Our Longest Separation – The Last #4: Myungsoo, I’m Tired

title: Our Longest Separation

author: lightless_star / Jung Jinra

genre: angst ( i hope)

cast:

  • Kim Myungsoo (INFINITE)
  • Lee Sungyeol (INFINITE)

length: ficlet (1230 words)

rated: General

Current playlist: JYJ-Fallen Leaves

Note:

hitam: isi surat

biru: inner sungyeol

 

Our Longest Separation

-lightless_star-

xxx

DISCLAIMERS; I only own the story. the characters belong to themselves

WARNING: SHONEN-AI

xxx

#1 Are You Doing Fine, Myungsoo? | #2 Please, Tell Me To Stop | Extra: #3 Dear God

xxx


Dear Kim Myungsoo,

Apa yang sedang kau lakukan disana? Malas-malasan? Makan? Main game? Nonton film? Selingkuh dengan bidadari-bidadari cantik itu?

Ah, yang terakhir itu kuharap jangan. Aku cemburu, asal kau tahu.

Myungsoo, kenapa lagi-lagi tidak membalas suratku? Aku benar-benar mengganggumu, ya? Ah iya, aku tahu! Kau masih marah padaku? Kau masih marah padaku karena waktu itu aku pernah memasukkan cuka kedalam teh yang mau kau minum? Kau pasti masih marah padaku karena itu. Aku ingin minta maaf. Dulu, saat aku ingin minta maaf padamu kau sudah keburu pergi sih.

Salahmu juga buru-buru ingin menjemputku hari itu. Sebenarnya, Myungsoo. Hari itu aku tak apa kalau dibiarkan menunggumu sebentar lagi. Aku tahu kok kalau kau pasti akan menjemputku. Kalau kau tidak menjalankan mobil-mu dengan kecepatan diluar batas pasti jadinya tidak akan seperti ini, kan?

Kalau aku menunggumu waktu itu, kau pasti akan datang padaku walau terlambat.

Kalau aku menunggumu sekarang, kau tak akan datang padaku lagi.

Myungsoo, aku tahu kalau kau akan sedih bila aku sedih. Belakangan, aku mulai mencoba tersenyum. Supaya kau bisa ikut tersenyum, supaya kau bahagia. Kau bisa lihat senyumku dari sana? Lihat? Lihat? Kau tidak sedih lagi, kan?

Yah, aku baru mencoba, sih. Kadang aku juga masih belum bisa lepas darimu.

Tapi, sejak itu keadaan memburuk, Myungsoo.

Myungsoo, sekarang aku makin kurus. Yah, dulu juga aku kurus, sih. Tapi sekarang rasanya seperti tubuhku ini cuma tinggal tulang yang dibalut dengan kulit saja. Ah iya, perutku tidak buncit lagi. Jadi kau tidak bisa lagi mengejekku. Ahaha.

Tapi… rasanya menyiksaku. Tubuhku jadi makin lemah. Aku sulit berkegiatan, bahkan untuk pekerjaan-pekerjaan sederhana. Seharian, kerjaku cuma dirumah saja. Aku jadi jarang makan, lidahku rasanya selalu pahit. Apapun yang kumakan rasanya jadi tidak enak. Bahkan makanan favoritku sekalipun. Kemarin, waktu Woohyun kesini dia membawakan makanan untukku, dan akhirnya makanan itu berakhir di tempat sampah. Bukan karena tidak enak, kau tahu kan kalau aku selalu suka apapun yang dimasak Woohyun. Cuma… entah kenapa rasanya jadi pahit dan ketika kucoba telan aku malah jadi ingin memuntahkannya lagi. Aku jadi merasa bersalah pada Woohyun.

Myungsoo, dulu waktu kau masih disini kita sering menyanyi di cafe, kan? Aku menyanyi dan kau bermain gitar mengiringi. Sejak tidak ada kau, aku melakukan pekerjaan itu sendirian. Yang menonton masih tetap banyak, sih. Cuma ada juga yang bilang kalau performaku menurun ketika tidak bersama partnerku yang biasa, bersamamu.

Karena sekarang entah kenapa rasanya aku tidak sanggup kerja lagi, aku meninggalkan pekerjaan itu. Aku akan mencari pekerjaan baru seandainya aku baikan nanti.

Myungsoo, kemarin kau datang ke mimpiku, kan? Wajahmu damai sekali, kau tersenyum, tenang. Kau bilang kalau kau baik-baik saja. Lalu setelah itu kau menggenggam tanganku. Tanganmu dingin, Myungsoo. Tapi aku tetap ingin menggenggamnya lebih lama lagi. Di mimpi itu kita masih bersama, Myungsoo. Seperti dulu. Menyenangkan sekali.

Tapi… di bagian akhir mimpi itu, aku bilang aku ingin ikut denganmu. Wajahmu langsung berubah, sorot matamu jadi redup, lalu kau menggeleng. Kau bilang aku tidak boleh ikut. Kau bilang kalau aku ingin kesana aku harus menunggu. Aku mulai menangis, lalu kau memelukku sebentar. Kau melepaskan genggaman tanganmu, lalu saat aku menegakkan kepala kau sudah tidak ada.

Saat aku terbangun, secara refleks aku langsung melihat ke sampingku sambil tersenyum. Biasanya kau akan berbaring disampingku dengan wajah damaimu itu, lalu memelukku erat-erat padahal disebelahmu ada bantal guling yang bisa kau peluk. Ahaha. Tapi… senyum itu kemudian redup. Kau tidak lagi ada disampingku.

Itu sekitar tiga hari yang lalu, Myungsoo. Terakhir aku memejamkan mataku. Setelah itu, tak ada lagi sekalipun mataku bisa terpejam. Mataku jadi terasa berat, tapi saat aku mencoba tidur aku tak bisa. Wajahku sekarang jadi menyeramkan, saat aku berdiri dibalkon dan anak kecil yang tinggal disamping apartemen kita melihatku, ia akan langsung lari dan memanggil ibunya. Silahkan mengejekku karena itu, aku tahu kau ingin sekali mengata-ngatai aku. Tertawa saja, aku tak apa. Aku malah ingin mendengarnya.

Wajahku sekarang jadi menyeramkan, seperti yang aku bilang tadi. Ada kantung mata hitam yang bergelayut dibawah mataku. Aku sudah tiga hari tidak tidur. Tak tahu kenapa. Padahal aku mengantuk sekali. Ada yang terasa mengganjal dalam hatiku.

Myungsoo, mungkin alasan kenapa aku tidak bisa tidur itu juga karena kopi, ya. Sejak kau pergi, aku bukan malah menghentikan kebiasaan itu, tapi malah makin menjadi. Intensitasnya malah makin menjadi. Aku benar-benar tidak bisa menjauhi kafein. Kecanduan? Entahlah, mungkin. Karena semua yang aku makan terasa pahit, jadi aku lebih baik minum. Dan salah satu yang sering aku minum itu ya, kopi. Kau tahu kan kalau dulu saja aku bisa menghabiskan 3 gelas dalam sehari? Maaf, ya. Aku mengabaikan kata-katamu dulu. Tanpa sadar, aku melakukan itu juga karena aku rindu pada omelanmu. Aku berharap akan ada kau yang datang dari belakang dan menjitak kepalaku lalu merebut gelas kopiku dan kemudian menceramahiku tentang apa saja yang akan terjadi kalau kau kebanyakan mengkonsumsi kafein. Aku masih ingat, kok isi ceramahmu tiap hari itu, Myungsoo. Cuma… aku ingin mendengar kau menceramahiku lagi.

Myungsoo, kemarin waktu Woohyun kesini, dia juga bilang kalau dia kasihan padaku. Aku kelihatan kurang sehat, dia bilang aku  tidak seperti Sungyeol yang dulu. Dia bilang sikapku yang terus-terusan murung malah membuat orang-orang yang peduli padaku jadi tersakiti. Dia prihatin melihat keadaanku dan dia menyarankan agar aku kedokter.

Hah… Aku rasa memang perlu, sih. Tapi, nanti-nanti sajalah.

Eh, benarkah aku tidak seperti Sungyeol-mu yang dulu lagi, Myungsoo?

Aduh, kenapa aku malah bertanya, ya? Kau kan tidak akan menjawabnya. Ehehe.

Myungsoo, ini surat terakhir. Aku akan berhenti mengganggumu setelah ini. Walaupun kau tidak memintaku berhenti, aku akan berhenti.

Karena aku—–

….

….

….

Myungsoo, aku mengikuti saran Woohyun.

Dan disinilah aku sekarang.

Aku tidak suka disini, Myungsoo. Tempat ini dingin. Bau obatnya tidak enak. Dan mereka memberiku baju yang kelonggaran. Aku mau pulang saja. Lebih baik aku di apartemen sendirian daripada disini. Kata dokter, kafein itu membawa dampak buruk yang sangat besar bagi tubuhku. Ia merusak jantungku, juga sel-sel otakku.

Myungsoo, aku lelah. Tiap tiga kali sehari pasti ada suster yang memberiku obat. Entah obat apa aku tak tahu, tapi rasanya pahit dan tidak enak.

Myungsoo, aku lelah. Aku tidak bisa bergerak dengan bebas karena selang-selang yang dipasang ditubuhku.

Myungsoo, aku lelah. Suara monoton electrocardiograph itu menyeramkan sekali.

Myungsoo, aku lelah. Aku tidak kuat kalau harus seperti ini lama-lama.

Myungsoo, maaf kalau surat kemarin tidak selesai. Kau tidak bisa membacanya, ya? Atau kau bisa tahu apa yang aku tulis dari atas sana?

Aku tak bisa menulis lagi sekarang. Mataku terpejam, tanganku tak bisa digerakkan. Bibirku juga tak bisa bergerak. Tapi aku harap kau mendengar aku berbicara padamu sekarang.

Kau ingin tahu kalimat belum selesai surat itu?

Karena aku tahu kau tak akan kembali lagi.

Aku juga sudah menitipkanmu pada Tuhan. Aku yakin dia akan menjagamu dengan baik selama aku tidak ada didekatmu.

Tapi, Myungsoo. Sekarang sepertinya aku ingin tidur saja. Aku ingin tidur panjang, lalu aku tak ingin bangun lagi. Supaya semua siksaan ini lepas dariku. Supaya aku bisa tenang, dan tak terbebani lagi.

Myungsoo, kau dengar tidak? electrocardiograph itu ritmenya semakin pelan, semakin lambat. Dan seiring dengan itu aku bisa rasakan tubuhku semakin lemah dan lemah.

Myungsoo, aku lelah. Aku ingin semua rasa sakit ini cepat terhenti.

Sepertinya aku akan bisa menyusulmu setelah ini, hm? Tunggu aku, ya!

Aku akan datang kesana sendiri, lalu kita bisa bertemu lagi. Karena itu, tunggu aku.

Myungsoo, aku lelah.

Aku lelah menantimu.

Aku lelah merindumu.

Myungsoo, Aku sampai disana tidak akan lama lagi.

Lalu saat aku sampai disana nanti, sambut aku dengan pelukmu, seperti dulu lagi.

 

-fin-

author’s note:

akhirnya selesai jugaaaa XD XD

saya ngerasa fic ini kurang dapet feelnya. lagian respon dari reader juga gak banyak. tapi… kalo udah saya post mesti saya selesaikan.

dan… inilah part terakhirnya. semoga nggak mengecewakan :”)

thanks for reading, mind to leave comment? 🙂

sign,

Jung Jinra

20 responses to “Our Longest Separation – The Last #4: Myungsoo, I’m Tired

  1. Pingback: Our Longest Separation – Epilogue: Yes, I Miss You Too | FFindo·

  2. udah curiga sama judulnya, ehh ternyata benar tebakan ku
    sungyeol nya nyusuk myungsoo T,T
    omooo ini banjir air mata
    author good joob

  3. Sumpaaaaaaah!
    Ne ff bkin aku nangis, mewek bget, athour ny jahat bkin q nangis terus!
    Kasian bget sengyeol, ampe kyak gtu d tinggalin myungsoo, tpi ntu akhirny dia nyusul myungsoo y thor??
    .daebaaaak!
    Bkin ff yg feel ny dpet kyak gne lge y, cast ny INFINITE ya ya ya?
    .author hebat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s