Our Friendship

Tittle                : Our Friendship

Author             : Sicafiramin @Sicafira

Main Cast        : Park Jiyeon and friend

Length             : OneShot

Genre              : Friendship

Rating             : General

Summary     : “Tidak peduli kita itu siapa, tapi kita saling peduli satu sama lain”

aku buat FF tentang persahabatan gapapa yak? Habisnya aku ga ada kerjaan nih  *garuktanah. FF ini terinspirasi Film Kimi to boku, tapi asli beda, soalnya kimi to boku imajinasi yang buat, kalau ini aslii imajinasiku. FF ini aku post di PJYFF juga.  Yooo ~ Happy reading ^_^

we are friends

                Aku hanya sendiri di tempat yang sangat asing bagiku, aku belum pernah kesini karena ibuku menghilang dan aku pun terbawa hingga ke mari. Aku takut, aku kedinginan, aku kelaparan. Banyak yang menggangguku, aku tidak suka tempat ini. Banyak kendaraan lalu lalang dan lampu besar yang berkedip-kedip, setiap orang berjalan tanpa melirik ku sedikit pun, aku bagaikan gelandangan, lebih dari itu malah. “Aigoo~ kucing sialan, minggir” seseorang menendangku, aku tidak tahu apa salahku, mungkin karena aku menghalangi jalan nya. Sekarang aku semakin kehilangan arah, ternyata benar tempat ini sangat berbahaya apalagi untuk kucing kecil seperti ku.

      Aku terlahir 2 bulan yang lalu bersama ke 2 saudaraku, namun entah mengapa aku bisa ada di sini dan terpisah dengan mereka padahal jelas-jelas aku mengikuti untuk masuk kedalam mobil, majikan kami pindah rumah.

    Seorang gadis datang menghampiriku dan menggendongku, lalu di peluknya aku di dalam pelukannya. Siapa dia? Gadis remaja yang masih sekolah, berambut pendek berwarna cokelat dengan senyum yang sangat manis, seperti ibuku.

                “Kau tersesat? Ayo aku bawa kau ke rumah” Ia menggendongku dan aku tidak melawan sama sekali, biasanya jika ada yang memegangu aku akan langsung mencakarnya.

          Kami berjalan entah di mana, namun tempat ini begitu sepi bagiku, hanya ada kami berdua di tempat yang di sebut ‘jalan menuju rumahnya’. Apakah gadis ini baik?

“apa kau kesepian? Jalan ini sepi bukan?” ia bertanya padaku, aku terdiam karena aku tidak bisa berbicara padanya. “kau bisa lihat? Itu rumahku, sepi kan?” ia berbicara padaku, lalu menunjukan rumahnya, sungguh sepi.

       Ia membawaku ke dalam rumahnya, rumahnya begitu terang namun tak ada siapa-siapa kecuali kami berdua. Ia mendudukan ku di atas meja makan dan menatap aku. Aku tidak tahu harus berekspresi apa? Harus mencakarnya? Tidak mungkin, ia sudah membawaku ke tempat yang hangat ini dan menyelamatkan ku dari tempat berisik itu.

“errr, kau lucu sekali, dan benar-benar penurut” gadis itu mengelus kepalaku dan aku sungguh nyaman bila di perlakukan seperti itu. “akan Ku beri kau nama, tapi aku tidak tahu nama yang cocok untukmu, apa ya? Hmmm… bagaimana kalau? Seungho? Ah jangan… Minho? Aisssh itu jelek, hmm jinki? Terlalu imut, … Ah! Bagaimana kalau Haru? Lucu kan? Haru itu bukankah artinya musim semi? Sekarang kan musim semi”

Haru? Hmm, nama yang bagus, dan mungkin aku akan menyukainya.

“Oke, tuan Haru, apa kau lapar? Jika lapar katakan sesuatu” Pintanya, aku harus berbicara apa? Aku tidak bisa bahasa manusia. Hmmm yang aku bisa saja “Miaw~” ya, hanya itu yang keluar, aku sendiri tidak tahu arti kata Miaw itu apa.

“Kawaiii!!! Ayo kau harus makan” ia bergegas membuka lemari es nya dan mengeluarkan sesuatu, Omo Omo!!! Itu ikan tuna!! Ia menyimpan nya di sebuah mangkok kecil dan menaruhya di bawah, lalu aku di letakan di dekat santapan lezat itu, tanpa babibu langsung ku makan saja. Tak peduli gadis ini tersenyum dan memperhatikanku saat sedang makan. Kenyang, aku menghabiskan makanku dengan lahap, sekarang aku mengantuk. kemudian Ia membawaku ke suatu tempat, apa ini kamarnya?

“Haru, ini kamar ku…..” ditaruhnya aku di kasurnya yang empuk, dan ia mengelapi buluku yang dengan handuk yang sedikit basah, ia benar-benar merawatku. ”Miaw” hanya itu yang bisa ku ucapkan, mungkin ia akan mengerti sebagai ucapan terima kasih. Setelah itu ia beranjak dari tempat tidurnya dan mengganti pakaiannya. “Eits, kau kucing jantan jangan mengintippp” ia melempar baju ke arahku, bagus! Sekarang badanku yang kecil tertutup oleh kaos, rawr!

“Haru, sekarang kau menjadi temanku, arra?” ia memelukku dan aku berdiri di atas dadanya.

“Namaku, Jiyeon, bisa kau bilang jiyeon? Hahaha, pasti tidak bisa. Hmmm~ kau harus menemaniku di rumah ku ya ^^, aku kesepian disini. oh ya Haru, aku ingin bercerita padamu” Jiyeon menatapku serius dan aku membulatkan mataku melihat matanya yang cokelat.

“aku kesepian, aku tidak punya teman, ibuku meninggal 2 tahun yang lalu dan aku trauma untuk berkomunikasi dengan orang lain. Appa? Ia sangat sibuk dengan pekerjaannya, dan kini aku hanya seorang diri, tapi sekarang ada kamu. Haru” ia mengusapku pelan, dan aku menutup mataku, semakin terlelap dan aku membuka mataku saat melihat Jiyeon, tepatnya matanya sangat basah hingga air matanya keluar. Jangan menangis Jiyeon, aku kan temanmu.

Awal pertemuan kita di persimpangan kota, kau membawaku ke rumahmu, dan memberiku makan, setelah itu kau tidur bersama ku. Kita sahabat mulai sekarang.

 The story of you and me

       Sejak saat awal pertemuan kita, kau membawaku ke rumahmu dan kau selalu berbicara padaku, sejak Appa mu pulang, kau meminta izin untuk memelihara ku dan akhirnya di izinkan karena aku sudah terlatih buang air besar dan aku kucing yang bersih. Kau sangat senang apabila bermain denganku, kau selalu menjebakku dan aku masukk perangkapmu, baiklah aku senang bila kau senang. Aku mengejar bulu-bulu yang kau goyang-goyangkan dan aku malah terjatuh kebawah. Aku suka melihatmu tertawa lepas seperti itu.

        Kau selalu bilang kalau kita ini bersahabat, ya memang kau adalah sahabatku. Jiyeon sering memfotoku dan kami selalu berfoto bersama. Kau memajang foto kita di setiap tembok rumahmu dan aku suka itu. Kau tidak pergi kesekolah karena kau bilang tidak suka, kau lebih suka di rumah bermain dan menonton film bersamaku. Kita, selalu mandi bersama dengan busa yang banyak dan air yang hangat.

        Aku selalu bangun lebih dulu darimu dan menatap ke luar jendela untuk melihat perubahan yang terjadi di luar sana. Dan dari waktu ke waktu memang banyak yang berubah. Aku tumbuh lebih cepat daripada Jiyeon, aku sudah agak dewasa dan menjadi agak gemuk.

        Kau mengajakku keluar rumah untuk menikmati indahnya musim gugur. Aku bermain dengan daun-daun yang berjatuhan di bawah dan Jiyeon  malah mengobrol dengan seorang namja. Namja yang begitu manis dan kurasa mereka saling menyukai, itulah kelebihan manusia. Setiap hari aku menghabiskan waktu bersama Jiyeon, aku senang melihat tawa Jiyeon.

       Akhir-akhir ini Appamu sering di rumah dan memasakan kami makanan yang enak, aku juga di beri makanan yang enak. Aku sudah seperti bagian dari keluarga kecil ini. Kami bermain ayunan saat sore hari, menonton film saat malam, mandi bersama saat pagi, dan bermain saat siang.

         Jiyeon menangis, ia sering menangis belakangan ini dan lebih sering memelukku, ia bilang nyaman bila bersamaku. Aku selalu ikut sedih bila jiyeon sedih.

       Jiyeon tiba-tiba saja tertidur di lantai dan Appanya segera membawanya keluar, mereka meninggalkanku di rumah dan aku harus menunggu sendiri di ruangan yang sudah sangat aku hapal. Jiyeon pulang? Bukan. itu Appanya, tiba-tiba ia membawaku ke dalam mobilnya. Aku dibawa entah kemana, tapi aku sangat ingin bersama Jiyeon saat ini.

       Aku dibawa ke tempat yang sangat besar dengan aroma yang tidak ku sukai, orang menyebutnya rumah sakit. Di balik pintu besar ini, ku lihat ia sedang duduk lalu memelukku. Appanya Jiyeon bilang bahwa aku di izinkan tinggal disini bersamamu. Tapi, Aku lebih suka di rumah.

     Kami bercanda dan bermain di atas kasur, aku tidak suka oleh selang putih kecil yang menempel di tangan kirimu. Jiyeon, semakin hari kulihat ia tampak berubah. matanya sendu, dan badannya sedikit kurus.

     1 bulan kita di rumah sakit, kami menatap keluar jendela dan melihat benda putih kecil berjatuhan, sangatlah indah namun sangat dingin. Ini namanya salju, ini salju pertama yang ku lihat, namun jiyeon bilang ini adalah salju terakhir yang ia lihat.

     1 minggu kemudian, jiyeon appa membawa 2 buah kado kemari. Ia bilang sekarang hari natal, tapi Jiyeon masih tertidur. Aku di beri sekaleng ikan tuna, dan aku suka itu. Malam hari sangatlah tidak menyenangkan apalagi hanya sendiri dan kau masih terlelap dalam tidurmu. Seseorang berbaju putih sering kemari dan berkata bahwa kau sakit. aku jadi teringat saat aku sakit, kau menangis lalu membawaku ke dokter hewan. Sekarang, haruskah aku menangis? aku tidak bisa.

      Aku menatap ke luar jendela dan melihat salju-salju tidak berjatuhan, angin berhembus pelan dan ada bintang di atas sana, bintang yang bersinar terang dan sangat indah. Kau bilang hanya kita yang bisa melihat bintang itu karena kita bersahabat. Aku benar-benar merindukan Jiyeon yang dulu, aku menghampirinya dan tidur di sisinya. Itulah hal yang selalu aku lakukan. Aku ingin menjaganya.

Dulu aku lemah, sekarang aku ingin melindungi seseorang yang sudah membuat hidupku lebih berarti.

        Aku membuka mataku perlahan, kulihat keluar jendela salju-salju sudah mencair dan daun-daun berserta bunga-bunga tumbuh dengan baik. Ini musim semi, musim semi adalah namaku bukan? Jiyeon bangunlah, kau harus lihat musim semi. Aku merasa Jiyeon sedikit lebih dingin, dan kaku. Ia tak mau membuka matanya.

in friendship, there is no word ’goodbye’

 

         Aku merindukan tawa mu, dan air matamu. Aku tidak bisa tertawa maupun menangis, tapi di balik itu aku tertawa maupun menangis. kau sudah memberiku kehidupan yang berarti dan aku senang bisa menjadi sahabatmu. Kini tak ada yang bercerita di kamar ini. Foto-foto yang menempel di dinding masih belum bisa menggantikan dirimu yang cerewet. Kau selalu bilang kita memiliki banyak ke samaan, kurasa hati dan perasaan kita yang sama.

      Kita memang berbeda, kita sangat berbeda. Tapi kita saling memahami. Kita tidak saling berbicara tapi, kita bebicara dari hati. Kau bilang di dalam persahabatan itu tidak boleh ada kata selamat tinggal. Kau memang tidak mengucapkan selamat tinggal padaku, aku pun tidak mengucapkan selamat tinggal padamu.

    Kau tidak pergi Jiyeon , kau masih ada di hatiku, sebagai bintang yang indah itu, sebagai krystal salju itu, dan sebagai angin yang berhembus itu. Kau selalu bersamaku. Persahabatan itu selamanya kan?

      Tak ada yang lebih indah di banding persahabatan kita. Kini aku sendiri lagi, manatap indahnya malam hari dan bintang yang bersinar terang di atas sana. Musim semi saat ini tidak sama dengan musim semi kemarin.

     Kau memberiku makna dari persahabatan itu sendiri “Tidak peduli kita itu siapa, tapi kita saling peduli satu sama lain” itulah persahabatan kami.

 THE END

Gimana? FF ini kupersembahkan untuk kucingku, kayanya kependekan deh? hohoho moga aja feel nya dapet :) eheheh *mukabego.

Advertisements

12 responses to “Our Friendship

  1. kucingnya pinter banget,aku juga mau punya kucing yang kyak gitu -,-”
    aku suka kata-kata : Kau memberiku makna dari persahabatan itu sendiri “Tidak peduli kita itu siapa, tapi kita saling peduli satu sama lain” itulah persahabatan kami.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s