[One shot] Panggilan Terlarang [SHINee Series Horror Fanfiction] | Onew Version

  • Main Cast:
    –  ONEW SHINee as Lee Jinki
  • Genre :  Life Physicologhy,  A.U, Mistery/Horror*maybe* , Typo.
  • Rating : PG-15
  • Length : OneShoot
  • Summary : Jinki duduk di sudut tepi ranjangnya, tak biasanya..malam ini ia lalui dengan  tangisan keras yang membanjiri pipi putihnya. Kontras dengan malam-malam yang biasanya ia lalui di club malam yang di penuhi wanita-wanita cantik, dan literan wine yang menghangatkan tubuhnya. Ada sesuatu yang diremas di tangannya kini, sebungkus plastic transparan yang berisi serbuk berwarna putih yang menyerupai tepung dan sebilah jarum suntik yang berisi cairan aneh. Sabu-sabu? Narkoba? Apakah barang haram itulah yang sedang dia pegangi?.

 

  • Note : Kalian pernah mendengar  tentang misteri  Banshee? Banshee adalah misteri yang terkenal di dunia, terutama di kawasan Irlandia. Banshee adalah gambaran dari sosok wanita pembawa pesan kematian. Konon katanya kalau ada yang melihat sosok penampakan banshee di sebuah rumah, maka orang itu atau  salah satu anggota keluarga di rumah tersebut akan ada yang meninggal dunia. Sosok banshee bisa menyerupai hantu wanita cantik, atau bahkan nenek tua yang berkeriput. Banshee sendiri sangat suka  menyanyikan lagu, tapi bukan lagu sembarangan, melainkan sebuah lagu yang dipercayai masyarakat Irlandia adalah lagu pengantar kematian. Dan See, inilah misteri banshee yang aku kemas menjadi sebuah Fanfiction bergenre Life . Kritik, Komentar, dan Like sangat diharapkan.
  • Warning : Not for Silent reader, copycat or Plagiator.

~FULL TYPO, NOT LIKE? DON’T READ !! OKAY~

*Panggilan Terlarang*

(c) 2012

Lihatlah jam dinding yang berada disekitarmu,
perhatikan setiap gerak jarumnya..detiknya..menitnya..lalu jamnya.

Kemudian tolehkan kepalamu ke arah sebuah cermin terdekat yang bisa kau temui di tempatmu.

Lihatlah baik-baik bayanganmu disana, perhatikan wajahmu..hanya wajahmu tidak untuk yang lain.

dan coba berhenti bernafas untuk beberapa waktu, hingga kau kelelahan.

~
Pahamkah kau tentang apa yang coba ku sampaikan pada kalian?

Dapatkah kalian memberikan pendapat tentang ini?

Jika ku bilang, satu menit lagi kalian akan mati..apa kalian akan mempercayainya?

Jika ku bilang esok hari, matamu itu akan terlepas dari tempatnya, akan kah kau berhenti menggunakan matamu untuk hari ini saja?

Pahamilah..kata-kata ini, renungkan lalu pikirkan.

Bagaimana jika pesan ini sampai padamu untuk memberikan kabar kematianmu yang sedang membayang-bayangimu.

*Panggilan Terlarang*

* * *

Cahaya lampu-lampu yang berwarna warni itu terlihat remang di mata seorang pemuda yang kini telah terkulai lemah di sebuah kursi yang berhadapan langsung dengan sebuah Bar. Musik yang menguasai udara tempatnya berada sama sekali tidak terdengar  jelas ke indra pendengarannya. Terlihat sangat goyah, ketika tangannya mencoba mengangkat sebuah gelas kaca mungil yang  berisi wine itu.

“Seg..seghh..seggelass lagiee..” bau alcohol menyeruak dari mulutnya yang terbuka. Seorang pelan yang melihat keadaannya itu terlihat sangat ragu memberikan permintaan pemuda tersebut, mengingat keadaan pemuda ini sudah sangat mabuk, tapi karena tidak mempunyai hak untuk ikut campur dan menyadari statusnya disini hanyalah seorang pelayan yang bertugas melayani permintaan pelanggan -tak terkecuali pemuda yang ada di hadapannya sekarang-,  maka dia memutuskan untuk memenuhi saja permintaan pemuda itu.

“Hahh..hah..AKU BILANG SEGELAS LAGI, BODOH ! APA KAU TAK MENDENGARNYA?” sungut pemuda itu dipenuhi emosi, Sang waitress yang mendengar sulutan pemuda itu dengan  terburu-buru menuangkan segelas wine yang dimintanya. ©Rara story

* * *

Namanya Lee Jinki, seorang pemuda yang terlahir di kalangan  keluarga kaya raya. Bagi Lee jinki dunia ini sama sekali tidak menarik, karena di matanya dunia ini hanya sekedar  sebutir  kelereng yang dapat dengan mudah ia remas dengan kepalan tangannya dan dia juga dapat dengan mudah menghancurkannnya menjadi keping-keping yang tak berharga.

Orang tuanya terlalu malas meladeni  sikapnya yang sudah melewati batas, hingga membiarkan saja dia tumbuh dan berkembang dengan pemikiran seperti itu. Uang..hanya uang yang selalu menemani langkah perjalanannya. Matanya sudah buta untuk memilih yang mana yang benar dan mana yang salah.

Toh..jika dia memang melakukan kesalahan lalu di penjara, orang tuanya dapat dengan mudah mengeluarkannya –tentunya dengan memberikan uang jaminan yang tidak sedikit-. Setelah itu Jinki kembali berulah, dan sekali lagi orang tuanya tidak mempedulikan hal ini.

Terkadang mereka malah mengirimkan uang dengan jumlah banyak dengan tujuan ‘jaminan jika masuk ke penjara’. Konyol? Tentu saja iya, bagaimana mungkin sepasang orangtua itu sudah merencanakan  uang jaminan untuk anaknya keluar dari penjara, padahal anak mereka belum berurusan dengan polisi.  ©Rara story

* * *

Jinki membuka matanya perlahan, ditemuinya langit-langit ruangan yang dipenuhi ornamen-ornamen mewah yang berwarna keemasan. Ini adalah kamarnya? Ya begitulah. Lee jinki bisa dikatakan  jin aladin masa kini, dia bisa berpindah tempat tanpa harus berjalan atau mengeluarkan tenaganya. Misalnya seperti kemarin malam, dia ingat betul kalau ia mabuk dan tertidur di club malam langganannya. Tapi paginya? Dia bahkan sudah berada di atas tempat tidur king sizenya itu, bersama aroma jeruk khas pengharum ruangan yang memenuhi atmosfer kamarnya.

“Selamat pagi tuan Muda, apakah tidur anda nyenyak semalam?” Tanya seorang pelayan yang tiba-tiba saja masuk ke dalam kamarnya, membawa sebuah teko berisi air teh dan cangkir kecil. Lee jinki –lelaki itu- sama sekali tidak menghiraukan ucapan sang pelayan. Dia justru sedang melamun dengan posisi tubuh yang masih terbaring di atas tempat tidur.

“Saya letakkan teh hangat anda disini tuan, semoga pagi anda menyenangkan!” pelayan itu keluar dari kamarnya, sementara Lee Jinki masih bersikukuh tidak menghiraukannya. Lagipula jika ia menghiraukannya, maka itu adalah hal yng luar biasa. Bagaimanapun dia sudah tidak pernah melakukan hal semacam itu lagi  dalam 20 tahun belakangan. ©Rara story

* * *

Jinki mengamati gerimis di balik jendela besar kamarnya yang memaparkan pemandangan balkon yang luas. Ditangkapnya pemandangan langit berwarna keabu-abuan yang pekat, dan dedaunan pohon yang nampak basah disapu gerimis. Kenapa tiba-tiba hatinya merasakan hawa tidak enak? Kenapa ia merasakan ada sesuatu yang janggal pada dirinya?

Tapi apa itu? Apa yang menghasilkan hawa tidak enak untuknya? Apa yang janggal pada dirinya?.

Jinki beranjak dari tempat tidurnya, kemudian menuju kamar mandi untuk sekedar mencuci muka dan menggosok gigi. Setelah membersihkan diri, jinki mengambil secangkir  teh hangatnya lalu menyeruput.

Tapi tiba-tiba…..

-ngiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiing-

Telinga pemuda tampan itu berdenging, penglihatannya pun menjadi buram, semua benda terlihat menjadi dua.

‘mic fear, tháining mé chun tú a thabhairt focal as an Tiarna.. beidh bás thagann tú. Tá a fhios agat cad é bás? Sin é nuair a mise an anam as do chorp’

Disela dengingannya, Jinki dapat mendengar dengan samar seorang wanita menyanyikan sebuah lagu yang liriknya terdiri dari kata-kata aneh, yang sama sekali tidak jinki pahami. Wanita yang tidak diketahui siapa, terus  saja menyanyi dengan suara halus yang melengking.

‘prraang’

secangkir teh yang di pegang tangan lee jinki terhempas ke lantai, bentuk cangkir itu sudah tak utuh lagi saat menyentuh dinginnya ubin di lantai itu. Sementara lee jinki memandangi  pecahan itu sambil terdiam cukup lama. Angin dingin yang muncul dari ventelasi jendela kamar Lee jinki nampak meremangkan bulu kuduknya untuk berdiri. Sesaat kemudian jinki mengerjapkan matanya, seolah mengembalikan kesadarannya.

“Pelayan..bersihkan ini!” gumam jinki, suaranya bernada rendah dan tidak bervolume nyaring tapi meski begitu, pelayan-pelayanannya  yang setia berhamburan memasuki kamarnya lalu membersihkan beling-beling pecahan cangkir itu.

Jinki beranjak dari tempatnya, memutuskan untuk mandi. Tapi sebelumnya matanya sempat menyorot ke arah cangkir yang pecah itu.

‘Deg’ 

Perasaan aneh tiba-tiba menggerayangi  diri jinki, namun jinki enggan memikirkannya lebih jauh lagi. ©Rara story

* * *

‘Tap..tap..tap’

Langkah jinki menggema di lorong bangunan serba putih itu, hingga membuat suara langkahnya menjadi dua –seolah-olah ada seseorang yang juga sedang ikut berjalan bersamanya-.
Jinki terus berjalan, entah kenapa kali ini ia merasa bahwa  lorong putih dengan bau khas ini cukup panjang untuk di laluinya seorang diri.

-ngiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiing-

untuk yang kedua kalinya telinganya berdenging, dan ini sukses membuat langkah jinki terhenti seketika. Jinki berpegangan erat pada dinding rumah sakit, karena merasa goyah seketika.Tunggu,  Rumah sakit? Ya..rumah sakit, Jinki memutuskan pergi ke tempat itu untuk memeriksa kesehatannya karena beberapa waktu belakangan ini ia sangat sulit untuk tertidur, terkecuali kalau  ia sedang mabuk.

‘mic fear, tháining mé chun tú a thabhairt focal as an Tiarna.. beidh bás thagann tú. Tá a fhios agat cad é bás? Sin é nuair a mise an anam as do chorp’

Nyanyian wanita yang melengking halus itu kembali terdengar untuk yang kedua kalinya juga bagi  lee jinki. Jinki mengerjapkan matanya, tapi suara itu tidak lenyap jua. Sudah lebih dari sepuluh desahan kuat  ia hembuskan dalam rongga pernafasaannya. Tapi suara dan dengingan itu tak kunjung pergi dari telinganya. ©Rara story

* * *

Jinki memandangi  surat hasil pemeriksaannya, semuanya baik-baik saja tidak ada satupun yang bermasalah pada tubuhnya. Tapi entah kenapa ia merasa tidak puas dengan hasil ini. Apa yang sebenarnya ia harapkan? Apakah dia berharap pada surat itu terdapat sebuah kalimat semacam ‘positif kanker otak stadium 4’, itu terasa konyol jika memang ada seseorang yang berharap demikian.

‘duuugggh’ jinki menghempas pintu toilet rumah sakit dengan keras, membuat semua mata yang ada disana memandangnya tak suka. Namun jinki sama sekali tidak mempedulikan tatapan itu, ia berjalan mendekati sebuah kaca di hadapan westafel dan termenung menatap lantainya, mengingat apa yang sudah seorang dokter Kim katakan padanya beberapa saat lalu.

“Saya rasa tubuh anda baik-baik saja, dan masalah anda tidak bisa tertidur . itu bisa saja disebabkan karena anda sering mengkonsumsi minuman keras. Ada baiknya jika anda berhenti mengkonsumsinya saat ini juga, sebelum terlambat dengan segala resiko besar yang menghadang anda nantinya”

 

Jinki tersenyum miris sambil meremas surat hasil pemeriksaannya “Cih..dia pikir dia siapa? Kenapa mencoba merebut kesenanganku, huh?” gumamnya seorang diri. Dan lagi-lagi semua mata yang ada disana memandangnya aneh, mungkin saja mereka mengira lee jinki sudah gila.

‘trreeeakk’

Seorang anak kecil membuka pintu toilet tersebut pelan, kemudian ia  berjalan mendekati westafel tempat lee jinki berada. Anak itu memandang aneh ke arah Lee Jinki, pandangan yang sangat sulit untuk diartikan.

“Hyung..!” panggilnya pada lee jinki. Tapi Lee jinki  terlalu acuh untuk mempedulikan panggilan anak kecil itu.

“Hyung!” kali ini tangan mungil anak itu menarik ujung jaket Jinki yang terikat di pinggang kekarnya. Jinki sangat merasa terganggu karena hal ini, tapi tetap saja dia mengacuhkan anak kecil di hadapannya yang sudah jelas-jelas sedang memanggilnya.

“HYUNG!” teriak anak itu keras, dan kembali lagi untuk yang kesekian kalinya mata-mata yang berada disana menatap lee jinki aneh.

“Hey..yang membuat keributankan anak ini. Kenapa kalian justru menatapku, huh?” ucap Lee Jinki, sementara orang-orang yang mendengarkannya hanya menggelengkan kepalanya.

“Sedangkan kau… ada perlu apa menarik-narik jaketku seperti itu? Kau tahu..jaketku ini sangat mahal,  bagaimana kalau rusak? Apakah kau bisa menggantinya? dan..satu hal lagi, perlu kau ingat aku ini bukan hyungmu!” bicara Jinki kasar ke arah anak itu. Anak itu terkekeh melihat Lee jinki, entah apa yang menyebabkan ia terkekeh seperti itu.

“Aku hanya ingin bilang..bayangan hyung hilang!” suara anak itu terkesan berbeda dari sebelumnya, nadanya lebih seperti mengejek tapi bukan dengan nada khas anak-anak, melainkan nada merendahkan khas orang dewasa yang sedang berdebat. Setelah mengucapkan kalimat itu , anak itu keluar begitu saja dari toilet tempat Jinki berada, meninggalkan Jinki yang sedang kebingungan dengan ucapannya.

‘degggh’

* * *


Lihatlah baik-baik bayanganmu disana, perhatikan wajahmu..hanya wajahmu tidak untuk yang lain.

Dan coba berhenti bernafas untuk beberapa waktu, hingga kau kelelahan.

 

Apa ini? Ini tidak mungkin, bagaimana bisa? Jinki memandang nanar cermin di hadapannya, tapi di cermin itu tak ada muncul sosoknya. Jinki meletakkan tangannya di hadapan cermin tapi tetap saja tak ada bayangannya disitu. Tapi kenapa hanya bayangannya yang tidak ada di cermin? Sementara bayangan orang-orang di toilet nampak dengan jelas memantul di cermin itu.

“Ada apa anak muda?” Tanya seorang bapak-bapak yang ada disamping lee Jinki, rupanya dia melihat tingkah aneh lee jinki sedari tadi.

“Ahjussi..apakah kau melihat bayanganku di cermin ini?” Tanya lee jinki dengan raut wajah kepucatan. Ahjussi itu nampak bingung sejenak, tapi kemudian tertawa keras.

“Tentu saja aku melihatnya, apakah kau memintaku memuji wajah tampanmu itu? Ayolah anak muda jangan menunjukkan lelocon seperti ini, haha” jinki membelalakkan matanya mendengar pengakuan seorang ahjussi tersebut.

‘Apa yang dikatakan ahjussi ini? Apakah ucapannya itu berarti bahwa ahjussi ini dapat melihat bayanganku? Tapi kenapa justru aku sendiri tidak bisa melihatnya?’ batin Jinki.

Sejenak kemudian Jinki telah tersadar lalu menebar pandangan ke sekitar, tidak ada orang-orang yang memandang aneh ke cermin di hadapan lee jinki. Yah.. meski sebelumnya tatapan aneh banyak Jinki dapatkan, tapi dia tahu benar bahwa tatapan itu bukan untuk bayangannya yang hilang, melainkan sikap Jinki yang bisa dibilang kurang waras.

“Tunggu..anak itu!” pekik Jinki dan langsung berlari keluar Toilet. ©Rara story

* * *

Jinki membanting stir kemudinya kasar. Dia tidak dapat menemukan anak itu di seluruh tempat rumah sakit yang ia datangi.

“Hal gila macam apa ini?” teriaknya frustasi, tapi tiba-tiba ujung matanya melihat ke arah spion mobil Ferrari hitamnya. Dia memandang sesuatu yang harusnya ada disana, tapi kini hilang entah kemana –bayangannya-.

“Ini konyol..” gumam Jinki pelan, tapi matanya terus memaksa untuk melihat ke arah kaca spion itu. Ada sedikit bibit senyum kecil sesaat jinki merasa dapat melihat bayangannya  –bayangan yang tidak terlalu jelas, seperti di blur dengan harness yang terlalu tipis-.

Tunggu, itu bukan…bayangan jinki!

-tttttttttttiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiinnnnnnnnnnnt-

Suara klakson-klakson panjang dari mobil dan kenderaan yang berada di belakang mobil Ferrari hitam kebanggaan jinki itu menuntut jinki untuk segera menginjak pedalnya. Karena bagaimanapun lampu yang berdiri di depan mereka sudah berubah warna menjadi hijau. Jinki mendesah, tapi tetap menginjakkan pedalnya.

‘Aishh’ gerutunya. ©Rara story

* * *

Jinki menghentikan ferrari  hitamnya di pinggir jalan. Kemudian ia kembali menatap kaca spion depannya. Tidak ada bayangannya disana dan ini membuat Jinki mengacak rambutnya kasar.

“Siapa yang berani mempermainkanku? Baiklah..kau pikir aku akan terjebak dalam hal konyol macam ini, ck..siapa yang peduli tentang bayangan, lagipula hanya bayangan bukan? Yang penting aku baik-baik saja” gerutu Jinki entah pada siapa.

Jinki sebenarnya benar-benar ingin mengelak bahwa ia sedang ketakutan, bukan hanya masalah bayangannya yang lenyap entah kemana, tapi saat di lampu merah, dimana Jinki menatap kaca spionnya lalu menemukan sosok bayangan yang asing.

Ya, dia sadar bahwa bayangan itu bukan bayangannya, melainkan bayangan seorang wanita berambut panjang hitam ikal mekar dan untuk lebih detilnya Jinki tak dapat mengucapkannya lagi, karena sosok itu terlalu mengerikan untuk dijabarkan.

Jinki mencuri pandang ke belakang jok mobilnya, dan meneliti setiap jengkalnya, berharap dapat menemukan sosok bayangan wanita itu lagi dengan matanya. Tapi hasilnya tetap tidak ada.

Ketika jinki kembali memalingkan kepalanya untuk memutuskan melanjutkan laju mobilnya.

‘degh’ jantungnya ditendang dari dalam, ia menemukan sosok wanita itu ada disampingnya sekarang. Jinki menguatkan pandangannya, mencoba memfokuskan pandangan ke arah sosok itu meski sebenarnya ada ketakutan yang menghantuinya.

Jika ku bilang esok hari , matamu itu akan terlepas dari tempatnya, akan kah kau berhenti menggunakan matamu untuk hari ini saja?

Pahamilah..kata-kata ini, renungkan lalu pikirkan.©Rara story

 

 

* * *

Jinki menuruni anak tangga yang ada di rumahnya, semuanya nampak sepi malam ini. Kemana semua pelayannya itu?

Jinki mendapati ruang tengah yang biasanya di penuhi pelayan-pelayannya yang sibuk membersihkan ruangan –meski sudah dibersihkan berulang kali-, tapi untuk kali ini ruangan itu kosong.

‘na..na..na..na..’ ada suara perempuan yang nampak menyanyi di ujung ruang tengah itu -tepatnya di luar  rumahnya, beranda di depan taman-. Jinki mengernyit memperhatikan sosok itu. Meneliti dengan seksama sosok yang diyakininya bukan merupakan salah satu dari banyaknya pelayan yang dia pekerjakan di rumahnya.

Jinki berjalan perlahan mendekati sosok itu. Sosok itu terlihat sedang duduk santai di atas kursi goyang Ayahnya –membelakangi sosok Jinki yang sedang mendekat-. Dari bentuk fisiknya, orang tersebut terlihat seperti seorang nenek tua yang rapuh.

‘siapa dia?’ heran jinki. Tangan jinki sudah siap untuk membuka pintu kaca yang menjadi jarak pembatas keberadaannya dengan sosok nenek tua itu, hingga sebuah suara memanggilnya.

“Tuan Muda..saatnya makan malam!” Jinki terkesiap saat mendengar suara tuan choi. Jinki memandang tuan Choi tak suka, atau lebih tepatnya marah.

“Baiklah,” sahut Jinki singkat, tapi begitu jinki menolehkan kepalanya ke sosok nenek-nenek di luar pintu. Jinki kembali terkesiap, melihat nenek dengan keriput yang luar biasa banyaknya itu sedang berhadapan dengannya sambil memasang senyum yang lebih mirip seringaian.

‘aaaaahh’ jerit Jinki, membuat tuan Choi gelabakan.

“Ada apa tuan muda?” Tanya tuan choi cemas. Jinki tak mengucapkan satu patah katapun untuk menjawab pertanyaan itu, mulutnya terasa dibungkam dan matanya tak bisa di kedipkan atau di arahkan. Tubuh dan semua panca indranya terasa kaku. Sementara nenek tua itu terus memberikan seringaiannya pada jinki yang sudah seperti orang kerasukkan.

‘na..na..na.., mic fear, tháining mé chun tú a thabhairt focal as an Tiarna.. beidh bás thagann tú. Tá a fhios agat cad é bás? Sin é nuair a mise an anam as do chorp’

Nenek tua itu menyanyi dengan syahdu, jarum yang berdetak di tengah ruangan seperti menjadi sebuah instrument halus untuk menggiring nyanyiannya. Sementara disatu sisi tubuh Jinki terjungkal ke belakang, untung saja tuan Choi dengan segera menangkap tubuhnya yang terjatuh ke lantai..

“Tuan..anda kenapa? Pelayan…panggilkan dokter Kim segera,” ucap tuan choi disela kecemasannya.

Tubuh Jinki mengeras dan kaku, seperti  mengalami kejang. Matanya yang sipit dan teduh itu terbelalak tajam tanpa mengedip satu kalipun, pandangannya lurus menatap satu sosok yang ada di hadapannya, nenek tua yang berada di luar pintu kaca itu.

‘na..na..na.., mic fear, tháining mé chun tú a thabhairt focal as an Tiarna.. beidh bás thagann tú. Tá a fhios agat cad é bás? Sin é nuair a mise an anam as do chorp’ lagi-lagi nenek itu menyanyi dan disetiap satu kata yang dia ucapkan terasa mencekik tubuh Jinki.

Pahamilah..kata-kata ini, renungkan lalu pikirkan.

Bagaimana jika pesan ini sampai padamu untuk memberikan kabar kematianmu yang sedang membayang-bayangimu. ©Rara story

 

* * *

Jinki duduk di sudut tepi ranjangnya, tak biasanya..malam ini ia lalui dengan  tangisan keras yang membanjiri pipi putihnya. Kontras dengan malam-malam yang biasanya ia lalui di club malam yang di penuhi wanita-wanita cantik, dan literan wine yang menghangatkan tubuhnya. Ada sesuatu yang diremas di tangannya kini, sebungkus plastik transparan yang berisi serbuk berwarna putih yang menyerupai tepung dan sebilah jarum suntik yang berisi cairan aneh. Sabu-sabu? Narkoba? Apakah barang haram itulah yang sedang dia pegangi?

Menangis tanpa isakan yang terlalu keras, membiarkan pipinya basah karena linangan airmata. Sebuah laptop dengan layar yang masih menyala tergeletak di hadapannya. Pada layarnya nampak sebuah halaman internet yang menyediakan layanan penerjemah bahasa dan disana tertulis satu kalimat bás –bahasa Irlandia yang diterjemahkan menjadi kata kematian-. ©Rara story

* *Flashback* *

Saat tubuhnya kaku, tidak bisa di gerakan. Seluruh organ tubuhnya lumpuh dalam seketika, tapi ada satu hal yang aneh, suara nyanyian nenek tua itu terus menggema di telinga Jinki. Hingga Jinki dapat mengingat dengan jelas satu kata yang di ulang selama dua kali dalam lirik lagu itu bás.

Dan ketika kondisi jinki mulai membaik, dia mencoba mencari arti kata dari bás itu. Dan ternyata artinya adalah kematian.

* * *

Sabu-sabu, narkoba, minuman keras dan hal-hal seperti diskotik atau seks bebas, adalah ruang lingkup kehidupan bagi Jinki. Dia menjalani hidupnya dengan kesenangan yang bersifat  fana. Yah..dia adalah seorang yang bisa dibilang Bad boy. Dia tahu betul  bagaimana kenikmatan narkoba atau sabu-sabu dalam hidupnya, dan dia sangat hafal bagaimana cara melakukan hubungan intim yang baik. Ada puluhan wanita yang terhitung pernah ditidurinya tanpa melalui proses pernikahan, dan ada banyak jenis wine yang telah dirasakan lidahnya selama kurang lebih 6 tahun belakangan ini. Sejak kecil hingga umurnya 23 tahun, dia tidak pernah mendapatkan kasih sayang  dalam bentuk nyata dari orangtuanya. Karena  selama  ini, kasih sayang yang orangtuanya berikan hanyalah sesuatu yang bersifat syimbolis yang diberi nama dengan sebutan ‘Uang’ dan dengan uanglah selama ini ia menjalani hidup. Tidak pernah berpikir menjadi orang yang lebih baik, tidak pernah berpikir untuk merubah keadaan.

Di usianya, dimana seharusnya seorang pemuda sedang gencar-gencarnya menyelesaikan tugas-tugas di Universitas, atau mencari pekerjaan dengan seragam berdasi, dia justru bersenang-senang dengan kelipan lampu malam nan cantik di club malam. Di otak Jinki, hidup hanya sekedar menari di atas lantai diskotik. See..sangat menyedihkan bukan?

Meski hati Jinki tidak pernah menjerit karena melihat orang tuanya bertengkar dihadapannya, tapi hati Jinki sudah retak.  Semula memang hanya retakan yang kecil, namun sudah lebih 20 tahun ini retakan itu berkamuflase menjadi retakan besar selayaknya terkena goncangan gempa bumi. Retakan yang hadir untuk membuktikan tingkat kerinduannya pada orang tuanya, tapi dia tidak ingin menuntut banyak, hingga dia biarkan dia hidup dengan caranya sendiri. Setidaknya ia bersyukur, melalui uang yang dikirimkan orang tuanya untuknya, karena ini berarti orang tuanya masih mengingat kalau ia ada di dunia ini, terlahir dengan status sebagai anak mereka. ©Rara story

* * *

Jinki merebahkan tubuhnya di atas tempat tidurnya yang nyaman, matanya menatap lurus ke atas, tepat ke sebuah lampu yang menyala. Lagi-lagi air matanya jatuh perlahan membasahi pipi dan juga bantal yang sedang direbahi kepalanya. Bibirnya bergetar seolah enggan untuk mengeluarkan isakan. Jinki berusaha menutup matanya, entah dengan tujuan apa ia melakukan semua itu.

Dalam matanya yang terpejam, Jinki melihat bayangan dirinya sendiri. Dirinya disana terlihat sedang menari secara liar di bawah lampu diskotik, sementara tangannya terkadang berulah usil pada tubuh-tubuh molek milik para wanita yang berada di sisinya.

Tanpa ia ketahui sesosok wanita dengan wajah setengah datar, dan tangan berkuku panjang sedang duduk di sampingnya, tangan berkuku panjang itu mengelus pipi jinki. Mengerikan..sesaat kuku panjang itu bertambah panjang dengan jemari yang bersisik hitam.

‘na..na..na, tá tú ag dul go dtí bás Lee Jinki?::kau yang akan mati lee Jinki: ucap sosok itu sambil menyanyi dan memanggil nama lee jinki, kemudian sosok itu hilang samar-samar.

Bayangan Jinki yang semula sedang menari-nari di bawah lampu diskotik tersebut tiba-tiba raip dan kini tergantikan oleh sosok bayangan Jinki yang sedang duduk di pojok atap kampusnya, sosok Jinki disana terlihat sangat gugup saat tangannya menancapkan sebuah jarum suntik ke nadinya sendiri. Bola matanya nan hitam itu bergerak-gerak mengamati sekitar –tak mengijinkan ada orang lain yang melihat apa yang sedang ia lakukan-.

“CUKUP!!” jerit Jinki sambil bangkit dari posisi rebahannya. Matanya kini terlihat jelas sedang berair dan berwarna kemerahan, kedua pundaknya naik-turun memompa nafasnya yang tersengal-sengal.

“Hentikan ku mohon..” gumamnya pelan yang lebih terdengar seperti rintihan.

“Aku..aku tahu, aku bukan lelaki baik. Aku..aku tahu, apa yang selama ini aku perbuat adalah kesalahan. Tapi..semua ini bukan salahku, aku juga tak ingin seperti ini! Tapi Tuhan memaksaku dengan takdirnya..Dia yang memaksaku. Dan aku membencinya. ch, Tuhan? Aku bahkan tak yakin bahwa Dia ada untukku!” ucap Jinki berat dengan buliran air mata yang jatuh menetes.

Hawa dingin tiba-tiba mencekat, membuat Jinki terkejut sesaat. Darimana datangnya hawa dingin seperti ini? Ini bukan hawa sejuk dari pendingin ruangan, bukan pula angin dari ventelasi.

‘na..na..na.., mic fear, tháining mé chun tú a thabhairt focal as an Tiarna.. beidh bás thagann tú. Tá a fhios agat cad é bás? Sin é nuair a mise an anam as do chorp’ suara itu lagi? Akhh.. jinki sudah benar-benar muak dengan suara itu. Atau jika boleh diperbaiki, mungkin dia akan mengatakan bahwa dia teramat sangat sangat muak dengan suara itu.

“SIAPA KAUUU? APAKAH KAU TUHAN?” teriak jinki histeris, sesaat suara itu kembali terdengar olehnya. Tapi suara itu tetap saja menyanyi, seolah tak mempedulikan apa yang diucapkan Jinki.

‘na..na..na.., mic fear, tháining mé chun tú a thabhairt focal as an Tiarna.. beidh bás thagann tú. Tá a fhios agat cad é bás? Sin é nuair a mise an anam as do chorp’

“Jika kau ingin bermain-main denganku..ku harap kau tunjukkan sosok aslimu sekarang juga, aku tidak takut denganmu!” getar..tubuh lelaki itu sebenarnya bergetar ketakutan, tapi dia berusaha menyembunyikan rasa takutnya untuk saat ini.

‘brraakkk’ pintu balkon kamarnya yang semula tertutup rapat tiba-tiba terbuka dengan suara hempasan yang kuat.

“Apa yang ingin kau coba lakukan padaku, apa yang kau inginkan? Apakah kau menginginkan uangku?” Tanya Jinki sarkatis. Tapi lagi-lagi tak ada suara yang menjawab pertanyaannya, hanya ada nyanyian yang terdengar semakin mendayu dengan volume yang mengeras.

‘na..na..na.., mic fear, tháining mé chun tú a thabhairt focal as an Tiarna.. beidh bás thagann tú. Tá a fhios agat cad é bás? Sin é nuair a mise an anam as do chorp’

“Kau Gila…bisakah kau berbicara dengan bahasa korea? Atau English please!!” ucap jinki yang terlihat frustasi dan kacau. Bayangan hitam yang merajut bawah matanya nampak melukiskan penderitaan. Penampilannya lebih terlihat seperti orang yang mengalami gangguan jiwa. ©Rara story

* * *

Jinki meneguk gelas winenya berantakan. Entah dengan alasan apa ia memutuskan untuk menikmati segelas wine ditengah ketakutannya menghadapi sesuatu yang tak dapat dilihat matanya.

‘braakk’ Jinki membuka pintu kamarnya kasar, kemudian menghampiri tuan Choi dengan tergesak-gesak.

“Mana kunci mobilku?” tanyanya dengan nada yang dipenuhi amarah.

“Tapi..untuk apa tuan?” ucap tuan choi dengan nada sedikit ketakutan saat melihat mata jinki yang mentapnya tajam.

“Apa pedulimu? Itu mobilku..cepat serahkan saja!” tuan choi tergesak-gesak mengeluarkan sebuah kunci dari saku jasnya, kemudian dengan tangan yang bergetar, ia menyerahkan kunci yang Jinki minta kepada Jinki. Setelah berhasil mendapatkan apa yang dia minta, Jinki berhambur keluar rumah dan dengan cepat menaiki mobilnya yang terparkir di garasi. ©Rara story

* * *

Mobil Ferrari hitam dengan nomor flat CD J1N K1 itu melaju dengan kecepatan diatas rata-rata, atau bahkan bisa dibilang dengan kecepatan penuh. Lee jinki , seseorang yang duduk di kursi pemudi mobil itu terus meraung di dalamnya seolah menyerupai singa yang mengamuk.

“Bás? Apakah kau ingin mengatakan bahwa sebentar lagi aku akan mati? Siapakah kau sebenarnya? Apakah kau Tuhan? Atau kau malaikat maut..dengarkan aku, aku tidak akan mati sampai aku ingin mati! Dan sampai saat itu tak ada yang bisa membuatku mati!” Jinki meranyau tanpa mengindahkan sosok wanita tua dengan jubah hitam di jok belakangnya. Sosok itu sedang menatapi belakang jinki kemudian menggeleng perlahan.

“fanacht ar feadh tamaill níos faide” gumam nenek itu yang berarti ‘tinggal sebentar lagi’.

* * *

Jinki melihat sungai yang berada di samping kiri mobilnya, melihat sungai yang nampak berwarna kehitaman dengan pantulan sinar bulan yang menghiasi atas dari permukaannya. Mata jinki menyipit ketika menangkap sosok seorang wania sedang asyik berendam di dalam ketenangan sungai.

‘wanita macam apa yang berendam di sungai selarut ini?’ heran jinki. Tanpa jinki sadari arah mobilnya menjadi tak terarah, dimana seharusnya dia membelokkan setirnya ke kanan karena ada tingkungan dia justru tetap pada arah lurus.

‘aaaaaaaaaaaaaaaaa’ histeris jinki sesaat menyadarinya. Jinki membanting setirnya tapi semua terlambat. Mobil Ferrari hitam itu dengan mulus terjun ke arah sungai. ©Rara Putriey

* * *

Mobil itu hampir tenggelam, sementara Jinki belum bisa meloloskan diri karena mengalami kesulitan saat melepaskan safety  belt  yang terentang di tubuhnya. Tak ada satu orangpun yang menolongnya, karena saat ini sudah terlalu larut. Jinki terus berusaha, hingga ia hampir kehilangan nafas karena sudah terlalu lama menahan nafasnya di dalam air.

Di atas mobil yang hampir tenggelam itu, ada sosok wanita yang duduk sambil menyisir rambutnya dengan sisir perak dia tersenyum sambil menyanyikan lagu.

‘na..na..na.., mic fear, tháining mé chun tú a thabhairt focal as an Tiarna.. beidh bás thagann tú. Tá a fhios agat cad é bás? Sin é nuair a mise an anam as do chorp’  lagu itu terus terulang dan Jinki yang sekarang berada di dalam air dapat mendengarnya dengan jelas, bahkan di saat-saat terakhir Jinki mendengar nyanyian itu dengan bahasa yang dapat ia pahami.

‘hai anak manusia, aku datang padamu membawakan sebuah kabar dari Tuhanmu..kematian akan mendatangimu, tahukah kau apa itu kematian? Itu saat dimana jiwa milikmu keluar dari  ragamu’

Pelan tapi pasti mata sipit itu menutup, tangannya berhenti bergerak untuk membuka safety belt yang mengikat tubuhnya.

Dia menyerah.

Tidak ada senyum yang mengiring detik akhir dunianya. Lee jinki..pria nakal itu telah tiada. ©Rara Putriey

*  *  *

Kedua orang tua itu melihat kubur anak mereka dengan tatapan datar, seolah tak merasa sedih atau tersentuh.

“Setidaknya kita tak perlu mengurus uang penjara tiap bulannya, hari ini kita mengeluarkan uang untuk terakhir kalinya untuk dia..” ucap lelaki paruh baya itu. Sementara sosok wanita yang terlihat sedikit lebih muda dari lelaki itu nampak sibuk membenahi sarung tangan hitamnya.

“Cepatlah..kita tak punya banyak waktu di sini, kita harus ke Paris,” wanita itu bicara sambil berlalu meninggalkan pusara yang masih kemerahan di depannya. Pusara dengan goresan nama ‘Lee jinki’ –putra mereka-.

Mobil  limousine berwarna hitam milik kedua orangtua lee jinki itu melaju pesat meninggalkan perkomplekan rumah terakhir khusus kalangan orang kaya. Tanpa  ada seorangpun  yang  tahu dia antara mereka, ada satu  sosok wanita berambut panjang sedang duduk di bagian belakang limousine tersebut –ikut bersama mereka-.  Sosok itu sedang menyanyi sambil memanggil nama dua orang yang tidak lain adalah nama dari kedua orang tua Jinki. Sosok wanita itu bernama banshee –wanita pembawa pesan kematian-. Jika kau mendengar dia memanggil namamu, maka bersiaplah dengan panggilan terlarang itu, tentang kematian yang sebentar lagi mendekatimu-.

‘na..na..na.., mic fear, tháining mé chun tú a thabhairt focal as an Tiarna.. beidh bás thagann tú. Tá a fhios agat cad é bás? Sin é nuair a mise an anam as do chorp Lee Mi hwan,Jang sae hwa’ 

‘bbbuuuuughh’ mobil limousine tersebut tiba-tiba terbalik, bau anyir khas menyeruak sesaat tubuh-tubuh manusia yang ada di dalamnya  dipenuhi dengan lumuran darah yang segar. ©Rara Putriey

* * *

-belajarlah untuk menikamati hidup dengan cara mensyukuri apa yang telah Tuhan berikan dalam hidup kita, dan jangan jualah kita terlalu mengejar urusan dunia karena  sesungguhnya dunia ini hanyalah berupa jembatan untuk kita menuju tempat yang sebenar-benarnya menjadi tujuan kita –

* * * END* * *

  • Thanks to :
    – Allah SWT yang telah memberikan saya imajinasi, kesehatan serta waktu untuk saya berkarya.
    – Kedua orang tua saya yang telah menyediakan segala fasilitas yang lengkap untuk saya berkarya.
    – Serta para reader yang dengan rela melowongkan waktunya hanya untuk sekedar membaca karya saya lalu kecewa dengan cerita yang tidak seperti harapan (_ _)*bow*.
  • Say sorry to :
    – Onew oppa, I just borrow your name oppa. This character not you, this only from my imaginary.
    –  Semua orang yang merasa tersinggung dengan adanya cerita ini. MAAF

114 responses to “[One shot] Panggilan Terlarang [SHINee Series Horror Fanfiction] | Onew Version

  1. Bagus ffnya.Horrornya dapet,sedihnya juga dapet ditambah lagi ada pesan moralnya,pokoknya daebak ^_^

  2. Bagus banget. Aku deg-degan bacanya. Yang aku suka itu ada pesan moral yg sangat baik. Good job!!

  3. Pingback: INTRO_RASYIFA | FFindo·

  4. Bacanya tadi malam, komennya siang:D
    Asli! Bikin merinding disko ini ff nya. Nahan napas pas bacanya.
    Waaa tanggung jawab loh thor, aku ngosngosan pas selesai baca ini.

  5. Keren bgt, situasi horrornya kerasa, keputus asaan dan ketakutan jinki sangat terasa. Chukkae FFnya keren bgt 😀

  6. Gak tau mau bilang apa. Ffnya benar” keren. Aku suka banget. Lengkap hingga membuatku sangat kagum. Terus berkarya ya.. Fighting!!!^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s