Season of The Lucifer [CHAPTER 14]

Seasons of The Lucifer

Title: Seasons of The Lucifer

Author: LucifeRain / Aya

Genre: romantic, Violence, AU

Leght: Chaptered

Ratting: G

Main Cast:

Cho Minhye a.k.a Cho Minhyun

Kim Kibum a.k.a Key

Choi Minho a.k.a Minho

Lee Taemin a.k.a Taemin

Kim Jonghyun a.k.a Jonghyun

Lee Jinki a.k.a Onew

Credit Poster: @dEanKeya

Previous Chapter: Click here

Lucifer

Seseorang berwajah malaikat namun seperti iblis

Hati yang egois

Cinta yang tulus

Kesucian yang keliru

Mengancam

Berulang kali salah seperti malaikat dan iblis

Mempunyai perasaan yang tidak jelas

Lucifer adalah keberanian

 

( Backsound: SHINee – Sherlock )

~*~*~*~

 

Setelah pulang sekolah, Minhyun langsung bergegas menuju kamar, ia tertidur pulas selama beberapa Jam dan ketika bangun ia langsung melompat ke depan cermin karena bayang bayang peristiwa antara Maeri dan Minho menyusup dalam mimpinya.

Sejak sejam yang lalu Minhyun terus terusan bersenam wajah ria di depan cermin. Ia membanding bandingkan dirinya dengan Shin Maeri dan hasilnya dia kalah dalam segala hal.

Andai saja dia memiliki rambut panjang dan bisa berpenampilan semodis itu. aigoo… kenapa nasibnya lebih buruk dari banci? Tidak ingin menjadi namja tapi tidak bisa jadi yeoja -___-

Bosan dengan renungan somplak itu, Minhyun pun turun setelah menyambar handuknya. Berendam mungkin akan sedikit menenangkan, saat Minhyun mendengar bunyi daun pintu yang terutup dari luar, ia tahu apa yang diinginkanya.

 

~

 

Minhyun memutar kenop pintu lalu membukanya, sedikit gugup karena ia baru pertama kali memasuki kamar ini. Minhyun mengedarkan pandangan ke sekeliling namun tak ada apa apa disana, sejurus kemudian bunyi kucuran air dari kamar mandi memberinya penjelasan.

Minhyun memilih duduk di sudut tempat tidur berseprai hijau –yang tidak tahu entah punya Key atau Minho. Ia menoleh ke kanan tepat dihadapan sebuah kaca besar lalu tersenyum.

Ditangganya terdapat sekotak coklat yang baru dibelinya dan Minhyun tak lagi menggunakan gel untuk membentuk rambutnya supaya tak terlihat panjang, ia membiarkan rambut itu terkulai dengan poni yang hampir menutupi matanya. MInhyun juga sengaja mengenakan Knitt Cardigan Cream yang di pakainya di Disney Land ketika bertemu Minho.

Setelah sekian lama, akhirnya hari ini dia bisa menjadi dirinya. Ia ingin Minho menganggapnya sebagai Cho Minhye.

 

Minhyun berdiri di depan toilet dalam posisi memunggungi pintu, ia ingin memberikan Surprise pada Minho. Sekejap kemudian Minhyun mendengar putaran kenopintu.

Saat pintu terbuka, Minhyun berbalik sambil menjulurkan coklat.

“Happy Vallentine!…” senyumnya lenyap begitu saja.

Key menyambar matanya dengan tatapan tajam. dengan sekali gerakan ia mendorong tubuh Minhyun kedinding dan menguncinya dalam rentangan tangan tepat disebelah bahu Minhyun.

Key tersenyum sinis, matanya berkilat keras. “Cho Minhye, aku mendapatkanmu”

Minhyun pucat pasi, tangannya mendingin dan lututnya lemas seketika. Bagaimana mungkin Key berada dihadapanya? Bukankah namja itu berada di breath of Heaven? Bodoh! Seharusnya ia sadar dengan siapa dia berhadapan. The Almighty Key.

Key adalah penguasa yang mempunyai kunci untuk segala hal, dan Minhyun tak mampu bergerak karena Key menguncinya, menguasai posisinya.

“lepaskan aku, Kibum-ssi”

Key merasa gamang ketika kata terakhir Minhyun terlontar, tatapanya tak semenusuk tadi.

Sadar atau tidak mereka sama sama menyebut nama asli masing masing dan keduanya mendengar ini untuk pertama kali. Sungguh bukan kebetulah yang biasa.

“sebenarnya kau sudah ada dalam genggamanku setelah aku tahu bahwa kau adalah Cho Minhye”

Minhyun menunduk ketika tatapan Key melunak, ia tak sanggup menghadap mata itu lagi. suara Key terdengar parau ditelingganya. Sangat kontras dengan ucapanya yang tajam ketika mendapati Minhyun pertama kali.

Kenapa Key menciptakan pancaroba seekstrem ini? baru saja Minhyun melihatnya seperti musim dingin yang mampu membekukanya dalam sekali terjangan namun kini kilat bengis dimatanya berubah menjadi sinar sendu. Ia terlihat serapuh musim gugur, yang bisa jatuh kapan saja.

“tatap aku dan tersenyum”

Minhyun mendongak menatap Key,  ia menatap heran namun tetap mengikuti perintah Key meskipun senyum yang diseuguhkan tidak cerita tetapi senyum kulum yang tidak mengartikan kesenangan maupun kesedihan.

Tiba tiba Key merubah rentangan tanganya menjadi pelukan di bahu Minhyun, ia menyandarkan kepalanya di pundak Minhyun dan memeluknya lebih erat.

Key tak sanggup memandang Minhyun lebih lama karena bayangan Krystal dan ibunya yang sedang tersenyum seperti hadir dihadapanya, namun kali ini dia tak ingin lari dari kenyataan. Inilah cara terakhinya.

“….”

Minhyun tidak tau harus bicara apa, ia merasa pakaianya basah karena meresap air dari baju Key –yang tebal dan tentunya mengandung banyak air. Tanganya bergerak, membalas pelukan Key. Sejujurnya dia tidak tahu harus berbuat apa.

“aku ingin sembuh”

Dan ketika Key membisikan kalimat itu, Minhyun merasa jiwanya mencelos. Pikiranya melayang, terbayang untuk mengubah autumn menjadi spring dimana semuanya berawal baru. Tapi dia tahu orang yang didepkapnya ini tak kan bisamelewati winter sendirian, ia terlanjur membeku bersama masa lalunya.

Key melepas pelukanya lalu menggenggam tangan Minhyun, nafasnya mulai tak beraturan dan tanganya mendingin. Venustraphobia-nya kambuh lagi karena melihat Minhyun seperti ini –berpenampilah ‘agak’ perempuan- seakan melihat dua wanita itu, namun dia sudah bertekat untuk menentangnya phobianya.

“ikut aku”

Key menarik Minhyun keluar kamar hingga ke jalan belakang asrama. Ia menempelkan sidik jarinya di samping layar pintu keluar kemudian berjalan keparkiran.

Key membuka pintu penumpang, mempersilahkan Minhyun masuk namun Minhyun malah menatap Key ragu. “kau yakin kita pergi? Uhmmm… maksudku bajumu kan basah… dan bajuku juga ikut basah”

“kita akan membelinya” ucap Key lalu mengitari kap depan mobil dan membuka pintu kemudi.

“kita…?” tanya Minhyun, Key hanya mengangkat sebelah alis kemudian masuk.

Tak lama kemudian Bugatti veyron berwarna hitam dengan Corak merah itu melesat membelah jalan malam kota Seoul.

Minhyun menatap jam digital di atas dashboard, sebentar lagi jam 8. Ketika ia menoleh ke arah Key mimiknya berubah panik. Bagaimana bisa namja itu tertidur, kalau kecelakaan bagaimana?

Grasak… grusuk…. Minhyun pun heboh sendiri di Jok, ingin membangunkan Key tapi takut.

“why?”

Minhyun terkesiap, ia lalu menatap Key garang “kalau mau mati jangan mengajakku!” semburnya

Key menautkan alis, ia lalu meluruskan padanganya. Ah, dia mengerti. “mobil ini dilengkapi kemudi otomatis”

Minhyun menatap bingung “mwo? Mana ada sistem seperti itu? mobil keluaran terbaru saja masih manual!”

Key mendelikkan bahu, ia menyentuh tengah setir dan muncul beberapa tulisan yang bersinar merah seperti Keypad kemudian tanganya beralih menyentuh GPS di atas board speedometer.

“oh Great! Kenapa aku tidak tahu ada sistem seperti itu?” tanya Minhyun tidak percaya.

“karena aku yang menciptakanya”

“Jenius! Kau bisa menguasai dunia dengan penemuan seperti ini”

“itu yang ku inginkan”

Key kembali memejamkan matanya, sedangkan Minhyun masih memandang dengan tatapan ‘how-amazing-you-are’. Benar benar The Almighty.

“kau tertidur?” tanya Minhyun hati hati.

“aku tidak akan pernah tertidur” ucap Key penuh penekanan.

Baru saja Minhyun ingin bertanya kenapa tapi melihat bahu Key yang bergetar ia berubah cemas “sebaiknya kau cepat membeli baju dan memakainya” saran Minhyun.

Tak lama kemudian mereka sampai di depan bangunan berlabel Louis Viutton.

“tunggu disini” titah Key setelah memarkirkan mobilnya.

“tapi kau kan alergi yeoja”

Key menaikan sebelah alisnya “aku sudah membooking tempat ini, semua orang sudah dikosongkan kecuali pegawai laki laki”

Minhyun menganguk kecil, setelah Key pergi ia jadi penasaran tentang latar belakang keluargaKey karena Minhyun begitu yakin bahwa Key ‘sederajat’ denganya.

Beberapa menit berlalu, akhirnya Key datang dengan membawa paper bag lalu memberikanya kepada Minhyun.

Minhyun menautkan alis, sebenarnya ia ingin bertanya ‘kenapa kau tidak mengganti baju mu’ tapi Key terlebih dulu memasang ekspresi don’t-disturb-me, Heran kenapa sifat mahluk yang satu itu cepat sekali berganti.

“aku akan menungu diluar” ujar Key lalu menutup pintu kemudi.

Minhyun mengeluarkan paper bag itu, untung saja hanya bajunya yang basah. Ia pun mengganti pakaianya dengan Abercrombie hoodie berwarna navy purple yang sengaja tidak dikancing dan kaus dalam V-neck linen bergaya Vintage. Hey, ternyata Key punya selera fashion juga, Minhyun sebagai yeoja tulen merasa minder -__-“

Minhyun menatap pantulan dirinya di Spion, kini ia bukan Cho Minhyun melainkan Cho Minhye. Begini baru merasa benar.

“aku sudah selesai” seru Minhyun Setelah kaca pintu kemudi ia turunkan.

Tak lama kemudian Key masuk, ia menatap Minhyun yang tersenyum kepadanya. She looks different, similar to…

“kenapa?”

Oh hell, dia melamun. Key cepat cepat membuka paper bag di tanganya. Ia mengambil sebuah Scarf dari sana kemudian mengalungkan di leher Minhyun.

Minhyun menyentuh scarf dilehernya, teksturnya sangat lembut dan berwarna Fuchsia, campuran antara warna merah muda dan ungu. Perpaduan Warna yang indah ditambah lagi hiasan kupu kupu Golden dibawahnya.

“gomawoyo” ucapnya sembari tersenyum.

Key mengangguk kecil “disana akan dingin” ucapnya datar.

“eh? Kita mau kemana?”

Key menatap Minhyun lalu menaikkan salah satu sudut bibirnya ”ke tempat yang hanya ada aku dan kau”

 

~*~*~*~

20.15

Taemin menutup slide ponselnya lalu memasukkan kembali ke dalam saku, ia mematikan mesin mobil setelah terparkir di depan pagar sebuah rumah. Taemin melangkah menuju pintu pagar, rumah itu didominasi warna putih dengan taman penuh bunga dan pagar kayu bercat putih setinggi pinggang, sebuah ayunan yang bertengger di dahan pohon besar semakin memperindah rumah itu.

Ia selalu menyukai suasana rumah ini karena orang yang dicintainya bernaung disana.

Taemin membuka pintu pagar kemudian berjalan masuk ke rumah, ia berjalan menuju dapur dan tersenyum mendapati seseorang yang sedang berkutat dengan masakanya.

Ia melangkah ringan kemudian melingkarkan tanganya di pinggang gadis itu dari belakang, gadis itu tersentak namun Taemin malah mengecup pipinya. Ia tersenyum lebar.

“You are Beautiful Lady

Neoneun enjena naeui areumdaun… Chagiya (you’re always my pretty honey)” Taemin menyanyikan sebait lagu Rain Bi – Nae Yeoja dengan falsetto yang lembut di kata Chagiya.

“Happy Valentine, Chaerin-ah” Taemin membalik tubuh Chaerin lalu mengecup bibirnya “You are so Beautiful…. The words you like to hear, I will say it to you” senandungnya lagi.

Chaerin menggeleng gelengkan kepala sembari tersenyum, ia berbalik dan melanjutkan aktivitas memasaknya lagi.

“Chaerin-ah… kau tidak merindukanku? Kita kan tidak bertemu seminggu karna aku banyak ulangan” protes Taemin seraya merengut.

Chaerin terkekeh kecil “lalu baigaimana nilai ulanganmu?” tanyanya sembari memindahkan masakan ke dalam piring.

“semua baik baik saja. Aku jadi ingin cepat cepat lulus lalu kuliah lalu mengambil alih perusahaan lalu menikah denganmu dan hidup happily ever after bersama anak kita” gurau Taemin lalu tertawa lebar.

Chaerin tertawa geli “Ya! Buku dongeng apa yang kau baca”

“itu akan menjadi kenyataan, calon nyonya Lee!” Taemin meraih sumpit lalu memakan bulgogi di atas meja makan. “bagaimana kuliah mu?”

“semuanya baik baik saja” Chaerin mengelap tanganya di handuk kecil yang tergantung di sebelah wastafel, ia menoleh ke arah Taemin “ahh… jangan dimakan dulu, kita masih ada tamu”

Mendengar itu taemin meletakkan sumpitnya kembali lalu meneguk segelas air “nugu?” bertepatan dengan pertanyaan Taemin terdengar suara ketukan dari pintu.

“ah itu dia!” Chaerin melepas celemeknya lalu berjalan menuju pintu.

“Annyeong haseyo eonni!” seru sang tamu ketika pintu terbuka.

Merasa kenal dengan suara cempreng itu, Taemin menjingguk kepintu dan benar saja Shin Sungrin berdiri disana.

 

Taemin mematung ketika Sungrin duduk bersebrangan denganya di meja makan. ia hanya menatap kosong ke arah makanan, kenapa Sungrin harus hadir disaat seperti ini? taukah dia tentang Taemin yang sebenarnya?

“Annyeong haseyo Taemin Sunbae” sapa Sungrin ramah.

Taemin terkesiap pelan, ia lalu melayangkan senyum kaku pada Sungrin. “annyeong haseyo” balasnya tanpa ekspresi.

“aku tidak menyangka kalian satu sekolah” ucap Chaerin sambil menyiapkan makanan di atas meja.

“bagaimana kalian saling kenal?” Tanya Taemin heran, terlihat jelas kalau Sungrin cukup dekat dengan Chaerin.

“kami berteman sejak lama” jawab Chaerin.

Taemin merasa kelakuan Chaerin agak janggal, tidak biasanya ia berbalik tiba tiba ketika Taemin bicara. Seakan menghindar. “tapi kau tidak pernah memberitahuku” imbuh Taemin.

Kalimat Taemin tak mendapatkan balasan karena ponsel Chaerin berdering, setelah panggilan itu usai Chaerin kembali meletakkan ponselnya kemudian menatap sungrin.

“cake yang kita pesan sudah selesai, bisakah kau mengambilnya? Aku masih harus menyiapkan makanan” pinta Chaerin, Sungrin hanya menggangguk kecil “Taemin-ah bisakah kau ikut denganya? Cake itu cukup besar dan tempatnya tidak dekat”

“aku saja yang pergi, lagi pula aku bawa mobil” elak Taemin.

“kau tidak tahu tempatnya karena toko itu baru. Cepatlah pergi sebelum makanan ini dingin” pinta Chaerin.

Mau tak mau Taemin dan Sungrin mengikuti permintaan Chaerin. “lewat mana?” tanya Taemin setelah mereka diluar pagar.

“disana” Sungrin menunjuk ke arah Kiri “lebih cepat melewati gang itu” imbuhnya lagi.

Taemin pun mengurungkan niatnya untuk memakai mobil, terserah gadis itu saja lah. Mereka pun berjalan melewati gang yang tak terlalu besar itu, tak ada kalimat yang melambung dari bibir keduanya. Mereka jalan beriringan namun pikiran mereka melayang ke segala arah.

“berapa lama kau mengenal Chaerin?” tanya Taemin memecahkan keheningan.

Sungrin menguman tidak jelas, ia menatap Taemin ragu “sejak aku sekolah dasar, Chaerin eonni sudah kuanggap seperti kakak sendiri”

Mata Taemin membulat mendengar penyataan itu, ia menghentikan langkahnya kemudian menatap lekat Sungrin. “apa kau tahu semua tentangku?”

Sungrin tertunduk “mianheyo sunbae, sbenarnya aku mengenalmu sejak awal masuk middle School. Dulu kau kakak kelasku dan… aku tahu semua tentangmu, tentang masalahmu”

Taemin menghela nafas panjang, ia berlalu mendahalui Sungrin “asal kau tidak membocorkanya itu sudah cukup” lirihnya berat.

“nde” Sungrin kembali mensejajarkan langkahnya dengan Taemin.

“Ya! Shin Sungrin aku tetap marah padamu!”

“eh? Waeyo?” Sungrin menautkan alis

Taemin melangkah cepat dari Sungrin agar gadis itu tak melihat senyum jahilnya “pertama, sudah ku katakan panggil aku Oppa! Dan kedua, kenapa kau memberikan Coklat pada Jonghyun Hyung sedangkan aku tidak”protesnya.

Sungrin tertawa geli “ Ya! Sunbae! Kenapa kau kekanak kanakan sekali?, tadi aku memang ingin memberimu coklat tapi coklat yang kau dapatkan setumpuk gunung”

Taemin tersenyum puas namun ia masih berlagak marah “tetap saja kau hutang padaku dan kau harus memanggilku Oppa, tau!” tukasnya.

Sejurus kemudian Taemin merasa lengan kirinya dilingkari sesuatu, refleks ia menoleh dan mendapati tangan sungrin bergelayut di lenganya. Mereka tertawa entah untuk apa, yang jelas semilir rasa senang menyusup disana.

“aku senang mempunyai Oppa sepertimu” ucap Sungrin penuh senyum “semoga kita bisa seperti saudara sungguhan” tambah sungrin.

Taemin tersenyum…. Kaku. Bukan arti panggilan seperti itu yang diinginkanya. Dalam diam ia berharap lebih walau mimpipun ia tak dapat menjangkaunya. Karena dirinya sudah terlanjur terikat dengan seorang gadis yang telah banyak berkorban untuknya.

Taemin tahu, dia tak mungkin meninggalkan Chaerin. Perjalanan keras yang mereka hadapi sebelumnya membuat mereka terikat dan tak kan bisa dilepas lagi, karena ikatan itu terlalu rumit tercipta dari rangkaian kisah penuh tanggung jawab.

 

~*~*~*~

Key menepikan mobilnya di bawah pohon rindang sebelah yayasan Theresia, ia keluar dari mobil kemudia berjalan mengitari kap depan dan membuka pintu penumpang.

Minhyun menatap Key bingung “kenapa kau membawaku kesini?” tanyanya.

“seperti yang kubilang tadi, tempat yang hanya ada kau dan aku” lagi lagi Key berkata tanpa menatap Minhyun.

Ia berjalan lurus ke arah jembatan gantung yang kini tersinari lampu pada tali penyanggahnya, Minhyun pun mengikutinya dari belakang. Pemandangan malam di atas jembatan sangat menakjubkan bagi Minhyun karena pantulan sinar bulan seakan membuat air laut seperti memancarkan kristal.

Key memang sering menggunakan Speedboad tapi hanya saat siang, ketika malam kawasan sekitar yayasan Theresia cukup sepi dan barulah ia bisa leluasa berjalan di atas jembatan. Key mempercepat langkahnya karena deruan angin laut menghempas kencang. Ia sengaja berjalan membelakangi Minhyun karena tak mau gadis itu melihat kulitnya yang memutih dan mengkerut juga bibirnya yang membiru. Key tidak suka dingin, dan dia benci itu.

Minhyun tak lagi terpaku dengan pandangan laut setelah kakinya berpijak di pasir putih kemudian berjalan di atas aspal yang di penuhi lampu jalan di setiap sela pohon kelapa yang menghiasi pinggiran jalan itu.

Lambat laun ia semakin cemas saat menatap punggung Key yang sedikit gemetar, namja itu tak mengganti bajunya padahal dia bilang sendiri bahwa tempat ini akan sangat dingin. Kenapa dia melakukan itu?

“kibum-ssi”

Langkah Key terhenti, ia berbalik “panggil aku Key” ketusnya.

“n… nde…” akhirnya Minhyun memberanikan diri mensejajari langkah Key “apa kau tak kedinginan?” Minhyun bertanya namun Key tidak menggubrisnya “key-ssi, kau tidak kedinginan?” ulangnya lagi tapi Key tetap bergeming “nanti kalau sakit bagaimana” ujarnya kesal.

“aku hanya melawan kelemahanku sebelum melawan kelemahan yang lebih besar lagi”

Minhyun bungkam seketika, ia merasa tindakan key sangat konyol dan sulit dimengerti. Minhyun menahan langkah Key dengan berdiri di hadapanya, ia melepas Scarf Fuchsia dilehernya lalu mengalungkan ke leher Key.

“jika kau butuh peredam untuk melawan kelemahan besar itu, maka kau juga butuh peredam untuk melawan kelemahan yang kau hadapi sekarang” tuturnya sembari merapikan letak Scarf Key.

“kau terlambat” ucap Key datar

“eh?”

“kita sudah sampai”

Doenggg… Minhyun berbalik dan bernar saja dihadapanya berdiri sebuah Glasses House megah yang mampu membuatnya terkesima untuk kedua kalinya. Dia jadi berharap suatu saat pulau ini menjadi miliknya haha.

“kenapa kau seterpesona itu? bukanya kau sudah pernah datang kesini?”

Minhyun mematung mendengar ucapan Key, matanya membulat lebar “bagaimana… kau… tau…” Minhyun menepuk jidatnya, seharusnya dari dulu ia sadar betama Almighty-nya namja yang satu ini.

Key tak merespon ucapan Key namun diam diam ia tersenyum geli dan senyuman itu sangat mirip Kim Hyun Joong. Hey, kenapa dia baru ingat dengan ayahnya.

Pintu utama Glasses House terbuka ketika Key mendekat, ia menjelajahi sekeliling dengan tatapanya dan tak menemukan ayahnya dimanapun.

“jangan bilang kalau pintu itu terbuka sendiri karna kau punya semacam Auto Lock yang kau buat sendiri”

Minhyun tak mampu menyembunyikan keterkagetanya ketika mendapati Key hanya diam “pantas saja tak ada lubang kunci” kenangnya kemudian terkikik kecil mengingat betapa noraknya dia saat itu.

Minhyun memang dari kalangan atas tapi disuguhkan penemuan seperti itu siapa yang tidak terpukau, bahkan sekarang ia yakin bahwa Key lah yang mendesain Glasses Heouse ini. Minhyun masih mengikuti Key menaiki tangga Spiral disana, tapi ketika Key sampai di ambang pintu kamarnya ia berbalik menatap Minhyun.

“berniat melihatku berganti baju?”

“eh?”

Key semakin melangkah masuk dan pintu kamar itu segera tertutup. Minhyun menggerutu kesal, mana dia tahu Key berjalan ke kamar. Untung saja dia tak mengikuti hingga ke kamar mandi, itu menyeramkan.

Setelah mengobrak abrik dapur, akhirnya Minhyun memutuskan untuk membuat Ginger Tea karena kebutuhan pokok yang tersedia disana sangat minim. Ia kembali menaiki Spiral Staircase dengan membawa dua cangkir ginger tea ditanganya.

Sesampainya diatas ia mendapati pintu kamar Key sudah terbuka, diletakkanya cangkir itu diatas meja sebelah tempat tidur. Minhyun berjalan kearah balkon dimana Key sedang berdiri disana sambil menumpukan lenganya di pagar pembatas.

Hembusan angin meniup kencang longshirt biru Turqouise yang dikenakan Key, rambutnya melambai seirama dan tatapanya menerawang ke arah lautan biru yang terlihat pekat kala malam.

Minhyun sempat tersihir dalam jeratan sang Almighty namun ia tak membiarkan dirinya menikmati itu lebih dari semenit. Ia melangkah ke sebelah Key kemudian clingak clinguk ke arah laut.

“apa sih yang kau lihat?” tanya Minhyun penasaran, siapa tau aja Key melihat lumba lumba sedang balet dimalam hari atau putri duyung yang terdampar atau hiu yang adu panco dengan paus. Oke, imajinasinya berlebihan.

“aku… sedang melihatmu”

Mendengar itu Minhyun langsung menoleh ke arah key, tatapan mereka bertemu namun hanya sedetik karna Key langsung mengalihkan pandanganya.

Setelah itu suasana awkward memegang kendali, Minhyun menatap key dan setelah menyadari kulit namja itu memucat ia langsung menarik key menjauh dari sana.

“udara malam tak baik untuk kesehatan” Minhyun mengutip kalimat itu dari dinas kesehatan yang iklan di tipi, tapi kenapa aksenya terdengar seperti nenek nenek yang menasehati cucunya.

Minhyun berbalik, niatnya sih untuk menutup pintu tapi dia seperti orang norak yang mencari pintu dan tidak mendapatkanya. Ia beracak pinggang memelototi Key “jadi kau tidur angin seganas ini?!”

Key tak membalas ucapan Minhyun dan tetap menghindari kontak denganya, ia berjalan ke arah dinding kaca dan menekan tombol di samping sekat itu. seketika turun dinding kaca transparan yang merupakan pintu untuk kamarnya.

Rasanya Minhyun tak perlu bertanya lagi, ia yakin pasti key yang merancang sistem tadi. Minhyun berjalan ke hadapan Key kemudian meletakkan telapak tangan kirinya ke keningnya dan menempelkan telapak tangan yang satunya ke kening Key.

“sedikit panas” guman Minhyun kemudian menyudahi aksi termometer jadi jadian itu. ia menatap key yang masih enggan menatapnya “matamu merah sebaiknya kau tidur”

“tidak akan!” tukas Key

“kau hanya menyakitimu sendiri! Lagi pula tidur itukan menyenangkan”

“tapi tidak dengan rentetan mimpi buruk. Lebih baik aku membius diri sendiri, setidaknya dengan begitu aku hanya merasakan ketakutan itu setelah bangun”

Minhyun menyeret sofa panjang di samping dinding kaca ke sebelah tempat tidur Key. “tidurlah aku akan menemanimu”

“tenangkan dirimu lebih dulu. Bagaimana kau bisa menantang masa lalu kalau kau selalu mengambil jalan pintas dan membiarkan rasa sakit itu menumpuk diakhir. Menyedihkan”

Melihat key yang hanya berdiri, Minhyun menariknya ke tempat tidur. Dengan sedikit paksaan akhirnya ia bisa membaringkan Key disana. Minhyun berjalan mengitari tempat tidur ke sisi samping lainya, ia meraih gelas Ginger Tea kemudian menyodorkanya pada Key.

“cobalah mungkin bisa menghangatkanmu” ucapnya.

Key merasa tubuhnya terasa lebih hangat setelah meneguk Minuman itu, ia menatap Minhyun yang menyelimuti dirinya sebatas leher “baiklah, mungkin kau belum siap menceritakan masa lalumu. Tapi aku yakin kau tidak bisa melawan ketakutan itu karena menghadapinya sendirian” ucap Minhyun

“jangan bius dirimu lagi, itu hanya akan memperlebar luka batinmu”

Key menggenggam tangan Minhyun erat “berjanjilah ketika aku bangun nanti, kau adalah orang yang kulihat pertama kali”

Minhyun menggangguk sembari tersenyum, ia membaringkan tubuhnya disofa besar yang dipindahkanya tadi “malam ini kau menghadapinya bersamaku”

 

~*~*~*~

Berpuluh puluh kilo meter dari sana seorang namja berdiri di depan pintu apartment kemudian menekan bel disebelahnya beberapa kali. Tak lama kemudian pintu itu terbuka dan menampilkan seorang gadis manis dibaliknya.

“Happy Valentine, Naomi-chan” seru Jonghyun sambil mengacungkan sekotak coklat dan boneka hello Kity berwarna pink tepat di wajah naomi.

Duaghhh… Naomi terhuyung kebelakang kerena boneka besar yang dibawa jonghyun itu mengayun ke jidatnya.

“nande? Daijobu? (wae? Gwaenchanayo?)”

Naomi mengangguk kecil lalu menerima coklat dan boneka dari Jonghyun. “arigatou” ucapnya penuh senyum.

Setelah meletakkan boneka itu di sofa ia mengamatinya lekat lekat “kenapa hello kitty itu seperti memasang kuda kuda, pasti dia ikut taekwondo juga” celotehnya.

Jonghyun menyeringai lebar, ia memang sengaja memilih boneka itu karena menurutnya paling aneh dan mengingatkanya pada Naomi. Dia rundu dengan ekspresi polos polos Pabbo ala Naomi.

“ah, aku tadi sudah menyiapkan tart.”  Naomi melangkah kerah dapur meninggalkan Jonghyun yang duduk di sofa.

Tak lama kemudian Naomi keluar dari dapur dengan membawa tart bundar yang dilumuri krim coklat, namun melihat itu Jonghyun tertawa terbahak bahak karena diatasnya teerdapat puluhan lilin yang jaraknya dekat dan kue itu terlihat seperti kompor. Naomi saja menjauhkan wajahnya karna tak tahan dengan asap yang mengepul dari api yang sudah menyatu.

“kyaaaaaa panas!!” gerutu Naomi setelah meletakkan kue itu di atas meja.

Jonghyun meredam tawanya lalu menatap Naomi geli “kenapa ada banyak lilin?” tanyanya lalu melanjutkan tawa.

“ini bulan ke 34 anniversary kita, tadinya aku ingin menyalakan lilin berdasarkan jumlah hari jadi kita, tapi sepertinya itu akan membakar apartment ini” ujar Naomi polos

Fiuhhhh…

Jonghyun meniup semua lilin itu sedangkan Naomi tercengang melihat lilin seperjuanganya ludes “sepertinya lilin itu juga akan membakar tart ini kalau tidak dipadamkan” jelas Jonghyun, Naomi masih merengut tak terima.

“Noona Neomu yeppeo” sepenggal lagu Replay mengalun merdu dari suara Jonghyun, Naomi yang tadinya cemberut kembali memandang Jonghyun ceria.

“aku tidak mau dipanggil Noona!”

“Naomi Neomu Yeppeo” Jonghyun mengulang bait itu masih dengan kemerduan yang sama.

“ganti versi japanese” pintanya

“nani wo shite mo… boku no kokoro wa”

“arigato… arigatou…” seru Naomi narsis.

Jonghyun terkekeh lalu melanjutkan senandungnya. Dalam hati Naomi bersyukur dengan situasi ini, selama ia berada dalam lingkaran Jonghyun dan tak keluar dari itu, Jonghyun tak kan berubah menyeramkan.

“ah, aku lupa mengambil pisau” seru Naomi dan langsung menghambur ke dapur.

Jonghyun mencabut lilin itu satu persatu, tiba tiba ponsel Naomi di atas meja bergetar dan ia menghentikan aktivitasnya kemudian meraih ponsel itu. naomi miliknya, begitu juga dengan semua benda kepunyaanya. Dia berhak atas gadis itu.

Ekspresi Jonghyun mengeras ketika membaca sederet pesan singkat yang baru diterima disana, dan ketika ia membaca pesan sebelumnya tanganya terkepal keras.

Naomi kembali dan Jonghyun meletakkan ponsel itu ketempat semula, ia melanjutkan aktifitas mencabuti lilin namun raut wajahnya berubah sedingin es.

“naomi, apa saja yang kau lakukan hari ini?” Jonghyun berkata datar namun berefek dahsyat bagi Naomi.

Tangan gadis itu bergetar sepertinya Jonghyun menemukan dirinya kaluar dari garis yang dilingkari Jonghyun padanya “a… aku hanya menghadiri pemotretan beberapa majalah dan pulangnya aku menunggumu disini”

Jonghyun meraih ponsel naomi lalu membantingnya keras hingga terpental ke lantai “kau bohong!” ia mencengkram rahang Naomi kuat, tatapanya penuh amarah “sejak kapan kau kembali berhubungan dengan Naoki?” Jonghyun menghempaskan kepala Naomi hingga membentur sandaran kursi.

Naomi bergetar hebat, ia memegangi tenguknya yang terbentur keras “aku.. tidakk…”

“sudah ku bilang berulang kali JANGAN PERNAH BERHUBUNGAN DENGANYA! BAJINGAN ITU TAK PANTAS DISEBUT SAUDARAMU!” Jonghyun menendang meja dihadapanya.

Ia mencengkram kerah baju Naomi lalu menyeretnya ke dapur, Naomi nyaris tak bisa bernafas karena tarikan kerah bajunya sangat kuat dan ia semakin ketakutan ketika Jonghyun mengambil gunting dan mengarahkan padanya.

“bukankah dengan memotong rambut bisa melupakan seseorang? Lupakan dia! kau milikku, Naomi” Jonghyun memotong rambut Naomi dengan kasar hingga sebatas bahu, tak peduli dengan jeritan Naomi yang tak rela melihat rambutnya terkulai dilantai.

Jonghyun meninggalkan Naomi yang merosot dilantai dengan rambut acak acakan “ikuti perintahku kalau kau masih ingin bernafas” desisnya memecahkan isakan naomi.

Sesungguhnya Jonghyun teramat takut bila suatu saat Naomi kembali pada Naoki, ia pernah berjanji melindungi gadis itu dan dia tak akan menyerahkanya pada Naoki untuk jadi bahan gadaian yang kedua kalinya. Jonghyun teramat takut, ia tak mau kehilangan Naomi.

Naomi masih terisak dalam tangisnya ketika mendengar bantingan keras pintu apartment, dia sanggat membanggakan rambut hitamnya yang lurus alami dan kini Jonghyun menghancurkan semua itu.

Pipi naomi memerah dan basah karena air mata, luka dipunngungnya pasca pukulan Jonghyun beberapa hari yang lalu kembali terasa sakit. namun hatinya lebih sakit. “aku tak sanggup lagi, Jonghyun-ah”

 

~*~*~*~

Minho menyesap Vanila Latte-nya, ia berada di sebuah café yang terletak di samping jalan utama Seoul. Di atas meja terdapat beberapa lembar kertas, secercah harapan muncul ketika ia berhasil mendapatkan alamat rumah Choi Raena dan besok dia akan kesana.

Minho merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan kotak coklat yang diberikan Maeri, kotak itu memang tak terlalu besar dan ketika dibuka hanya ada sepotong coklat berbentuk hati disana.

Ia mengambil coklat itu dan mengigitnya separuh, tapi giginya seperti menemukan sesuatu yang keras. Minho mengamati coklat yang sudah separuh itu dan benar saja ada sebuah logam disana.

Minho mengeluarkan benda itu hati hati, kedua sudut bibirnya tertari mendapati sebuah cincin perak disana. Dia ingat betul cincin ini karena dulu ia pernah menyematkanya di jemari Maeri sewaktu Valentine.

Mereka pernah membuat sebuah janji aneh dulu, dimana setiap Valentine Maeri harus memberi Minho coklat dan Minho harus membalasnya dengan Kissu.

“konyol” guman Minho, ia meraih sebuah kartu ucapan di di dalam kotak itu kemudian membacanya.

seperti tahun semalam, saat valentine aku memberimu cincin ini dan bila white day nanti cincin masih ada padamu itu tandanya kau masih milikku Choi Minho!”

Minho tersenyum kecil, maeri memang ahli membuat janji janji aneh. Ia meraih ponselnya dan mengirim pesan singkat pada seseorang.

 

~

 

Mata Minhyun terbuka ketika ponsel dalam sakunya bergetar, ia menatap Key yang sudah terlelap lalu bernafas lega. Dalam pesan singkat itu Minho menyuruhnya datang ke sebuah café di dekat taman sebelah rumah Minho.

Ia menatap Key lalu kembali menatap layar ponselnya. Minho menyuruhnya datang namun Key membutuhkanya. Minhyun memejamkan mata, berfikir sejenak. Akhirnya ia memutuskan untuk pergi setelah melepaskan genggaman Key dengan sangat pelan.

Setelah Minhyun melewati pintu keluar, key membuka matanya. Ia tak benar benar tertidur dan Minhyun membuat kadar kepercayaanya terhadap ‘yeoja’ semakin menurun.

Key berjalan menuju laci kecil, menyiapkan obat bius yang tersedia disana.

 

~

 

Setelah bersepeda melewati jembatan gantung dan menaiki taxi, akhirnya Minhyun sampai di café yang dimaksud Minho. Ia menghampiri Minho kemudian duduk berhadapan denganya.

Minho membalas senyuman Minhyun lalu menatapnya lekat “kau terlihat berbeda” ucapnya dan berhasil membuat Minhyun tersipu.

“ada apa memanggilku?” ucap Minhyun sembari merapikan rambutnya yang berantakan tertiup angin.

Minho hanya tersenyum menanggapi pertanyaan itu, Minhyun sedikit heran karna tak biasanya Minho tersenyum sebanyak ini meski harus diakuinya ia menikmati itu.

Atmosfir keheningan menyelubungi mereka, pandangan Minho tak lepas dari Minhyun dan membuat gadis itu sedikit gamang. Ia menunduk dan berpura pura memainkan tautan jemarinya.

“dengarkan aku baik baik”

Minhyun menengadah menatap Minho, namja itu terlihat semakin berkarisma dimatanya. Ia berfikir sejenak senyuman Minho seperti tak asing baginya, seakan ada seseorang yang juga memiliki senyum seperti itu tapi daya ingatnya tak mampu menggambarkan dengan jelas.

“cho Minhye…” untuk kedua kalinya Minhyun mendengar nama aslinya disebut pada hari yang sama.

“Saranghae…” bertepatan dengan itu truk bersuara besar lewat dan Minhyun menoleh pada ponselnya yang bergetar. Bisikan Minho tenggelam.

 

__TBC__

 

Hyaaaaa…. Ngepostnya malem malem gini. Maafkan segala typo yang ada *bungkuk bungkuk* aduhh ff sinetron ini semakin gaje saja dan ada scene yang aku gak dapet feel penuhnya. Semoga nggak mengganggu

Setelah baca Key-Minhyun moment diatas adakah yang berubah pikiran dan beralih dari Minho-Minhye haha?

Sebenernya pas adegan Key ngedorong Minhyun ketembok itu aku pengen bikin bang konci topless tapi gimana ngegambarinya, badan Key kan kurus kerempeng keberatan dosa suka ngetawain orang *ditimpuk Lockets se ER-TE* #kidding

Problem Taemin-jjong udah punya bayangan kedepanya dong? Jadi masalah siapa dulu yang mau dituntaskan?

 

Komenya ditunggu dan makasih buat readers yang masih setia komen baik yang rajin komen sampe aku hafal usernamenya atau yangg komen pas moodnya kumat (?) doang. meski komen menurun tapi Aku tetap senanggggg (?) *joget chibi maruko chan*

Cheers,

LucifeRain (Ayya)

Advertisements

89 responses to “Season of The Lucifer [CHAPTER 14]

  1. aduh rada bingung antara minho atw key, aku feelingnya key, tapi sregnya minho soalny ntu orang biaskuuu

  2. Cho Minhyeeee… keterlaluan kau, Nak… udah janji ini itu segala, ternyata ditinggalin juga!!
    Kasian banget Key, dia udah serius pengen sembuh, udah rela-relain melawan traumanya, tapi Minhyun membuat Key beranggapan usahanya sia-sia.

    Please deh Author-ssi, jangan bikin aku baper di chap selanjutnya…

  3. Astagaaaa kecelakaaan kah ,,,duh jgn mati dong ntr gk seru perebutn minhye
    Q kecewa sama minhye yg ingkar janji sama key

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s