Triangle Love – Part 1

posterTL1

Annyeong^^
ini FF pertamaku:) Dibaca ya xD dan jangan lupa komen & like ya setelah baca~ 😀 Maaf kalau ada kesalahan dalam FF ini~ maklum masih rookie hehehe ^^v 

Title: Triangle Love
Author: puwakantiw (@pacarONEW)
Genre: Romance,Friendship
Rating:PG-14
Cast:

  • Lee JinKi/Onew SHINee as Onew(JinKi)
  • Tiffany SNSD as Fany
  • Luna f(x) as Luna
  • Kyuhyun SJ as Kyuhyun-seonsaengnim

Length: Short Story
Disclaimer: The Cast aren’t mine. But the plot is.

*****

“Aku adalah sahabatnya.

Salahkah bila aku menyimpan perasaan ini padanya?”

“Jika aku memberitahunya sekarang,

Akankah persahabatan kita akan berakhir?”

“Aku tahu, aku tidak pantas.

Tapi.. hati ini tetap saja tidak bisa dibohongi,

Bolehkah aku mencintainya, walau hanya sekali saja?”

~Triangle Love part 1~

Author POV

“Jinki..”

“…”

“Jinki!”

“…”

“LEE JINKI!!!!!”

Jinki terbangun dari lamunannya.  Buru-buru ia mengerjap sebelum Fany meneriaki namanya lagi. “Eh??? Iya?? Ada apa Fany?”

Fany mendengus kesal. “Huh, kau ini, melamun saja. Apa yang sedang kau pikirkan, sih?”
Jinki tersenyum, memamerkan sederet gigi putihnya. “Tidak ada yang aku pikirkan. Tadi ada apa?”

 

“Kudengar.. akan ada murid baru disekolah ini,” ucap Tiffany sambil menyuruput soda-nya.

“Oh ya? Kau tahu dari mana?” Tanya Jinki sambil mengaduk-aduk jus yang ada dihadapannya.

Tiffany dan Jinki sudah lama bersahabat. Dari SMP, mereka sudah saling mengenal dan bersahabat. Mereka saling mengenal karena orang tua mereka. Ayah Fany merupakan teman ayah Jinki, mereka juga sudah saling mengenal sejak lama. Fany sebenarnya lahir di Amerika, tetapi karena pekerjaan Ayahnya, ia sekeluarga pindah ke Korea. Karena ayah Fany belum pernah ke Korea, ia meminta bantuan ayah Jinki.

Tiffany kembali menyeruput soda dihadapannya. “Banyak yang sudah mengetahui hal itu, kau tidak mengetahuinya, huh?”

Jinki menggeleng. “Makanya, jangan keseringan melamun” celetuk Fany.

Mendengar perkataan Fany, ia berhenti meminum Jus Jeruknya. “Ya!!” seru Jinki, lalu ia menjitak Fany. Tentu saja ia tidak menjitaknya dengan keras. Jika ia melakukannya, pasti Fany akan membalasnya lebih parah lagi.

“Aw!” Fany meringis sambil memegangi keningnya, karena tidak ingin kalah, Fany menjitak Jinki dengan lumayan keras.

Sekarang gantian Jinki yang meringis kesakitan sambil memegang kening. “Fany!!”

Tapi sebelum Jinki sempat membalas, Fany buru-buru kabur. Ia  berlari sambil tertawa dan melihat kearah belakang, takut Jinki lebih cepat darinya.

“Fany!” Jinki memanggil namanya. Tapi Fany heran kenapa ia berhenti begitu saja. Mungkin Jinki menyerah? Pikir Fany. Ia tertawa geli melihat sifat Jinki yang sangat pengecut itu. Fany ingin menghadap kedepan lagi tapi…

Jinki POV

 

“FANY AW—“ belum sempat aku memperingati Fany, ia sudah jatuh menabrak seseorang. Dasar yeoja satu ini. Padahal tadi aku sudah menyuruhnya berhenti. Tapi sepertinya ia malah meledekku karena aku berhenti mengejarnya.

Aku segera berlari kearah mereka berdua—Fany dan orang yang ia tabrak.

Told ya!” kataku sambil membantunya berdiri. Ia meringis kesakitan. Sepertinya ini lebih sakit daripada jitakanku tadi.

“Ah, Jinki, Tanganku….” ringisnya sambil memperlihatkan tangannya yang terluka. Aku tidak tahu harus berbuat apa, karena orang yang ditabrak Fany pun kini sedang meringis kesakitan. Aku menenangkannya. Kini aku sedang membawa Fany ke UKS, dibuntuti oleh orang yang Fany tabrak, untung saja ia bisa jalan sendiri, tidak seperti Fany yang kini sedang aku tuntun jalannya. Tapi, siapa orang ini? Kenapa kelihatannya asing sekali. Kalaupun murid disekolah ini, kenapa ia tidak memakai seragam?

Ketika sampai di UKS, aku tidak memakan waktu. Langsung saja aku menyuruh petugas disana untuk mengobati kedua perempuan itu. Aku sedang menunggu diruang tunggu. Aku bisa mendengar Fany meringis kesakitan. Dasar anak manja, padahal tadi ia hanya menderita luka kecil.

Setelah mereka selesai diobati, aku segera menemui mereka.

Bau obat merah dan betadine dapat tercium di hidungku. Haha, kulihat Fany sedang meniup-niup lukanya yang baru saja diberi obat merah oleh petugas UKS.

“Hahaha..” aku tertawa melihat Fany yang terlihat masih sangat kesakitan.

Mendengar tawaku, ia justru malah memukul lenganku. “Ya!”

“Ya!! Kenapa kau memukulku!?” ucapku tidak terima.

Dia mendengus kesal. “Kau baru saja tertawa diatas penderitaan orang lain, tahu!”

“Dan kau baru saja menabrak orang lain dan membuatnya terluka, tahu?”

“Astaga!” dia memukul keningnya. “Dia sekarang ada dimana?”

Aku menunjuk ke kasur sebelah. Fany langsung bangkit dari kasur tanpa memperdulikan luka-lukanya. Sepertinya ia merasa sangat bersalah sekali. Aku membuntuti Fany yang berjalan kearah perempuan yang ditabraknya. Fany juga terlihat asing dengan orang ini.

“Umm, namamu siapa?” tanya Fany sedikit ragu.

“Luna…”

Fany POV

 

“Oh.. jadi kau murid baru disekolah ini, pantas saja aku tidak pernah melihatmu,” ucapku sambil mengangguk mengerti ketika Luna—orang yang aku tabrak beberapa saat yang lalu—menceritakan tentang dirinya yang akan resmi menjadi murid disekolahku.

Luna tersenyum. “Baiklah kalau begitu, aku ingin pergi ke kantor kepala sekolah dulu, senang bertemu kalian” kata Luna lalu bangkit dari kasur dan pergi meninggalkan aku dan Jinki di UKS.

Aku melihat Luna yang semakin lama semakin jauh, dan akhirnya menghilang.

—-

“Dia itu sepertinya pemalu, ya..” Jinki bergumam sendiri.

Aku menoleh bingung kearahnya. “Maksudmu… Luna?” tanyaku pada Jinki. Jinki hanya mengangguk kecil.

“Yaa.. tadi saja kau hanya mengobrol sebentar dengannya” kata Jinki sambil membenarkan tasnya.

Sepuluh menit lagi kelas dimulai. Jika kami tidak cepat, maka kami akan terlambat masuk kelas. Dan parahnya, sekarang adalah kelas Kyuhyun-seonsaengnim. Beliau adalah guru Matematika kami, yang sangat sangatlah kejam dan menyebalkan. Terlambat satu detik saja, dia akan memberikan kami kultum dan tentu saja berakhir dengan hukuman yang berat. Seperti membersihkan seluruh toilet sekolah, berdiri dibawah tiang bendera ditengah teriknya matahari selama jam pelajarannya. Aku pernah sekali dihukum olehnya untuk membersihkan toilet. Semenjak itu, aku tidak mau melanggar peraturannya lagi!

Aku tidak merespon perkataan Jinki, karena… astaga! Lima menit lagi. Sedangkan jarak UKS ke kelas kami lumayan jauh.

“Jinki, kau bisa berjalan lebih cepat, kan?? Sekarang adalah jam si killer itu!” tanyaku sambil mulai berlari.

Jinki juga tidak merespon pertanyaanku, ia malah berlari melewatiku. Sialan. Aku pun langsung melesat kedepan. Tapi tetap saja Jinki unggul didepanku. Curang, dia seorang laki-laki, tentu saja akan menang dalam perlombaan—bodoh— lari seperti ini, tenaganya lebih besar dan kakinya lebih panjang daripada kakiku.

Setelah berlari-lari, akhirnya kami sampai juga didepan kelas—dengan terlambat lima menit. Aku dan Jinki tidak berani mengetuk pintunya karena didalam sudah terdengar suara Kyuhyun-seonsaengnim.

“Siapa diluar?” kini sepertinya Kyuhyun-seonsaengnim berbicara kepada kami.

Sedangkan kami hanya berdiri dan bergeming.

Dapat kudengar langkah kaki Kyuhyun-seonsaengnim mendekat kearah kami. Aku dan Jinki makin salah tingkah. Toilet-toilet busuk itu sudah menunggu untuk kami bersihkan. Sial! Padahal aku baru beli parfum baru. Tapi harus ternodai oleh bau toilet yang sangat busuk, apalagi toilet pria. Untung saja aku tidak pernah memakai toilet sekolah, karena kondisinya mengerikan.

Kreek…

Pintu dibuka. Dan sosok itu muncul. “Wah.. Tuan Lee dan Nyonya Hwang..” dia menatap kami berdua. Sedangkan kami tidak berani menatap wajahnya walaupun hanya sekali.

“Kalian tahu kan, terlambat itu dilarang?” tanyanya dingin. Aku dan Jinki masih diam, tidak menjawab pertanyaannya. “Tahu, kan??” ia menegaskan. Dasar, guru yang satu ini memang senang sekali memaksa.

“N..ne” jawab kami dengan susah payah.

Kyuhyun-seonsaengnim menangguk senang mendengar jawaban kami. “Lalu, tunggu apalagi?”

Sial! Aku dari awal memang sudah tahu ia akan mengatakan itu. Tanpa disuruh lagi, kami balik badan dan segera menuju ke gudang untuk mengambil peralatan seperti pel, pewangi, dan ember. Untung saja aku tidak dihukum sendiri, karena akan terasa lebih berat jika harus membersihkan seluruh  kamar mandi seorang diri.

Author POV

 

Jinki dan Fany kini tengah membersihkan kamar mandi, awalnya mereka membagi dua pekerjaan mereka. Jinki yang membersihkan toilet pria—karena ia seorang pria—dan Fany yang membersihkan toilet wanita. Tapi Jinki selalu mengeluh karena toilet pria sangat amatlah mengerikan, jadi mereka sepakat untuk membersihkan toilet bersama-sama.

“Jinki..” panggil Fany yang masih fokus dengan pekerjaannya, mengepel lantai kamar mandi.

Jinki menghentikan pekerjaannya sebentar, menoleh kearah Fany. “Ada apa? Jangan bilang kau ingin aku yang mengepel!” kata Jinki disertai tawa kecil.

Fany tersenyum. “Tidak terasa ya, kita sudah kelas tiga.”

Jinki terdiam. Kenapa Fany berkata begitu, batinnya.

Memang benar, mereka baru saja memasuki kelas tiga. Mereka akan disibukkan oleh ujian sekolah. Sehingga waktu bersama mereka akan menjadi lebih sedikit. Dan jika mereka lulus SMA, tentu saja mereka akan sulit untu berkomunikasi, dikarenakan kampus yang berbeda. Fany memang tidak ingin berpisah dengan Jinki. Persahabatan mereka akan genap menjadi yang keenam tahun bulan depan. Saat semester dua dimulai.

“Kenapa diam? Apa kau tidak menyadarinya, huh?” ucap Fany dengan nada kesal.

Jinki tersenyum mendekati Fany. “Sebaiknya kau jangan memikirkan itu dulu, karena sebentar lagi istirahat. Dan.. jika pekerjaan kita tidak selesai juga, kau tahu apa yang akan si killer itu lakukan, bukan?”

Fany mengangguk lemas. Jinki memang tidak pernah mengerti perasaannya. Fany kembali pada pekerjaannya.

Diam-diam Jinki memandangi Fany.

Memang sebentar lagi kita akan berpisah, sahabatku..

Dan aku belum sempat memberitahu yang sebenarnya

 

 

To be continued…

27 responses to “Triangle Love – Part 1

  1. Pingback: One Year Later part 1 | FFindo·

  2. Ahhh
    ad tiffany dan onew nih,,,
    znenk gue dngan mreka brdua,,,
    pnazaran dngn critany nih,,
    #lanjutkan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s