Songsaenim, saranghae!!

Author        :: autumnsnowers

Genre         :: Romance, school life

Rate           :: General

Length        :: Oneshot

Main Cast  :: – Cho Kyuhyun

– Park Miyoung

Disclaimer!! Ide FF ini murni milik saya tanpa campur tangan orang lain dan pernah saya PUBLISH di WP pribadi saya , di obizienka dan sbg ff freelance di Our Fanfiction house. Terima kasih.

Miyoung’s POV

Banyak yang bilang jika mereka iri dengan ku karena aku memiliki guru privat yang sangat tampan dan cool. Oke aku akui dia memang tampan, tapi cool? Cih… sifatnya itu lebih bisa dibilang iblis berhati dingin.

Kenapa? Karena setiap kali dia mengajariku les privat dia s.e.l.a.l.u memarahi ku, memangnya aku sebodoh itu apa.

Oh oke… aku memang bodoh di bidang matematika, tapi di pelajaran lain aku tidak sebodoh itu. Dan setiap kali belajar matematika dengannya, dia memberiku 100 soal dan aku harus menyelesaikannya selam 2 jam!! Argh gila 100 SOAL DALAM 2 JAM!!

Huft appa, kenapa kau memilih dia sebagai guru privat ku? Aaa nanti aku akan berbicara dengan appa.

Memang dia datang memberiku les privat 2 hari sekali, dan aku bersyukur karena aku tidak perlu melihat wajah yang bertolak belakang dengan sifatnya itu setiap hari. Tapi hari ini merupakan hari tersialku, setelah sibuk praktikum dan membuat laporan di sekolah, aku malah melihat orang itu sedang duduk manis sambil mengobrol dengan ibu ku di ruang tamu. Argh… semoga saja kali ini dia tidak memberiku pelajaran matematika.

Dengan enggan aku menghampiri mereka, duduk di samping ibuku dengan wajah cemberut.

“ Miyoung… kenapa kau tidak menyapa Kyuhyuh? Dia sudah lama menunggu mu.” Ucap ibu sambil mengelus rambut panjangku.

“ Aku tidak mau. Salahnya sendiri kenapa dia datang lebih awal.” Jawabku sambil membuang muka. Ibu mencubit lenganku karena kesal akan sikapku, aku hanya mengerucutkan bibirku sambil mengusap-ngusap lenganku.

“ Kyuhyun-ah… maaf atas sikap Miyoung.” Ibu meminta maaf pada Kyuhyun atas sikapku.

“ Ne, adjumma. Itu tidak masalah untukku.” Jawab orang itu sambil tersenyum ramah hingga ibuku dibuat terpesona olehnya.

Argh… senyum itu, hanya senyum palsu darinya. Dia bisa tersenyum pada orang lain, tapi padaku? Hanya seringaian yang sering dia tujukan untukku. Lalu untuk apa ibu meminta maaf atas sikapku padanya? menyebalkan.

Karena terlarut dalam pikiranku sendiri aku tak sadar jika ibu telah meninggalkanku hanya berdua dengan orang ini di ruang tamu.

“ Jadi… bisa kita mulai Park Miyoung?.” Tanyanya dingin. Aigo…entah pergi kemana sikap hangatnya saat berbincang dengan ibu ku tadi.

Aku hanya memutar mataku kesal lalu beranjak pergi mendahuluinya menuju ruang baca, ruang dengan banyak berbagai buku yang dikoleksi oleh keluarga kami, ruangan yang biasa digunakan les privat untukku. Aku duduk dikursi dekat jendela sambil menopangkan dagu malas pada meja di depanku. Oke… les dimulai, neraka ku pun dimulai, sekarang hanya tinggal menunggu perintah atau lebih cocoknya siksaan untukku dari pengeran iblis ini.

“ Buka halaman 357, kerjakan soal-soal itu dalam waktu 30 menit. Ah ani… untuk orang seperti mu sepertinya akan memerlukan 1 jam, atau lebih.” Ucapnya dengan ekspresi meremehkan sambil meletakkan buku matematika kesayangannya di atas meja. Lalu dia pun melenggang dengan santai menuju kursi di pojok ruangan, tempat favoritnya. Lihatkan… tempat favoritnya saja di pojok ruangan.

Aku menopang wajahku dengan kedua tangan, memperhatikan buku itu tanpa minat. Argh gilaa bahkan dia punya buku matematika yang menurutku tebalnya diluar batas normal orang-orang. Dasar namja aneh, melihat buku pelajaran matematika ku saja yang tebalnya 200 halaman termasuk kata pengantar, daftar isi, index dan daftar pustaka saja sudah membuatku kehabisan nafas.

“ Ya!! Apakah kau akan selesai jika hanya memelototi buku itu? cepat kerjakan! Waktumu tinggal  45 menit. Palli!!.” Teriaknya saat menyadari bahwa aku sama sekali belum menyentuh buku keramat miliknya itu.

Aku membuka buku itu secara perlahan layaknya sedang memeriksa bom. Dan betapa tercengangnya aku ketika melihat soal-soal itu. walaupun hanya 50 soal dan lebih sedikit dari jumlah soal yang biasa dia berikan untukku, tetap saja ini membuatku frustasi. Oke… aku harus mengerjakannya.

Aku berkutat dengan soal-soal itu tanpa memperdulikan tatapannya yang beberapa kali memandangku tajam.  Tinggal 26 soal lagi, aigo kepalaku serasa ingin meledak tapi aku terus berpacu dengan waktu. Dapat ku lihat dari ekor mataku jika dia mulai berjalan mendekat, argh sial! Dia pasti akan segera mengambil kertas kerjaku.

Benar saja dugaan ku, dia berdiri di depan meja ku dan langsung merebut kertas yang sedang ku kerjakan. Dia melihat kertas jawabanku dengan cermat. Semakin lama ekspresi wajahnya semakin kelam. Aku menundukkan kepalaku bersiap untuk menerima ledakan yang akan dia keluarkan. Dia lalu meletakkan kertas kerja ku di meja. Kilat matanya terasa sangat berbahaya.

“ YA!!! Kau hanya menyelesaikan 24 soal?! dan jawabanmu yang benar hanya 10 soal?! Astaga kau ini. Selama ini apa yang KAU PELAJARI HAH?!” marahnya sambil menunjuk-nunjuk kertas kerjaku yang terletak di atas meja. Aku hanya mengkeret dalam diam.

“ Kau… jika begini terus aku akan datang setiap hari untuk mengajarimu.” tandasnya sambil menggeram. Aku kesal, aku sudah muak dengan sikapnya yang memandangku rendah.

“ Ya!! Tak bisa kah kau sekali saja tidak membentakku?! Kau tahu, hari ini aku sudah cukup lelah mengerjakan praktikum beserta laporannya di sekolah!. Lalu saat aku tiba di rumah, kau sudah tiba terlebih dahulu dan kau langsung memberikanku soal matematika!. Tidak bisakah kau membiarkanku untuk beristirahat sebentar saja?!.” Nafasku terengah-engah setelah mengeluarkan semua rasa kesal ku saat ini.

“ Kau pikir aku tidak sibuk dan memiliki banyak tugas hah?!!. Aku juga sibuk meyesuaikan jadwal kuliahku!.” bentaknya menjawab ucapanku.

“ Lalu kau kenapa menerima tawaran ayahku untuk menjadi guru privat ku hah?! Jika kau tak suka kau bisa berhenti!. Lagi pula kau berasal dari keluarga berada, kurasa kau tidak memiliki kesulitan dalam ekonomi. Dan jangan pernah memandangku remeh tuan Cho Kyuhyun. Aku memang bodoh dalam matematika, tapi TIDAK di bidang lain. Mungkin cara mengajarmu yang salah. Aku yakin aku akan bisa dalam matematika. Aku akan mendapatkan nilai 100 saat ujian nanti tanpa bentuan darimu. Camkan itu. Dan jika aku mendapatkan nilai sempurna, kau harus mengundurkan diri menjadi guru privat ku.” suaraku terdengar lantang dan sedikit berdesis berbahaya.

“ Oh baiklah jika itu keinginanmu nona. Tapi kau jika kau gagal, kau harus 2x lipat belajar matematika bersama ku.” Ucapnya sambil menyeringai. Argh sial!! Kenapa aku malah menantangnya?. Oke Park Miyoung kau bisa, kau pasti bisa.

“ Baik.” jawabku terlihat percaya diri padahal aku menyembunyikan perasaan kalut yang tiba-tiba melanda diriku.

Kyuhyun berjalan pergi meninggalkanku di ruang baca setelah membuat perjanjian bahwa dia akan tetap datang untung mengajariku kecuali matematika, dia tidak ingin membuat ayahku curiga. Aku menghempaskan punggungku ke sandaran kursi.

Menghela nafas… memikirkan apa yang harus ku bicarakan pada ayah agar Kyuhyun segera diberhentikan menjadi guru privat ku. Tapi mengingat saat ayah memutuskan Kyuhyun sebagai guru privat ku dan aku yang tidak bisa membantahnya, ku rasa hal ini akan semakin sulit.

FLASHBACK

Aku duduk di samping ibu sambil tertunduk di ruang keluarga. Ayah marah karena melihat nilai ku yang sangat memprihatinkan di pelajaran matematika padahal di pelajaran lain aku mendapatkan nilai yang nyaris sempurna. Ayah mondar mandir di hadapanku, tampak sedang memikirkan sesuatu.

“ Ayah… bisa kah kau berhenti mondar mandir seperti setrikaan rusak? Aku pusing melihatnya.” ucapku.

“ Ya!! Park Miyoung!! Dasar tak sopan. Aku sudah memikirkannya, mulai besok Cho Kyuhyun akan menjadi guru privat mu.” Suara ayah terdengar tegas. Aku tak percaya dengan apa yang ayah katakan.

“ Cho Kyuhyun? Anak sahabat ayah itu?. Dia hanya akan mengajariku matematika kan?.” Aku familier dengan nama itu kerena ayah selalu menyebut-nyebut nama itu.

“ Iya, dia anak paman Cho. Bukan hanya matematika Youngi, tapi semua pelajaran.” Ucapan ayah sukses membuatku ternganga karena saking terkejutnya.

“ MWO?! Semuanya?! Ayah… nilai ku di pelajaran lain hampir mendekati sempurna. Aku tak sebodoh itu hingga mendapatkan les di semua pelajaran.” aku menolak keinginan ayah mentah-mentah. Entahlah… aku memang belum pernah bertemu dengannya, tapi aku merasakan bahaya jika dia yang akan menjadi guru privatku dan aku meminimalisir kedekatan ku dengannya.

“ Mau tidak mau kau harus mengikuti apa yang ayah ucapkan. Lagi pula dia sudah menerima tawaran ini. Kau tenang saja… dia orang yang pandai, dia sekarang kuliah di Universitas Kyunghee jurusan musik postmodern. Meskipun mengambil jurusan musik, tapi dia sangat mahir dalam matematika. Kau tahu, dia sempat memenangkan olimpiade metematika dan mendapatkan mendali emas. Dia sangat tampan, kau pasti akan menyukainya. Lagipula dia adalah anak dari sahabat ayah, jadi ayah mempercayakan mu padanya. Bla bla bla bla bla” ayah bercerita secara bertubi-tubi dengan penuh semangat membanggakan seorang Cho Kyuhyun.

Aku tak bisa berkutik jika ayah sudah memutuskan sesuatu. Apalagi jika dia sudah mengagumi sesuatu. Dan sialnya, sepertinya ayahku sangat mengagumi orang yang bernama Cho Kyuhyun itu. Oh semoga aku selamat menghadapi ini semua.

FLASHBACK END

~~~****~~~

Minggu depan akan diadakan tes matematika. Aku berusaha mati-matian mempelajari soal-soal matematika. Ya walaupun Kyuhyun tetap datang 2 hari sekali untuk mengajariku les privat, tapi dia sama sekali tidak pernah mengajariku matematika lagi.

Akhirnya hari itu pun tiba, aku duduk dengan tegang menunggu soal-soal dibagikan. Han songsaenim memberikanku kertas soal dan aku terpekik senang karena soal-soal ini adalah soal-soal yang telah ku pelajari. Lihat saja Cho Kyuhyun, aku akan mendapatkan nilai sempurna hari ini.

~~~****~~~

Keesokan harinya aku duduk dengan wajah muram di kursi ku sejak pelajaran pertama sampai pelajaran terakhir. Aku mendapatkan nilai 85 dalam tes matematika kemarin, memang tidak jelek tapi tetap saja aku kalah dengan setan satu itu. Dengan lemas aku berjalan gontai memasuki pekarangan rumahku. Aku  melihat sosok nya tengah berdiri menyender di pintu, menunggu kedatanganku. Aku menghentikan langkahku tepat dihadapannya. Dia tersenyum puas saat melihat ekspresiku yang suram.

“ Kau tidak perlu memberitahuku berapa nilai mu. Tapi yang jelas, kau kalah dalam taruhan ini dan kau harus belajar matematika 2x lipat dengan ku.” Ucapnya sambil tersenyum sinis. Aish wajah itu, aku ingin melempar sepatuku pada wajahnya yang tampannya itu.

“ Tapi aku tidak mendapatkan nilai jelek, aku mendapatkan 85 dan itu bagus.” Ucapku bangga. Dia tetap memperlihatkan senyum sinis padaku lalu berjalan mendahuluiku menuju ruang baca.

Sekarang aku di sini. Mengerjakan soal matematika. Lagi. Aku menelan ludah saat memandang soal-soal di hadapan ku. Dia memberikan ku 100 soal dan diselesaikan dalam waktu 1,5 jam. Waktu yang dia berikan semakin sedikit.

“ Jika kesalahmu hanya 10 soal, maka aku akan mengajakmu jalan-jalan.” Kyuhyun berkata dari pojok ruangan.

“ Cih… memangnya siapa yang ingin pergi dengan mu?.” Cibirku sambil menatap wajahnya tajam, sedangkan dia hanya terkekeh dan terlarut lagi dalam buku yang sedang dia baca. Aku mengerjakan soal-soal ini dengan mudah, tidak sesulit yang biasanya.

“ Cepat kau periksa.” Paksaku sambil mengacungkan kertas kerjaku padanya saat dia sudah berdiri di hadapanku.

“ Kau bersemangat sekali Park Miyoung. Tak sabar ingin pergi bersama ku hah?.” ucapnya sambil tersenyum jenaka.

Sialan. Aku hanya mendengus mendengar jawabannya. Aku melihat wajahnya sangat serius memeriksa jawabanku, sampai-sampai dia memeriksanya 2x.

“ Kau hanya salah 9 soal. Hebat, jadi kau harus memiliki motivasi seperti ini hah. Baiklah, berhubung besok hari sabtu, aku akan menjemputmu pukul 10.” Aku tak sempat membalas ucapannya karena dia telah berjalan pergi sambil menyanggah ransel di bahu kirinya.

~~~****~~~

Sekarang dia di sini, mengobrol dengan kedua orang tuaku di ruang keluarga. Aku mengintipnya di balik celah tangga. Orang itu, ternyata benar-benar menepati ucapannya. Tapi aku tak pernah mengharapkan pergi dengannya. Aku menghampiri mereka masih dengan menggunakan pakaian santai ku. Appa dan eomma tercengang melihat penampilanku yang measih mengenakan pakaian santai untuk di rumah.

“ Ya… kenapa kau masih berpakaian seperti ini? cepat ganti bajumu.” Eomma mendorong tubuhku untuk berbalik arah menuju tangga ke lantai 2. Aku berusaha menahan dorongan eomma dan berbalik menghadap Kyuhyun dan Appaku.

“ Memangnya siapa yang akan pergi dengannya? Aku tak mau.” Ucapku sambil memalingkan wajah.

“ Miyoung. Kau harus menepati janji yang sudah kau buat. Cepat ganti baju.”
suara Appa terdengar tegas. Aku hanya memberengut mendengarnya dan pasrah saat eomma mendorong tubuhku menuju kamarku.

“ Eomma… aku tak pernah membuat janji dengannya. Dia sendiri yang membuat janji tanpa persetujuan dariku. Dan untuk apa eomma repot-repot memilihkan baju? Seperti aku akan kencan saja.” Ucapku pada eomma yang sedang sibuk membongkar lemari ku, bermaksud mencarikan baju untukku.

“ Cepat pakai ini dan temui dia.” Ujar eomma sambil menyodorkan thank top, cardigan putih dan rok. Aku tercengang melihat pakaian yang eomma pilihkan untukku. Bagaimana aku tidak terkejut, aku selalu dilarang berpenampilan dengan baju itu setiap kali aku akan pergi berkumpul dengan beberapa sahabat namjaku. Aneh.

~~~****~~~

Sialan. Kenapa dia malah meninggalkan mobil miliknya di rumahku, dan memilih naik bus?. Apakah dia tidak melihat pakaian dan high heels yang ku gunakan? Menyebalkan. Aku cemberut sepanjang jalan menuju halte dekat rumahku, aku risih dengan pakaian ini.

“ Ya… kenapa kita tidak menggunakan mobilmu saja?.” Gerutuku tanpa menoleh padanya.

“ Wae? Aku sedang ingin menggunakan bis. Salahmu sendiri kenapa berpenampilan seperti itu?.” jawabnya sambil melihat penampilanku.

“ Ini bukan keinginanku. Ini semua dipaksa oleh eomma.” Aku menggelembungkan pipiku kesal.

Kami melanjutkan perjalanan dalam diam. Tak lama bus tiba saat kami baru saja sampai di halte. Aku duduk di dekat kaca, duduk di samping Kyuhyun. Saat di halte selanjutnya, seorang halmeoni naik ke dalam bis. Tapi karena semua kursi tersisi penuh, akhirnya halmeonni itu pun berdiri.

Saat aku hendak berdiri untuk menawarkan tempat dudukku pada halmeonni itu, Kyuhyun terlebih dahulu berdiri dan menghampiri halmeonni itu.

Dia menawarkan tempat duduknya untuk halmeonni itu. Hmm ternyata dia cukup baik. Tanpa sadar aku tersenyum saat melihat sifat baik seorang Cho Kyuhyun. Akhirnya halmeonni itu duduk di sampingku, aku tersenyum manis padanya.

“ Kau pacar laki-laki itu?.” pertanyaan halmeonni membuatku terkejut dan hampir mendapatkan serangan jantung mendadak.

“ Ani, aniyo. Dia hanya temanku.” Jawabku sambil tersenyum kaku.

“ Ah sayang sekali. Aku mengira kalian adalah sepasang kekasih, kalian sangat serasi. Dia namja yang baik, jangan sia-siakan itu.” ucap halmeoni panjang lebar dengan raut kecewa.

Aku terdiam memikirkan ucapan halmeonni. Namja yang baik? ah halmeonni tidak tahu saja sifanya yang bagaikan pangeran kegelapan itu.

Kami turun di Hongik University Station. Aku tetap diam  mematung saat melihat Cho Kyuhyun yang mulai berjalan di sekitar kampus Hongik. Jika aku tahu akan pergi ke sini, aku tak akan berpakaian seperti ini. Aku pun berlari-lari kecil menyusul Kyuhyun.

“ Ya kenapa kau tidak memberitahuku kita akan ke Hongdae? Aku tak akan mau berpakain seperti ini jika tahu akan diajak ke sini. “ ucapku saat berhasil mensejajarkan langkah di samping dirinya.

Dia hanya diam tak menanggapi ucapanku. Kami berkeliling, banyak galeri-galeri kecil, sekolah seni dan toko yang menjual karya seni juga kerajinan. Setelah puas berkeliling tanpa tujuan yang jelas bersama Kyuhyun. Kami pun melanjutkan perjalanan ke restoran Wan Chai di daerah Seodaemun, restoran yang terkenal dengan menu seafoodnya.

Saat memasuki restoran, aku melihat banyak mahasiswa yang mengunjungi restoran ini. Ya, memang restoran ini merupakan restoran China yang terkenal di kalangan mahasiswa.

“ Kajja.” Ajak Kyuhyun menuju meja kosong di dekat jendela. Kyuhyun sibuk melihat-lihat menu yang tersedia sedangkan aku sibuk melihat-lihat kesekeliling.

Banyak yeoja yang tampaknya sudah menjadi mahasiswi berbisik-bisik dan menatap ke meja kami, lebih tepatnya Kyuhyun. Tapi anehnya makhluk di hadapanku seakan-akan tak menyadari tatapan penuh nafsu dari pada yeoja itu.

“ Kyuhyun-ah… kau tahu? Para yeoja itu sejak tadi memandangimu. Aish aku risih berada di dekatmu. Mereka seolah-oleh ingin menelanmu hidup-hidup dan tak segan untuk mencingcangku.” Ucapku sambil mencondongkan tubuh ke arahnya dengan sedikit risih.

“ Biarkan saja, aku sudah biasa dengan ini semua. Kau lihat, para namja juga sejak tadi memperhatikanmu.” Jawabnya sambil mengalihkan wajahnya dari daftar menu, memandangku.

“ Jinjjayo? Apakah ada yang salah dengan penampilanku?.” Aku bertanya dengan panic sambil memeriksa penampilanku. Aku mendengar dia terkekeh.

“ Ani, mereka terpesona pada mu.” Ucapnya seraya membaca daftar menu lagi. Aku memesan Haemultang ( sup seafood pedas yang terdiri dari ikan, kepiting, udang, dan kerang.), sedangkan Kyuhyun memesan Sashimi/Hoe ( irisan-irisan ikan mentah dengan saus kecap dan wasabi.) Kami mengobrol sambil menunggu pesanan datang.

“ Tampaknya kau sangat terkenal. Sayang nya mereka pasti tidak menyangka bahwa orang yang mereka kagumi memiliki sisi iblis bagaikan pangeran kegelapan.” Cibir ku sambil melihat para yeoja yang duduk di sekitar meja kami.

“ Kau baru tahu? Kemana saja kau selama ini nona Park?.” Tanyanya dengan tatapan sinisnya.

“ Aku tak peduli. Huaaah pesananku datang.” Ucapku antusias saat pesanan kami telah diantarkan. “ Bisakah kau tidak bersikap seperti itu? seperti orang yang baru merasakan makanan saja.”

Kyuhyun terlihat kesal dengan tingkahku, tapi aku tak peduli. Aku lebih peduli pada sewadah Haemultang yang mampu membuatku meneteskan liur. Akhirnya kami selesai makan dalam diam. Tak lama kemudian 2 namja dan 1 orang yeoja yang baru tiba, menghampiri  meja kami.

“ Kyuhyun-ah.” sapa sesosok pria jangkung setelah dia berdiri di dekat meja kami.

“ Changmin-ah, oh Hai Heera. Dan… Lee Hyukjae? Tumben kau bersama mereka hyung?.” Tanya Kyuhyun pada ke 3 orang itu setelah mereka duduk bergabung di meja kami.

“ Kalau bukan karena Heera akan mentraktirku, aku tidak mau ikut bersama pasangan gila ini.” jawab seorang pria berambut blonde.

“ Apa kau bilang? Bilang saja kau iri pada kami oppa.” Tegur seorang yeoja cantik berambut lurus dengan ujung rambut yang bergelombang, lalu dia menatapku.

“ Annyeong… Kim Heera imnida.” Sapanya sambil tersenyum ramah.

“ Annyeong eonni, Park Miyoung imnida.” Wajah ke 3 orang itu menunjukkan keterkejutan , tapi ekspresi itu langsung menghilang dari wajah mereka.

“ Oh annyeong Miyoung-ssi.” Sapa lelaki jangkung yang kalau tidak salah bernama Changmin, aku hanya tersenyum.

“ Kau Park Miyoung? Ternyata ini kau? Senang berkenalan dengan mu. Lee Hyukjae imnida.” Lelaki berambut blonde memperkenalkan diri. Tak lama kemudian mereka pu pamit untuk pergi ke meja yang kosong.

“ Ayo, saat nya kita pulang.” Ajak Kyuhyun.

“ Ya… cepat sekali. Ini belum malam Cho Kyuhyun.” Cegahku sambil menyusulnya yang melangkah keluar.

“ Aku tidak membawa mobil.”

“ salahmu sendiri kenapa memilih memakai bus.” Sungutku sambil memberengutkan bibir.

“ Kau masih ingin bersama ku nona Park?.” Tanyanya dengan smirk yang terukir di wajah tampannya. Aku langsung melotot padanya.

~~~****~~~

Entahlah… kali ini perlakuannya membuatku merasa nyaman. Kami duduk di bangku paling belakang bersama para penumpang yang duduk di belakang kebanyakan namja. Aku risih dengan rok pendek yang ku pakai. Apalagi beberapa namja memandang dengan tatapan nakal, aku hanya menundukkan kepala. Lalu aku melihat bahwa pahaku tertutup oleh coat coklat, coat milik Cho Kyuhyun. Aku mendongak menatapnya, tetap saja walaupun sudah di tutupi oleh coat masih ada beberapa namja yang berusaha menggodaku. Aku memejamkan mata, benar-benar merasa risih dengan ini semua. Lalu aku merasakan tanganku digenggam oleh seseorang, dan ternyata itu Cho Kyuhyun. Ekspresinya dingin dan tatapannya tajam menatap namja yang tadi menggodaku. Melihat sifat gentle nya membuat hati dan pikiranku kacau balau, jantungku berdegup lebih kencang, ada desiran-desiran aneh yang kurasakan. Apakah aku mulai menyukainya? Ani ani, tidak mungkin.

~~~****~~~

Saat ini para murid yeoja di sekolahku gempar dengan kedatangan guru baru. Aku tak peduli dengan itu semua, aku lebih memilih menghabiskan waktuku untuk mendengarkan musik di ipod ku. Tapi para yeoja di kelasku semakin heboh karena guru baru itu ternyata akan mengajar kelas musik di kelasku hari ini.

Aigooo… padahal aku sudah memaksimalkan volume suara ipod ku tapi tetap saja kalah dengan suara-suara mereka. Pintu kelas tiba-tiba terbuka. Semua orang terpaku menatap sosok namja tampan yang berdiri di depan kelas. Nafasku tercekat, dia.

“ Annyeonghaseyo… Cho Kyuhyun imnida. Saya akan mengajar musik sebagai guru pengganti. Ada yang ditanyakan?.” Ekspresi Kyuhyun dingin, atau lebih tepatnya cool?. Seorang yeoja mengangkat tangan untu bertanya.

“ saem, berapa lama kau akan mengajar di sini?.” Tanya Jung Il Ra, yeoja tercantik di kelasku.

“ Mungkin hanya 3 bulan.” Jawab Kyuhyun dingin. Bagus, aku senang melihat sikap dinginnya pada Il Ra. Tunggu… aku merasa senang? Ada apa ini? ayolah sadar Park Miyoung, aku menepuk-nepuk pipiku.

“ Baiklah. Saya minta sekarang setiap siswa menyanyikan satu lagu. Kita mulai dari yeoya yang duduk di belakang paling pojok.” Perintah Kyuhyun.

Mati… yang disuruh maju itu ternyata aku? Sialan kau Cho Kyuhyun. Dengan perlahan aku berjalan mendekatinya.

“ Silahkan kau menyanyi.” Pintanya. Aish lagu apa? Aku benar-benar blank sekarang.

Kimi ga sayonara wo tsugezuni

Dete itta ani hi kara

Kono machi no keshiki ya midori ga

Kawatta ki ga suru yo

Kimi no subete ni naritai to

Kawashita yakusoku mo

Hatasarenai mama omoide ni

Kawatte shimau

HItori kiri de kimi ga naita ano toki

Sugu ni toned ikeba ima mo

mada kimi wa boku no yoko ni

ite kureta

Dekiru naraba mou ichido ittakatta

daisuki tte

kimi he no omoi wo afure

dashita kotoba wa mou ima wa

todokana

 

Aku menyelesaikan lagu itu setengah jalan, hanya lirik itu yang ku ingat. Aku menatap wajah Kyuhyun, menunggu reaksinya. Dia hanya tersenyum kecil. Senyum yang membuatku terhipnotis seketika, senyum yang baru dia tunjukkan untukku tanpa ada seringai.

Belum genap 1 minggu dia menjadi guru di sekolah ini, dia sudah menjadi perbincangan di kalangan murid mau pun guru wanita yang masih muda. Kau hebat Cho Kyuhyun. Tapi entah mengapa melihatnya dikelilingi murid-murid yeoja membuat dadaku sesak? Ditambah dengan sikapnya yang seolah-olah tidak mengenalku.

~~~****~~~

Sejak melihat senyumnya yang pertama kali untukku aku selalu berusaha belajar dengan keras baik di sekolah maupun saat les dengannya, berharap bahwa dia akan tersenyum melihat hasil kerjaku.

Tapi dia sama sekali tidak pernah menunjukkan senyumnya lagi, sudah beberapa hari ini selama les dia tidak pernah memarahiku tapi juga tidak tersenyum padaku. Aneh.

Apa-apaan itu? dia dengan mudah nya tersenyum pada mereka, sedangkan padaku? Sepertinya susah sekali. Saat ini aku tengah melihat Kyuhyun yang sedang dikerubungi oleh para murid yeoja dan dia TERSENYUM pada mereka. Memang terkadang dia bersikap dingin pada para yeoja, tapi dia juga kadang tersenyum sedangkan padaku?menyebalkan. Aku menghentak-hentakkan kaki kesal, berdiri tidak jauh dari dirinya yang sedang dikelilingi murid yeoja. Dia menyadari keberadaanku, dia menatapku cukup lama. Aku pergi meninggalkan mereka.

~~~****~~~

Aigo ada apa lagi ini? aku ingin cepat pulang tapi kenapa para yeoja itu berkerumun di dekat pintu?. Aku melesak melewati kerumunan itu, ternyata Cho Kyuhyun sedang bersandar di dinding di samping pintu kelasku. Aku langsung melangkah pergi, tapi tangganku di tahan oleh seseorang.

Aku berbalik dan ternyata dia yang menahan tanganku. Aku menatapnya dengan pandangan menyelidik. Dia tidak mengeluarkan suara sedikitpun, dia malah menarikku berjalan menuju tempat parkir.

Terdengar teriakan riuh dari para murid di sepanjang koridor yang kami lewati.

“ Oke. Sebenarnya ada apa Cho Kyuhyun?  Ah ani, saem? Kenapa kau seenaknya menarik tanganku?.” Rentet ku setelah duduk di kursi damping pengemudi. Mobil Kyuhyun melaju dengan cepat meinggalkan kawasan sekolah.

“ aku di ajak makan siang oleh orang tua mu. Jadi kau sekarang hanya diam dan duduk manis oke.“

Kami tiba di salah satu restoran di kawasan Myen-dong. Aku mengikuti langkahnya saat memasuki restoran. Karena terlalu asik melihat-lihat dekorasi restoran ini, aku tak sadar jika ada seorang pelayan yang sedang membawa nampan berlawanan arah dengan ku sehingga dia menabrakku.

Tubuhku terhuyung ke belakang, aku memejamkan mata bersiap untuk mendarat di lantai. Tapi aku tidak merasakan apa-apa, aku hanya merasakan tangan yang menahan tubuhku. Perlahan aku membuka mata, ternyata dia yang menahan tubuhku.

Omo wajahnya sangat dekat denganku, aish rasanya persedian oksigen di sekitarku semakin menipis. Kurasan pipiku memanas seperti kepiting rebus.

“ Pabbo… cepat berdiri yang benar, memangnya kau tidak berat huh?.” Ucapnya dengan ekspresi kesal. Sialan jadi menurutnya aku berat?. Aku menginjak kakinya sebelum berjalan menuju meja tempat orang tua ku menunggu.”

“ Kyuhyun-ah, sebaiknya hal ini diberitahukan secepatnya.” Kata eomma pada Kyuhyun.

“ Sebaiknya nanti saja adjumma, karena kurasa aku telah berhasil. Aku sedang menunggu waktu yang tepat adjumma, tak ingin membuatnya merasa terburu-buru.” Jawab Kyuhyun sambil tersenyum senang.

“ Benarkah? Syukurlah jika begitu.” Appa ikut membuka suara. Aku benar-benar tidak mengerti apa yang mereka bicarakan.

“ Sebenarnya apa yang kalian bicarakan? Kalau memang kalian ingin membahas hal yang tak ada kaitannya denganku, lebih baik tak usah mengajakku. Aku sudah selesai, aku permisi dulu.” Ucapku seraya berdiri mengambil tas ku setelah merasa kenyang.

Aku tahu ini memang tidak sopan, tapi aku tidak tahan karena mereka membicarakan hal yang tidak aku tahu. Aku melangkahkan kaki menuju pintu keluar tanpa menanggapi Eomma yang memanggilku.

Saat aku hendak mendorong pintu keluar ada tangan yang mendorong pintunya terlebih dahulu, membuka kan pintu untukku. Aku menoleh ke belakang dan ternyata itu Kyuhyun.

Oh my… gawat jika orang itu sudah bersikap gentle di hadapanku, aku akan terpesona olehnya. Ani ani, aniyo. Aku menggeleng-gelengkan kepalaku.

“ Ya,kau gila?.” Kyuhyun menatapku sinis, bagus… lebih baik sosoknya yang seperti ini. sosoknya yang tidak membuatku buta dalam seketika.

“ Memangnya apa urusanmu?.” Tanyaku dengan sedikit menantang.

“ Aigo… pasti mereka pikir kenapa namja tampan seperti ku ada di dekat gadis gila sepertimu.” Jawabnya sambil menyilangkan tangan di depan dada.

“ Cih menyebalkan.” Umpatku sambil berjalan menjauhinya.

“ Ya!! Cepat masuk mobil!!.” Teriaknya di belakangku, aku tak menggubrisnya. Karena kesal dia pun menghampiriku dan dan menarik paksa tanganku untuk masuk ke mobilnya.

Aku duduk terdiam di samping kursi pengemudi, kesal dengan sikapnya. Kyuhyun memacu mobilnya menjauhi area restoran menuju rumahku. Setelah mobil Kyuhyun tiba di rumah, aku langsung masuk tanpa menghiraukan keberadaannya.

~~~****~~~

Pagi yang cerah tapi tidak secerah hatiku. Terdengar kabar bahwa Jung Il Ra akan secara terang-terangan menunjukkan rasa sukanya pada Kyuhyun. Mahasiswa jurusan musik dari Universitas Kyunghee yang sedang menjadi guru musik sementara di sekolah ini.

Jika Il Ra sudah menunjukkan ketertarikannya, maka sudah di yakini tidak ada satu pun namja yang dapat menolaknya. Aku merasa resah, berharap semoga Kyuhyun tidak tertarik pada yeoja itu. Apa mungkin aku mulai menyukai Kyuhyun? Mungkin saja. Aku harus mendekati Kyuhyun, tapi dengan cara apa?

~~~****~~~

“ Kau mau mencoba kue buatanku Cho Kyuhyun?.” Aku menawarkan kue buatanku pada nya saat sedang di ruang baca. Dia terlihat tidak yakin dengan tampilan kue yang ku buat. Memang berantakan, tapi rasa benar-benar enak.

“ Kau tidak berniat membunuhku kan?.” Tanyanya dengan penuh selidik.

“ Aku sangat berminat untuk membunuhmu. Tapi aku tidak mungkin meracunimu di rumahku, itu merepotkan.” Ucapku enteng.

Dengan ragu Kyuhyun mengambil kue buatanku, dia memandangi kue yang sudah ada di genggamannya dengan ekspresi ngeri. Karena tidak tahan, aku menjejalkan kue itu ke mulutnya secara paksa.

“ Ya!! Kau gila?!” umpatnya tapi sambil tetap mengunyah kue buatanku.

“ Otthe? Enakkan? Sudah jelas, tak ada yang tak bisa dilakukan oleh Park Miyoung.” Aku berkata dengan sombong.

“ Cih… rasanya memang enak, tapi tampilannya sangat buruk. Dan aku juga tidak pernah mendapatkan nilai 100 dalam matematika.” Kyuhyun berkata dengan seringai yang muncul di wajahnya.

“ Tapi aku tidak mendapatkan nilai jelek.” Aku membela diri.

~~~****~~~

Aku terpaku penuh kagum melihat sosoknya yang sedang menyanyi dengan diiringi alunan piano yang dia mainkan. Suara emasnya yang bagaikan lantunan lagu pengantar tidur, alunan pianonya yang indah. Mengagumkan, mempesona… ah ani, tidak ada kata-kata yang mampu mendeskripsikan sosoknya saat ini.

Semua yeoja di kelas ku, termasuk aku terhipnotis oleh nya. Cho Kyuhyun, kau telah membuatku buta oleh semua tingkah laku mu. Kau terlalu membutakan.

~~~****~~~

Sebenarnya soal-soal matematika ini sudah selesai ku kerjakan. Tapi aku seolah-olah sibuk berkutat dengan soal-soal ini. Sesekali aku mencuri pandang padanya lewat ekor mataku. Melihat sosoknya yang sedang tenggelam dalam buku yang dia baca.

Tanpa sadar sekarang aku tengah menatapnya secara terang-terangan. Sosoknya masih saja menunduk, membaca buku itu. Tapi aku tersentak saat mendengar ucapannya.

“ Apa aku begitu tampan sehingga kau terus menatapku nona Park?.” Tanyanya tanpa mengalihkan perhatiannya dari buku yang sedang dia baca.

Argh sial, kenapa dia bisa sampai tahu? Sepertinya dia memiliki radar, radar iblis.

“ Cih… aku hanya heran kenapa banyak yeoja yang menyukaimu.” Ucapku cuek dengan menyanggah wajahku dengan tangan, menutupi keterkejutanku.

~~~****~~~

Semakin lama semakin banyak pula yeoja yang menyukainya, bahkan ada beberapa yeoja yang langsung menyatakan cinta padanya tapi para yeoja itu ditolak olehnya.

Aku senang saat mengetahui bahwa dia menolak yeoja-yeoja itu. tapi aku merawa khawatir karena hari ini Il Ra akan menyatakan cinta pada Kyuhyun. Apakah Kyuhyun akan menerima gadis itu? semoga tidak.

Sepulang sekolah aku sempat pergi ke taman belakang. Di sana aku melihat beberapa orang tengah berkumpul, mereka tengah memperhatikan Il Ra dan Kyuhyun. Entah apa yang mereka berdua ucapkan karena posisiku terlalu jauh sehingga tak dapat mendengar ucapan mereka dan juga aku tak mau mendekat.

Nafasku tercekat. Il Ra memeluk Kyuhyun dan namja itu hanya diam tak bergeming. Dadaku terasa sesak. Aku melangkahkan kaki ku, pergi menjauh tak ingin mengetahui kelanjutan apa yang terjadi.

~~~****~~~

Sekarang aku berada di ruang baca dengan Kyuhyun. Memasang wajah tak minat pada seonggok buku biologi di atas mejaku, padahal biasanya buku itu langsung ku buka dengan bersemangat. Tatapanku kosong, jiwaku belum sepenuhnya kembali. Aku menyadari bahwa dia tengah menatap ku heran. Lalu dia berjalan menghampiriku.

“ Ya kau kenapa huh? Biasanya kau akan sangat bersemangat jika mengerjakan soal biologi. Cepat kerjakan.” Ucapnya sambil membuka buku biologi yang belum ku sentuh sama sekali.

Aku hanya terdiam saat dia telah membukakan halaman yang berisi soal-soal yang harus ku isi. Aku tak merespon sedikit pun. Dia terlihat kesal melihat tingkahku.

“ Ya Park Miyoung!! Kau niat belajar atau tidak?!! Kau pikir aku tidak memiliki kegiatan lain hah?!!.” Kyuhyun memarahiku.

Aku terdiam. Kegiatan lain. Maksudnya kencan dengan Il Ra huh?. Aku menatapnya intens.

“ Jika kau ingin pergi, pergi saja. Pintu terbuka lebar untuk kau lewati.” Ucapku dingin.

“ Ya!! Tak bisa kah kau menghargaiku? Jika tahu akan sikap belajarmu hari ini aku tak akan datang!.” Bentaknya. Aku sontak terkegut mendengarnya. Sakit. Itulah yang kurasakan.

“ Pergi saja dengan Jung Il Ra mu!!!.” Ucapku dengan penuh emosi. Ku lihat dia terkejut melihat reaksi ku. Jangankan dia, aku sendiri saja terkejut atas apa yang ku ucapkan barusan.

“ Kau salah paham. Memangnya siapa yang berpacaran dengan yeoja yang tadi namanya kau sebut?.”

“ Mwo? Bukankah kalian… tadi aku melihat kalian berpelukan.” Ucapku dengan wjah cengo

“ ahahah itu hanya permintaannya sebelum dia tidak akan mengejar-ngejarku lagi.” Kyuhyun tertawa, tawa yang pertama kali ku lihat.

Ku rasakan wajahku memanas. Aku yakin jika pipiku sudah memerah layaknya tomat matang. Aku harus menyatakannya, sekarang, di sini.

“ Mmm… Kyuhyun-ssi, sebenarnya….” Aku ragu-ragu untuk mengatakkannya. Dia terlihat menunggu ucapanku.

“ Saranghae songsaenim.” Ucapku dengan cepat sambil menutup ke dua mataku.

Sudah 15 menit tak ada respon darinya dan aku masih memejamkan mata. Dengan perlahan aku membuka sebelah kelopak mataku. Dia sedang berdiri menatapku sambil tersenyum.

“ Pabbo… kenapa kau yang menyatakannya duluan? Kau tahu, tadinya aku akan menyatakan sesuatu padamu, bahkan nampaknya melebihi dari apa yang ingin kamu dengar.” Paparnya dengan tersenyum manis. Aku terdiam menunggu ucapannya.

“ Kau tunangan ku. Orang tua kita telah menjodohkan kita berdua. Aku menjadi guru privat mu karena aku tak ingin kau merasa semuanya terasa terburu-buru.” Kyuhyun menerangkan semuanya padaku.

“ Jadi….” Aku menggantungkan ucapanku (lagi)

“ Kau tunanganku.” Ucapnya mantap sambil tersenyum lembut.

Aku berdiri dan berjalan menghampiri sosoknya. Dengan ragu aku memeluk sosoknya, Kyuhyun membalas pelukanku. Pelukannya terasa hangat dan membuatku nyaman.

“ Kau harus mendapatkan nilai sempurna arra? Aku tak mau memiliki tunangan bodoh.” Kyuhyun berkata seperti memberikan syarat untukku.

Aku hanya memberengut mendengar ucapannya. Dengan masih membenamkan wajahku pada dadanya yang bidang aku berkata,

“ Bisa kah kau tidak membuat yeoja lain terpesona? Aku iri ketika kau dengan mudah tersenyum pada mereka, sedangkan padaku? Kau selalu marah-marah dan menunjukkan seringaimu.”

“ Arra arra… apakah tak masalah jika guru dam murid berpacaran? Ah ani bertunangan? Nampaknya aku akan mengundurkan diri.” Ucap Kyuhyun sambil mempererat pelukannya padaku.

~END~

Gimana?? Geje yaa?? Kecepetan ya??? Ga ada konfliknya ya??? Mianhae… FF ini emang waktu itu aku ngebut nulis FF  ini, bikinnya cuma 2 jam loh /ga ada yg nanyaa

Advertisements

55 responses to “Songsaenim, saranghae!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s