Happily Ever After (Ch.3)

Happily Ever After

Title : Happily Ever After

Author : zeya

Genre : angst, romance, hurt, friendship

Rating : G | PG-13

Length : Chaptered

Cast (Main) :

Kim Jonghyun | Jonghyun (18)

Jung Sooyeon | Jessica (19)

Lee Sunhye | Hye (18)

Yoon Jisun | Jisun (18)

Lee Taemin | Taemin (18)

Disclaimer : I do not own characters on this fanfic except Lee Sunhye. Do not plagiarize or copying without my permission.

A/N : Diharapkan maklum dengan cerita ini. Beberapa dari kejadian nyata, beberapa rekayasa dengan sempilan kisah nyata. Semoga suka ^^

 

The first thing that I would do is thank God because He made you, the one that I loved, and the one who hurted me… – zeya

CHAPTER III

“Mencintai itu tidak salah. Terlalu mencintai itu salah.” – Yoon Jisun, Happily Ever After

Entah mengapa, aku masih merasa ada yang aneh semenjak aku berpacaran dengan Kim Jonghyun. Aku tidak tau apa, tapi aku merasa aneh.

“Ya! Cerewet!” panggilnya saat aku berjalan keluar kelas. Anak ini tidak berubah, pikirku.

“Apa pria sok ganteng?” tanyaku padanya. Ia merangkulku.

“Walaupun sok ganteng, kau tetap menyukaiku kan?” godanya. Kepedean sekali, pikirku.

“Walaupun aku cerewet, kau mau juga!” balasku. Ia tertawa. Tuhan, biarkan ini seperti ini saja. Tidak berubah.

==

“Lee Sunhye?” aku berbalik saat mendengar suara memanggilku. Seorang gadis muncul didepanku, siapa dia?

“Ne, aku. Maaf, tapi…”

“Choi Jineul. Pacar Lee Jungshin.” Aku membuka mulutku dan mengatupkannya. “Bisa kita berbicara?” ada apa ini?

“Tentu. Ada apa, Jineul-ssi?” tanyaku sedikit formal. Ia tersenyum.

“Apa benar kau berpacaran dengan Kim Jonghyun?” beritanya sudah menyebar sampai SMA, batinku tidak percaya.

“N-ne.. Itu benar. Memangnya kenapa?” terbersit rasa khawatir dalam diriku, entah apa itu.

“Kau pasti.. Mengenal Jessica Jung bukan?” nama itu…

“Ne. Mantan kekasih Jonghyun.” Jawabku. Nada suaraku kali ini datar, tanpa ekspresi.

“Dia hampir bunuh diri saat mengetahui hubungan kalian.” Badanku lemas. Hal yang paling kutakutkan benar-benar terjadi.

“Bicaralah pada Jonghyun mengenai masalah ini.” Aku beranjak berdiri. “Aku tidak berurusan dengan masa lalu Jonghyun dengan Jessica, Jineul-ssi. Jikalau anda ingin berkata aku egois tidak apa, tapi, hubungan yang aku jalani dengan Jonghyun bukan semata-mata untuk menyiksa Jessica.” Aku membuat benteng pertahanan lemahku lagi. Mencoba untuk tidak menangis.

“Geundae, Sunhye-ssi…” aku tersenyum simpul.

“Awalnya, aku selalu berpikir Jjongie mempermainkanku, karena aku tau ia mencintai Jessica. Tapi, disaat aku percaya padanya, kenapa semuanya harus direnggut? Kalau memang Jessica dan Jonghyun saling mencintai, mereka berdua tidak akan berpisah seperti ini. Aku tidak egois. Aku tidak bersalah.” Aku bisa merasakan Jineul terkejut melihatku yang tidak menangis atau apapun, tapi sejujurnya, aku ingin menangis.

“Hey, Sun… Hye..” Jisun terhenti saat melihatku saling berpandangan dengan Jineul. “Ada apa ini?”

“Sunhye-ssi, Jessica masih mencintai Jonghyun, ia berkata begitu padaku tadi malam.” Pertahananku roboh.

“Kalau dia mencintai Jonghyun, ia tidak akan meninggalkan Jonghyun seperti itu.” Bisikku parau. Aku keluar dari kelas, mencoba bersikap santai.

“Kau menangis.” Thunder? Aku berbalik.

“Cheundoong-ah..” ia tersenyum padaku. Aku terkekeh.

“Ada apa?” tanyanya. Aku dan dia berjalan bersampingan di koridor.

“Tidak ada.” Dustaku. Ia tertawa kecil.

“Masih saja sama dari dulu..” Dia ingat?! “Seandainya…”

“Apa?” tanyaku, penasaran.

“Seandainya dulu aku menyatakan perasaanku lebih dulu dari Kim Jonghyun itu, akankah kau menerimaku, Sunhye?” tanyanya. Aku tertegun, dan membalasnya dengan senyuman.

“Mungkin karena aku lelah menunggumu makanya aku menerima Kim Jonghyun. 3 tahun itu sudah cukup kan?” ujarku padanya.

“4 tahun itu lebih lama Sunhye.” Aku terdiam.

“E-Empat tahun?” tanyaku. Ia mengangguk.

“Aku menyukaimu semenjak kita bertemu di bimbingan belajar saat kelas 3 SMP. Yang pendiam tapi cerewet.” Ia mencubit pipiku gemas. Aku tertawa.

“Gomawo.” Ujarku. Tulus padanya. Aku rindu saat-saat seperti ini, Tuhan.

==

“Ciyee, yang tadi sama Thunder.” Jonghyun tiba-tiba merangkulku. Aku terkekeh.

“Kau cemburu?” godaku. Ia mengangguk.

“Tentu saja! Kau kan kekasihku!” kata-kata itu pahit. Terbayang lagi dibenakku kata-kata Jineul. Aku terhenyak.

“Cih..” jawabku. Handphone Jonghyun berdering.

“Chankaman.” Ia mengangkatnya. “Sica?” ia berjalan menjauh dariku. Aku berpura-pura untuk tersenyum kecil dan duduk dikursi depan kelas. Tanganku gemetar. Masih bisa terdengar pembicaraan mereka.

“Aku.. Aku.. Aku tidak tau, Jess….. Aku mengerti!…. Kita sudah berakhir…. Mengertilah Jessica….. Aku akan menghubungimu nanti…. Na do.” Aku berlari meninggalkan Jonghyun. Hari 5 kami jadian, dan aku merasakan pahitnya.

Rumahku kosong saat aku sampai, tampaknya orangtuaku menjemput abangku di bandara. Aku berjalan naik kekamarku dan menjatuhkan diriku dikasur yang empuk.

“Na.. Do? Apa artinya?” Aku menatap langit-langit kamarku, mencoba mendapatkan jawaban. Tapi hasilnya nihil.

Drrtt.. Drrt..

Aku mengambil handphoneku, dan segera mengangkat telepon dari Jonghyun. “Yeoboseyo?” sapaku, sedikit malas.

“Ya! Jelek sekali suaranya. Hey, bisakah kau loudspeaker panggilan ini?” tanyanya. Tumben, pikirku.

“Ada apa memangnya?” tanyaku padanya.

“Sudah, lakukan saja..” katanya padaku. Segera kulakukan kemauannya, lalu terdengar petikan gitar (np : Just The Way You Are – Bruno Mars)

When I see your face, there’s not a thing that I would change

My girlfriend the prettiest, yes she really is

And when she smiles, the whole world stop and I stared for a while

You are the prettiest, just the way you are

Aku tersenyum saat mendengarnya bernyanyi lirik yang sama berulang-ulang dengan gitarnya. Masih sambil mendengar suaranya, aku berjalan menuju tempat pianoku dan membuka kapnya.

“Apa yang sedang kau lakukan?” tanyanya setelah berhenti memainkan lagunya. Aku tertawa kecil.

“Menyiapkan lagu untukmu.” Ujarku seraya meletakkan jemariku di tuts-tuts piano.

I don’t know what hurts you, But I can feel it too
And it just hurts so much, To know that I can’t do a thing
And deep down in my heart, Somehow I just know
That no matter what, I’ll always love you

“Kau kenapa?” tanyanya. Aku menghapus airmataku dan berbicara dengan nada normal.

“Aku tidak apa-apa. Kenapa?” tanyaku, berpura-pura tidak tau.

“Lagunya… Sedih.” Aku terdiam.

“Tidak apa-apa. Kau tampak takut sekali.” Ujarku, berpura-pura tertawa hambar.

“Aku pikir aku berbuat salah denganmu.” Aku tersenyum walaupun ia tidak bisa melihatnya.

“Kau tidak berbuat apa-apa.” Aku meringis dalam hati. Belum untuk saat ini.

“Yasudah, tidur sana. Besok aku akan menjemputmu. Jaljayo, chagiya.” Ujarnya lalu menutup telepon. Aku menyeka airmataku.

Tuhan, biarkan ini selesai.

==

Kali ini, aku dan Cheundoong menjadi sering bercakap-cakap. Perasaan itu tidak ada, digantikan kecemburuan Jonghyun.

“Ya! Kau kenapa sama-sama Cheundoong terus, sih?” tanyanya saat makan siang bersamaku dikelas. Aku terkekeh kecil.

“Tch… Posesif sekali kau ini. Aku kan hanya berteman dengannya.” Ujarku, mencubit hidungnya. Ia tertawa.

“Tentu saja aku harus posesif terhadap yeojachingu-ku sendiri!” ujarnya, berpura-pura bangga pada dirinya. Aku terhenyak. Kata-kata itu pedis.

“Cih, banyak omong kau ini.” Ia membuka bekalku. “Ya! Apa-apaan kau!”

“Eomonim tau sekali kesukaanmu, ya? Sudah, dimakan.” Katanya, menyiapkan suapan untukku. Aku menjauhkan wajahku.

“Kau ini apa-apaan sih, Jjong!” ujarku, menutup wajahku yang tampaknya sudah merah seperti tomat. Ia terkekeh.

“Ya, kan tidak masalah jika aku menyuapimu!” ujarnya sakratis. Aku menghempas tangannya.

“Jangan!” ujarku lagi. Ia terdiam. Aku berdiri dan melangkah pergi.

“Kenapa, Hye?” tanyanya, nada suaranya sendu. Apa aku harus menjawabnya lagi?

“Tidak. Hanya saja.. Jangan.” Benteng pertahananku hampir saja ambruk kalau tidak kutahan dengan senyuman.

“Sunhye, ada apa?” tanyanya. Aku tersenyum. Lagi.

“Tidak. Tidak ada.” Dustaku. Apa ia tau aku sakit?

“Geotjimal.” Aku mendesah keras, menatapnya.

“Cukup. Aku sedang tidak mood berkelahi, Jjong.”

==

Kami berdua masih baik-baik saja malam itu. Ia masih meneleponku, kami berdua masih berbincang bersama. Ia masih mengombaliku dengan gombal-gombalannya. Ia masih mengecup keningku lembut. Semuanya masih sama. Tapi, hari ini berbeda. Ia tidak menghubungiku, ia tidak membalas pesanku, ia tidak menemuiku di kelas, ia tidak menggodaku.

Bahkan.. Aku tidak melihatnya.

“Kau melihat Jonghyun?” tanyaku pada Hyora, sahabat Jonghyun. Hyora menggeleng.

“Anii.. Kau tidak tau dia dimana?” tanyanya padaku. Aku menggeleng perlahan, dan duduk dibangku depan kelas Jonghyun.

“Kau mencarinya?” aku menengadahkan kepalaku, melihat Choi Jineul.

“Menurutmu?” tanyaku sedikit dingin. Ia duduk disebelahku.

“Jessica dan Jonghyun tadi malam berbicara panjang lebar saat webcamming bersama.” Kenapa ia harus memulai lagi?

Handphone-ku berdering, dari nomor yang tidak dikenal. Tampaknya bukan nomor korea, pikirku. “Hello?” sapaku.

“Sunhye-ssi?” siapa ini?

“Ne, itu saya. Maaf, saya berbicara dengan siapa?” tanyaku.

“Jessica.” Aku tertegun. Darimana ia tau nomorku?

“Yeah, kenapa?” tanyaku, santai. Mengurangi sikap formalku.

“Bisakah kau… meninggalkan Jonghyun?” mataku memanas. Kenapa cobaan yang aku hadapi selalu separah ini?

“Maksudmu?” tanyaku. Aku bisa mendengar Jessica menghela nafas panjang.

“Aku masih mencintai Jonghyun, Sunhye-ssi.”

“Apa kau pikir aku tidak?” tanyaku, sedikit kesal. “Apa kau pikir aku menerimanya hanya untuk memainkan perasaannya? JESSICA-SSI! Aku memang baru menyukainya. Aku mengerti itu!” ujarku, airmataku akhirnya jatuh.

“Aku tidak ingin berdebat denganmu, Sunhye-ssi. Tapi kumohon, tinggalkan Jonghyun.” Hubungan telepon terputus, aku memandang taman didepanku, lalu menatap Jineul.

“Apa kau puas sekarang?! PUAS, HAH?!” ujarku. Sebuah tangan mendekapku. Tidak, ini bukan Jonghyun. Baunya tidak seperti parfum Jonghyun yang biasanya.

“Jangan terlihat bodoh didepan kakak kelas.” Thunder!

“Lepaskan aku.” Ujarku. Aku kembali menatap Jineul, yang sedikit terkejut. “Tidakkah kau berpikir kau merusak semuanya?” kataku dan meninggalkan tempat itu.

==

Aku masih menunggu mungkin saja Jonghyun akan menghubungiku. Dia mungkin saja akan meminta maaf dan berkata semuanya akan baik-baik saja. Tapi, bukankah impian tabu seseorang yang lemah tampaknya bodoh?

“Yeoboseyo?” sapaku.

“Jangan menunggunya, Sunhye.” Jisun…

“Aku… Aku…” nafasku tertahan. Perih itu kembali mencuat dari dadaku, rasa sakit yang aku harapkan bisa sirna tetap ada, dan makin parah.

“Kadang kala, merelakan seseorang yang kita cintai itu lebih baik daripada membuatnya bersama kita, dan melihat ia sengsara. Apa kau mau?”

“Apa aku membuatnya sengsara?!” ujarku, sedikit kesal. Mataku mulai panas, bulir-bulir airmata akan segera jatuh dipipiku, entah aku siap atau tidak, aku pasti akan menangis.

“Apa kau mencintainya, Lee Sunhye?” tanya Jisun. Ya..

“Apa aku harus menjawabnya?” setetes airmata pilu jatuh dipipiku. Sedikit lagi, aku pasti mengeluarkan isakan yang tidak mungkin bisa tertahan.

“Bukankah saat nantinya kau melihatnya bahagia, Sun…” ia terdiam. Aku menunggunya kembali berbicara. “Saat kau melihatnya bahagia, kau juga akan bahagia. Walaupun, rasa sakit itu masih ada? Setidaknya, melihatnya tersenyum itu cukup bukan untuk mengobatinya?”

“Senyum itu tidak pernah untukku, Jisun-ah..” aku menggigit bibir bawahku. “Bukankah sedikit aneh namanya, saat mencintai seseorang yang awalnya hanyalah sahabat? Tapi ia.. Ia sebenarnya tidak mencintaimu..” aku tersenyum bodoh. Airmata yang terus menerus jatuh tidak kupedulikan.

Akhir telepon dengan Jisun mungkin saja terlihat baik-baik saja. Ya, Jisun benar. Merelakannya mungkin satu-satunya jalan. Tapi, bukankah aku akan merasakan sakit yang lebih?

“Sunhye-ya..” suara sendu Jonghyun terdengar. Aku memaksakan seulas senyum untuknya.

“Ne?” jawabku, walaupun aku bisa menyadari suaraku sedikit bergetar. “Kau tau.. Tadi Jessica meneleponku, ia menyuruhku menjauhimu. Aneh ya..” suaraku kembali bergetar, kali ini lebih dari sebelumnya. “Jisun juga menyuruhku untuk memutuskanmu…” suaraku tertahan.

“Hye-ya, geumahalkkae(ayo kita putus).” Kata yang aku takutkan terucap dari bibirnya sudah ia ucapkan. Apalagi yang perlu aku lakukan?

“Aku masih mencintai Jessica, Hye.” Isakan pertama. “Aku pikir, denganmu aku bisa melupakannya. Denganmu aku bisa menjadi diriku sendiri, denganmu aku bisa tau arti cinta yang sebenarnya.” Cinta? Kata apa itu?

“Tapi aku salah, Hye. Aku masih belum bisa melupakannya. Bahwa pada kenyataannya aku mencintainya. Dan aku sudah menyukai orang lain selain dirinya, yang berarti aku melanggar janjiku dengannya.” Isakan berikutnya kembali mencuat dari bibirku. Aku tidak pernah lepas kendali seperti ini.

“Tapi, apabila kau tau kenyataan, Hye.. Bahwa kau cuma penggantinya, dan gagal…” tangisanku pecah. Aku tidak sanggup dengan kata-katanya. “Apa.. Apa kau tidak marah padaku? Apa kau tidak akan kecewa?” Aku sudah sakit dari awal!

“Apa kau pikir aku tidak sakit, Hye? Melihatmu tersenyum padaku, khawatir padaku saat aku tidak makan siang, apa kau pikir aku tidak sakit?!”

“TIDAK!” jawabku. Tangisanku kembali pecah. Apa ia pernah tau rasa sakit yang aku hadapi? Apa pernah?!

“Maafkan aku Hye.”

“Sudahlah…” jawabku sambil terisak. “Kenyataannya.. Hiks…” aku menggigit bibirku. Tidak sanggup. “Aku memang selalu harus mengalah..” aku menangis tersedu-sedu.

“Aku minta maaf, Hye. Jessica membutuhkanku, aku juga membutuhkannya..”

“Apa kau tidak puas merusak hidupku, Jjong? Jangan pernah masuk lagi di hidupku. Kumohon…” aku menutup teleponku dan menangis tersedu-sedu. Aku tidak peduli siapapun yang akan mendengarnya, aku masih kesakitan.

Tuhan.. Aku tidak kuat..

==

Aku berjalan dengan gontai kekelas. Sekolah terasa suram untukku. Sekolah serasa tidak ada gunanya, jika aku.. Aku masih harus melihatnya. Aku belum siap…

“Aku ke kantin dulu, ya.. Kau mau menitip sesuatu?” tanya Jisun seraya bangkit berdiri, mengambil jaketnya dan membalutkannya dibadannya. Dengan mata sembab seperti hantu, aku menggeleng pelan.

“Ani..”

“Minum airputihmu. Jangan sampai drop. Kita mau ujian..” aku mengangguk perlahan. Jisun menghilang dibalik kerumunan murid-murid yang ada diluar sana.

“Kau sedang sedih?” suara itu yang menghentikan niatku untuk menangis dikelas yang lumayan sepi ini.

“Cheundoong?” ujarku. Thunder tersenyum.

“Kau boleh menangis dipundakku kalau kau mau..” ujarnya, tersenyum padaku.

“Aniya.. Airmata tidak akan mengubah apapun bukan?” ujarku, menggigit bibir bawahku. “Ia akan selalu bersama gadis itu. Sedangkan aku hanya bisa menunggu. Menunggu hingga suatu saat nanti aku mendapatkan mimpiku.”

Senyum Thunder itu membuatku sedikit tersipu. Tidak… Aku tidak boleh lagi menyukainya!

“Lee Sunhye…” aku terkesima. Aku ingat suara ini. Aku ingat..

“Apa?” tanyaku, bersikap santai seraya berbalik. Pria tampan yang aku sayangi itu didepanku, muncul. “Oh, Jonghyun-ssi. Annyeong.” Ucapku, tersenyum kecut.

“Hye..?” ujarnya.

“Panggil saja aku Sunhye, Jonghyun-ssi! Oh, mianhae, Jonghyun sunbae.” Aku tersenyum dipaksakan. Mianhae.. Mianhae..

“Ada apa denganmu?!” ujarnya.

“Anggap saja…” nafasku tertahan. “Kita tidak kenal sebelumnya, Jonghyun-ah..” kataku lirih dan menarik Thunder meninggalkan Jonghyun.

Tidak seharusnya kita berkenalan dulu, Jjong. Seharusnya, saat ini, kita masih ditemani dengan rasa penasaran mengenai seseorang yang akan menjadi kenangan terpahit atau bahkan.. termanis.

“Lee Sunhye!” panggilnya. Aku berbalik.

“Apa?” tanyaku, memaksakan seulas senyum. “Jonghyun-sunbae, apa..” aku menghapus bulir airmata yang mungkin saja akan jatuh. “Apa.. Apa kau tidak puas membuatku seperti ini?” tanyaku.

“Hye…”

“Lebih baik kau bersama Jessica-sunbae yang sedang di Jepang itu. Bukankah.. Ia ‘membutuhkan’mu lebih daripada ‘aku’?” ujarku menekan beberapa kata.

“Mianhae, Hye. Jeongmal!”

“Sudah terlambat.” Ujarku, tersenyum simpul dan berjalan bersama Thunder, dan tidak melirik kebelakang. Lagi.

Selamat tinggal, Jonghyun.

-FIN-

A.N : Yoo! Maaf yaa author kagak ada kabarnya HAHA.. Ini baru slesai ><“a Oya, karna aku sibuk mau UN, rencananya, aku bakalan post ini setelah UN, jadi maaff yaa :’) Oya, aku rencananya mau bikin sequel, mending ada sequelnya atau enggak? Komen yaaww 🙂 much lovee, Zeya.. xoxo

Advertisements

8 responses to “Happily Ever After (Ch.3)

  1. astaga, koq jjong jahat gitu sih bikin sunhye cuma sebagai pelampiasan doank..
    sadar ga sih uda nyakitin hati seorang perempuan?? aishhh
    judulny sih iya happily ever after tp koq endingnya sedih sih thor??? hikz
    harus ad sekuelnya nih, bikin sunhye jd bahagia..hehehe #maksa 😀

  2. waw . aku kira tulus loh jjong …
    soalnya kayak udah yakin bener gitu ama sunhye …
    nyatanya ?
    ampun deh ..

    ga nyangka juga thunder uda nunggu 4 taun ..
    ko lambat sih dia ?
    kenapa dia ga nyatain2 ?
    takut ditolak soalnya sunhye deket ama jjong ?
    uuu .. bikin gregetan deh …

    kurang ngesreg ama endingnya sih ..
    ini uda tamat ?
    gaada side story buat thunder-sunhye ?
    hehe , cuma berharap ..

    anyway ..
    sukses buat UNnya , moga nilainya bagus 🙂

  3. Dimana letak happily ever after na, yg ada saia sakit ati gr2 ojong..
    Sumpah dy tega banget ya jd co..

  4. Hua !!!
    Benci sama jjong ! *hanya dalam FF ini*
    Jjong tega banget ninggalin sunhye !! *ambil golok*

    Ak maunya ad sequelnya unnie 🙂 tapi sequelnya harus happy ending ya. Ak gak mau sunhye ntar jadi sedih lagi (╥﹏╥)
    Mungkinkah yg cocok dengan sunhye hanya thunder seorang #loh

    Uri unnie, hwaiting !! ツ

  5. Sukses UN nya ya ^^
    Eh, ceritanya persis banget sama kehidupan nyata ku hiks hiks *ngelap umbel*
    DAEBAK!! ~ keren deh!
    kasih sequelnya dong.. jeballl~
    By the way, Salam kenal ya ^^

  6. bener” g nyangka jjong kyk gtu, pdhl Q kira jjong bnran sayang ma hye -.-”
    sequeeeeel dooong,hehhe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s