Last Memories [1 of 2]

Tittle : Last Memories [1 of 2]

Author : Hikachovy (@Raechanyz)

Cast : Lee Hyukjae, Eunhyuk Super Junior

Genre : Romance, Angst

Length : Twoshot

Previous Part : Prolog

a/n : Part ini sangaaaaaaaaaaat panjang dan membosankan. Jadi maap klo di tengah perjalanan (?) ada yang ketiduran ato mual2~ muahahahahha

Happy Reading~! :*

==================================

===================

Februari, 2012

“Rae-ya tunggu!!!”

“Aniyo! Kau harus mengejarku eomma! Hahahaah”

Hyukjae memperhatikan ibu dan anak yang ada di seberang sana sambil tersenyum miris. Sesaat hatinya sempat terkejut dan hampir melonjak senang begitu mendengar kata ‘Rae’ menghampiri indera pendengarannya. Dan kenyataan bahwa nama Rae yang diinginkannya tidak sesuai harapan, membuat rasa senangnya terhempas menjadi sebuah rasa kecewa dan penyesalan. Dia lupa, bahwa di dunia ini ada berjuta-juta orang yang memiliki nama Rae.

“Kau merindukannya?”

Pertanyaan Lee Sungmin membuat Hyukjae kembali ke alam sadarnya. Laki-laki itu mengangguk tanpa mengucapkan apapun. Aku merindukannya Hyung. Sangat merindukannya. Lirihnya dalam hati.

=O=

Januari, 2007

“Annyeonghaseyo, Han Rae Eun imnida. Bangeupsemnida.” Rae Eun menundukkan badannya dengan sopan, sementara tiga belas pria yang saat ini sedang duduk di depannya hanya menatapnya dengan ekspresi yang bermacam-macam.

“Dia… apa harus tinggal disini hyung?” Tanya Leeteuk pada managernya. Ada nada enggan dalam suaranya itu.

Seunghwan menjawab pertanyaan Leeteuk dengan sebuah anggukan pasti. “Hanya satu bulan. Dan setelah itu, dia akan pulang lagi ke tempat asalnya.” Laki-laki bertubuh tinggi itu lalu menatap Rae Eun, “Benar begitu kan nona?” tanyanya.

Rae Eun mengangguk. “Ne. Aku disini hanya untuk melakukan observasi saja. Oppadeul tidak perlu khawatir, aku janji tidak akan merepotkan apalagi mengganggu pekerjaan kalian.”

Mendengar ucapan Rae Eun, Leeteuk jadi merasa tidak  enak. Leader Super Junior itu pun akhirnya segera meluruskan ucapannya yang tadi. “Ah, bukan seperti itu maksudku. Aku hanya tidak ingin nantinya ada skandal yang macam-macam. Yah, kau tau sendiri kan kalau di dorm ini hanya ada kami yang notabene laki-laki semua. Dan pandangan tiap orang pasti akan bermacam-macam kalau tau ada seorang wanita yang menginap disini.”

“Kalau itu masalahnya, kau tidak perlu khawatir. Perusahaan sudah meng-cover semuanya sebaik mungkin.” Seunghwan kembali bersuara membuat ketiga belas pria yang tadi sempat merasa was-was akhirnya menganggukan kepala pasrah.

“Dan kau..” Seunghwan kembali menatap Rae Eun, “Untuk satu bulan ini, kau bisa tidur di kamarku.”

“Woaaa! Gomawo Ajjuhsi. Kau memang Ajjuhssi terbaik yang kupunya.” Seru Rae Eun senang. Gadis itu lalu segera pergi ke kamarnya setelah diberi kunci oleh Seunghwan.

Semua member Super Junior yang melihat percakapan Rae Eun dan Seunghwan langsung melongo sempurna. “A…jjuhssi?” tanya mereka serempak.

“Ah, aku belum memberitahu ya? Jadi, Han Rae Eun itu adalah keponakanku. Makanya jangan pernah melakukan hal yang macam-macam kalau tidak ingin berurusan denganku. Arasseo?” Seunghwan menatap ketiga belas artis-nya dengan serius. Setelah melihat mereka semua menganggukkan kepala, Seunghwan kembali melanjutkan, “Dan sekarang, kalian bisa bersiap-siap. Kita ada acara pemotretan satu jam lagi.” Selesai mengucapkan itu, Seunghwan pergi ke kamarnya untuk menemui Rae Eun. -mengabaikan belasan pasang mata yang tengah menatapnya heran-

“Ajjuhssi?” Semua member kembali bergumam dengan nada tidak yakin.

=O=

“Kau ingat perjanjiannya kan?”

Rae Eun tersentak dan segera berbalik ke belakang. “Astaga Ajjuhssi ! Kau membuatku kaget saja.” Rae Eun menghembuskan nafas sambil mengatur detak jantungnya yang tadi sempat melompat-lompat karena kaget. “Aku ingat dan tidak akan pernah lupa!” Kata Rae Eun seraya membereskan pakaian-pakaiannya ke dalam lemari.

Seunghwan duduk di pinggir kasur dengan santai. “Baguslah kalau begitu. Jangan terlalu memaksakan diri. o’ ?”

Rae Eun mengangguk, “Hmm. Kau tidak perlu khawatir Ajjuhssi.”

“Jangan terlalu banyak berharap juga.”

“Ne.”

“Jangan menyembunyikan apapun dariku.”

“Arrasseo!”

“Jangan terjatuh lagi seandainya keinginanmu tidak terwujud.”

Rae Eun berbalik dengan wajah masam. “AJJUHSSI!!” Teriaknya kesal.

“Dan jangan memanggilku Ajjuhssi.” Seru Seunghwan gemas.

Rae Eun melengos, “Jadi kau mau kupanggil apa? Oppa Ajjuhssi?” Tanya Rae Eun dengan nada menggoda yang langsung disambut dengan sebuah lemparan bantal dari Seunghwan. “Pikirkan nama yang lebih kreatif, gadis Han~”

=O=

 

Rae Eun menggeliat pelan saat mendengar suara gaduh yang berasal dari luar kamarnya. Matanya dikerjap-kerjapkan selama beberapa kali sampai kesadarannya terkumpul. Rae Eun mengarahkan kepalanya pada meja yang ada di samping ranjang untuk melihat jam berapa sekarang. “Jam dua pagi?” gumamnya dengan suara yang masih terdengar serak.

Didorong oleh rasa penasaran, Rae Eun akhirnya mencoba untuk mengumpulkan tenaganya lalu bangun dan beranjak keluar kamar.

“Lee Hyuk Jae-ssi, apa yang sedang kau lakukan?” Rae Eun berjalan ke arah dapur dimana disana ada Eunhyuk yang terlihat sedang sibuk mengerjakan sesuatu.

Eunhyuk menoleh. “Oh.. Kau bangun? apa karena suara tadi?” Tanya Eunhyuk lalu kembali berkutat dengan ‘kesibukannya’.

Rae Eun menggeleng-gelengkan kepala begitu sampai di samping Eunhyuk. “Kau kelaparan ya?” Tanya Rae Eun -menahan diri untuk tidak tertawa-

Eunhyuk menoleh ke arah Rae Eun sekilas, lalu tersenyum. “Bukan kelaparan, tapi hanya ingin makan.”kilahnya membuat Rae Eun mengeluarkan tawanya. “Apa bedanya?”

“Tentu saja beda. Kalau kelaparan artinya perutmu kekurangan makanan. Sementara kalau ingin makan, artinya…” Eunhyuk menghentikan aktifitasnya sejenak dan mengarahkan kepalanya ke atas untuk berfikir. “Perutmu minta diisi makanan. Begitu kan?” Balas Rae Eun sambil tertawa.

Eunhyuk ikut tertawa. “Kau pintar juga. Ahaha~”

“Perlu kubantu?”

Eunhyuk kembali menoleh ke arah Rae Eun. “Kau mau membantuku?”

“Kau tidak ingin dibantu ?” Rae Eun balik bertanya.

“Aigo! Kau ini pintar sekali membalas ucapan orang yah.” Eunhyuk lalu menyerahkan bawang bombay yang tadi sedang dikupasnya. “Kau iris saja bawang ini.”

“Kau ini sebenarnya mau memasak apa Lee Hyukjae-ssi?” Tanya Rae Eun penasaran.

Eunhyuk mengambil wajan yang ada di samping lemari, lalu menyalakan kompor. “Sesuatu yang enak.” Jawab Eunhyuk simple. Pria itu lalu mulai sibuk dengan beberapa bahan makanan dan peralatan dapur lainnya hingga menimbulkan bunyi yang berisik.

“Ini sudah tengah malam menjelang pagi, Lee Hyukjae-ssi” Rae Eun mengingatkan, sementara Eunhyuk hanya tersenyum tanpa dosa sambil terus melakukan kegiatannya dengan tetap menimbulkan kegaduhan. Rae Eun pun memilih untuk pasrah.

“Sudah selesai? omo! kenapa kau menangis segala?”

Rae Eun mendelik, “Gara-gara bawang bombay!”

Eunhyuk kembali mengeluarkan tawa, sementara tangannya menyerahkan beberapa helai tisu pada Rae Eun. “Kau sepertinya tidak pernah memasak ya?”

“Bukan tidak pernah. Tapi tidak berminat.” Rae Eun mencuci tangannya pada wastafel sambil terus terisak karena matanya yang semakin terasa perih.

“Eiiy. Laki-laki yang akan menjadi suamimu pasti bakal menderita. Bagaimana mungkin ada seorang wanita yang tidak berminat memasak?”

“Tenang saja. Aku tidak akan memiliki kesempatan untuk merekrut seseorang untuk dijadikan suami.” Rae Eun duduk di kursi makan sambil menopangkan kepalanya di tangan. “Jadi ya tidak akan ada yang menderita kan?”

Eunhyuk menghentikan gerakannya sesaat, lalu membalikkan badannya menghadap Rae Eun, “Merekrut? aigoo! Dan apa maksudnya itu? jangan-jangan kau tidak berminat untuk menikah juga, eh?”

Rae Eun tersenyum datar. Entah kenapa dadanya tiba-tiba saja terasa sesak setiap kali dia berbicara tentang masa depan. Menikah? Suami? Semua itu tampak sangat mustahil untuknya.

“Tidak semua orang yang berminat untuk menikah diberi kesempatan untuk bisa menikah, Lee Hyukjae-ssi.” Jawab Rae Eun dengan nada mengambang.

Eunhyuk cukup bingung dengan jawaban Rae Eun, namun dia memilih untuk diam dan melanjutkan aktifitasnya. Bagi Eunhyuk, pikiran wanita itu sedikit diluar nalar dan sulit untuk dimengerti. Mungkin gadis yang sedang duduk di meja makan sana adalah salah satunya.

Selama beberapa menit, tidak ada lagi pembicaraan antara Eunhyuk dengan Rae Eun. Masing-masing dari mereka sibuk dengan kegiatannya. Eunhyuk memilih diam dengan memasaknya. Sementara Rae Eun memilih diam dengan lamunannya.

“Jjaaaan~ Spagetthi lezatos ala Lee Hyukjae telah selesai!” Eunhyuk duduk diseberang kursi Rae Eun membuat gadis itu sedikit terlonjak kaget.

“Eeh, sudah selesai lagi?”

“Tentu saja.” Eunhyuk memamerkan deretan giginya yang rapih sambil mengaduk-ngaduk spagetthi-nya.

“Hyaa, kau hanya membuat satu?”

“Memang kau minta?”

“Aku kan ingin makan juga!!”

Eunhyuk tetap asik menyuapkan spagetthi yang ada di piringnya itu dengan cuek. “Bagaimana aku tau kau ingin makan, kalau minta saja tidak.”

“Heeish, kau ini benar-benar menyebalkan!” Rae Eun segera bangkit dari kursinya dan berniat untuk kembali ke kamar saat tiba-tiba saja langkahnya dihentikan oleh tangan kiri Eunhyuk yang menggoyang-goyangkan sebuah garpu ke arahnya.

Eunhyuk menyeringai. “Mau makan bersama?”

Rae Eun memalingkan wajahnya sambil mengulum sebuah senyuman. “Kau kira kita sedang syuting sinetron ya? Sepiring berdua? Aigoo..”

“Mau tidak?”

Rae Eun kembali duduk di kursinya lalu mengambil garpu yang ada di tangan Eunhyuk. “Baiklah kalau kau memaksa!” Ujarnya cuek.

Eunhyuk memutar bola matanya. “Kapan aku memaksamu? Tch.”

Rae Eun hanya tersenyum simpul lalu mulai memasukkan sesuap spagetthi ke mulutnya. Matanya langsung membelalak lebar begitu spagetthi tersebut menyentuh lidahnya.  “Huwaa! Massyitta~” Serunya tidak percaya.

Eunhyuk menyunggingkan senyuman bangga saat melihat ekspresi Rae Eun yang tampak sangat menikmati spagetthi buatannya itu. “Apakah benar-benar enak?”

“Euuuum~~” Dengan mulut yang masih penuh, Rae Eun mengangguk. Sesekali matanya terpejam hanya untuk menikmati spagetthi yang sedang dikunyahnya itu. Ekspresinya benar-benar seperti wajah anak kecil yang baru saja di beri es-krim oleh orang tuanya. Sangat lucu dan menggemaskan, membuat Eunhyuk secara tidak sadar menghentikan makannya hanya untuk memandangi wajah Rae Eun.

“Ekspresi makanmu benar-benar mirip seperti seseorang.” Gumam Eunhyuk secara tidak sadar,

Rae Eun menatap Eunhyuk tidak mengerti. “Mirip siapa?” tanyanya.

“Mirip seseorang yang kukenal di masa lalu.” Eunhyuk sedikit tersentak mendengar ucapannya sendiri. Bagaimana mungkin dia mengucapkan kalimat itu? Bukankah orang yang dikenalnya di masa lalu itu adalah seseorang yang kini telah menjadi kekasihnya?

“Benarkah?” Rae Eun kembali menyuapkan sesendok spagetthi ke mulutnya dengan ekspresi tidak peduli, membuat Eunhyuk sedikit merasa lega. Pria itu tidak tahu harus berkata apa kalau Rae Eun menanyakan hal yang aneh-aneh tentang ucapannya tadi.

“Ngomong-ngomong, berapa umurmu?” Tanya Eunhyuk mengalihkan pembicaraan. 

“Delapan Belas tahun.”

“Delapan Belas??!!” Tanya Eunhyuk tidak percaya. Dan Rae Eun hanya mengangguk.

“YA! Harusnya kau memanggilku oppa!”

Rae Eun mengerutkan keningnya. “Wae?” Gadis itu lalu beranjak dari kursinya dan berjalan ke arah dapur untuk membawa segelas air.

Eunhyuk membalikkan tubuhnya ke arah Rae Eun. “Aku lebih tua darimu, kau tau?”

“Terus?” Rae Eun meneguk minumannya hingga tandas, lalu menyerahkan segelas air minum yang lain ke arah Eunhyuk.

“Kau tidak pernah diajari pelajaran ber-etika ya? Bukankah sudah seharusnya orang yang lebih muda menggunakkan kata yang sopan pada orang yang lebih tua? Mulai sekarang kau harus memanggilku OPPA!” Eunhyuk menekankan kata ‘oppa’ lalu meneguk minumannya dengan mata yang tetap menatap Rae Eun.

“Shireo!”

“YA!”

Rae Eun menarik napas panjang lalu kembali bersuara, “Kata OPPA, hanya akan kuberikan pada orang-orang yang penting! Aku baru akan memanggilmu oppa, kalau derajatmu bisa naik ke tingkatan orang penting menurut standarku. Okay?” Rae Eun langsung melengos pergi setelah mengucapkan kalimat itu. “Terima kasih untuk makanannya, Lee Hyukjae-ssi.” Ucapnya sesaat sebelum membuka pintu kamar.

Eunhyuk hanya bisa tercengang di tempat duduknya. Kalimat itu….. adalah kalimat yang pernah di ucapkan seseorang padanya. “Kenapa kau begitu mirip dengannya?” Gumam Eunhyuk bingung.

Sesaat, Eunhyuk sempat merasakan kalau Rae Eun benar-benar seperti seseorang  yang pernah hadir di masa lalunya. Meskipun kenyataannya seseorang di masa lalunya itu adalah seorang gadis yang kini telah menjadi kekasihnya, tapi entah mengapa Eunhyuk merasa kalau Rae Eun bukanlah gadis yang asing. Dari caranya ber-ekspresi saat makan dan kalimat-kalimat yang dilontarkannya dengan polos, membuat Eunhyuk menganggap bahwa gadis itu adalah gadis yang dikenalnya delapan tahun yang lalu. Ah, tapi apakah itu mungkin?

=O=


“Wuaaah, pagi-pagi begini kau sudah memasak? Kim Ryeowook benar-benar daebak!” Rae Eun berdecak kagum begitu melihat meja makan yang sudah dipenuhi dengan makanan.

Ryeowook yang saat itu sedang menumis sayuran, hanya tersenyum simpul menanggapi ucapan Rae Eun.

“Benar, aku jadi sangsi dengan kelaki-lakianmu kalau kau serajin ini Ryeowook-ah!” Heechul tiba-tiba saja muncul dari kamar mandi dengan bertelanjang dada. Tubuhnya hanya ditutupi selembar handuk membuat Rae Eun dengan susah payah meneguk ludah. “Memang apa salahnya kalau seorang pria rajin memasak? Aku justru meragukan kelaki-lakian oppa!” Seru Rae Eun dengan nada yang sedikit gugup.

Heechul menatap Rae Eun sambil menyeringai. “Wae? apa aku terlihat seksi? Hmm?”

“Anni~ ” Rae Eun mundur dengan teratur ketika Heechul berjalan mendekatinya. “Lalu kenapa?” tanya Heechul dengan nada menantang.

“Itu karena…..”

“Apa?” Heechul berjalan semakin dekat.

“Itu karena……”

“Hmmm….?”

“Itu karena kau lebih sering mencium NAMJA dibanding YEO— Hwaaaaaaaaaaa!” Rae Eun segera berlari sebelum menyelesaikan ucapannya. Dia lalu menyembunyikan tubuhnya dibalik badan Ryeowook.

“YA! kenapa kau lari? Ayo sini, sini… Kau harus melihat kelaki-lakianku agar tidak merasa ragu lagi Rae Eun-ah. HAHAHHA”

“KIM HEECHUL MESUM!! KENAPA KAU MELEPAS HANDUKMU HAH??!” Rae Eun mengeratkan pegangannya pada lengan Ryeowook membuat namja yang berselisih umur satu tahun dengannya itu merintih kesakitan. “Rae Eun-ah, sakiiiit!” Namun Rae Eun tetap bergeming. Matanya tertutup rapat sementara tangannya semakin mengepal kuat di lengan Ryeowook.

Heechul tertawa terbahak-bahak melihat tingkah Rae Eun dan Ryeowook yang seperti anak kecil itu. “Ahahahah~ kau benar-benar gadis polos. Bagaimana mungkin aku merelakan barang berhargaku dilihat oleh wanita sembarangan, hah?” Heechul lalu berjalan kearah kamarnya sambil terus tertawa.

Rae Eun mengintip dari badan Ryeowook dengan ragu. “Eh? Jadi tadi dia tidak naked ya?” tanyanya polos.

Ryeowook menggelengkan kepalanya sambil mencoba melepaskan diri dari pegangan Rae Eun. “Tentu saja tidak! Dasar gadis bodoh~”

Rae Eun merengut. “Aku bukannya bodoh, tapi lugu~~~” kilahnya membuat Ryeowook memasang tampang pura-pura ingin muntah. “Dilarang memfitnah diri sendiri Rae Eun-ah.” Ujar Ryeowook datar sementara tangannya kembali cekatan memotong-motong beberapa sayuran.

“Itu fakta, you know!”

“Tsk! “

“Haloooo~ aku datang!” Suara seorang gadis dari arah ruang tamu menghentikan perdebatan Rae Eun dan Ryeowook. Mereka berdua lalu melihat ke belakang, dan secara tidak sengaja, Rae Eun dan Ryeowook menggumamkan sebuah nama yang sama secara berbarengan. “Hyeo Yeongmi?”

Rae Eun dan Ryeowook pun berpandangan heran. “Kau mengenalnya?” tanya Ryeowook tidak percaya.

Rae Eun tersenyum datar. “Hmm.” Gumamnya sesaat sebelum Yeongmi tiba di dapur.

“Waah, ada tamu rupanya?” Suara Yeongmi membuat nafas Rae Eun sedikit tercekat. Gadis itu menoleh, dan matanya langsung beradu pandang dengan mata Yeongmi.

“Wow, ternyata eonni.” Yeongmi menghampiri Rae Eun yang masih terdiam di tempatnya.

Yeongmi tersenyum. Sebuah senyuman yang diartikan Rae Eun sebagai sebuah tantangan. “Annyeong eonni. Long time no see!” Yeongmi memeluk tubuh Rae Eun, sementara gadis yang dipeluknya itu masih diam tanpa ekspresi. -atau lebih tepatnya menyembunyikan ekspresinya.

“Eonnie?” Ryeowook mengernyitkan dahinya bingung. “Jadi kalian sudah saling mengenal?”

Yeongmi melepaskan pelukannya, lalu menatap Ryeowook sambil tetap menyunggingkan senyuman. “Kau ini bicara apa oppa? Tentu saja kami saling mengenal. Aku dan Rae Eun eonni adalah saudara tiri.” Ungkap Yeongmi membuat mata Ryeowook terbelalak lebar. “Mwo? Saudara…. tiri?”

“Siapa yang saudara tiri?” Kangin tiba-tiba saja muncul diikuti Siwon dan beberapa member lainnya.

Yeongmi berbalik ke belakang dan langsung memasang ekspresi pura-pura kaget. “Aigo oppa! kau mengagetkanku.” Matanya langsung berbinar bagaikan seorang putri yang baru saja bertemu dengan sang pangeran saat dia melihat Eunhyuk yang berdiri di belakang Donghae. Yeongmi segera berjalan ke arah Eunhyuk lalu bergelayut manja di lengan kekasihnya itu. “Good morning oppa~” Sapanya membuat Eunhyuk langsung tersenyum. “Morning too jagi~”

“Heeish, ini masih terlalu pagi untuk memamerkan kemesraan!” Komentar Kyuhyun sengit dan  langsung diamini oleh member lainnya. Mereka semua langsung memasang wajah mual saat Eunhyuk dan Yeongmi memamerkan kemesraannya dengan begitu blak-blak-an.

“Jadi, siapa saudara tiri siapa yang kau bicarakan tadi wook-ah?” Kangin kembali bertanya kepada Ryeowook.

Ryeowook yang masih bingung hanya bisa menatap Rae Eun dan Yeongmi secara bergantian sampai akhirnya suara Yeongmi kembali memenuhi ruangan. “Aku dan Han Rae Eun  eonni oppa~” jawab Yeongmi membuat semua member yang mendengarnya terlonjak kaget. “MWOO?”

=O=

“Woah! Dorm jadi selalu dipenuhi kejutan yang tak terduga sejak kau datang Rae Eun-ah”

Rae Eun tersenyum sewajar mungkin menanggapi ucapan Leeteuk. Sementara Seunghwan yang baru saja datang beberapa menit setelah kedatangan Yeongmi, hanya bisa diam sambil mengepalkan tangannya di bawah meja.

“Kalau begitu, bukankah Yeongmi juga bisa termasuk sebagai keponakanmu, Hyung? tapi kenapa selama ini kalian terlihat begitu cuek seolah-olah tidak saling mengenal?” Donghae kemudian menatap Seunghwan dan Yeongmi secara bergantian.

Seunghwan tersenyum kecut sementara matanya menatap Yeongmi dengan tajam. “Kau bisa menanyakan hal itu pada Hyeo Yeongmi.” Ujarnya dengan penuh penekanan di dua kata terakhir.

Semua member Suju yang tengah duduk di ruang makan langsung terkesiap kaget mendengar nada bicara manager mereka yang terkesan dingin. Yeongmi sendiri sempat merasa kaget, namun dia bisa langsung menutupinya dengan terus mengumbar senyuman. Sementara Rae Eun, gadis itu masih diam tanpa menunjukkan ekspresi apapun.

“Seunghwan oppa ini benar-benar senang bercanda~ ahahaha.” Yeongmi mengambil gelas yang ada di meja, lalu meneguk airnya sedikit. Melihat semua orang yang tengah menatapnya heran, Yeongmi tersenyum. “Seunghwan oppa ini adalah adik dari ayah kandung Rae Eun eonni. Dilihat dari segi apapun, kita memang tidak memiliki hubungan apa-apa.” Yeongmi menatap Seunghwan lembut membuat kepalan tangan laki-laki itu semakin kuat. “Dan kita tidak pernah memperlihatkan kedekatan, karena kenyataannya kita memang tidak dekat. Tidak pernah dekat. Bukankah begitu oppa?”

 Seunghwan memalingkan wajahnya dengan ekspresi yang sulit dijelaskan. Semua member Suju hanya bisa diam tanpa tau harus berbuat apa. Suasana yang tadinya ceria pun tiba-tiba saja berubah suram. Ruang makan yang tadinya ramai dengan berbagai macam obrolan, sekarang hanya diisi oleh suara denting piring yang beradu dengan sendok.

“Kalian semua kalau sudah selesai makan, segeralah bersiap-siap. Aku akan menunggu di lobi.” Seunghwan segera bangun dari kursinya lalu berjalan ke arah  Rae Eun. “Kau tidak ingin ikut denganku, Gadis Han?” tanyanya setelah berada tepat di belakang kursi Rae Eun.

Rae Eun sedikit terkesiap karena pikirannya yang dari tadi sempat melayang kemana-mana. Gadis itu menoleh ke  belakang dan langsung mengangguk begitu mendapati wajah Seunghwan yang seolah-olah sedang berkata, ‘ikut denganku sekarang!’

“Aku mengambil tas dulu.” Ujar Rae Eun sambil berlalu pergi ke kamar.

Selang beberapa menit kemudian, Rae Eun keluar dari kamarnya. Setelah berpamitan pada semuanya, gadis itu pun langsung keluar apartemen bersama Seunghwan.

Semua member Super Junior dan Yeongmi diam-diam menghembuskan nafas panjang begitu Rae Eun dan Seunghwan keluar. Tanpa mereka sadari, keadaan kaku tadi telah membuat mereka menahan nafas.

“Apa terjadi sesuatu antara kau dan Seunghwan hyung?” Eunhyuk bertanya pada Yeongmi membuat gadis itu terkesiap karena tidak menyangka akan mendapatkan pertanyaan seperti itu. “Anio.” Jawab Yeongmi cepat.

=O=

“Ajjuhssi, gwenchana?” Rae Eun menyerahkan sekaleng minuman dingin lalu duduk di samping Seunghwan dengan khawatir.

Seunghwan hanya tersenyum datar sementara matanya menatap lurus ke depan dengan tidak fokus. “Hyeo Yeongmi.” Seunghwan menarik napas sesaat, lalu kembali berkata, “Benarkah dia Hyeo Yeongmi yang kita kenal?”

Rae Eun menyandarkan kepalanya di lengan Seunghwan. Matanya ikut terarah ke depan dengan pikiran yang mengawang entah kemana. “Kau merindukannya ajjuhssi.” Rae Eun menyelipkan tangannya di lengan Seunghwan lalu memeluknya. “Aku pun merindukan Yeongmi yang dulu.”

“Rae-ya..”

“Hmm?”

“Berhentilah selagi bisa. Jangan buang waktumu untuk hal yang sia-sia.”

Rae Eun tertawa hambar, -terkesan dipaksakan- Gadis itu lalu menatap pamannya sekilas, “Aku bahkan belum memulai apapun Ajjuhssi. Biarkan aku melakukan sesuatu sebelum menyerah. Hmm?”

Rae Eun melepaskan pelukannya untuk menatap Seunghwan yang masih memandang lurus ke depan. “Mulai sekarang, mungkin kau harus membiasakan diri untuk terus bertemu dengan gadis itu. Gwenchana?”

Seunghwan diam selama beberapa detik hingga akhirnya memiliki keberanian untuk menjawab. “Gwenchanayo.” Seunghwan menatap Rae Eun sambil tersenyum. Sebuah senyuman yang ditangkap mata Rae Eun sebagai senyuman yang penuh dengan keperihan. “Aku sudah terlalu lama menghindarinya. Sekarang, mungkin memang sudah saatnya untuk menyelesaikan kesalahpahaman ini.” Lanjut Seunghwan mantap.

Rae Eun mengangguk. “Kita lakukan secara perlahan, o’ ?”

=O=

Eunhyuk memandang Yeongmi tidak percaya. Pria itu kaget. Sangat kaget. “Kau tidak sedang bercanda kan?”

“Aku serius oppa!” Yeongmi menatap Eunhyuk dengan pandangan memohon. “Jika kau mencintaiku, kumohon jauhilah Han Rae Eun, hmm?”

Eunhyuk memalingkan wajahnya dengan gusar. Perlahan, pria itu menyenderkan tubuhnya pada sandaran kursi, lalu mulai memejamkan mata. Semuanya terjadi begitu mendadak dan di luar dugaan. Seumur hidupnya, baru kali ini Eunhyuk merasa gamang akan sesuatu.

Menjauhi Han Rae Eun?

Dia memang baru kemarin bertemu dengan gadis itu. Secara logika, sepertinya permintaan Yeongmi bukanlah permintaan yang sulit. Tapi kenapa hatinya merasa berat? Terlebih lagi dengan perbincangan yang terjadi semalam, saat Eunhyuk merasakan sesuatu yang lain pada diri Rae Eun, sesuatu yang tidak asing yang membuatnya nyaman.

“Apakah kau merasakan sesuatu terhadap kakak tiriku itu, oppa?” Yeongmi bertanya tepat sasaran.

Eunhyuk segera membuka matanya lalu menoleh ke arah Yeongmi. “Kau ini bicara apa?” Tanya Eunhyuk, menyembunyikan keterkejutannya.

Yeongmi tersenyum samar. “Kau pasti merasakan sesuatu. Wajahmu itu tidak bisa berbohong, oppa.”

Eunhyuk diam. Sebagian dari dirinya ingin menyangkal ucapan Yeongmi. Tapi sebagian yang lainnya menyuruhnya untuk diam dan membiarkan Yeongmi melanjutkan ucapannya. Eunhyuk hanya menatap Yeongmi dengan pandangan tidak mengerti.

“Sepertinya, aku harus mulai menceritakan kisahku padamu.” Yeongmi menoleh dengan segurat senyuman manis yang membuat wajahnya semakin terlihat cantik.

“Dulu, aku dan Rae Eun eonni sangat dekat. Kami sudah seperti saudara kembar yang sangat sulit dipisahkan. Status saudara tiri tidak pernah membuat kami saling benci apalagi saling menyakiti. Segalanya berjalan sangat indah pada saat itu.” Yeongmi berhenti sesaat untuk menarik napas dalam, lalu kembali melanjutkan. “Tapi semuanya perlahan berubah, saat gadis itu dengan seenaknya mengambil satu-satunya orang yang kusayangi. Dengan wajah tanpa dosanya, dia berpacaran dengan kekasihku. Dengan wajah tanpa dosanya, dia membuat orang yang kucintai meninggalkanku. Dengan wajah tanpa dosanya, dia merebut segala hal yang kumiliki. Dia selalu bersikap sok polos untuk mendapatkan perhatian orang lain. Aku membencinya oppa. Sangat membencinya.”

Yeongmi mulai terisak. “Ayahku, satu-satunya pria yang kumiliki saat ini pun jauh lebih menyayagi gadis itu dibandingkan anaknya sendiri. Aku tidak tau kenapa, tapi secara perlahan, gadis itu selalu berhasil mengambil apa yang kumiliki. Dia mengambil segalanya dan membiarkanku menderita seorang diri. Dia tamak. Sangat tamak.”

“….. Sejak saat itu, aku memutuskan untuk meninggalkan rumah karena tidak tahan dengan sikapnya yang seperti itu. Rasa sakitku mulai pudar saat aku bisa menjadi trainee di SM dan bertemu denganmu oppa. Dulu, di pertemuan pertama kita delapan tahun yang lalu, aku memang tidak memiliki perasaan apapun padamu. Tapi sejak aku bertemu kembali denganmu di gedung SM, aku mulai merasakan sesuatu. Bahwa sepertinya, kau lah orang yang tepat yang mampu membuatku bangkit dari keterpurukan.” Yeongmi menatap Eunhyuk dengan mata sembabnya. “Dan itu benar. Kau benar-benar telah membuatku bangkit dari rasa sakit dan keterpurukan. Kau membuatku merasakan kembali apa itu cinta. Aku mencintaimu oppa. Dan aku hanya memilikimu di dunia ini.” Yeongmi menggenggam tangan Eunhyuk dengan erat. “Kumohon jangan seperti mereka yang meninggalkanku karena seorang Han Rae Eun. Jangan tinggalkan aku karena gadis itu oppa. Aku tidak tau lagi bagaimana harus menjalani hidup kalau kau meninggalkanku.”

Eunhyuk memeluk Yeongmi dengan perasaan bersalah yang berkecamuk di dada. Dia tidak pernah tau bahwa kekasihnya telah melewati masa-masa sulit seperti itu. Tanpa sadar, Eunhyuk ikut menangis. Menangis karena rasa sakit yang dialami kekasihnya. Juga menangis, karena kebodohannya yang sempat tertarik dengan gadis lain. Gadis yang telah membuat kekasihnya menderita.

“Aku tidak akan pernah meninggalkanmu, Yeongie-ah.” Eunhyuk mengeratkan pelukannya. “Mianhe. Aku tidak tau kalau kau memiliki kisah yang menyedihkan seperti ini. Aku berjanji tidak akan pernah terjebak dalam rencana busuk Han Rae Eun. Sampai kapanpun, aku akan selalu berada di sisimu.”

“Gomawo oppa. Jeongmal gomawoyo.” Yeongmi mengeratkan pelukannya di tubuh Eunhyuk dengan sebuah senyuman yang menghiasi bibirnya. Sebuah senyuman kemenangan yang dipenuhi oleh kelicikan.

Dia berhasil. Untuk saat ini, Yeongmi bisa bernafas lega akan keberhasilannya memperdayai Eunhyuk. Dan ini barulah awal untuk sebuah rencana besar yang telah lama dirancangnya. Membuat Eunhyuk membenci Han Rae Eun. Dan membuat Han Rae Eun menderita. Jauh lebih menderita dari apa yang pernah dialaminya dulu.

=O=

Eunhyuk mengepalkan tangannya di balik saku celana, sementara matanya menatap lurus ke arah kaca rias yang memantulkan wajah seorang gadis. Rahangnya mengeras setiap kali mendengar tawa gadis itu. 

Eunhyuk membencinya. Atas segala hal yang telah menimpa kekasihnya, Eunhyuk menjadi antipati terhadap gadis itu. Han Rae Eun, betapa mendengar namanya saja Eunhyuk sudah merasa muak.

Eunhyuk mulai membenci Rae Eun sejak Yeongmi membeberkan segala hal busuk yang pernah dilakukan gadis itu terhadap kekasihnya. Dan kebenciannya itu semakin besar ketika gadis itu bersikap sepolos mungkin setiap kali berhadapan dengannya.

Sejak tiga hari yang lalu, sejak Yeongmi memintanya untuk menjauhi Rae Eun, Eunhyuk sudah mulai menampakkan kebenciannya. Seringkali Eunhyuk mengabaikan sapaannya atau bahkan bersikap sinis setiap kali berpapasan dengannya. Tapi apa yang Eunhyuk terima? Rae Eun tetap bersikap wajar seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Baiklah, Eunhyuk memang tidak berharap Rae Eun membalas sikap acuhnya. Tapi bukankah seharusnya gadis itu bertanya tentang sikapnya yang berubah akhir-akhir ini?

Melihat Rae Eun yang bersikap tidak peduli terhadap perubahan yang terjadi dalam dirinya, membuat Eunhyuk merasa geram juga. Terdengar konyol memang. Tapi itulah fakta yang sedang dirasakannya saat ini.

“Aigo, Oppa~ mulutku sampai pegal karena tertawa terus-terusan!” Eunhyuk mendengus saat mendengar suara Rae Eun yang kembali memenuhi ruang backstage. “Aku mau ke toilet dulu ya!” Dan entah setan dari mana, kaki Eunhyuk tiba-tiba saja bergerak mengikuti langkah gadis itu dari belakang.

=O=

Rae Eun terlonjak kaget saat melihat Eunhyuk sedang berdiri di depan pintu toilet, dengan tubuh yang bersender pada tembok dan kedua tangan yang terselip di balik saku celana. Eunhyuk menatap sinis padanya seolah-olah dia itu adalah buronan yang baru saja tertangkap basah karena sudah melakukan kejahatan.

Rae Eun menelan ludahnya dengan gugup. “Apa yang sedang kau lakukan disini, Lee Hyukjae-ssi?” tanyanya, mencoba bersikap senormal mungkin dan mengabaikan debaran jantungnya yang semakin menggila.

“Memperhatikanmu.” Eunhyuk menatap Rae Eun dengan tajam. Dari sorot matanya saja, Rae Eun sudah bisa menilai kalau pria yang ada di depannya ini sedang menekan emosinya habis-habisan. Dan tentu saja, Rae Eun sudah tau alasan dibalik tatapan tajamnya itu.

“Memperhatikanku? Untuk?” Rae Eun masih tidak bergerak dari posisinya dan mencoba mengumpulkan keberaniannya untuk membalas tatapan tajam Eunhyuk.

“Untuk melihat wajah aslimu.” Jawab Eunhyuk datar.

“Begitu?” Rae Eun tersenyum simpul. “Lalu, apa kau sudah bisa melihat wajah asliku, Lee Hyukjae-ssi?”

Eunhyuk memalingkan wajahnya sekilas sambil tersenyum sinis. Guratan kebencian itu terpampang jelas di wajahnya. “Menurutmu?”

Rae Eun sudah bisa memperkirakan akan kemana arah pembicaraan ini berjalan. Gadis itu pun lalu maju beberapa langkah, dan ikut menyandarkan tubuhnya di tembok. Posisinya sekarang berhadap-hadapan dengan Eunhyuk. Tangannya bersedekap di atas dada dengan mata yang tetap terarah ke depan, menatap Eunhyuk. “Apa yang sebenarnya ingin kau katakan Lee Hyukjae-ssi? Tidak perlu berbeli-belit seperti ini.”

Eunhyuk kembali memperlihatkan senyum sinisnya. “Kau cukup peka juga rupanya. Baiklah, aku akan langsung ke intinya.” Eunhyuk berhenti sejenak, lalu melanjutkan. “Berhentilah memakai topeng gadis polos untuk mendapatkan perhatian orang lain. Perlihatkanlah wajah aslimu yang sebenarnya. Apa kau bisa?”

“Apa yang sudah Yeongmi katakan padamu?”

Eunhyuk diam. Kaget dan bingung terpancar jelas di wajahnya. Bagaimana mungkin gadis di depannya ini bisa berkata se-frontal itu?

“Apakah Yeongmi mengatakan kalau aku akan merebutmu darinya?”

Eunhyuk tetap diam.

“Apakah Yeongmi memintamu untuk menjauhiku? Dan itulah kenapa kau bersikap sinis padaku akhir-akhir ini?”

Eunhyuk tidak mengerti. Kenapa mulutnya tiba-tiba saja terkunci rapat?

“Apakah Hyeo Yeongmi mengatakan kalau ayahnya jauh lebih menyayangiku dibanding dirinya? Apakah gadis itu mengatakan kalau aku sudah merebut kekasihnya?”

Eunhyuk merasa lemas untuk alasan yang tidak jelas. Bagaimana caranya gadis itu tau semuanya?

“Kenapa kau diam, Lee Hyukjae-ssi?” Rae Eun merasakan jantungnya berdebar semakin cepat. Ketegangan dan emosi yang menggebu bercampur jadi satu. “Apakah pertanyaanku sangat sulit untuk dijawab?”

“Han Rae Eun….”

“Apa? Kau ingin mengatakan apa lagi?” Rae Eun menegakkan tubuhnya.

“Memang benar bahwa aku sudah memisahkan dia dengan kekasihnya. Tapi itu bukan tanpa alasan. Memang benar bahwa ayahnya jauh lebih menyayangiku dibanding dirinya. Tapi itu pun terjadi bukan tanpa alasan. Memang benar juga bahwa aku ingin merebutmu darinya. Tapi itu karena sebuah alasan.”

Rae Eun menarik napas sesaat. “Lee Hyukjae-ssi, terkadang kau tidak membutuhkan mata untuk bisa melihat wajah asli seseorang. Pergunakanlah hatimu. Maka kau akan tau, seperti apa wajahku yang sebenarnya.” Rae Eun segera pergi setelah mengucapkan kalimat itu. Setetes air mata jatuh disusul oleh tetesan yang lainnya membuat kedua pipi gadis itu menjadi basah. Tapi Rae Eun membiarkannya dan terus berjalan. Rae Eun tidak ingin Eunhyuk mengetahui kalau saat ini dia sedang menangis karena sikap acuhnya. Tidak. Rae Eun tidak suka memperlihatkan kelemahannya yang satu ini.

=O=

Rae Eun menelungkupkan wajahnya di antara dua lutut. Tubuhnya bergetar menahan isakan tangis. Kedua tangannya meremas lututnya kuat-kuat hingga kuku-kuku jarinya memutih. Air matanya semakin deras melewati apa saja yang ada di depannya. Sesak. Perih. Hanya itu yang Rae Eun rasakan saat ini.

Selama tiga hari terakhir, Rae Eun tidak pernah melewatkan satu malam pun tanpa menangis. Sepanjang hari dari pagi hingga malam, dia mampu ceria dan bersikap seolah semuanya baik-baik saja. Tapi saat berada di penghujung malam, Rae Eun kembali menjadi dirinya sendiri. Menangis.

Ya. Menangis adalah saat-saat dimana dia menjadi diri sendiri. Menangis adalah bukti kelemahannya yang hanya dia sendiri yang tau. Rae Eun memang paling benci memperlihatkan kelemahannya di depan orang-orang. Dia pun paling benci dianggap lemah oleh orang-orang. Itulah sebabnya, Rae Eun hanya mampu menjadi diri sendiri di saat orang-orang sudah terlelap dalam tidurnya.

Setelah puas meluapkan emosinya dengan menangis, Rae Eun mengangkat kepalanya. Dihapusnya jejak-jejak air mata yang masih menempel di kulit pipinya itu hingga kering. Dan seperti biasanya, Rae Eun mengambil sebuah pin berbentuk stroberi yang terletak di dalam dompetnya. Gadis itu tersenyum memperhatikan pin stroberri yang tergenggam di tangannya dengan dada yang terasa semakin sesak. “Kapan pemilikmu akan mengenaliku, eh?” gumamnya pelan.

Rae Eun kembali menelungkupkan wajahnya, dengan tangan yang masih menggenggam pin stroberi. “Lee Hyukjae pembohong! Kau bilang kau akan mengenaliku kalau aku menghampirimu. Mana buktinya? Kenapa kau tidak juga mengenaliku? Kenapa kau malah bersikap acuh kepadaku? Kenapa?” Rae Eun kembali terisak. Jantungnya serasa di remas-remas hingga membuatnya kesulitan bernafas.

Rae Eun kembali mengingat-ngingat pertemuan pertamanya dengan Eunhyuk delapan tahun silam. Air matanya kembali mengalir setiap kali potongan kejadian itu diputar ulang oleh otaknya.

Saat itu, di tahun 1999. Rae Eun bertemu dengan Eunhyuk di pinggiran sungai Han. Keadaan Rae Eun pada saat itu tidak begitu baik. Orang tuanya baru saja memutuskan untuk bercerai karena alasan yang tidak dia mengerti. Tentu saja karena pada saat itu usianya masih terlalu kecil untuk memahami arti dari sebuah perceraian. Saat itu dia masih berumur sebelas tahun dan yang dia tau dari kata ‘bercerai’ hanyalah bahwa dia sudah tidak bisa bersama-sama lagi dengan ayah dan ibunya.

Rae Eun sedih dan benar-benar terpukul. Dia tidak sanggup membayangkan, apa yang akan terjadi jika ayah dan ibunya tidak lagi bersama? Hatinya hancur. Tapi dia tidak bisa melakukan apa-apa. Satu-satunya hal yang dia pikirkan pada saat itu hanyalah melarikan diri dari rumah. Dan sungai Han adalah satu-satunya tempat yang ada dipikirannya.

Pada saat yang bersamaan, ternyata Eunhyuk pun mendatangi sungai Han dalam kondisi yang tidak baik. Sedih, kecewa, putus asa. Itulah yang dia rasakan pada saat itu.

Eunhyuk gagal masuk audisi SM sementara sahabatnya sedari kecil, Junsu berhasil. Kenyataan seperti itu cukup membuatnya terpukul. Menjadi artis adalah salah satu impiannya dari kecil. Dia sudah menaruh harapan yang begitu besar pada audisi tersebut. Tapi sebuah kegagalan membuat harapannya musnah seketika.

Eunhyuk yang tertekan akhirnya memutuskan untuk meluapkan emosinya di sungai Han. Dan saat itulah dia bertemu dengan Han Rae Eun.

Pertemuan pertama mereka bisa di bilang cukup aneh.  Dua orang yang tertekan bertemu untuk tujuan yang sama. Bunuh diri.

Rae Eun selalu ingin tertawa setiap kali mengingat kejadian itu. Mereka bahkan sempat saling mendorong dan memberikan semangat agar berani melompat ke sungai Han yang dikenal cukup dalam. Tapi satu jam berlalu, dan yang terjadi adalah Eunhyuk dan Rae Eun yang berdiri di pinggir sungai dengan wajah ketakutan. Lama mereka terdiam disana hingga sebuah guyuran hujan yang turun dengan deras membuat keduanya akhirnya membatalkan niat bunuh diri itu.

Saat itu entah bagaimana caranya, Rae Eun dan Eunhyuk tiba-tiba saja sudah merasa dekat. Mereka berdua saling bercerita mengenai alasan kenapa ingin bunuh diri. Mereka menangis bersama setelah puas mencurahkan isi hati masing-masing. Dan di saat itulah mereka saling menguatkan. Kalau di awal mereka saling menguatkan untuk menumbuhkan keberanian bunuh diri. Maka kali ini, mereka saling menguatkan untuk berani menjalani hidup dan terus melakukan yang terbaik agar kehidupan mereka tidak sia-sia.

Eunhyuk dan Rae Eun pun saling menghibur diri mereka dengan memakan es krim dan berfoto bersama di sebuah foto box yang ada di pinggir toko. Saat itu mereka bersenang-senang dan berusaha melupakan kesedihan mereka untuk sesaat. Kebersamaan yang mereka lewati benar-benar sangat indah.

Hingga malam tiba, Rae Eun dan Eunhyuk akhirnya memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing. Mereka berdua saling berjanji satu sama lain, bahwa mereka akan hidup dengan baik dan tidak akan pernah melakukan aksi nekat dengan melakukan percobaan bunuh diri lagi.

Rae Eun semakin terisak saat mengingat kembali kejadian itu.

Tangisannya semakin pecah begitu Rae Eun menyadari kebodohan yang telah dilakukannya saat itu. Saat dia dengan bersikukuhnya tidak ingin memberi tahu nama aslinya kepada Eunhyuk. Rae Eun tidak tau apa alasannya. Yang jelas, dari dulu dia memang tidak senang memberitahukan nama aslinya pada orang yang baru dikenal. Rae Eun hanya bisa tersenyum miris dibalik tangisannya atas keputusan yang dilakukannya saat itu. Karena tindakan bodohnya itulah Eunhyuk sekarang malah mengenali orang yang salah. Menganggap Yeongmi sebagai gadis yang dikenalnya delapan tahun yang lalu.

Rae Eun masih ingat dengan jelas bagaimana ekspresi kesal Eunhyuk pada saat itu karena dia tidak mau memberi tau nama aslinya. Rae Eun hanya bilang, “Ingatlah sungai Han, maka kau pasti akan selalu bisa mengenaliku.”

Rae Eun mengucapkan itu sebagai sebuah tanda bahwa nama dirinya berkaitan erat dengan sungai Han. Bahwa namanya, berawalan Han. Tapi sayangnya, Eunhyuk tidak memahami tanda yang diberikannya itu.

Saat itu, Eunhyuk berjanji akan mengikuti audisi SM di tahun depan. Dia juga berjanji dengan sungguh-sungguh bahwa dia pasti akan lolos dan menjadi artis yang terkenal. “Saat aku sudah sukses menjadi artis, temuilah aku. o’ ?” Rae Eun tertawa saat mendengar permintaan konyol Eunhyuk. “Bagaimana kita bisa saling mengenal? Saat itu, wajah kita pasti sudah berbeda jauh.” Mendengar perkataan Rae Eun yang terkesan polos, Eunhyuk hanya tersenyum. Rae Eun masih ingat dengan jelas senyuman Eunhyuk pada saat itu. Senyuman gusi yang membuat wajahnya terlihat semakin tampan. Senyum yang dia kukuhkan sebagai satu-satunya senyum favoritnya.

Eunhyuk menyerahkan hasil foto box dan sebuah gantungan kunci pada Rae Eun lalu berkata, “Tunjukkanlah dua benda ini, maka aku pasti akan mengenalimu. Tapi aku yakin, tanpa kau menunjukkan itu pun aku pasti bisa mengenalimu.” Eunhyuk menangkupkan kedua tangannya pada wajah Rae Eun. “Wajahmu, sudah kupotret oleh kedua mataku dan akan selalu kusimpan di otakku. Jadi seperti apapun wajahmu kelak, aku pasti akan mengenalimu.”

Dengan bodohnya, Rae Eun mempercayai kata-kata Eunhyuk itu.

Benar. Dia bodoh. Sangat Bodoh.

Kenapa dia harus mempercayai Eunhyuk?

Dan kenapa dia harus menepati janjinya dengan menemui laki-laki itu jika pada akhirnya hanya kekecewaan dan rasa sakit yang dia dapatkan?

=O=

Eunhyuk menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya sementara kakinya terus berjalan mondar-mandir tidak sabar. Menunggu di luar ruangan dengan cuaca musim dingin seperti ini memang bukan pilihan yang tepat. Tapi apa boleh buat, Eunhyuk tidak punya pilihan lain. Rasa penasaran telah membuatnya mendadak kebal terhadap cuaca dingin. Sesekali Eunhyuk melirik ke arah jam tangannya, lalu beralih ke arah gedung asrama SM. Nafasnya menghembuskan kekesalan setiap kali usahanya itu tidak memunculkan wajah seseorang yang ditunggunya. Eunhyuk hampir saja akan menyerah dengan kembali ke dorm-nya saat suara seorang Yeoja menghentikan langkahnya. “OPPA!” Eunhyuk berbalik ke belakang.

“Mianhe. Apa kau sudah menunggu lama?” Yeongmi berlari-lari kecil menghampiri Eunhyuk dengan raut wajah menyesal.

Eunhyuk tersenyum. Kekesalannya langsung menguap begitu melihat wajah Yeongmi. “Gwenchana. Kenapa lama sekali? Aku hampir membeku karena menunggumu disini selama hampir satu jam, kau tau?” Eunhyuk mengulurkan tangan kanannya untuk merapikan beberapa helai rambut yang menutupi wajah kekasihnya itu.

Yeongmi memasang tampang aegyo lalu bergelayut manja di lengan Eunhyuk. “Mianheee~ tadi aku harus menunggu Jungri eonni tidur dulu baru bisa keluar. Oppa tau sendiri kan kalau aturan asrama untuk para trainee sangat ketat belakangan ini?”

“Ne. Ne. Ne. Arraseoyo! Kita ke cafe sekarang?” Eunhyuk mengarahkan tangannya ke depan menunggu uluran tangan Yeongmi untuk menggenggam tangannya. Tidak butuh waktu lama, Yeongmi segera menyambut tangan Eunhyuk lalu mereka berdua pun langsung melesat ke arah cafe yang terletak di dekat asrama SM. Eunhyuk dan Yeongmi segera memesan secangkir coklat hangat dan sandwich daging asap untuk menghangatkan tubuh mereka yang mulai menggigil karena terpaan angin malam yang cukup menusuk.

“Jadi oppa, apa yang ingin kau tanyakan padaku sampai bela-bela datang kesini tengah malam?” Yeongmi mulai membuka percakapan.

“Tadi siang aku bertemu dengan Rae Eun.” Eunhyuk melihat Yeongmi mengernyit seolah-olah berkata ‘memang tiap hari kau bertemu dengannya kan?’ Tapi Eunhyuk mengabaikan kebingungan Yeongmi lalu kembali melanjutkan. “Sesuai permintaanmu, sejak hari itu aku selalu menjauhi gadis itu. Tapi tadi siang, entah kenapa aku merasa penasaran padanya. Maksudku, kenapa selama aku mengacuhkannya dia malah bersikap biasa-biasa saja tanpa keheranan ataupun protes atas sikap burukku. Aku benar-benar tidak mengerti kenapa dia masih tetap bersikap baik padaku seolah-olah aku tidak pernah bersikap sinis padanya.” Eunhyuk menghela napas sejenak, lalu kembali melanjutkan, “Aku datang menghampirinya untuk mengetes apa yang ada di otaknya. Tapi yang terjadi malah sebaliknya. Tadi siang, malah aku yang dites habis-habisan sampai dibuat terkejut olehnya. Entahlah Yeongie-ah, ucapan yang dikatakannya siang ini malah membuatku merasa bersalah padanya.” Eunhyuk mengusap wajahnya pelan diliputi oleh kebingungan yang sangat.

“Jangan terperdaya olehnya oppa.” Eunhyuk segera mengangkat wajahnya menatap Yeongmi. “Jangan terperdaya olehnya.” Ulang Yeongmi dengan tegas.

Yeongmi menyesap coklat panasnya sedikit, lalu kembali berkata “Han Rae Eun, adalah gadis yang penuh tipu daya. Seperti yang pernah kukatakan padamu, kalau dia selalu memiliki cara untuk membuat mangsanya merasa tertarik padanya. Akalnya licik oppa. Mungkin kelak kau akan menemukan dirinya yang bertingkah mirip dengan sikapku di masa lalu. Atau bisa jadi, suatu saat dia malah mengaku-ngaku kalau orang yang kau temui delapan tahun yang lalu itu adalah dia, bukan aku. Segalanya bisa menjadi mungkin kalau Han Rae Eun yang melakukannya. Karena seperti yang pernah kukatakan padamu berulang kali, dia itu tamak dan licik.” Yeongmi meraih kedua telapak tangan Eunhyuk yang terasa dingin di tangannya, lalu tersenyum. “Jangan terperdaya pada tipu muslihatnya oppa. Yang harus kau lakukan hanyalah menatapku dan teruslah mempercayaiku. o’ ? Tidak perlu merasa bersalah padanya karena itu hanya akan membuatmu semakin terjebak dalam rencana busuknya. Tutuplah telinga dan matamu. Jangan biarkan kedua akses itu membuatmu goyah karena gadis itu. Kau… bisa melakukannya kan, oppa?” Yeongmi menatap kedua mata Eunhyuk dan menguncinya dengan kedua matanya. Tangannya semakin erat menggenggam tangan Eunhyuk hingga sebuah anggukan dari laki-laki itu membuat Yeongmi menghembuskan napas yang secara tidak sadar telah ditahannya dari tadi.

“Arrasseo. ” Eunhyuk bergumam dengan nada yang sulit untuk dipahami bahkan untuk dirinya sendiri.

=O=

Seunghwan masuk ke kamar Rae Eun, lalu menutup pintunya rapat. Matanya menatap ke arah gadis yang sedang meringkuk di atas kasurnya dengan tangan yang memain-mainkan sebuah pin berbentuk stroberri. Seunghwan menarik napas berat. “Mau sampai kapan kau bermalas-malasan seperti ini, gadis Han ku sayang? Disini jabatanmu adalah sebagai asisten Super Junior. Bukan Han Rae Eun si anak manja. O’ ?”

Rae Eun diam.

Gadis itu terlihat tidak berminat menjawab ucapan Seunghwan apalagi hanya untuk sekedar membalikkan badannya menatap Seunghwan. Tangannya tetap asik memainkan pin stroberri seolah-olah hanya ada dia dan pin tersebut yang mengisi ruangan ini.

Seunghwan mendesah. “Han Rae Eun….” geramnya pelan tapi sarat akan emosi.

Rae Eun masih bergeming.

“Yaaa!” Seunghwan membalikkan tubuh keponakannya itu dengan kasar dan langsung tersentak begitu melihat wajah Rae Eun yang pucat. “Astaga! Kau sakit?”

Rae Eun menggeleng masih dengan mulut yang terkunci rapat. “Badanmu demam! Astaga. eotthokke? Kita ke dokter ya? sekarang kita ke dokter.”

Rae Eun masih menggeleng. “Gwenchana Ajjjuhssi. Aku hanya butuh sendirian sebentar”

“Han Rae Eun! Kau tau dengan jelas, sakit sedikit saja bisa berakibat fa—-”

“Aku tahu” potong Rae Eun cepat. “Tapi aku akan baik-baik saja.” Lanjutnya

“Kau bukan dokter!” Tukas Seunghwan -tidak mampu menyembunyikan nada emosi dalam suaranya-

“Tapi aku yang memiliki tubuh ini. Dokter sehebat apapun tidak akan pernah bisa memahami tubuhku sebaik diriku sendiri.” Rae Eun menatap Seunghwan tajam. “Hanya aku yang tau apa yang tubuhku butuhkan.”

“Rae-ya..” Nada seunghwan mulai melunak kali ini. “Maksudku bukan begitu.”

“Aku lelah Ajjuhssi. Aku hanya ingin dianggap sehat. Setidaknya untuk saat ini aku masih sehat. Jadi kumohon biarkanlah aku menikmati tubuh ini selagi bisa. Biarkan aku mengontrol tubuhku sendiri selagi tubuhku baik-baik saja.”

“Rae-ya” Seunghwan mengulurkan tangannya mengusap puncak kepala keponakannya dengan lembut. “Mianhe.”

Rae Eun menggeleng untuk yang kesekian kalinya. “Tidak perlu meminta maaf  Ajjuhssi. Aku mengerti kalau sifatmu itu memang seperti nenek-nenek kekurangan gigi palsu. Cepat panik dan gegabah Hehehe”

“Ish, kau ini.” Seunghwan menyentil dahi Rae Eun pelan. “Yaaa! aku ini sedang sakit ajjuhssi~~” Rae Eun meringis, tapi Seunghwan malah tertawa menyepelekan. “Aigo.. Aigo.. baru beberapa detik yang lalu kau bilang sehat, dan sekarang mengaku sakit. Berisi apa otakmu itu gadis Han?” Seunghwan menyindir.

“Otakku berisi kegalauan. Puas?” Rae Eun duduk dengan menyandarkan punggungnya pada bahu ranjang.

“Kau ini. Jadi karena galau makanya tubuhmu demam? Tidak keren sekali~”

Rae Eun merengut. Mulutnya maju beberapa senti membuat Seunghwan mau tidak mau tertawa juga. “Apa yang membuatmu galau? LHJ?” tanya Seunghwan akhirnya. Dan menyingkat nama Lee Hyukjae menjadi LHJ adalah salah satu kebiasaan Seunghwan kalau sudah melihat keponakannya ini terlihat menyedihkan -ya, seperti sekarang-

“Aku benar-benar tidak mengerti apa yang diucapkan Yeongmi sampai membuat si bocah LHJ bodoh itu menjauhiku dan bersikap sinis habis-habisan.” Rae Eun memeluk bantalnya lalu menyimpan kepalanya disana dengan arah menyamping, menatap Seunghwan. “Padahal malam itu dia sangat baik padaku. Setidaknya, dia masih mau memperlihatkan senyumannya di depanku. Tapi kenapa sekarang malah seperti ini?” Rae Eun meniup poninya sebal.

“Malam itu? Malam yang mana?” Seunghwan bertanya tidak mengerti.

“Malam pertama—“

“Mwoyaa? K—kau.. Kau melakukan malam pertama? Dengannya?”

Rae Eun memutar bola matanya dan langsung melemparkan bantal yang tadi dipeluknya itu ke arah kepala Seunghwan. “Dasar pria tua bodoh! Bukan malam pertama yang itu. Kau pikir aku gila hah?”

“Siapa yang pria tua? Dan asal kau tau saja gadis Han yang terhormat, kata ‘malam pertama’ selalu memiliki subjek yang negatif. Jadi jangan mengucapkan kata itu kalau kau tidak ingin aku berpikiran negatif!”

Rae Eun melengos. “Itu kan karena otakmu saja yang sudah berisi hal-hal negatif. Dasar! Kau boleh berpikir begitu kalau aku sudah menikah. Barulah malam pertama yang kumaksud akan sama dengan apa yang ada di pikiranmu!”

Seunghwan tertawa. Melihat keponakannya sudah bisa marah-marah membuatnya menghembuskan nafas lega. “Baiklah, baiklah.. Aku kalah.” Seunghwan mengangkat dua tangannya sambil tetap tertawa. “Jadi, apa yang kau lakukan di malam pertama?” Tanyanya dengan nada menggoda.

Rae Eun menghembuskan napas berat. Tapi tidak berapa lama, dia kembali memasang wajah ceria. “Kami makan bersama. Kau tau, dia ternyata cukup pandai membuat spagetthi.” Rae Eun kembali menyandarkan punggungnya lalu melanjutkan, “Malam itu benar-benar menyenangkan. Aku seperti melihatnya dalam wujud delapan tahun yang lalu.”Rae Eun kembali menatap Seunghwan dengan mata berbinar. “Aku yakin kau pasti akan terkejut. Malam itu, kami bahkan makan spagetthi sepiring berdua.”

Sesuai dugaan Rae Eun, Seunghwan membulatkan matanya tidak percaya. “Wow? Sejauh pengamatanku, bukankah dia paling tidak suka berbagi makanan dengan orang lain? Dan kau bisa makan sepiring berdua dengannya? Menakjubkan! Bahkan Yeongmi sekalipun belum pernah melakukan itu dengannya.”

“Benarkah Yeongmi tidak pernah melakukan itu?Jangan sok tau, Ajjuhsi~”

Seunghwan mendecak. “Aku ini manajernya gadis Han sayang, tentu saja aku tau karena dia yang mengatakannya padaku. Saat itu Shindong mau mengambil makanan yang ada di piringnya, tapi dia tidak mengijinkannya sedikitpun. Lalu Donghae pernah memaksa mengambil makanan yang ada di piringnya, dan yang terjadi adalah dia marah dan tidak mau menghabiskan makanannya.”

Rae Eun mengernyit tidak mengerti. “Kenapa bisa begitu?”

“Dia bilang, dia tidak suka membagi apa yang telah menjadi miliknya. Termasuk dalam hal makanan. Dan yah, dia bahkan berkata kalau seorang Hyeo Yeongmi sekalipun tidak pernah dia ijinkan mengambil makanan yang ada di piringnya.” Seunghwan lalu tersenyum penuh arti. “Itu artinya kau gadis pertama yang sudah berbagi makanan dengannya. Bukankah itu menakjubkan? Ahahah~”

Rae Eun akui, ada perasaan bahagia yang menyelimuti hatinya saat mendengar penjelasan Seunghwan barusan. Tapi itu hanya terjadi beberapa detik saja karena setelah itu Rae Eun kembali merengut. “Tapi sekarang keadaannya berbeda Ajjuhssi. Kurasa dia sudah terpengaruh ucapan Yeongmi dan benar-benar membenciku.”

“Dan kau ingin menyerah?”

Rae Eun membulatkan matanya dan langsung berseru,”Tentu saja tidak!”Gadis itu kembali menghela napas berat. “Aku hanya menjadi tidak percaya diri. Terlebih saat melihatnya kemarin. Matanya benar-benar menyiratkan kebencian yang sangat padaku. Kemarin aku memang masih bisa bertahan. Tapi hari ini dan hari-hari selanjutnya aku merasa tidak yakin.”

“Dan kau ingin menyerah?”

“Ajjuhssi!!” Rae Eun memberengut kesal sementara Seunghwan hanya terkekeh pelan. Rasanya cukup menyenangkan bisa membuat Rae Eun memasang tampang kekanakkan seperti itu.

Seunghwan mengacak-ngacak rambut Rae Eun pelan. “Satu hal yang harus kau garis bawahi, jangan pernah terlalu banyak mengharapkan sesuatu yang belum pasti. Lakukanlah apa yang bisa kau lakukan dan jangan pedulikan hasil. Bukankah tujuanmu kesini hanya karena tidak ingin mengenal kata ‘menyesal’  ?”

Rae Eun mengangguk. “Kalau begitu jangan pedulikan sikap LHJ-mu itu. Kau tetaplah fokus dengan langkahmu. Dan Rae-ya, saat kau mencintai seseorang, cintailah ia dengan tulus tanpa mengharapkan timbal balik. Dengan begitu hatimu tidak akan merasa terlalu sakit saat cintamu tidak berbalas.”

“Itukah yang kau lakukan pada Yeongmi?”

Seunghwan tersenyum tapi tidak menjawab apapun. Pria itu lalu berdiri dan menepuk-nepuk pundak keponakannya pelan. “Istirahatlah. Aku harus pergi sekarang. Nanti aku akan menyuruh wokkie untuk mengirimkan makanan untukmu.”

Selesai mengucapkan kalimat itu, Seunghwan langsung keluar kamar dan mengabaikan dengusan kecil Rae Eun.

Rae Eun kembali merebahkan badannya selepas kepergian Seunghwan. Tangannya menyentuh kening untuk memastikan kalau demamnya tidak semakin parah. Dan hembusan napas lega langsung keluar dari mulutnya begitu Rae Eun merasakan keningnya yang mulai menghangat. Tidak sepanas tadi pagi.

Rae Eun membalikkan tubuhnya ke samping menghadap tembok. Melihat pin berbentuk stroberri yang terletak di samping bantalnya membuat Rae Eun mau tidak mau kembali membayangkan wajah Eunhyuk. Dan otaknya kembali menerka-nerka apa yang saat ini ada di bayangan Eunhyuk tentang dirinya. Apa yang sudah Yeongmi katakan sampai laki-laki itu bisa langsung berubah seratus delapan puluh derajat hanya dalam waktu yang singkat.

Rae Eun yakin, kalau apa yang terjadi saat ini bukan sepenuhnya keinginan Eunhyuk. Perkara Eunhyuk tidak mengenalinya dan bersikap acuh padanya belakangan ini, tentu saja karena peran serta seseorang. Hyeo Yeongmi.

Adik tirinya itulah yang memiliki peran penting di balik sikap sinis Eunhyuk.

Rae Eun menarik napas berat. Gadis itu sama sekali tidak menyangka kalau kesalahan yang pernah dilakukannya di masa lalu dapat berakibat fatal seperti sekarang ini.

Dulu hubungan Rae Eun dan Yeongmi sangat baik. Mereka berdua saling menyayangi dan mendukung satu sama lain layaknya saudara kandung. Mereka jarang sekali bertengkar. Bahkan kalaupun ada kesalahpahaman, pasti tidak akan bertahan lama karena keduanya akan saling memaafkan satu sama lain.

Tapi itu dulu.

Semuanya mulai berubah saat Yeongmi menginjak usia remaja dan tertarik dengan lawan jenis. Rae Eun tidak pernah mempermasalahkan seandainya laki-laki yang disukai Yeongmi adalah laki-laki yang baik. Gadis itu bahkan akan ikut senang jika melihat adiknya senang.

Namun sayangnya, kenyataan saat itu selalu berbanding terbalik dengan harapan Rae Eun.

Yeongmi, selalu memilih laki-laki yang salah. Setidaknya begitulah yang tertangkap mata Rae Eun. Penilaian itu tentu saja terjadi bukan tanpa alasan. Rae Eun seringkali melihat laki-laki yang menjadi pacar Yeongmi adalah laki-laki brengsek yang hanya memanfaatkan kekayaan ayah Yeongmi. Tidak jarang juga Rae Eun memergoki Yeongmi berbohong pada ayahnya demi mendapatkan uang untuk membelikan pacarnya barang mewah.

Saat itu Rae Eun geram tapi tidak bisa berbuat apa-apa setiap kali melihat raut wajah bahagia Yeongmi. Yang bisa gadis itu lakukan hanyalah memperhatikan Yeongmi diam-diam dan mengawasi pacar adik tirinya itu tanpa sepengetahuan Yeongmi.

Saat Rae Eun merasa pacar Yeongmi sudah melakukan hal yang kelewat batas, seperti menyelingkuhi Yeongmi dengan gadis lain atau memanfaatkan materi adiknya dengan berlebihan, maka saat itu jugalah Rae Eun akan langsung merebut pacar Yeongmi dan berbalik mempermainkan laki-laki yang sudah mempermainkan adik tirinya tersebut dengan cara yang tidak kalah licik.

Yeongmi marah, tentu saja. Tapi Rae Eun sudah tidak lagi peduli dengan kemarahan Yeongmi. Yang ada di pikiran Rae Eun saat itu hanyalah bagaimana caranya menjauhkan Yeongmi dari semua laki-laki yang memiliki potensi membuat adiknya terluka. Rae Eun memang sangat protektif saat itu. Rasa sayang yang berlebih membuat Rae Eun tidak rela jika harus melihat Yeongmi terluka karena laki-laki brengsek yang tidak pantas mendapatkan kasih sayang adiknya.

Selama Rae Eun menjauhkan laki-laki brengsek dari jangkauan Yeongmi, selama itu pula kebencian Yeongmi terhadap dirinya semakin bertambah besar. Pada saat itu Rae Eun memang tidak pernah memberikan penjelasan apapun kepada Yeongmi mengenai alasan dibalik sikap protektifnya itu. Rae Eun pun selalu membiarkan anggapan Yeongmi yang men cap-nya sebagai gadis perebut kekasih orang lain. Rae Eun diam karena dia tidak ingin membuat adiknya terluka jika mengetahui orang yang disayanginya ternyata tidak sebaik yang ia lihat. Rae Eun diam karena dia tidak sanggup kalau harus membeberkan kebusukan yang dimiliki laki-laki yang disayangi adiknya itu.

Bagi Han Rae Eun, lebih baik dia dibenci Yeongmi daripada harus melihat adik satu-satunya itu dipermainkan oleh pria lain.

Rae Eun lebih memilih dibenci Yeongmi daripada harus melihat adik satu-satunya itu dimanfaatkan oleh pria lain.

Bodohkah ia? Tentu saja. Rae Eun juga sadar akan hal itu. Tapi sayangnya, Rae Eun jauh lebih memilih menjadi orang bodoh selama Hyeo Yeongmi –adik satu-satunya itu- bisa terhindar dari orang-orang yang akan menyakitinya.

Rae Eun menatap langit-langit kamarnya dengan mata yang kembali sembab. Mengingat masa lalunya membuat dia merasa menyesal. Seandainya dia bisa mengelola perasaan sayangnya saat itu, mungkin Yeongmi tidak akan membencinya sampai sebesar ini. Mungkin, kejadian itu tidak akan terjadi. Dan mungkin, dia bisa mengakui jati dirinya kepada Eunhyuk dengan lebih mudah.

Mungkin….

Kemungkinan apa lagi yang bisa didapatnya?

Rae Eun menarik napas panjang. Kemungkinan-kemungkinan yang berkelebat di otaknya saat ini malah membuat dadanya semakin sesak.

===TBC===

9 responses to “Last Memories [1 of 2]

  1. ceritanya menarik.. ㅋㅋㅋ

    yeongmi g tw sebenarnya rae eun ngelakuin itu biar dia g pcrn ma org yg salah..
    tpi gr2 itu dia “musuhan” ma rae eun..
    seru..seru..

  2. Sayangnya si Yeongmi nya gak tau apa yang dilakuin Raeun sama dia waktu masih deket dulu. Kalo si Yeongmi tau nyesek tuh-,-
    haha aku suka ceritanya,bikin orang penasaran.
    Jarang nemuin genre ff kayak gini dengan cast seorang Lee Hyuk Jae yang biasa jadi cast di ff nc LOL. Nice ff! Ditunggu part 2 nya^^v

    • eaaa tersepona~! hahaha
      kenapa jahat? aq juga ga tau ._. *plak*
      makasih dah baca plus komen yah ^-^

  3. Ceritanya kerennnnnnnnn
    Ra Eun nya ntar meninggal y… truz Hyuknya nyesel gitu….
    Itu knapa Hyuk bisa salah ngenalin orang…

    di tunggu lanjutannya y…

    • yaaaaaaahhh udah bisa ketebak yah klo HRE bakal meninggal? -___- ahahha
      makasih dah baca plus komen ^-^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s