(Ficlet) Untitled

Title           : Untitled

Author       : thefeysture (thefeysture.wordpress.com)

Rating        : General

Length       : Ficlet

**

Ketika aku berjalan, aku tak pernah tahu akan apa yang akan kutemui. Hanya berjalan dan semua akan kutemui. Termasuk cinta.

Aku melangkah dengan penuh keanggunan di tengah puluhan orang yang berjalan disampingku. Tak ada yang ku kenal. Hanya berjalan karena memiliki kesamaan tujuan. Aku melihat orang-orang yang ada di sekitarku dan aku menyesali karena tidak memakai sweater hari ini. Aku seperti orang terasing disini, karena akulah satu-satunya orang yang tampak tak peka dengan suhu. Melihat bahwa aku hanyalah satu-satunya orang yang tidak memakai baju hangat di tengah musim salju yang menghampiri Tokyo. Ya, aku berada di Tokyo. Hanya untuk sekedar melarikan diri dari kejenuhan gemerlapnya duniaku.

Untuk kesekian kalinya, aku kembali mengusap kedua tanganku dan menyentuhkannya di pipiku. Bagaikan api yang menyambar, aku dapat merasakan sentakan kehangatan yang merayap melalui pori-pori tubuhku. Aku tersenyum. Entah apa yang membuatku tersenyum, hanya alasan fana. Tapi, aku dapat merasakan bahwa semuanya akan berubah saat aku menginjakkan kaki di negeri Sakura ini.

Aku menatap kerumunan orang yang sedang menunggu barang-barang yang mereka masukkan ke bagasi. Aku hanya menatapnya dari jauh tanpa sedikitpun niat untuk mendekatinya, walaupun aku harus mengambil barang-barang ku juga. Aku lebih memilih mengambil barangku, saat suasana sudah mulai menyepi. Aku membenci keramaian. Tidak. Aku sangat membenci keramaian, karena di saat itulah aku tampak seperti sampah yang tak bernilai, tertimbun berbagai sampah yang lebih berharga.

Setelah menunggu 20 menit, aku pun mengambil barang-barangku. Aku melangkah sedikit cepat,  berharap kehangatan akan terpancar dari kecepatan langkahku. Aku melihat tas milikku melewati diriku. Aku berpikir keras untuk itu. Aku pikir, aku terlalu lemah untuk dapat mengangkat tas itu sendirian.

Sekali lagi, tas itu lewat di hadapanku dan aku tak berbuat apapun. Aku tampak bodoh. Sangat bodoh. Ini yang kelima kalinya, tas ini lewat dihadapanku dan aku sedikit tersentak saat menyadari ada sebuah tangan kekar yang menggenggam tas ku. Ia meletakkannya di sisi kakiku dan berjalan menjauhiku tanpa mengatakan sepatah katapun. Aku pun tak sempat mengucapkan terima kasih. Bukan karena tak memiliki waktu, tetapi bibirku yang terasa membeku. Aku tak melihat wajahnya, hanya mendengar deru nafasnya. Tapi, itu cukup membuatku terdiam. Cukup lama, hingga aku  menyadari bahwa hanya aku yang tersisa di ruangan pengambilan barang ini.

Aku menghela nafasku untuk menetralkan detak jantungku yang berdebar tak karuan, seakan aku baru saja memenangkan lomba marathon. Aku menyeka keringat yang mengaliri dahiku. Dahiku sedikit berkerut, saat menyadari kebodohanku.

‘Mengapa aku seperti ini? Melihat wajahnya pun tidak,’

Tetapi, kemudian aku tersenyum.

‘Paling tidak, aku tidak lagi merasakan kedinginan,’

Baru saja aku mengatakan hal itu, rasa dingin kembali menyergap diriku saat aku melangkah menuju ke pintu keluar. Biasanya, di pintu keluar akan ada banyak orang yang berdiri untuk menanti orang-orang yang baru saja tiba di negara ini. Tetapi, yang aku lihat saat ini adalah kesunyian. Saat aku melihat jarum yang melingkari tanganku, aku  baru menyadari bahwa ini sudah 1 jam sejak aku mendarat di Jepang. Terlebih, tak ada orang yang akan menjemputku di  bandara sehingga semuanya terasa sunyi.

Aku menatap tempat yang letaknya jauh sekali dari jangkauan mataku dan disanalah aku menemukan sosoknya. Kalau mengikuti pemikiran otakku, aku tak yakin dia adalah orang yang kumadsud. Tetapi, hatiku mengatakan sebaliknya. Aku berada diambang kebingungan. Diriku seakan terbagi dua. Setengah dari diriku masih berpikir logis. Mana mungkin aku dapat menyakini bahwa dia adalah orang yang kumadsud padahal jarak kami terpaut sekitar 10 meter? Setengahnya lagi mengikuti kata hatiku bahwa dia adalah siluet yang aku cari.

Aku terlalu lama berpikir, hingga aku menyadari bahwa sosoknya telah meninggalkan tempat itu. Berjalan untuk membuat jarak diantara kami semakin melebar. Tanpa sadar, aku sedikit berlari untuk mengejarnya. Aku tak mau kehilangan dirinya untuk yang ketiga kali. Mataku hanya terpaku padanya, hingga aku menabrak beberapa orang yang kulewati.

Dia berjalan dan aku berlari. Jarak diantara kami semakin kecil. Aku yakin bahwa dalam satu langkah lagi aku dapat menggapai tangannya. Namun, di detik itu pula ia masuk ke kerumunan orang. Aku menundukkan kepalaku dan berusaha mengatur nafasku yang tak terkontrol karena aku berlari.

Badanku sedikit terjungkal ke depan saat aku merasakan ada yang mendorong badanku. Saat aku  melihat kearah belakang, aku  baru menyadari bahwa aku berada di tengah kerumunan manusia-manusia khas Asia. Aku memilih mundur dan menjauhi kerumunan itu. Aku melangkah tanpa arah. Hanya satu pintaku. Terbebas dari kerumunan makhluk yang membutuhkan oksigen yang sama.

Aku menyandarkan tubuhku ke pilar bendara ini. Kepalaku terasa sedikit pening. Mengingat bahwa aku harus berlari dengan membawa tas ku yang berat dan harus terjebak ditengah kerumunan manusia. Aku memegangi kepalaku dan sedikit memijatnya. Aku menegakkan kepalaku dan aku berpikir. Kenapa aku mengejar sosok itu? Sosok lelaki yang hanya mengambilkan tas ku. Tak terlalu istimewa, kan?

Aku menyadari kebodohanku. Aku memukul-mukul ringan kepalaku. Aku telah menyia-nyiakan waktuku hanya untuk mengejar seseorang yang tak kukenal. Tetapi, tiba-tiba ada sebuah tangan yang menggenggam tanganku yang sedang memukul ringan kepalaku. Aku tak  tahu perasaan dari mana itu berasal. Tapi, aku dapat merasakan bahwa pemilik tangan ini adalah orang yang aku cari. Aku tak berani menatapnya dan hanya menunduk.

Ia menurunkan tanganku dari kepalaku. Aku memberanikan diri untuk menatapnya. Matanya indah. Menyorotkan rinai-rinai kebahagiaan. Aku terpaku. Dapat kurasakan pipiku memanas dan mungkin sudah terbit rona merah dipermukaannya. Dia tertawa. Tertawa khas orang Jepang. Keringatku bercucuran, mataku tak dapat teralihkan dari dirinya.

Dia melepas genggaman tangannya dan kembali meninggalkanku dalam keterpakuan. Setelah dia berjalan cukup jauh, jiwa ku seakan baru kembali ke tubuhku. Aku menatapnya yang melangkah menjauhiku. Aku berlari dan mengejarnya lagi. Dapat kurasakan bahwa rambutku ikut bergerak seiring langkah lariku. Aku tak peduli. Aku sudah hampir bisa menggapai tubuhnya. Aku menjulurkan tanganku.

BRUK

Aku berhasil memegang singkat punggungnya tetapi kemudian aku langsung terjatuh. Aku tak mau lagi kehilangannya, maka akupun mencoba bangkit. Aku meringis. Kakiku terasa sangat sakit dan tak bisa kugerakkan dengan bebas. Aku menunduk dan bulir air mata menghiasi mata hitamku. Aku gagal. Gagal untuk menggapainya. Aku tahu aku bodoh. Aku mengejar seseorang yang tak kukenal. Tetapi, tak mendapatkan apa yang kita inginkan, kadang akan terasa menyakitkan.

Lagi. Tangan itu kembali menghampiriku. Tangan itu menghapus setiap tetes air yang keluar dari mataku. Aku tahu itu dia. Tapi aku tak mau menatapnya. Aku takut disaat aku menatapnya, ia akan pergi lagi.

Dia tak lagi menghapus air mataku. Aku sudah tahu bahwa ia akan pergi lagi meninggalkanku seperti tadi. Tetapi aku salah, ia menjulurkan tangannya padaku. Aku  menatap tangan itu sepersekian detik lamanya. Lalu, aku menatap wajahnya. Ia tersenyum. Aku meraih tangannya dan ia membantuku berdiri. Ia tersenyum lagi. Giginya yang putih berkilau, semakin memperkuat kharismanya.

Ada satu pertanyaan yang ingin sekali aku utarakan kepadanya. Rasa penasaranku begitu menggebu di dalam nafasku. Aku takut ini membuatnya tersinggung, tetapi aku sangat membutuhkan jawabannya. Aku menarik nafasku dalam-dalam.

“Mengapa kau tak pernah berbicara padaku?” tanyaku dalam bahasa inggris

Ia tetap tersenyum. Namun, aku tahu itu senyum yang berbeda. Terselip sebuah makna di dalam senyum itu. Aku terdiam. Mencoba mengartikan senyum itu. Tak lama, aku pun ikut tersenyum. Ya, aku telah menemukan arti dibalik senyum itu sekaligus jawaban atas pertanyaanku.

Dia tidak bisu, dia tidak juga tuli. Tidak ada kesalahan pada dirinya maupun diriku. Yang ada hanyalah perbedaan diantara kita. Jepang dan Indonesia. Kau pikir dimana perbedaannya yang membuat kita berbeda? Bahasa. Aku tak bisa bahasa Jepang, dan dia hanya bisa bahasa Jepang. Nothing else.

Aku tak dapat menjelaskan perasaanku padanya. Aku tak mungkin mengatakan bahwa aku mencintainya. Tapi, aku tak dapat memungkiri bahwa aku tertarik padanya. Pernah mendengar cerita tanpa judul? Kira-kira seperti itulah hatiku. Banyak perasaan di dalam hatiku, yang tidak dapat kujelaskan, tetapi hanya dapat kurasakan.

Seperti kata pepatah “Nila setitik rusak susu sebelanga”. Sebuah hal kecil dapat mengakibatkan hal yang besar. Tetapi, bukan berarti karena hal kecil itu semuanya akan berakhir. Memperbaiki segala yang salah adalah jawabannya.

THE END

Advertisements

3 responses to “(Ficlet) Untitled

  1. Really loves this story,
    makna yang dalam, dibungkus dalam bahasa yang rapi yang indah,
    author berhasil menyampaikan maksudnya, selamt ya *jabat tangan* 😀
    dan disini entah kenapa yg kebayang adl sosok CHOI SIWON !! aw, aku mulai gila ==’

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s