus itu ada sebuah Farm dengan ladang jagung dan perternakan sapi, domba juga ayam.

“sapi yang lucu” ucapku sambil berdadah dadah ria ke arah dua sapi yang sedang menyantap rumput. Astaga… terlihat seperti anak anak. Dasar Nana bodoh!

 

Ku buka tas ranselku kemudian ku keluarkan kotak keramat yang ku temukan semalam. Ku amati kotak iitu setelah ku letakkan ke atas meja, sepertinya tidak ada yang mencurigakan lagi pula warnanya Pink.

Segera ku buka pengait di antara sekat kedua sisi kotak, lalu ku tarik gagang bagian atas. Setelah kotak itu terbuka aku mematung beberapa saat, semburat kecewa langsung mengiasi wajahku. Ternyata ini hanya kotak biasa, tapi…

Di sisi atas atau langit langit kotak tertutupi cermin persegi dan di sudut sebelah kanan kotak itu terukir tulisan kecil “Kiss Kiss Kiss” dengan warna merah menyala. Lalu di bagian bawah kotak tergeletak sebuah Lipstick dan Note book kecil berwarna senada dengan warna luar kotak, cover note itu juga bertuliskan “kiss kiss kiss”

 

Penasaran, aku pun membuka Note itu. di halaman pertama bertuliskan…

“selamat! Kau adalah orang terpilih!”

Aku menyernyit membaca tulisan itu, ku buka halaman selanjutnya dan tak lama kemudian tawa keras melambung dari bibirku.

“oleskan Lipstick itu pada bibirmu, kemudian tulis yang kau suka di cermin maka sebuah keajaiban akan terjadi”

Aku tahu itu tidak lucu, tapi tidakkah itu konyol? Tawaku terhenti ketika ekor mataku melirik Lipstick yang tempatnya berbentuk silinder dan berwarna keemasan. Astaga… tempatnya saja seperti Lipstick yang sering dipake nenek nenek tua sebelah rumahku muahahahaha

Ku balik halaman berikutnya dan tak ada satu kata yang kudapati dalam lembar itu, ku balik lagi halaman berikutnya tapi keadaanya tetap sama. Sampai di lembar paling akhir barulah ada sebuah kalimat yang tertulis.

“kau hanya punya 3 Kiss Kiss Kiss”

 

Ku letakkan kembali Note konyol itu di tempat semula lalu ku raih Lipstick yang tergeletak di sebelahnya.

Dengan hati berkomat kamit berharap agar warna lipstick di dalamnya tidak merah menyala percis yang di pake tante tante, aku pun mulai membuka sedikit tutupnya. Dan kalian tahu sodara sodara? Mulutku menganga lebar sangkin terkesimanya karena warna Lipstick itu merah muda yang sangat cantik dan alami, persis seperti warna yang sering dipakai artis jaman sekarang.

Ku tutup mulutku setelah sadar betapa memalukanya ekspresiku tadi. Oh my~~~~ ternyata hanya tempatnya saja nenek nenek namun dalamnya anak muda.

Tanpa berfikir panjang segera ku oleskan lipstick itu ke bibirku dengan hati hati, astaga Nana, kau Cantik sekali haha. Tapi tunggu dulu, aku kan belum memikirkan mau minta apa.

“MOOOOOOO~~” tiba tiba sapi dari perternakan mengaum dengan lucunya.

Kyaaaa! Apa kalian melihat bola lampu menyala di atas kepalaku? Gotcha! Akhirnya aku tau aku mau apa. Ku dekatkan ujung Lipstick itu ke permukaan cermin, hal yang ku suka adalah…

“sapi panggang”

Aku tertawa lebar setelah menulis permintaan itu, kebetulan perutku sedang lapar dan untung saja area luar café sepi.

Brakkk… Brukkk…. #^YTE$%T^REW@!@WS

Mendengar kegaduhan itu, tatapanku langsung mengarah pada sumber suara. Mataku kontan membulat lebar menyaksikan dua ekor sapi menerobos pagar kayu perternakan lalu berlari dengan ganasnya. Sapi itu kenapa ya? Sepertinya berlari ke arahku… UWOOOOWWWW sapi itu…. Sapi itu… berlari ke…. ARAHKU!

 

Spontan ku masukan kotak laknat itu ke dalam tas, sangkin paniknya dikejar sapi aku berlari secepat mungkin menerobos pepohonan pinus yang berdiri kokoh tanpa tau arah dan tujuan.

Aku menoleh ke belakang dan sapi itu semakin mendekat. Kyaaaaaaa!!! Apa yang harus ku lakukan. Ku pasang kembali ransel yang tadinya ku jinjing, kemudian berdoa sekusyuk yang aku bisa –dalam kondisi tidak normal.

“demi ibu yang ada disurga, tadi aku meminta sapi panggang bukan sapi hidup hidup”

Aku tersenyum sumringah melihat sebuah pohon dengan banyak ranting, mungil mungil gini sewaktu kecil aku diejek spesies kera oleh teman temanku loh, oke ini aib dan bukan hal yang membanggakan.

Ku raih ranting yang menurutku kuat, lalu ku ayunkan kakiku ke dahan pohon dibawahnya. Hap… hap… hap… dengan lincahnya aku sampai he dahan pohon paling tinggi. Karna aku pandai memanjatlah sewaktu kecil aku di olok seperti tadi.

Ku pastikan sapi sapi itu tak bisa melihatku karna pohon ini cukup rimbun dan tubuhku tergolong mungil. Setelah beberapa lama tak ada suara gaduh lagi yang terdengar.

“aman” gumanku sembari menarik nafas lega.

saat aku melangkah ke dahan lain berniat untuk turun, tiba tiba dahan yang ku injak patah dan aku hanya berpegangan pada sebuah ranting kecil.

Naas aku pun terjerembab ke bawah, sepertinya tadi ada tupai yang mentertawaiku, eh?

Penderitaanku tidak selesai sampai dimana tubuhku menghentak rerumputan, tapi aku terus berguling karna ternyata Pohon yang aku naiki tadi BERADA DI ATAS BUKIT.

“awww”  erangku sambil mengusap usap pingganggku yang sakit karna beberapa kali melindas tanaman keras. Ini semua karna kotak laknat dan sapi sapi sialan itu!

Dengan susah payah, aku mencoba untuk berdiri meski tangan kananku harus bertumpu pada lutut karna pinggangku yang masih sakit. aku ada dimana ya?

 

Ketika aku membalikka badan, sebuah pemandangan membuat kedua sudut bibirku tertarik keatas membentuk seulas senyum bulan sabit. Ternyata di depanku adalah sebuah Glasses House yang cukup besar, dan aku sedang berhadapan pada  kamar berdinding kaca transparan.

Di dalam kamar itu terdapat sebuah tempat tidur dengan bed cover biru, yang membuatku terkesima adalah seorang pemuda yang sedang terlelap dengan damainya seperti Arcangel. Dia seakan memendarkan aura yang mampu menjeratku untuk memujanya.

Lama menikmati pesonanya, tiba tiba ia berbarik ke arah kiri seakan membiarkanku untuk mengetahui angle yang berbeda dari seorang Archangel.

Ahh… kenapa jantungku tiba tiba berdetak liar, apakah ini ciri ciri orang jatuh cinta yang biasa ku tonton di drama drama? Ah, tidak mungkin, aku belum pernah merasakanya.

Aku sadar, aku benar benar menginginkanya. Bukankah aku punya “kiss kiss kiss” tapi bagaimana bisa? Aku tidak tahu namanya. Mana mungkin aku tulis Archangel atau orang yang tidur di depanku. Aku benar benar trauma dengan kejadian sapi itu -__-

 

Tiba tiba sang Archangel itu menggeliat pelan, refleks aku pun segera lari dari sana. Bisa panjang urusanya kalau aku ketahuan mengintip, tapi salah sendiri kenapa dinding diganti jadi kaca, jadi bukan sepenuhnya salahku kan? Dia menyuguhkan dan aku menikmatinya…

 

~*~*~*~

Setelah kejadian semalam, aku benar benar terbayang akan sosok Archangel itu. rasanya aku ingin ke tempat itu lagi, meskipun kemarin aku harus berjalan 500 meter jauhnya dari jalan raya dan itu cukup melelahkan.

Namun, menikmati pendaran pesonanya bagaikan heroin yang menjalar cepat ke setiap sel otakku.

Sampai sekarang, melihat guru bahasa jerman setengah botak yang sedang mengoceh dengan bahasa seperti kumur kumur itu dalam bayangan yang ku lihat adalah sang Archangel kemarin sedang menerangkan bahasa nurani melalui karismanya. Oh Ayah… virus aneh apa yang menyerang anakmu ini??!!!

 

Lamunanku buyar ketika guru bahasa jerman itu mengetuk ngetukan penghapus kayu ke papan tulis. aku menggelembungkan pipi, Ku tumpukan kedua siku di atas meja kemudian ku topang dagu lalu mengarahkan pandangan ke luar kelas. begini lebih baik dari pada melihat silaunya botak guru bahasa jermanku itu.

Tiba tiba terdengar derap langkah kaki yang ramai, dan satu persatu siswa berseragam olah raga lewat di lorong depan kelas. ah, sepertinya aku gila betulan karena seseorang tampak sangat mirip dengan Archangel kemarin.

Dalam bayanganku, adengan dimana orang yang mirip itu melintas di depan pintu terputar bagai Slow Motion di drama drama. Semakin ku perhatikan, wajahnya semakin mirip. Ku kucek kedua mataku, lalu ku amati lagi orang yang sudah melintas di sebelah jendela dan…

“ARCHANGEL??!!!” pekikku kaget, sejurus kemudian langsung ku tutup mulutku karna pria tua yang berprofesi sebagai guru jerman itu memelototiku seakan matanya hendak keluar.

Apa tadi aku tak salah lihat, astaga Nana kemana saja kau selama ini?!!

 

TEEETTTTTHHHHH….

Bel surga istirahat menggema di setiap sudut ruang kelas, semua murid dengan kompak menutup buku dan guru jerman yang kolot itu pun keluar. Langsung saja aku melompat dari bangku kemudian berlari ke arah Maeri yang sedang menyusun buku di tempatnya. Mungkin dia tahu sesuatu tentang Archangel itu, dia kan cukup popular.

Bertepatan ketika aku menepuk pundak Maeri, terdengar suara derap langkah yang ramai dan berirama cepat. Tak lama kemudian segerombolan orang lewat di depan lorong kelas kami.

Maeri yang penasaran langsung menghambur ke arah pintu dan aku pun mengikutinya.

“ada apa?!” Tanya Maeri setelah menarik seseorang dari kerumunan itu.

“Kim Jonghyun SHINee datang dan dia sedang memberi pelatihan kusus pada club Taekwondo” teriak murid itu dengan antusias.

Maeri menarik tanganku, mengisyaratkan agar ikut lari dengan gerombolan tadi. Segera ku sambar ranselku, kemudian mengikuti ajakan Maeri.

 

~

Sesampainya di tribun GOR pelatihan Taekwondo, suasana riuh terdengar sangat heboh dan sebagian besar penonton adalah wanita. Teriakan mereka sungguh dahsyat kawan kawan.

“mereka norak sekali, seperti tak pernah melihat pria tampan saja” cibirku

Sebenarnya aku kesal, karna tubuhku yang tergolong pendek sangat susah melihat seseorang bernama Kim Jonghyun itu. padahal sudah melompat setinggi yang aku bisa.  namun sesaat kemudian sebuah ide melintas di kepalaku.

Dengan mudahnya tubuh mungilku menyusup di sela sela mereka, ketika aku berada di barisan paling depan yang terhalang pagar pembatas disitulah aku dapat melihat Kim Jonghyun dengan jelas.

“AAAAAAA!!!! Kim Jonghyun tampan sekali” teriakku heboh bersamaan dengan siswi lainya.

“jadi sekarang siapa yang norak melihat pria tampan” sindir Maeri yang sudah berada di belakangku, aku pun hanya membalasnya dengan cengiran kuda.

 

Dan lagi lagi, sebuah bola lampu hemat energi menyala di atas kepalaku. Dengan susah payah aku keluar dari kerumunan kemudian duduk di bangku tribun yang agak sepi karena semua penonton berhamburan di sekitar pagar pembatas depan tribun.

Ku buka tas ranselku, kemudian ku keluarkan Box Kiss Kiss Kiss. Sesaat ku edarkan pandangan ke sekeliling, setelah yakin tak ada yang memperhatikan segera ku buka kotak itu.

astaga, ternyata tulisan sapi panggang kemarin terhapus. ajaib. Dan jika kemarin di sudut kanan kotak tulisan “Kiss Kiss Kiss” berwarna merah menyala, kini satu tulisan Kiss warnanya meredup jadi abu abu. Sepertinya itu efek permintaanku kemarin, sayangnyaaaaaa…

 

sekali lagi ku lirik sekeliling, sepertinya semua perhatian orang masih tertuju ke tengah Gedung. Dengan gerakan cepat ku poles lipstik di bibirku, kemudian ku tulis nama ‘Kim Jonghyun’ di cermin box .

aku tersenyum lebar setelahnya, apakah Kim Jonghyun benar benar datang ke hadapanku?. Ku tutup kotak itu lalu ku masukkan ke dalam tas, sejurus kemudian aku merasakan hal yang aneh. Kemana teriakan heboh gadis gadis tadi?

Ku tengadahkan kepalaku, ternyata semua mata tercengang melihat Kim Jonghyun dengan tiba tiba berjalan menaiki tribun. Begitu pula dengaku, ku akui aku sedikit gugup ketika sadar seorang Kim Jonghyun benar benar melangkah ke hadapanku.

 

Oh Tuhan, ini seperti mimpi. Sekarang pentolan SHINee yang terkenal pandai bela diri itu benar benar berdiri di hadapanku. Jadi ini keajaiban dari Kiss Kiss Kiss itu? menakjubkan.

Berhadapan dengan Kim Jonghyun, membuatku sadar akan ketampananya yang khas dan satu tindakan yang dilakukanya membuatku tercengang dengan mata membulat lebar.

CHUU~!

“KYAAAAAAAAAAAAAA!!!!” teriakan para siswi melambung keras

Tunggu, tadi KIM JONGHYUN MENCIUM KENINGKU? Ku pukul pipiku, sakit… dan itu artinya INI BUKAN MIMPI?!!

Dengan eksprsi kekagetan yang masih terpeta di wajahku, ku tatap jonghyun yang  kala itu terdiam dengan ekspresi bingung. Ku tatap sekeliling, dan ternyata para siswi menatapku seakan ingin menerkamku.

Teriakan yang semakin anarki itu membuatku menjalankan aksi kaki seribu, kaburrrrr…

 

~*~*~*~

“hosh… Hosh…. Hosh…”

Ku lempar tasku ke atas sebuah bangku panjang, efek dari berlari di kejar para siswi itu membuat keringat mengucur deras di wajahku. ku tumpukan tanganku di atas lutut dengan punggung yang membungkuk dan nafas terengah engah. Atap gedung utara memang tempat melarikan diri yang paling tepat.

Kejadian tadi benar benar menakjubkan! Ku raih tas ku dan ku buka, ternyata keajaiban ‘Kiss Kiss Kiss’ terletak pada ciuman yang di dapatkan setelah melaksanakan petunjuknya. Untung saja kemarin aku tidak di cium sapi.

“Nana!”

Mendengar seruan itu, refleks aku menoleh ke belang dan terlihatlah Maeri yang melambai ke arahku.

“dari mana kau tahu aku disini?” tanyaku sambil menutup tas kembali.

“kau memang selalu pergi kesini kan?” ujarnya sembari tertawa “ah aku ingin bertanya, tadi kenapa Kim Jonghyun menciummu? Kau dekat denganya?”

“tidak!” aku menggeleng cepat “aku juga bingung, atau mungkin dia hanya salah orang hehehe. Ah, Kenapa menyusulku?”

Maeri membulatkan mulutnya sembari mengangguk “kau dipanggil wali kelas kita, ayo cepat!” sambungnya

Ketika kami melewati sebuah Mading, langkahku terhenti. Ku putar kepalaku 90º demi menatap selembar kertas yang di sisi kananya tertempel foto… Archangel?

 

“kau tahu siapa orang ini?” tanyaku pada Maeri sambil menunjuk foto itu.

Maeri menoleh ke arah ku “kau tidak tahu orang itu?”

Aku menggelembungkan pipi lalu menggeleng. Tiba tiba Maeri menepuk jidat lalu menggeleng gelengkan kepala.

“astaga Nana! Mangkanya jangan autis di gedung utara terus. Masa Tamamori Yuta saja kau tidak tahu? Baka! Kau itu kemana saja? Dia itu popular sekali, tau!” papar Maeri

“jadi namanya Tamamori Yuta?” tanyaku berseri seri.

Maeri memutar bola matanya “Tamamori Yuta itu senior kita, kelas 3A, dia pindah dari London ke Tokyo dan masuk ke sekolah ini di awal kelas 3. Ku dengar dia sering bolos jam pelajaran, meski begitu dia selalu meraih peringat pertama dan IQ-nya sekitar 200, jenius! Tapi, dia itu termasuk Prince ice, lah”

“kenapa aku bisa tidak tahu dia?” tanyaku polos.

“habisnya, setahun terakhir yang ada di otakmu itukan hanya pergi ke atap gedung utara saja!!!”

 

~*~*~*~

Setelah menemui wali kelas, aku langsung terduduk lesu di depan kantor guru. Bukan, aku bukanya dimarahi karna mendapatkan nilai jelak atau apapun. Tapi, tadi aku baru saja bertanya dengan wali kelasku ternyata rencana penghancuran gedung utara sudah bulat.

Sebelumnya gedung itu adalah gedung olah raga dan akan di alih fungsikan menjadi gedung untuk guru dan kepala sekolah. Itu artinya, tak ada akses menuju atap!

 

Tiba tiba tatapanku tertuju pada lorong sebelah kiri. Aku baru ingat, bukankah di ujung sana jika berbelok ke arah kanan maka disitulah ruang kepala sekolah. Tapi yang ku dengar di belokan itu ada security yang berjaga dan tak ada murid yang diperbolehkan masuk. Uh, over protective sekali. Tapi demi gedung utara, aku harus kesana!

Aku pun melangkah ke arah sana, sebelum berbelok ku intip terlebih dahulu. Sepertinya hari ini benar benar hari keberuntunganku karena security yang biasanya berjaga, kini sedang tertidur pulas sambil mendengkur pula. Dengan langkah ringan ku lewati security itu.

 

Ku raih gagang pintu ruang kepala sekolah dan ketika ku buka, aku langsung sadar bahwa akhir akhir ini aku jadi sering tercengang seperti sekarang. Lupakan bayangan tentang ruang kepala sekolah yang kolot dengan banyak rak buku dan tumpukan berkas.

Ruang kepala sekolah di depanku ini sangat modern, seperti apartment anak muda jaman sekarang. Di ruang depan terdapat sofa yang berhadapan dengan tv lcd, interior ruangan itu di dominasi warna biru – putih Dan di sisi kanan merupakan sebuah minibar yang di desain minimalis.

Aku melangkah melewati sofa kemudian menapaki 3 anak tangga, di sebelah kiri adalah sebuah balkon lengkap dengan ayunan kecil dan saat aku menghadap ke arah kanan, aku mendapati meja kerja yang di atasnya tergeletak Iphone, laptop dan Ipad. Sama sekali tak ada berkas berkas apapun.

“apa ini benar benar ruang kepala sekolah?” gumanku.

Sejurus kemudian kursi kerja berwarna hitam di belakang meja yang tadinya terbalik, tiba tiba berputar dan menampilkan seseorang yang duduk di sana. Mataku dan matanya beradu, sinar kekagetar sama sama terpancar.

“tamamori yuta?” pekikku kaget. Penampilanya sangat berbeda, dia tidak memakai seragam sekolah tapi mengenakan jas berwarna dark blue yang tidak terkancing dengan paduan kemeja berwarna Crimson yang kancing atasnya tidak terkait. Rambut yang tadinya bergaya Shaggy kini di bentuk Spike.

Astaga, aku benar benar sangat detail memperhatikanya. Habisnya dia tampan sekali!

 

“kenapa kau bisa masuk?” tanyanya sengak

“kenapa kau disini, bukankah ini ruang kepala sekolah” tanyaku yakin, karna di depan tadi terpampang plang nama “headmaster room”

Tiba tiba dia melangkah ke arahku, kemudian menarik ku menuju pintu keluar. Ku tatap tanganku yang di genggamnya, ku harap ia tidak mendengar degub jantungku yang meliar.

“tungu tunggu! Kalau ini ruang kepala sekolah dan Tamamori Yuta-san berpakaian seperti itu, berarti kau…”

“ku rasa kau cukup pintar untuk menebaknya, nona lancang!” Ia membuka pintu lalu menatapku kemudian menatap pintu lagi seakan berkata ‘keluar kau!’

“jadi Tamamori Yuta-san adalah kepala sekolah?”

Setelah mengucapkan itu dia langsung mendorongku keluar dengan mudahnya karna tubuh kecilku ini tak sebanding denganya. Astaga, ini gila!

 

~*~*~*~

Aku berjalan sempoyongan menuju kelas, kemudian terduduk di bangku dengan lesu. Sepertinya hari ini kejutan datang beruntun, oh Tuhan katakan ini mimpi! Tamamori Yuta adalah kepala sekolah? YANG BENAR SAJA!!!

“mana ada seorang murid yang berprofesi sebagai kepala sekolah” batinku.

Tapi, tiba tiba aku teringat dengan ucapan Maeri. Jadi selama ini dia sering bolos karna sibuk dengan urusanya sebagai kepala sekolah? Lagipula kata Maeri dia itu kan pintar.

Astaga, aku baru ingat bahwa kepala sekolah yang dulu bermarga Tamamori. Kemungkinan besar tamamori Yuta adalah anaknya, kalau tidak mana mungkin dia bisa jadi kepala sekolah dengan seenak jidatnya. Sekolah ini kan didirikan Pak Tamamori -kakek Tamamori Yuta sekaligus kepala sekolah pertama.

 

~

 

Keesokan harinya aku sekolah dengan normal meskipun masih penasaran dengan hal semalam. Sebenarnya aku ingin memberi tahu Maeri, tapi Tamamori Yuta yang tidak pernah menampakkan dirinya sebagai kepala sekolah pasti punya alasan kuat dan aku tak mau melanggar privasinya.

Teeetttthhhh…

Bel pergantian pelajaran kedua berbunyi, dan itu artinya jam olah raga selesai. Ku buka mataku karena sejak tadi aku duduk bersandar di bawah pohon dengan mata terejam. Ku edarkan pandangan ke sekeliling dan tidak ada orang????

Sial! Tenyata aku di tinggal mereka. Aku pun bangkit berdiri kemudian berlari ke ruang ganti siswi. Tapi di tengah perjalanan, langkahku terhenti setelah melihat Tamamori Yuta keluar dari toilet.

Aku pun berlari ke arahnya, ku lambaikan tangan dengan heboh tapi sejurus kemudian aku bingung harus memanggilnya apa. Senpai atau…

“Pak kepala sekolah!” Oops… keceplosan hehehe

 

Langkahku terhenti setelah Tamamoru Yuta menghentikan langkahnya. Ia berbalik kemudian memandangku dengan tatapan sangar, ku layangkan senyum kaku saat ia melangkah ke arahku.

Ia melirik sekeliling ketika tiba di depanku, refleks aku pun membuang muka ketika ia menatapku. “Jangan pernah panggil aku dengan sebutan itu disini!” desisnya dingin kemudian berlalu pergi.

UWOOOO… Nana akhir akhir ini kau sungguh pintar! Cepat jalankan ide busukmu!

 

~*~*~*~

 

Saat jam istirahat kedua, aku menghilang dari peredaran teman temanku. Ku langkahkan kakiku menuju ruang kepala sekolah meski harus merangkak melewati satpam tua yang matanya sayu karna mengantuk.

Ku buka pintu itu kemudian berlari menuju meja kepala sekolah

“Pak Kepala sekolah!” panggilku.

“kenapa kau masuk? Keluar!” Tamamori Yuta melangkah ke depanku.

Aku menahan tangganku saat ia menarik ku keluar. “pak saya hanya iningin bicara sebentar saja” ucapku dengan mimik memelas. Padahal sebenarnya aku ingin tertawa, sungguh lucu memanggil orang semuda dia dengan sebutan Bapak.

“apa yang kau inginkan?” tanyanya ketus.

“Pak, ku Mohon jangan hancurkan gedung utara. Gedung itu Favoritku”

Dia menaikan sebelah alisnya”keputusan itu sudah bulat”

Aku menepis tanganya yang menarikku “kalau begitu jangan dijadikan gedung untuk para guru, aku sudah terlanjur suka dengan pemandangan di atap. Lagi pula gedung itu kan gedung pertama dan paling bersejarah” paparku panjang lebar.

Dia melangkah ke meja kerjanya kemudian meraih Ipad di sana. Sekejap kemudian jemarinya bermain di atas layar sentuh itu lalu menatapku seraya menaikan sebelah alis.

“jadi namamu Hayamasakashita Nana dari kelas 2-B?”

KYAAAAAA!!! Dia tahu nama panjangku yang norak seperti kereta api itu.

“nama yang panjang dan aneh!” komentarnya. Huhuhu… Ayah! Tolong aku!

“kau itu hanya seorang murid dan tak punya kekuasaan untuk menentangku” ujarnya sengak.

Aku terdiam sejenak kemudian menyunggingkan senyum iblis “tapi aku punya kekuasaan untuk membocorkan rahasiamu! Bagaimana jadinya kalau semua orang tau Tamamori Yuta adalah kepala sekolah! HAHAHA”

Dia tampak sangat marah setelah ku lontarkan kalimat itu “bersiaplah di Drop Out setelah kau membeberkan semuanya!” ancamnya.

 

~*~*~*~

Sudah 3 kali aku menerobos masuk ruang kepala sekolah yang galak itu dan tiga kali pula aku diusirnya plus satu kali di seret security! Huh sombong sekali dia, memangnya dia tahu apa tentang sekolah ini. baru masuk awal kelas 3 aja sudah sombong!.

Dengan pikiran yang penuh dengan misi misi licik, ku langkahkan kakiku menuju ruang kepala sekolah. Tak lupa pula ku bawa Ipad demi melancarkan aksiku, Walau security menghadang, aku tetap teguh! Eh?

Sepertinya hari ini keberuntunganku karna pak tua Security itu sedang membaca koran yang menutupi seluruh wajahnya. langsung saja aku mengendap entap seraya meminimkan suara yang timbul.

Sesampainya di sana, ku lihat ia sedang berdiri di samping jendela. Satu tanganya di masukkan ke dalam saku dan tatapanya menerawang ke luar. Terpaan sinar mentari yang menyapa wajahnya, membuat karismanya semakin kuat. Ahhh… Tampanya. Astaga NANA apa yang kau pikirkan?!!!

 

Ku angkat Ipad ku kemudian. Splash… 1 foto terbidik!

Ia membalikkan badanya lalu terkesiap pelan menatapku. “kau lagi, sudah ku bilang keputusan untuk menghancurkan gedung utara tidak bisa di ganggu gugat!” bentaknya galak.

“tidak boleh! Gedung itu dulunya menjadi maskot sekolah ini!” bentakku tak mau kalah.

“itu kan dulu! Memangnya kau siapa?” bentaknya lagi. ini kenapa jadi bentak membentak hah?

“biar saja! Aku kan… aku…” aku siapa ya? Aku kan NANA tapi tidak lucu kalo aku berkata ‘aku Nana!’ terkesan bodoh sekali.

“ah wakata! Kau itu kan Hayamasakashita Nana, anak pemilik toko tahu dengan Slogan ‘kami membuat tahu lebih putih dari susu dan lebih manis dari madu’!”

HUAAAAAAA!!! IBU DARI MANA DIA TAHU?! Pokoknya sepulang sekolah ini aku mau demo besar besaran pada Ayah, aku mau protes tentang slogan menjijikan itu dan margaku yang kepanjangan! Eh tapi…

“darimana pak kepala sekolah tahu?” hardikku

Dia mengalihkan pandanganya, terlihat salah tingkah. Kenapa ya?

“jangan panggil aku bapak! Memangnya aku setua apa?!” bentaknya galak. Aishh! Orang ini sepertinya punya pita suara ganda.

“Doshite? Lalu apa? Tamamori senpai? Yuta senpai? Atau…”

“Yuta saja” ia memotong ucapanku “aku seumuran denganmu karena aku masuk akselerasi” ungkapnya. Astaga baru kali ini dia berkata pelan dan terdengar lembut.

Aku menggangguk ragu “ baiklah, Yu… Yuta-san, bisakah kau membatalkan penghancuran gedung utara!”

Ia terlihat geram dengan rahang mengeras dan tangan terkepal“KU BILANG TIDAK BISA, YA TIDAK BISA!” bentaknya.

Wajahku pusat pasi, Ayah saja tak pernah membentakku sekeras itu. inikah wujud Archangel yang selama ini ku kagumi? Ie! Dia bukan Archangel! Dia lebih pantas disebut Lucifer, iblis pertama yang turun kedunia. Kau bukan Archangel!

Sedikit terhuyung kebelakang, aku memandangnya dengan tatapan kecewa “aku akan membocorkan rahasiamu” desisku penuh penekanan kemudian berlari pergi.

 

~*~*~*~

Keesokan harinya saat istirahat pertama, aku sudah Stand by di Cafetaria yang psesak dengan murid murid kelaparan. Aku yakin kali ini Yuta akan memasuki Cafetaria karna jam pelajaran sebelumnya adalah olah raga.

Lama menanti, akhirnya moment yang ku rancang hingga jam 3 pagi ini datang juga. Aku berdiri di atas kursi sambil menenteng Ipadku.

“OI! MINNA-SAN teriakku dan sukses menarik perhatian seluruh pengunjung.

“AKU AKAN MEMBERITAHUKAN KALIAN SEBUAH RAHASIA BESAR!” teriakku lantang dan berhasil! Yuta menoleh ke arahku, ia menatapku tajam namun aku berusaha untuk tidak memperdulikanya.

“KALIAN PASTI TIDAK TAHU SIAPA KEPALA SEKOLAH KITA SEBENARNYA KAN?” tanyaku, mereka menggangguk kompak “KALAU BEGITU LIHAT INI!”

Ku hadapkan layar Ipad ke arah mereka. Dan sejurus kemudian suasana berubah hening, raut kekagetan terlihat jelas. Dengan ekor mataku, ku lihat Yuta mengepalkan dengan ekspresi penuh emosi.

“TAMAMORI YUTA ADALAH KEPALA SEKOLAH ARCHANGEL INTERNATIONAL HIGH SCHOOL!” sahutku dan langsung direspon dengan sorak heboh seluruh siswa.

Mereka spontan menoleh ke arah Yuta sembari berbisik bisik. Ku lihat ia membanting gelas di tanganya kemudian pergi diiringi dengan beberapa temanya. Aku menang!

 

~

 

Sepanjang perjalanan menuju kelas, seluruh siswa menghadangku dengan pertanyaan bertubi tubi. Tentu saja aku tidak menjawabnya, tak ada reka ulang untuk adegan sespektakuler tadi.

Saat aku sudah berada di dalam kelas, ku lihat sebuah amplop putih bertengger di atas mejaku dan terlihat pula beberapa teman sekelasku yang mengerubungi meja itu.

“ada apa?” tanyaku pada Maeri.

Maeri mengangkat bahu “tadi Yuta Senpai yang menaruhnya”

Mampus! Batinku. Segera ku buka amplop itu dan membaca surat di dalamnya. Sekejap kemudian surat itu lepas dari genggaman tanganku dan aku terkulai lemas. Aku di Drop Out…

Ayah… Ibu… Sepertinya harapan kalian agar aku lulus di sekolah yang paling hebat sejak kalian muda hingga sekarang… pupus sudah. Gomennasai…

 

~*~*~*~

Aku merebahkan diri di atas gedung utara seraya menatap indahnya semburat Jingga di langit sore. Mungkin ini adalah kesempatan terakhirku melihat indahnya pesona cakrawala dari atap ini.

Sejak pertama kali aku sekolah disini, aku sudah tertarik dengan desain arsitektur yang unik dari gedung ini. dan lusa, penghancuran gedung ini dimulai. Mungkin ini yang terbaik karna aku pergi bertepatan dengan hancurnya gedung ini.

“ini semua gara gara Archangel! Ah bukan, dia LUCIFER!!!” Teriakku emosi.

Aku menghela nafas panjang, kamudian ku raih ranselku dan keluarkan Box Kiss Kiss Kiss di dalamnya. Astaga, akhir akhir ini aku melupakan keberadaan kotak ini.

“Gomen ne…” ucapku sembari mengusaplembut permukaan kotak. Aish… nana untuk apa kau berbicara dengan benda mati!

Mungkin ini terakhir kalinya aku menyentuh kotak ini. sewaktu kecil, ibu pernah mengajarkanku bahwa kita harus mengembalikan barang yang bukan milik kita kepada pemilik aslinya. Karna aku tak tahu siapa pemilik kotak ini, maka aku memutuskan untuk meletakkanya di atap ini saja. Karna disinilah aku mendapatkanya.

Ku buka kotak itu, dan hanya satu tulisan Kiss Kiss Kiss yang ‘menyala’ disana. Huft… sayang sekali. Ku raih Notes kecil itu dan ku buka lagi.

Benar benar ajaib! Satu Halaman kosong terisi!

pergunakan kesempatan dengan baik, karena kau adalah orang terpilih!”

 

Ku letakkan kembali kotak itu, kesempatan katanya? Jika itu bisa membuat gedung ini tidak jadi dihancurkan dan aku tetap bersekolah disini, maka itulah kesempatan bagiku.

Ku raih lipstick itu lalu ku buka, warnanya yang sangat indah membuatku tak tahan untuk mempolesnya di bibirku. Dan bodohnya aku benar benar melakukanya.

Ku tatap cermin di depanku dengan perasaan gusar, sebenarnya sejak dulu ada sebuah nama yang ingin ku ukir disana. Dengan tangan yang bergetar, ku dekatkan ujung lipstick itu ke permukaan kaca.

Mataku terpejam kuat saat tanganku menulis beberapa huruf disana, tanpa ku sadari air bening telah mengalir melalui sudut mataku. Perasaan ini sudah tak berbendung.

Ku buka mataku dan nama itu telah terukir sempurna. Bagamana ini? panik, aku pun membanting kotak itu. ku tatap langit sore yang semakin berwarna oranye. Aku menangis. Tak ada tanda tanda dia akan datang, sudah ku duga Sihir murahan itu tak mungkin bereaksi…

 

Tiba tiba tubuhku menegang saat ku rasakan tangan seseorang melingkari pinggangku. kehangatan tersalur sempurna melalui tubuhnya yang mendekapku dari belakang.

Di tumpukanya dagunya ke bahuku dan saat ku lirik siapa empunya tubuh itu, degub jantungku berdebar keras. Ini tidak mungkin! Sihir itu nyata?!

Ku lihat ia memejamkan matanya kemudia tersenyum seraya mengeratkan dekapanya.

“aku juga menyayangi gedung ini… karna disinilah pertama kali aku melihat Archangelku sedang tersenyum menatap awan. Dan kau tahu? Sejak saat itu aku sering memperhatikanya di atap ini dari balkon ruang kerjaku”

Aku tersenyuum mendengar kata kata yang menyusup lembut ke dalam setiap relung pendengaranku, membuatku tak kuasa membendung senyum dan meletakkan tanganku di atas tanganya yang masih mendekapku erat.

 

Tiba tiba dia melepas pelukanya kemudian memutar tubuhku agar dapat menatapnya. Tatapan kami bertemu dan dapat kulihat betapa bening mata coklatnya yang selalu berhasil meruntuhkan penolakanku akan dirinya.

“Archangel itu… Adalah dirimu…”

jika ini mimpi, ku mohon bekukanlah moment ini. biarkanlah tersimpan bola kristal agar aku dapat mendekapnya. Benarkah ini kenyataaan? Ku tatap mata beningnya dan tak dapat kutemukan setitikpun kepalsuan yang bernaung dalam sorot teduh matanya.

“semua hal butuh pembaharuan. Seperti gedung ini dan seperti kita…” ia menggantung kalimatnya kemudian mendekatkan wajahnya ke wajahku.

“maaf, tadi aku sedang emosi. Tindakanmu mungkin ada benarnya karna tak semuahal dapat disembunyikan, seperti perasaanku” ia terdiam, terpaan angin menyapu setiap helai rambutnya dan semakin meningkatkan kadar ketampananya dimataku

“maukah kau memulai semuanya dari… menjadi kekasihku? Aku menyukaimu, Nana”

Aku tersenyum membalas senyuman lembutnya. Ku jinjitkan kakiku kemudian ku sentuhkan bibirku di bibirnya. Ia sedikit membungkuk lalu membalas ciumanku sembari menenggelamkan tubuhku di tubuhnya.

Dan di tempat bersejarah ini pula, aku menedapatkan ciuman pertama sekaligus pacar pertamaku.

Kami menyudahi ciuman itu, dari jauh matahari terlihat seperti berada di tengah tengah kami. Seakan memancarkan sinar terakhirnya hari ini hanya untuk kami. Aku tersenyum bahagia.

Ku tatap Box Kiss Kiss Kiss yang kini terbuka. Padahal tadi sudah ku campakkan tapi anehnya isi kotak itu tidak berhamburan. Ajaib! Sesaat kemudian mataku membulat lalu tersenyum lebar.

Satu Kata Kiss dari “Kiss Kiss Kiss” masih menyala dan nama ‘Tamamori Yuta’ belum hilang dari permukaan cermin. itu artinya ciuman kami bukan karena sihir? Aku memeluk Yuta erat. Aku bahagia…

“dan aku juga menyukaimu”

~

Tanpa mereka ketahui, angin senja yang berhembus kencang meniup lembar demi lembar Notes kecil yang berada dalam kotak itu hingga membuka sebuah halaman yang tadinya kosong namun kini telah terisi sebait kalimat baru.

“cinta sejati tak akan terpengaruh oleh sihir sebesar apapun”

Sekejap kemudian kotak itu menghilang tanpa jejak dan siap untuk berburu target selanjutnya…

__ THE END__

 

Akhirnya selesai juga…

Entah kenapa aku bosan dengan FF seserius Killer Kiss dan SOL yang sempat membuatku terserang Writer Block. Tapi berkat FF ini semangatku kembali..

Kalau ada kata kata dan piku mengganggu, tolong dimaafkan karna aku suka meletakkanya disitu dan kenapa aku Memilih Tamamori YUTA? Karena aku tergila gila dengan salah satu member KIS-MY-FT2 itu setelah menonton You’re Beautiful Japan Ver. (ikemen desu ne) Omaigod, Ren cantik ganteng banget *sesek napas*

Hayooo… ada yang nyangka nggak ini FF jepang? Meskipun ada hal berbau koreanya juga. Hahaha setiap FF pasti ku bikin strategi dulu. Ada yang tau apa strategi di FF ini HAHAHAHAHAHHA

Mungkin, kalo aku lagi mumet. Aku akan bikin versi Kiss Kiss Kiss lainya. Adakah yang mau menjadi tokohnya tapi harus punya najep a.k.a nama jepang dan menyertakan member BB jepang (buat pairing) apasaja kecuali yang berarilan rock ._.

 

Cheers,

 

Luciferain ( Ayya )

(bonus pict wkwkwkkwkw)

Advertisements

71 responses to “KISS KISS KISS – Kyaaaaaaa!!!

  1. kyaaa keren!
    tdnya aku pikir ini ff yg nyeritain ttg minho dan maeri trnyata bukan. tp ini bgus bgt daebak

  2. aaa ><
    bahasa simple tp feelny dapet bgt
    ak suka bgt sm alur ceritany, gak berenti senyum dr awal sampe endding fanfict ny
    berasa baca komik yg ad gambarny
    keren bgt thorr
    sangat d tunggu fanfict model begini wkwk

  3. lumayan feel’a
    semangat thor buat bkin ff fantasy ver lain 🙂

    ngmong2 ff killer kiss kpan d bkin sequel’a,yg cpet ya thor kalo bsa ;D hehehe

  4. Awalnya kirain pairing ke membef shinee wkwk, taunya jejepangan. Btw ane juga suka halhal berbau jejepangan, tp ga seluas kekoreaan(?) Dan karena fanfic ini, ane penasaran tuh sama tamamori yuta beserta kawankawannya haha😁 semangat thor!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s