My Wife, My Best Friend (PROLOG)

Title :  My Wife, My Bestfriend – Prolog

Author : Annisa a.k.a @Joonisa

Rating : PG 15

Genre             : Married Life, Romance, Family, Friendship

Length : Chaptered

Cast : 

  • Kim Jong Hyun (SHINEE)
  • Kim Kyeong Jae / Elison Kim / Eli (U-KISS)
  • Lee Eun Kyung (OC/You)

Supported Cast:

  • Lee Jonghyun (CNBLUE) as Eun Kyung’s brother

Disclaimer  : The plot is mine.

Note:

Thanks to Park Kyung Jin yang udah bikinin poster bertema soft-hearted(?) begini XD..

Sebenarnya ini FF yang udah lumayan lama, tahun kemaren bikinnya tapi belum pernah dipost dimana-mana. Karena author lagi mampet ide buat nerusin yang series, jadi ff ini hadir buat selingan. *apaan nih ff selingan kok yang series juga* XD..

===============

Las Vegas, USA

“Elii!!! Eliiiiiii!”

Seorang wanita yang sudah cukup berumur namun masih trendi, sibuk berjalan menyusuri koridor rumahnya sambil berteriak-teriak dengan suara yang memekakkan telinga.

Dukk!!

Wanita itu menendang pintu sebuah kamar yang bertuliskan ‘Elison Kim’s Room’ dengan cukup keras.

“Elison Kim! Sampai kapan kau mau tidur huh!”

Klek!

Wanita itu memutar bola matanya begitu melihat seorang perempuan bule keluar dari kamar Eli dengan rambut acak-acakan dan hanya mengenakan gaun tidur super pendek. Mataya kini beralih ke arah tempat tidur yang terletak di tengah-tengah kamar. Tanpa banyak basa-basi ia langsung menerobos masuk dan menyibak selimut yang menutupi tubuh seseorang di tempat tidur. Begitu selimut itu terbuka, terpampanglah tubuh kekar seorang pria berkulit putih yang tidur dalam posisi tengkurap..

“Elison! Wake up!!!!” Wanita itu mengguncang-guncang tubuh pria  telanjang yang ada di hadapannya. Pria itu tidak bergeming, bahkan terdengar dengkuran yang lebih keras. Wanita itu kemudian mengambil segelas air yang terletak di nakas tempat tidur dan..

Byur!

Wanita itu menyiramkan air satu gelas penuh tepat di wajah Eli yang tidak tertutup bantal. Kontan saja Eli langsung terbangun dari tidurnya karena air yang disiramkan tadi adalah air es. Eli sempat megap-megap sebelum akhirnya ia bisa menguasai diri.

Mom! What happened?” tanya Eli setengah berteriak sambil mengusap wajahnya. Wanita paruh baya yang menyiramkan air tadi tersenyum puas.

“Cepat bereskan barang-barangmu, sore ini kita berangkat ke Korea!” titahnya sambil berkacak pinggang.

What? Are you kidding me? Untuk apa kita ke Korea?” protes Eli.

“Ayahmu, ehm, maksudku si Kim Jongkook ingin membicarakan tentang kelangsungan perusahaan keluarganya.”

Eli mengacak-acak rambutnya. “Bukannya sudah ada Jonghyun? Kenapa harus melibatkan kita lagi?”

“Hey!” wanita – yang tidak lain adalah ibu Eli – menoyor kepala Eli. “Kau itu adalah salah satu penerusnya, tentu saja kau harus terlibat! Lagipula kau juga punya hak di perusahaan itu karena kau anak kandungnya!”

Eli memutar bola matanya, lalu mendesah keras. “We’re rich enough! Untuk apa memikirkan perusahaan keluarga lagi? Aku tidak mau!”

“Elison Kim, perusahaan itu adalah perusahaan multinasional dan berkelas! Perusahaan milik si Jongkook itu tidak kecil! Ini kesempatanmu untuk menjadi pemimpin! Are you stupid?”

Eli terdiam menatap ibunya. Tangannya meremas sprei kuat-kuat, alisnya mengerut dan bibirnya bergetar. Sementara itu senyum jumawa tergores di bibir ibunya. Ia lalu memeluk leher Eli.

“Aku bisa melihat ambisi di matamu. Jangan sok jual mahal, Elison Kim.” Bisik ibunya tepat di telinga Eli. Eli diam mematung di tempatnya. Matanya menatap lurus ke depan, tidak menatap apapun, hanya kehampaan yang ada di sana. Ia masih dalam posisi seperti itu sampai-sampai ia sudah tidak sadar – atau lebih tepatnya tidak memedulikan – ibunya yang meninggalkannya sendiri di kamar.

Fuck!”

===============

Seoul, South Korea

Drrrrttttt drrrrtttttt…

Jonghyun membuka matanya perlahan,lalu menutupnya kembali karena mengira bunyi itu hanya bagian dari mimpinya.

Drrrttttt drtttttt…

Jonghyun membuka matanya lagi dan menguceknya beberapa kali. Tangannya kemudian meraba-raba ke nakas di samping tempat tidurnya,mencari benda yang menimbulkan getar aneh yang sukses membangunkannya. Benda itu tidak lain dan tidak bukan adalah ponselnya sendiri.

Jonghyun menyipitkan matanya melihat nama penelepon yang tertera di layar. Ia berdeham beberapa kali untuk mejernihkan tenggorokannya yang tercekat sebelum akhirnya mengangkat panggilan itu.

“Yeoboseyo? Abonim?”

“Jonghyun-ah, kau baru bangun?” suara ayahnya Jonghyun terdengar lembut di ujung telepon. Jonghyun menggaruk pelan tengkuknya.

“Ne abonim. Waeyo?”

“Kau tidak tahu ini sudah jam 9?” tanya ayahnya, tampak terkejut apabila didengar dari nada suaranya. Jonghyun melirik ke arah jam dinding yang ada di seberang tempat tidurnya.

“Ne aku tahu ini sudah jam 9. Memangnya kenapa abonim?”

“Kau lupa kalau hari ini abonim mau ke apartemenmu jam 9? Bukannya kemarin kita sudah membuat janji? Abonim sudah di depan pintu.”

Seketika mata jonghyun membulat dan mulutnya menganga lebar. Ia menepuk dahinya berkali-kali.

“Aaaaaa jwesonghamnida abonim!! Aku benar-benar lupa! Tunggu sebentar!”

Jonghyun melempar ponselnya ke sembarang arah – tapi msh di tempat tidurnya karena ia juga tidak mau ponsel itu hancur – lalu ia lari tunggang langgang menuju ke arah pintu.

Klek!

Begitu pintu apartemen jonghyun terbuka, seorang lelaki paruh baya berpakaian rapi tersenyum ramah pada jonghyun. Ia adalah Kim Jongkook, ayah jonghyun yang meneleponnya barusan.

“Aigoo abonim jwesonghamnida..” jonghyun membungkuk dua kali. Sebelum ia membungkuk untuk yang ketiga kalinya, ayahnya menahan bahunya untuk tidak membungkuk lagi.

“Sudah sudah, tidak apa-apa Jonghyun-ah.”

“SIlakan masuk abonim..” Jonghyun mempersilakan ayahnya untuk masuk ke apartemen. Ayahnya tersenyum dan langsung merangkul bahu Jonghyun untuk mengajaknya masuk bersama.

“Kenapa baru bangun? Apa kau habis bersama dengan seorang wanita semalaman sampai kelelahan dan melupakan janji yang sudah kita buat? Hmm?” tanya ayahnya sembari mengerling jahil pada Jonghyun. Jonghyun mengerutkan alisnya.

“Aniyo! Mana mungkin aku begitu, abonim!” Sungut Jonghyun.

“Lalu kenapa bangun sesiang ini? Huh?”

“Tadi malam aku begadang mengerjakan tugas kuliah. Tugasnya sangat sulit menurutku, jadi aku perlu berhari-hari untuk mengerjakannya.”

Ayah Jonghyun mengangguk paham. Ia kemudian menggiring Jonghyun untuk duduk di sofa ruang tengah bersama dengan dirinya.

“Abonim, memangnya apa yang ingin dibicarakan denganku sampai-sampai abonim datang ke sini? Bukankah biasanya aku yang datang ke rumahmu?” tanya Jonghyun. Bukannya langsung menjawab, ayahnya malah tersenyum simpul dan mengacak rambut Jonghyun yang membuatnya terlihat semakin berantakan.

“Kau mandilah dulu. Aku akan memasak untukmu.” titah ayah Jonghyun.

“Tapi aku..”

“Berbincang dengan perut kosong itu tidak enak, Jonghyun-ah..” potong ayahnya lembut. Jonghyun menghela nafas, ia tidak punya pilihan lain selain menuruti apa yang diperintahkan oleh ayahnya. Jonghyun pun beranjak dengan langkah malas ke kamar mandi diikuti oleh senyum ayahnya.

===============

 

Suasana ruang makan itu hening, hanya ada suara sumpit dan sendok yang beradu dengan mangkuk nasi. Sesekali jonghyun mencuri pandang pada ayahnya, tapi yang dipandangi malah fokus dengan makanannya.

“Abonim..” panggil Jonghyun akhirnya. Ayahnya mendongak.

“Hmm?”

“Makanannya enak..” ucap Jonghyun datar sembari menatap lurus ayahnya.

Ayah Jonghyun tersenyum, kemudian tertawa pelan.

“Pasti kau ingin bertanya apa yang ingin kubicarakan denganmu kan?”

Jonghyun mengangguk tanpa suara. Ayahnya berdeham kecil, kemudian membenarkan posisi duduknya sebelum memulai pembicaraan.

“Jonghyun-ah, besok ibu dan saudara kembarmu, Kyeongjae, akan pulang ke korea.”

Klang!

Sontak Jonghyun melepas sendok yang sedari tadi ia pegang begitu ucapan ayahnya berakhir. Sebelah tangannya yang menggantung bebas di samping kursi terkepal kuat.

“Jonghyun, tenanglah…”

“Untuk apa mereka pulang, abonim?” potong Jonghyun dengan suara tertahan. Dan lagi-lagi ayah Jonghyun menghela nafas.

“Karena sesuatu hal. Sebenarnya aku ingin membicarakan hal ini ketika kita sudah lengkap berkumpul, tapi kupikir tidak ada salahnya untuk memberitahumu garis besarnya terlebih dahulu.”

“Hal? Hal apa?”

“ehmm..” ayah Jonghyun mengambil jeda. “Aku ingin salah satu dari kalian menikah sesegera mungkin.”

Jonghyun membulatkan matanya. “Mwo? Me..menikah?”

Ayah Jonghyun mengangguk mantap.

“Waeyo abonim? Kenapa harus sesegera mungkin?”

“Sesuai dengan tradisi keluarga kita, perusahaan harus diteruskan oleh anak cucu kita yang sudah menikah.”

“Tapi aku bahkan belum lulus kuliah dan.. Aku masih muda..” Jonghyun mencoba protes. Ayah Jonghyun memindah tempat duduknya ke sebelah Jonghyun, kemudian menatap Jonghyun dalam-dalam.

“Jonghyun.. Tolong jangan kecewakan aku.”

“Ta.. Tapi abonim.. Aku..”

“Kau tampan, baik, dan pintar. Kurasa banyak wanita yang bersedia menjadi istrimu.. Masa kau tidak punya calon satu pun?”

Jonghyun meneguk ludahnya dengan susah payah. Memang benar, aku tidak punya calon satu pun abonim.. Anakmu ini tidak populer, aku juga bukan idola dan tidak terlalu tampan. keluh Jonghyun dalam hati.

“Pernikahannya tidak akan dilaksanakan secara terburu-buru. Abonim akan menunggu sampai kau lulus kuliah, baru pernikahan akan dilaksanakan. Selama jangka waktu itu, kau bisa sambil mencari dan pendekatan dengan calon istrimu bukan?”

“……”

“Ini bukan perjodohan, jadi kau tidak usah khawatir dikatakan kuno atau kolot oleh teman-teman.”

Jonghyun menggaruk-garuk kepalanya. Ia bingung harus menanggapinya seperti apa. Sebenarnya ia bukan mempermasalahkan dijodohkan atau tidak dijodohkan, tapi lebih kepada kedatangan berita besar ini yang begitu mendadak untuknya.

Jonghyun kemudian menatap ayahnya yang juga sedang menunggu responnya. Selama beberapa saat tidak ada dari mereka yang buka suara, yang ada hanya acara saling tatap dalam diam.

Ayah Jonghyun tersenyum, kemudian tiba-tiba berdiri dan menepuk-nepuk bahu Jonghyun.

“Besok kau jemput Kyeongjae dan ibumu jam 10 di bandara.  Jangan sampai terlambat, ara?”

Jonghyun mendelik sinis begitu mendengar kata ‘jemput’. “Mereka kan bisa naik taksi, kenapa harus aku yang jemput?”

Ayah Jonghyun hanya menyunggingkan senyum penuh arti. Ia kemudian berjalan menuju ke arah pintu keluar, meninggalkan Jonghyun yang menekuk-nekuk wajahnya. Sebelum tangan ayahnya Jonghyun menggapai gagang pintu, ia membalikkan badan.

“Jonghyun-ah…”

Jonghyun menoleh dan mengangkat alisnya,tapi ia masih duduk di tempatnya.

“Kau pasti sudah mengenalku dengan baik. Tolong… Aku percaya padamu,nak.”

Kali ini alis Jonghyun mengerut. Ia bangkit dari duduknya, berniat mencegah ayahnya agar mau memberi penjelasan lebih banyak. Sayangnya ia kalah cepat, ayahnya sudah keburu meninggalkannya di apartemen itu.

“Tch! Kenapa harus aku yang menjemput mereka?”

===============

“Hoaeeehhmmm…”

Jonghyun menguap lebar ketika ia masuk ke kelas. Dengan langkah malas ia menuju ke tempat duduk yang biasa ia duduki di kelas itu. Tas yang ia sampirkan di bahu kanannya pun kini sudah mendarat mulus di atas meja beriringan dengan pantatnya yang menyentuh kursi (duh bahasanya thor -___-“).

“Ini baru jam 11.30. Kenapa jam segini sudah mengantuk? Kau begadang?”

Jonghyun menyenderkan tubuhnya di sandaran kursi, kemudian menoleh ke arah seorang yeoja yang bicara tadi. Yeoja itu duduk tepat di sebelahnya. Yeoja itu tidak menatap Jonghyun, melainkan sedang asik mencoret-coret  sebuah kertas.

“Kau tahu kan hubungan antara mata kuliah statistik advance dengan begadang itu seperti apa?” tanya Jonghyun dingin.

“Hmmm..” yeoja itu mengangguk, tapi masih dengan kegiatan coret-coretnya. “Hubungannya seperti orang yang sudah menikah. Terikat dan tak terpisahkan.”

“UHUK!!!”

Jonghyun tiba-tiba terbatuk – atau lebih tepatnya tersedak – begitu mendengar jawaban yeoja itu. Yeoja itu tak kalah terkejut. Ia pun menepuk-nepuk pundak Jonghyun pelan.

“Gwaenchana?”

Jonghyun mengangkat satu tangannya, sedangkan tangan yang satunya memukul pelan dadanya sendiri. “Ne, uhuk…! Gwaenchana.”

Yeoja itu menggaruk pelan tengkuknya, kebingungan melihat Jonghyun yang tiba-tiba batuk tanpa sebab yang jelas. Sedangkan Jonghyun, yang baru saja syok setelah ayahnya menyuruhnya cepat menikah dan mendadak batuk ketika mendengar kata ‘menikah’ dari mulut yeoja itu, tiba-tiba terlihat nelangsa. Jonghyun memutar sedikit tubuhnya sehingga ia dan yeoja itu berhadapan.

“Eunkyung-ah..”

“Ne?” sahut yeoja yang ternyata bernama Eunkyung itu. Jonghyun terdiam menatap yeoja itu lekat-lekat. Ia ingin sekali menceritakan apa yang dialaminya tadi pagi, setidaknya untuk meringankan beban yang tiba-tiba dilemparkan ke pundaknya oleh ayahnya. Tapi setelah berpikir berulang kali, Jonghyun mengurungkan niatnya.

“Apa yang kau gambar itu?” tunjuk Jonghyun pada kertas yang dicoret-coret Eunkyung. Ia berusaha mengalihkan perhatian dirinya sendiri agar tidak memikirkan masalah tadi pagi dengan ayahnya.

“Oh ini..” Eunkyung mengambil kertas itu dan menyerahkannya pada Jonghyun. “Ini sketsa wajah.”

Jong Hyun menerima kertas itu, kemudian senyuman tersungging di bibirnya. “Kau ini.. sudah pandai dalam pelajaran, dalam hal menggambar juga brilian. Seperti nyata..”

“Ckk.. kau bisa saja..”

“Siapa yang kau gambar ini?”

Eunkyung mengangkat alisnya. “Kau tidak mengenali itu gambar siapa?”

“Aniyo..” Jawab Jonghyun sambil terus mengagumi gambaran Eunkyung.

Eunkyung memijit pelipisnya, sementara jonghyun masih sibuk mengagumi gambar hasil karya eunkyung.

“Jonghyun-ah, kau benar-benar tidak mengenal siapa yang ada di dalam gmbr itu?”

“Aniyo.” Jawab Jonghyun seenteng sebelumnya. “Memangnya dia siapa?”

“Sini kembalikan kertas gambarku!” Eunkyung mengerucutkan bibirnya dan merebut kertas gambar itu dari tangan Jonghyun. Kali ini giliran Jonghyun yang terbingung-bingung.

“Ya! Kau kenapa?”

“Kau menyebalkan!” Eunkyung menatap Jonghyun kesal.

Aish.. Dia ini rabun atau bodoh? Jelas-jelas aku menggambar wajahnya, kenapa ia tidak mengenalinya? Ini wajahmuuuuu Jonghyun babo!

===============

“Eunkyung-ah..” panggil Jonghyun pada Eunkyung yang sedang asik menyantap makan siang di depannya. Saat ini mereka berdua sedang makan siang di kantin kampus, dan suasana di kantin itu sedang ramai-ramainya.

“Ne?” sahut Eunkyung.

“Kau mengerti apa yang dijelaskan oleh Shin Kyosunim tadi di kelas?”

“Ne, aku mengerti. Waeyo?”

“Ahhh..” Jonghyun meletakkan sumpitnya tanpa semangat. “Aku cuma mengerti secuil. Kau mau mengajariku?”

“Tentu saja..” jawab Eunkyung tanpa ragu. Jonghyun tersenyum lebar. Ia lalu menopangkan tangannya di atas meja dan menatap Eunkyung lekat-lekat. Tak lupa senyum manis tergambar di bibirnya.

“Waeyo? Kenapa melihatku seperti itu?” Eunkyung menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia mulai salah tingkah ditatap Jonghyun seperti itu.

“Ckckck.. Ada ya wanita yang sempurna sepertimu di dunia ini..”

“Mwo?” Eunkyung membelalakkan mata mendengar pernyataan Jonghyun.

“Sudah cantik, pandai, baik hati pula.”

“Jonghyun-ah, kau tidak sedang demam kan?” Eunkyung memegang dahi Jonghyun dengan telapak tangannya. Memastikan kalau suhu tubuh Jonghyun normal.

“Aniyo.. Aku tidak demam.” Jonghyun menepis lembut tangan Eunkyung. “Aku sungguh-sungguh.”

Wajah Eunkyung merona. Tapi ia berusaha agar tidak terlihat salah tingkah di depan Jonghyun. “Tidak biasanya kau memujiku seperti itu. Apa kau sedang stres?”

“Hahaha..” Jonghyun tiba-tiba terbahak. “Kenapa kau bisa tahu?”

Eunkyung menutup wajahnya dengan tangan. Astaga Eunkyung, kau sudah tahu akhirnya akan begini, kenapa tadi kau berharap Jonghyun bersungguh-sungguh memujimu?

“Memang benar, ada yang membuatku cukup stres..” Ucap Jonghyun, membuat Eunkyung yang sibuk dengan pikirannya menjadi buyar. Eunkyung semakin terkejut ketika Jonghyun tiba-tiba mengeluarkan ekspresi yang keruh di wajahnya, sangat jauh berbeda dengan senyumnya yang cerah beberapa detik yang lalu.

“Sepertinya masalah yang serius.” Tebak Eunkyung. Jonghyun mengangguk lemah.

“Orang yang paling kubenci di dunia ini, besok akan pulang ke Korea. Dan aku disuruh menjemputnya.”

“Apakah.. ibumu.. eh maksudku.. Tante Hyori?” tanya Eunkyung penuh kehati-hatian.

“Siapa lagi..” Jawab Jonghyun dingin. Ekspresi Jonghyun pun semakin keruh.

“Harusnya kau senang dia datang.” Ucap Eunkyung lembut. “Kalian kan sudah bertahun-tahun tidak bertemu.”

Jonghyun mendecih pelan, kemudian membuang mukanya. “Bukannya tadi kubilang dia adalah orang yang paling kubenci di dunia ini? Bagaimana mungkin aku senang kalau dia datang?”

Eunkyung tersenyum tipis. Melihat Jonghyun yang sedang emosi seperti ini, tiba-tiba sebuah ide terlintas di benaknya. Ia lantas mengambil telur gulung yang ada di piring Jonghyun dengan sumpitnya.

“Jonghyun-ah..” panggilnya. Jonghyun menoleh malas.

“Wae.. aahmmppff…” Begitu Jonghyun menoleh, Eunkyung langsung memasukkan telur dadar tadi  ke mulut Jonghyun. Eunkyung tidak dapat menahan tawanya melihat pipi Jonghyun yang tiba-tiba menggembung.

“Ya! Ungtung akhu tidhak therhsdhak..” protes Jonghyun dengan mulut penuh makanan. Ia kemudian mengunyah telur tadi sampai benar-benar habis, lalu setelah itu minum air. “Kau ini, kenapa malah tiba-tiba menyumpaliku begitu?”

“Besok mau kutemani menjemput mereka?” tanya Eunkyung tanpa memedulikan protes Jonghyun.

“Tidak usah. Sebaiknya kau tidak bertemu dengannya. Kau bisa disihirnya menjadi babi kalau.. Hamppphh… Uhuk.. uhuk.. ”

Dan kali ini Eunkyung memasukkan sepotong daging ke mulut Jonghyun. Eunkyung menutup mulutnya menahan tawa, sementara itu Jonghyun menepuk-nepuk dadanya karena tersedak.

Maaf Jonghyun, aku harus melakukan ini..

===============

To Be Continue….

 

As usual, kalau responnya bagus, author bakal lanjut ff ini ^^… hihihi 

52 responses to “My Wife, My Best Friend (PROLOG)

  1. Hehehehe si eli kmbar ama jjong*ngebayangin*
    maslah apa yah sbingga jjong bgtu membenci ibunya

  2. wahahaa beneran ngakak pas baca nama Kim Jongkook xD tadinya aku bacanya Kim Jongkok wkwkwk xD
    “Lagipula kau juga punya hak di perusahaan itu karena kau anak kandungnya!” -> pas baca itu aku kira si Jjong bakal jadi anak tiri, ehh gak taunya kembar yak .__.
    trus kenapa mereka hidup pisah-pisah gitu? ada masalah apa sebenernya diantara mereka? wahh penasaran bangeett dah >,<
    good job thor ^^

  3. huaaaaa….. udah lama aku ga baca ff bikinan eon…… terakhir baca yg child, itu juga udah lama banget kan -____- pas lagi iseng nyari nyari, ketemu ini ff ehh pas diliat married life lagi kesukaan aku(?) seruuuu eon, prolognya aja udah seru, udah mana castnya eli lagi *_* aku mau baca part 1nya dulu yaa eon~~~~ babay~~~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s