Another Lucifer World Chap 1

Another Lucifer World

Story and Written by :

Keyhee423

Main Cast :

Choi Minho as Elias

Choi Siwon as Andrew

Park Jung Soo as Dennis

Kim Jonghyun as Ty

Lee Donghae as Aiden

Lee Taemin as Nikky

Lee Jinki as Chase

Yang Yoseob as Endorphins

Lee Seunghyun as Victory

Park Bom as Jenny

Choi Seunghyun as T.O.P

Kim Heechul as Casey

Lee Hyukjae as Spencer

Kim Ryeowook as Nathan

Lee Sungmin as Vincent

Lee Gikwang as AJ

Yoon Doojoon as 3 sec sharing

Kwon Jiyong as G-Dragon

Park Sandara as Sandara

Gong Minzy as Minzy

Kim Kibum as Key

Cho Kyuhyun as Marcus

Zhoumi as Zhoumi

Song Dongwoon as 16D

Lee Chaerin as CL

Rated : PG -15

Genre : Fantasy, Horror, Action, Thriller, a bit romance, angst

Disclaimer : The story is real my imagination. Plot is mine! And main cast belong to God.

Cover : A-Shawol  ( Posternya bagus eonni^ ^)

====================================================================

Dunia yang berbeda, jauh dari ketenangan, kehidupan yang kelam, bahaya selalu mengintai. Bersiap-siaplah, jika kau datang ke tempat ini!

 

Sendiri lagi, selalu seperti itu. Terkadang, ia menginginkan untuk tidak lahir ke dunia. Dunia yang begitu kejam! Pikirnya.

Semua orang menjauhinya. Ah tidak! Ia yang menjauhi semuanya. Manusia yang ia pikir, selalu menyakiti orang lain, Egois!

Suara jangkrik hutan mengusik pikirannya yang hancur. Bersandar di sebuah pohon besar yang ia temui di hutan yang jarang di jumpai orang-orang.

Ia tercekat, pupil matanya membesar. Seperti gelombang elektromagnetik yang melemparkannya ke alam bawah sadarnya. Terjengkang ke alam yang berbeda.

BRUGH!

Ia terjatuh, di tengah hutan yang sepi. Sinar mentari yang sama sekali tak menampakan cahayanya, digantikan oleh awan kelabu yang menutupi seluruhnya. Suara lolongan serigala sedikit membuat wajahnya pucat.

“D-di-dimana ini?!” pekiknya seperti orang kerasukan. Ia memeluk tubuhnya sendiri, menelan ketakutan yang bergemuruh dalam batinnya.

SREK

Suara pijakan kaki dibelakangnya, membuatnya sedikit tersentak dan melangkah lebih cepat ke depannya. Suasana gelap pekat sedikit menyusahkannya untuk melewati pohon-pohon besar yang ada di hutan tersebut.

Tubuhnya menegang saat suatu telapak tangan yang jauh lebih besar mencengkram kuat bahunya. Lantas, ia menyesuaikannya dengan berbalik dan menghadapkan tubuhnya takut-takut. Wajah seekor monster menyeramkan yang berjarak beberapa centi yang seolah berniat menghancurkan tubuhnya dalam sekejap. Ia berpikir, ‘kurasa aku lebih pantas berteman dengan monster!’ pasrahnya.

Monster itu menatapnya seolah ‘kau adalah mangsaku sekarang, sayang!’ dan itu membuatnya berteriak sebelum ia benar-benar pingsan karena ketakutan.

***

Aku membuka mataku yang terasa lengket. Mengira-ngira, dimana aku sekarang? Dan seperti yang kuduga, ini bukanlah rumahku. Ruangan ini seperti sebuah kastil kuno abad lalu yang sering kulihat di film-film fantasy yang aku tonton—sendirian.

“Hei! Kau sudah bangun, boy!” sebuah suara menyeruku dari belakang. Sesuatu yang tinggi menyembul dari pintu ruangan ini. Aku menebak-nebak, kalau sesuatu yang tinggi itu adalah sebuah topi, dan nyatanya aku memang benar. Seorang pria berjubah dengan topi kerucutnya menepuk pundakku—saat ia sudah berada di sampingku. Aku tersenyum tipis, karena aku jarang sekali tersenyun. Dan tak aneh, kalau orang-orang selalu menyebutku monster es—wajahku yang selalu dingin.

“Setidaknya kau harus berterima kasih padaku karena sudah menyelamatkanmu dari ‘werewolf’ itu,” ucapnya—sok—sembari tertawa lepas. Mataku membulat. Werewolf?! Sungguh?! Ini nyata?! Dan kembali ke pemikiran awal, ini seperti film-film dimana werewolf itu ada! Aku menepuk pipiku—yang sedikit perih—keras, memastikan kalau ini bukan khayalan, dimana gara-gara pikiranku yang selalu kacau.

“Hei! Ini dunia yang nyata! Mungkin kau tak akan mempercayainya. Tapi akan kujelaskan, kalau tempat ini adalah semacam…akh bagaimana mengatakannya, umm…tempat ini semacam kutukan!”

Aku tersedak air liurku sendiri.

“Hahaha!! Aku bercanda! Jangan menganggap itu serius, boy!” ucapnya. Aku menggerutu pelan. Ini sama saja. Dan mungkin, ada beribu-ribu makhluk menyeramkan lainnya di luar—menurut film yang aku tonton. Kutukan? Huh.

“Dan sepertinya, kau akan sedikit sulit untuk keluar dari kastil ini, yeah kurasa kau belum cukup mampu.” Tukasnya.

“Belum mampu?” ucapku mengulang perkataan terakhirnya yang sedikit terlihat menyinggungku.

“Belum mampu untuk sepenuhnya mengatasi monster itu sendirian.”

“Kau bermaksud untuk menyinggungku?!” ucapku agak ketus. Ia tertawa, sangat keras. Yeah, aku tahu kalau aku memang takut saat melihat monster itu. Tapi apa boleh aku menyangkalnya, kalau itu adalah bentuk dari sikap kagetku yang baru pertama kali melihatnya. Orang lain pasti akan melakukan hal yang sama denganku—pingsan. Dan jika aku mengingatnya, ini adalah sesuatu yang sangat memalukan.

“Tidak seperti it—Ah! Ini waktunya makan malam!” teriaknya girang. aku mendengus.

“Sama saja, disini tak ada perbedaan waktu. Tak ada siang! Apa bedanya?” cibirku. Ia kembali tertawa—setelah tawanya berakhir tadi—sambil menepuk-nepuk punggungku. Aku sedikit risih karenanya.

“Kau mempunyai kemampuan bersosialisasi yang buruk. Tapi, setidaknya kau mempunyai daya tarik, huh..”

Ia menarik pergelangan tanganku. Membawaku melewati lorong-lorong gelap yang sama persis dengan apa yang aku tonton kemarin. Dan jangan salahkan aku jika sudah bosan mendengar tentang film yang ku tonton, dan itu memang benar.

“Kau mau membawaku ke mana ‘hah?!” ucapku di sela-sela napasku yang sedikit terengah-engah.

“Aku akan menjelaskannya nanti,” ucapnya santai. Aku mendengus kesal. Oh ayolah, aku bahkan belum mengenalnya. Meskipun namanya, aku bahkan tak menanyakannya.

Sambil menarikku dengan tangan kirinya, ia menggerak-gerakan tangan kanannya. Pintu besar di hadapanku membuka seketika. Aku menganga. Ini suatu kebetulan’kah?!

Ia berjalan lebih cepat. Napasku memburu.

“Kuharap, kau tidak tegang..” ujarnya serius. Aku mendelik tajam. Ia menarikku ke sebuah ruangan di balik pintu besar itu. Perlahan, langkahnya melambat, kemudian berhenti dan berbalik padaku sambil tersenyum. “Lihatlah ke depan,”

Aku menuruti perintahnya. Dan lagi-lagi mulutku kembali menganga lebih lebar dari awal. Ia membawaku ke sebuah ruang makan. Dan yang terpenting, kini berpuluh-puluh pasang mata menatapku seolah aku ini telah mengganggu acara mereka. Aku menghela napas pasrah. Mungkin kali ini mereka benar-benar akan menjadikanku sebagai santapan spesial malam ini.

“Hei Ty! Siapa yang kau bawa?! Makanan lezat’kah?” seru seseorang di meja belakang. Napasku tercekat.

“Sudah kubilang jangan tegang. Sebaiknya kau duduk dulu di salah satu kursi..” perintahnya dan aku kembali menurutinya. Berjalan malas menuju salah satu dari puluhan kursi dan mulai kududuki sebelum—

“Hei! Jangan duduk di situ!” teriak Ty. Aku terjungkal ke depan.

“Apa yang kau—“

“Kau hampir menduduki Spencer!” potong Ty. Aku mengernyit heran. Spencer? Jelas-jelas kursi yang aku duduki tadi kosong, dan—Demi Tuhan! Sungguh aku benar-benar gila sekarang! Makhluk-makhluk apa sebenarnya ini?! Apa maksudnya, aku berharap bahwa ini bukan kenyataan! Aku berharap ini hanyalah mimpiku!

“Dan sayangnya ini kenyataan.” Tukas Ty, kembali membaca pikiranku. “Dan, err…siapa namamu? Aku lupa menanyakannya,”

“Dan jelaskan padaku, apa maksudnya ini?!!” teriakku. “Kalian…aku tak tahu mengapa aku bisa terbawa kesini!! Dan ini…siapa sebenarnya kalian—Arrghh..aku benar-benar gila sekarang!” aku berkata penuh emosi. Ty menatapku heran. Menepuk pundakku seolah bisa meringankan pikiran-pikiran berat yang ada di otakku.

“Baiklah, aku akan menjelaskannya pelan-pelan…tapi—“

“Kembalikan aku ke duniaku, sekarang!!” aku mengepalkan tanganku kuat-kuat. Ty kembali mengelus punggungku, namun aku menepisnya.

“Itu tak semudah yang kau bayangkan tuan muda!” pintu ruangan ini terhempas begitu saja ke permukaan lantai. Napasku naik turun, tak beraturan. “Kau benar-benar keras, hm..”

Aku sedikit melihat Ty membungkuk hormat, diikuti dengan makhluk yang lain. Aku menendang kaki Ty dengan keras, membuatnya sedikit merespon dengan melotot padaku. Aku meremas bajunya. Kau bisa bayangkan, aku benar-benar tegang sekarang. Apalagi makhluk yang tadi menegurku itu, tampak begitu menyeramkan. Aku benar-benar tamat kali ini!

“Sudah kubilang jangan tegang,” bisiknya. Aku menendangnya kembali. Ia menjawabnya dengan gerakan lesatan ke atas, menghindariku.

“Hm..tuan muda?” aku menoleh, “Bisa ikut aku?”

Aku menuruti perkataannya sambil menghela napas pasrah. Aku kembali menendang Ty, sebelum samar-samar mendengar makhluk lainnya berkata, ‘Tuan Andrew? Kurasa ia akan menyantapnya sebagai hidangan makan malam.’ Aku bergidik.

“Siapa namamu?” tanyanya dengan nada ramah, disela-sela langkahnya yang semakin membuatku merinding. Ini saat-saat terakhir. Aku menaikan kepalaku.

“E-elias,” jawabku pelan. Ini seperti, bukan aku. Makhluk itu langsung membuatku menurutinya. Apa yang terjadi padaku sekarang.

“Kau tegang.” Ucapnya datar. Aku menggelengkan kepalaku sambil mengumpat dalam hati. Mengapa aku bernasib sial seperti ini?!

“Jangan terus mengumpat jika kau tak ingin semua makhluk disini mendengarmu,” aku tercekat. What the—, “Dan jangan berkata kasar!” aku kembali mengatupkan bibirku. Dan semua orang, dapat membaca pikiranku? Oh God! Ini mimpi buruk. “Aku senang membaca pikiran orang,” lanjutnya sambil tersenyum. Kurasa aku harus menjaga pikiranku agar tak bisa dibaca oleh makhluk-makhluk itu. “Tak sulit untuk membaca isi pikiran manusia,” ucapnya kembali. Aku menyerah!

“Jangan dengarkan mereka..” aku kembali menatap ke arahnya. “Mereka hanya menakut-nakutimu. Aku tak akan memakanmu, Tenang saja.” Aku menghela napas sangat panjang, lalu menghembuskannya pelan-pelan.

Ia mempersilahkanku duduk di salah satu kursi yang sudah usang di dalam ruangan yang hanya di terangi oleh cahaya lilin. Dan aku—kembali—menurutinya. Sedikit merasa terkejut, saat sesuatu terasa seperti menggelitik bokongku. Dan ternyata, itu adalah seekor tikus busuk kecil yang menggeliat karena aku mengusik tidurnya. Untung, aku sama sekali tak merasa jijik ataupun takut pada seekor tikus kecil.

Aku kembali duduk setelah tikus itu melompat turun ke bawah kursi, dan aku tidak mempermasalahkan itu. Aku melipat kedua lenganku dan menaruhnya di atas perutku. Kembali menegakkan bendera ketusku saat aku yakin bahwa ia—benar-benar—tak akan memakanku. “Untuk apa kau membawaku kesini?”

“Tenang dulu, santai…kita bahkan belum berkenalan, hn?…” ujarnya setengah terkikik. Tangannya memainkan sebuah tongkat kecil yang di atasnya terdapat semacam batu kristal.

“Terserah,” jawabku malas.

Ia kembali tertawa, “Andrew Choi…kau?”

“Elias. Kau sudah tahu namaku tadi’kan? Untuk apa bertanya kembali!” dan—lagi-lagi—ia kembali tertawa. “Untuk apa kau membawaku kesini?!”

“Aku hanya sedikit bercanda…Hm, tak ada maksud aku membawamu kesini.” Aku mendecak kesal. “Kuulangi, namaku Andrew choi. Ketua disini.”

“Ck, makhluk bertampang menyeramkan sepertimu menjadi ketua?” sindirku cukup pedas. Ia menatapku tajam, sedetik kemudian ia tergelak.

“Kau tertipu, bodoh!” aku menggelengkan kepalaku saat ia tertawa sangat keras. Apa ia memiliki sebuah kantung suara yang terus digelitiki oleh sesuatu? Oh ya Tuhan! “Ini hanya…” ia melepas wajahnya dan…eh, itu adalah “…topeng.”

“A-ap-ap-apa y-ya-yang…arrghh…itu—“

“Sihir!”

“Ini gila! Aku terjebak di dunia yang tak mungkin ada. Dan—“

“Dan nyatanya itu ada!” potong Andrew. Aku melenguh panjang.

“Kembalikan aku sekarang ke duniaku, kumohon…” lirihku untuk pertama kalinya. Aku belum pernah memohon kepada siapapun. Kecuali sekarang!

“Tak akan bisa! Tak akan semudah yang kau bayangkan. Mungkin, err…kau akan terjebak di sini beberapa tahun ke depan.” Ototku melemas. “Setidaknya kau bisa menyesuaikan dirimu dengan lingkungan disini mulai sekarang,”

“Tapi…” Andrew mengangkat alisnya tinggi-tinggi. “Bagaimana bisa aku berada di tempat ini?” tanyaku langsung.

“Aku tidak tahu—“

“Kau pimpinan disini, bodoh!!” sentakku. Ia terkejut sekilas padaku.

“Aku hanya bercanda. Setidaknya, tunjukan sikap hormatmu pada orang yang lebih tua!” balas Andrew.

“Kau terlihat seperti tiga tahun di atasku,” tukasku.

“Semua orang yang ada di alam ini, tidak akan mati. Mereka seperti di awetkan dalam waktu yang sangat lama. Terkecuali jika mereka dibunuh. Dan sekarang, umurku lebih dari beberapa abad, mungkin.”

“Ini tak dapat dipercaya,”

“Jangan suka memotong pembicaraan orang lain, aku belum selesai bercerita!”

“Baiklah. Kau tidak bilang akan bercerita,”

“Dan kau harus bersiap-siap jika sudah berada di luar area kastil ini, karena—“

“Kau membuatku tegang,”

“Sudah kubilang, jangan memotong pembicaraan orang lain, paham?” Andrew terlihat sedikit kesal. Namun ia masih bisa tersenyum padaku. “Jika kau bersandar di salah satu pohon besar di sebuah hutan di dunia manusia, kau akan langsung terbawa arus kesin—“

“Jadi pohon itu yang membuatku bisa kes—“

“Berhentilah memotong!” Andrew terlihat kesal kali ini. Dan anehnya, ini sedikit membuat hatiku senang.

“Sebagai seorang pemimpin, harusnya kau lebih bisa menahan amarahmu, haha..” candaku.

“Kau menyebalkan,” seru Andrew.

“Dan kau lebih menyebalkan!” balasku sengit.

“Baiklah, jika aku terus berdebat denganmu, aku bisa overdosis dengan sikapmu. Lebih baik kau ikut aku kembali ke ruang makan..”

Aku tersenyum, “Dengan sifat seperti ini, kau tak pantas menjadi ketua,”

“Terserah, aku malas berdebat denganmu.”

Kini aku dihadapkan dengan berpuluh makhluk tak jelas yang memandangku penuh tanda tanya. Aku sedikit menahan tawaku saat semua makhluk memberi hormat pada Andrew. Mereka bodoh!

“Perhatian semuanya!” Andrew berkata tegas. Berbanding seratus delapan puluh derajat dari sifat aslinya. Aku berdecak kagum. “Seperti yang kalian lihat, disini sudah ada anggota baru yang siap untuk menjadi hidangan makan malam hari ini,” aku kembali tegang. Dan tampaknya semua makhluk disini melihatku, dan spontan mereka tertawa terbahak-bahak.

“Aku hanya bercanda, Elias..”bisik Andrew di telingaku sambil mengusap puncak kepalaku seperti seorang kakak. Lantas mendorongku ke tengah kerumunan makhluk-makhluk lainnya.

“Hai…” beberapa orang mulai menyapaku sambil tersenyum hangat. Terkadang aku membalasnya sambil tersenyum kikuk.

“Kau terlihat kurang bisa menyesuaikan diri, eh? Haha…lebih baik kau ikut denganku, berkeliling kastil ini dan kurasa kau pasti akan suka,” ucap Ty setengah berbisik padaku. Aku mengangguk mengiyakan. Dan Ty langsung menarikku di antara kerumunan makhluk-makhluk yang masih ingin bercengkrama denganku satu sama lain.

“Kau ingin aku mengajakmu kemana?” tanya Ty.

“Terserah kau saja! Aku hanya ingin tenang,”

***

“Astaga Ty! Kau membawaku…ke tempat seperti ini?!” pekikku saat Ty membawaku masuk ke sebuah kuburan. Tempat ini terlihat begitu angker dari yang kubayangkan. Ty merangkul leherku.

“Sesuai permintaanmu. Kau ingin tempat tenang, bukan?”

“Tapi tak seperti ini, Ty..” jawabku datar. Napasku tiba-tiba memburu. Jelas ini bukan karena faktor yang tak jelas seperti…WEREWOLF?!

“Elias….awas!!” Ty mendorongku keras sampai membuatku jatuh tersungkur ke tanah, dengan posisi tengkurap. Dan ini sangat tak cocok untukku. Karena tanah halus ini mau tak mau terhisap olehku. Aku terbatuk beberapa kali.

“Kau benar-benar tak membuat kesan baik selama denganku, Ty…” tukasku.

“Dan ini bukan saatnya untuk saling mengobrol! Monster sialan ini terus saja menyerangku!!” aku baru tersadar kalau ia kewalahan menyerang werewolf menjijikan itu. Tiba-tiba Ty melompat melewati werewolf itu dan mengayunkan lengannya pada kepala sang werewolf. Dan sepertinya ia salah perkiraan.

Werewolf  itu berbalik dan menggigit tangan Ty. Ty sedikit mengerang kecil. Ia membawa sebuah pedang kecil dan langsung dengan tangkas memotong kepala werewolf itu, sehingga kepalanya terpisah dari badannya.

Aku bertepuk tangan sekilas, “Dari mana kau belajar seperti itu?”

“Tentu saja di kastil ini. Aku sudah mendiami kastil ini sangat lama, kau tahu. Aissh…monster sialan tadi menggigit tanganku.”

“Kau bisa menjadi werewolf, Ty..”

“Kau benar, Elias. Sebentar lagi aku akan bertransformasi menjadi seorang werewolf,”

“Jangan membuatku takut, Ty..”

“Ini sudah saatnya dan…” Ty menatapku sangat lama. Rahangnya perlahan mengeras, sedikit memanjang. Giginya berubah menjadi sangat runcing—dan bisa jadi ia akan mengoyak dagingku sekarang. Tubuhnya sedikit demi sedikit membesar. Membuat baju yang dikenakannya tersobek karena tak cukup muat untuk ukuran seorang monster. Tubuhnya menjadi lebih tinggi dariku. Napasku tertahan.

“Ty, kau ingin membuatku mati dua kali, huh..” ucapku. Ty mendekatiku sambil menyeringai. Aku memejamkan mataku.

1 menit…

2 menit…

Tak ada apapun yang menyentuhku. Aku membuka mataku dan menangkap bayangan Ty yang sedang menahan tawa—dengan wajah aslinya.

“Bwahahahahahaha….” tawa Ty menggema ke seluruh penjuru kuburan.

“Ty, kau membuatku takut!” ujarku kesal. “Dan tawamu itu bisa membuat semua makhluk di kuburan ini bangkit!”

“Kau…hmph..hahahha…ekspresimu…hahaha….” Ty bersusah payah menahan tawanya. Namun tak dapat dielakkan jika Ty benar-benar sudah kelewatan mengerjaiku.

“Kau menyebalkan! Bagaimana kau bisa berubah wujud menjadi seorang werewolf?!”

“Itu sangat mudah, hm..sihir. ukh, senangnya melihat ekspresi wajahmu yang ketakutan, hahaha…” Ty kembali tertawa. “Bagaimana mungkin aku bisa menjadi werewolf sungguhan jika aku sendiri sudah mati, bodoh!”

“Maksudmu?”

“Yang dapat berubah menjadi seorang werewolf, hanyalah seorang yang masih hidup. Seperti kau.” Ty menarik napas, kemudian menghembuskannya. “Dan ahya! Kau bilang semua makhluk di kuburan ini bangkit? Hm, ini sebenarnya bukan kuburan..”

“Lalu?”

“Ilusi sihir,” jawab Ty pendek. Aku menghela napas.

“Selalu saja sihir, huh..jika ini adalah ilusi, apakah werewolf itu juga ilusi?” aku menunjuk kepala werewolf yang di bunuh Ty.

Werewolf itu diluar perkiraanku, Elias.”

“Jadi maksudmu werewolf tadi itu nyata?! Kau membawaku ke dalam bahaya..” ucapku. Ty tertawa.

“Kau benar-benar lucu, Elias. Kurasa kita bisa berteman baik.”

“Aku tak ingin mempunyai teman menyebalkan sepertimu,” tukasku. “Dan kau ternyata lebih pendek dariku, padahal umurmu beratus tahun ‘kan? Kekeke..”

“Kenapa semua orang meledek tinggiku, huh. Ini bukan salahku, ini faktor alamiah—“

“Yang membuatmu menjadi seorang cebol, hahaha..dan satu lagi, bajumu robek karena tadi kau merubah dirimu menjadi werewolf. Kau membawa baju ganti?”

“Astaga! Aku tak memperkirakan ini..”

“Jika kau masuk dalam keadaan begitu, kau akan ditertawai Ty..Gunakan ilmu sihirmu!”

“Oh God, kenapa aku selalu bernasib sial seperti ini,”

“Itu salahmu karena membuatku ketakutan.”

***

Ty kembali membawaku ke ruang makan setelah aku terus menerus merengek padanya. Perutku sudah meledak-ledak dari saat Ty membawaku jalan-jalan.

“Ty, aku ingin bertanya sesuatu, boleh’kah?” tanyaku. Entah baru beberapa jam saat aku sudah mulai mengenal Ty lebih jauh. Dan kami berteman sekarang.

“Tentu, apa yang ingin kau tanyakan, sayang?”

Aku memukul kepala Ty. “Jangan berbicara seperti itu Ty. Aku masih normal!”

Ty tertawa seraya memegang kepalanya yang kupukul tadi, “Kau pikir aku serius? Aku hanya bercanda Elias. Lagipula aku sedang mengincar seseorang di kastil ini…”

“Dan kupastikan kalau ia tidak akan menerimamu, Ty.” Ucapku. Ty merenggut. “Baiklah, pembicaraan tadi menghabiskan waktu beberapa menitku—“

“ Satu menit disini sama dengan dua tahun di duniamu, Elias..” potong Ty. Aku terkejut.

“Benarkah?! Apakah di dunia ini, kita melakukan ‘slow motion’? sehingga waktu di duniaku bisa terlalu cepat?”

“Tidak Elias! Kau terlalu dini untuk menyimpulkan hal seperti itu. Ini dunia yang berbeda dengan duniamu,” jawab Ty singkat.

BRUK!

Aku menabrak seorang wanita yang tengah membawa beberapa buku tua, “Maaf,” ucapku dengan membungkukan badanku.

“Tidak apa. Eh, hai Ty. Bisa membantuku?” aku melihat ke arah Ty yang sedikit memanyunkan bibirnya.

“Maaf, tapi aku harus mengantarkan ‘Tuan muda’ ini ke ruang makan,” jawabnya–menyindirku. Aku menyenggol tangannya.

“Baiklah. Sampai—“

“Kurasa aku bisa membantumu..” potongku. Ia melihatku dengan tatapan terkejut. Kemudian menganggukan kepalanya.

“Tapi tadi kau bilang lapar, eh?”

“Sekarang tidak, Ty. Kau bisa ke ruang makan sendirian..”

***

“Kau tidak keberatan membantuku, em..” ia memiringkan kepalanya sambil menatapku.

“Elias,” jawabku langsung. Ia menaikan kepalanya dan spontan mengangguk.

“Baiklah Elias, kau tidak keberatan membantuku? Kurasa kau sedikit lapar, eh?” tanyanya sambil terus menatap mataku. Aku sedikit menggesekan gigiku saat merasa risih dengan kenyataan bahwa wanita itu tak sedetik pun melepas pandangannya pada mataku. “Namaku Jenny Park, Elias.”

Aku terdiam. Ia  melanjutkan perkataannya.

“Kau pasti masih bertanya-tanya mengapa kau bisa sampai ke dunia ini, bukan? Apakah Ty tidak menjelaskannya padamu?”

“Sedikit. Ya, Ty hanya menjelaskan sedikit saja padaku..” ucapku.

“Kau tahu, setiap manusia yang secara tak langsung terbawa kesini, pasti mempunyai masalah dengan dunianya. Dan itu artinya…jelaskan padaku apa masalahmu?” ia memberhentikan kakinya, tepat pada sebuah ruangan dengan tirai hitam yang menjadi penutup pintunya. “Masuklah.”

Aku melangkahkan kakiku lebar-lebar memasuki ruangan dimana semua sisi-sisi juga tengahnya dipenuhi ratusan rak-rak buku tua yang berdebu. Tentu, ini adalah sebuah perpustakaan. Dan buku-buku tua itu, sudah pasti jarang, atau tidak pernah di jamah oleh tangan makhluk-makhluk disini.

“Tolong letakan buku yang kau bawa di sebelah sana!” teriak Mrs. Jenny, karena ruangan ini benar-benar sangat luas dan aku berada sangat jauh darinya. Mungkin, yeah ia sedang mengontrol keadaan perpustakaan ini.

Sesuai dengan perintah, aku meletakan tumpukan buku yang kubawa di sebuah meja yang sudah lapuk. Aku bertaruh, bahwa meja itu pasti akan segera hancur—dengan beban yang ditanggungnya.

Aku terdiam menunggu Mrs. Jenny kembali sambil menatap langit-langit perpustakaan yang dipenuhi sarang laba-laba.

Setengah jam aku menunggu Mrs. Jenny. Namun sepertinya ia terlalu sibuk dengan urusannya. Dengan sedikit iseng, aku mengambil asal salah satu buku tebal di rak. Meniup kotoran yang sangat tebal yang ada di atas cover sang buku sampai mataku perih, dan juga hidungku gatal. Sampai terlihat goresan pena yang membentuk sebuah judul dari buku tersebut.

The dark Lucifer Castle

Aku membuka halaman pertama buku yang aku pegang. Sebuah coretan-coretan yang membentuk suatu gambar yang aku kenal.

Ini gambar kastil ini dari depan.

Penasaran, aku kembali membuka halaman berikutnya. Dan muncul lagi sebuah gambar yang membuatku terkejut.

Ini gambar pohon yang membuatku bisa sampai kesini. Ada sebuah keterangan di bawah gambar tersebut. Yang berarti, pohon ini adalah gerbang utama menuju dunia ini.

Ada sebuah dorongan yang kuat sehingga aku meletakan buku itu ke tempat asalnya. Dan kembali berdiam diri menunggu Mrs. Jenny untuk kembali.

SREK

GRASK

Bunyi tersebut mengganggu pendengaranku. Terpakasa aku menengadahkan kepalaku mencari asal suara. Dan melihat…satu werewolf yang tengah mencengkram dinding atas perpustakaan sambil menyeringai padaku.

Aku berkeringat dingin. Sudah ke berapa kali aku bertemu dengan werewolf. Werewolf itu melompat turun ke bawah dan mendekatiku. Bunyi ketukan kakinya yang menyentuh permukaan lantai semakin membuatku tegang. Mataku terus berputar mencari sesuatu yang bisa aku gunakan untuk meyerang werewolf itu.

Aku menyerah! Aku sama sekali tak menemukan apapun untuk menyerang werewolf itu. Dan tanpa kecuali, aku belum pernah menggunakan kekuatan fisikku.

Otakku menemukan jalan buntu. Dan satu-satunya jalan keluar adalah lari. Tapi dengan werewolf yang menghadangku seperti ini, tak ada satupun celah kesempatan untuk lari.

Monster itu semakin dekat denganku, dan aku terus mundur kebelakang. Aku kembali berkeringat dingin saat punggungku menyentuh dinding dingin di perpustakaan ini. Mataku seperti terdorong keluar saat werewolf itu membuka mulutnya lebar-lebar, dan taringnya terlihat ingin segera memakanku.

Dan sekarang, aku dalam keadaan terdesak!!

 

Wait to the next chap ^ ^

Hadeuh…

Aneh sangat ini FF..

Apalagi ini yang genre-nya fantasy—dan ini baru pertama kali bikin. Jadi maaf kalo ceritanya hancur#mojok

Entah kenapa, saya lagi seneng-senengnya bikin ff yang castnya abang minong, dan bukan bias saya sendiri*lha??*

Jadi dimohonkan bagi para pecinta si abang kebluk*dilemparkewadukjatiluhur* ini untuk meninggalkan jejak berupa koment, Ok?*kedipmata#dicincang*

 

Poko’e komen yoh…

 

Regards

 

 

Istri sah Key#Plakk

 

Advertisements

14 responses to “Another Lucifer World Chap 1

  1. kalo ada werewolf ada vampire dong? ;;) *kedip2 *apa ini
    ada masalah didunia iya~ abis aku putusin *gubrak
    jjong yang sabar yah diledekin mulu~
    eunhyuk kok gakeliatan thor?
    nice ep ep~

  2. waaaa, uda lama ga baca ff bergenre fantasy gini..kliatannya seru lho ini..bagus..
    hmmm, kenapa y minho sll ketemu sm yg namanya wirewolf? punya daya tarik tersendiri gitu?? hahaha..ga kebayang biasanya minho menarik perhatian yeoja, skg malah menarik perhatian wirewolf #plakk *ditimpukminho* tggu, jonghyun disini uda meninggal? trus mksd perkataannya bangkit smua apaan ya? masa yg ada di kastil itu smuanya uda meninggal jg? aigooo, penasaran sama kelanjutannya..dtunggu next updateny 😀

    • seru? padahal ini ff fantasy yang ancur lho~

      ya, semua yang ada di kastil itu udah meninggal, chingu~

      makasih dah komen..

  3. hwaaaaaaaaaaaaaaaa kereeeeeeeeeeen
    abang minho dsni kejebak yah?? haha kasian bngt dy,, trus itu dy mw dmakan kah am werewolf??
    serem bngt yah ngebayangin dunia kyk gt…
    haha jjong jd tmen pertama minho… ^^ cast yg lain blm pda keliatan…
    eunhyuk aq kira jd tikus,,,eh ternyta emank ga keliatan,,,haha
    smwa orng d dunia itu bs baca minho?? wah bahaya nh minho klo ngomong sembarangan,,,haha tp ap orang2 sana emank bs saling baca pikiran?? ato hanya orng baru *kayak minho* yg bs dbaca pikiran’ny???
    eeh siwon jd gila dsni ketawa melulu *dgantung siwon* ^^
    hihihi seru authooor dilanjuuut 😀

    • hahaha..emang si minho perlu dikasihanin#plak!
      mau dimakan sama werewolf? makanya ditungguin ya ALW chap selanjutnya~

      cast yang bakalan muncul nanti di part selanjutnya..
      makasih dah komen chingu~

  4. waaaaaaaaaaaaaaaaa seru bngtttt!!
    suka2 ❤ hehehe. lanjutin ya thor aku pnsrn bgt
    tp aku kurang sreg nih baca nya pake nama westrennya ,
    lbh enak pake korea sebenarnya hwhwhw
    bgian donghae bnyk yaaahh thor ❤

    • seru? benar’kah?? saya terharu#plaK!
      Oke, udah ada kok chap 2nya…tunggu minggu depan baru aku post, hehe#dzigh!
      Bagian Donghae? Okeh…tapi Donghae tak apa ya jadi orang bloon!! kekeke~#ditampar

  5. Mas Siswono(?) SKSD bgt sama dek Minho *diinjakflameskelobangkubur*

    thor, emangnya bang unyuk jadi apaan sih kok mo didudukin sama Minho? Jgn2 yg tikus tadi si Unyuk itu ya? *ditimpukunyukpakebatunisan*

    ditunggu kelanjutannya.. 😀

  6. Cerita fantasynya bagus, cuma kasian jjong diledekin mulu. Trus lagi seru-serunya nanggung ceritanya. Malah TBC
    Yaudah aku tunggu part selanjutnya secepatnya ya. Semangat!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s