Wan’t to Touch You

Author: Anya이민라 (@yong033001)

Cast: Lee Gikwang, Lee Minra (OC)

Rate: PG

Genre: Romance, Fantasy

Lenght: Oneshoot

Disclaim: The story belong to Naoda Tsuboko! I just adapt the story into FanFic! The cast belong to God… but please don’t copy this story ^^ thx~

Ini FF debutku di FFindo~ maaf kalo jelek… cerita ini diadaptasi dari komiknya Naoda Tsuboko, dengan sedikit obrak-abrik… mohon dicicipi(?) juga dikomen~ oh, ya mian fotonya rada nggak nyambung sama ceritanya soalnya mepet banget nyarinya…

Good Reader: Saya kasih cinta biasnya masing-masing
Silent Reader: Mau cinta Yoo Jaesuk ato Kang Hodong?

————————————————–

Namaku Lee Minra, kelas 2 SMA. Saat ini aku duduk di atap sendirian, aku masih belum bisa beradaptasi dengan sekolah baruku ini. Ketika sedang menikmati angin di atap tiba-tiba aku mendengar suara di dekatku.

“Aku… selalu penasaran melihatmu sendirian di atap.” Aku memang belum pernah bicara dengan namja. Apalagi kalau kaki namjanya… tidak menyentuh tanah.

~-*^*-~

“KYAAAAAA!!!” aku berteriak histeris begitu memasuki kelas. “Ada apa Minra-ya?” teman yeojaku langsung menghampiri aku yang histeris.

“T… tadi… ada… nam… namja di atap…”

“Babo, ini sekolah campuran! Jelas saja ada namja! Tidak seperti sekolah putri yang kau tempati dulu!”

“Tapi…”

“Jangan-jangan maksud Minra hantu penghuni atap sekolah,” tebak teman sekelasku.

“Ah, iya! Minra ‘kan anak baru pantas saja belum tahu tentang gosip hantu itu.” teman yeojaku itu langsung menenangkanku. Tapi tetap saja aku shock, melihat namja biasa saja aku kaget… apalagi kalau kakinya tidak menyentuh tanah.

“Kau terlihat pucat, kau kenapa?” seseorang menepuk bahuku dari belakang. “Kau mau apa?” aku refleks berteriak. “Tidak… bukan apa-apa….” Namja itu langsung berkumpul kembali dengan teman-temannya.

“Hah… Minra… kau ini harus terbiasa dengan namja dong… ini ‘’kan sekolah campuran…” temanku mulai menasehatiku lagi.

Sebenarnya, sejak SD aku selalu belajar di sekolah khusus yeoja. Tapi setengah tahun yang lalu, appa-ku dimutasi dan keluarga kami pindah ke kota ini. Walaupun sudah cukup lama tinggal disini, aku tetap dibuat kaget oleh sifat namja. Aku belum terbiasa dengan namja yang seusia denganku. Aku paham bahwa sebenarnya sifatku ini cuma bikin susah orang lain.

Tempat faforitku di sekolah ini adalah atap sekolah. Tak ada siapapun disana, aku bisa menyendiri dan bisa menghindar dari namja. Kecuali siang ini… tapi tunggu, masa ada hantu betulan? Ah… mungkin aku terlalu stress sampai berhalusianasi.

“Maafkan aku membuatmu kaget tadi siang.” Dengan ragu aku menoleh ke samping.

Melihat sosok di sampingku aku langsung berteriak dan lari. Ini bukan mimpi! Dia terbang, tembus pandang berarti… brukk! Aku terjatuh, sosok itu mendekatiku… rasa takutku dan kakiku yang sakit membuat air mataku mengalir perlahan. Ah… jangan medekat! Jangan sentuh aku! Aku ingin teriak atau setidaknya bicara, tapi aku terlalu takut hingga tidak bisa bergerak sedikitpun.

“Lho? Kok bisa?” Aku memberanikan diri membuka mata. Ah… ternyata dia bingung karena tangannya menembus kepalaku.

“K… kau ‘kan… hantu….”

“Ya ampun aku lupa!” Heo? Hantu juga bisa lupa kalau dia hantu ya?

“Tapi… Syukurlah kau berhenti menangis.” Eh? Aku memegang pipiku, sudah tidak basah…. Pipip… pipip… handphoneku berbunyi, entah kenapa aku merasa lega mendengarnya… mungkin karena aku bisa menghindar dari hantu namja yang aneh ini.

From: Eomma

Kau dimana Min-ah? Cepatlah pulang… eomma khawatir…

Eomma… terima kasih sudah menyelamatkan anakmu ini. “Sudah ya… aku harus pulang…” aku mencoba untuk menghindar dari hantu aneh ini.

“Ah! Namaku Lee Gikwang!  Boleh aku tahu namamu?” tanyanya tiba-tiba.

“Lee… Minra….”

“Minra-ya! Aku selalu disini… senang sekali kalau bisa bertemu denganmu lagi! Sampai jumpa!” dia tersenyum dan melambaikan tangannya.

Aku membalas lambaian tangannya dengan ragu. Aku langsung membuka pintu dan berlari keluar. Sebenarnya apa yang kulakukan sih? Ngobrol dengan hantu sampai kenalan segala. Sebenarnya dia itu siapa!?

~-*^*-~

“Wah~ kau betul-betul datang lagi!” sambutnya dengan girang, ternyata… hantu juga bisa segirang ini…. Aku langsung mencubit tanganku, sakiiit… ternyata benar-benar bukan mimpi.

“Hei! Aku mau tanya tentangmu, Minra-ya!”

“Mwo!? Tentangku….” Dia mengangguk dengan penuh semangat.

“Kau selalu kesini sendirian, pertanyaan seperti ‘kenapa?’, ‘siapa?’ dan  ‘seperti apa dia?’ sering muncul di benakku. Aku selalu penasaran denganmu.” Ternyata, dia memang selalu mengawasiku ya…

“Sebenarnya… aku tak biasa bergaul dengan cowok… jadi kalau aku ingin sendirian, aku akan kesini….”

“Tapi kau bisa mengobrol denganku ‘kan?” tanyanya dengan percaya diri.

“Iya, kenapa ya? Mungkin karena kau tak nyata?” aku berfikir lagi sejenak. “Ah! Aku tenang karena tak bisa kau sentuh!”

“Ya sudah! Yang penting aku bisa berkenalan denganmu dengan badanku ini! Ayo kita jabat tangan….” Aku hanya menatap tangannya ragu, memangnya ada hantu yang minta jabat tangan? “Nggak takut ‘kan? Aku tak akan bisa menyentuhmu.”

“Iya, tapi aku tetap takut!”

“Kalau begitu, anggap saja kau bersalaman dengan angin.”

Akhirnya aku menyentuh tangannya. Selain tangan ayahku, ini pertama kalinya aku bersentuhan dengan tangan namja. Walaupun tangan yang kusentuh… terasa dingin dan kosong bagai hembusan angin.

~-*^*-~

“Eh… Minra-ya? Kau ingin tahu tentang hantu yang di atap itu?” aku mengangguk. Aku benar-benar penasaran tentang hantu itu… bukan, nama hantu itu Gikwang. Aku benar-benar penasaran… sebenarnya, apa yang terjadi padanya.

“Dulu… ada murid yang terjun bunuh diri karena gagal ujian…” temanku memulai ceritanya “…dia tak sadar kalau sudah mati… tetap saja mondar-mandir di belajar atap, masih sibuk menghitung lembaran ujian ‘selembar, dua lembar…’ dia tak ingat kalau sudah bunuh diri, culun banget ‘kan?”  Mwo? Kok ceritanya gitu banget sih?

“Tapi kayaknya memang benar ada siswa yang bunuh diri di atap,” kata temanku yang lain.

“Begitu ya? Terima kasih sudah cerita.” Aku langsung berlari ke atap. Kalau begitu… murid yang bunuh diri itu… Gikwang?

“Ah! Minra-ya!”

“Maaf… kenapa kau bisa menjadi hantu?” tanyaku. Raut wajahnya sedikit berubah, aku jadi merasa sangat bersalah. “Eh? Nggak apa-apa kok kalau nggak mau cerita….”

“Aku… aku sendiri lupa.” Eh? Lupa? Jangan-jangan teman-temanku benar, tapi dia nggak ngitung lembar jawaban! “Tapi… berulang kali aku berpikir ‘aku merasa sangat ingin bicara dengan yeoja yang ada di atap sekolah’  tahu-tahu sosokku sudah begini.”

“Kalau begitu… sampai kapan kau akan ada disini?”

“Yah… Karena aku sudah ngobrol denganmu… kurasa sebentar lagi aku bakal menghilang.”

“Lalu? Kenapa kau masih santai begini walaupun tahu sebentar lagi kau menghilang?”

“Minra-ya… meski aku menghilang… jangan lupakan aku, ya….” Entah kenapa perasaanku menjadi aneh, rasa takut mulai menyerbu tubuhku. “mana mungkin aku lupa sudah bertemu hantu sepertimu, mana pakai kenalan segala lagi….” Jawabku sok cuek, kuharap dia tak melihat rasa takutku… takut kehilangan hantu ini.

“Anginnya kencang… kau tidak kedinginan cuma pakai kaos tipis, Gikwang-ah?” Ah… babo, aku lupa kalau dia bukan manusia. Sejak awal cuma aku yang mengeluarakan embun ketika bicara.

“Iya. Karena… aku tak pernah merasa seperti ini.” Entah kenapa aku semakin takut kehilangan sosok namja hantu ini.

“Ayo kita gandengan Gikwang-ah…” tanpa kusadari kata-kata itu meluncur dari mulutku, cerobohnya aku.

“Eh? Kok mendadak minta gandengan? Aku sih senang tapi kau nggak berani kan?” katanya dengan wajah memerah dan agak panik, dia malu? Hantu juga bisa malu ya….

Lee Gikwang… kau tahu, saat membayangkan kau pergi… spontan kuulurkan tangnku. Tangan yang kusentuh untuk kedua kalinya… terasa lebih dingin dari sebelumnya, aku tak tahu benar atau hanya perasaanku saja. Aku memang tak bisa menyentuhnya, tapi  aku merasa ingin menarikmu dan tak membiarkanmu pergi.

~-*^*-~

Hari ini aku mencoba bertanya pada guru tentang murid yang meninggal di atap. Mungkin aku bisa dapat petunjuk yang lebih baik daripada bertanya pada murid lain yang asal-usul informasinya belum pasti. Lagipula jika ada murid yang meninggal guru pasti tahu ‘kan?

“Murid yang dulu meninggal di atap? Ya, bapak tahu sedikit.” Fiuuuuh… untung wali kelasku tahu. “Tapi dia tak terjun dari atap, dia meninggal karena sakit. Tapi sepertinya arwahnya masih penasaran… gadis yang malang.”

“Gadis!?” teriakku. Jadi bukan Gikwang?

“Iya… memang perempuan, cuma dia saja yang meninggal sebelum lulus….”  Tertang murid yang bunuh diri di atap… ternyata cewek, bukan cowok!? Apa maksudnya.

Aku langsung pergi ke perpustakaan, siapa tahu Gikwang alumni sekolah ini… aku curiga karena dia tinggal di atap sekolah. Aku membuka album alumni dari semua angkatan, tapi dari semua album itu aku tak menemukan nama ‘Lee Gikwang’. Berarti… Gikwang bukan murid sekolah ini ‘kan? Lalu kenapa dia ada di atap sekolah? Gikwang sebetulnya… siapa kau?

Aku kembali ke atap, menemui hantu berwujud namja yang biasa kutemui. Ketika aku sampai disana aku merasa ada yang berbeda dari Gikwang. Dia semakin pudar, aku bahkan bisa melihat dengan jelas salju yang turun dari balik tubuhnya, seakan-akan dia plastik tipis yang berbentuk manusia.

“Gikwang… kau… kenapa jadi semakin pudar?”

“Mungkin sudah saatnya.” Aku memang tahu dia akan menjawab seperti itu, tapi tidak sambil tersenyum. Kenapa… kenapa harus pergi….

“Babo! Kau mau pergi jangan malah senyum-senyum!” Aku melempar salju ke arahnya, tapi salju itu malah menembus tubuhnya begitu saja, aku lupa kalau dia hantu. “Kau muncul begitu saja… jangan pergi begitu saja! Jangan meninggalkan orang lain dengan perasaan kacau!” Aku menangis, walau aku tak mengerti apa yang sedang kutangisi saat ini. Aku tak tahu aku sedang sedih atau marah… yang pasti perasaanku saat ini sangat kacau.

“Minra-ya… kau mau mendengar permohonanku?” aku mengangkat kepalaku, suaranya tadi terdengar tulus dan lembut, aku tidak mendengar suara Gikwang yang selalu ceria sekang ini. “ Ayo kita ke pintu masuk!” Akhirnya aku mendengar suaranya yang ceria. Tapi kenapa harus pintu masuk? Jangan-jangan dia….

“Memangnya kau mau apa?”

“Ulurkan tanganmu di kaca.” Aku menuruti perkataannya, dia juga mengulurkan tangannya di sisi lain kaca pintu masuk. “Meski dihalangi kaca, rasanya kita bersentuhan ‘kan?” Aku mengangguk. Tapi apa kau tahu Gikwang-ah? Kaca ini terasa begitu dingin, membuatku semakin takut kehilangan dirimu.

“Sekarang dengarkan permohonan terakhirku padamu…” aku berusaha menahan air mataku agar tidak menangis, tapi melihat wajahnya membuatku semakin takut mengakui kalau ia akan menghilang… sehingga tangisanku semakin menjadi. ”Sekarang, dekatkan wajahmu ke kaca dan pejamkan matamu.” Aku kembali mengikuti permintaannya, dia akan bahagia ‘kan jika menghilang setelah aku menerima permintaan terakhirnya.

“Sekarang… jangan tangisi aku, jangan menagis lagi.” Suara itu terdegar lirih dan diikuti suara kecupan pelan. Aku mengangkat wajahku kacanya berembun sehingga aku tak bisa melihat dengan jelas. Aku menghapus embun itu, tapi aku tak melihat apapun dibalik kaca itu, jangan katakan kalau…

“Gikwang-ah!!!” Sekarang, di depan mataku hanya ada hamparan salju dan jejak kakiku. Aku diam di atap…. Padahal aku tahu, Gikwang tidak ada disini lagi.

~-*^*-~

Karena aku diam di atap sekolah di musim dingin yang penuh salju, aku sakit flu dan tidak masuk selama seminggu. Rasanya sudah lama aku tak merasakan atap sekolah yang biasanya kutempati. Aku mengenang waktu-waktu bersama Gikwang. Pertama kali bertemu Gikwang dia mengagetkanku dan bilang ‘aku… selalu penasaran melihatmu sendirian di atap’. Saat itu aku betul-betul kaget. Aku ingat bagaimana aku mulai bicara dengannya dan mengetahui namanya, menyentuh tangannya dan menciumnya dengan perantara kaca.

Lho? Tunggu dulu… selama ini, dari mana Gikwang melihatku di atap? Dia bilang selalu melihatku ‘kan? Dia juga bukan siswa maupun alumni sekolah ini. Aku mencari tempat yang cukup bagus untuk melihat ke atap sekolah ini. Tiba-tiba mataku tertuju ke atap rumah sakit yang tak jauh dari sekolah ini, ada seseorang di atapnya.

Tanpa basa-basi aku –yang belum sepenuhnya sembuh ini– lari ke rumah sakit. Aku tak memperdulikan kondisiku ataupun kakiku yang mulai terasa sakit. Aku hanya ingin melihat Gikwang hanya itu….

“Gikwang-ah!!!”

“Minra-ya?” Rautnya terlihat sangat kaget, seakan melihat seseorang yang sudah lama tidak ia temui.

“Jangan menghilang seenaknya! Babo Gikwang!!!” tangisku meledak saat itu juga.

“Eh!? Tunggu dulu! Kenapa…”

“Kenapa apanya?”

“Eh… semuanya… bukan mimpi, ya?” Hah? Apa maksudnya!?

“Aku sudah lama dirawat disini, lalu… aku menjalani operasi besar dan berhasil. Tapi, setelah itu aku koma beberapa bulan. Disaat itulah aku ingin bertemu denganmu, Minra-ya….”

“Jadi… maksudmu rohmu keluyuran dan menghampiriku?” Dia cuma mengangkat bahunya. Tubuhku ambruk. Begitu banyak kenangan sehingga logikaku tak bisa jalan… tapi, aku tak peduli.

“Kukira… aku tak akan bisa bertemu denganmu lagi….”

“Meski semua ini hanyalah mimpi… kalau sudah keluar dari rumah sakit aku juga akan mencarimu, Minra-ya.” Senyumnya yang sekarang terlihat lebih hangat dari sebelumnya, dia terlihat sangat tampan sekarang. “Nah… bolehkah aku menyentuhmu tanpa kaca?” Aku mengangguk dan mengulurkan tanganku, dia menyambut tanganku itu.

Rasanya berbeda dari yang sebelumnya, tangan yang kusentuh untuk keempat kalinya. Tangan yang dulu terasa dingin dan kosong… sekarang terasa sangat nyata dan hangat. Rasa bahagiaku meluap,aku langsung memeluknya… akhirnya aku berani memeluk seorang namja. Aku mengecup bibirnya sekilas, wajah putihnya langsung memerah.

“Hei, Minra-ya! Kau sadar… kau melakukannya, tanpa kaca…”

~-*^*-~

Gimana-gimana? hasilnya gejekah? masukan anda sangat berarti buat saya ㅠ^ㅠ

Advertisements

26 responses to “Wan’t to Touch You

  1. WAaaaaaAaaaA….
    Keren chingu ff nya…

    Saia suka saia suka
    #ala mei” di upin ipin 😀
    \=D/HëHëHëHë\=D/

    Minra nya hebat takut sama namja tapi sekali kenal langsung maen nyosor aja tuh..
    :*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s