Friend or Enemy

 credit poster ff : cutepixie@bananajuice03.wordpress.com

Title : Friend or Enemy
Autor : @Och1e_chan  / Lee Hyona
Cast(s) : Jessica SNSD, Sunny SNSD, Hyoyeon SNSD, Sooyoung SNSD, Seohyun SNSD
Genre : friendship
Length : Ficlet
Rating : General

Disclaimer : ff ini terinspirasi dari lagu SNSD – My Bestfriend 😀

P.S: annyeong~ new author here.. ini ff debut ku di ffindo.. dan sebenarnya ff ini tugas bahasa indonesia dari sekolah XD jadi mian kalo bahasanya kaku atau gimana (?).

happy reading ^_^

Pagi pagi sekali sudah terdengar keributan dari kelas 12 salah satu SMA di Seoul. Dari kelas itu, terlihat siswi berambut cokelat muda menggeledah tas miliknya sendiri. Wajahnya menunjukkan perasaan yang campur aduk. Bingung, panik, sedih, takut, semua jadi satu. Namun, ketika ia meliat ke arah belakangnya mendadak ekspresi wajahnya berubah menjadi marah.

“jadi, KAU KAN YANG MENCURI JAM TANGAN MAHALKU!!” siswi berteriak dari dalam kelas sehingga semua mata tertuju padanya. Siswi itu juga menatap orang dihadapannya dengan penuh amarah.

“Sica, bukan aku. Aku tidak pernah mencurinya. Menyentuhnya saja tidak pernah.” Jawab orang dihadapannya.

Gadis berambut cokelat muda yang dipanggil Sica tersenyum licik. “hah? Tidak pernah? Lalu, APA INI?” Sica mengambil sesuatu yang berkilauan dan dapat dipastikan sebuah jam tangan bermerek terkenal dari dalam tas. “apa yang ingin kau katakan, TIFFANY HWANG??!!”

“i.. itu..” Tiffany terbata-bata. Matanya juga mulai berkaca-kaca. Tiba-tiba datang seorang gadis menghampiri Tiffany dan menariknya keluar kelas.

Sica atau Jessica melipat kedua tangan dengan angkuh. “jadi, itu sifatmu yang sebenarnya? Sembunyi dan melarikan diri.” Ucapan Jessica membuat Tiffany dan temannya terhenti. “aku benar kan, Sunny?” lanjutnya.

Sunny berbalik. Ia berjalan menuju Jessica. Langkah dan wajahnya menunjukkan emosi Sunny yang sudah menggebu dan tidak bisa ditahan lagi. “Jessica Jung, apa kau tahu? Kau sudah keterlaluan!”

“keterlaluan apa? Aku hanya mengatakan yang sebenarnya. Apa aku salah?” Jessica menjawab dengan nada datar bahkan menyakitkan.

“kau.. apa kau menyebut dirimu SAHABAT? HUH?” Sunny sengaja menekan intonasinya pada kata ‘sahabat’ dan ‘huh’.

Jessica tersenyum licik. “sahabat? Sejak kapan kita bersahabat? Aku tidak pernah memiliki sahabat seperti kalian berdua!”

Sunny terkejut dengan perkataan Jessica. Tapi ia menutupi ekspresi terkejutnya dengan tertawa datar. “ha.. ha.. ha.. ok, anggap saja kau tidak mengenal kami! Keterlaluan!” Jessica justru menampilkan sikap arogan-nya.

Jessica POV

Apa? Keterlaluan? Mereka yang keterlaluan. Mereka tidak bersyukur dulu mereka memiliki sahabat sepertiku. Mereka justru berkhianat!

Setelah mengucapkan kata-kata itu, mereka pergi begitu saja. Aku rasa begitu lebih baik. Tiba-tiba Hyoyeon dan Sooyoung menepuk pundakku dari belakang.

“kau melakukan hal yang benar Sica.” Ujar Hyoyeon.

“ayo pergi dari sini.” Ajakku. Para sahabat baru ku mengikuti di belakang.

***

Sepulang sekolah…

Aku menyusuri koridor sekolah bersama Hyoyeon dan Sooyoung di belakangku. Aku melihat sekitar. Pandangan siswa-siswa ke arahku saat ini berbeda dengan biasanya. Berbeda dengan saat mereka menatapku ketika bersama Tiffay dan Sunny. Tatapan mereka begitu ramah dan hangat. Berbeda dengan saat ini. Tatapan mereka seperti ketakutan, marah, dan menatapku sebagai sesuatu yang menjijikkan. Hello~ kenapa aku mengungkit-ungkit masalah itu lagi? Bangun Sica! Bangun! Takterasa aku memukul pelan kepalaku sendiri.

“kau baik-baik saja?” Tanya Sooyoung. Aku hanya mengangguk perlahan. “bagus lah kalau begitu. Sekarang kita mau kemana?” lanjutnya.

“hm.. bagaimana kalau ke mall?” usul Hyoyeon.

“er.. aku rasa, itu ide.. bagus..” ujarku dengan setengah-setengah.

“Hello~ Sica, mana semangat belanjamu?” ujar Hyoyeon.

Aku menarik napas panjang. “BERANGKAT!!”

***

Di mall..

Aku, Sooyoung, dan Hyoyeon sudah mengelilingi mall ini selama 2 jam. Tetapi tidak ada satupun barang yang membuat kami tertarik dan kami memutuskan untuk makan di suatu restoran.

Seusai memesan makanan, kami duduk di kursi restoran itu, mataku tertuju pada suatu balok persegi panjang yang ukurannya cukup besar. Itu studio photobox. Dan saat ini ada ingatan yang terlintas dipikiranku.

-flashback-

Saat aku, Sunny, dan Tiffany berjalan-jalan di mall, Sunny menarik tanganku dan tangan Tiffany. Aku dan Tiffany sedikit kebingungan.

“ada apa sunn?” tanyaku.

Sunny menunjuk-nunjuk sebuah studio photobox. Dari sana aku mengerti maksudnya. Kami memasuki studio photobox itu dan memasang pose-pose yang konyol.

-flashback end-

Tak terasa aku tersenyum seraya mengaduk jus yang aku pesan. Ada tangan seseorang yang bergerak-gerak dihadapanku. Spontan aku terbangun dari lamunanku.

“Sica, apa kau baik-baik saja? Kau sedikit… er.. aneh..” ujar Sooyoung. Mungkin ia takut menyinggung perasaanku.

Aku mengangguk. “mungkin aku belum terbiasa.” Mereka berdua mengangguk. “ngomong-ngomong, kalian pesan apa?”

“Lasagna.”

“Sushi.” Jawab Hyoyeon dan Sooyoung bergantian.

“apa rasanya enak?” tanyaku.

Mereka berdua mengangguk. “cukup enak. Kalau kau mau mencobanya, beli saja. Tidak mahal kok.” Ujar Hyoyeon.

Aku mengangguk. Mereka berbeda dengan Sunny dan Tiffany. Jika aku menanyakan hal yang sama ke Sunny dan Tiffany, mereka pasti menyuapkan makanan mereka padaku. Argh, aku mulai lagi.

+++

Keesokan harinya…

Aku menyusuri taman sekolah. Ini adalah tempat favoritku, Sunny, dan Tiffany sampai sekarang. Dan berjalan-jalan disini adalah kegiatan wajibku setiap hari. Mungkin aku harus membuang semua kenanganku dengan 2 penghianat itu secepatnya. Agar pikiranku tidak terganggu olehnya. Jessica Jung, semangat!

Dari kejauhan, aku bisa melihat Sunny duduk dan membaca buku. Aku rasa ada yang aneh, Tiffany kemana? Aku rasa mereka selalu bersama.

Tiba-tiba Sunny melihat kearahku. Spontan aku berbalik arah dan berjalan menuju kelas. Semoga Sunny tidak melihatku.

***

5 menit lalu bel masuk berbunyi, kemana gurunya? Mungkin masih rapat. Aku melihat sekitar. Aku rasa ada yang tidak masuk saat ini. Aissh, Tiffany. Pasti dia. Argh, kenapa mereka meracuni pikiranku?

“maaf saya terlambat. Rapatnya baru saja selesai.” Semua murid menoleh ke sumber suara itu. Ternyata guru matematika kami sudah datang. “siapa yang tidak masuk hari ini?”

Spontan Sunny menjawab, “Hwang Tiffany.”

“kenapa?”

“ia terkena anemia.” Huh? Sampai seperti itukah? Aku baru tahu kalau Fany bisa sakit seperti itu.

Ke.. kenapa aku merasa ada yang tidak beres ya. Sepertinya aku merasa khawatir. Wowowow, apa yang kau pikirkan Sica? Kenapa kau mengkhawatirkan si penghianat itu? Aku tegaskan kembali kepadamu, TIFFANY HWANG ADALAH PENGHIANAT.

***

Hari demi hari berlalu. Kegiatan rutinku bersama Sooyoung dan Hyoyeon adalah mempermalukan Tiffany dan Sunny di sekolah bagaimanapun caranya. Mungkin dengan cara membeberkan semua rahasia mereka ke warga sekolah, menyiram mereka degan air saat kami bertemu mereka, dan banyak lagi. Mungkin dengan cara ini aku bisa menghapus kenanganku bersama mereka.

***

Berhari hari aksi kami semakin lama aku rasa semakin keterlaluan. Banyak yang menegur kami, bahkan guru guru juga turun tangan. Tapi itu percuma saja, aku tidak akan melepaskan 2 penghianat itu begitu saja. Mereka harus mendapat balasan terlebih dahulu karena sudah membentakku didepan orang banyak.

***

Suatu pagi…

Hari ini, seperti biasa, aku, Sooyoung, dan Hyoyeon sudah menyiapkan rencana untuk mengerjai Tiffany dan Sunny.

Saat berjalan menuju kelas, aku melihat Seohyun berjalan mondar-mandir di depan pintu. Seohyun adalah teman sekelas ku. Ketika melihatku datang, ia langsung berlari kearahku dgn wajah gugup.

“hai Sica.” Sapanya.

“hai, ada apa Seo?” tanyaku.

“er.. aku ingin membicarakan sesuatu.”

“bicaralah.”

“ikut aku.” Ucapnya lalu menarikku duduk. “kau masih ingat dengan kasus hilangnya jam tangan mu?” aku mengangguk. “sebenarnya yang melakukan bukan Tiffany. Tapi Sooyoung dan Hyoyeon!” aku sedikit terkejut mendengarnya.

“itu tidak mungkin! Sooyoung dan Hyoyeon yang memberi tahuku kalau Tiffany pelakunya.”

“kau salah besar Sica.”

“kau.. kau jangan asal menuduh! Apa kau punya bukti?”

“untuk apa aku bilang seperti itu tanpa bukti? Ini buktinya!” ujar Seohyun lalu menunjukkan foto-foto yang terdapat Sooyoung dan Hyoyeon didalamnya. Aku memperhatikan lembaran foro itu dengan seksama. Sepertinya, mereka mengambil jam tanganku lalu memindahkannya ke dalam tas.

“tidak, aku masih tidak percaya dengan ini. Apa kau masih punya bukti lain?” kata ku. Tapi yang ku lihat Seohyun justru memperhatikan gerbang sekolah. “Seohyun, aku sedang bicara denganmu.”

“Mereka datang, cepat ikut aku!” ujar Seohyun lalu menarik tanganku. Dan bersembunyi dibalik pintu kelas.

“tidak ku sangka, ternyata cukup mudah unuk memecahkan persahabatan mereka.” Samar-samar aku mendengar suara Sooyoung.

“iya, kau benar. Hanya dengan satu kasus kecil, mereka langsung tercerai berai.” Dan sekarang suara Hyoyeon yang terdengar. Aku sedikit bingung dengan yang mereka bicarakan.

“tidak hanya melihat mereka berdebat, kita juga mendapat kesenangan lain. Kau tahu kan?” ujar Sooyoung dan sekarang aku semakin tidak mengerti.

“yeah, melihat Jessica menyakiti sahabatnya sendiri tanpa melihat situasi.” Deg! Mendengar perkataan Hyoyeon, aku mengerti apa yang mereka bicarakan. Aku menatap Seohyun dengan tatapan tidak percaya. Seohyun mengangguk dan member isyarat agar aku keluar.

Aku berjalan keluar dan menghalangi jalan Sooyoung dan Hyoyeon. “apa kalian sudah puas?” tanyaku. Mereka terkejut melihatku tiba-tiba muncul. “aku tegaskan sekali lagi, APA KALIAN SUDUH PUAS MENJALANKAN SEMUA RENCANA KALIAN?” kataku denagan berteriak.

“Jessica, a.. apa maksudmu?” Tanya Hyoyeon.

“tch, aku sudah mencurigai kalian. Kenapa kalian lakukan ini?” mereka terdiam. “apa kalian puas sekarang?”

“ya, kami sudah puas. Kami sudah puas karena kalian bukan menjadi sahabat lagi!” jawab Sooyoung dengan nada meyakinkan.

“kau.. maaf, saat ini aku sedang tidak ingin berdebat dengan kalian.” Ujarku lalu lari meninggalkan sekolah. Aku terlalu kecewa dan marah saat ini.

Sekarang, apa yang harus aku lakukan? Aku sudah berbuat kesalahan yang tidak termaafkan. Kalau aku meminta maaf ke mereka, apa mereka mau memaafkanku? Tak terasa airmataku mengalir deras bersamaan dengan langkah kakiku.

Beberapa menit kemudian aku sampai di depan rumah Tiffany. Entah kenapa, langkah kakiku terhenti disini. Rasanya hatiku ingin masuk kesana lalu meminta maaf. Tapi, Tiffany, Sunny, maafkan aku, aku belum mempunyai keberanian yang cukup untuk melakukannya. Aku meneruskan berjalan menuju rumahku.

***

Saat sampai dirumah, aku menangis sejadi-jadinya. Aku menyesali semua kesalahanku. Kenapa aku bisa sebodoh ini. Bisa percaya begitu saja dengan perkataan orang. Baiklah, sore ini aku akan ke rumah Tiffany dan meminta maaf. Semoga Sunny juga ada disana.

***

Saat didepan pintu rumah Tiffany, aku menarik napas panjang lalu menekan bel. Tak lama, pintu terbuka dan muncul sosok Tiffany. Aku rasa ia sedikit terkejut dengan kedatanganku.

“hai.” Sapaku

“hai juga.” Balasnya.

“apa Sunny juga ada di sini?” tanyaku.

“siapa Fany?” Tanya seseorang dan itu adalah Sunny. Mungkin ia terkejut melihatku disini.

“hai Sunn.”sapaku

“mau apa kau kemari?” tanyanya dengan kasar. Aku terdiam. “Fany, usir saja dia.” Lanjutnya. Sepertinya ia ingin sekali mendorongku. Tapi Tiffany mengalanginya.

Aku berlutut dihadapan mereka. Mereka sangat terkejut. Tapi aku rasa aku harus melakukannya. “tolong, tolong maafkan aku. Aku tahu aku salah, aku tahu aku keterlaluan, jadi, tolong maafkan aku. Aku memang ceroboh, aku memang bodoh menuduh sembarangan tanpa bukti.”

“Sica, bangunlah.” Bujuk Tiffany.

“tidak, aku harus dihukum atas perbuatanku.” Tambahku.

“kami sudah memaafkanmu.” Kini suara Sunny yang terdengar. “jauh-jauh hari sebelum kau memintanya.”

Aku berdiri lalu memeluk kedua sahabatku. “terimakasih, terimakasih banyak.”

Sahabatku, kau kegembiraan dan jiwaku. Aku bersumpah kepada Tuhan. Aku menyayangimu sahabatku.

Kau adalah hidupku saat ini. Kau permata dan keajaiban di hidupku. Sekali lagi, aku bersumpah kepada tuhan. Aku menyayangimu sahabatku.

Kau akan selalu menjadi sahabat terbaikku. Selamanya kau sahabatku. Kau satu-satunya  hartaku, sahabatku. Dan selamanya kau sahabatku.

 

–==The End==–

gimana gimana?

gj ya 😦 *duduk dipojokan ruangan, efek abu-abu #apa’an

and mian kalo ada salah ketik ‘_’

bagi yang sudah baca ff ini, mohon tinggalkan jejak ya 😀

kamsahamnida 😀

14 responses to “Friend or Enemy

  1. Sedih banget sampe mau nangiss yang di akhirnya tapi mereka akhir nya bersahabat lagi!! Bagus author. ceritanya banyak hikmah and seru!

  2. Daebakkk ..
    Aku suka sekali FF tentang persahabatan ..
    Karna bagiku, sahabat lebih penting daripada cinta *maaf jikaa ada yg nggak sependapat*

  3. Huaaa.. terharu nih..
    knp soo ama hyo tega sie? huaaa (tenang2inikancumanff) *apaajaniereaders*
    ok. tp ffnya daebak!! 😀

  4. Aigoo, keren banget ceritanya. Apalagi kata kata di akhir ceritanya. Beuh, nuncep banget di hati gan. 4 jempol buat ff ini. 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s