My Wife, My Best Friend (Part 1 – Competition)

 PROLOG

Title :  My Wife, My Bestfriend – Part 1

Author : Annisa a.k.a @Joonisa

Rating : PG 15

Genre : Married Life, Romance, Family, Friendship

Length : Chaptered

Cast : 

  • Kim Jong Hyun (SHINEE)
  • Kim Kyeong Jae / Elison Kim / Eli (U-KISS)
  • Lee Eun Kyung (OC/You)

Supported Cast:

  • Lee Jonghyun (CNBLUE) as Eun Kyung’s brother

Disclaimer  : The plot is mine.

Note:

Thanks to Park Kyung Jin yang udah bikinin poster bertema soft-hearted(?) begini XD..

===============

Jonghyun melipat tangannya di dada dan menghembuskan nafas panjang untuk yang kesekian kalinya. Para penjemput yang menunggu keluarga atau mungkin pasangan mereka pulang dari Amerika berkumpul tepat di belakang pagar pembatas, sementara Jonghyun malah memilih mengasingkan diri dari kumpulan itu dan bersender di tiang yang agak jauh. Sesekali Jonghyun memanjangkan lehernya, berharap dua orang yang ditunggunya sejak sejam yang lalu muncul dari pintu keluar.

“Apa pesawatnya delay? Ck!” Jonghyun berdecak sambil melihat ke arlojinya. Ia kembali menyender di tiang dan memasang tampang ‘bosan menunggu’.

“Wooaaaa siapa itu?”

“Kyaaaa~ dia tampan sekali!!!”

“Apa dia artis?”

“Sepertinya dia artis.. kyaaaaa~~~~~~~”

Jonghyun menoleh ke arah kumpulan penunggu jemputan yang berada paling dekat dengan tempatnya berdiri. Kumpulan yeoja itu tiba-tiba histeris dan berteriak-teriak yang membuat Jonghyun mengerutkan alis.

“Kyaaaa~~~ waaaa sangat tampaaan!!!”

Jonghyun menutup sebelah telinganya dan menjauh dari situ, mencari tempat yang lebih sepi. Baru beberapa langkah Jonghyun ingin meninggalkan tempat itu, tidak sengaja ia melihat seseorang yang familiar keluar dari pintu keluar terminal kedatangan. Jonghyun menghentikan langkah dan memicingkan mata. Seorang pria seumuran dirinya, berambut hitam asimetris, mengenakan kacamata hitam, dan memakai tindik di telinganya.

“Kyeongjae?” gumam Jonghyun. Tiba-tiba seorang yeoja yang berdiri di dekatnya menyenggol lengannya.

“Jadi nama namja itu Kyeongjae?”

“Ne?” tanya Jonghyun antara terkejut dan bingung.

“Whoaaaaa Kyeongjaeeeeeee!!!!”

Jonghyun spontan menutup telinganya dengan telapak tangan ketika yeoja yang bertanya padanya tadi berteriak bersama dengan beberapa orang teman sebayanya. Bahkan beberapa dari mereka – entah sengaja atau tidak – menabrak Jonghyun sampai Jonghyun limbung.

“Aish! Kenapa yeoja-yeoja ini begitu histeris? Dia itu Cuma seorang Kyeongjae, saudara kembarku, bukan artis!” omel Jonghyun tidak jelas. Sejurus kemudian Kyeongjae akhirnya melihat Jonghyun dan berjalan dengan kasual ke arahnya tanpa memedulikan yeoja-yeoja yang berteriak memanggil namanya. Kyeongjae tersenyum sekilas ke arah para yeoja itu, kemudian tatapannya beralih pada Jonghyun. Dengan gaya yang cool, ia membuka kacamatanya, membuat yeoja-yeoja yang sudah histeris bertambah histeris.

Long time no see, my bro..”

Jonghyun mendecih pelan, lalu mengeluarkan smirknya. Begitu pula dengan Kyeongjae, ia juga mengeluarkan smirk yang sama dengan Jonghyun. Kyeongjae kemudian mendekatkan bibirnya ke telinga Jonghyun.

“Apa kau yang memberitahu para yeoja ini kalau namaku Kyeongjae?” bisiknya di telinga Jonghyun.

“Ne. Wae? Namamu memang Kyeongjae kan?” tanya Jonghyun tanpa memelankan suaranya. Kyeongjae menggertakkan giginya menahan marah sambil memasang poker face seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Jonghyun memandang kesal saudara kembarnya itu.

“Aku tidak suka nama itu. Di Vegas aku biasa dipanggil Eli.” Jawab Kyeongjae, kali ini dengan suara pelan dan bukan dengan berbisik.

“Eli? Kenapa namamu seperti nama perempuan?” Jonghyun melipat tangannya di dada.

“Itu nama yang keren, brengsek!” Umpat Kyeongjae sambil mendorong kereta barangnya ke arah Jonghyun. “Bawakan barang-barangku!”

“Enak saja! Bawa saja sendiri! Kau tidak lumpuh kan?” Jonghyun mendorong balik kereta barang itu ke arah Kyeongjae.

“Ya! Kalian ini baru beberapa menit bertemu kenapa sudah bertengkar?”

Kyeongjae dan Jonghyun menoleh berbarengan ketika mendengar sebuah suara yang tidak asing untuk mereka berdua. Seorang wanita yang tidak lain dan tidak bukan adalah ibu dari mereka berdua sedang berjalan ke arah mereka berdua sambil mendorong kereta barang. Wanita itu mengenakan kacamata hitam dengan merek terkenal, sama seperti Kyeongjae. Ia tersenyum pada Jonghyun dan memeluk leher anaknya itu ketika ia tepat berada di depan Jonghyun.

“Apa kabar, Jonghyun-ah?”

Jonghyun tersenyum hambar tanpa membalas pelukan ibunya. “Kabarku baik. Bagaimana dengan Eom.. Eomma?”

Ibu Jonghyun melepas pelukannya. “Lebih baik dari terakhir kita bertemu. Kau bertambah tinggi ya..”

Senyum Jonghyun langsung pudar. Di benaknya langsung terlintas bagaimana ia terakhir kali bertemu dengan ibunya 11 tahun yang lalu.

“Appa.. di mana Eomma? Di mana Kyeongjae?”

“Mereka pergi.”

“Ke mana?”

“Las Vegas.”

“Apa itu jauh? Kapan mereka kembali?”

“Sangat.. jauh. Entahlah, berdoa saja semoga mereka kembali…”

“Jonghyun, tolong bawakan barang-barang Eomma ya.” Ucap ibunya, membuyarkan lamunan Jonghyun. Jonghyun menoleh ke arah troli yang dibawa ibunya dan ia takjub melihat barang bawaan ibunya yang sangat banyak. Jonghyun mencoba mendorong troli itu dengan susah payah, sementara ibunya melenggang dengan tenang di sebelahnya sambil memainkan Blackberry.

“Barang-barangku juga!” tunjuk Kyeongjae pada troli barangnya, kemudian melenggang pergi sambil menggoyang-goyangkan kunci mobil yang tergantung di jarinya. Jonghyun membelalakkan matanya begitu menyadari kalau kunci mobilnya diam-diam diambil oleh Kyeongjae.

“Ya!! Kapan kau mengambilnya!! Aishhhh!!!” Jonghyun mengacak rambutnya frustasi.

“Jonghyun, berhentilah mengeluh. Kyeongjae kelelahan karena menempuh perjalanan jauh, masa kau tidak mau membantunya?” bela ibunya pada Kyeongjae. Jonghyun memutar bola matanya tanpa bisa berbuat apa-apa.

“Lelah apanya? Jelas-jelas badannya lebih besar daripada aku!” Gerutu Jonghyun. Ia kemudian mendorong kedua kereta itu dengan lebih susah payah menuju ke tempat mobilnya diparkir dengan perasaan luar biasa dongkol.

“Hey, mobilmu yang mana?” tanya Kyeongjae kesal saat mereka bertiga sudah sampai di parkiran. Jonghyun yang terengah-engah  mengerutkan alisnya.

“Itu, yang lampunya menyala-nyala. Kau tadi habis menekan tombol pembuka kunci kan?” tunjuk Jonghyun pada sebuah mobil berwarna hitam yang tidak jauh dari tempat Kyeongjae berdiri. Mulut Kyeongjae menganga lebar melihat mobil yang disebut Jonghyun sebagai mobil pribadinya itu.

“Yang benar saja.. ini mobilmu?”

“Ne.” Jawab Jonghyun pendek. Ia terlalu sibuk mendorong troli.

“Kau memakai mobil BMW Jeep seperti ini? Bukan mobil sport?” tanya Kyeongjae setengah berteriak. Jonghyun menghentikan aktivitas mendorong trolinya, kemudian berkacak pinggang ke arah Kyeongjae.

“Iya, memangnya kenapa? Kau ini protes terus!”

“Seleramu benar-benar terlihat tolol!”

“Mwo?” Jonghyun melotot. “Kalau aku membawa mobil sport, barang-barang kalian yang sangat banyak ini tidak akan muat, tolol!”

KLANG!

Kyeongjae melempar kunci mobil Jonghyun dan jatuh tepat di depan kaki Jonghyun.

“Aku yang bawa barang-barang, kau yang menyetir! Mana mungkin aku menyetir mobil Jeep, imageku bisa hancur! Levelku adalah mobil sport, minimal Lamborghini seperti yang kupunya di rumah. Minggir! ” Kyeongjae mendorong Jonghyun dan mengambil alih troli. Jonghyun mengambil kunci mobilnya sambil menggigit bibir bawahnya.

“Hey, cepat buka bagasinya!” bentak Kyeongjae yang sudah mengangkat dua buah koper besar  di tangannya. Sementara ibunya masih autis dengan Blackberrynya. Jonghyun membuka bagasi sambil mengurut dadanya.

“Sabar Jonghyun.. sabaaarrr…”

===============

“Hi Dad! Upps maksudku Appa!” Kyeongjae melambaikan tangannya ketika melihat ayahnya yang berdiri di depan pintu. Ayahnya tersenyum lebar ketika menyambut Kyeongjae, namun senyumnya yang manis langsung sirna begitu melihat ibu dari anak-anaknya itu.

“Harusnya kau memberi salam dengan membungkuk kalau bertemu Appa, bukan melambaikan tangan seperti memanggil taksi!” Gumam Jonghyun yang berjalan di sebelah Kyeongjae, yang ia yakin Kyeongjae masih bisa mendengarnya.

“Ck.. aku kan terbiasa di Vegas!”

“Tapi kau tetap orang Korea, Kyeongjae!”

“Panggil aku Eli!”

“KYEONGJAE!”

“Hey YOU!” Tunjuk Kyeongjae – atau Eli – ke wajah Jonghyun. Ayahnya langsung merangkul mereka berdua untuk melerai.

“Hey hey!! Kalian berdua lapar kan? Sekarang sudah jam makan siang. Ayo kita makan bersama, Jonghyun, Kyeongjae..”

“Tolong panggil aku Eli, Appa. Jangan panggil aku Kyeongjae.”

“Hmm?” Ayahnya mengerutkan alis, sementara Jonghyun membuang muka. “Eli?”

“Namanya sudah berganti menjadi Elison Kim sejak ia pindah ke Vegas.” Timpal ibunya yang tiba-tiba sudah ada di sebelah Kyeongjae. Kyeongjae mengangguk-anggukkan kepala.

“Oh, baiklah. Eli…” ayahnya kemudian melirik ke arah Jonghyun. “Jonghyun, kau juga mau ganti nama?”

Jonghyun menggeleng sambil mendelik tajam pada Kyeongjae. “Aku menyukai nama yang orang tua kandungku berikan.”

“Jonghyun..” ayahnya menepuk pundak Jonghyun untuk menenangkannya. Jonghyun mengangkat alisnya santai, sementara Kyeongjae dan ibunya saling melirik penuh arti.

“Ayo kita makan. Tamu-tamu kita mungkin sudah lapar, Appa.”

Jonghyun melenggang santai ke arah meja makan, sementara Kyeongjae mengepalkan tangannya kuat-kuat.  Ayah dan ibunya yang melihat saudara kembar yang berkelahi itu hanya mendesah pelan.

===============

“Oppa! Makan siang sudah siaaaap!!” teriak Eunkyung dari arah dapur.

“Neee!”

Terdengar suara langkah kaki yang tergesa-gesa dari arah halaman. Eunkyung tersenyum ketika orang yang dipanggilnya kini sudah berada di depannya dan merangkulnya. Orang itu seorang pria yang bertubuh tinggi, tegap, dan berkulit putih sama seperti Eunkyung.

“Waaah.. sepertinya enak..” pria itu memejamkan mata dan mengendus aroma masakan Eunkyung. “Baunya saja sudah menggoda.”

“Oke, ayo kita makan!”

“Ne! Sini aku bantu membawanya..”

Pria itu membantu Eunkyung membawa mangkuk nasi untuk makan siang dan meletakkannya di atas meja makan sementara Eunkyung membawa lauknya. Pria itu duduk di lantai diikuti Eunkyung yang duduk di seberangnya.

“Uwaaa.. selamat makaaaan…”

“Selamat makan..”

Dua bersaudara itu pun makan dengan khidmat dan lahap. Mereka fokus pada makanan masing-masing.

“Eunkyung-ah..” Pria itu akhirnya buka suara setelah menghabiskan makanannya.

“Ne?”

“Bagaimana kuliahmu?”

“Baik-baik saja.” jawab Eunkyung sambil menganggukkan kepalanya.

“Nilai-nilaimu?”

“Semester kemarin A semua. Bukankah oppa sudah melihatnya?”

Pria itu menganggukkan kepalanya. “Jonghyun apa kabarnya?”

“Seperti biasa, dia baik-baik saja.”

“Apa dia juga tampan seperti biasanya?” pria itu mengerling ke arah Eunkyung. Eunkyung tertunduk, wajahnya merona.

“Aish.. oppa..”

“Hahahahaha…” pria itu tertawa. “Lebih tampan mana, Lee Jonghyun atau Kim Jonghyun?”

Eunkyung mengacungkan dua jempolnya ke arah pria itu. “Tentu saja oppaku Lee Jonghyun yang lebih tampan dan paling tampan di dunia ini! The best!”

Pria yang bernama Lee Jonghyun, yang tidak lain adalah kakak dari Eunkyung, tertawa semakin keras. Ia menempelkan kedua jempolnya ke kedua jempol Eunkyung.

“Aaah.. Kau memang adikku yang paling baik!”

“Kau juga kakakku yang paling baik, pintar, dan tampan! Yeyeyey!!!” mereka berdua ber-high five ria.

“Ah.. apa kau sudah berpacaran denga Jonghyun?”

Eunkyung berhenti melakukan high five. Ia menurunkan tangannya dan wajahnya tiba-tiba berubah menjadi lesu. Ia kemudian membereskan meja makan dan mengangkat semua piring kotor ke dapur tanpa sepatah kata pun. Jonghyun mengangkat kedua alisnya, bingung melihat perubahan drastis sikap adiknya itu.

“Ya! Kenapa kau jadi lemas begitu?” tanya Jonghyun sambil berjalan menyusul Eunkyung ke dapur. “Apa aku salah bicara?”

“Jangankan berpacaran, dia saja tidak tahu kalau aku menyukainya. Bahkan sketsa wajah yang sering kugambar pun dia tidak dapat menebaknya.” Sungut Eunkyung kesal.

“Kalau begitu katakan kalau kau menyukainya.”

“Mana mungkin..” Eunkyung menuangkan sabun cuci piring. “Aku malu mengatakannya. Oppa ini bagaimana sih?”

“Kalau begitu aku yang akan mengatakannya.” Ucap Jonghyun sambil membantu menggosok piring.

“Andwae!” potong Eunkyung cepat.

“Wae?”

“Biar dia yang menyatakannya duluan padaku.”

“Tapi kulihat kau sudah cinta mati padanya. Lagipula tidak ada salahnya kalau kau mengatakannya duluan. Asal kau bisa mencari waktu yang tepat!” Jonghyun mengetok kepala Eunkyung dengan jarinya yang tidak bersabun.

“Waktu yang tepat?” Eunkyung menelengkan kepalanya.

“Hmmm..” Jonghyun mengangguk.

“Waktu yang tepat itu waktu yang seperti apa?” tanya Eunkyung semakin penasaran.

“Misalnya ketika kalian sedang berbicara santai, atau saat sedang bercanda waktu makan siang..”

“Tapi nanti dia menganggapku tidak serius bagaimana?”

“Katakan dengan mimik wajah yang serius.” Jawab Jonghyun mantap. Eunkyung diam menatap Jonghyun, termenung meresapi jawaban kakaknya itu. Jonghyun tersenyum padanya, kemudian mengacak pelan rambut Eunkyung.

“Percayalah, Jonghyun akan sangat beruntung jika ia mendapatkanmu dan..”

“Dan?”

“Ia akan sangat menyesal jika menolakmu!”

“Oppa terlalu membangga-banggakan aku!” Eunkyung memukul pelan lengan Jonghyun. “Aku tidak sesempurna itu. Aku tidak cantik dan aku tidak kaya.”

Jonghyun melingkarkan lengannya di bahu Eunkyung. “Kim Jonghyun itu sudah kaya, untuk apa dia mencari gadis kaya? Dan kalau kau bilang kau tidak cantik, itu bohong!”

“Tsk..” Eunkyung memutar bola matanya.

“Ya! Coba kau lihat aku!” Jonghyun memutar badan Eunkyung agar menghadapnya.

“Ne?”

“Aku tampan kan? Kalau kakak laki-lakinya tampan, sudah pasti adik perempuannya cantik!”

Eunkyung mengerucutkan bibirnya, kemudian tersenyum tipis. “Seandainya Jonghyun yang mengatakan itu padaku..”

“Ya! Bukankah kakakmu ini bernama Jonghyun?”

===============

Di siang yang sama, di rumah yang berbeda dan dengan suasana yang 180 derajat berbeda pula. Bila di kediaman Lee bersaudara terjadi percakapan yang ramah, hangat, dan penuh tawa, tidak demikian halnya di kediaman keluarga Kim. Suasana yang tercipta begitu dingin, suram, dan penuh dengan ketegangan.

Sejak tadi di ruang makan itu hanya ada suara sumpit dan sendok yang beradu dengan piring. Kim Jongkook, sebagai ayah sekaligus kepala keluarga di rumah itu menatap Jonghyun dan Kyeongjae bergantian.

“Jonghyun, Eli..”

Jonghyun dan Kyeongjae – atau Eli – menoleh bersamaan ke arah ayahnya.

“Ne?”

Yes?”

“Kalian berdua tahu kan kenapa ayah memanggil Eli kembali ke Korea?”

Jonghyun dan Eli sepakat mengangguk. Entahlah, mungkin karena mereka anak kembar, jadi gerakan yang mereka lakukan sangat kompak.

“Untuk memperjuangkan apa yang sudah menjadi haknya.” Jawab Lee Hyori – ibu dari Jonghyun dan Eli mantap. Jonghyun menatap ibunya dari sudut matanya.

Lebih tepatnya untuk memperjuangkan harta! Batin Jonghyun.

“Ya. Benar sekali. Eli aku undang kembali ke Korea untuk memperjuangkan haknya, karena dia juga anakku yang akan meneruskan perusahaan yang telah kubangun 10 tahun terakhir. Bagaimana pun semakin lama aku semakin tua, aku membutuhkan anak sebagai penerus usaha yang telah kubangun susah payah dan…” Jongkook menghela nafas mengambil jeda, “Hampir tanpa dukungan siapapun.”

Tanpa seorang pun tahu, Jongkook yang duduk paling dekat dengan Jonghyun, menggenggam erat tangan Jonghyun di bawah meja. Awalnya Jonghyun terkejut karena ulah ayahnya itu, tapi begitu ia melihat mata ayahnya, ia mengerti kenapa ayahnya melakukan itu. Ia pun menggenggam tangan ayahnya lebih erat.

Saat itu hanya ada aku dan ayah. Satu-satunya suporter ayah saat itu adalah aku.. Batin Jonghyun.

“Tapi.. satu perusahaan tidak mungkin dipimpin oleh dua orang kan?” tanya Jongkook entah pada siapa.

“Tentu saja.” dengan santainya Eli menyahut.

“Oleh karena itu, aku ingin memberikan sayembara kecil untuk kalian berdua.”

“Sayembara?” tanya Jonghyun.

“Ne. Dan pemenangnya akan menjadi CEO dari Kim Corporation.”

“Lalu yang kalah?” tanya Jonghyun lagi.

“Yang kalah akan menjadi GM dari Kim Corporation.”

Jonghyun menghembuskan nafas lega, sementara Eli menatap ayahnya dengan alis berkerut.

So, sayembaranya apa?” tanya Eli.

Jongkook menghela nafas panjang, kemudian menghembuskannya pelan-pelan.

“Sayembaranya adalah…”

===============

@ Kim Jonghyun’s Apartement

“Arrgghhh…!!!”

Jonghyun menggosok-gosok wajahnya frustasi. Ia kemudian memukul-mukul bantalan sofa yang jelas-jelas tidak tahu apa-apa dengan sekuat tenaga. Seandainya bantalan sofa itu memiliki nyawa, ia pasti akan menggigit kepala Jonghyun(?).

“Gila! Michyeoooooo!!!!” Teriak Jonghyun lagi. Ia kemudian bergulung-gulung di lantai sambil menendang-nendangkan kakinya ke udara. “Kenapa aku bisa punya saudara kembar yang tidak waras seperti dia Tuhaaaan!!!!”

Jonghyun menutup wajahnya dengan bantal yang ia ‘hajar’ tadi. Kejadian saat makan siang di rumah ayahnya terulang lagi di benaknya.

Flashback

“Sayembaranya adalah…”

Jonghyun dan Eli melipat tangannya di dada. Menunggu dengan wajah santai.

“Siapa yang lebih dahulu menikah, dialah pemenangnya.”

“MWO?” Pekik Jonghyun

WHAT?” Pekik Eli.

“Yup. Siapa yang lebih dahulu menikah dengan wanita yang mencintainya dengan TULUS dan BUKAN KARENA UANG kalian, itulah yang akan jadi pemenangnya.”

Jonghyun mengeluarkan ekspresi seperti akan terkena serangan jantung, sementara Eli tersenyum-senyum sambil sesekali melirik ibunya.

“Batas waktu minimalnya adalah setelah Jonghyun menyelesaikan kuliahnya, kira-kira 9 bulan lagi. Jadi kalian boleh menikah minimal 9 bulan lagi. Bagaimana?”

“Apa? 9 bulan lagi?” tanya Jonghyun lemas.

“Appa, tidak bisakah dipercepat? Kenapa harus menunggu Jonghyun menyelesaikan kuliahnya?” Protes Eli diiringi lirikan sengitnya pada Jonghyun.

“Supaya sayembara ini adil. Kalian berdua harus sama-sama sudah menyelesaikan kuliah, baru mencari istri. Aku tahu kau sudah lulus kuliah di USA, maka dari itu supaya adil kita harus menunggu Jonghyun menyelesaikan kuliahnya.” Jawab Jongkook panjang lebar.

“Aku setuju.” Timpal Hyori.

Mom?” Eli sudah ingin protes lagi, tapi Hyori mengangkat telunjuknya ke wajah Eli.

“Aku sudah setuju dan kau jangan membantah!”

Eli mendengus kesal. Sementara Jonghyun menutup matanya. Nafasnya terasa berat untuk ditarik.

“Ck.. kenapa kau terlihat begitu nelangsa begitu? Tenang saja, masih ada waktu 9 bulan untuk mengalahkanku..” Eli terkekeh di sebelah Jonghyun. “Tapi sepertinya kau tidak mungkin mengalahkanku.”

“Mworago?” Jonghyun melotot ke arah Eli.

“Hey hey hey! Sadarlah!!” Eli mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah Jonghyun. “Aku jauuuuuuhhhh lebih baik daripada dirimu dalam segala hal!”

Jonghyun memijit pelipisnya dan mendesah. “Astaga.. kenapa kau sombong luar biasa Kim Kyeongjae?”

“Aku lulus cepat dengan GPA 3.9, tinggi, tampan, kaya, dan mempesona. Banyak wanita di luar sana yang memujaku bahkan rela mengantri untuk mendaftar jadi pacarku padahal aku bukan seorang artis. Aku hanya seorang pria yang PERFECT.”

“Sudah.. hentikan!” Jonghyun memijit pelipisnya semakin keras.

“Sekarang kutanya, kau punya pacar berapa orang?”

“Mwo? Berapa.. orang?”

“Cih.. biar kutebak, kau bahkan tidak punya satu pun kan? HAHAHAHAHA….” Eli tertawa dengan bahagianya, sementara wajah Jonghyun semakin pucat. “Coba kau tanya pada mom, berapa jumlah pacarku!”

“Appa, aku permisi. Aku sudah tidak tahan!” Jonghyun sudah ingin pergi meninggalkan meja makan itu, tapi Jongkook – ayahnya –  menahan tangannya.

“Mau ke mana?”

“Pulang. Aku mau muntah!”

Flashback End

Jonghyun menutup wajahnya dengan telapak tangan. Ia terbaring lemah di atas lantai dengan bantai-bantal sofa yang berantakan.

TING! TONG!

Jonghyun berdiri dengan lemas dan menekan tombol interkom untuk melihat siapa yang memencet bel. Ia kemudian membukakan pintu begitu melihat ayahnya yang tersenyum di kamera interkom.

KLEK!

“OMO! Kenapa apartemenmu berantakan sekali?” tanya ayahnya terkejut begitu melihat bantalan sofa yang sudah terlempar kesana kemari. Jonghyun menggaruk-garuk kepalanya.

“Aku muak dengan Kyeongjae. Makanya aku melampiaskan semuanya dengan menghajar bantal-bantal ini.”

“Ahhh~” ayahnya duduk di atas sofa. “Karena itulah aku datang ke sini.”

“Ne?” Jonghyun ikut duduk di sebelah ayahnya.

“Aku datang ke sini karena dua hal.”

Jonghyun menegakkan badannya, menyimak apa yang akan dikatakan ayahnya.

“Pertama… aku ingin kau tinggal di rumahku.”

Jonghyun terkesiap. “Ne?”

“Aku tahu kau ingin mandiri.” Ayahnya menepuk-nepuk bahu Jonghyun. “Tapi aku tidak ingin tinggal sendirian di rumah sebesar itu bersama dengan ibu dan saudaramu. Kau tidak tega kan melihat Appa tinggal sendirian bersama dengan dua orang itu?”

Jonghyun diam, berpikir.

“Appa mohon, untuk menemani Appa. Demi Appa.”

Jonghyun menunduk, lalu mendongak lagi untuk menatap Appanya. “Ne. Aku akan tinggal bersama Appa. Lalu yang kedua?”

“Yang kedua..” ayahnya mengambil jeda dan menatap Jonghyun dalam-dalam. “Aku ingin membuatmu menang dalam sayembara ini.”

Jonghyun terhenyak. “Itulah Appa.. aku tidak yakin akan menang dalam sayembara ini. Kyeongjae jau lebih kompeten dibandingkan aku dalam hal akademis dan wanita.”

“Tapi aku sebagai Appamu hanya bisa memercayakan perusahaan itu padamu, Kim Jonghyun. Kau yang selama ini selalu mendukung ayah, kau tidak pernah meninggalkan Appa ketika saudara kembarmu dan Eommamu meninggalkan Appa ketika Appa bangkrut..”

Mata Jonghyun berkaca-kaca, begitu pula ayahnya yang bahkan sudah terisak.

“Bagaimana mungkin aku memercayakan usaha yang sudah kurintis dengan susah payah pada orang yang tidak setia padaku dan hanya dekat padaku karena uang?”

Jonghyun tertunduk, air matanya menetes perlahan-lahan.

“Karena aku tidak ingin disebut sebagai Appa yang tidak adil, makanya aku juga melibatkan Kyeongjae. Tapi dari lubuk hatiku yang paling dalam, aku ingin kau yang menang sekalipun Kyeongjae nomer satu dalam berbagai hal…”

“Tapi Appa, di kampus aku hanya seorang mahasiswa biasa yang sama sekali tidak populer. Aku bahkan tidak pernah jatuh cinta. Bagaimana mungkin dalam waktu 9 bulan aku bisa mendapatkan istri?”

Ayahnya menepuk bahu Jonghyun lebih keras. “KAU HARUS BISA!”

===============

Besoknya, at Campus

“Ya! Kau kenapa?” Eunkyung mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah Jonghyun. “Kulihat sejak tadi pagi wajahmu ditekuk terus..”

“Aku stres..” jawab Jonghyun lemas. Ia juga menyuap makan siangnya dengan lemas tanpa semangat. “Aku disuruh mencari seorang istri hanya dalam waktu 9 bulan.”

“MWO?” Eunkyung memekik, membuat seisi kantin melihat ke arahnya. Ia kemudian menggaruk tengkuknya, salah tingkah.

“Bagaimana bisa? Memangnya ada masalah apa sampai-sampai kau harus mencari seorang istri dalam waktu 9 bulan?” tanya Eunkyung panik, tapi dengan nada berbisik.

Jonghyun menarik nafas panjang, lalu menceritakan sayembara yang dibuat oleh ayahnya dengan lengkap tanpa kurang sedikit pun. Ia juga menceritakan Kyeongjae sebagai pesaing terberatnya beserta kompetensi yang dimiliki Kyeongjae yang membuat Jonghyun mual memikirkannya.

“Ooh.. begitu..” lirih Eunkyung.

“Maukah kau membantuku?”

“Ne?”

“Kau punya saran? Atau kau punya kandidat wanita yang cocok untuk menjadi istriku? Atau kau tahu seorang wanita yang diam-diam naksir padaku tanpa seorang pun yang tahu?” tanya Jonghyun dengan wajah hopeless.

“Enggg…” Eunkyung menggigit bibirnya.

“Ah sudahlah, lupakan..” Jonghyun menyuap kembali makanannya. “Pasti permintaanku terlalu sulit. Jawabannya pasti tidak ada kan..”

“Kurasa aku bisa membantu..”

Jonghyun menoleh cepat ke arah Eunkyung. “Hah? Jinjja?”

“Kurasa untuk kandidat yang terakhir, aku tahu siapa yang bisa membantumu.”

“Maksudmu wanita yang diam-diam naksir padaku tanpa seorang pun yang tahu?” Jonghyun membulatkan matanya. Eunkyung mengangguk pelan.

“Jinjja? Wah.. siapa? Siapa orang itu Eunkyung?” Jonghyun mengguncang-guncang bahu Eunkyung.

“Orang itu…”

Jonghyun menggigit bibir bawahnya, menunggu dengan penuh harapan.

“Aku.”

Jonghyun tercenung, mulutnya sedikit menganga. “Mwo? Kau?”

“Ne. Aku…” jawab Eunkyung ragu-ragu.

“Kau? Orang itu.. KAU?”

To Be Continue..

Nah loooooooo >o< Eunkyung nembaaakkk… wahahaha.. kira-kira apa jawaban Jonghyun yah? Heuheuheu… gimana kelanjutan sayembara itu yah? Deng deng deng…

Komen komeeeen ^^ *tebar bias* *tebar bling bling* XD

Buat yang udah komen di part sebelumnya makasih banget ^^ komennya sesuai harapan dan target XDXD..

118 responses to “My Wife, My Best Friend (Part 1 – Competition)

  1. akakkak ciee akhirnya eunkyung bilang itu jugaaa XD bisa kebayang itu ekspresinya jonghyun xD kkkkkk
    btw, kok sifatnya eli gitu banget yak? ==’ ada apa itu eli-jonghyun? Hmm…

  2. wakakakakak beneran ini kocaknya dapet banget banget lah.. mau tau thor dimana aja bagian yang kocak? semuanya! disetiap bagian! tersebar dimana-mana *acung jempol* xD
    waktu si eomma bilang “Kau bertambah tinggi ya” senyum Jjong langsung pudar, kirain pudar gegara ngebahas tinggi badan wkwk
    gak akurnya si Jjong sama Eli juga dapet banget.. kocak abiss
    whut?! jjong disuruh tinggal dirumah appa nya dan serumah sama si Eli? wkwk bakal seru nih kayaknya xD *sabar yak Jjong kkkk~*
    eciiieeeee si Jjong di tembak akakak >,< gak jantan nih ah si Jjong masa cewe yg nembak ckck -_-V
    tapi kok reaksinya si Jjong berlebihan gitu yak *jitak Jjong* apa bakal gak diterima? eh? .__.
    good job thor ^^

  3. Hallo eon~~~~ ketemu lagi nih xD ahh keren ceritanya~~~ ternyata ibunya sama eli tuh ninggalin ayahnya pas lg bangkrut toh makanya si jonghyun benci sm mereka….. Seru seru, kira2 siapa duluan nih yg dapet istri…. Aku mau baca part 2nya dulu deh~~~ babay eon

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s