Triangle Love Part 4 -end

Previous part: PART 1 | PART 2 | PART 3

Title: Triangle Love part 4

Author: puwakantiw (@pacarONEW)

Genre: Romance,Friendship

Rating: PG-14

Cast:

  • Lee JinKi/Onew SHINee as Onew(JinKi)
  • Tiffany SNSD as Fany
  • Luna f(x) as Luna

Length: Short Story

Disclaimer: The Cast aren’t mine. But the plot is.

*****

Ini pertama kalinya aku jatuh cinta. Dan ini juga pertama kalinya aku sakit hati.. 

 

~Triangle Love part 4~

 

Several months later..

Author POV

 

Ketiga sahabat itu kini sedang duduk menunggu pesanan mereka datang. Sekarang, mereka sudah resmi menjadi sahabat. Ketiga orang itu tak lain dan tak bukan adalah Fany, Jinki, dan Luna.

Luna sudah mengutarakan apa yang sebenarnya ia rasakan pada Jinki. Jinki dan Fany tentu saja awalnya kaget. Tapi Jinki menanggapinya dengan santai dengan berkata, “Aku tahu aku memang tampan, sehingga kau bisa jatuh cinta padaku.” mendengar itu Fany dan Luna langsung menyoraki Jinki.

Tapi sampai sekarang, Fany belum bisa mengatakannya pada Jinki. Begitu pula dengan Jinki. Ia masih takut untuk mengatakannya.

Luna juga sudah tidak perlu membenci kenyataan walaupun ia bukan kekasih Jinki, tetapi ia masih bisa menjadi sahabatnya. Ternyata setelah Luna berpikir beberapa kali, menjadi sahabat lebih baik daripada menjadi kekasih.

Sebentar lagi, mereka akan lulus SMA. Itu tandanya, sebentar lagi Fany akan pindah ke Amerika. Dan sampai sekarang Fany belum sempat memberitahu Jinki dan Luna bahwa ia akan pindah ke Amerika saat acara pelepasan nanti. Ia bukan belum sempat, tetapi ia tidak mampu mengatakan itu kepada mereka.

Dan sekarang, Fany ingin mengatakannya kepada mereka. Ia, kan, sudah berjanji bahwa tidak boleh ada rahasia diantara mereka. Jadi, setelah makan Fany akan mengatakannya. Ia harus mengatakannya sekarang juga, walaupun ia tidak siap.

Pesanan mereka kini telah datang. Fany langsung mengambil Mie Ramennya. Begitu juga dengan Luna dan Jinki, mereka langsung mengambil pesanan mereka masing-masing.

Fany sengaja tidak makan dengan terburu-buru, karena ia sedang mempersiapkan dirinya. Semoga saja nanti ia tidak menangis.

Tapi tetap saja, hanya dengan waktu tujuh menit, Mie Ramen Fany sudah habis ia makan. Luna dan Jinki juga sudah selesai makan. Kali ini, Fany yang traktir. Mungkin ini yang terakhir kalinya ia bisa mentraktir kedua sahabatnya.

Karena acara pelepasan akan berlangsung dua minggu lagi.

Mereka sudah menjalani ujian-ujian. Dan sekarang adalah masa-masa bebas mereka, tetapi sebentar lagi mereka akan melewati masa-masa penentuan. Hanya ada dua keputusan, lulus atau tidak.

Setelah selesai membayar, Fany mengajak Jinki dan Luna untuk pergi ke taman belakang sekolah. Inilah waktunya.

 

Jinki POV

 

Hmm, kenapa Fany membawaku dan Luna ketaman belakang? Apa ada hal penting yang ingin ia bicarakan? Tapi.. apa?

“Jinki… Luna…” ia memanggil namaku dan Luna bergantian.

“Ya?” tanya kami kebingungan.

Sudah beberapa menit ia tidak berbicara. Ia justru menggigit bibir bawahnya. Dapat kulihat juga keringatnya mulai bercucuran. Aku yakin pasti ada yang tidak beres dengan Fany.

“Aku… aku sebenarnya…”

Apa? Fany sebenarnya kenapa?

“aku akan pindah ke Amerika setelah kelulusan nanti….”

Tidak ada reaksi dariku maupun Luna. Kami berdua diam. Aku tidak tahu harus berkata apa. Lidahku kelu. Mulutku membisu. Tubuhku lemas, seakan semua syaraf mati. Apa tadi Fany bilang?? Dia akan pindah… pindah ke….? Amerika?

Amerika itu berada dimana ya? Apakah didunia ini ada benua Amerika?

Jarak Amerika ke Korea Selatan itu berapa kilometer? Hanya beberapa kilometer saja, kan? Hanya perlu waktu beberapa menit saja kan untuk mencapai tempat itu dari sini?

Andwae!!!!

Fany.. kau tega sekali. Kenapa? Apa ia tidak menyukai Korea? Apa ia tidak suka makanan disini? Apa ia tidak nyaman berada di sini? Apa udara di Korea sudah kotor?

Tidak. Ini tidak boleh terjadi. Aku tahu aku sedang bermimpi sekarang. Mungkin jika ada mencubitku, aku akan bangun dan tersadar, dan besok aku akan bertanya pada Fany apakah ia akan pindah ke Amerika atau tidak. Pasti Fany akan menjawab tidak. Karena ini semua hanya mimpi. Ya, hanya mimpi.

Guys.. I’m sorry.. mianhae..”

Suara Fany memecahkan keheningan diantara kami.

“Fany, ini mimpi, kan?? Tolong cubit aku, aku tahu ini mimpi!” pintaku.

Fany menggeleng. “Ini sungguhan, Jinki. Kau tidak sedang bermimpi. Aku akan pindah, Jinki. Ke Amerika..”

Sial. Ternyata ini bukan mimpi. Ini sungguhan. Ini nyata. Aku sungguh tidak pernah memikirkan hal ini. Aku baru ingat bahwa ayah Fany adalah pekerja yang sibuk. Ia bisa saja pindah ke dua negara dalam satu tahun.

Tanpa berkata-kata, Luna memeluk Fany. Ingin rasanya aku melakukan itu.

I’ll be missing you, Fany..” bisik Luna di telinga Fany.

“me too.” Balas Fany lalu memeluk Luna lebih erat.

Tuhan.. kenapa engkau harus memisahkan kami?

 

Fany POV

 

Ponselku berbunyi. Dengan cepat, aku segera merogoh tasku dan mengambil ponselku. Tanpa melihat layar ponsel, aku langsung menekan tombol hijau.

“Fany Fany Tiffany!!” sapa orang disebrang sana.

Aku kaget karena orang itu berbicara dengan kencang. Memekakan telingaku.

Tapi.. begitu mendengar kata-kata itu. Aku langsung tersenyum. Dia Jessica. Sahabat kecilku sewaktu aku belum pindah ke Korea. Dulu juga aku sempat tidak ingin pindah ke Korea karena harus meninggalkannya akan tetapi lama kelamaan aku sudah bisa merelakan diriku untuk berpisah jauh darinya.

“Jessica!!” aku membalasnya dengan antusias yang tinggi. Hmm, tumben dia menelepon. Biasanya dia menghubungiku lewat e-mail atau chatting. Dia bilang jika menelepon dari Amerika ke Korea sangatlah mahal, jadi dia lebih sering menghubungiku lewat internet karena biayanya murah dan tidak menyita waktu.

“Fany, aku dengar kau akan pulang ya??” tanya Jessica.

“Ya. Aku senang sekali bisa pulang dan bertemu denganmu lagi Jess. Bagaimana kabar Krystal?”

“Dia baik. Selama aku menjadi kakaknya, dia akan selalu baik-baik saja. How about Sulli? Krystal udah kangen banget sama Sulli. Kapan pulang?”

“Sabar, Jess. Tinggal dua minggu lagi aku di Korea. Sulli baik juga. Dan dia juga merindukan adikmu itu..”

“Hahaha.. Kau senang?”

“Senang kenapa? Karena aku pulang? Jelas aku senang.”

“Bagaimana dengan temanmu itu.. siapa nama nya?? Jin.. jin siapa itu?”

“Jinki, Jess. Yah, aku memang sedih harus berpisah dengannya. Tapi, mau bagaimana lagi?”

“Fany, apa kau sudah memberitahunya?”

“Tentang apa? Tentang aku akan pindah? Sudah, kok.”

No, it’s not that!! Tentang perasaanmu.”

“…….”

“Fany?”

“Ah, maaf. Aku… aku belum..”

“Sampai kapan kau akan terus begini? Bukankah kau sebentar lagi akan berpisah dengannya? Sebaiknya kau beritahu dia sekarang. Lebih cepat lebih baik!”

“Jessica~ kau tahu tidak, sih?? Menyatakan perasaan kepada seseorang itu tidak gampang! Apalagi aku ini seorang perempuan. Mau di taruh dimana mukaku ini?”

“Hah.. kau ini masih belum mengerti, ya. Kau pernah bercerita kalau dia pernah mengatakan kau cantik, bukan? Apa kau tidak menerima sinyal itu?”

“Sinyal? Maksudmu.. dia menyukaiku?”

“Ya.. pokoknya seperti itulah. Eh, sudah dulu ya! Bisa-bisa pulsaku habis, nih. Titip salam pada keluarga mu! Dan jangan lupa bawa oleh-oleh untukku dan Krystal! Krystal sangat ingin mencicipi makanan Korea. Oke? Good bye, Fany. See you soon~”

Bip.. bip.. bip..

Jessica memutuskan teleponnya.

Apa benar yang dikatakan Jessica barusan? Apa benar Jinki juga menyukaiku? Tapi, itu tidak mungkin. Hanya karena dia memujiku cantik, bukan berarti dia juga menyukaiku.  Itu hanya pujian. Bukan pertanda bahwa dia menyukaiku.

Tapi Jessica ada benarnya juga. Sebentar lagi kami akan berpisah. Tapi kebenaran belum terungkap.

Jika aku di Amerika…. apa yang akan terjadi? Apakah Jinki dan Luna akan menjadi sepasang kekasih dan menikah lalu hidup bahagia? Lalu bagaimana denganku? Apakah aku akan menemukan cintaku di Amerika?

Tapi sepertinya aku sudah buta, karena mataku tidak bisa melihat seseorang yang lebih tampan dari Jinki. Dan mungkin aku juga sudah mati, karena aku tidak bisa merasakan jatuh cinta kepada orang lain selain kepada Jinki.

Jinki… for me, when you are not here, i really feel lonely.

 

2 weeks later..

Author POV

 

Akhirnya waktunya tiba juga. Fany sudah berada didalam mobil. Tentu saja ia akan menuju ke bandara. Ia berada didalam mobil keluarga Jinki. Appa Jinki yang menyetir disebelahnya duduk appa Fany. Ditengah ada eomma Fany dan Jinki dan juga Sulli. Dan dibelakang duduk Fany dan Jinki beserta barang-barang yang akan dibawa ke Amerika.

Fany tidak bisa berkata-kata. Ini terlalu cepat.

Disepanjang jalan Fany hanya memegang tangan Jinki erat-erat seperti ia tidak akan bisa memegang tangannya lagi. Jinki sendiri tidak menolak. Ia juga tidak bisa menerima kenyataan yang terlalu cepat ini.

Mobil mereka semakin dekat menuju Incheon Airport. Fany semakin erat memegang tangan Jinki, seperti ia tidak mau melepaskannya. Sebenarnya Sulli sudah tahu bahwa mereka tengah berpegangan tangan. Namun kali ini Sulli bisa mengerti keadaan kakaknya. Dia tidak mengadu.

Akhirnya mereka sampai di Bandara. Jinki dan keluarganya membantu untuk mengeluarkan barang. Setengah jam lagi Fany akan pergi meninggalkan Korea, meninggalkan Jinki.

“Fany-ah, ini kopermu.” Kata Jinki menyerahkan koper berwarna pink kepada Fany. Fany menerimanya dengan lemas.

Gomawo..” Fany berterimakasih. Dan tanpa dikehendaki, ia memeluk Jinki. Untuk yang terakhir kali nya.

“Jangan sedih,” kata Jinki sambil melepaskan pelukan Fany. Padahal sesungguhnya ia ingin memeluk Fany lebih lama lagi.

“Kenapa aku tidak boleh sedih? Ini, kan, tahun keenam kita bersahabat. Dan justru di tahun yang berharga ini, kita berpisah.”

Because when you’re sad, my eyes tear up”

Fany tertegun mendengar perkataan Jinki. Begitu manis. Jinki justru membuat Fany semakin sedih.

There is only one of you in this world…” Jinki kembali memeluk Fany. “I love you..” tambahnya.

Air mata Fany mengalir keluar dengan derasnya. Dadanya sesak.

Di Amerika sana, tidak ada orang yang bisa ia jahili seperti Jinki. Tidak ada yang bisa mentraktirnya makan Ramen lagi. Tidak ada yang bisa mengajaknya jalan-jalan ke tempat-tempat menyenangkan. Tidak ada yang bisa membuatnya merasa utuh. Dan yang paling penting… tidak ada orang yang bisa ia cintai selain dirinya.

Jinki-ah.. saranghae.. mani mani.

“Fany, kita harus berangkat sekarang..” kata eomma.

Dengan terpaksa, Fany melepaskan pelukannya dan berjalan mengikuti eomma. Tapi sebelum kami benar-benar pergi, kami menyempatkan diri untuk mengucapkan selamat tinggal kepada keluarga Jinki. Fany juga tidak lupa untuk menitipkan ucapan selamat tinggal untuk Luna.

Dan beberapa saat kemudian, Jinki sudah tidak bisa melihat wajah Fany lagi. Tidak bisa mendengar suaranya, tawanya. Dan dia juga tidak akan bisa merasakan jitakan dari Fany lagi.

 

Amerika Serikat, 08.30 p.m

 

“Tiffany!!!!” seorang perempuan berambut pirang panjang berlari menghampiri Fany yang baru saja keluar dari pintu kedatangan.

“Jessica!!!” balas Tiffany ikut berteriak.

Akhirnya Tiffany sampai di Amerika, kampung halamannya. Untuk sesaat, rasa sedihnya karena telah berpisah dengan Jinki itu hilang dan berganti dengan rasa bahagia ketika ia dapat melihat sahabatnya lagi dan dapat menghirup udara segar Amerika. Di bandara sudah ada Jessica dan Krystal yang menjemput Tiffany dan keluarga. Orang tua mereka tidak bisa ikut karena sedang ada kesibukan masing-masing. Tiffany memeluk Jessica dan Krystal secara bergantian. Jessica banyak berubah, ia sekarang sudah tumbuh menjadi perempuan yang cantik dan anggun.

“Fany,  kamu kok berbeda sekarang?” tanya Jessica sambil tertawa kecil dan segera membantuk Fany mengambil koper miliknya.

“Berbeda bagaimana? Aku bertambah cantik, ya? Hehehe” balasku.

How do you feel?”

I’m happy.. dan.. sedikit sedih” Fany berusaha untuk tidak mengingat Jinki lagi. Karena jika ia mengingat lelaki itu, ia tidak akan bisa menikmati hari-harinya disini.

“Hmm.. lebih baik kau tidak membicarakan dia dulu.”

“Yeah, kau benar.” Jawab Fany lemas.

By the way, kamu gak lupa bawain aku dan Krystal oleh-oleh, kan??” tanya Jessica atau yang lebih sering Fany panggil dengan Sica.

“Kok nanyain oleh-oleh? Gak ada oleh-oleh!” candaku.

“Ih kamu ini bagaimana, sih? Padahal aku udah jemput kamu!” protes Jessica

“Becanda, Jess. Aku bawa banyaaaaaaaaaaaaak banget oleh-oleh buat kamu dan Krystal.”

oh, really? Aku jadi gak sabar ingin mencicipi makanan Korea..”

Fany hanya tersenyum menanggapi sahabatnya.

Fany telah kembali ke negara asalnya. Dan ia yakin, ia akan kembali terbiasa dan segera membaur dengan semua kehidupan di sekelilingnya.

 

Korea Selatan, sehari sebelum keberangkatan

Fany POV

 

“Fany, nanti kalau kau sudah di Amerika, jangan lupa menghubungi kami!” Luna mengingatkanku.

Aku mengangguk. “Ne, aku pasti akan menghubungi kalian.”

“Oh iya jangan lupa juga beli oleh-oleh! Pasti kau disana mempunyai teman, kan? Dan pasti temanmu itu akan menagih oleh-oleh. Kebetulan, aku punya toko oleh-oleh langganan! Dan harganya disana cukup murah.” Saran Luna.

“Oh, baiklah. Ayo kita kesana!” ucapku dengan semangat.

Sesampainya ditoko, aku berbelanja untuk membeli oleh-oleh untuk teman-temanku disana. Well, aku hanya mempunyai Jessica. Tapi tidak apa-apa, barangkali sewaktu-waktu aku merindukan Korea dan aku bisa memakan oleh-olehnya. Aku membeli banyak sekali oleh-oleh. Banyak macam dan banyak rasa. Jessica harus mencicipi semuanya!

Luna dan Jinki juga ikut membantuku. Mereka memang teman yang baik. Mereka mau memberikan waktunya satu hari ini hanya untukku. Hanya untuk merayakan kepergianku.

Setelah selesai berbelanja, kami pergi ke kafe untuk makan. Belanja membuat tenagaku terkuras cukup banyak. Selama makan kami mengobrol, tertawa dan bersenda gurau. Sangat mengasyikan. Membuatku semakin tidak ingin meninggalkan negara ini. Tapi ditengah obrolan, ponsel Luna berbunyi.

Yeoboseyo?” sapa Luna

Aku tidak dapat mendengar apa yang mereka bicarakan. Karena sewaktu mendapatkan telepon itu, Luna langsung menjauh dari aku dan Jinki.

Setelah beberapa menit, Luna kembali ke meja.

“Fany, maaf aku tidak bisa menyerahkan dua puluh empat jam penuh kepadamu. Eomma menyuruhku pulang. Katanya adikku badannya tiba-tiba panas.” Terang Luna.

“Oh, yasudah kalau begitu tunggu apalagi? Kenapa kau tidak pulang dan membawa adikmu itu kerumah sakit?” kataku dan Luna pun tersenyum aku membolehkannya pulang. Ia buru-buru mengambil tas dan membayar makanannya. Diantara kami, Lunalah yang paling sering mentraktir.

Ah, this is it. Hanya aku dan Jinki. Aku berharap aku bisa mengatakan perasaanku kepadanya pada hari terakhir aku di Korea.

“Sehabis makan, kau ingin pergi kemana?” tanya Jinki.

Aku tidak bisa menjawab pertanyaannya karena aku bingung. “Hmm, menurutmu kemana?”

“Terserah, ini kan hari terakhirmu di Korea, aku hanya menurutimu saja.”

Fany menangguk mengerti. Lalu ia kembali berpikir lagi. “Uhm.. bagaimana kalau kita kembali ketaman? Aku suka sungai yang berada disana.”

“Baiklah”

Aku tengah menikmati indah sungai ini di sore hari. Benar-benar indah. Alirnya mengalir tenang dan matahari membayang di permukaan airnya.

“Fany..” panggil Jinki pelan.

Aku menengok. “Ne?”

Jinki menghembuskan napasnya pelan. “Aku akan merindukanmu”

Aku tertegun mendengar perkataannya. Apa tadi Jinki bilang? Dia akan merindukanku?

“Dan aku akan lebih merindukanmu,” balasku sambil tersenyum lalu memusatkan pandanganku pada sungai indah didepanku lagi.

 

Jinki POV

 

Ini kesempatan besarku! Kalau bukan sekarang.. kapan lagi?

Tapi kenapa aku selalu tidak mampu mengatakan ini padanya?

Tanganku tanpa dikehendaki meraih tangan mungilnya. Dia terkejut dan melihatku dengan tatapan kaget. Ya, aku tahu aku salah melakukan ini, tapi aku tidak boleh membiarkannya pergi tanpa memberitahu yang sebenarnya.

“Fany-ah.. saranghae..” ucapku pada akhirnya. Hah, aku lega juga bisa mengatakan itu padanya. Walaupun aku tahu Fany akan membenciku karena sikapku yang kurang ajar ini.

“Jinki..??”

“Maaf, Fany. Tapi aku benar-benar sudah tidak dapat menahan perasaanku ini. Maafkan aku, Fany. Kau boleh membenci karena ini, tapi aku senang aku sudah bisa memberitahumu”

“Jinki…” Fany memanggil namaku pelan.

“Aku tahu Fany. Tapi mau bagaimana lagi? Kau sendiri tahu, kan kalau cinta itu buta?”

“Ya!!! Bagaimana aku bisa berbicara kalau kau terus menyalahkan dirimu sendiri karena kau baru saja mengungkapkan perasaanmu padaku!??” kata Fany memprotesku.

“Jinki-ah.. nado saranghaeyo.

Apa? Aku tidak salah dengar kan?? Aku tidak mempunyai masalah pada gendang telingaku, kan? Aku tidak sedang bermimpi, kan??

“Jinki i love you and i’ll miss you!” kata Fany lalu memelukku.

Aku bisa merasakan jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya. Darahku mengalir lebih deras dari biasanya. Dan dapat kurasakan wajahku berubah menjadi merah.

Aku membalas pelukannya. “I love you more, Fany. And you can never be replaced..

Dan tanpa dikehendaki bibirku mencium keningnya.

Sejak saat itulah aku merasakan waktu berhenti.  Dan dunia hanya milik kita berdua.

*****

Akhirnya aku bisa mengatakan itu tanpa harus persahabatan kami hancur,

Jangan pergi terlalu lama Fany-ah..

Because a day without you is like a year without rain.

 

Aku tidak menyangka bahwa dia juga mencintaiku,

Aku benar-benar tidak menyangka. Jinki-ah, jangan pernah melupakanku. Karena aku tidak akan pernah melupakanmu, dan segalanya tentang kita.

Aku tahu akhirnya akan jadi seperti ini.

Aku senang melihat mereka berdua senang.

Bahagialah bersamanya Fany-ah, aku sudah merelakan Jinki untukmu.

 

The end.

 

Akhirnya Triangle Love udahan.. dan Fany dan Jinki bisa tahu perasaannya satu sama lain.

thank you for your support readers~ SARANGHAE!! ❤

tunggu FF ku yang lain ya~

Advertisements

20 responses to “Triangle Love Part 4 -end

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s